Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

ILMUOPENDIDIKANOISLAM

TOKOHOTOKOHOPENDIDIKANOISLAM

DISUSUNOOLEHO:
1. MANUSATULOKHAORO
2. LINDAOSUCIODWIOPERMATASARI
3. SUFYANOZULKARNAIN
4. MUSLIMONURDIN

PAIOIIIOA

FAKULTASOTARBIYAH
INSTITUTOAGAMAOISLAMONAHDLATULOULAMA
KEBUMEN
TAHUNO2016

BAB II
PEMBAHASAN
A. Ibnu Sina dan Pemikirannya Tentang Pendidikan Islam
1. Sosok Sang Ilmuwan Ibnu Sina
Ibnu Sina bernama lengkap Abu Ali al Husayn ibn Abdullah ibn Hasan ibn Ali Sina.
Lahir pada tahun 370 H/980 M di Afshana (Kharmisin). Ayahnya bernama Abdullah dan
ibunya bernama Astarah.
Pemikiran Ibnu Sina sangat independen dengan tingkat kecerdasan dan ingatan yang
luar biasa. Ia memulai pendidikannya pada usia 5 tahun di kota kelahirannya, Bukhara.
Pada usia 10 tahun telah hafal al Quran dan alim dalam berbagai ilmu keislaman yang
berkembang saat itu. Saat berusia 17 tahun, ia telah memahami seluruh teori kedokteran
yang ada di masanya dan melebihi siapapun juga. Karena kepintarannya, ia diangkat
sebagai konsultan dokter-dokter praktisi. Beliau memiliki sebutan, yaitu Bapak
Pengobatan Modern. Salah satu karyanya yang terkenal yaitu Qanun fi al-Thib. Ibnu
Sina juga memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan pada usia 18 tahun.1
Saat memasuki usia senja, ia pernah manyatakan kepada muridnya, al-Juzjani, bahwa
sepanjang tahun yang dilaluinya ia telah mempelajari tidak lebih dari yang ia ketahui
sebagai seorang pemuda berusia 18 tahun. Menurutnya masa muda sangat menentukan
keberhasilan seseorang. Ibnu Sina wafat pada usia 58 tahun, tepatnya pada tahun 980
H/1037 M di Hamadan, Iran, karena penyakit maag yang kronis. Ia wafat ketika sedang
mengajar di sebuah sekolah.
2. Beberapa Gagasan Pokok Ibnu Sina tentang Pendidikan
a. Tujuan Pendidikan
Ibnu Sina menerangkan tujuan pendidikan memiliki tiga fungsi yang bersifat
normatif. Pertama, menentukan haluan bagi proses pendidikan. Kedua, bukan hanya
menentukan haluan yang dituju tetapi juga sekaligus memberi rangsangan. Ketiga,
tujuan itu adalah nilai , dan jika dipandang bernilai, dan jika diinginkan, tentulah akan
mendorong pelajar mengeluarkan tenaga yang diperlukan untuk mencapainya.
Berawal dari pandangan tersebut, Ibnu Sina mengemukakan bahwa tujuan
pendidikan yaitu pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi
yang
1

dimiliki

seseorang

ke

arah

perkembangannya

yang

sempurna,

Abu Muhammad Iqbal. 2015. Pemikiran Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hlm.3

yaitu

perkembangan fisik, intelektual, dan budi pekerti.2 Selain itu pendidikan juga harus
diarahkan pada upaya mempersiapkan seseorang agar dapat hidup di masyarakat secara
bersama-sama dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai
dengan bakat, kesiapan, kecenderungan dan potensi yang dimilikinya.
Ibnu Sina berpendapat bahwa pendidikan jasmani tidak melupakan pembinaan fisik
dan yang berkaitan dengannya seperti olahraga, makan, minum, tidur dan menjaga
kebersihan.3 Diharapkan pendidikan ini mampu terbina pertumbuhan fisiknya dan
cerdas otaknya. Sedangkan pendidikan keterampilan ditujukan pada pendidikan bidang
perkayuan, penyablonan, dll, sehingga akan muncul tenaga-tenaga pekerja profesional
dan diharapkan bakat dan minat anak dapat berkembang secara optimal. Pendidikan
budi pekerti diharapkan seorang anak memiliki kebiasaan bersopan-santun dalam
pergaulan hidup sehari-hari dan sehat jiwanya. Selain itu, pendidikan kesenian seorang
anak diharapkan mampu mempertajam perasaannya dan meningkat daya khayalnya.
Ibnu Sina mengemukakan bahwa tujuan pendidikan untuk membentuk manusia
yang berkepribadian akhlak mulia dijabarkan secara luas melalui 3 aspek yaitu aspek
pribadi, sosial, dan spiritual.4 Ketiganya bersifat integral dan komprehensif.
Dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam menurut Ibnu Sina adalah
mengembangkan potensi anak didik secara optimal sehingga memiliki akal yang
sempurna, mulia, sehat jasmani dan rohani serta memiliki keterampilan yang sesuai
dengan bakat dan minatnya sehingga ia memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya.
b. Kurikulum
Dalam arti sempit, kurikulum yaitu seperangkat mata pelajaran yang harus dikuasai
oleh anak didik untuk mencapai tujuan tertentu. Abuddin Nata menyimpulkan bahwa
rumusan kurikulum Ibnu Sina didasarkan pada tingkat perkembangan usia anak:
Pertama, usia 3-5 tahun. Menurut Ibnu Sina, pada usia ini anak didik perlu diberi
mata pelajaran olahraga, budi pekerti, kebersihan, seni suara, dan kesenian. Masingmasing memiliki tujuan, dan cara pengembangannya sebagai berikut:
Pelajaran olahraga disesuaikan dengan tingkat perkembangan usia dan bakat.
Dengan cara ini dapat diketahui dengan pasti mana saja anak didik yang perlu dilatih

Ahmad D. Marimba, Filsafat pendidikan Islam (Bandung: PT. Al-Maarif, 1990), hlm.2.

Ibid. hlm.7

Abu Muhammad Iqbal, Pemikiran Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 7.

berolahraga sekedarnya saja dan yang lebih banyak lagi. Hal ini penting mengingat
fisik adalah tempat bagi jiwa yang harus dirawat agar tetap sehat dan kuat.
Pelajaran budi pekerti diarahkan untuk membekali anak agar memiliki kebiasaan
sopan santun dalam pergaulan hidup sehari-hari. Dan dibutuhkan untuk membina
kepribadian anak sehingga jiwanya suci dan terhindar dari perbuatan-perbuatan buruk
yang dapat mengakibatkan jiwanya rusak dan sulit diperbaiki kelak pada usia dewasa.
Pelajaran pendidikan kebersihan diharapkan anak mampu mencintai kebersihan
yang merupakan salah satu ajaran mulia dalam Islam.
Pelajaran seni suara dan kesenian diharapkan agar anak memiliki ketajaman
perasaan dalam mencintai serta meningkatkan daya khayalnya dan memperhalus budi
yang akan melahirkan akhlak yang senang keindahan.
Kedua, usia 6-14 tahun. Kurikulum ini mencakup pelajaran membaca dan
menghafal Al Quran, agama, syair, dan olahraga.
Menurut Ibnu Sina, pelajaran membaca dan menghafal Al Quran mendukung
keberhasilan dalam mempelajari agama seperti tafsir Al Quran, fiqih, tauhid, dll.
Sedangkan pelajaran keterampilan/vocational diharapkan mampu mempersiapkan
dalam mencari penghidupannya kelak. Pelajaran syair merupakan lanjutan dari
pelajaran seni yang mengandung nilai-nilai pendidikan untuk menuntun perilakunya.
Pelajaran olahraga disesuaikan dengan tingkat usia masing-masing. Menurut Ibnu Sina,
Olahraga yang perlu dimasukkan dalam kurikulum yaitu adu kekuatan, meloncat, jalan
cepat, memanah, berjalan dengan satu kaki dan mengendarai unta.
Ketiga, usia 14 tahun ke atas. Bertambah banyaknya mata pelajaran yang
diberikan, maka pendidik agar memilih jenis pelajaran berkaitan dengan bakat, minat
dan keahlian tertentu. Dan diarahkan untuk menguasai bidang ilmu tertentu.
Dari berbagai uraian di atas, konsep kurikulum menurut Ibnu Sina yaitu:
1.

Dalam penyusunan kurikulum hendaklah mempertimbangkan aspek psikologis


anak. Dengan begitu maka mata pelajaran yang diberikan sesuai kebutuhan dan
mudah dikuasa anak didik.

2.

Kurikulum yang diterapkan harus mampu mengembangkan potensi anak secara


optimal dan seimbang antara jasmani, intelektual, dan akhlaknya.

3.

Kurikulum yang ditawarkan Ibnu Sina bersifat pragmatis-fungsional, yakni dengan


melihat segi kegunaan dari ilmu dan keterampilan yang dipelajari sesuai dengan
tuntutan masyarakat atau berorientasi pasar (marketing oriented).

4.

Kurikulum yang disusun harus berlandaskan ajaran dasar dalam islam, yaitu Al
Quran dan As Sunnah.

5.

