Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

ANSIETAS

Untuk Memenuhi Tugas


Pendidikan Profesi Ners Departemen Jiwa

Oleh:
MIRA RAMDHANI
150070300011054
Kelompok 13

PENDIDIKAN PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

ANSIETAS

Defenisi
Cemas (ansietas) adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh
situasi. Ketika merasa cemas individu merasa tidak nyaman, takut, dan memiliki firasat akan
ditimpa malapetaka padahal ia tidak mengerti mengapa emosi yang mengacam tersebut
terjadi. (videbeck, 2008. Hal.307)
Menurut Lynn S.Bickley (2009) kecemasan merupakan reaksi yang sering terjadi
pada keadaan sakit, pengobatan dan sistem perawatan itu sendiri, bagi sebagian pasien
kecemasan merupakan saringan terhadap persepsi dan reaksi mereka, bagi sebagian
lainnya kecemasan dapat menjadi bagian dari sakit yang dideritanya.
Perasaan gelisah yang tidak jelas dari ketidaknyamanan atau disertai ketakutan oleh
respon autonomic, merasakan ketakutan yang disebabkan oleh antisipasi bahaya. Ini adalah
sinyal tanda-tanda yang memperingatkan datangnya bahaya dan memunginkan individu
mengambil tindakan dalam perlakuan dengan ancaman. (NANDA, 2012-2014)
Faktor Resiko
Stuart dan Laraia (2002), menyatakan ada bebarapa teori yang dikembangkan untuk
menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan antara lain :
a. Factor Predisposisi
Teori yang dikembangkan untuk menjelaskan penyebab ansietas diantaranya:
Teori Psikoanalitik : perilaku didasarkan pada awal perkembangan dan
resolusi konflik perkembangan yang tidak adekuat. Pertahanan ego tidak
dapat mengontrol ansietas. Gejala timbul akibat upaya mengatasi ansietas
dan berhubungan dengan konflik yang tidak terselesaikan. ansietas adalah
konflik emosional

antara 2 elemen kepribadian yaitu Id yang mewakili

dorongan insting dan impuls primitive, serta superego yang mencerminkan


hati nurani dan dikendalikan oleh norma budaya . Ego atau Aku berfungsi
untuk menengahi keduanya dan fungsi dari ansietas adalah mengingatkan

ego bahwa ada bahaya


Teori Interpensonal : ansietas timbul dan dialami secara interpersonal.
Rasa takut yang mendasar adalah takut terhadap penolakan. Sesorang
membutuhkan rasa aman dan kepuasan yang diperoleh melalui hubungan
interpersonal yang positif. ansietas timbul dari perasaan takut terhadap
ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal. Ansietas juga berhubungan
dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan, kehilangan, serta

harga diri rendah rentan mengalami ansietas


Teori Pelaku : perilaku dipelajari karena penyimpangan terjadi karena
individu telah membentuk kebiasaan perilaku yang tidak diinginkan.
Perilaku dapat dipelajari dan tidak dipelajari namun terkadang, perilaku
menyimpang akan terus dilakukan untuk mengurangi ansietas. ansietas
merupakan produk frustasi yang mengganggu kemampuan individu untuk
mencapai tujuan yang diinginkan. Ahli teori juga mengatakan bahwa jika
individu sejak kecil telah terbiasa dihadapkan pada ketakutan yang
berlebihan akan lebih sering menunjukkan ansietas pada kehidupan
selanjutnya. Selain itu ahli teoti juga mengemukakan hubungan antara
konflik dan ansietas, dimana konflik menyebabkan ansietas sehingga

menimbulkan perasaan tidak berdaya yang akhirnya akan meningkatkan

konflik yang dirasakan


Kajian Keluarga : gangguan ansietas biasanya terjadi dalam keluarga dan

terkadang juga tumpang tindih antara gangguan ansietas dan depresi.


