Anda di halaman 1dari 8

10

C.
Gejala
Toxoplasma
Gondii
Gejala yang timbul pada infeksi toksoplasma tidak khas, sehingga
penderita sering tidak menyadari bahwa dirinya telah terkena infeksi. T
etapi
sekali terkena infeksi toksoplasma maka parasit ini akan menetap (pe
rsisten)
dalam bentuk kista pada organ tubuh penderita selama siklus hidupnya. Gejala
klinis yang paling sering dijumpai adalah pembesaran kelenjar getah ben
ing
(limfe) dikenal sebagai limfadenopati, yang dapat disertai demam. Kelenj
ar
limfe di leher adala
h yang paling sering terserang. Gejala toksoplasmosis akut
yang lain adalah demam, kaku leher, nyeri otot (myalgia), nyer
i sendi
(arthralgia), ruam kulit, gidu (urticaria), hepatosplenomegali atau hepat
itis.
Wujud klinis toksoplasmosis yang paling sering p
ada anak adalah infeksi retina
(korioretinitis), biasanya akan timbul pada usia remaja atau dewasa. Pada anak,
juling merupakan gejala awal dari korioretinitis. Bila makula terkena,
maka
penglihatan se
ntralnya akan terganggu.
Pada penderita dengan imunodef
isiensi
seperti penderita cacat imun, penderita kanker, penerima cangkok jaringa
n
yang mendapat pengobatan imunosupresan, dapat timbul gejala ringan sampai
berat susunan saraf pusat seperti ensefalopati, meningoense
falitis, atau lesi
massa otak dan peruba
han status mental, nyeri kepala, kelainan fokal serebral
dan kejang
kejang, bahkan pada penderita AIDS seringkali mengakibatkan
kematian. (Zrofikoh, 2008).
Toxoplasma dapat masuk ke dalam tubuh manusia dalam berbagai cara.
Pertama, secara tidak sengaja men
elan tinja kucing yang di dalamnya terdapat
telur toxoplasma. Cara ini banyak tidak disadari, misalnya menyentuh mu
lut
11
dengan
tangan
yang
telah
berkontaminasi
seperti
sehabis
ber
kebun,
membersihkan tempat makan kucing atau barang
barang lain yang sudah
ter
kontaminasi. Kedua, parasit ini juga dapat masuk jika mengkonsumsi daging
hewan yang telah terkontaminasi dan tidak dimasak secara matang. Bentuk
kista dari parasit ini dapat masuk bersama daging hewan tadi. Ketiga,
masuk

lewat air yang telah terkontaminas


i. Dan yang jarang, jika Anda menerima
transparansi organ atau transfusi darah dari donor yang telah terkontam
inasi.
Jika dalam keadaan sehat, umumnya penyakit ini tidak menimbulkan gejala
apa
apa atau menyerupai sakit influenza biasanya disertai pembesara
n kelenjar
getah bening regional yang nyeri. Gejala yang berat mungkin terjadi se
perti
kerusakan otak dan
mata yang terutama terjadi pada penderita kekurangan
daya tahan tubuh seperti HIV/AIDS atau penyakit keganasan (Dr. I Made
Arya, 2009).
D.
Penceg
ahan
Toxoplasma
Gondii
Pencegahan toxoplasma gondii itu sendiri dapat dilakukan dengan
berbagai cara seperti :
1.
Hindari mengkonsumsi daging mentah atau setengah matang, serta buah
da
n sayuran yang belum dicuci.
2.
Hindari mengosok mata atau menyentuh muka keti
ka
sedang menyiapkan
makanan.
3.
Cuci alas memotong, piring, serta alat memasak lainnya dengan air panas
dan berbusa setelah
kontak dengan daging mentah.
12
4.
Masak air sampai mendidih serta hindari meminum susu yang belum di
pasteurisasi.
5.
Sedapat mungkin kendalikan
serangga
serangga yang dapat menyebarkan
kotoran kucing seperti, lalat dan kecoa
k
6.
Jika Anda memiliki hewan peliharaan kucing, jangan biarkan Anda
berkeliaran di luar rumah yang memperbesar kemungkinan kontak dengan
toxoplasma.
7.
Mintalah anggota keluarga
lain untuk membantu Anda membersihkan
kucing Anda termasuk memandikannya, mencuci kandang, tempat
makannya.
8.
Beri makan kucing Anda dengan makananan yang sudah dimasak dengan
baik.
9.