Kurikulum yang ditawarkan adalah berbasis akhlak dan bercorak integralistik.

c. Metode Pembelajaran
Menurut Abuddin Nata, metode yang ditawarkan Ibnu Sina yaitu metode talqin,
demonstrasi, pembiasaan dan teladan, diskusi, magang, dan penugasan.
1. Metode talqin, digunakan dalam mengajarkan membaca Al Quran mulai dengan cara
memperdengarkan bacaan Al Quran kepada anak didik, sebagian demi sebagian.
Setelah itu anak disuruh mendengarkan dan mengulangi bacaan tersebut perlahanlahan dan berulang-ulang hingga hafal.
2. Metode demonstrasi, digunakan dalam pembelajaran praktik, seperti cara mengajar
menulis. Menurut Ibnu Sina, seorang guru terlebih dahulu mencontohkan tulisan
huruf hijaiyah di hadapan murid-muridnya. Setelah itu barulah menyuruh para murid
untuk mendengarkan ucapan huruf-huruf hijaiyah sesuai dengan makhrajnya dan
dilanjutkan dengan mendemonstrasikan cara menulisnya.
3. Metode pembiasaan dan keteladanan, adalah metode yang paling efektif khususnya
dalam mengajarkan akhlak. Ibnu Sina mengakui adanya pengaruh mengikuti dan
meniru atau contoh teladan baik dalam proses pendidikan di kalangan anak pada usia
dini terhadapan kehidupan mereka, karena secara thabiiyah anak mempunyai
kecenderungan untuk mengikuti dan meniru segala yang dilihat, dirasakan dan
didengarnya.
4. Metode diskusi. Siswa dihadapkan kepada suatu masalah berupa pertanyaan yang
problematic untuk dibahas dan dipecahkan bersama. Ibnu Sina mengajarkannya pada
pengetahuan yang bersifat rasional dan teoritis.
5. Metode magang. Para murid Ibnu Sina yang mempelajari ilmu kedokteran dianjurkan
menggabungkan teori dan praktik. Ini akan menimbulkan manfaat ganda, yaitu di
samping membuat anak didik mahir dalam suatu ilmu, juga akan mendatangkan
keahlian dalam bekerja yang menghasilkan kesejahteraan secara ekonomis.
6. Metode penugasan. Dilakukan dengan menyusun sejumlah modul/naskah kemudian
menyampaikan kepada murid untuk dipelajarinya. Cara ini dilakukan kepada salah
seorang murid bernama Abu ar-Raihan al-Biruni dan Abi Husain Ahmad as-Suhaili.
7. Metode targhib atau tarhib, dalam pendidikan modern dikenal istilah reward yang
berarti ganjaran, hadiah, dan imbalan sebagai alat pendidikan dan berbentuk
reinforcement yang positif, sekaligus sebagai motivasi yang baik. Secara terpaksa,

metode hukuman (tarhib) atau punishment dapat dilakukan dengan cara peringatan
dan ancaman dahulu. Jangan menindak anak dengan kekerasan, tetapi dengan
kehalusan hati, lalu diberi motivasi dan persuasi, kadang-kadang dengan muka
masam agar kembali pada perbuatan baik. Jika terpaksa memukul, cukup pukulan
sekali yang menimbulkan rasa sakit, dan dilakukan setelah diberi peringatan keras
dan menjadikan sebagai alat penolong untuk menimbulkan pengaruh yang positif
dalam jiwa anak.

d. Konsep Guru
Ibnu Sina mengatakan guru yang baik adalah guru yang berakal cerdas, beragama,
mengetahui cara mendidik akhlak, cakap dalam mendidik anak, berpenampilan
tenang, jauh dari berolok-olok dan main-main di hadapan muridnya, tidak bermuka
masam, sopan santun, bersih dan suci murni.5
Ibnu Sina juga mengatakan bahwa seorang guru sebaiknya dari kaum pria yang
terhormat dan menonjol budi pekertinya, cerdas, teliti, sabar, telaten dalam
membimbing anak-anak, adil, hemat dalam penggunaan waktu, gemar bergaul dengan
anak-anak, tidak keras hati dan menghias diri.6 Selain itu, juga harus mengutamakan
kepentingan umat daripada kepentingan diri sendiri, menjauhkan diri dari meniru sifat
raja dan orang-orang yang berakhlak rendah, mengetahui etika dalam majelis ilmu,
sopan santun dalam berdebat, berdiskusi dan bergaul.
Ibnu Sina juga menekankan seorang guru tidak hanya mengajarkan dari segi
teoritis saja, melainkan juga melatih segi keterampilan, mengubah budi pekerti dan
kebebasannya dalam berpikir.ia juga menekankan adanya perhatian seimbang antara
aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

B. M.Rasyid Ridha Dan Pemikirannya Tentang Pendidikan Islam


1. Riwayat Hidup Muhammad Rasyid Ridha
Lahir di Qalmun wilayah pemerintahan Tarablus Syam pada tahun 1282-1354H/18651935M. Namanya adalah Muhammad Rasyid Ibn Ali Ridha Ibn Muhammad Syamsuddin
Ibn Muhammad Bahauddin Ibn Mania Ali Khalifah. Kelahirannya tepat pada 27 Jumadil
Tsani tahun 1282 H/18 Oktober 1865 M. Ayah dan ibunya berasal dari keturunan Al

Ibid. hlm. 13

Ibid. hlm. 13

Husayn, Putra Ali Bin Abi Thalib dengan Fatimah, putri Rasulullah saw. Itulah sebabnya
ia menyandang gelar Al-Sayyid di depan namanya.
Pada usia 7 tahun ia dimasukkan oleh orang tuanya ke sebuah lembaga pendidikan
dasar tradisional (kuttab) di desanya. Ia mulai belajar membaca, menghafal Al Quran,
menulis, dan matematika. Setelah tamat belajar di kuttab, ia melanjutkannya dengan
belajar pada orang tuanya dan para ulama setempat.
Beberapa bulan kemudian, ia melanjutkan belajar di Madrasah Ibtidaiyah AlRusydiah di Tripoli. Ia belajar ilmu nahwu, sharaf, tauhid, fiqih, bumi, dan matematika.
Namun, bahasa pengantar di madrasah adalah bahasa Turki. Karena merasa tidak cocok
dengan sistem pendidikannya serta adanya ikatan para alumni untuk dipekerjakan
sebagai pegawai negeri pada instansi-instansi pemerintahan Turki Usmani, ia hanya
menempuh pelajaran kurang dari satu tahun.
Pada usia 17 tahun (1882) ia belajar di Madrasah Wathaniyah Islamiyah (Sekolah
Nasional Islam) di Tripoli. Lembaga pendidikan ini dipimpin oleh Husein al Jisri
(memengaruhi pemikiran Rasyid Ridha) Ia diajarkan ilmu-ilmu modern, seperti logika,
psikologi, kedokteran, bahasa Prancis, di samping pengetahuan agama yang merupakan
pelajaran pokok.7 ilmu agama,dll. Setelah 8 tahun belajar, ia mendapatkan ijazah bidang
ilmu agama, bahasa, dan filsafat, pada tahun 1314 H/1897 M.
Jamaluddin Al Afghani, adalah sosok yang memengaruhi pemikirannya. Ia tertarik
mempelajari al-Urwah al-Wutsqa, karena ia pernah menerima gagasan dan pemikiran al
Afghani dari ayah dan gurunya, Husain al Jisri. Dalam pembentukan intelektual dan
keilmuannya cenderung pada materi-materi klasik. Corak pemikirannya berubah setelah
membaca buku Hujjat Al Islam (Imam Ghazali, Ihya Ulumuddin). Buku itu membuatnya
mengenal zuhud, tasawuf, serta ubudiyah. Ia bergabung dalam Tarekat Naqsyabandiyah.
Pada usia 28 tahun (1310H/1892M) terjadi perubahan besar dalam orientasi
pemikirannya. Majalah Al-Urwah al-Wutsqa, membuatnya berubah dari sifat zuhud
(Tarekat Naqsyabandiyah) menuju sifat keislaman yang moderat.
Kekagumannya pada Al Afghani, membuatnya bermaksud bergabung dalam Gerakan
Pan Islamisme di Istanbul, tetapi hal tersebut tidak terjadi lantaran Al Afghani meninggal
dunia. Ia pergi ke Beirut menemui murid dan penerus ide-ide Al Afghani yaitu
Muhammad Abduh (1897). Perjumpaannya menimbulkan kesan. Ia membentuk
paradigma yang konservatif sekaligus rasionalis yang diperkuat pelajaran dari Husein al
7

Abu Muhammad Iqbal. 2015. Pemikiran Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hlm 161

Jisri, al Afghani, dan Abduh. Ia mendirikan sekolah yang bernama Ad-Dawah wa AlIrsyad untuk membekali para dai dengan berbagai keahlian. Di antara karangannya yang
belum sempat selesai yaitu Tafsir Al Manar lantaran meninggal dunia. Ia baru sampai
menafsirkan firman dalam surat Yusuf ayat 101 yang diteruskan oleh Imam Hasan Al
Banna. Ia meninggal dunia pada tahun 1935 karena mengalami kecelakaan mobil. Itu
terjadi ketika sedang perjalanan pulang dari Kota Suez menuju Kota Kairo.

2. Pendidikan Perempuan Menurut Rasyid Ridha


Di bidang pendidikan, ia berpendapat bahwa umat Islam akan maju jika menguasai
bidang pendidikan sebagai instrumen dan wahana pengembangan diri yang berkualitas.
Oleh karenanya, ia mengimbau dan mendorong umat Islam untuk menggunakan
kekayaannya bagi pembangunan lembaga-lembaga pendidikan. Ia juga berupaya
memajukan ide pengembangan kurikulum dengan muatan ilmu agama dan umum.
Secara umum, ia memandang bahwa pendidikan mutlak bagi setiap muslim.
Menurutnya, jika manusia diciptakan sebagai penopang kebahagiaan dan poros bagi
kebaikan semua persoalan agama dan dunianya, maka setiap individu dari umat Islam
harus berupaya sekuat tenaga mengarahkan kekuatan akal dan materinya untuk
mendapatkan keutamaan melalui pendidikan.8
Melalui pendidikan, menurutnya dimungkinkan terwujud ikatan sosial, terungkap
berbagai pengetahuan dan kreasi-kreasi baru yang mengandung manfaat, dan terkuak
berbagai kemampuan dan kesiapan individu guna merealisasikan kemajuan, kesatuan,
dan persatuan. Selain itu, juga, dimungkinkan mampu memahami agama sebagaimana
ulama salaf memahaminya dan meninggalkannya keyakinan-keyakinan menyimpang,
kemuliaan Islam bisa kembali lagi dan kembali menghampiri para pemeluknya.
Dari

beberapa

pandangan-pandangan

pendidikan

Rasyid

Ridha

di

atas,

kesimpulannya yaitu pendidikan harus menjadi sesuatu yang wajib diadakan di setiap
tempat, diberikan kepada setiap individu umat, dengan asumsi bahwa pendidikan dan
pengajaran merupakan spirit yang menjadi nafas bangsa dan umat.
Ia mendasarkan pandangan pendidikannya pada dalil-dalil al Quran dan as Sunnah,
karena banyak ayat-ayat yang membicarakan persoalan keimanan, pengetahuan, amal
shaleh, ibadah, muamalah kepada kaum laki-laki maupun perempuan. Menurutnya, Allah
8

