Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Dalam rangka memberikan perlindungan kepada tenaga kerja, pemerintah
telah mengambil kebijakan umum mengenai perlindungan tenaga kerja yaitu
tentang kesehatan dan keselamatan kerja, yang secara menyeluruh ditujukan untuk
meningkatkan produktivitas kerja, yang bertujuan memberi kelancaran, efisiensi,
dan produktivitas perusahaan. Produktivitas perusahaan disini sangat dipengaruhi
oleh kualitas sumber daya manusia yang ada dalam perusahaan. Sementara untuk
kualitas sumber daya manusia itu sendiri juga dipengaruhi oleh kebijakan / aturan
perusahaan, seperti upah gaji yang diberikan, beban kerja yang diberikan, dan jam
kerja yang ditetapkan. Konflik atau masalah dalam perusahaan bisa saja terjadi
ketika

ketidaksesuaian

dalam

pekerjaan,

kebijakan

organisasi

termasuk

kesempatan untuk berkembang yang terbatas, lingkungan kerja yang tidak


kondusif, dan perilaku atasan yang kurang baik. Semuanya itu dapat
mempengaruhi produktivitas pekerja menjadi menurun.
Pada umumnya, seorang tenaga kerja bekerja selama 8 jam/hari yang
berarti lebih dari 30% waktunya dihabiskan ditempat kerja. Pada umumnya
karyawan bekerja di pagi hingga sore hari, namun untuk

meningkatkan

produktivitasnya ada perusahaan yang menetapkan peraturan dengan membuat


sistem kerja bergilir (shift kerja) dimana menuntut tenaga kerja harus bekerja
dalam periode waktu 24 jam, artinya di luar dari jam kerja pada umumnya.
Shift kerja merupakan pengaturan terhadap pola waktu kerja kepada tenaga
kerja untuk bekerja secara bergiliran dalam waktu 24 jam yang telah ditentukan
oleh perusahaan tertentu. Menurut William (2004), pembagian shift kerja dikenal
dalam 2 macam sistem yaitu Shift permanen, dimana tenaga kerja yang bekerja
secara tetap dalam shift tertentu setiap harinya. Sementara Shift rotasi adalah
tenaga kerja yang bekerja tidak menetap pada shift tertentu namun secara
bergantian waktu shift baik pagi, siang maupun malam. Dalam shift rotasi inilah
yang paling mengganggu terhadap irama circadian seseorang bila berlangsung

dalam waktu panjang bila dbandingkan dengan shift permanen. Dalam penetapan
sistem kerja bergilir, ada beberapa perusahaan yang menetapkannya dalam dua
shift kerja yaitu shift 1 (08.00-16.00), shift 2 (16.00-24.00), bahkan ada juga
dalam tiga shift yaitu shift 1 (08.00-16.00), shift 2 (16.00-24.00), dan shift 3
(24.00-08.00).
Penetapan sistem kerja bergilir seperti ini akan memberi dampak positif
maupun negatif bagi para karyawan itu sendiri. Menurut Adnan (2002)
mengemukakan dampak positifnya adalah memaksimalkan sumber daya yang ada,
memberikan lingkungan kerja yang sepi khususnya shift malam dan memberikan
waktu libur yang panjang, sedangkan dampak negatifnya adalah penurunan
kinerja, keselamatan kerja, dan masalah kesehatan. Selain itu juga terdapat banyak
dampak lainnya seperti mengganggu jadwal tidur, meningkatkan risiko kanker,
memicu obesitas dan diabetes, berisiko terkena penyakit jantung, perubahan
metabolisme, mudah cedera, menyebabkan depresi.
Northwestern National Life Insurance melakukan penelitian tentang
dampak stres ditempat kerja, kesimpulannya yaitu satu juta absensi ditempat kerja
berkaitan dengan masalah stres; 27% mengatakan bahwa aspek pekerjaan
menimbulkan stres paling tinggi dalam hidup mereka, 46% menganggap tingkat
stres kerja sebagai tingkat stres yang sangat tinggi, satu pertiga pekerja berniat
mengundurkan diri karena stres dalam pekerjaan mereka, dan 70% berkata stres
kerja telah merusak kesehatan fisik dan kesehatan mental mereka (Losyk, 2007).
Dari data World Health Organization (2010) diberitahu bahwa sekitar 30-50%
pekerja melaporkan bahwa bahaya fisik, kimia, biologi atau kelebihan beban kerja
fisik yang tidak wajar dan faktor ergonomis yang berbahaya bagi kesehatan di
tempat kerja mengakibatkan timbulnya gejala stres. Dan menurut Eropa Keempat
Kondisi Kerja Survey pada tahun 2005 stres kerja dialami rata-rata sebesar 22%.
Salah satu penyebab dari stres kerja adalah sistem kerja bergilir atau shift
kerja. Stres kerja dapat menimbulkan berbagai konsekuensi pada setiap individu
pekerja baik secara fisiologis, psikologis dan perilaku. Stres yang dialami terusmenerus dan tidak terkendali dapat menyebabkan terjadinya burn out yaitu
kombinasi kelelahan secara fisik, psikis dan emosi. Bukan hanya itu, stres di

tempat kerja juga dapat berakibat pada rendahnya kepuasan kerja, kurangnya
komitmen

pada

perusahaan,

terhambatnya

pembentukan

emosi

positif,

pengambilan keputusan yang buruk, rendahnya kinerja kerja dari pekerja, dan
tingginya turnover, yang pada akhirnya bisa menyebabkan kerugian bagi
perusahaan (Saragih, 2010). Health and Safety Executive (HSE) Inggris
menyebutkan stres, depresi dan ansietas sebagai salah satu penyakit yang paling
sering terjadi di tempat kerja sejak 2001 hingga 2010. Dan berdasarkan Riset
Kesehatan Dasar Indonesia (2007) gangguan kejiwaan yang berkaitan dengan
emosional dan perilaku yang terjadi paling sering pada usia produktif atau usia
kerja (17-54 tahun).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah kecelakaan kerja di
Indonesia pada tahun 2011 adalah 108.699 jiwa dengan total kerugian sebesar Rp.
217.435.000.000. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Wea, 2002)
menyatakan keprihatinannya terhadap keselamatan kerja bahwa kecelakaan kerja
menyebabkan hilangnya 71 juta jam orang kerja dan kerugian sebesar 340 milyar
rupiah. Angka kecelakaan di tempat kerja yang tercatat di Indonesia telah
meningkat dari 98.902 kasus pada tahun 2000 menjadi 104.774 kasus pada tahun
2001 dan pada tahun 2002 tercatat 57.972. Dari data-data tersebut untuk itu
peneliti merasa perlu mengadakan suatu penelitian.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut :
Apakah ada hubungan antara faktor internal dan eksternal dengan tingkat stres
kerja pada karyawan shift di perusahaan X ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1

Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas kerja
karyawan dengan menurunkan tingkat stres kerja pada karyawan.

1.3.2

Tujuan Khusus

1. Mengetahui prevalensi terjadinya stres akibat kerja pada karyawan di


perusahaan X.
2. Menentukan adanya hubungan antara faktor internal dan eksternal
dengan tingkat stres kerja pada karyawan shift di perusahaan X.
3. Mengidentifikasi perbedaan tingkat stres kerja pada karyawan
perusahaan X untuk masing-masing shift.
1.4 Hipotesis
1. Terdapat hubungan antara faktor internal dan eksternal dengan tingkat
stres kerja yang terjadi pada karyawan di perusahaan X.
2. Terdapat perbedaan tingkat stres kerja pada masing masing shift kerja.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Institusi
1. Memperoleh masukan dalam bidang stres kerja yang dapat digunakan
sebagai bahan pertimbangan untuk program peningkatan produktivitas
dan pencegahan kecelakaan kerja.
2. Memperoleh informasi di bidang K3 terkait dengan faktor-faktor yang
berhubungan dengan stres kerja.
3. Menambah informasi tentang stres kerja pada pekerja yang dapat
digunakan sebagai bahan refrensi dalam penelitian selanjutnya.
1.5.2 Bagi Perusahaan
1. Mendapat informasi serta masukan sebagai bahan pertimbangan bagi
pihak

perusahaan

dalam

mengambil

keputusan

yang

saling

menguntungkan antara karyawan dan perusahaan.