Kajian Biologis : penggunaan obat-obat seperti benzodiazepin serta obatobatan yang meningkatkan neurogulator inhibisi asam gama-aminobutirat
(GABA) berperan dalam mekanisme biologis yang akan berhubungan
dengan ansietas. Selain itu kesehatan umum individu serta riwayat
ansietas keluarga juga memiliki efek nyata terhadap predisposisi ansietas
yang juga mungkin akan disertai gangguan fisik yang selanjutnya

menurunkan kemampuan individu dalam mengatasi stressor.


b. Factor presipitasi, dibedakan menjadi :
i.
Factor internal
Ancaman terhadap integritas fisik meliputi disability fisiologis yang akan
terjadi atau penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas hidup

ii.

sehari-hari
Ancaman terhadap system diri dapat membahayakan identitas, harga

diri dan fungsi social yang terintegritas pada individu


Factor eksternal
Usia, seseorang yang mempunyai usia lebih muda lebih beresiko dapat

terjadi kecemasan
Jenis kelamin, panic

merupakan

salah

satu

gangguan

pada

kecemasan. Gangguan ini lebih sering terjadi pada perempuan dari


pada laki-laki, Perempuan memiliki tingkat kecemasan yang lebih
tinggi. Perempuan memiliki kepekaan dengan emosinya yang pada
akhirnya

peka

juga

pada

perasaan

cemasnya.

Perempuan

memandang suatu masalah dengan detail sedangkan laki-laki lebih

global dan tidak detail


Lingkungan dan situasi, seseorang yang berada pada lingkungan baru
lebih merasa cemas dari pada saat berada di lingkungan yang
biasanya dia tempati hal ini diakibatkan oleh factor adaptasi yang

kurang
Sedangkan menurut ,Sheilla Videback : 2008 faktor predisposisi dari anxietas
yaitu :
a. Teori Biologi
- Teori Neurokimial
Asam gama-amino butirat ( GABA ) merupakan neurutransmiter amino butirat
merupakan neurotransmiter asam amino yang diyakini sebagai agen aniansietas alami dalam tubuh yang mampu mengurangi eksitabilkitas sel
sehingga mengurangi frekuensi bangkitan neuron. GABA tersedia pada 1/3
sinaps saraf, terutama sinaps di sistem limbik dan lokus seruleus tempat
neurotransmiter norepinefrin diproduksi yang menstimulasi fungsi sel. Karena
GABA mengurangi ansietas sedangkan norepinefrin meningkatkan ansietas,
maka
-

diperkirakan

bahwa

masalah

pengaturan

neurotransmitter

ini

menimbulkan gangguan ansietas


Genetic
Ansietas dapat memiliki komponen yang diwariskan karena kerabat tingkat
pertama individu yang mengalami peningkatan ansietas memiliki kemungkinan

lebih tinggi mengalami ansietas. Pada hal ini kemungkinan diakibatkan karena
adannya gangguan pada kromosom 13 yang dikatakan terlibat dalam
hubungan genetik yang mengakibatkan timbulnya gangguan rasa panik, sakit
kepala hebat dan masalah ginjal serta prolaps katup mitral
b. Teori Psikodinamik
- Intrapsikis / Psikoanalitis
Freud memandang ansietas alamiah seseorang sebagai stimulus untuk
perilaku. Ia menjelaskan mekanisme pertahanan sebagai upaya manusia
untuk mengendalikan kesadaran terhadap ansietas.
Misalnya jika seseorang memiliki [pikiran dan perasaan yang tidak tepat
sehingga meningkatkan ansietas ia merepresi ( proses penyimpanan impuls
yang tidak tepat kedalam alam bawah sadar sehingga impuls tersebut tidak
dapat diingat kembali ) pikiran dan perasaan tersebut, namun memori ini dapat
teringat kembali sehingga dapat menganggu pikiran serta perasaan orang
tersebut. Individu yang mengalami ansietas diyakini menggunakan secara
-

berlebihan salah satu pola tertentu dari mekanisme pertahanan tersebut


Teori Interpersonal
Harry stack berpendapat bahwa ansietas timbul dari masalah masalah dalam
huibungan interpersonal. Pada umunya, ansietas muncul dari kebutuhan
individu tersebut untuk menyesuaikan diri dengan norma dan nilai kelompok
budayanya. Semakin tingi tingkat ansietas, semakin rendah kemampuan untuk
mengomunikasikan dan menyelesaikan maslaah dan semakin besar pula