Ibid. hal 165

swt telah memperuntukkan bagi perempuan segala sesuatu yang diperuntukkan laki-laki,
kecuali ada perbedaan tabiat (hamil dan menyusui) dan tugas wanita dari segi hukum.9
Pada prinsipnya, ia tidak mempermasalahkan pemberian kesempatan yang sama
kepada perempuan untuk berkompetisi dalam memperoleh ilmu pengetahuan di semua
lembaga pendidikan, baik formal, informal, maupun nonformal. Hanya saja, ia memiliki
pandangan lain pada pelaksanaan pendidikan yang terjadi pencampuran atau
penggabungan antara laki-laki dan perempuan dalam satu ruangan (koedukasi). Ini
merupakan hal yang tidak baik. Menurutnya, guru yang paling tidak disukai adalah guru
yang mengajar anak-anak perempuan remaja, kemudian mereka dicampur dengan anak
laki-laki remaja. Hal ini akan menimbulkan kerusakan terutama bagi anak perempuan
remaja.
Salah satu alasan mengapa ia berpegang teguh pada pendapatnya yaitu ia khawatir
kalau anak-anak akan rusak moralnya, yang dapat memperburuk tingkah laku anak.
Maka, pemisahan tempat pendidikan wajib dilakukan demi terjaganya keselamatan anak
dari penyimpangan akhlak. Ia memperingatkan agar tidak mencampurkan anak kecil
dengan remaja yang telah dewasa kecuali bila remaja yang telah baligh tidak akan
merusak anak kecil (belum dewasa). Alasan lainnya yaitu pandangannya bahwa
dorongan syahwat biologis (seksual) termasuk dorongan yang paling kuat, dan jika
berdekatan dengan wanita dikhawatirkan akan terjadi pelanggaran seksual yang dapat
merendahkan martabatnya dan menjauhkan dari keimanan dan ketakwaan dirinya. Ini
menunjukkan sikap yang amat hati-hati dalam menjaga mormal agama.
Pendapatnya tidak diterima oleh masyarakat modern yang menuntut kesamaan derajat
dan kemitraan sejajar. Menurutnya, pendapatnyalah yang sesuai dengan ajaran Islam,
karena anak yang berusia muharriqah (masa pubersitas/remaja) tidak memiliki
ketenangan jiwa dan timbul dorongan kuat untuk mempertahankan dan menjaga
kehormatannya hingga dewasa.
Alasan-alasan penolakannya didasari atas pertimbangan keburukan. Di antara
keburukannya adalah sebagai berikut:
1. Dengan sistem koedukasi, antara laki-laki dan perempuan berkumpul di sekolah,
maka akan berpotensi mengalami kesibukan hati, saling curi pandang, saling

Mappanganro. 2008. Rasyid Ridha dan Pemikirannya tentang Pendidikan Formal. Makassar:
Alauddin Press.hlm 145.

berbicara, dll yang dapat memicu timbulnya perasaan dengan kecenderungan


menaruh perhatian terhadap lawan jenis.
2. Dengan saling berdekatan akan mengundang saling mempertukarkan rahasia dan
perasaan serta memperpanjang hubungan yang dapat mengundang syahwat seksual.
Hal tersebut dapat menjadi penghalang menuntut ilmu, boleh jadi membawa daya
percepatan untuk menikah, bahkan melakukan perbuatan zina.
3. Dengan sistem ini dalam berbagai tingkatan dan umur adalah awal yang
mengantarkan pada percampuran seperti mengadakan perjalanan bersama, saling
berkawan dan saling berpasang-pasangan yang dapat mengarahkan pada pelanggaran
norma agama dan masyarakat.
4. Dengan percampuran antara laki-laki dan perempuan meruntuhkan berbagai hukum
agama dan tata kramanya.10
Keempat alasan di atas menjadi dasar pemikiran Rasyid Ridha dan ia tidak menerima
konsep koedukasi. Ia menekankan bahwa agar wanita diberi pendidikan khusus yang
terpisah dari laki-laki. Pendidikan kaum perempuan di setiap lembaga pendidikan harus
selaras dengan watak dasar yang telah difitrahkan Allah swt kepadanya. Dan pendidikan
keagamaan harus menjadi patokan utama dalam mendidik dan mengajar anak-anak
perempuan, di samping sisi-sisi lain yang diajarkan sehingga nantinya dapat mengurus
keluarga dan rumah tangganya dengan baik. Mereka harus diajarkan kecintaan pada
keluarga, keramah-tamahan, kebersihan, kasih sayang, pemenuhan hak-hak suami, adil
dalam membelanjakan harta, dan segala hal yang terkait dengan pengajaran urusan
rumah tangga , menjaga anak, ilmu hitung, sejarah, bahasa Arab, sastra, dan geografi.
Pandangan ekstrem Rasyid Ridha terhadap penolakan sistem koedukasi dalam
pendidikan, diasumsikan ia lebih menekankan pada tujuan atau hasil dari pendidikan
campuran ini. Diharapkan pendidikan menurutnya mampu menghasilkan tokoh-tokoh
pendidikan dari perempuan mulim, yang berupaya lebih memikirkan masa depan wanita.
Menanggapi pandangan Rasyid Ridha di atas, pengelola lembaga pendidikan untuk
tetap konsisten menjaga norma-norma Islami dalam penyelenggaraan pendidikan,
sehingga dapat eksis melahirkan generasi yang teguh aqidahnya, dalam landasan spiritual
(iman dan takwanya), anggun akhlak moralnya, dan luas penguasaan ilmu pengetahuan
dan teknologinya, serta terampil dalam mengelah kehidupannya.

C. Imam Al-Ghazali dan Pemikirannya tentang Pendidikan Islam


10

Mappanganro. Ibid. hlm. 153

1. Sosok Pribadi Imam Al-Ghazali


Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali. Lahir
di Thus, sebuah kota di Khurasan, Persia pada tahun 450 H atau 1058 M. Ayahnya
seorang pemintal wool, yang memintal dan menjualnya sendiri di kota. Ketika akan
meninggal, ayahnya berpesan kepada sahabatnya agar kedua putranya diasuh dan
disempurnakan pendidikan setuntas-tuntasnya. Sahabatnya segera melaksanakan wasiat
itu. Kedua anak itu dididik dan disekolahkan, setelah harta pusaka peninggalan ayahnya
habis, mereka dinasehati agar meneruskan mencari ilmu semampu-mampunya. Sejak
kecil Imam Al Ghazali dikenal sebagai seorang pecinta ilmu pengetahuan dan
penggandrung mencari kebenaran yang hakiki, sekalipun diterpa duka cita, dilanda aneka
rupa duka nestapa.
Pada masa kanak-kanak Imam Al Ghazali belajar kepada Ahwad bin Muhammad arRadzikani di Thus dan kepada Abi Nashr al-Ismaili di Jurjani dan kembali ke Thus lagi.
Diceritakan, di tengah perjalanan pulang ke Thus, ia dihadang sekawanan pembegal yang
merampas harta dan kebutuhan-kebutuhan yang mereka bawa. Para pembegal merebut
tas Al Ghazali yang berisi buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan yang disenangi. Al
Ghazali berharap kepada mereka agar sudi mengembalikan tasnya, karena ia ingin
mendapatkan ilmu dari kitab itu. Kawanan perampok merasa iba dan kasihan kepadanya,
kemudian mereka mengembalikan kitab-kitabnya. Setelah itu, ia sangat rajin
mempelajari kitab-kitabnya, memahami ilmu yang terkandung di dalamnya dan berusaha
mengamalkannya. Ia juga menaruh kitab-kitabnya di tempat yang khusus dan aman.
Al Ghazali pindah ke Nisabur untuk belajar kepada seorang ahli agama kenamaan di
masanya, yaitu Al Juwaini, Imam al-armain. Ia juga belajar ilmu kalam, ilmu ushul, dll.
Ia adalah seorang yang cerdas dan mampu mendebat segala sesuatu yang tidak sesuai
dengan penalaran yang jernih hingga Imam al-Juwaini memberikan predikat sebagai
orang yang memiliki ilmu yang sangat luas bagaikan laut dalam nan menenggelamkan
(bahrun muhgriq). Ketika gurunya meninggal dunia, ia meninggalkan Nisabur menuju
ke istana Nidzam al-Mulk yang menjadi seorang perdana menteri Sultan Bani Saljuk.
Keikutsertaannya dalam diskusi bersama para ulama dan intelektual di hadapan
Nidzam al-Mulk membawa kemenangan baginya. Nidzam sangat kagum melihat
kehebatannya dan berjanji akan mengangkatnya sebagai guru besar di Universitas
Nizamiyah di Baghdad pada tahun 484 H atau 1091 M.11
11

Abuddin Nata. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada. hlm.83.