1.5.3 Bagi Pekerja
1. Pekerja mengetahui pengaruh shift kerja terhadap kesehatan psikis
mereka, sehingga pekerja dapat mempersiapkan diri dalam mencegah
serta mengatasi stres kerja yang dapat mereka alami
2. Menciptakan suasana kerja yang kondusif dalam lingkungan kerja
sehingga pekerja tetap sehat dan produktif.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Stres
2.1.1

Definisi
Menurut Hariandja (2007) stres merupakan situasi ketegangan atau tekanan

emosional yang dialami seseorang yang sedang menghadapi tuntutan yang sangat
besar, hambatan-hambatan, dan adanya kesempatan yang sangat penting yang
dapat mempengaruhi emosi, pikiran, dan kondisi fisik seseoang.
Menurut Robbins dan Judge (2011) stres adalah suatu kondisi dinamis di
mana seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atau sumber daya yang
terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya
dipandang tidak pasti dan penting.
Sementara Widyastuti (2004) mendefinisikan stres sebagai ketidakmampuan
mengatasi ancaman yang dihadapi oleh mental, fisik, emosional, dan spiritual
manusia, yang pada suatu saat dapat mempengaruhi kesehatan fisik manusia
tersebut.
2.1.2

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Stres


Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi stres pada seseorang dapat

diuraikan sebagai berikut :


1. Jenis kelamin
Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menyatakan bahwa tingkat
stres cenderung lebih tinggi terjadi pada wanita dibandingkan pada pria.
Secara umum wanita mengalami stres 30% lebih tinggi dari pada pria
(Gunawati et al, 2006). Menurut Matud (2004) dalam penelitiannya
meneliti perbedaan jenis kelamin dalam mengatasi stres dalam suatu
sampel dari 2.816 orang diantaranya 1.566 perempuan dan 1.250 lakilaki antara 18 dan 65 tahun, dengan berbagai sosiodemografi. Hasil yang
didapatkan menunjukkan bahwa nilai perempuan secara signifikan lebih

tinggi dari pada laki-laki dalam stres kronis. Sehingga dari hasil studi ini
dapat disimpulkan bahwa perempuan lbih menderita stres dari pada lakilaki dan gaya mengatasi emosi lebih terfokus dari pada laki-laki.
2. Usia
Schultz dan Schultz (2003) dalam penelitian yang berjudul The Effects of
Age on Stress Levels and Its Affect on Overall Performance
mengemukakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara usia
individu dengan stres.
3. Tingkat pendidikan
Penelitian yang dilakukan Grzywacz (2004) dengan mewawancarai
sampel sebanyak 1.031 orang dewasa setiap hari selama delapan hari
mengenai tingkat stres dan kesehatan mereka. Berdasarkan hasil
penelitian tersebut bahwa orang tanpa ijazah sekolah tinggi mengalami
stres sebesar 30%, orang dengan tingkat sekolah menengah mengalami
stres sebesar 38%, dan orang-orang dengan gelar perguruan tinggi atau
sarjana mengalami stres sebesar 44%.
4. Penyakit yang diderita
Shelley dan Pakenham (2004) dalam penelitian yang berjudul External
Health Locus of Control and General Self-efficacy : moderators of
emotional distress among university students menguraikan bahwa
individu dengan penyakit kronik lebih mengalami stres dari pada dengan
penyakit akut.
5. Status sosial ekonomi
Status sosial ekonomi yang rendah berhubungan dengan stres kronik
seperti kepadatan, kejahatan, polusi suara, diskriminasi,dan berbagai
stresor lainnya sehingga menyebabkan stres kronik.
6. Beban kerja
Retnani (2001) dalam Sarwono dan Purwono (2006) melakukan
penelitian tentang stres kerja pada perawat yang sudah menikah ditinjau
dari perbedaan waktu kerja. Dalam penelitian tersebut menyatakan

bahwa terdapat perbedaan stres kerja pada perawat wanita yang sudah
menikah yang bekerja pada siang hari dan pada malam hari.
2.1.3

Respon Stres
Respon individu dalam menghadapi stresor tergantung pada nilai-nilai

pengalaman dan daya penyesuaian dirinya. Manusia dalam menghadapi stresor


akan menampilkan tiga tahap respon tubuh :
1. Alarm Reaction Stage (reaksi peringatan)
Pada tahap ini tubuh belum dapat beradaptasi terhadap paparan ancaman
bahaya. Terjadi mobilisasi dari sistem saraf otonom yang mencetuskan
respon stres dalam bentuk perlawanan (fight) atau respon menghindar
(flight). Bermacam-macam sistem tubuh ikut mengkoordinasi kesiapsiagaan untuk bereaksi, mempengaruhi kejiwaan (sistem limbik),
pengaturan sistem kardiovaskuler, pernafasan, ketegangan otot serta
aktivitas-aktivitas motorik yang halus.
2. Resistance/Adaptation Stage
Reaksi alarm tidak dapat dipertahaonkan untuk jangka waktu yang tidak
terbatas. Pemaparan yang berkepanjangan terhadap berbagai stresor
dapat menyebabkan individu menjadi kebal. Pada tahap ini tubuh sudah
dapat beradaptasi, dimana individu mengembangkan suatu strategi
perjuangan untuk bertahan hidup dan membina daya perlawanan untuk
meredam respon dari streso yang telah dimulai pada tagap sebelumnya.
Mekanisme penanggulangan ini bisa menguntungkan ataupun tidak
menguntungkan bagi perkembangan mental individu. Individu cenderung
untuk lebih baik melaksanakan penanggulangan dengan cara yang cepat
dari pada cara yang lebih lama dalam menangani masalah dan mencoba
melarikan diri dari kondisi yang kurang menyenangkan. Namun dengan
cara penanggulangan yang cepat walaupun paling mudah biasanya tidak
memadai, karena dengan cara ini biasanya pada jangka panjang dapat
menimbulkan masalah-masalah sekunder dalam bentuk menurunnya
penampilan diri. Pada tahap ini individu sangat membutuhkan

pertolongan untuk megidentifikasi cara-cara penanggulangan yang dapat


mendorong dirinya memahami keuntungan-keuntungan dari cara
penanggulangan yang lebih lama.
3. Exhaustion Stage (tahap kelelahan)
Tahap kelelahan ini merupakan reaksi non spesifik yang dihasilkan dari
stres yang berkepanjangan dan dapat meningkatkan adaptasi. Stres yang
lama dan berkelanjutan dapat menimbulkan masalah-masalah yang
menahun dan pada akhirnya menyebabkan individu menderita suatu
kelelahan yang berat sehingga dapat menimbulkan depresi. Gejala-gejala
fisik pada tahap awal kelelahan seperti perasaan lelah yang berlebihan,
lemah dan penurunan daya tahan. Tanda-tanda non spesifik biasanya
dalam bentuk penglihatan yang kabur, rasa pusing, vertigo, tangan
tremor, nyeri otot, palpitasi, nafas terasa berat, nyeri dada, sesak nafas,
dan gangguan nafas yang lain. Gejala-gejala gangguan saluran cerna
seperti mual atau muntah, konstipasi, diare atau sakit pertu yang melilit,
berat badan bertambah atau berkurang, perubahan nafsu makan dalam
bentuk bertambah nafsu makan ataupun berkurang. Gejala-gejala emosi
dari stres pada tahap kelelahan yang berhubungan dengan sindrom
depresi dan frustasi yaitu dalam bentuk tangisan yang tak terkontrol,
perasaan takut mati, tidak berani berbicara didepan publik, mudah
terkejut, tidak suka berteman atau bertemu keluarga atau menyalurkan
hobinya, kurang perhatian pada hal-hal personal seperti olahraga,
pakaian, dan makan. Disfungsi mental juga dapat terjadi pada tahap ini
yang akan tampak sebagai gangguan tidur seperti sulit bangun dari tidur,
cepat terbangun disertai dengan mimpi buruk, hilangnya daya konsentrasi
dan koordinasi.
2.1.3.1 Respon Fisiologis Tubuh terhadap Stres
Pusat kontrol stres terdapat di hipotalamus dan batang otak termasuk
parvoselular kortikotropin hormon (CRH) dan Orginine-vasopressin (AVP),
paraventricular nuclei (PVN) dalam hipotalamus dan juga locus ceruleus (LS)

norepineprin (sistem saraf simpatik/SAM). Hipotalamik-pituitari-adrenal axis


(HPA axis) yang merupakan representatif dari system limbic, melalui otak
mempengaruhi seluruh organ tubuh. Interaksi antara pusat stres dengan system
kontrol otak memebrikan keutungan bagi sistem tubuh. Interaksi tersebut
berpengaruh

terhadap

fenomena

afeksi

dan

antisipasi

(system

mesokortikal/mesolimbik) yaitu inisiasi, propagasi, dan terminasi dari sistem


aktifitas stres (Amygdala/Hipocampus kompleks) dan pembentuk sensasi rasa
sakit (Arkuate Nukleus).
Respon hormal terhadap stres dianggap sebagai mekanisme pertahanan
untuk menjaga kehidupan selama terjadi stres. HPA axis mempunyai peran
menjaga kehidupan (Carrasco dan Van de Kar, 2003). Tsigos dan Chrousos (2002)
menjelaskan bahwa secara fisiologis stres mengaktifkan HPA axis dan sistem saraf
simpatis, corticotrophin releasing hormone-corticotrophin releasing factor (CRHCRF) dan Arginine vasopressin (AVP). Hal tersebut menyebabkan peningkatan
produksi ACTH dari kelenjar posterior dan mengaktifkan neuron andrenergik dari
locus caeruleas / norepineprin (LC/NE). Sistem LC/NE bertanggung jawab untuk
merespon langsung terhadap stresor dengan melawan atau lari/fight atau flight,
yang didorong oleh epinefrin dan norepinefrin. Sedangkan ACTH bekerja
merangsang sekresinya kortisol dari korteks adrenal.
Peningkatan

sekresi

kortisol

meningkatkan glukoneogenesis,

memiliki

efek

metabolik

dengan

memobilisasi lemak dan protein, serta

menurunkan sensitifitas insulin, hormon pertumbuhan (GH-T3), dan menurunnya


respon peradangan (Gulliams dan Edwards, 2010). Respon stres terhadap tubuh
menrurut Carrasco dan Van de Kar (2003) dapat menyebabkan beberapa
perubahan fisiologis seperti :
a. Memobilisasi energi untuk mempertahankan fungsi otot dan otak
b. Meningkatkan responsibilitas atau ketajaman atau kepekaan tubuh
terhadap ancaman atau ketidaknyamanan
c. Meningkatkan kerja jantung, respirasi,

distribusi

meningkatkan substract dan suplai energi ke otot dan otak


d. Perubahan sistem modulasi respon imun tubuh
e. Menghambat sistem fisiologi reproduksi dan perilaku stres
f. Menurunkan nafsu makan

aliran

darah,

Selain itu respon stres terhadap otak melakukan aktivitas yang berbeda
pada jaringan saraf simpatik. Dalam menghadapi stres terdapat interaksi yang
menguntungkan antara pusat pengendali stres dengan tiga daerah di saraf pusat
tertinggi (high brain centre) yang berpengaruh pada fenomena antisipatori
(mesocortical/mesolimbik system) (Tsigos dan Chrousos 2002). Fenomena
antisipatori ini berhubungan dengan insiasi, propagasi, dan terminasi dari aktivitas
sistem stres, serta pembentuk sensasi rasa sakit (Thornton dan Andersen, 2006).
Stres menyebabkan diaktifkannya HPA axis dan SAM axis, sehingga
menyebabkan terjadinya perubahan imunitas tubuh.
2.1.4