kesempatan untuk terjadi gangguan ansietas


Teori Perilaku
Ahli teori perilaku memandang ansietas sebagai sesuatu yang dipelajari
melalui pengalaman individu. Sebaliknya, perilaku dapat diubah atau dibuang
melalui pengalaman baru. Ahli teori perilaku percaya bahwa individu dapat
memodifikasi perilaku maladaptif tanpa memahami penyebab perilaku
tersebut. Mereka menyatakan bahwa perilaku yang menganggu dan
berkembang serta menganggu kehidupan individu dapat ditiadakan atau
dibuang melalui pengalaman berulang byang dipandu oleh seorang terapis
yang terlatih.

Tingkatan ansietas
Menurut Peplau (dalam, Videbeck, 2008) ada empat tingkat kecemasan yang dialami
oleh individu yaitu ringan, sedang, berat dan panik.
1. Ansietas ringan adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang berbeda dan
membutuhkan perhatian khusus. Stimulasi sensori meningkat dan membantu
individu memfokuskan perhatian untuk belajar, menyelesaikan masalah, berpikir,
bertindak, merasakan, dan melindungi diri sendiri.
Menurut Videbeck (2008), respons dari ansietas ringan adalah sebagai berikut :
a. Respons fisik
- Ketegangan otot ringan
- Sadar akan lingkungan
- Rileks atau sedikit gelisah
- Penuh perhatian
- Rajin
b. Respon kognitif
- Lapang persepsi luas

- Terlihat tenang, percaya diri


- Perasaan gagal sedikit
- Waspada dan memperhatikan banyak hal
- Mempertimbangkan informasi
- Tingkat pembelajaran optimal
c. Respons emosional
- Perilaku otomatis
- Sedikit tidak sadar
- Aktivitas menyendiri
- Terstimulasi
- Tenang
2. Ansietas sedang merupakan perasaan yang menggangu bahwa ada sesuatu yang
benar-benar berbeda; individu menjadi gugup atau agitasi.
Menurut Videbeck (2008), respons dari ansietas sedang adalah sebagai berikut:
a. Respon fisik :
- Ketegangan otot sedang
- Tanda-tanda vital meningkat
- Pupil dilatasi, mulai berkeringat
- Sering mondar-mandir, memukul tangan
- Suara berubah : bergetar, nada suara tinggi
- Kewaspadaan dan ketegangan menigkat
- Sering berkemih, sakit kepala, pola tidur berubah, nyeri punggung
b. Respons kognitif
- Lapang persepsi menurun
- Tidak perhatian secara selektif
- Fokus terhadap stimulus meningkat
- Rentang perhatian menurun
- Penyelesaian masalah menurun
- Pembelajaran terjadi dengan memfokuskan
c. Respons emosional
- Tidak nyaman
- Mudah tersinggung
- Kepercayaan diri goyah
- Tidak sabar
3. Ansietas berat, yakni ada sesuatu yang berbeda dan ada ancaman,
memperlihatkan respons takut dan distress. Ansietas Berat sangat mengurangi
lahan persepsi seseorang. Seseorang cendrung untuk memusatkan pada sesuatu
yang terinci dan spesifik dan tidak dapat berfikir tentang hal lain. Semua perilaku
ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Orang tersebut memerlukan banyak
pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain.
Menurut Videbeck (2008), respons dari ansietas berat adalah sebagai berikut :
a. Respons fisik
- Ketegangan otot berat
- Hiperventilasi
- Kontak mata buruk
- Pengeluaran keringat meningkat
- Bicara cepat, nada suara tinggi
- Tindakan tanpa tujuan dan serampangan
- Rahang menegang, mengertakan gigi
- Mondar-mandir, berteriak
- Meremas tangan, gemetar
b. Respons kognitif
- Lapang persepsi terbatas
- Proses berpikir terpecah-pecah
- Sulit berpikir
- Penyelesaian masalah buruk
- Tidak mampu mempertimbangkan informasi
- Hanya memperhatikan ancaman
- Preokupasi dengan pikiran sendiri
- Egosentris
c. Respons emosional

4. Panik,

Sangat cemas
Agitasi
Takut
Bingung
Merasa tidak adekuat
Menarik diri
Penyangkalan
Ingin bebas
individu kehilangan kendali dan detail perhatian hilang, karena hilangnya

kontrol, maka tidak mampu melakukan apapun meskipun dengan pengarahan.