Ia juga mengarang sejumlah kitab yaitu: Al Basith, Al Wasith, Khulashah Ilmu Fiqih,
Al Munqil fi Ilm al-Fadal, Makhfadz al-Khalaf, Lubab al-Nadzar, Tashin al-Maakhidz
dan Al Mabadi wa al-Ghayat fi Fann al Khalaf. Ia juga belajar berbagai ilmu
pengetahuan dan filsafat klasik seperti filsafat Yunani, dan berbagai aliran agama yang
beraneka ragam yang terkenal pada waktu itu. Ia mendalami berbagai studi ini dengan
harapan dapat menolongnya mencapai ilmu pengetahuan sejati yang ia inginkan. Ia juga
mempersiapkan dirinya dengan persiapan agama yang benar dan mensucikan jiwanya
dari noda-noda keduniaan, sehingga ia menjadi seorang filosof ahli tasawuf pertama dan
pembela agama Islam yang besar serta seorang pemimpin.
Sepulangnya di Baghdad ia mengajar dan menjadi guru besar dalam berbagai ilmu
pengetahuan agama. Sekarang tugasnya menjadi imam ahli agama dan tasawuf serta
penasehat spesialis dalam agama. Kembalinya ke Baghdad sekitar 10 tahun, dan pindah
ke Naisaburi dan mengajar dalam waktu yang tidak lama. Ia meninggal di kota
kelahirannya, Thus, pada tahun 505 H atau 1111 M.
2. Konsep Pendidikan Imam Al Ghazali
Menurut Al Ghazali pendidikan adalah menghilangkan akhlak yang buruk dan
menanamkan akhlak yang baik. Dengan demikian, pendidikan merupakan suatu proses
kegiatan yang dilakukan secara sistematis untuk melahirkan perubahan-perubahan yang
progressive pada tingkah laku manusia. Al Ghazali menitikberatkan perilaku manusia
yang sesuai dengan ajaran Islam sehingga dalam melakukan suatu proses diperlukan
suatu proses yang diajarkan secara indoktrinatif ( sesuatu yang dijadikan mata pelajaran).
Hal ini didasarkan batin manusia yang memiliki 4 unsur, yaitu kekuatan ilmu, kekuatan
ghadbah (kemarahan), kekuatan syahwat, dan kekuatan keadilan. Diharapkan keempat
unsur tersebut saling berintegrasi dalam diri manusia yang dapat melahirkan keindahan
watak manusia. Imam Ghazali juga berpendapat bahwa pendidikan yang baik merupakan
jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia
dan akhirat. Berikut ungkapan Al Ghazali mengenai ilmu pengetahuan dan manusia serta
para guru:
manusia yang paling mulia di bumi adalah manusia, dan bagian tubuh yang paling
berharga adalah hatinya. Adapun guru adalah seorang yang berusaha membimbing,
meningkatkan, dan menyempurnakan serta mensucikan hati hingga hati itu menjadi
dekat kepada Allah swt. Karena itu mengajarkan ilmu pengetahuan dapat dilihat dari dua
sudut pandang. Sudut pandang pertama mengajarkan ilmu pengetahuan adalah ibadah
kepada Allah swt, dan sudut pandang kedua adalah menunaikan tugas manusia sebagai

khalifah Allah di muka bumi. Dikatakan khalifah Allah, karena-Nya telah membukakan
hati seorang alim dengan ilmu pula seorang alim menampilkan identitasnya.12
Secara sistematik bangunan keilmuan/kependidikan Ghazali bisa dijelaskan sebagai
berikut:
1. Ilmu yang disyariatkan adalah ilmu yang disandarkan kepada Nabi saw, dan bukan
diperoleh melalui aktivitas akal (wa layursyid al-aql) seperti ilmu berhitung (al
hisab), bukan pula dari pengalaman (al tajribah) seperti ilmu kedokteran.
2. Ilmu yang tidak disyariatkan adalah ilmu yang tidak disyariatkan kepada Nabi saw
dan diperoleh melalui penalaran akal, pendengaran, dll.
3. Ilmu yang terpujin(al ilm al-mahmud) adalah ilmu yang berkaitan dengan
kemaslahatan dunia, seperti dokter, berhitung, matematika, dll.
4. Ilmu yang wajib sebagian (fardhu kifayah) adalah ilmu yang berkaitan dengan urusan
keduniaan yang cukup dipelajari oleh sebagian orang secara spesialis-profesional.
5. Ilmu yang diutamakan (ilmu fadhilah) adalah ilmu yang secara professional lebih
dalam dari ilmu fardhu kifayah.
6. Ilmu yang tercela (al-ilm al-madzmum) adalah ilmu yang tidak dikehendaki oleh
syariah seperti ilmu sihir, ilmu jimat,dll.
7. Ilmu yang diperbolehkan (ilm al-mubah) adalah seperti ilmu sastra, syair, sejarah,
dll.
Al Ghazali berpendapat bahwa semua ilmu digariskan ajaran Islam harus dimulai sejak
dini. Karena anak kecil telah memiliki insting kejiwaan-keilmuan yang harus dibangun
melalui pendidikan. Dan anak kecil laksana kertas putih yang suci yang bisa dituliskan
kepadanya sesuai lingkungannya. Kerangka paradigmatis ini sesuai dengan kaum
empirisme Inggris seperti John Locke dan David Hume. Dalam ilmu Jiwa dikenal
dengan istilah Teori Tabula Rasa.
Dengan demikian tujuan akhir dari pendidikan ada 2. Pertama, tercapainya
kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah. Kedua,
kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Al Ghazali mengemukakan bahwa ilmu harus selalu dicari. Itu adalah jalan yang akan
mengantarkan Anda kepada kebahagiaan di akhirat, sebagai medium untuk taqarrub
kepada Allah, di mana tak satupun bisa sampai kepadanya tanpa ilmu, tingkat termulia
bagi seseorang adalah kebahagiaan abadi, tetapi kebahagiaan itu tidak mungkin tercapai
12

Abu Muhammad Iqbal. 2015. Pemikiran Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hlm. 91

tanpa ilmu dan amal, dan amal tak mungkin dicapai kecuali jika ilmu tentang cara
beramal dikuasai.
Pemikiran Ghazali tentang pendidikan, menonjolkan karakteristik religious moralis
dengan tidak mengabaikan urusan keduniaan sekalipun hal tersebut merupakan alat
untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Dalam bukunya IhyaUlum al-Din al-Ghazali
menyatakan sebagai berikut: Dunia adalah ladang tempat persemaian benih-benih
akhirat. Dunia adalah alat yang menghubungkan seseorang dengan Allah. Sudah barang
tentu, bagi orang yang menjadikan dunia hanya sebagai alat dan tempat persinggahan,
bukan bagi orang yang menjadikannya sebagai tempat tinggal yang kekal dan negeri
yang abadi.13
Al Ghazali juga tidak melupakan pentingnya mencari ilmu yang bersifat fardhu
kifayah. Karena ilmu memiliki beberapa keistimewaan dan kebaikan serta berkaitan
dengan perkembangan zaman dan tuntutan masyarakat tertentu. Maksudnya, bahwa ilmu
memiliki nilai-nilai, dan dengan ilmu seorang akan mendapatkan kenikmatan dan
kesenangan tanpa melupakan sumbernya. Al Ghazali lebih menekankan pada ilmu-ilmu
yang bersifat fardhu ain, sebab ilmu dapat menyampaikan seseorang pada kebahagiaan
yang abadi. Dengan kata lain, kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah ilmu.
3. Guru Ideal dan Profesional Menurut Al Ghazali
Menurut Al Ghazali, guru dalam arti akademik adalah seseorang yang menyampaikan
sesuatu kepada orang lain atau seseorang yang menyertai institusi untuk menyampaikan
ilmu pengetahuan kepada para pelajarnya. Dalam kitab lain, guru yaitu sebagai seseorang
yang menyampaikan suatu yang baik, positif, kreatif/membina seseorang yang
berkemauan tanpa melihat umur walaupun terpaksa melalui berbagai cara dan strategi
dengan tanpa mengharapkan gaji.
Menurutnya, guru yang dapat diserahi tugas mengajar adalah guru yang cerdas dan
sempurna akalnya, baik akhlaknya dan kuat fisiknya. Dengan kesempurnaan akal ia
datang memiliki berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, dengan akhlak yang baik
dapat menjadi contoh dan teladan bagi para muridnya, dan dengan kuatnya fisik ia dapat
melaksanakan tugas mengajar, mendidik, dan mengarahkan muridnya. Selain itu, guru
juga harus memiliki sifat-sifat khusus berikut14:

13

Abu Muhammad Iqbal. Op.Cit, hlm. 94

14

Abu Muhammad Iqbal. Op Cit. hlm. 94

Pertama, jika praktek mengajar dan penyuluhan sebagai keahlian dan profesi guru
sifat yang paling penting adalah rasa kasih sayang, karena akan menimbulkan rasa
percaya diri dan rasa tentram pada diri murid terhadap gurunya. Hal ini dapat
menciptakan situasi yang mendorong murid untuk menguasai ilmu yang diajarkan
gurunya. Persoalannya, interaksi belajar mengajar antara guru dan murid dalam dunia
pendidikan ini kurang mendapat perhatian dari semua pihak. Seorang guru sering tidak
mampu tampil sebagai figur yang pantas diteladani di hadapan murid, apalagi berperan
sebagai orang tua. Karena itu, seringkali guru dipandang dan dinilai muridnya tidak lebih
hanya sebagai orang lain yang menyampaikan materi karena dibayar. Oleh karena itu,
wahai guru, perhatikan segala persyaratan profesimu, perankanlah dirimu di hadapan
anak didikmu sebagai orang tua, junjung tinggilah tugas muliamu jangan sampai lengah
menanamkan nilai kepada muridmu.
Kedua, Al Ghazali berpendapat mengajarkan ilmu adalah kewajiban agama bagi
setiap alim, maka seorang guru tidak boleh menuntut upah atas jerih payahnya dalam
mengajar serta tidak mengharapkan pujian, ucapan terima kasih atau balas jasa dari
muridnya.Seorang guru harus meniru Rasulullah saw yang mengajarkan ilmu karena
Allah. Al Ghazali mengumpamakan guru bagaikan orang yang menanam tumbuhtumbuhan yang baik di lading orang lain. Dalam hal ini, manfaat akan kembali kepada
orang yang menanamnya, bukan si pemilik lading. Artinya, pahala yang didapat guru di
sisi Allah lebih besar disbanding pahala yang didapat murid.
Al Ghazali mencela pandangan yang menuntut upah dari murid. Ia berkata: Barangsiapa
mencari harta dengan jalan menjual ilmu, maka dia bagaikan orang yang membersihkan
bekas injakan kakinya dengan wajahnya. Dia telah mengubah orang yang memperhamba
menjadi orang yang diperhamba dan orang yang diperhamba menjadi orang yang
memperhamba. Dari sini dapat dipahami, bahwa Al Ghazali memandang guru bayaran
dengan pandangan seperti ini karena menurut keyakinannya orang alim tak lain adalah
seorang pembimbing agama. Oleh karena itu, dia tidak patut memperadukkan agama
dengan materi atau menjadikan agama sebagaimalat untuk mendekati orang-orang
berharta dan bertahta.
Pernyataan ini dapat diartikan guru harus ikhlas. Yang disebut khalis (orang yang ikhlas)
adalah yang dalam bekerja atau beramal dan semua aktivitas yang bernilai ibadah, tidak
ada motivasi lain kecuali mencari kedekatan diri kepada Allah swt. Jelaslah bahwa pada
prinsipnya tidak mengharamkan guru untuk menerima upah.