Tingkat Sres
Tingkat stres merupakan tinggi atau rendahnya keadaan psikis atau mental

seorang individu dalam menghadapi tekanan. Semakin besar tekanan yang dialami
seseorang, maka semakin tinggi pula tingkat stres yang dirasakan dan apabila
individu tidak dapat mengelola stres dengan baik, maka akan berdampak negatif
bagi individu tersebut, dan sebaliknya semakin sedikit atau rendahnya tekanan
yang dialami maka tingkat stres juga akan semakin rendah apabila dikelola
dengan baik oleh masing-masing individu.
Menurut Rasmun (2004), stres dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu :
1. Stres ringan
Stres ringan merupakan stres yang tidak merusak aspek fisiologis dari
seseorang. Umumnya dirasakan oleh setiap orang seperti lupa,
ketiduran, kemacetan, dan dikritik. Stres ringan biasanya hanya terjadi
dalam beberapa menit sampai beberapa jam. Situasi ini tidak akan
menimbulkan penyakit kecuali dihadapi terus menerus.
2. Stres sedang
Stres sedang terjadi lebih lama dari pada stres ringan yaitu dari
beberapa jam sampai beberapa hari. Contoh dari stresor yang
menimbulkan stres sedang seperti kesepakatan yang belum slesai,

beban kerja yang berlebihan, mengharapkan pekerjaan baru dan


anggota keluarga yang pergi dalam waktu lama.
3. Stres berat
Stres berat adalah stres kronis yang terjadi beberapa minggu sampai
beberapa tahun. Contoh dari stresor yang dapat menimbulkan stres
berat seperti hubungan suami-istri yang tidak harmonis, kesulitan
finansial, dan penyakit fisik yang lama.
2.2 Stres akibat kerja
2.2.1

Penyebab stres kerja


1. Karateristik pekerjaan
a. Kebisingan
Kebisingan dapat didefinisikan sebagai suara yang tidak diinginkan
yang dapat menimbulkan stres dan merupakan salah satu sumber stres
di tempat kerja. Pajanan bising di tempat kerja berhubungan dengan
berbagai

macam

efek

stres,

seperti

aktivitas

neuroendokrin,

peningkatan detak jantung, kelelahan, sulit konsentrasi, dan rendahnya


motivasi kerja.
b. Pencahayaan
Sumber stres lain di tempat kerja adalah tingkat pencahayaan. Tingkat
pencahayaan yang kurang baik dapat membuat pekerja lebih sulit
menyelesaikan pekerjaannya sehingga akan menghabiskan banyak
waktu (Rout & Rout, 2002). Selain itu, kulitas cahaya yang dihasilkan
juga penting. Sebagian besar individu lebih merasa bahagia ketika
cahaya matahari yang terang pada siang hari, karena dapat mendorong
terjadinya reaksi kimia dalam tubuh sehingga menghasilkan perasaan
senang secara psikologis. Peningkatan kualitas cahaya dapat
meningkatkan dapat meningkatkan kualitas lingkungan kerja yang
dapat memperngaruhi kualitas pekerjaan yang dilakukan tiap individu
(Schroeder, 2013).
c. Suhu

Respon individu terhadap kondisi suhu di lingkungan kerja berbedabeda. Stres yang diakibatkan suhu dapat menurunkan kemampuan
dalam pengambilan keputusan dan performa kerja. Lingkungan kerja
yang terlalu dingin dapat menurunkan tingkat ketangkasan dan
motivasi dalam bekerja dan dapat meningkatkan terjadinya kecelakaan
kerja.

Berdasarkan

hasil

penelitian

Pilcher

et

al

(2002),

mengemukakan bahwa suhu yang terlalu dingin memiliki dampak


negatif terhadap proses pembelajaran dan tugas yang membutuhkan
memori. Sedangkan suhu yang terlalu panas berdampak negatif
terhadap tugas yang membutuhkan perhatian dan persepsi. Akan tetapi
efek ini hanya terlihat pada durasi yang singkat karena pekerja
biasanya sudah teraklimatisasi jika terpajan dalam waktu yang lama
(Perrewe & Ganster, 2010)
d. Ventilasi
Kualitas udara yang buruk di lingkungan kerja dapat memicu
terjadinya sakit kepala dan kelelahan sehingga menimbulkan sulitnya
berkonsentrasi pada pekerja. Rendahnya kualitas udara dapat
diakibatkan karena tingginya konsentrasi polutan udara, buruknya
sirkulasi

udara

atau

kurangnya

ventilasi.

Faktor

lain

yang

mempengaruhi kualitas udara yaitu asap rokok, sistem pendingin


udara, ionisasi akibat peralatan elektronik, terlalu banyak orang dalam
suatu ruangan, dan adanya bahan kimia (Schroeder, 2013).
e. Konflik peran
Konflik peran biasanya terjadi pada individu ketika tingginya harapan
perusahaan terhadap diri mereka. Akan tetapi, tingginya harapan
tersebut dapat mempersulit pencapaian tugas yang diberikan. Konflik
ini biasanya muncul ketika pekerja diharuskan berperilaku dengan
cara yang bertentangan dengan diri mereka. Menurut Pomaki et al
(2007), konflik peran berhubungan dengan kelelahan secara
emosional, gejala depresi, bahkan timbulnya gangguan kesehatan
secara fisik. Terdapat lima bentuk konflik peran :

i.
ii.
iii.
iv.
v.

Komunikasi yang tidak berjalan dengan baik


Banyak harapan untuk bertindak dengan cara yang berbeda
Peran ganda yang tidak sesuai dengan kemampuan
Banyaknya peran yang harus dilakukan
Nilai dan kepercayaan pekerja yang tidak sesuai dengan

kemampuan diri
f. Ketaksaan peran
Ketakasaan peran terjadi ketika tidak tersedia cukup informasi
mengenai perilaku yang diharapkan dari perusahaan. Informasi yang
tidak jelas mengenai harapan yang harus dipenuhi membuat pekerja
harus menjalankan peran yang beragam. Dalam sebuah penelitian
yang dilakukan terhadap manager industri manufaktur di Pakistan
menemukan bahwa ketaksaan peran berhubungan secara signifikan
terhadap peningkatan stres kerja. Semakin tinggi ketaksaan peran
yang dirasakan maka semakin tinggi tingkat stres kerja yang dialami.
Hal ini berdampak pada menurunnya potensi kerja sebesar 80% akibat
stres kerja yang dialami (Ram, Khoso, Shah, Chandio, dan Shaikih,
2011)
g. Konflik interpersonal
Setiap pekerjaan pasti mengharuskan pekerja berinteraksi dengan
orang lain. Penyebab munculnya konflik interpersonal seringkali
disebabkan

karena

kompetisi

antar

pekerja.

Bentuk

konflik

interpersonal dapat terjadi dalam bentuk aktif yaitu ketika seseorang


berargumen dan mengeluarkan kata-kata kasar pada orang lain. Dan
juga dapt terjadi dalam bentuk pasif yaitu ketika seseorang lupa
mengundang rekannya untuk menghadiri sebuah pertemuan yang
dianggap penting.
h. Ketidakpastian pekerjaan
Ketidakpastian pekerjaan merupakan salah satu sumber stres yang
dapat mengakibatkan menurunya performa kerja dan menyebabkan
pekerja mencoba mencari pekerjaan di tempat lain. Ketidakpatian
pekerjaan ini dapat direspon berbeda oleh setiap pekerja. Disatu sisi,
pekerja akan semakin meningkatkan performanya agar mereka dapat
tetap bekerja, tetapi di sisi yang lain secara tidak langsung dapat