Panik dari ansietas berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan teror. Panik
melibatkan disorganisasi kepribadian. Terjadi peningkatan aktivitas motorik,
menurunnya kemampuan berhubungan dengan orang lain, persepsi menyimpang,
kehilangan pemikiran rasional.
Menurut Videbeck (2008), respons dari panik adalah sebagai berikut :
a. Respons fisik
- Flight, fight, atau freeze
- Ketegangan otot sangat berat
- Agitasi motorik kasar
- Pupil dilatasi
- Tanda-tanda vital meningkat kemudian menurun
- Tidak dapat tidur
- Hormon stress dan neurotransmiter berkurang
- Wajah menyeringai, mulut ternganga
b. Respons kognitif
- Persepsi sangat sempit
- Pikiran tidak logis, terganggu
- Kepribadian kacau
- Tidak dapat menyelesaikan masalah
- Fokus pada pikiran sendiri
- Tidak rasional
- Sulit memahami stimulus eksternal
- Halusinasi, waham, ilusi mungkin terjadi
c. Respon emosional
- Merasa terbebani
- Merasa tidak mampu, tidak berdaya
- Lepas kendali
- Mengamuk, putus asa
- Marah, sangat takut
- Mengharapkan hasil yang buruk
- Kaget, takut
- Lelah
Tanda dan gejala ansietas
Menurut stuart (2009), tanda dan gejala ansietas dapat dilihat dari respon
fisiologis, perilaku, kognitif dan afektif sebagai berikut.
Respon fisiologis
Pada kardiovaskuler dapat ditemui respon berupa:

Palpitasi
Jantung berdebar
Tekanan darah awalnya meningkat kemudian akan menurun.
Rasa ingin pingsan dan pingsan
Pada pernafasan dapat ditemui respon berupa :
Nafas cepat dan dangkal
Sesak nafas
Dada seperti rasa tertekan
Leher terasa tercekik
Nafas terengah-engah

Pada neuromuscular dapat ditemui respon sebagai berikut:


Insomnia
Tremor
Gelisah
Mondar-mandir
Wajah tegang
Tungkai lemah
Pada gastrointestinal dapat ditemui respon sebagai berikut :
Kehilangan nafsu makan
Menolak makan
Rasa tidak nyaman pada abdomen
Nyeri abdomen
Mual
Nyeri ulu hati
Diare
Pada saluran kemih dapat ditemui respon berupa :
Wajah kemerahan
Berkeringat setempat (misalnya pada telapak tangan)
Gatal
Rasa panas dan dingin pada kulit
Wajah pucat
Berkeringat pada seluruh tubuh

Respon perilaku
Pada perilaku dapat diemui respon berupa:

Gelisah
Tremor
Bicara cepat
Kurang koordinasi
Menarik diri dari hubungan interpersonal
Melarikan diri dari masalah
Menghindar
Sangat waspada

Respon kognitif
Pada kognitif dapat ditemui respon berupa :

Perhatian terganggu
Konsentrasi buruk
Pelupa
Hambatan berpikir
Lapang persepsi menurun
Kreativitas menurun
Produktivitas menurun
Bingung
Sangat waspada
Mimpi buruk

Respon afektif
Pada afektif dapat ditemui respon berupa :

Mudah terganggu
Tidak sabar
Gelisah
Tegang
Gugup
Ketakutan
Kengerian

Rasa bersalah

Panatalaksanaan ansietas

Terapi farmakologis
Menurut videbeck (2008), terapi farmakologis yang dapat diberika kepada klien

ansietas terdiri dari empat kategori yaitu : SSRI, ATS, ansiolitik benzodiazepine dan MAOI.