Ketiga, Guru yang baik juga berfungsi sebagai pengarah dan penyuluh yang jujur dan
benar di hadapan murid-muridnya. Dan tidak membiarkan muridnya mempelajari
pelajaran yang lebih tinggi sebelum ia menguasai pelajaran sebelumnya. Al Ghazali
berkata: Hendaknya seorang guru tidak lupa sekejap pun memberikan nasihat kepada
murid. Yang demikian itu ialah dengan melarangnya mempelajari suatu tingkat sebelum
menguasai pada tingkat itu. Belajar ilmu yang tersembunyi sebelum selesai ilmu yang
terang. Kemudian menjelaskan kepadanya bahwa maksud menuntut ilmu ialah
mendekatkan diri kepada Allah. Bukan keinginan menjadi kepala, kemegahan dan
perlombaan. Haruslah dikemukakan keburukan itu sejauh mungkin.
Dengan kata lain, Al Ghazali tidak memandang kepentingan pendidikan pertama-tama
untuk mencari penghidupan. Lebih dari itu, dia menolak pandangan tersebut. Dia
meriwayatkan, bahwa pada suatu ketika Sufyan Tsauri tampak bersedih. Sufyan ditanya:
Apa gerangan yang telah membuat Anda sedih? Sufyan menjawab: Kami telah
menjadi pedagang untuk para pemuja dunia. Salah seorang di antara mereka telah
memaksa kami. Sampai ketika dia menuntut ilmu, dia menjadikan tujuannya adalah
untuk menjadi seorang hakim, pegawai atau kepala rumah-tangga Negara.
Keempat, dalam kegiatan mengajar seorang guru hendaknya menggunakan cara yang
simpatik, halus dan tidak menggunakan kekerasan cacian, makian, dll. Hendaknya guru
tidak meng-ekspose atau menyebarluaskan kesalahan muridnya di depan umum, karena
cara itu dapat menyebabkan murid memiliki jiwa yang keras, menentang, membangkang,
dan memusuhi gurunya, yang menimbulkan situasi yang tidak mendukung terlaksananya
pengajaran dengan baik.
Al Ghazali mengatakan bahwa apabila murid melakukan akhlak yang buruk, guru
hendaknya menggunakan kalimat-kalimat kiasan atau lemah lembut, jangan terangterangan atau celaan. Sebab apabila guru selalu menggunakan celaan, maka secara tidak
langsung dia telah mengajar anak untuk berani melawan dan menentang, serta lari dan
takut kepada guru.
Kelima, guru yang baik harus sebagai tauladan atau panutan yang baik di hadapan
murid-muridnya. Selain itu, juga bersikap toleran dan mau menghargai keahlian orang
lain. Serta tidak mencela ilmu-ilmu yang bukan keahliannya atau spesialisnya. Menurut
Al Ghazali guru harus memiliki karisma yang tinggi, karena guru akan membawa murid
kea rah mana yang dikehendaki. Kewibawaan seorang guru juga sangat menunjang
dalam perannya sebagai pembimbing dan penunjuk jalan dalam masa studi muridnya.
Semua perkataan, sikap dan perbuatan yang baik darinya akan memancar kepada

muridnya. Bukan berarti guru harus berada jauh dengan siswa. Profesi guru sangat
menentukan kelangsungan hidup suatu bangsa. Kejayaan atau kehancuran suatu bangsa
sangat bergantung pada keberadaan guru-guru yang melahirkan generasi muda.
Alasannya, karena potensi manusia akan mempunyai makna dan dapat memanfaatkan
sumber daya alam yang berguna bagi kehidupan manusia, hanya setelah digali melalui
kehidupan, dan subjek yang paling berperan langsung dalam proses pendidikan adalah
guru.
Keenam, guru yang baik harus memiliki prinsip mengakui adanya perbedaan potensi
yang dimiliki murid secara individual dan memperlakukannya sesuai dengan tingkat
perbedaan yang dimiliki muridnya. Al Ghazali menasehatkan agar guru membatasi diri
dalam mengajar sesuai dengan batas kemampuan pemahaman muridnya, dan tidak
memberikan pelajaran yang tidak dapat dijangkau oleh akal muridnya.
Guru harus dapat menciptakan situasi dan kondisi sedemikian rupa sehingga murid
senang belajar dan pandai untuk mendorong muridnya kea rah lebih baik. Usaha yang
harus dilakukan guru agar apa yang dilakukan dalam tugasnya benar-benar dapat
menjadi motivator bagi muridnya yaitu:
1. Dengan sengaja, guru memberikan hadiah atau hukuman, melibatkan harga diri dan
memberitahu hasil prestasi atau karya murid, memberikan tugas-tugas kepada
mereka, mengadakan kompetisi belajar yang sehat di antara mereka, dan sering
mengadakan ulangan.
2. Dengan spontan, mengajar dengan cara yang dapat menyenangkan muridnya (setiap
individu berbeda-beda, karena murid mempunyai perbedaan dalam berbagai hal
seperti: kemampuan, bakat, lingkungan, kebutuhan, kesenangan, dll), menimbulkan
suasana yang menyenangkan (misalnya, menyesuaikan materi pelajaran dengan
metode atau tatap muka dengan murid).
Al Ghazali juga mengibaratkan guru sebagai penjaga dan pengaman ilmu. Di antara
kewajibannya yaitu tidak kikir dengan ilmunya kepada muridnya dan tidak pula
berlebihan memberikannya, baik murid itu pandai atau bodoh. Pandangan ini dikuatkan
dengan menyitir nasihat Isa a.s. yang mengatakan: Janganlah mereka mengalungkan
permata di leher babi, Allah swt berfirman, Dan janganlah kalian serahkan harta (yang
ada dalam kekuasaan kalian) kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya. (Q.S.
An-Nisa:5).
Ketujuh, guru yang baik adalah guru adalah guru yang memahami perbedaan tingkat
kemampuan dan kecerdasan muridnya, juga memahami bakat, tabiat, dan kejiwaan

muridnya sesuai dengan tingkat perbedaan usianya. Kepada murid yang kemampuannya
kurang, hendaknya seorang guru jangan mengajarkan hal-hal yang rumit sekalipun guri
itu menguasainya. Al Ghazali berkata: Guru hendaklah merangkumkan bidang studi,
menurut tenaga pemahaman murid. Jangan diajarkan bidang studi yang belum sampai ke
sana. Nanti ia lari atau otaknya tumpul.
Menurut Whiterington, manusia mempunyai tanda dan aktivitas fisik dan psikis yang
berbeda. Karena itu, guru sebagai penggali potensi intelektual murid harus dapat menjadi
pembimbing selama perumbuhan dan perkembangannya. Konsekuensinya, guru harus
mengetahui aktivitas psikis, sehingga ia dapat menyampaikan materi pelajaran dengan
metode yang tepat. Al Ghazali menyadari betapa pentingnya mengkaji kehidupan psikis
murid. Dengan ini guru akan mengetahui bagaimana ia harus memperlakukan muridnya,
sehingga ia dapat menghindarkan keraguan dan kegelisahan dalam menjalankan
tugasnya. Dia mengatakan bahwa di antara faktor yang mungkin menyebabkan murid
bersikap ragu terhadap guru adalah murid beranggapan bahwa gurunya kikir akan ilmu
dan tidak memberikan sepenuhnya yang menjadi hak mereka untuk mendapatkannya.
Kegelisahan dan keraguan ini akan menjadi-jadi apabila murid sedang berada pada masa
pancaroba (yang menandai masa pubertas). Al Ghazali menasihatkan agar guru
memberikan kepada muridnya yang masih terbatas jangkauannya pengajaran secara
jelas, sederhana, dan sesuai dengan usianya.
Kedelapan, guru yang baik adalah guru yang berpegang teguh kepada prinsip yang
diucapkannya, serta berupaya untuk merealisasikannya. Al Ghazali juga mengingatkan
agar seorang guru jangan sekali-kali melakukan perbuatan yang bertentangan dengan
prinsip yang dikemukakannya. Jika hal tersebut dilakukan, akan menghilangkan
kewibawaannya. Ia akan menjadi sasaran penghinaan dan ejekan serta akan kehilangan
kemampuan dalam mengatur murid-muridnya. Dan tidak mampu lagi mengarahkan atau
memberi petunjuk kepada murid-muridnya. Guru dalam melaksanakn tugasnya ibarat
akan memberikan sesuatu kepada muridnya. Tentu saja, ia tidak akan dapat memberikan
sesuatu yang ia sendiri tidak memilikinya. Kita tidak bisa mengharapkan dari seorang
guru yang tidak beriman dan bertakwa dapat membentuk murid yang beriman dan
bertakwa. Sebagaimana dalam UU Ri nomor 2 tanun 1989, bahwa untuk dapat diangkat
sebagai tenaga pengajar , tenaga pendidik, ia harus beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa. Berkaitan dengan hal tersebut, tansil berikut ini memberikan kejelasan
bagi kita seperti dikatakan oleh Al Ghazali: Hendaklah guru mengamalkan ilmunya,
jangan