menimbulkan kondisi stres atau ketidakpuasan dalam diri yang


berdampak pada menurunnya produktivitas kerja.
i. Kurangnya kontrol
Stres terjadi ketika adanya permintaan dari lingkungan yang tidak
sesuai dengan kemampuan individu dalam mengatasinya. Ketika
permintaan dari lingkungan tidak mampu dipenuhi maka individu
tersebut akan merasa sulit melakukan kontrol terhadap dirinya sendiri
sehingga dapat menimbulkan terjadinya stres. Hal ini dikarenakan
individu tersebut tidak mampu mengatur dirinya sendiri (Cardwell &
Flanagan, 2005).
j. Kurangnya kesempatan kerja
Kurangnya kesempatan kerja yang tersedia dapat menjadi suatu
masalah bagi individu. Meskipun demikian, penelitian yang
membahas mengenai dampak kurangnya lapangan pekerjaan terhadap
kesehatan mental individu sangat jarang dibahas. Peneliti cenderung
membahas mengenai pengaruh kurangnya lapangan pekerjaan
terhadap peningkatan angka pengangguran. Padahal kurangnya
lapangan pekerjaan dapat memicu terjadinya stres. Hal ini
dikarenakan munculnya kekhawatiran dalam diri individu terhadap
kemungkinan kehilngan pekerjaan atau sulitnya mencari pekerjaan
kembali (Bizymoms, 2013).
k. Jumlah beban kerja
Beban kerja baik mental maupun fisik berpotensi menjadi sumber
stres ditempat kerja. Bekerja dibawah tekanan waktu untuk mencapai
target merupakan sumber stres yang sering kali terdapat di tempat
kerja. Berdasarkan hasil penelitian pada pekerja di Jepang
menunjukkan bahwa jumlah beban kerja secara signifikan berkaitan
dengan munculnya sejumlah gejala stres seperti mudah marah,
kelelahan, gelisah dan gejala depresi (Nishitani, Sakakibara, &
Akiyama, 2013). Beban kerja yang tinggi dapat menimbulkan kondisi
stres bagi pekerja. Akan tetapi, beban kerja yang terlalu sedikit dapat
menimbulkan stres bagi pekerja. Hal ii dikarenakan pekerjaan yang
terlalu

monoton,

membbosankan

dan

terlalu

jauh

dibawah

kemampuan pekerja itu sendiri sehingga pekerja akan merasa tertekan


dengan kondisi pekerjaan yang demikian (Koradecka, 2010).
l. Variasi beban kerja
Variasi beban kerja berkaitan dengan beragam jenis pekerjaan yang
diberikan kepada pekerja dengan tuntutan kemampuan berbeda-beda.
Variasi beban kerja yang beragam dapat menimbulkan stres bagi
pekerja ketika mereka merasa tidak mampu melaksanakan tugas
tersebut. Berdasarkan hasil penelitian terhadap petugas pemadam
kebakaran menunjukkan bahwa variasi beban kerja yang tinggi
berhubungan secara signifikan terhadap munculnya gejala stres berupa
insomnia (Afrianti, Widyahening, Amri, & Kusumawardhani, 2011).
m. Tanggung jawab terhadap pekerja lain
Tanggung jawab merupakan sumber stres yang berasal dari peranan
dalam organisasi.

Hasil penelitian Sulsky & Smith (2005)

menunjukkan bahwa seorang pekerja yang memiliki tanggung jawab


dalam mengatur orang lain akan mengalami tingkat stres yang cukup
tinggi. Memiliki tanggung jawab terhadap orang lain juga dapat
meyebabkan munculnya rasa cemas. Hal ini dapat terjadi pada
berbagai profesi bukan hanya pada seorang manager tetapi juga pada
guru, petugas kesehatan, dan pelaksana hukum (Gatchel & Schultz,
2012).
n. Kemampuan yang tidak digunakan
Kemampuan pekerja yang tidak digunakan dapat menimbulkan stres
bagi pekerja tersebut. Kondisi seperti ini seringkali terjadi ketika
pekerja memiliki kemampuan yang banyak untuk melakukan suatu
pekerjaan tetapi kemampuan tersebut tidak dapat digunakan karena
sudah menggunakan alat bantu atau adanya pekerja lain yang
melakukan tugas tersebut.
o. Tuntutan mental
Tuntutan mental merupakan sumber stres yang signifikan terutama
pada pekerjaan yang menuntut interaksi secara langsung dengan klien
perusahaan khususnya pada sektor jasa. Pekerjaan yang mengharuskan

berinteraksi dengan orang lain memiliki banyak sumber emosi yang


bersifat negatif seperti kesedihan, mudah marah, tidak sabar san
sebagainya.
p. Shift kerja
Shift kerja yang bertentangan dengan pola tidur akan berisiko
menimbulkan gangguan kesehatan baik psikologis, fisik, dan perilaku.
Gangguan yang dapat dialami pekerja shift berupa gangguan
pernapasan, detak jantung, tekanan darah, ekskresi urin, mitosis sel,
produksi hormon, dan gangguan irama sirkadian. Terutama pada shift
kerja malam hari dapat menyebabkan perubahan kerja dimana para
pekerja diharuskan lebih aktif pada waktu malam hari yang
seharusnya digunakan untuk beristirahat. Pekerjaan shift terutama
yang malam hari akan memberi takanan yang besar bagi tubuh. Tubuh
akan merasa lebih lelah sehingga risiko terjadinya kecelakaan akan
meningkat. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perawat
shift malam menunjukkan bahwa stres kerja yang dialami perawat
mempengaruhi kinerja mereka menjadi kurang baik. Menurunnya
kinerja ini disebabkan adanya tekanan emosional yang dihadapi (Klau,
2010). Hubungan antara stres kerja dan shift kerja juga menunjukkan
hasil yang signifikan pada pekerja bagian produksi di PT. Newmont
Nusa Tenggara (Firmana dan Hariyono, 2011). Selain itu, pada
penelitian terhadap operator SPBU di Magelang juga menunjukkan
bahwa terdapat perbedaan tingkat stres kerja yang dirasakan pekerja
pada setiap shiftnya dimana pada pekerja shift malam memiliki
tingkat stres stres yang paling tinggi (Nuryati, 2007).
2. Karakteristik individu
a. Jenis kelamin
Jenis kelamin merupakan salah satu faktor yang dapat menimbulkan
stres di tempat kerja. Menurut ILO (2001), perempuan lebih beresiko
mengalami stres yang berdampak pada timbulnya penyakit akibat stres
serta tingginya keinginan untuk meninggalkan pekerjaan. Berikut

beberapa faktor yang meneyebabkan perempuan rentan mengalami


stres :
i.

Perempuan memiliki peran dominan dalam merawat keluarga


sehingga total beban kerja perempuan lebih tinggi dibandingkan

ii.

dengan laki-laki.
Tingkatan untuk mengontrol pekerjaan cenderung rendah karena

iii.
iv.

sebagian besar perempuan menempati jabatan dibawah laki-laki.


Semakin banyaknya perempuan menduduki jabatan penting.
Semakin banyaknya perempuan yang bekerja pada tingkat stres

v.

tinggi.
Terjadinya ketidakadilan dan diskriminasi dari posisi yang lebih

senior.
b. Umur
Umur dapat mempengaruhi tingkat stres yang dialami seseorang.
Individu yang berumur lebih tua cenderung mengalami stres lebih
rendah, dikarenakan pengalamannya dalam menghadapi stres sudah
lebih baik dibandingkan dengan individu yang berumur lebih muda
(Mroczek & Almeida, 2004).
c. Status pernikahan
Individu yang berstatus menikah biasanya memiliki tingkat stres yang
lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak menikah. Hal ini
dikarenakan apabila pekerja mendapat dukungan dalam karir dari
pasangannya maka stres kerja yang dialaminya akan cenderung rendah
(Fink, 2010). Pengaruh status pernikahan terhadap stres hanya akan
berdampak positif apabila pernikahan tersebut berjalan dengan baik
dan bahagia, tetapi pernikahan yang tidak bahagia akan lebih mungkin
menimbulkan stres dibandingkan dengan individu yang tidak
menikah.
d. Jumlah anak
Kehadiran anak dalam sebuah pernikahan dianggap sebagai penyatu
hubungan antara suami dan istri. Akan tetapi di lain pihak kehadiran
anak dalam sebuah pernikahan dapat mengakibatkan menurunnya
kepuasan pernikahan, sebagai dampak adanya transisi menjadi

pasangan orang tua sehingga dapat menimbulkan perasaan stres. Hal


ini seringkali terjadi setelah kelahiran anak pertama (Shute, 2009).
e. Masa kerja
Masa kerja yang berhubungan dengan stres kerja berkaitan dalam
menimbulkan kejenuhan saat bekerja. Pekerja yang telah bekerja lebih
dari lima tahun biasanya memiliki tingkat kejenuhan kerja yang lebih
tinggi dibandingkan dengan pekerja yang baru. Kejenuhan ini dapat
berdampak pada timbulnya stres di tempat kerja (Munandar, 2001).
f. Kepribadian tipe A
Kepribadian tipe A adalah kepribadian yang secara agresif dalam
perjuangan terus menerus untuk mencapai lebih banyak waktu yang
lebih sedikit dan melawan upaya-upaya yang menentang dari orang
atau hal lain. Pada tipe ini merupakan tipe yang mudah mengalami
stres karena lebih condong agresif, mudah panik, selalu berhati-hati,
dan suka pada tantangan (Robbin, 2001).
g. Penilaian diri
Penilaian individu adalah persepsi individu terhadap kemampuan,
keberhasilan, dan kelayakan dirinya. Penilaian individu terhadap
dirinya dapat mempengaruhi perilaku.
3. Aktivitas di luar pekerjaan
Aktivitas di luar pekerjaan juga dapat berpengaruh dalam menimbulkan
kondisi stres yang beragam bagi pekerja seperti masalah keuangan,
pernikahan, kehidupan sosial, anak, dan laian-lain.
4. Faktor pendukung
Dukungan sosial yang baik dapat berdampak positif bagi kesehatan
pekerja, dikarenakan lingkungan yang baik dapat mencegah timbulnya
faktor penyebab stres. Akan tetapi, jika dalam lingkungan kerja banyak
terdapat sumber stres maka dukungan sosial dapat menjadi dampak
negatif dari sumber stres yang terdapat di lingkungan tersebut.
2.2.2

Dampak stres kerja pada kesehatan

1. Dampak Fisik
a. Sakit dan nyeri
i.
Sakit kepala karena tegang
Ketegangan otot merupakan gejala stres nomor satu. Gejala ini
kemungkinan muncul dalam bentuk sakit kepala karena tegang,
rahang terkatup, leher kaku, dan nyeri punggung bagian bawah.
Gejala yang paling umum yaitu sakit kepala karena tegang terjadi
akibat kontraksi otot di dahi, mata, leher, dan rahang. Kebanyakan
orang tidak menyadari peningkatan ketegangan otot ini sampai
nyeri mulai terasa di bagian depan kepala.
ii.