Lakukan pemeriksaan berkala terhadap kesehatan kucing Anda.


10.
Gunakan sarung t
angan plastik ketika Anda harus membersihkan kotoran
kucing, sebaiknya dihindari.
11.
Cuci tangan sebelum makan dan setelah berkontak dengan daging mentah,
tanah atau kucing.
12.
Gunakan sarung tangan plastik jika Anda berkebun terutama jika terdapat
luka pada tan
gan Anda (Pandu, 2010).
E.
Pengobatan Toxoplasma
Gondii
Untuk mengendalikan infeksi yang persisten ini, umumnya diperlukan
reaksi imun tubuh yang memadai (adekuat). Penderita toksoplasma dengan
13
sistem imun yang normal tidak memerlukan pengobatan, kecuali ada
gejala
gejala
yang
berat
atau
berkelanjutan.
Toksoplasmosis
pada
p
enderita
imunodefisiensi
harus
diobati
karena
dapat
mengakibatkan
kemat
ian.
Toksoplasmosis
pada
ibu
hamil
perlu
diobati
untuk
menghinda
ri
toksoplasmosis bawaan pada bayi. Obat
obat yang dap
at digunakan untuk ibu
hamil adalah spiramisin 3 gram/hari yang terbagi dalam 3
4 dosis tanpa
memandang umur kehamilan, atau bilamana mengharuskan maka dapat
diberikan dalam bentuk kombinasi pirimetamin dan sulfadiazin setelah umu
r
kehamilan d
i atas 16 min
ggu (Sasmita, 2007
).
Lebih lanjut disampaikannya bahwa pencegahan merupakan faktor
utama dalam mengurangi prevalensi toxoplasmosis pada manusia. Untu
k
menghindari penularan toxoplasma melalui oosit infektif dapat dilakukan
dengan beberapa cara, antara lain
, selalu menjaga kebersihan hewan
kesayangan (kucing diketahui sebagai induk semang definitif toxoplasma),
tidak memberikan daging mentah pada kucing piaraan, dan mencuci buah serta
sayur sebelum dikonsumsi. Sementara itu, untuk mencegah penularan
toxoplas
ma melalui sista dapat dilakukan dengan mencuci daging sebelum
dimasak dan mengurangi mengonsumsi daging seteng
ah matang (Rilis, 2008).
F.
Pemeriksaan Toxoplasma
Gondii
Diagnosis penyakit toksoplasma umumnya ditegakkan karena adanya
kecenderungan yang mengarah pada penyakit tersebut, antara lain adanya
riwayat:

14
1.
Infertilitas, abortus, lahir mati, kelainan bawaan
.
2.
Memelihara binatang pi
araan berbulu, misalnya kucing
Pemer
iksaan yang digunakan saat ini untuk mendiagnosis toxoplasma
adalah pemeriksaan serologis, dengan memeriksa zat anti (antibodi) IgG
dan
IgM Toxsoplasma gondii. Antibodi IgM dibentuk pada masa infeksi akut (
5
hari setelah infeksi), titernya meningkat dengan
cepat (80 sampai 1000 atau
lebih) dan akan mereda dalam waktu relatif singkat (beberapa minggu at
au
bulan). Antibodi IgG dibentuk lebih kemudian (1
2 minggu setelah infeksi),
yang akan meningkat titernya dalam 6
8 minggu, kemudian menurun dan dapat
bertah
an dalam waktu cukup lama, berbulan
bulan bahkan lebih dari setahun.
Oleh karena itu, temuan antibodi IgG dianggap sebagai in
feksi yang su
dah
lama, sedangkan adanya antibodi IgM berarti infeksi yang baru
atau
pengak
t
ifan kembali infeksi lama (reaktivasi),
dan berisiko bayi terkena
toksoplasmosis bawaan. Berapa tingginya kadar antibodi tersebut un
tuk
menyatakan seseorang sudah terinfeksi toxoplasma sangatlah beragam,
bergantung pada cara peneraan yang dipakai dan kendali mutu dan batasa
n
baku masing
masing l
aboratorium. Salah satu contoh yang dapat dikemukakan
adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Teguh Wahyu S dkk. (1998), yang
menyatakan seorang ibu yang tergolong positif bilamana titer IgGnya 2.9
49
IU/mL atau IgM 0.5 IU/mL, sedangkan tergolong negati
f bilamana titer IgG <
2.0 IU/mL atau IgM < 0.5 IU/ml (Zrofikoh, 2008).
Tidak sem
ua ibu hamil yang terinfeksi tox
soplasma akan menularkan
toxoplasma bawaan pada bayinya. Bilamana dalam pemeriksaan ibu sebelum
15
hamil menunjukkan IgG positif terhadap toksopla
sma, berarti ibu tersebut
terinfeksi sudah lama, tetapi bukan berarti bahwa 100% bayinya akan be
bas