perkataannya

membohongi

perbuatannyaperumpamaan

guru

yang

membimbing murid adalah bagaikan ukiran dengan tanah liat, atau bayangan dengan
tongkat. Bagaimana mungkin tanah liat dapat terukir sendiri tanpa ada alat untuk
mengukirnya, bagaimana mungkin bayangan akan lurus kalau tongkatnya bengkok.
Kesembilan, guru hendaknya memandang seperti anaknya sendiri, menyanyangi dan
memperlakukan mereka seperti layaknya anak sendiri. Rasulullah saw bersabda:
Sesungguhnya saya bagimu adalah seperi orang tua kepada anaknya. Al Ghazali juga
mengutip firman Allah swt yaitu, Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.
Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan
takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.(Q.S. al-Hujurat;10). Karena
rasa kasih sayang itulah diharapkan guru dapat menyelamatkan muridnya dari api neraka
dan itu lebih penting daripada penyelamatan orangtua kepada anaknya dari neraka dunia.
Guru professional menurut Al Ghazali adalah tenaga professional yang bertugas
merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran,
melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian
kepada masyarakat. Sifat-sifat ini masih relevan dengan kompetensi guru yang telah
ditetapkan dalam UU Sisdiknas. Menurut UU Sisdiknas seorang pendidik dianggap
mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Seseorang pendidik disyaratkan harus
mempunyai jasmani (fisik) yang sehat, karena dengan jasmani yang sehat guru dapat
menjalankan tugasnya dengan baik, syarat guru seperti ini sama dengan syarat guru yang
ditetapkan oleh Al Ghazali, yaitu guru harus mempunyai akal yang cerdas, akhlak yang
sempurna, dan fisik yang kuat.
Akuntabilitas keguruan tenaga edukatif secara profesional sangat ditekankan. Guru
harus mampu memberikan layanan terbaik bagi anak didik dan masyarakat pengguna
pendidikan. Artinya kualifikasi kompetensi profesional guru adalah taruhannya, berikut
dibagi dalam 3 tingkatan: Pertama, kapabilitas personal, yakni guru diharapkan memiliki
pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan serta sikap yang lebih mantap dan memadai
sehingga mampu mengelola proses belajar mengajar secara efektif. Kedua, guru sebagai
innovator, yakni guru diharapkan memiliki pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan
serta sikap yang tepat terhadap pembaharuan dan sekaligus penggagas ide pembaharuan
yang efektif. Ketiga, guru sebagai developer, yakni guru harus memiliki visi keguruan
yang mantap dan luas spektifnya.
Mengenai syarat kepribadian guru, Al Ghazali menekankan betapa berat kode etik
yang diperankan seorang pendidik daripada peserta didiknya. Guru tidak hanya
menyangkut keberhasilannya dalam menjalankan profesi keguruannya, tetapi juga

tanggung jawabnya di hadapan Allah swt. Adapun kode etik guru menurut Al Ghazali
yaitu:
1. Menerima segala problem peserta didik dengan hati dan sikap yang terbuka dan tabah.
2. Bersikap penyantun dan penyanyang.
3. Menjaga kewibawaan dan kehormatan dalam bertindak.
4. Menghilangkan dan menghindari sikap angkuh terhadap sesama.
5. Bersikap rendah hati ketika menyatu dengan sekelompok masyarakat.
6. Menghilangkan aktivitas yang tidak berguna dan sia-sia.
7. Bersifat lemah lembut dalam menghadapi peserta didik yang IQ-nya rendah, serta
membinanya sampai dalam taraf maksimal.
8. Meninggalkan sifat marah dalam menghadapi problem peserta didiknya.
9. Memperbaiki sikap peserta didiknya, dan bersikap lemah lembut terhadap peserta
didik yang kurang lancar bicaranya.
10. Meninggalkan sifat yag menakutkan pada peserta didik, terutama pada peserta didik
yang belum mengerti dan belum mengetahui.
11. Berusaha memperhatikan pertanyaan-pertanyaan peserta didik, walaupun pertanyaan
itu tidak bermutu dan tidak sesuai dengan masalah yang diajarkan.
12. Menerima kebenaran yang diajukan oleh peserta didik.
13. Menjadikan kebenaran sebagai acuan dalam proses pendidikan, walaupun kebenaran
itu datangnya dari peserta didik.
14. Mencegah dan mengontrol peserta didik mempelajari ilmu yang membahayakan.
15. Menanamkan sifat ikhlas pada peserta didik, serta terus-menerus mencari informasi
guna disampaikan pada peserta didik yang akhirnya mencapai tingkat taqarrub
kepada Allah swt.
16. Mencegah peserta didik mempelajari ilmu fardhu kifayah sebelum mempelajari ilmu
fardhuain.
17. Mengaktualisasikan informasi yang diajarkan.
D. IMAM AL-ZARNUJI

1. Biografi Imam Al-Zarnuji


Al-Zarnuji adalah orang yang diyakini sebagai satu-satunya pengarang kitab
Talim Mutaalim akan tetapi nama beliau tidak begitu dikenal dari apa yang ditulisnya.
Dalam hal ini terdapat perbedaan pada beberapa penelitian dengan memberikan nama

lengkap (gelar) kepada syeikh al-Zarnuji. Sebagaimana dipaparkan oleh Awaludin Pimay,
dalam tesisnya tentang perbedaan nama lengkap (gelar) dari pengarang kitab Talim
Mutaalim ini, sebagai berikut;
Khairudin al-Zarkeli menuliskan nama al-Zarnuji dengan Numan bin Ibrahim bin Khalil
Al-Zarnuji Tajuddin. Seperti dikutip oleh Tatang M. Amirin, M. Ali Hasan Umar dalam kulit
sampul buku al-Zarnuji yang diterjemahkannya, menyebutkan nama lenkap al-Zarnuji sebagai
Syekh Numan bin Ibrahim bin Khalil Al-Zarnuji, sementara dalam kata al-Khalil al-Zarnuji.
Busyairi Madjidi yang mengutip dari buku Fuad al-ahwani menyebutkan al-Zarnuji isinya. Nama
dengan Burhanudin al-Zarnuji. Dengan demikian Muchtar Affandi dan beberapa literature yang
dikutip dalam atau Burhan al-Din al-Zarnuji. Kecuali itu detemukan pula sebutan lain untuk alZarnuji yaitu Burhan al-Islam al-Zarnuji.
Mengenai kelahiran atau masa hidup al-Zarnuji hanya dapat diperkirakan lahir pada sekitar
tahun 570 H, sedangkan Al-Zarnuji diperkirakan wafat sekitar tahun 620 H atau dalam kata lain alZarnuji hidup pada seperempat akhir abad ke-6 sampai pada dua pertiga abad ke-7 H.
2. Latar Belakang Pendidikan Al-Zarnuji

Adapun guru-gurunya atau yang pernah hubungan langsung dengan al-Zarnuji yaitu
sebagai berikut: (a). Imam Burhan al-Din Ali bi Abi Bakr al-Farghinani al-Marghinani
(w. 593 H/1195 M). (b). Imam Fakhr al-Islam Hasan bin Mansur al-Farghani Khadikan
(w. 592 H/1196 M). (c). Imam Zahir al-Din al-Hasan bin Ali al-Marghinani (w. 600
H/1204 M). (d). Imam Fakhr al-Din al-Khasani (w. 587 H/1191 M) dan Imam rukn al-Din
Muhammad bin Abi Bakr Imam Khwarzade (491-576 H).
Al-Zarnuji menuntut ilmu di Bukhara dan Sar Khan, yaitu kota yang menjadi pusat
kegiatan keilmuan, pengajaran, dan lain-lainnya. Masjid-masjid di kedua kota tersebut
dijadikan sebagai lembaga pendidikan dan Talim yang diasuh antara lain oleh Burhanudin
al-Marghinani, Syamsuddin Abd. al-Wadjdi, Muhammad bin Muhammad al-Abd as-sattar
al- Amidi dan lain-lainnya.
Selain itu al-Zarnuji belajar dari ulama-ulama lain seperti Ali bin Abi Bakr bin Abdul
Jalil al-Farghani al-Marghinani al-Rustami Ruknul Islam Muhammad bin Abi Bakar (W.
573/1177), Hammad bin Ibrahim (W. 587/1180), Taruddin al-Hasan bin Mansyur atau
Qodhikhan (W. 592/1196), Ruknuddin al-Farghani (W. 594/1098) dan al-Imam
Sadiduddin al-Shirazi.
Dengan demikian berdasar keterangan tersebut dapat diidentifikasi bahwa pemikiran
dan intelektualitas al-Zarnuji sangat banyak dipengaruhi oleh faham fiqih yang
bekembang saat itu, sebagaimana faham yang dikembangkan oleh para gurunya, yakni
fiqih aliran Hanafiyah. Di samping ahli dalam bidang pendidikan dan tasawuf, sangat

dimungkinkan, bahwa al-Zarnuji juga menguasai bidang sastra, fiqih, ilmu kalam, dan
lain-lain.
Sejarah peradaban Islam terdapat beberapa tahap pertumbuhan dan perkembangan
dalam bidang pendidikan Islam. Pertama pendidikan pada masa nabi Muhammad SAW
(571-632 M); kedua pendidikan pada masa Khulafaur Rosyidin (632-661 M); ketiga
pendidikan pada masa Bani Umayyah di Damsyik (661-750 M); dan keempat pendidiakan
pada masa jatuhnya kekuasaan khalifah di Baghdad (1250-sekarang).
Dengan demikian al-Zarnuji hidup pada masa ke-empat dari periode pendidikan dan
perkembangan Islam, yakni antara tahun 750-1250 M. Sehingga beliau sangat beruntung
mewarisi banyak peninggalan yang ditinggalkan oleh para pendahulunya dalam berbagai
bidang ilmu pengetahuan.
3. Hasil Karya al-Zarnuji