Terapi nonfarmakologis
Psikoterapi

yang

dapat

diberikan

pada

klien

ansietas

Antara

lain

terapi

perilaku(videbeck, 2008; Varcarolis dan Halter, 2010), positif reframing, latihan asertif
(videbeck, 2008), milieu therapy, terapi kognitif, terapi kognitif-perilaku (Bennett,2003;
Varcarolis dan Halter, 2010), relaxation muscle therapy, thougt stopping (Varcarolis dan
Halter, 2010), terapi psikoanalitik (Bennett,2003), logoterapi (Bastaman, 2007; Hutzell,
2008).

Pohon masalah ansietas

Gangguan
persepsi sensori:
halusinasi

Isolasi sosial

berduka

Harga diri rendah

kehilangan

Gangguan citra tubuh

Pengabaian diri

ansietas

Deficit perawatan diri

Terjadi perilaku
destruktif
menimbulkan
gejala fisik,
psikologis,
social dan
cultural
tidak dapat
ditoleransi
individu

adaptif

maladapti
f

Penggunaan
koping

Faktor

Faktor presipitasi

PENGKAJIAN KEPERAWATAN
KESEHATAN JIWA
I.

IDENTITAS KLIEN
Nama
: .. (L/P)
Umur
: ..
Pendidikan: ...................................
Agama : ...................................
Status
: ...................................
Alamat :
Pekerjaan:

Tanggal Dirawat :.

Tanggal Pengkajian :.............


Ruang Rawat:.

SumberInformasi: ..................................
Jenis Kel. :
No RM :
ALASAN MASUK
Klien mengeluh sulit berkonsentrasi, mimpi buruk, merasa tidak nyaman, merasa grogi, takut,
peningkatan kewaspadaan, berfokus pada diri sendiri, dan tidak berdaya.
II. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG dan
III. FAKTOR PRESIPITASI
a. Factor internal
Ancaman terhadap integritas fisik meliputi disability fisiologis yang akan terjadi

atau penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari


Ancaman terhadap system diri dapat membahayakan identitas, harga diri dan

fungsi social yang terintegritas pada individu


b. Factor eksternal
Usia, seseorang yang mempunyai usia lebih muda lebih beresiko dapat terjadi

kecemasan
Jenis kelamin, panic merupakan salah satu gangguan pada kecemasan.
Gangguan ini lebih sering terjadi pada perempuan dari pada laki-laki,
Perempuan memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Perempuan memiliki
kepekaan dengan emosinya yang pada akhirnya peka juga pada perasaan
cemasnya. Perempuan memandang suatu masalah dengan detail sedangkan

laki-laki lebih global dan tidak detail


Lingkungan dan situasi, seseorang yang berada pada lingkungan baru lebih
merasa cemas dari pada saat berada di lingkungan yang biasanya dia tempati
hal ini diakibatkan oleh factor adaptasi yang kurang

IV. FAKTOR PREDISPOSISI


RIWAYAT PENYAKIT LALU
1. Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu ?

Ya
Tidak

Jika Ya,Jelaskan:

Diagnosa Keperawatan / masalah keperawatan:


2. Pengobatan sebelumnya

Berhasil
Kurang berhasil
Tidakberhasil

Jelaskan:

Diagnosa Keperawatan / masalah keperawatan:


3. Pernah mengalami Penyakit Fisik (termasuk gangguan tumbuh kembang)
Ya
Tidak
Bila Ya,
jelaskan : ..........................................................................................................
Diagnosa Keperawatan / masalah keperawatan:

RIWAYAT TRAUMA
Trauma
1.
2.
3.
4.
5.

Usia

Aniaya fisik

Aniaya seksual

Penolakan

Kekerasan dalam keluarga


Tindakan kriminal

Pelaku

Korban

Saksi

Jelaskan:

4. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan (Bio,Psiko,Sosio, Kultural


dan Spiritual)
............................................................................................................................
.............................................................................................................................
......
Diagnosa Keperawatan : _____________________________________________________

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


1.

Anggota keluarga yang gangguan jiwa ?

Ada
Tidak
Kalau ada :
Hubungan keluarga :.
Gejala
:..
Riwayat pengobatan :

Diagnosa
Keperawatan:________________________________________________________
V.