Sakit kepala migrain


Sakit kepala migrain disebabkan oleh peningkatan aliran darah dan
sekresi zat kimia ke bagian kepala. Gejalanya meliputi pandangan
berkunang-kunang diikuti dengan denyutan yang kuat, pusing dan
mual. Migrain tidak terjadi pada saat stresor bekerja, melainkan
beberapa jam setelah bekerja.

iii.

Temporomandibular Joint Dysfunction(TMJ)


Kontraksi yang berulang kali pada otot rahang (biasanya saat tidur)
dapat menyebabkan suatu masalah yang disebut TMJ. Gejalanya
meliputi nyeri otot, bunyi bergeletuk saat mengunyah, dan sakit
kepala karena tegang serta sakit telinga.

b. Masalah lambung
i.
Ulkus dan Kolitis
Ulkus disebabkan oleh sekresi cairan cairan pencernaan yang
berlebihan, yang menyebabkan radang dan menghancurkan lapisan
bagian dalam lambung. Kolon yang terletak di bagian bawah
lambung juga rentan terjadinya ulkus, yang menyebabkan kolitis
(peradangan pada lapisan bagian dalam kolon). Dalam hal ini stres
yang terkait ialah dalam bentuk kecemasan.
ii.

Irritable Bowel Syndrome

Irrtitable Bowel Syndrome (IBS) ditandai dengan serangan nyeri


atau nyeri tekan pada daerah perut, kram, diare, mual, konstipasi,
dan buang angin yang berulang kali. Gangguan yang berkaitan
dengan stres paling sering dihubungkan dengan kecemasan dan
depresi.
c. Cemas saraf
i.
Insomnia
Tidak dapat tidur merupakan gejala pasti akibat kerja sistem saraf
yang terlalu aktif/berlebihan. Stimulasi saraf yang berlebihan pada
jaringan otak dan otot dapat menyebabkan rasa gelisah baik siang
maupun malam hari.
ii.

Asma Bronkial
Bronkiolus adalah saluran yang membawa udara masuk ke dalam
paru. Saat asma menyerang, saluran ini mulai membengkak karena
dipenuhi dengan cairan bronkial. Stelah itu penderita akan merasa
seakan-akan ia tersedak dan tidak dapat bernafas. Serangan asma
sering dikaitakan dengan rasa cemas.

iii.

Alergi
Reaksi alergi dipicu ketika ada substansi asing seperti serbuk sari
atau debu yang masuk ke dalam tubuh. Dewasa ini, diketahui
bahwa reaksi alergi dapat terjadi lebih sering dan lebih berat
apabila seseorang mudah merasa cemas. Obat-obat yang dijual
bebas (yang mengandung antihistmin) merupakan cara paling
umumuntuk mengatasi alergi. Teknik relaksasi juga dapat
meminimalkan efek substansi asing tersebut.

iv.

Artritis Rematoid
Artritis rematoid , penyakit sendi dan penyakit jaringan ikat, terjadi
jika sendi membengkak, menyebabkan sendi meradang. Seiring
dengan

waktu

cairan

akan

masuk

ke

dalam

jaringan

kartilago/tulang rawan dan jaringan tulang sehingga menyebabkan

kondisi sendiri semakin buruk. Secara khusus, keparahan nyeri


artritis berkaitan dengan kejadian stres terutama pada saat menekan
rasa marah.
d. Penyakit
i.
Penyakit jantung koroner
Ada dua faktor yang berkaitan dengan respons stres terhadap
terjadinya penyait jantung koroner :
a) Tekanan darah tinggi/hipertensi ( >145/90 mmHg ). Hipertensi
diketahui dapat membawa kerusakan pada lapisan bagian
dalam pembuluh darah koroner yang memasok oksigen ke otot
jantung.
b) Pelepasan kortisol dari kelenjar adrenalin, yang diketahui dapat
menyebabkan peningkatan kadar kolesterol dalam darah.
Kolesterol dapat bertindak sebagai pembalut yang dapat
memperbaiki dinding pembuluh darah yang rusak. Tetapi
kolesterol juga dapat menyebabkan kerusakan arteri yang lebih
berat yaitu menghambat aliran darah. Ada tiga tahap dalam
terjadinya penyakit jantung koroner yaitu: Pertama, lapisan
lemak tampak di sepanjang dinding pembuluh darah;
kemudian mulai terbentuk penebalan lapisan; yang pada
ii.

akhirnya pembuluh darah arteri mengeras seperti pipa timah.


Kanker
American

Cancer

Society

mendefinisikan

kanker

sebagai

kelompok penyakit besar yang ditandai dengan pertumbuhan dan


penyebaran sel-sel abnormal yang tidak terkontrol. Hasil
penelitian memperlihatkan bahwa tubuh memproduksi kuranglebih enam sel mutan setiap harinya. Dalam kondisi normal, sel-sel
darah putih dapat melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi dalam
kondisi stres, sel-sel mutan mungkin tidak terdeteksi dan dapat
berkembang menjadi tumor ganas. Emosi negatif yang muncul

dapat menekan jumlah sel darah putih sehingga memperbesar


resiko tumbuhnya tumor ganas tersebut.
2.

Dampak Psikologi
a. Keletihan
Dalam keadaan stres tubuh kita akan mengaktifkan respons melawan atau
menghindar, baik kita memilih untuk tetap aktif atau diam saja. Sehingga
kita akan mengeluarkan lebih banyak energi dan hal ini dapat
menyebabkan keletihan baik fisik maupun mental. Apabila beberapa
stresor menuntut perhatian kita, seperti tenggat waktu, catatan
produktivitas atau rapat staff. Dapat terjadi hal-hal sebagai berikut :
i. Fokus kerja kita terpecah
ii. Kurang perhatian
iii.
Kemampuan kita mengingat informasi menjadi terbatas
iv. Proses pengambilan keputusan kita akan sangat terpengaruh.
b. Menutup diri
Apabila seseorang merasa dirinya sudah tidak memiliki kendali terhadap
pekerjaannya dan mulai merasa dimanfaatkan oleh atasan, rekan kerja,
oleh perusahaan tempat ia bekerja maka akan timbul perasaan menutup
diri dan terisolasi. Jika tidak diperiksa dan tidak diselesaikan, persepsi
tersebut akan memperkuat rasa marah dan frustasi. Sehingga rasa marah
dapat diungkapkan dalam bentuk ketidakpekaan terhadap rekan kerja,
sinisme, dan sikap yang bermusuhan. Kemarahan yang tidak tidak
diselesaikan dan salah penyalurannya dapat muncul salah satu dari empat
bentuk berikut ini :
i.
ii.
iii.
iv.

Sikap bermusuhan (pemarah)


Rasa bersalah (menghukum diri sendiri)
Balas dendam
Menekan emosi (somatizers, penderita ini akan mengalami gejala fisik

stres seperti sakit kepala migrain, ulkus, dan hipertesi)


c. Depresi
Seseorang yang selalu merasa kehilangan kendali (kewalahan atau bosan)
di tempat kerjanya, pada akhirnya akan merasa depresi. Jika merasa

seseorang merasa tidak senang dengan keadaan yang sekarang tetapi


tidak dapat berhenti dari pekerjaan karena beberapa alasan, seseorang
tersebut

akan

merasa

depresi

yang

terungkap

dalam

bentuk

ketidakberdayaan. Perasaan depresi ini akan mempengaruhi kualitas


kerja, dan juga dapat menekan sistem imun sehingga akan menjadi lebih
rentan terhadap penyakit.
d. Harga diri rendah
Harga diri sering kali digambarkan sebagai suatu perasaan tentang nilai
diri (self-worth) dan penerimaan diri (self-acceptance). Apabila stres
kerja sudah mencapai titik kritis, harga diri dapat runtuh. Mereka yang
harga dirinya rendah akan merasa tidak berdaya, frustasi, depresi, dan
sangat rentan terhadap tekanan akibat stres. Sementara mereka yang
memiliki harga diri tinggi akan memperlihatkan keyakinan diri dan
antusiasme serta dapat mengatasi rasa frustasi dengan baik. Perasaan
harga diri sangat penting untuk mengurangi stres secara efektif. Terdapat
empat unsur pokok yang terdapat pada harga diri, yaitu : tali
persaudaraan, keunikan, pemberdayaan, dan panutan. Keempat unur
pokok tersebut harus ada dalam kehidupan setiap orang untuk
memastikan rasa harga diri yang tinggi.
2.3