dari toxoplasma bawaan. Apabila pemeriksaan serologis baru dilakukan pad


a
saat hamil, maka :
a.
bila IgG (+) dan IgM (
); dianggap sebagai infeksi lama dan r
isiko janinnya
terinfeksi cukup rendah sehingga ada sebagian pakar yang berpendapat tidak
perlu diobati, kecuali jika pasien itu mengidap gangguan kekebalan.
b.
bila IgG (+) dan IgM (+); uji perlu diulang lagi 3 minggu kemudian.
Bilamana titer IgG tidak meni
ngkat maka dianggap infeksi terjadi sebelum
kehamilan dan risiko untuk janinnya cukup rendah, sedangkan jika titer IgG
meningkat 4 kali lipat dan IgM tetap positif maka ini berarti bahwa
telah
terjadi infeksi baru dan janin sangat berisiko mengalami toxopl
asma bawaan
atau terjadi keguguran.
c.
bila IgG (
) dan IgM (
); bukan berarti terbebas dari toksoplasmosis bawaan,
justru pada ibu ini pemeriksaan harus diulang setiap 2
3 bulan untuk
menasah serokonversi (perubahan negatif menjadi positif).
d.
Bilamana pada ib
u hamil ditemukan IgM (+) maka pengobatan sudah pasti
harus diberikan dan pemeriksaan ultrasonografi dilakukan berulang kali
untuk menen
tukan adanya kelainan janin.
e.
Ultrasonografi serial setiap 3 minggu dilakukan untuk menentukan adanya
kelainan, misalnya
: asites, pembesaran rongga otak (ventrikulomegali)
(V/H), pemesaran hati (hepatomegali), perkapuran (kalsifikasi) otak. Bila
16
pada janin terdapat kelainan maka perlu dipertimbangkan untuk peng
akhiran (terminasi) kehamilan.
f.
Bila mungkin, dilakukan pengamb
ilan darah janin pada kehamilan 20
32
minggu untuk pembiakan parasit (inokulasi) pada mencit. Bila inokulasi
memberikan hasil positif maka perlu dipertimbangkan untuk pengakhiran
kehamilan.
g.
Setelah bayi lahir perlu dilakukan pemeriksaan lengkap terhadap bayi,
antara lain: pengambilan darah talipusat ketika bayi baru saja lahir u
ntuk
pemeriksaan serologis antibodi janin atau isolasi T. gondiii, pemeriksaa