PEMERIKSAAAN FISIK
Tanggal : .
1. Keadaan umum :

2. Tanda vital:

TD: dapat meningkat atau menurun


N: dapat meningkat atau menurun
S.
RR: meningkat
3. Ukur: BB .kg
TB.cm
Turun
Naik
4. Keluhan fisik:
Tidak
Ya,
Jelaskan

.
5. Pemeriksaan Fisik : (head to toe)
1. Kardiovaskular : palpitasi, jantung berdebar, tekanan darah meningkat/menurun,
rasa ingin pingsan,nadi menurun/meningkat.
2. Respirasi : napas cepat, tekanan pada dada, napas dangkal, pembengkakan pada
tenggorokan. Sensasi tercekik. Terengah-engah,
3. Neuromuskulas : reflex meningkat, reaksi terkejut, insomnia, tremor, rigiditas,
gelisah, wajah tegang, kelemahan umum, tungkai lemah, gerakan yang janggal.
4. Gastrointestinal : kehilangan nafsu makan, menolak makan, rasa tidak nyaman
pada abdomen, nyeri abdomen, mual, nyeri ulu hati, diare.
5. Urinari : tidak dapat BAK atau sering berkemih.
6. Kulit : wajah kemerahan, berkeringat setempat (telapak tangan), gatal, rasa panas
atau dingin pada kulit, wajah pucat, dan berkeringat seluruh tubuh.
VI. PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL (Sebelum dan sesudah sakit)
Terjadi perubahan perilaku, yaitu: Gelisah, produktivitas menurun, Ketegangan fisik,
Tremor, Reaksi terkejut, Bicara cepat, Kurang koordinasi, Cenderung mengalami cedera,
Menarik diri dari hubungan interpersonal, Inhibisi, Melarikan diri dari masalah,
Menghindar, Hiperventilasi, Sangat waspada.
VII. STATUS MENTAL
a. Perilaku : penurunan produktivitas, gerakan yang irelevan, gelisah, melihat sepintas,
insomnia, kontak mata yang buruk, mengekspresikan kekhawatiran karena
perubahan dalam peristiwa hidup, agitasi, mengintai dan tampak waspada.
b. Afektif : gelisah, kesedihan yang mendalam, distress, ketakutan, perasaan tidak
adekuat, berfokus pada diri sendiri, peningkatan kewaspadaan, iritabilitas, gugup,
senang berlebihan, rasa nyeri yang meningkatkan ketidakberdayaan, peningkatan
rasa ketidakberdayaan yang persisten, bingung, menyesal, ragu/tidak percaya diri,
dan khawatir.
c. Kognitif : Menyadari gejala fisiologis, bloking pikiran, konfusi, penurunan lapang
persepsi, kesulitan berkonsentrasi, penurunan kemampuan untuk belajar, penurunan
kemampuan untuk meemcahkan masalah, ketakutan terhadap konsekuensi yang

tidak spesifik, lupa, gangguan perhatian,khawatir, melamun, dan cenderung


menyalahkan orang lain.

VIII. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG


1. Makan
Bantuan Minimal
Bantuan total
Jelaskan:

2. BAB/BAK
Bantuan minimal
Bantuan total
Jelaskan:

3. Mandi
Bantuan minimal
Bantuan total
Jelaskan
:

.
4. Berpakaian/berhias
Bantuan Minimal
Bantuan total
Jelaskan
:

5. Istirahat dan tidur


Tidur Siang, Lama : ____________ s/d _____________
Tidur Malam, Lama : _____________ s/d _____________
Aktifitas sebelum/sesudah tidur : __________ , _________
Jelaskan:

6. Penggunaan obat
Bantuan Minimal
Bantuan total
Jelaskan
:

..
7. Pemeliharaan kesehatan
Ya

Tidak

Ya

Tidak

Ya

Tidak

Perawatan Lanjutan
Sistem pendukung
8. Aktifitas dalam rumah
Mempersiapkan makanan
Menjaga kerapihan rumah
Mencuci Pakaian
Pengaturan keuangan
9. Aktifitas di luar rumah
Belanja
Transportasi
Lain-lain
Jelaskan :

Diagnosa Keperawatan : __________________________________________________


MEKANISME KOPING
Adaptif
Bicara dengan orang lain
Mampu menyelesaikan

masalah
Teknik relaksasi
Aktifitas konstruktif
Olah raga
Lain-lain.

