Anda di halaman 1dari 6

Tugas Pengganti Kuis Mata Kuliah Teknik Lingkungan dan

Amdal
Tugas makalah ini disusun untuk memenuhi mata kuliah Teknik Lingkungan dan
Amdal yang diampu oleh dosen Ir. Moch. Sholichin, MT.,Ph.D
Disusun Oleh:
Nur Fadhlillah Andriantari

(145060400111008)

UNIVERSITAS BRAWIYAJA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PENGAIRAN
MALANG
2016
1

TPA Telaga Punggur di Batam


Sampah kota Batam telah meningkat sepanjang waktu seiring dengan bertumbuhnya
populasi masyarakat perkotaan serta membaiknya kondisi ekonomi. Sampah kota Batam saat
ini dikelola oleh DInas Kebersihan dan Pertamanan/DKP. Sampah ini dibawa ke Telaga
Punggur, yaitu landfill pusat Batam atau tempat pembuangan akhir (TP) yang doioperasikan
oleh DKP. Saat ini terdapat kurang lebih 700 ton sampah per hari di Pulau Batam.
TPA pada awalnya dirancang pada 1997 oleh BP Batam (otoritas yang dibentuk untuk
mengembangkan Batam sebagai kawasan industri utama) sebagai landfill saniter. Ini
mencakup pemprosesan air lindi dan lining sebesar 2,5 hektar wilayah permukaan TPA.
Operasi kemudian diserahkan pada Kota Batam pada 2002 dan proses landfilling saniter
dengan manajemen lindi dikonversi menjadi pembuangan terbuka (open dumping) dari
elevasi yang lebih tinggi untuk memenuhi lembah dari atas dengan sampah.
Diperkirakan bahwa TPA saat ini akan berusia kurang dari 10 tahun dengan kapasitas yang
ada. Oleh karenanya Kota Batam harus mempertimbangkan suatu bentuk pemrosesan sampah

yang akan memindahkan sebanyak mungkin sampah dari TPA dan mendapatkan kemampuan
untuk mengelola (dan mengurangi) sampah di masa mendatang.
Sumber-sumber sampah padat ini ditangani dengan beberapa cara:
a Sampah domestik didefinisikan sebagai sampah yang berasal dari rumah
tangga, lembaga dan sektor bisnis yang tanggung jawab pengumpulan dan
pembuangannya berada di Pemerintah Kota Batam. Perlu dicatat bahwa
meskipun Kota Batam bertanggung jawab menangani pengumpulan dan
pembuangan, namun sejauh ini hal ini dilaksanakan oleh sektor swasta, PT
Royal Gensa Asih, di bawah kontrak dengan Kota Batam. Sampah domestik
dibawa ke TPS di Telaga Punggur yang dioperasikan oleh DKP.
b Sampah fasilitas umum (ruang publik, jalan, dsb.) dikumpulkan oleh Kota
Batam di bawah Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP).
c Sampah industri adalah sampah sejenis dengan sampah domestik (bukan
residu proses) yang ditimbulkan oleh industri berat dan ringan. Sampah ini
dikumpulkan dan dibuang oleh kontraktor swasta yang ditunjuk industri, di
mana kontraktor tersebut diharuskan untuk mendapatkan izin dari Dinas
Kebersihan untuk membuang sampah di TPS Telaga Punggur.
2
TPA Benowo Surabaya
TPA ini telah menjadi contoh pengelolaan sampah di Indonesia. Sistem pengelolaan
sampah TPA Benowo menjadi listrik dan bahan baku bangunan kedepannya mempunyai
manfaat cukup besar. Jadi sampah yang sebelumnya selalu menjadi barang yang terbuang
nantinya bisa bernilai ekonomi tinggi. Dimana pengolahan sampah TPA Benowo penuh
teknologi yang digunakan pertama kali di Indonesia. Ini dikarenakan di TPA Benowo terjadi
simbiosis yang kuat antara manusia dengan teknologi moderen. Dimana untuk pemilahan
sampah yang bisa didaur ulang dan yang tidak bisa didaur ulang akan dilakukan oleh tenaga
manusia. Bila sebelumnya pengolahan sampah menggunakan sistem penumpukan kemudian
ditutup rapat sehingga menghasilkan gas untuk menggerakkan turbin dengan listrik yang
dihasilkan hanya 1 Mega Watt (MW).Maka nantinya dengan teknologi modern sampah yang
masuk ke TPA Benowo yang perharinya kini mencapai sekitar 1.500 ton itu akan diolah dan
dibakar untuk menggerakkan turbin yang mampu menghasilkan listrik kisaran 7 MW
3

TPA Pati, Desa Sukoharjo Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati

Selain menjadi tempat pembuangan akhir sampah, TPA ini diharapkan dapat menjadi
ruang publik dan wahana rekkreasi alternatif yang bersifat edukatif bagi warga Pati dan
sekitarnya. Selain dapat melihat proses pengolahan sampah, di TPA Margorejo Pati
masyarakat dapat juga menikmati kebun binatang mini, arena outbond dan bumi perkemahan,
taman kehati (keanekaragaman hayati), dan taman bacaan. Dan uniknya, semua itu dapat
dinikmati dengan gratis.
Dalam mengelola sampah, TPA Pati menggunakan metode Controlled Land Fill yaitu
Sampah dibuang lubang berukuran besar kemudian ditimbun dengan lapisan tanah dan
dipadatkan. Penimbunan dilakukan berulang kali sehingga lubang penuh. Lubang yang telah
penuh (disebut zona non aktif) inilah yang kemudian digunakan sebagai ruang publik.