Kita mungkin tidak mengetahui secara pasti berapa jumlah kitab yang telah ditulis
oleh al-Zarnuji dan hanya mengetahui kitab Talim Mutaalim adalah satu-satunya karya
Imam al-Zarnuji yang dapat dijumpai sampai sekarang dan tanpa keterangan tahun
penerbitan. Bahkan beberapa sumber menyebutkan bahwa hanya kitab Talim Mutaalim
karya al-Zarnuji.
Kitab Talim Mutaalim dikaji dan dipelajari hampir disetiap lembagapendidikan
Islam, terutama lembega pendidikan tradisional seperti pesantren, bahkan dipondok
pesantren modern, karena pada dasarnya ada beberapa konsep pendidikan Zarnuji yang
banyak berpengaruh dan patut diindahkan.
Sedangkan cara berpikir al-Zarnuji, dapat dikatakan bercorak spiritual atau bersifat
metafisik. Hal itu disebabkan oleh pengaruh sosial-politik yang berlangsung pada saat alZarnuji hidup, di mana di zaman kaum saljuk kota Baghdad kembali menjadi ibukota
kerohanian sebagai tempat persemayaman khalifah Abbasiyah yang sangat kental dengan
dogma-dogma keagamaan. Jadi, corak pemikiran al-Zarnuji banyak dipengeruhi oleh
ajaran-ajaran ulama Islam seperti al-Ghozali yang hidup pada masa Abbasiyah.
4. Konsep Pendidikan Al-Zarnuji

Konsep pendidikan yang dikemukakan al-Zarnuji secara monumental dituangkan


dalam karyanya Talim al-Mutaallim Thuruq al-Taallum. Kitab ini banyak diakui
sebagai suatu karya yang monumental serta sangat diperhitungkan keberadaannya. Kitab
ini banyak dipergunakan tidak saja terbatas di kalangan ilmuwan Muslim, tetapi juga
oleh para orientalis dan para penulis Barat.

Keistimewaan lainnya dari buku Talim Mutaallim tersebut adalah terletak pada
meteri yang dikandungnya. Sekalipun kecil dan dengan judul yang seakan-akan hanya
membicarakan tentang metode belajar, namun sebenarnya membahas tentang tujuan
belajar, prinsip belajar, strategi belajar dan lain sebagainya yang secara keseluruhan
didasarkan pada moral religius.
Pasal-pasal dibagi ke dalam tiga bagian besar, yakni mencakup: The Division of
Knowledge, The Purpose of Learning, dan The Method of Study. Ketiga bidang
pendidikan ini dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Pembagian Ilmu
Al-Zarnuji membagi ilmu pengetahuan ke dalam dua kategori. Pertama ilmu
fardluain, yaitu ilmu yang setiap Muslim secara individual wajib mempelajarinya,
seperti ilmu fiqih dan ilmu ushul (dasar-dasar agama). Kedua ilmu fardlu kifayah, yaitu
ilmu dimana setiap umat Islam sebagai suatu komunitas, bukan sebagai individu
diharuskan menguasainya, seperti ilmu pengobatan, ilmu astronomi dan lain sebagainya.
b. Tujuan Pendidikan
Mengenai tujuan pendidikan, Al-Zarnuji mengatakan mengatakan bahwa tujuan
pendidikan adalah yang ditunjukkan untuk mencari keridhaan Allah, memperoleh
kebahagiaan di akhirat, berusaha memerangi kebodohan pada diri sendiri dan orang lain,
mengembangkan dan melestarikan ajaran Islam, serta mensyukuri nikmat Allah.
c. Metode Pembelajaran
Dari segi metode pembelajaran yang dimuat Al-Zarnuji dalam kitabnya itu meliputi
dua kategori. Pertama, metode yang bersifat etik, dan kedua metode yang bersifat
strategi. Metode yang bersifat etik antara lain mencakup niat dalam belajar; sedangkan
metode yang bersifat teknik strategi meliputi cara memilih pelajaran, memilih guru,
memilih teman dan langkah-langkah dalam belajar.
Tentang kurikulum terkait dengan pemikirannya tentang pembagian ilmu pengetahuan
sebagaimana disebutkan diatas, sedangkan tentang situasi belajar terkait dengan
bagaimana seharusnya seorang pelajar memilih guru dan temannya yang dapat
mendorong terjadinya proses belajar mengajar yang efektif.
5.

Persyaratan Mencari Ilmu Menurut Al-Zarnuji


Menurut al-Zarnuji, mencari ilmu bernilai ibadah dan mengantarkan seseorang untuk

kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Kebahagiaan duniawi yang dimaksud adalah sejalan
dengan konsep pemikiran ahli pendidikan yakni proses belajar hendaknya mampu untuk
ilmu yang mencakup tiga ranah yakni kognitif, afektif dan psikomotorik. Sedangkan

dimensi ukhrawi adalah sebagai perwujudan rasa syukur manusia sebagai hamba Allah
yang telah mengaruniai akal.
Persyaratan dalam mencari ilmu demi mendapat kesuksesan juga ditulis al-Zarnuji
dalam bentuk syair.
Tidak akan berhasil seseorang dalam mencari ilmu kecuali dengan enam syarat,
maka akan aku sampaikan kepadamu keseluruhan syarat-syarat tersebut dengan jelas,
cerdas, rasa ingin tau yang tinggi, sabar, mempunyai biaya, adanya petunjuk dari
seorang guru dan dalam waktu yang lama.
Keenam syarat sukses yang ditulis al-Zarnuji antara lain:
1. Cerdas
Cerdas dalam kitab Talim al-Mutaalim Thariqat al-Taalum berarti
kecepatan dalam berpikir. Hal ini adalah kecerdasan akal (intelligence). Cerdas bisa
diartikan sebagai sempurna dalam perkembangan akal dan budi (untuk berfikir,
mengerti). Jadi cerdas bukan hanya menguasai benyak informasi tetapi juga mampu
mengolah informasi menjadi sesuatu hal yang baru atau teori baru. Oleh karena itu
kecerdasan menduduki urutan pertama dalam proses pembelajaran yang terjadi di
lembaga pendidikan.
2. Rasa Ingin Tau Yang Tinggi
Rasa ingin tau yang tinggi dalam kitab Talim al-Mutaalim Thariqat alTaalum berarti yang dihasilkan dari kecerdasan. Hal ini diartikan sebagai kemauan
keras untuk bisa mengetahui suatu ilmu pengetahuan yang belum diketahui (dikuasai),
sehingga dengan kemauan tersebut akan membuat seseorang menjadi termotivasi untuk
bisa menguasai ilmu pengetahuan tersebut dan nantinya akan menjadikan dirinya
menjadi giat dan gigih serta ulet dalam menghadapi problem-problem yang ada selama
proses belajar. Seseorang yang menginginkan kesuksesan dalam mencari ilmu haruslah
memenuhi syarat (rasa ingin tau yang tinggi).
3. Sabar
Sabar mempunyai arti tahan dalam menghadapi rintangan dan cobaan (tidak
lekas marah, tidak lekas putus asa dan tidak patah hati).
Antara sabar dan syukur ada keterkaiatan seperti keterkaitan antara nikmat dan
cobaan. Setiap orang tidak dapat terlepas dari nikmat dan cobaan itu dalam
menjalankan kehidupan di dunia. Kesabaran itu dibagi menjadi tiga macam: (a). Sabar
dalam ketaatan kepada Allah. (b). Sabar dari kemaksiatan. (c). Sabar ketika mendapat

cobaan. Semua itu merupakan gambaran sebuah kehidupan. Oleh karenanya, sabar
adalah separuh keimanan karena setiap cabang-cabang imam memerlukan sifat sabar.
4. Biaya
Yang berarti keperluan hidup sehingga tidak membutuhkan urusan-urusan rizki
atau yang lain, maka sesungguhnya kebutuhan akan hal itu akan mengganggu hati maka
kemungkinan ilmu itu tidak didapatkan. Biaya disini diartika sebagai ongkos yang
mencukupi untuk biaya hidup, sekiranya orang tersebut tidak lagi membutuhkan
pertolongan dari orang lain dalam masalah rejeki.
Biaya dalam pendidikan memiliki arti jenis pengeluaran yang berkenaan dengan
dengan penyelenggaraan pendidikan, baik dalam bentuk uang maupun barang dan
tenaga.
5. Petunjuk Dari Guru
Arahan guru disini adalah orang yang bertanggung jawab terhadap upaya
perkembangan jasmani dan rohani peserta didik agar mencapai tingkat kedewasaan,
sehingga ia mampu menunaikan tugas-tugas kemanusiaannya baik khaliafah maupun
abd. Dengan kata lain tugas guru adalah melahirkan atau membentuk manusia yang
pandai tetapi berakhlak mulia dan bertakwa kepada Allah.
6. Waktu Yang Lama
Yang dimaksud waktu yang lama adalah perlu membutuhkan waktu yang lama
sehingga menghasilkan atau mendapatkan ilmu karena sesungguhnya dasar-dasarnya
ilmu sangat banyak sehingga ilmu tidak bisa didapatkan dalam waktu yang cepat.
Dan mampu melakukan apa yang diketahuinya. Belajar tidak akan pernah berhenti,
karena itu dimaknai dengan waktu yang lama dan tidak akan pernah selesai bagi orang
yang ingin ditinggikan derajatnya oleh Allah. Manusia yang semakin tahu terhadap
sesuatu maka semakin kecil pengetahuan yang mereka punya.
E. ABDULLAH NASHIH ULWAN
1. Potret Kehidupan Abdullah Nashih Ulwah
Abdullah Nashih Ulwah adalah seorang tokoh muslim yang aktif dalam
mengeluarkan ide-idenya melalui karya yang sangat menarik. Beliau lahir di Kota Lahab,
Suriah tahun 1928. Diusia 15 tahun, beliau telah hafal Al-Quran dan menguasai ilmu
Bahasa Arab. Beliau hidup di masa Suriah di bawah kekuasaan asing pada tahun 1947,
beliau selalu menyeru kepada masyarakat untuk kembali kepada ajaran Islam karena pada