Maladaptive
Minum alkhohol
Reaksi

lambat/berlebihan
Bekerja berlebihan
Menghindar
Menciderai diri
Lain-lain..

Diagnosa Keperawatan :
____________________________________________________
MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN
Masalah dengan dukungan kelompok, spesifiknya
...

Masalah berhubungan dengan lingkungan, spesifiknya .


...

Masalah dengan pendidikan, spesifiknya


..

Masalah dengan pekerjaan, spesifiknya


.

Masalah dengan perumahan, spesifiknya


..

Masalah dengan ekonomi, spesifiknya


..

Masalah dengan pelayanan kesehatan, spesifiknya


...

Masalah lainnya, spesifiknya


.

Diagnosa Keperawatan
:________________________________________________________
IX. PENGETAHUAN KURANG TENTANG
X. Apakah klien mempunyai masalah yang berkaitan dengan pengetahuan yang kurang
tentang suatu hal?

Penyakit/gangguan jiwa
Sistem pendukung
Faktor presipitasi
Mekanisme koping
Penyakit fisik
Obat-obatan
Lain-lain, jelaskan

Jelaskan:

Diagnosa Keperawatan:
_______________________________________________________
XI. ASPEK MEDIS
Diagnosis medik :
Terapimedik
:
. .....
.

Analisa data
No
1

Data
DS:
-

Diagnosa Keperawatan
ANSIETAS

Mengeluh sulit berkonsentrasi, mimpi


buruk, berfokus pada satu halm merasa
tidak nyaman, merasa grogi, ketakutan,
ketidakberdayaan,

DO:
-

Nadi dan TD dapat meningkat atau

menurun.
RR meningkat.
Bicara berlebihan, tremor, gelisah.

Terlihat sulit berkonsentrasi, mudah lupa, tidak


focus, bloking pikiran.
DIAGNOSA KEPERAWATAN :
ANSIETAS
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN BERDASARAKAN SP
Nama Klien
No. Reg.
Tanggal

:
:

No

Diagnosa

Tujuan Kriteria

Intervensi

Dx

Keperawatan
ANSIETAS

Standart
Tujuan : klien

Pasien

mampu mengatasi

1. Bina hubungan

ansietas
Kriteria
Standart :
- Klien dapat
menjalin dan
membina
hubungan saling
percaya dengan
perawat.
- Klien mampu

saling percaya
Mengucapkan
salam
Berjabat tangan
Jelaskan tujuan
interaksi
Buat kontrak
topik, waktu dan
tempat setiap kali
bertemu pasien
Jadilah

Rasional

TT

mengenal
ansietas
- Klien mampu
mengatasi
ansietas.
- Klien mampu

pendengar yang
hangat dan
responsif
Beri waktu yang
cukup pada klien

untuk berespon
memperagakan 2. Bantu klien untuk
dan

mengenal

menggunakan

ansietas
Bantu pasien

teknik relaksasi
nafas dalam,
relaksasi otot,
distraksi, dan
hipnotik 5 jari
untuk mengatasi
ansietas.
- Klien tampak
tenang, tidak
bingung, tidak
gelisah.
TTV dalam batas
normal.

untuk
mengidentifikasi
dan menguraikan
perasaannya.
Bantu klien
menjelaskan
situasi yang
menimbulkan
ansietas
Bantu klien
menyadari
perilaku
penyebab
ansietas
3. Ajarkan pasien
cara untuk
mengatasi
ansietas
Pengalihan
situasi
Latihan relaksasi
(napas dalam,
dan relaksasi
otot)
Hipnotik 5 jari
4. Motivasi pasien
melakukan caracara tersebut
setiap ansietas
muncul
Keluarga
1. Diskusikan
masalah yang
dirasakan
keluarga dalam
merawat pasien
2. Jelaskan
pengertian, tanda

dan gejala
ansietas sedang
yang dialami
pasien beserta
proses
terjadinya.
3. Jelaskan caracara merawat
pasien cemas.