Shift kerja dan stres akibat kerja


Menurut Admi, Tzischinsky, Epstein, Herer, dan Lavie (2008), shift kerja

didefinisikan sebagai perputaran delapan jam pergeseran jadwal kerja, termasuk


shift pagi, sore dan malam. Kondisi ini menuntut karyawan bekerja dalam shift
tertentu secara terus menerus dalam periode tertentu. Menurut Maurits & Widodo
(2008), beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyusunan shift kerja, yaitu:
1. Pergantian shift kerja sebaiknya dengan pola rotasi maju dengan waktu rotasi
kurang dari 2 minggu dan dengan waktu libur rata-rata 2hari/minggu
2. Lama shift kerja sebaiknya tidak lebih dari 8 jam, jika lebih dari jam tersebut
beban kerja sebaiknya dikurangi

3. Pada pekerja dengan shift malam dianjurkan ada waktu tidur siang
sebelumnya dan apabila melaksanakan pekerjaan dengan pertimbangan khusus
sebaiknya dilaksanakan sebelum jam 4 pagi agar kesalahan dapat dikurangi
4. Aspek demografis seperti jenis kelamin dan umur perlu diperhatikan dalam
penyusunan shift kerja
Shift kerja dan stres akibat kerja merupakan topik penting dalam perawatan
kesehatan karena memberi dampak negatif terhadap kesehatan dan keselamatan
pekerja seperti penyakit jantung, keluhan gastrointestinal masalah tidur, masalah
kesehatan mental kelelahan, ketidakpuasan kerja, kecelakaan dan cedera di tempat
kerja, mengurangi kewaspadaan dan kinerja kerja, absensi dan turnover. Dampak
negatif dari shift kerja pada dasarnya berasal dari adaptasi biopsikososial yang
tidak memadai dalam menghadapi tantangan yang ditimbulkan dari kerja shift
tersebut. Selvi, Ozdemir, Besiroglu, dan Aydin (2010), membuktikan bahwa shift
kerja manjadi faktor risiko potensial untuk meningkatnya morbiditas dan
mengurangi kualitas hidup antara perawat. Shift kerja juga dapat memberi
pengaruh terhadap fungsi fisiologis tubuh ketika irama sirkadian (siklus
tidur/bangun) mengalami gangguan (Van Mark, 2006), dan kesehatan psikologis
melalui kelelahan dan gangguan terhadap kehidupan sosial/keluarga.
Circadian rythm merupakan suatu pola internal dalam tubuh manusia yang
mengatur irama kehidupan sehari-hari. Irama sirkadian berkaitan erat dengan
tingkat melatonin dan mempengaruhi langsung normalitas tingkat melatonin yang
alami dalam tubuh. Melatonin adalah hormon yang biasanya dapat ditemukan
pada hewan, manusia dan lain-lain. Melatonin memiliki kemampuan sebagai
antioksidan.
Irama sirkadian diatur oleh suprachiasmatic nucleus (SCN) yang terdapat
dalam hipotalamus. Kerja irama sirkadian dipengaruhi oleh cahaya, karena cahaya
mempengaruhi hormon melatonin. Pada tubuh yang normal jumlah melatonin
berkurang setelah hari mulai gelap. Cahaya ditangkap oleh fotoreseptor didalam
retina dan membuat sinyal yang dibawa saraf optic ke SCN, dan SCN merupakan
bagian dari hipotalamus yang dapat mempengaruhi fungsi pengaturan tidur,

temperatur tubuh, sekresi hormon, produksi urin dan tekanan darah (Kurniawan,
2007).
Fungsi fisiologis tubuh seperti denyut jantung, oksigen yang dikonsumsi,
suhu tubuh, tekanan darah, produksi adrenalin, sekresi urin, kapasitas fisik, dan
mental secara nyata iramanya berbeda waktu yang sama. Pada umumnya fungsi
tubuh meningkat pada pagi hari, melemah pada siang hari dan menurun pada
malam hari untuk pemulihan dan pembaharuan. Mc. Cormick menyatakan bahwa
irama sirkadian setiap individu berbeda dalam penyesuaian kerja malam. Pola
aktifitas tubuh akan terganggu bila bekerja malam dan maksimum terjadi selama
shift malam.
Kondisi pekerja dan circadian ritme pada shift malam berbeda dengan shift
pagi. Hal ini disebabkan karena pola siklus hidup manusia pada malam hari
umumnya digunakan untuk beristirahat, namun karena bekerja shift malam maka
tubuh dipaksa untuk mengikutinya. Hal ini cenderung mengakibatkan terjadinya
kesalahan bekerja karena mengalami kelelahan pada shift malam, dan juga
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang menyebabkan kelelahan seperti stres fisik
akibat kekurangan tidur pada malam hari sehingga dapat menambah faktor
kelelahan dan menurunkan produktivitas pekerja shift malam (Kimberly, 2013).
Pada penelitian Kodrat (2009) menyatakan bahwa shift kerja dapat
mempengaruhi irama sirkadian tubuh, yang dapat dilihat dari waktu pembagian
shift kerja yaitu ada yang pagi, siang, malam, dan yang paling berpengaruh
terhadap irama sirkadian dan kesehatan tubuh adalah shift malam. Shift kerja juga
dapat memberikan beberapa efek negatif pada pekerjanya yaitu efek fisiologis
berkurangnya waktu tidur (pada pekerja shift malam karena beradaptasi terhadap
perubahan irama sirkadian), kapasitas fisik yang menurun akibatnya perasaan
mengantuk dan lelah, menurunnya nafsu makan dan ganggguan pekerjaan. Selain
itu terdapat juga efek psikologis bagi pekerja yaitu terganggunya kehidupan
keluarga, hilangnya waktu luang, kecil kesempatan untuk berinteraksi dengan
teman, dan mengganggu aktivitas kelompok dalam masyarakat (Kodrat, 2009)
2.4

Penatalaksanaan stres akibat kerja

Stranks (2005) menjelaskan ada beberapa strategi dari manajemen stres


kerja, yaitu mengidentifikasi faktor-faktor penyebab stres seperti budaya kerja,
jadwal kerja proses komunikasi, inkompetensi manajer, dan lain-lain. Kemudian
dilakukan pengukuran dan evaluasi tingkat stres yang dialami. Hasilnya kemudian
digunakan untuk menentukan penanganan stres yang tepat.
Suprihanto dkk (2003) mengatakan dari sudut pandang organisasi,
manajemen mungkin tidak khawatir jika terdapat karyawan yang mengalami stres
ringan, karena pada tingkat stres tertentu dapat memberikan akibat positif yang
akan mendesak karyawan untuk melakukan tugas dengan lebih baik. Maka
manajemen akan berpikir untuk memberi tugas dengan menyertakan stres ringan
untuk memberi dorongan bagi karyawan. Namun, dorongan tersebut dianggap
sebagai tekanan, sehingga diperlukan pendekatan yang tepat dalam mengelola
stres. Terdapat 2 pendekatan :
1. Pendekatan individual
Karyawan dapat berusaha sendiri untuk mengurangi level stresnya. Strategi
individual yang cukup efektif seperti :
a. Teknik manajemen waktu
Berdasarkan survei nasional secara konsisten menunjukkan bahwa
orang menganggap hal pribadi dan keluarga sangat berharga sehingga
mereka wajib menjaga hubungan antar keluarga. Untuk itu para
pekerja harus membantu dirinya sendiri untuk mengatasi dengan lebih
baik ketegangan yang diciptakan oleh tuntutan pekerjaan tapi tetap
mampu menjaga keharmonisan keluarga dengan prinsip pengelolaan
waktu, seperti : membuat daftar harian dari kegaitan yang mau
diselesaikan, memprioritaskan kegiatan menurut kepentingan dan
urgensinya, menjadwalkan kegiatan menurut urutan prioritasnya,
mengetahui siklus harian anda dan menangani bagian yang paling
menuntut dari pekerjaan anda selama bagian tinggi dari siklus anda
saat dimana anda paling waspada dan produktif.
b. Latihan fisik
Latihan fisik non kompetitif seperti aerobik, berjalan, jogging,
berenang dan bersepeda telah direkomendasikan oleh dokter sebagai
suatu cara untuk menangani tingkat stres yang berlebihan. Bentuk

latihan fisik ini dapat meningkatkan kapasitas jantung, memberikan


suatu pengalihan mental dari tekanan pekerjaan.
c. Pelatihan pengunduran/relaksasi
Relaksasi ini seperti meditasi, hipnotis, dan feedback sasarannya
adalah untuk mencapai suatu keadaan relaksasi yang dalam, dimana
orang merasa santai secara fisik. Relaksasi yang dalam dilakukan
selama 15-20 menit sehari untuk melepaskan ketegangan dan
memberikan rasa kedamaian yang mendalam kepada individu.
Palatihan ini dijadwalkan secara permanen oleh karyawan dalam
seharinya dan diberikan waktu khusus pada waktu istirahat kerja.
d. Dukungan sosial
Dukungan sosial sebagai suatu pereda yang mengurangi efek negatif
dari pekerjaan yang berketegangan tinggi. Mempunyai teman, keluarga
atau rekan kerja yang dapat diajak bicara memberikan saluran keluar
bila tingkat stres berlebihan. Individu harus mampu memperluas
jaringan sosialnya untuk mengurangi ketegangan dalam bekerja.
Manajemen juga harus menyediakan konsultan bagi karyawannya dan
mengadakan pertemuan antar karyawan dan keluarganya secara
terjadwal, karena dukungan yang tinggi mengurangi kemungkinan
bahwa stres kerja yang berat akan mengakibatkan kehilangan semangat
kerja.
2. Pendekatan organisasional
Beberapa penyebab stres adalah tuntutan dari tugas dan peran serta struktur
organisasi yang dikendalikan oleh manajemen. Strategi-strategi yang dapat
digunakan seperti :
a. Seleksi dan penempatan,
Respon masing-masing individu terhadap situasi stres berbeda-beda.
Pengalaman