saat itu masyarakat sudah terkontaminasi dengan ajaran Barat. Karena hal itulah yang
menyebabkan beliau meninggalkan Suriah menuju ke Jordan (1979). Pada tahun 1980
beliau meninggalkan Jordan dan menuju ke Jeddah, Arab Saudi setelah mendapatkan
tawaran untuk menjadi dosen di sana. Beliau meninggal tanggal 27 Agustus 1987 pada
usia 59 tahun dikarenakan sakit di bagian dadanya.
Beliau termasuk seorang pemerhati pendidikan, selalu berusaha menuntut ilmu
dengan sungguh-sungguh, menjadi generasi penerus bangsa adalah merupakan citacitanya. Dimulai dari Sekolah Dasar, kemudian ke SLTP lalu SLTA mengambil jurusan
ilmu syari'ah dan Pengetahuan Alam di Halab pada tahun 1949. Melanjutkan di fakultas
ushuludin di Universitas al-Azhar, Mesir tahun 1952. Beliau merasa belum puas hanya di
S1 lalu melanjutkan ke S2 lulus pada tahun 1954 dan menerima gelar pendidikan setaraf
dengan Master Of Art (MA). Pada akhirnya beliau ditetapkan sebagai tenaga pengajar di
SLTA Halab pada tahun 1954.
Karena beliau merupakan seorang yang giat menuangkan pemiirannya, sehingga
banyak sekali karya-karya yang beliau tulis dan dibagi kedalam 4 kelompok besar, yaitu :
1. Bidang pendidikan dan pengajaran
2. Bidang fiqh dan muamalah
3. Bidang akidah
4. Bidang umum
2. Sosok Guru Menurut Abdullah Nashih Ulwah
Menurut Zakiyah Daradjat, guru adalah pendidik profesional karena ia telah
merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab orang tua. Para
orang tua yang mendaftarkan anaknya ke sekolah berarti telah melimpahkan pendidikan
anaknya kepada guru. Mereka tidak mungkin menyerahkan anaknya kesembarang guru,
karena tidak semua orang bisa menjadi guru.
Poerwadaminta, guru adalah orang yang pekerjaanya mengajar. Dalam bahasa arab
guru disebut mualim, teacher (Inggris). Pendidik dalam Islam berarti orang-orang yang
bertanggung jawab terhadap peserta didik dengan upaya mengembangkan potensi afektif
(rasa), kognitif (cipta) dan psikomotor (karsa). berbagai tanggung jawab yang menonjol
dan diperhatikan oleh Islam adalah tanggung jawab para pendidik terhadap individuindividu yang berhak menerima pengarahan, pengajaran dan pendidikan. Jika pendidik
terus mengkaji ayat-aya Al-Quran dan hadist Rasul. Di dalam memerintahkan para
pendidik untuk memikul tanggung jawab dan memberikan peringatan jika meremahkan
kewajiban-kewajiban mereka. Seperti yang tertulis dalam Al-Quran : Hai orang-orang

yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak
mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-tahrim: 6)

1. Syarat Kepribadian Guru


Kepribadian merupakan sifat hakiki individu yang tercermin pada sikap dan
perbuatan yang membedakan dengan orang lainnya. Pendidik adalah agen
pembelajaran yang harus memiliki 4 jenis kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik,
kepribadian, profesional dan sosial (Pasal 28 PP No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar
Nasional Pendidikan).
Dalam mempersiapkan anak secara utuh dalam kehidupan Abdullah Nashih Ulwah
menjelaskan tentang sifat yang harus dimiliki seorang pendidik sehingga mampu
meninggalkan bekas pada diri anak.
a. Ikhlas
b. Takwa
c. Ilmu
d. Santun
e. Rasa tanggung jawab
2. Tugas dan Kewajiban Guru
Kadangkala seorang terjebak dalam sebutan pendidik, misalnya sebagian orang
yang mampu memberikan dan memindahkan ilmu pengetahuan (transfer of knowladge)
kepada orang lain. Jadi fungsi dan tugas pendidik dalam pendidikan yaitu:
a. Sebagai pengajar (intruksional)
b. Sebagai pendidik (educator)
c. Sebagai pemimpin (managerial)
Abdullah Nashih Ulwah, menerangkan bahwa tanggung jawab para pendidik yang
terpenting adalah :
a. Pendidikan Iman
Mengikat anak dengan dasar-dasar iman, rukun Islam dan dasar-dasar syariah.
b. Pendidikan Moral
Pendidikan mengenai dasar-dasar moral dan keutamaan peragai, tabiat yang
harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan sejak kecil.

c. Pendidikan Fisik
Untuk sampai kepada pendidikan fisik yang diaharapkan maka seorang
pendidik harus memiliki metode yang telah digariskan dalam Islam.

d. Pendidikan Intelektual
Pembentukan dan pembinaan berfikir anak dengan segala

sesuatu yang

bermanfaat.
e. Pendidikan Sosial
Pendidikan anak sejak kecil agar terbiasa menjalankan adab sosial yang
bersumber pada akidah Islamiyah.
f. Pendidikan Psikis
Mendidik anak supaya bersikap berani, berterus terang, merasa sempurna,
suka berbuat baik pada orang lain, menahan diri ketika marah.
g. Pendidikan Seksual
Upaya pengajaran dan penyadaran tentang masalah sosial yang diberikan
kepada anak, tentunya menggunakan fase-fase tumbuh kembangnya anak.
Sebelum seorang pendidik mengajarkan pendidikan kepada peserta didiknya sebaiknya
pendidik harus terlebih dahulu mendapatkan pendidikan yang akan mereka ajarkan.
Setelah mendapatkan pendidikan pendidik harus berupaya mengajarkan kepada
sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang sesuai akidah yang benar, Islam yang
sempurna dan akhlak yang luhur.
3. Keteladanan Menurut Abdullah Nashih Ulwah
a. Peranan Keteladanan dalam Pendidikan
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam proses pendidik.
Salah satu faktornya adalah metode. Dengan adanya metode-metode yang jitu atau
yang menarik tentunya peserta didik akan semakin antusias untuk mendapatkan
pendidikan yang akan diajarkan, sehingga pendidikan tersebut akan menjadi
bermakna bagi peserta didik. Keteladanan, juga merupakan salah satu metode
pendidikan yang menjanjikan dalam pembentukan pribadi anak. Adanya keteladanan
seorang guru, murid akan lebih memiliki spirit untuk melakukan tindakan yang
dilakukan oleh guru. Karena mereka akan menganut pada sau contoh yang diberikan
guru yaitu sebuah keteladanan. Semua itu akan terbesit dalam otak anak ketika
mereka akan melakukan sesuatu. Segala yang bersumber dari guru diklaim hal yang
patut ditiru. Pada dasarnya guru adalah manusia biasa yang tidak luput dari salah dan

khilaf, tidak dapat dipungkiri jika suatu ketika guru akan melakukan hal yang kurang
atau bahkan tidak baik.

b. Keteladanan Rasululloh Sebagai Figur Guru


Tiada tokoh ideal yang pantas dijadikan sebagai figur teladan kecuali Nabi
Muhamad saw yang telah memiliki misi dakwah untuk penyeempurna akhlak dengan
segala sifat-sifat luhurnya, baik spiritual, moral maupun intelektual. Beliaulah cahaya
bagi seluruy umat, seperti yang etrcantum dalam QS. Al-Ahzab : 21 yang artinya
sesungguhnya telah ada pada (diri) rasul itu suri tauladan yang baik. Rasululloh
selalu menghindarkan diri dari sifa tercela. Segala tutur kata, anjuran dan nasihatnya
harus bear dipercaya dan digunakan sebagai pedoman dan tingkah lakunya diajadikan
sebagai contoh.
Dari segi kecerdasan, beliau mencontohkan cara menyelesaikan persoalan dengan
tepat. Kemudian dari segi penyampaian dakwah, Rasul tidak akan bisa tidur dengan
nyenyak jika umatnya belum menerima dakwah beliau. karena dakwah beliau
merupakan dakwah yang penting yang dapat diajdikan pedoman dalam kehidupan.
Rasululloh selalu menampilkan kemurahan hatinya, berlaku zuhud, hidup sederhana
dan rendah hati (tawadhu).
c. Keteladanan Orang Tua dalam Mendidik Anak
Pendidikan merupakan hal yang urgent dalam perkembangan anak. Terutama
pendidikan iman dan akhlaknya. Tolak ukur yang menjadi ukuran keberhasilan
pendidikan dapat dari hasil yang dicapai oleh seoarng anak. Untuk mencapai sebuah
keberhasilan tentu anak harus memiliki pedoman atau contoh, orang tua, merupakan
salah satu sumber teladan yang bertugas untuk selalu menampilkan pribadi yang
luhur. Pendidikan yang pertama kali didapati seorang anak adalah pendidikan dari
orang tua terutama pendidikan akhlak. Sebagaimana hadist Nabi yang berbunyi: dari
Anas bin Malik bahwasanya Rasul pernah berkata Muliakanlah anak-anakmu dan
perbaikilah akhlak mereka.(HR. Ibnu Majah).
Begitu pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak, sehingga tanggung
jawab mereka sangatlah berat. Dalam bertindak, kedua orang tua seharusnya
menampakkan sikap yang jujur, amanah, kasih sayang dan menjauhkan dari perbuatan
tercela serta menempatkan anaknya di dalam pendidikan yang baik. Dengan demikian

anak akan paham tentang apa yang kita ajarkan. Anak akan mencontoh sikap-sikap
yang sering dilakukan oleh orang tuanya.
d. Keteladanan Guru
Sebagai lanjutan dari pendidikan dirumah, yaitu pendidikan di sekolah. Sekolah
bertugas mengkokohkan nilai positif yang telah ada yang didapatkan di lingkungan
keluarga. Sebagai seorang pendidik, guru harus mempunyai sifat yang dapat
diteladani anak didiknya, seperti takwa, ikhlas, ilmu, santun dan tanggung jawab.