Kebun Binatang Mini TPA Pati. Koleksi binatang di kebun binatang mini TPA Pati ini
berasalkan dari sumbangan warga kota Pati dan sekitarnya. Namun keberadaan kebun
binatang mini di TPA Margorejo pati ini telah menjadi daya tarik utama bagi warga pati dan
sekitarnya untuk mengunjungi dan berekreasi di Tempat Pembuangan Akhir Sampah ini.
TPA Margorejo Pati juga memanfaatkan zona non aktif (bekas tempat penimbunan sampah)
sebagai bumi perkemahan. Untuk memaksimalkan penggunaannya sebagai tempat berkemah
pihak pengelola TPA secara aktif akan memberikan bantuan penyewaan berbagai fasilitas
penunjang perkemahan seperti sound system, listrik, maupun tenda sekretariat. Sedangkan
fasilitas lain seperti air bersih dan MCK (Mandi, Cuci, Kakus) telah tersedia.
Lokasi TPA yang terletak di lereng gunung Muria ikut memberikan nilai tambah. Selain
pemandangan sekitar yang indah dan udara yang sejuk, lokasi di sekitar bumi perkemahan
yang berbukit-bukit sangat menantang dijadikan arena out bond ataupun penjelajahan.
Fasilitas Lainnya. Selain kebun binatang mini dan bumi perkemahan, TPA Margorejo Pati
masih memiliki beberapa fasilitas lain yang dapat dimanfaatkan sebagai wahana rekreasi
alternatif. Beberapa fasilitas tersebut antara lain:
- Kebun Kehati (keanekaragaman Hayati); Kebun yang baru dibangun
beberapa
bulan silam ini merupakan hasil kerjasama antara Dinas
Pekerjaan Umum dengan Dinas
Lingkungan Hidup kab. Pati.
- Taman bacaan; Sayangnya dalam beberapa kali kunjungan ke sana taman bacaan ini
selalu dalam keadaan tertutup.
- Berbagai unit pendukung TPA seperti Instalansi Pengolahan Lumpur Tinja, dan Unit
Pembuatan Kompos.
- Parkir Kendaraan

4. TPA Sampah Puuwatu Kota Kendari


Pemkot Kendari telah mengolah sampah menjadi gas metana sejak 2010 hingga
sekarang. Langkah inovasi ini bermula dari pengelolaan tempat pengelolaan akhir (TPA)
sampah dengan pola open dumping dinilai tidak ramah lingkungan. Sistem open dumping
atau menumpuk sampah tanpa pemrosesan ini dilakukan sejak terbangunnya TPA sampah
tahun 2002 hingga berlangsung sampai tahun 2010. Dimulai tahun 2008, Pemkot Kendari
pun mulai mengalihkan pengolahan sampah dengan sistem lahan uruk kendali atau controlled
sanitary landfill. Dengan menggunakan lahan seluas 2 Ha dari total 18 Ha lahan TPA yang
ada, sampah organik 150 ton yang dihasilkan dari masyarakat Kota Kendari, ditimbun
dan ditutup secara periodik selama tiga hari sekali dengan ketebalan tanah antara 15 20
sentimeter. Tanah yang diambil adalah tanah dari area perbukitan sekitarnya.
Di beberapa titik gundukan, berdiri belasan pucuk pipa paralon berdiameter 15 sentimeter
tersebar. Pada bagian pangkal bawah tersambung paralon berdiameter 5 sentimeter. Arahnya

memanjang seperti pipa air PDAM. Gas metana yang dihasilkan dari gundukan sampah
organik tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan
bakar fosil.
Gas metana ini kemudian dialirkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat di Kawasan
Perkampungan Mandiri Energi, baik untuk memasak (pengganti Minyak tanah/LPG) maupun
penerangan (listrik). Yang menarik, Kampung Mandiri Energi ini sengaja dibangun oleh
Pemkot Kendari untuk para pemulung dan karyawan pengelola TPA sampah.
Manfaat lain dari pengelolaan TPA sampah sistem lahan uruk kendali adalah terwujudnya
benefit lingkungan. Saat gas metana yang dihasilkan dalam proses pengolahan sampah di
TPA telah dimanfaatkan, gas tidak lepas ke atmosfer untuk merusak lapisan ozon sehingga
terjadi pemanasan global.
Selain berfungsi sebagai tempat pengelolaan sampah akhir, Pemkot Kendari juga menjadikan
TPA sampah Puuwatu sebagai tujuan wisata dengan telah dibangunnya gazebo, taman, dan
medan off-road.