IMPLEMENTASI
NO

Tanggal

Dx

& jam

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
PASIEN
SP 1:
a. Membantu pasien mengenal ansietas

EVALUASI
S: klien mengatakan sudah
mulai tenang, tidak binggung
O: klien tampak tenang, tidak

(tanda, gejala, penyebab, dan akibat).


b. Mengajarkan teknik pengalihan

binggung, TTV dalam batas

situasi/distraksi
c. Latihan melakukan teknik pengalihan

normal
A: Masalah sebagian teratasi
P: Lanjutkan intervensi

situasi/distraksi.
SP 2:
a. Evaluasi kemampuan pasien
mengenal ansietas.
b. Evaluasi kemampuan distraksi
c. Mengajarkan relaksasi nafas dalam.
d. Latihan relaksasi nafas dalam.
SP 3:
a. Evaluasi kemampuan pasien
mengenal masalah.
b. Evaluasi kemampuan distraksi dan
relaksasi nafas dalam.
c. Melatih pasien untuk relaksasi otot.
d. Latihan relaksasi otot.
SP 4:
a. Evaluasi kemampuan mengenal
ansietas.
b. Evaluasi kemampuan distraksi,
relaksasi nafas dalam, dan relaksasi
c.
d.
e.
f.
g.

otot.
Melatih hipnotik lima jari.
Latihan hipnotik lima jari.
Latih sampai membudaya
Nilai kemampuan mengatasi ansietas
Nilai apakah ansietas teratasi.

KELUARGA:
SP 1:
a. Mendiskusikan masalah yang
dirasakan keluarga merawat pasien.

b. Membantu keluarga mengenal


ansietas pasien (tanda, gejala,
penyebab, dan akibat).
c. Mengajarkan teknik pengalihan
situasi/distraksi
d. Latihan melakukan teknik pengalihan
situasi/distraksi
SP 2:
a. Evaluasi kemampuan keluarga
mengenal ansietas.
b. Evaluasi kemampuan keluarga dalam
distraksi.
c. Mengajarkan relaksasi nafas dalam.
d. Latihan relaksasi nafas dalam.
SP 3:
a. Evaluasi kemampuan keluarga
mengenal masalah.
b. Evaluasi kemampuan distraksi dan
relaksasi.
c. Melatih keluarga untuk relaksasi otot.
d. Latihan relaksasi oto.
SP 4:
a. Evaluasi kemampuan mengenal
ansietas.
b. Evaluasi kemampuan distraksi,
relaksasi nafas dalam, dan relaksasi
c.
d.
e.
f.
g.

otot.
Melatih hipnotik lima jari.
Latihan hipnotik lima jari.
Latih sampai membudaya.
Nilai kemampuan mengatasi ansietas.
Nilai apakah ansietas teratasi.

Daftar Pustaka

Purwati, Susi. 2013. Analisis Praktik Klinik Asuhan Keperawatan Masalah Kesehatan
Masyarakat Perkotaan: Ketidakberdayaan Pada Klien dengan Gangguan
Penggunaan Opiat Di RSKO Jakarta. Fakultas Keperawatan. Depok: Universitas

Indonesia.
Stuart G.W,2009. Principles and practices of psychiatric nursing. St. Louis : Mosby
Videbeck, 2008. Psychiatric mental health nursing. Philadelphia : Lippincott Varcarolis,
Elizabeth. M. Dan halter, 2010. Foundation of psychiatric mental health nursing 4th

edition. Philadephia : FA Davis Company.


Bastaman. 2007. Logoterapi : psikologi untuk menemukan makna hidup dan meraih

hidup bermakna. Jakarta : PT. Raja Grafindo.


Hutzell, Robert R. 2008. Logotherapy for clinical practice. The American psychological

association.
Bennett, P. 2003. Abnormal dan clinical psychology. Philadephia : open university

press.
Stuart, Gail Wiscart dan Sandra J. Sundeen. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa.

Edisi 3. Jakarta : EGC.


Viedebeck, Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa, Jakarta: Penerbit
BukuKedokteran EGC