Anda di halaman 1dari 5

A.

GANGGUAN SOMATOFORM (SOMATOFORM DISORDERS)


Kata somatoform ini di ambil dari bahasa Yunani soma, yang berarti
tubuh. Dalam gangguan somatoform, orang memiliki simtom fisik yang
mengingatkan pada gangguan fisik, namun tidak ada abnormalitas organik
yang dapat ditemukan penyebabnya. Gangguan somatoform berbeda
dengan malingering, atau kepura-puraan simtom yang bertujuan untuk
mendapatkan hasil yang jelas. Gangguan ini juga berbeda dengangangguan
factitious yaitu suatu gangguan yang ditandai oleh pemalsuan simtom
psikologis atau fisik yang disengaja tanpa keuntungan yang jelas. Selain itu
gangguan ini juga berbeda pula dengan sindrom Muchausen yaitu suatu tipe
gangguan factitious yang ditandai oleh kepura-puraan mengenai simtom
medis.
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang
memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana
tidak dapat ditemukan penjelasan medis. Gejala dan keluhan somatik adalah
cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna
pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di
dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform
mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu
penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala. Gangguan
somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau
gangguan buatan.

PENGERTIAN DAN GEJALA


1. Pain Disorder
Pada pain disorder, penderita mengalami rasa sakit yang
mengakibatkan ketidakmampuan secara signifikan;faktor psikologis diduga
memainkan peranan penting pada kemunculan, bertahannya dan tingkat
sakit yang dirasakan. Pasien kemungkinan tidak mampu untuk bekerja dan
menjadi tergantung dengan obat pereda rasa sakit. Rasa nyeri yang timbul
dapat berhubungan dengan konflik atau stress atau dapat pula terjadi agar
individu dapat terhindar dari kegiatan yang tidak menyenangkan dan untuk
mendapatkan perhatian dan simpati yang sebelumnya tidak didapat.
Diagnosis akurat mengenai pain disorder terbilang sulit karena
pengalaman subjektif dari rasa nyeri selalu merupakan fenomena yang
dipengaruhi secara psikologis, dimana rasa nyeri itu sendiri bukanlah
pengalaman sensoris yang sederhana, seperti penglihatan dan pendengaran.
Untuk itu, memutuskan apakah rasa nyeri yang dirasakan merupakan
gangguan nyeri yang tergolong gangguan somatoform, amatlah sulit. Akan
tetapi dalam beberapa kasus dapat dibedakan dengan jelas bagaimana rasa
nyeri yang dialami oleh individu dengan gangguan somatoform dengan rasa
nyeri dari individu yang mengalami nyeri akibat masalah fisik. Individu yang

merasakan nyeri akibat gangguan fisik, menunjukkan lokasi rasa nyeri yang
dialaminya dengan lebih spesifik, lebih detail dalam memberikan gambaran
sensoris dari rasa nyeri yang dialaminya, dan menjelaskan situasi dimana
rasa nyeri yang dirasakan menjadi lebih sakit atau lebih berkurang (Adler et
al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004).

2. Body Dysmorphic Disorder


Pada body dysmorphic disorder, individu diliputi dengan bayangan
mengenai kekurangan dalam penampilan fisik mereka, biasanya di bagian
wajah, misalnya kerutan di wajah, rambut pada wajah yang berlebihan, atau
bentuk dan ukuran hidung. Wanita cenderung pula fokus pada bagian kulit,
pinggang, dada, dan kaki, sedangkan pria lebih cenderung memiliki
kepercayaan bahwa mereka bertubuh pendek, ukuran penisnya terlalu kecil
atau mereka memiliki terlalu banyak rambut di tubuhnya (Perugi dalam
Davidson, Neale, Kring, 2004). Beberapa individu yang mengalami gangguan
ini secara kompulsif akan menghabiskan berjam-jam setiap harinya untuk
memperhatikan kekurangannya dengan berkaca di cermin. Ada pula yang
menghindari cermin agar tidak diingatkan mengenai kekurangan mereka,
atau
mengkamuflasekan
kekurangan
mereka
dengan,
misalnya,
mengenakan baju yang sangat longgar (Albertini & Philips daam Davidson,
Neale, Kring, 2004).
Beberapa bahkan mengurung diri di rumah untuk menghindari orang
lain melihat kekurangan yang dibayangkannya. Hal ini sangat mengganggu
dan terkadang dapat mengerah pada bunuh diri; seringnya konsultasi pada
dokter bedah plastik dan beberapa individu yang mengalami hal ini bahkan
melakukan operasi sendiri pada tubuhnya. Sayangnya, operasi plastik
berperan kecil dalam menghilangkan kekhawatiran mereka (Veale dalam
Davidson, Neale, Kring, 2004). Body dysmorphic disorder muncul
kebanyakan pada wanita, biasanya dimulai pada akhir masa remaja, dan
biasanya berkaitan dengan depresi, fobia social, gangguan kepribadian
(Phillips&McElroy, 2000; Veale et al.,1996 dalam Davidson, Neale, Kring,
2004). Faktor social dan budaya memainkan peranan penting pada
bagaimana seseorang merasa apakah ia menarik atau tidak, seperti pada
gangguan pola makan.