pekerjaan

dapat

mempengaruhi

individu

dalam

menghadapi stres. Keputusan seleksi dan penempatan sebaiknya


mempertimbangkan fakta ini, lebih baik menempatkan individu pada
pekerjaan yang dipahami secara baik dalam risiko, keuntungan dan
kendalanya. Dengan penempatan ini, pengalaman individu merupakan

nilai tambah agar individu tersebut dapat menyesuaikan diri dengan


lebih baik pada pekerjaan yang berstres tinggi dan menjalankan
pekerjaan tersebut dengan efektif.
b. Penetapan tujuan
Sejumlah besar riset menyimpulkan

bahwa

individu-individu

berkinerja dengan lebih baik bila mereka memiliki tujuan yang


spesifik, menantang dan menerima umpan balik mengenai kemajuan
mereka yang tepat kearah tujuan tersebut. Tujuan spesifik yang
dipersepsikan akan memperjelas harapan kinerja, dan disamping itu
umpan balik tujuannya untuk mengurangi ketidakpastian mengenai
kinerja yang sebenarnya. Ini akan mengurangi frustasi pada karyawan,
kedwi-artian peran dan stres.
c. Redesain pekerjaan
Desain ulang pekerjaan yang tepat untuk karyawan dengan kebutuhan
pertumbuhan yang rendah mungkin dengan pengurangan tanggung
jawab dan peningkatan spesialisasi. Jika individu lebih menyukai
struktur dan rutin, maka mengurangi keragaman ketrampilan
seharusnya dapat mengurangi ketidakpastian dan stres.
d. Peningkatan keterlibatan karyawan
Dengan memberikan karyawan suatu suara dalam keputusankeputusan yang secara langsung mempengaruhi kinerja mereka,
manajemen dapat meningkatkan kendali karyawan dan mengurangi
stres. Maka para manajer hendaknya mempertimbangkan peningkatan
keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan.
e. Komunikasi organisasi
Meningkatkan komunikasi organisasional yang formal dengan para
karyawan dapat mengurangi ketidakpastian. Pentingnya persepsi
berperan dalam memperlunak hubungan stres respon dan manajemen
dapat menggunakan komunikasi yang efektif sebagai cara untuk
membentuk persepsi karyawan.
f. Program kesejahteraan
Menawarkan program kesejahteraan yang didukung secara organisasi
dan terfokus pada keseluruhan kondisi fisik dan mental karyawan,
misalnya program-program secara khusus mengadakan lokakarya

untuk membantu orang berhenti merokok, mengendalikan penggunaan


alkohol, mengurangi bobot tubuh, makan dengan lebih baik, dan
mengembangkan suatu program latihan yang teratur, dimana
kebanyakan program kesejahteraan didasarkan para karyawan perlu
memikul tanggung jawab pribadi untuk kesejahteraan fisik dan mental
mereka
2.5

Pencegahan stres akibat kerja


Secara umum terdapat 3 macam manajemen stres (Budiningwati &

Meuraksa, 2010), yaitu :


1. Primary prevention, yaitu dengan mengubah atau melakukan perbaikan
manajemen diri dengan memiliki keterampilan yang relevan. Seperti
manajemen

waktu,

keterampilan

mendelegasikan,

keterampilan

mengorganisasikan, dan menata.


2. Secondary prevention, yaitu menyiapkan diri menghadapi stressor, dengan
cara exercise, diet, rekreasi, istirahat, meditasi, dan sebagainya.
3. Tertiary prevention, yaitu menangani dampak stres yang sudah ada, jika
diperlukan meminta bantuan jaringan suportif dan terapis.
Menurut WHO, terdapat tiga langkah dalam pencegahan stres akibat kerja,
yaitu :
1. Pencegahan primer
Melakukan penyesuaian ergonomik, mendesain lingkungan dan pekerjaan
sesuai kemampuan pekerja dan melakukan pengembangan organisasi dan
manajemen.
2. Pencegahan sekunder
Dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan dan pelatihan kepada
para pekerja dalam mencegah dan mengatasi stres kerja.

3. Pencegahan tersier

Dapat dilakukan dengan meningkatkan sensitivitas dan respon sistem


manajemen serta meningkatkan pelayanan kesehatan kerja. Pencegahan
tersier ini menekankan pada peningkatan respon dan pelayanan kesehatan
kerja yang efisien.

2.6

Ringkasan Pustaka
Tabel 1. Ringkasan pustaka

No

Peneliti

Lokasi penelitian

Studi desain

Subjek studi

Variabel yang diteliti

Waktu

Hasil

studi
1

Setyono

A, PT. Adira Finance Cross sectional

Rahardjo

M, Semarang, Indonesia

yang mempengaruhi job

disebabkan

Nugraheni

R,

stress serta pengaruhnya

sumber stres

terhadap kepuasan kerja

organisasi

dan

merupakan

Rahardja e

140 responden

Analisis

faktor-faktor

kinerja

Salesman

kerja

5 bulan

Terjadinya job stress yang


oleh

sumber-

berasal dari
dan

individu

faktor

mempengaruhi

yang

kepuasan

kerja dan kinerja karyawan.

No

Peneliti

Lokasi penelitian

Studi desain

Subjek studi

Variabel yang diteliti

Waktu

Hasil

studi
2

Mozhdeh

S, RS Al-Zahra, Iran

Cross sectional

216 responden

Hubungan antara stres

6 bulan

Tidak

terdapat
signifikan

hubungan

Sabet B, Irani

dan lingkungan dengan

yang

MD, Hajian E,

faktor

tingkat stres dengan usia,

Malbousizadeh

perawat

pekerjaan

pada

jenis

kelamin,

pernikahan,
mengatasi

antara
status

kerja

shift,

masalah,

dan

jumlah anak, tetapi terdapat


hubungan yang signifikan
anatra tingkat stres dengan
kepuasan kerja dan rekreasi.

Prismayanti FI, RS
Alifin, Suratmi

Firmana
Hariyono W

Dr.

Soegiri Cross sectional

109 responden

Hubungan

shift

kerja

4 bulan

Terdapat

hubungan

yang

Lamongan,

dengan stres kerja pada

signifikan antara shift kerja

Indonesia

perawat di ruang rawat

dengan stres kerja pada

inap

perawat rawat inap.

AS, PT. Newmont Nusa Cross sectional

71 responden

Tenggara, Indonesia

Hubungan

shift

kerja

2 bulan

Terdapat

hubungan

yang

dengan stres kerja pada

bermakna antara shift kerja

karyawan

dengan stres kerja pada

bagian

operasional

tenaga

kerja

bagian

operasional
No

Peneliti

Lokasi penelitian

Studi desain

Subjek studi

Variabel yang diteliti

Waktu

Hasil

studi
5

Agyemang CB, Perusahaan


Nyanyofio
Gyamfi GD

JG, Manufaktur, Ghana

Cross sectional

120 responden

Stres kerja, sektor kerja


dan

pola

sebagai

kerja

3 bulan

Sebuah

hubungan

yang

shift

signifikan ditemukan antara

korelasi

stres kerja dan kesehatan

dan

serta keselamatan pekerja.

kesehatan
keselamatan kerja

Dan

juga

tidak

ada

perbedaan yang signifikan


pada tingkat kesehatan dan
keselamatan

kerja

kalangan

pekerja

produksi

maupun

di
sektor
non

produksi. Serta karyawan


yang menjalani shift kerja
akan mengalami kesehatan
dan keselamatan kerja yang
rendah

dibandingkan

dengan karyawan yang tidak


shift.

2.7

Kerangka Teori

Karateristik pekerjaan
Penyebab

1. Kebisingan
2. Pencahayaan
3. Suhu
4. Ventilasi
5. Konflik peran
6. Ketaksaaan peran
7. Konflik interpersonal
8. Ketidakpastian pekerjaan
9. Kurangnya kontrol
10. Kurangnya kesempatan kerja
11. Jumlah beban kerja
12. Variasi beban kerja
13. Tanggung jawab terhadap pekerja lain
14. Kemampuan yang tidak digunakan
15. Tuntutan mental
16. Shift kerja

Stres kerja

Karakteristik individu
1.
2.
3.
4.
5.