n
titik
cahaya
mata
(funduskopi),
dan
USG
atau
foto
rontgen
tengkorak.Diagnosis toxoplasma bawaan pada bayi lebih sukar ditetapkan
karena gejala klinis dari infeksi toksoplasma bawaan sangat beraneka ragam
dan seringkali subklinis (tidak terlihat) pada neonatus. Oleh karena itu perlu
dilakukan
juga pemeriksaan serologis pada neonatus, terutama bilamana
diketahui ibunya terinfeksi selama kehamilan. Antibodi IgG dapat
menembus plasenta, sedangkan antibodi IgM tidak dapat menembus
plasenta. Dengan demikian, apabila pada darah bayi ditemukan antibo
di IgG
mungkin hanya merupakan pindahan (transfer) IgG ibu, dan lambat
laun
akan habis. Pada usia 2
3 bulan, bayi sudah dapat membentuk antibodi IgG
sendiri, bilamana bayi terinfeksi toksoplasma bawaan maka konsentrasi
IgGnya akan mulai meningkat lagi sete
lah IgG yang diperoleh dari ibunya
habis. Tetapi jika ditemukan antibodi IgM, maka ini menunjukkan infeksi
nyata pada bayi (toxoplasma bawaan) (Zrofikoh, 2008)
.
17
G.
Pasangan Usia Subur
(PUS)
S
uami isteri yang isterinya berumur antara 15 sampai dengan 49 tahun
dan masih haid atau pasangan suami isteri yang isteri berumur kurang dari 15
tahun dan sudah haid atau isteri sudah berumur 50 tahun, t
etapi masih haid
(Depkes RI, 2003
).
H.
Pegetahuan
Pasangan Usia Subur(PUS)
Tentang Toxoplasma
Gondii
1.
Defenisi
Pengetahuan
adalah merupakan hasil (tahu) dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap objek tertentu. Pengindraan terjadi
melalui panca indra manusia, yakni: indra penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan raba (Notoatmojo, 2005).
Pengetahuan adal
ah kepercayaan yang benar, pengetahuan juga
adalah hasil atau apa yang diketahui atau hasil pekerjaan. Pekerjaan yaitu
hasil dari kenal, sadar,insaf, mengerti dan pandai (bachtiar, 2004).
1.
Cara memperoleh pengetahuan
Dari berbagai macam cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan
sepanjang
sejarah,
dapat
dikelompokkan
menjadi
2
bagian
(Notoatmojo, 2005).
a.

Cara Tradisional
Dipakai orang untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, sebelum
ditemukanya metode ilmiah yaitu:
18
1.
Ca
ra coba salah (Trial And Error)
Cara
coba
coba
yang
dilakukan
dengan
menggunakan
kemungkinan dalam memecahkan suatu masalah dan apabila
kemungkinan tersebut tidak berhasi
l, dicoba kemungkinan lain.
2.
Cara kekuasaan atau Otoritas
Pengetahuan
diperoleh
berdasa
rkan
pada
otoritas
atau
kekuasaan baik tradisi, otoritas pemerintah,otoritas pemimpin
agama, maupun ahli ilmu pengetahuan.
3.
Berdasarkan pengalaman pribadi
Cara ini dilakukan dengan cara mengulang kembali dengan
pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan ma
salah ini
yang dihadapi, maka untuk memecahkan masalah lain yang
sama dapat pula dilakuka
n dengan cara yang sama.
4.
Melalui jalan pikiran
Dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah
menggunakan penalaranya atau jalan pikiranya
5.
Cara Modern
Cara baru
atau modern dalam memperoleh pengetahuan ini
mode sistematis, logis dan ilmiah.cara ini disebut dengan
metode penelitian ilmiah atau lebih popular disebut metode
penelitian (Research Methodelogi) yang mengembangkamn
metode berpikir induktif dengan menga
dakan pengamatan
langsung
terhadap
gejala
alam
atau
kemasyarakatan.
19
Kemudian hasil pengamatan tersebut dikumpulkan dan di
klasifikasikan,
dan
akhirnya
diambil
kesimpulan
u
mum
(Notoatmojo, 2005).
b.
Tingkat pengetahuan
Pengetahuan yang dicakup didalam domain
kognitif mempuny
ai 6
tingkat (Notoatmojo, 2005).
1.
Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah di
pelajari sebelunya
2.
Memahami (Komprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan
secara
benar
tentang
objek
yang
dik

etahui,
dan
dapat
menginterprestasikan materi tersebut secara benar.
3.
Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan
meteri yang tela dipelajari pada situasi atau k
ondisi rill atau
sebenarna.
4.
Analisis (Analysis)
Analisis adala
h suatu kemampuan suatu untuk menjabarkan
materi suatu objek kedalam komponen
komponen, tetapi masih
di dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada
kaitanya satu sama lainnya.