3. Hypochondriasis
Hypochondriasis adalah gangguan somatoform dimana individu diliputi
dengan ketakutan memiliki penyakit yang serius dimana hal ini berlangsung
berulang-ulang meskipun dari kepastian medis menyatakan sebaliknya,
bahwa ia baik-baik saja. Gangguan ini biasanya dimulai pada awal masa
remaja dan cenderung terus berlanjut. Individu yang mengalami hal ini
biasanya merupakan konsumen yang seringkali menggunakan pelayanan
kesehatan; bahkan terkadang mereka manganggap dokter mereka tidak
kompeten dan tidak perhatian (Pershing et al., dalam Davidson, Neale, Kring,

2004). Dalam teori disebutkan bahwa mereka bersikap berlebihan pada


sensasi fisik yang umum dan gangguan kecil, seperti detak jantung yang
tidak teratur, berkeringat, batuk yang kadang terjadi, rasa sakit, sakit perut,
sebagai bukti dari kepercayan mereka. Hypochondriasis seringkali muncul
bersamaan dengan gangguan kecemasan dan mood.

4. Conversion disorder
Pada conversion disorder, gejala sensorik dan motorik, seperti
hilangnya penglihatan atau kelumpuhan secara tiba-tiba, menimbulkan
penyakit yang berkaitan dengan rusaknya sistem saraf, padahal organ tubuh
dan sistem saraf individu tersebut baik-baik saja. Aspek psikologis dari gejala
conversion ini ditunjukkan dengan fakta bahwa biasanya gangguan ini
muncul secara tiba-tiba dalam situasi yang tidak menyenangkan. Biasanya
hal ini memungkinkan individu untuk menghindari beberapa aktivitas atau
tanggung jawab atau individu sangat ingin mendapatkan perhatian. Istilah
conversion, pada dasarnya berasal dari Freud, dimana disebutkan bahwa
energi dari instink yang di repress dialihkan pada aspek sensori-motor dan
mengganggu fungsi normal. Untuk itu, kecemasan dan konflik psikologis
diyakini dialihkan pada gejala fisik.
Gejala conversion biasanya berkembang pada masa remaja atau awal
masa dewasa, dimana biasanya muncul setelah adanya kejadian yang tidak
menyenangkan dalam hidup. Prevalensi dari conversion disorder kurang dari
1 %, dan biasanya banyak dialami oleh wanita (Faravelli et
al.,1997;Singh&Lee, 1997 dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Conversion
disorder biasanya berkaitan dengan diagnosis Axis I lainnya seperti depresi
dan penyalahgunaan zat-zat terlarang, dan dengan gangguan kepribadian,
yaitu
borderline
dan
histrionic
personality
disorder
(Binzer,
Anderson&Kullgren, 1996;Rechlin, Loew&Jorashky, 1997 dalam Davidson,
Neale, Kring, 2004).

5. Somatization Disorder
Menurut DSM-IV-TR kriteria dari somatization disorder adalah memiliki
sejarah dari banyak keluhan fisik selama bertahun-tahun; memiliki 4 gejala
nyeri, 2 gejala gastrointestinal, 1 gejala sexual, dan 1 gejala
pseudoneurological; gejala-gejala yang timbul tidak disebabkan oleh kondisi
medis atau berlebihan dalam memberikan kondisi medis yang dialami.
Prevalensi dari somatiation disorder diperkirakan kurang dari 0.5% dari
populasi Amerika, biasanya lebih sering muncul pada wanita, khususnya
wanita African American dan Hispanic (Escobar et al., dalam Davidson,
Neale, Kring, 2004) dan pada pasien yang sedang menjalani pengibatan
medis. Prevalensi ini lebih tinggi pada beberapa negara di Amerika Selatan
dan di Puerto Rico (Tomassson, Kent&Coryell dalam Davidson, Neale, Kring,
2004). Somatizaton disorder biasanya dimulai pada awal masa dewasa
(Cloninger et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004).

6. Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak


Digolongkan
Kriterianya:
Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu makan,
keluhan
gastrointestinal atau saluran kemih)
a) Salah satu (1)atau (2)
Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan
sepenuhnya oleh kondisi medis umum yang diketahui atau oleh efek
langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau
alkohol)
Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik atau
gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi
apa yang diperkirakan menurut riwayat penyakit, pemeriksaan fisik,
atau temuan laboratonium.
b) Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau
gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
c) Durasi gangguan sekurangnya enam bulan.
d) Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain
(misalnya gangguan somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood,
gangguan kecemasan, gangguan tidur, atau gangguan psikotik).
e) Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada
gangguan buatan atau berpura-pura)
Sindrom Koro dan Sindrom Dhat
Sindrom koro itu adalah gangguan somatoform yang terkait budaya,
ditemukan terutama di Cina, dimana orang takut bahwa alat genital mereka
akan mengerut. Sindrom koro cenderung hanya muncul sebentar dan
melibatkan episode kecemasan takur bahwa alat genitalnya akan mengerut.
Tanda-tanda fisiologis kecemasan yang medekati proposi panic umu terjadi,
mencakup keringat yang berlebihan , tidak dapat bernafas, dan jantung
berdebar-debar.
Sindrom dhat adalah gangguan somatoform yang terkait budaya,
ditemukan terutama di antara pria Asia India, yang ditandai oleh ketakutan
yang berlebih akan kehilangan air mani. Pria dengan sindrom ini juga
percaya bahwa air mani bercampur dengan urine dan dikeluarkan saat
buang air kecil. Ada keyakinan yang tertersebar luas dalam budaya India
yaitu bahwwa hilangnya air mani merupakan sesuatu yang berbahaya
karena mengurangi energi mental dan fisik tubuh.

DAFTAR PUSTAKA
V. Mark Durank & Dvid H.Barlow.2006.Psikologi Abnormal. Jilid 1 dan
2.Yogyakarta:Pustaka Pelajar
Nevid S.Jeffrey dkk. 2005. Psikologi Abnormal. Jakarta: PT.Gelora Aksara
Davidson, Gerald, dkk. 2006. Psikologi Abnormal. Jakarta: PT. RajaGrafindo
Persada Press
Tomb, David. A. 2000. Psikiatri Edisi 6. Jakarta: EGC