Jenis kelamin
Umur
Status pernikahan
Jumlah anak
Masa kerja
6. Penilaian diri
Aktivitas di luar pekerjaan
Faktor pendukung
1. Dukungan sosial
Alarm Reaction stage
Respon tubuh

Resistance/Adaptation stage
Exhaustion stage/tahap kelelahan

Gambar 1. Kerangka teori

BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1 Kerangka konsep

Variabel bebas

Variabel tergantung

Karateristik
pekerjaan

Internal

Shift kerja
Suhu
Kebisingan
Jumlah beban
kerja

Karakteristik individu

Tingkat stres kerja

Umur
Jenis kelamin

Aktifitas di luar
pekerjaan
Faktor Pendukung
Dukungan sosial

Eksternal

Keterangan :
: Variabel yang diteliti
: Variabel yang tidak diteliti
Gambar 2. Kerangka konsep

3.2

Definisi operasional
Tabel 2. Definisi operasional

Variabel

Definisi

Alat Ukur

Operasional
Shift kerja

Cara

Hasil Pengukuran

Pengukuran

Pola waktu kerja Lembar jadwal Melihat


bergilir

yang shift kerja yang dokumen

diberikan

dan dikeluarkan

biasanya

dibagi Perusahaan

kerja perusahaan

Referensi

Pengukuran
Pagi ( 08.00 - 16.00 )

shift

Skala

Ordinal

Prismayanti

FI,

Suratmi (2010)20

Siang ( 16.00 24.00 )


Malam ( 24.00 08.00 )

atas kerja pagi, sore


dan malam
Dukungan

Keberadaan orang Social

sosial

lain

yang

Support

Mengisi

Kuantitas : 243

dapat Questionnaire 6 kuesioner untuk

dimodalkan untuk (SSQ6)

mengukur

memberikan

kuantitas (social

bantuan, semangat,

questionnaire

perhatian sehingga

number)

dapat

kualitas (social

meningkatkan

questionnaire

kesejahteraan

satisfaction)

dan

Kualitas : 162

Ordinal

Tan SC, Sutan R Jour


Social

Science

Humanities (2013)30

dalam

hidup

individu.
Variabel

Definisi

Alat Ukur

Operasional
Umur

Satuan waktu yang Kartu


mengukur
keberadaan
benda

Cara
Pengukuran

Tanda Wawancara

waktu Penduduk
suatu

Pengukuran
Dewasa awal : 26-35 tahun

Interval

Departemen

Kese

Republik Indonesia (200

Lansia akhir : 56-65 tahun


Manula : > 65 tahun

mati.
Perbedaan biologis Kartu
dan fisiologis yang Penduduk
dapat membedakan
perempuan

Referensi

Lansia awal : 46-55 tahun

atau

hidup maupun yang

laki-laki

Skala

Dewasa akhir : 36-45 tahun

makhluk, baik yang

Jenis kelamin

Hasil Pengukuran

dan

Tanda Wawancara

1. Laki-laki
2. Perempuan

Nominal

World Health Organi


(2005)33

Variabel

Definisi

Alat Ukur

Operasional

tidak

berkaitan Holmes

dengan

pekerjaan Rahe

tetapi

mempunyai

kaitan

dengan

keluarga

Hasil Pengukuran

Pengukuran

Aktivitas diluar Kegiatan yang di Kuesioner


pekerjaan

Cara

Mengisi

Referensi

Pengukuran
<150 : tidak stres

dan kuesioner

Skala

Ordinal

Holmes

TH,

Rahe

Journal of Psychosoma

150-199 : stres ringan

search (2007)34

200-299 : stres sedang


>300 : stres berat

dan

lingkungan
masyarakat.
Tingkat stres

Tinggi

atau Kuesioner OSI- Mengisi

25-58 : Stres ringan

rendahnya keadaan R

kuesioner untuk

psikis atau mental (Occupational

mengetahui

seorang

gambaran

individu Stress Inventory

dalam menghadapi Revised Edition)

tingkat

tekanan.

kerja

59-92 : Stres sedang


93-125 : Stres berat

stres

Ordinal

Hicks

R,

Bahr

Fujiwara D (2009)14

M,

BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1

Desain penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah dengan desain potong silang (cross sectional) untuk mengetahui hubungan antara

faktor internal dan eksternal dengan tingkat stres pada karyawan shif tpada suatu waktu tertentu.
4.2 Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan di Perusahaan X yang berada di Jakarta, dimulai
dari April hingga Juli tahun 2015.
4.2 Populasi dan sampel penelitian
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh karyawan yang bekerja dalam
shift dari beberapa divisi yang terdapat dalam perusahaan tersebut. Sampel adalah bagian dari polulasi yang dianggap mewakili
populasi.
Populasi infinit:

z p q
no =
d2
no =

1,96 2 0,3 0,7


0,052

n0=322,69=323
Keterangan:
n0: Besar sampel optimal yang dibutuhkan
z : Pada tingkat kemaknaan 95% besarnya 1,96
p : Prevalensi stres = 30 % (0,3)31
q : Prevalensi tidak mengalami stres (1-p) = 1-0,3 = 0,7
d : Akurasi dari ketepatan pengukuran, untuk p = >10% adalah 0,05
Populasi finit:
no
n=
n
1+ o
N

( )

n=

(323)
1+(323/ N)

n=139,4=139

n total=n+15 n

n total=139+20,85
n total=159,85 = 160

Keterangan
n
: Besar sampel yang dibutuhkan untuk populasi yang finit
n0
: Besar sampel dari populasi infinit
N
: Besar populasi finit = 245
15% : Sampel yang diperkirakan akan drop-out
Besar sampel yang diperlukan adalah 121 orang. Pada tahap pertama pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan
dengan menentukan dua sistem kerja yang terdapat dalam perusahaan X yaitu yang termasuk shift kerja dan non shift dilakukan
secara purposive sampling. Kemudian pada tahap kedua yaitu menentukan Divisi apa saja yang termasuk dalam sistem kerja shift
dalam perusahaan X. Pada tahap ketiga dalam pemilihan subyek studi pada Divisi yang terdapat sistem kerja shift, terbagi atas 5
Divisi dengan masing-masing Divisi berisi 49 orang. Pengambilan sampel per Divisi dilakukan secara simple random sampling
dengan cara tabel angka acak, dan diambil 32 karyawan dari masing-masing Divisi berdasarkan daftar absensi sehingga didapatkan
32 karyawan dikalikan 5 Divisi didapatkan 160 karyawan.

Perusahaan X
Purposive sampling

Divisi sistem kerja shift

Divisi sistem kerja normal

E
.....................

49
orang

49
orang

32
25
orang orang

49
orang

32
orang

49
orang

32
orang

49
orang

32
orang

Cluster sampling

49
orang

32
orang

Simple
random
sampling

Gambar 3. Alur pemilihan sampel


160 orang

Kriteria pemilihan subyek :


1. Kriteria inklusi :
a. Karyawan yang bekerja dalam 3 kelompok shift kerja
b. Karyawan yang dapat diajak berkomunikasi dan bersedia mengikuti penelitian
2. Kriteria eksklusi
a. Karyawan yang tidak hadir saat penelitian
b. Karyawan tidak bersedia menjadi responden
4.4

Bahan dan Instrumen Penelitian


Dalam memperoleh data didapatkan dari data primer yaitu dengan memberikan

kuesioner :
1. Kuesioner OSI-R (Occupational Stress Inventory Revised Edition) yang digunakan
untuk mengukur tingkat stres kerja.
2. Kuesioner Holmes dan Rahe digunakan untuk mengetahui pengaruh aktivitas diluar
pekerjaan terhadap stres.
3. Kuesioner SSQ6 (Social Support Questionnaire 6) digunakan untuk mengukur
dukungan sosial.
4.5

Analisis data
Data yang didapat akan dianalisis dan diinterpretasikan dengan menguji hipotesis
menggunakan program komputer SPSS 19.0 for windows dengan analisis univariat dan
bivariat. Analisis univariat dilakukan pada masing-masing variabel untuk mengetahui
karakteristik masing-masing variabel. Analisis bivariat digunakan untuk menghubungkan
antara variabel bebas dan variabel terikat. Untuk membuktikan hipotesis penelitian,
digunakan uji Chi-square.
Untuk menguji kemaknaan, peneliti menggunakan p-value

dengan tingkat

kemaknaan 5% dan derajat kepercayaan 95%. Jika p-value <0.05 maka menunjukkan
adanya hubungan antara variabel terikat dan bebas, sedangkan jika p-value >0.05 maka
menunjukkan tidak adanya hubungan antara variabel terikat dan bebas.
4.6

Alur kerja penelitian


Menentukan
perusahaan

Meminta ijin
perusahaan
Menentukan
populasi

Wawancara
1. Identitas
karyawan
2. Tingkat stres
3. Aktivitas diluar
pekerjaan

Analisis data
Gambar 4. Alur kerja penelitian
4.7

Etika penelitian
1. Surat Ijin Penelitian dari Fakultas Kedokteran Trisakti.
Surat ijin penelitian diberikan oleh Fakultas Kedokteran Trisakti berupa
persetujuan kaji etik dan akan diserahkan kepada pihak penanggung jawab dari
perusahaan X.
2. Kerahasiaan
Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan
kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua
informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaan oleh peneliti. Dan sebelumnya
diperlukan persetujuan (informed consent) dari setiap subyek studi yang ikut serta
dalam penelitian secara sukarela setelah mendapatkan penjelasan.

4.8

Penjadwalan penelitian

Tahun 2014
Tahapan Kegiatan
1

bulan
11 12

Tahun 2015
1

bulan
4 5

0
A Perencanaan
1 Perumusan topik dan pembuatan judul
2 Penyusunan proposal
3 Konsultasi dengan dosen pembimbing
4 Presentasi proposal
B Pelaksanaan
1 Observasi
lokasi
penelitian
dan
pengumpulan data
2 Pengolahan data
3 Konsultasi dengan dosen pembimbing
C Pelaporan Hasil
1 Penulisan
2 Diskusi
3 Presentasi
4 Perbaikan

4.9 Pembiayaan
Biaya yang dikeluarkan terkait dengan penelitian yang dilakukan dengan rincian sebagai
berikut :
1. Fotokopi kuesioner
2. Souvenir (Rp 5.000 x 125 karyawan)
3. Biaya transport
Total

: Rp 125.000
: Rp 625.000
: Rp 250.000
: Rp 1.000.000