5. TPA Gampong Jawa Banda Aceh


TPA ini memiliki luas sekitar 20 hektar, dan yang terpakai baru 9 Ha dan dikelola
oleh Dinas Kebersihan dan Keindahan Kota (DK3) Banda Aceh. Lokasi ini memiliki fasilitas
TPA terpadu (lengkap dengan pemilahan sampah dan sanitary landfill-nya), Instalasi
Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) dan fasilitas bengkel. TPA Gampong Jawa terbagi dalam 3
blok. aat ini pembuangan sampah dilakukan di blok B sedangkan blok A sudah ditutup
(sanitary landfill ) dan ditanami dengan berbagai macam tumbuhan. Serei dan sansiviera
cukup mendominasi selain tumbuhan ini mudah tumbuh juga kemampuannya menyerap bau
dan polusi serta mengeluarkan bau harum .
TPA Gampong Jawa termasuk TPA terbaik di Indonesia karena ;

TPA Gampong Jawa merupakan TPA pertama di Indonesia yang mengubah sistem
operasional dari open dumping menjadi sanitary landfill pascalahirnya UU
Pengelolaan Sampah. Sistem sanitary landfill adalah cara penimbunan sampah yang
dilakukan di dalam tanah. Sistem ini yang menjamin kelayakan kesehatan, keamanan,
dan keberlanjutan ekosistem di sekitar TPA, sehingga sampah yang dihasilkan
masyarakat Banda Aceh yang jumlahnya hingga 160 ton/hari di-treatment dengan
sangat baik. Dalam operasionalnya pada TPA selalu dilakukan penutupan harian
(daily cover) dengan tanah, terhadap sampah yang ditimbun untuk mengurangi bau
dan menghindari lalat. Sanitary landfill Gampong Jawa dibangun dengan standar
yang tinggi oleh BRR dengan bantuan konsultan ahli dari Belanda (Hasconing), dan
pembangunannya juga sudah memehuni standar layaknya sebuah sanitary landfill,
serta memiliki dokumen UKL/UPL.
Alat-alat berat yang dimiliki sudah mumpuni dan mahal, contoh: mobil komposter,
walaupun ukurannya kecil tapi sangat andal untuk menghancurkan batang pohon
menjadi kepingan materi yang halus untuk pembuatan kompos. Bahkan, mobil yang
dikontrol dengan remote control ini harganya 4 milyar.
Setiap harinya 150 unit truk sampah, truk kontainer, mobil sampah, dan becak sampah hilir
mudik di TPA Gampong Jawa ini dan setelah dicatat muatannya, truk-truk ini masuk ke area
sortir. Pada area inilah sampah plastik dan organik akan dipisahkan. Untuk sampah plastik
akan dijual kembali kepada pengadah (selain mengurangi beban TPA juga ada pemasukan)
sedangkan sampah organik seperti dedaunan segar dikumpulkan untuk dimasukkan kedalam
mobil penghancur. Mobil ini akan menghancurkan sampah (walau ukurannya sangat besar)
menjadi potongan-potongan halus sebelum mengalami komposting. Selanjutnya, sampah
yang tidak dapat dimanfaatkan kembali akan dibawa ke TPA yang sudah menerapkan sanitary
landfill. Sampah-sampah ini ditumpuk di sel pada TPA yang sudah diberlakukan khusus
yaitu pemasangan pipa air lindi sepanjang 1 km, layer-layer seperti kerikil, tanah dan lapisan
geotekstil (dijamin air lindi tidak mencemari lingkungan), dan pemasangan pipa secara
vertikal untuk mengalirkan gas metana ( CH4) ke udara agar terhindar dari meledaknya
timbunan sampah.
Komposting dari sampah-sampah organik yang akan dimanfaatkan sebagai pupuk. Pupuk ini
diberikan gratis bagi masyarakat yang ingin bercocok tanam dan selebihnya digunakan untuk

merawat taman-taman kota yang juga merupakan tanggung jawab Dinas Kebersihan dan
Keindahan Kota (DK3) Banda Aceh.
Proses pengolahan lumpur tinja ini memanfaatkan panas matahari untuk pengeringan lumpur
tinja menjadi pupuk kompos, dan memanfaatkan gas metana yang terkandung dalam lumpur
tinja sebagai sumber energi.
Ada dua jenis proses pengolahan tinja, yaitu pengolahan limbah melalui rumah kaca dan
pengolahan limbah melalui kolam-kolam tinja. Kedua proses ini tidak memiliki perbedaan
lama pengeringan dan pengolahan tinja.
Dalam rangka mengurangi sampah anorganik, terutama sampah plastik, pada tahun 2008
DK3 Banda Aceh me-launching program bank sampah dan kaderisasi sampah di sekolahsekolah di Banda Aceh. Program bank sampah adalah penempatan bak-bak yang menampung
sampah-sampah plastik seperti gelas bekas minuman mineral di sekolah. Sehingga, uang
yang didapat dari penjualan sampah tersebut kepada pihak Dk3 Banda Aceh, dapat digunakan
pihak sekolah sebagai tambahan dana kegiatan sekolah atau dibagikan kepada siswa yang
menabung sampah. Kini, terdapat 60 bank sampah yang tersebar di sekolah-sekolah di Banda
Aceh.