Anda di halaman 1dari 34

Laporan Kasus

Rhinitis Alergi Intermiten Ringan dan Rhinosinusitis

Nama : Constantia Evelin Kwandang


Nim

: 112015365

Pembimbing:
Dr. Daneswary, Sp.THT-KL

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorokan


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
RSUD Tarakan Jakarta Pusat
Periode 22 Agustus 24 September 2016

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rhinitis disebut kronik bila radang berlangsung lebih dari 1 bulan. Pembagian
rhinitis kronis berdasarkan ada tidaknya peradangan sebagai penyebabnya. Rhinitis
kronis yang disebabkan oleh peradangan dapat kita temukan pada rhinitis hipertrofi,
rhinitis sika (sicca), dan rhinitis spesifik (difteri, atrofi, sifilis, tuberkulosa, dan
jamur). Rhinitis kronis yang tidak disebabkan oleh peradangan dapat kita jumpai pada
rhinitis alergi, rhinitis vasomotor, dan rhinitis medikamentosa.1
Rhinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi
pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama
serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan
alergen spesifik tersebut.Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on
Asthma) tahun 2001 adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore,
rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai
oleh IgE.2
Alergi adalah respons jaringan yang berubah terhadap antigen spesifik atau
allergen. Hipersensitivitas pejamu bergantung pada dosis antigen, frekuensi paparan,
polesan genetic dari individu tersebut, dan kepekaan relative tubuh pejamu.3
Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal. Umumnya
disertai atau dipicu oleh rinitis sehingga sering disebut rinosinusitis. Penyebab
utamanya adalah selesma (common cold) yang merupakan infeksi virus, yang
selanjutnya dapat diikuti oleh infeksi bakteri. Bila mengenai beberapa sinus disebut
multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut pansinusitis. 1
Yang paling sering terkena adalah sinus etmoid dan maksila, sedangkan sinus
frontal lebih jarang dan sinus sfenoid lebih jarang lagi. Sinus maksila disebut juga
antrum Highmore, letaknya dekat akar gigi rahang atas, maka infeksi gigi mudah
menyebar ke sinus sehingga disebut sinusitis dentogen. Sinusitis dapat menjadi
berbahaya karena menyebabkan komplikasi ke orbita dan intrakranial, serta
menyebabkan peningkatan serangan asma yang sulit diobati. 1
Maksud Penulis
Laporan ini dibuat untuk memperluas wawasan para pembaca mengenai
Rhinitis Alergi dan rhinoinusitis dengan harapan pembaca dapat mengerti dan

memahami lebih dalam dan perjalanan penyakit ini berdasarkan teori dan
membandingkannya dengan kasus yang ditemukan di lapangan.

Tujuan Penulis
Tujuan dari penulisan laporan kasus ini adalah untuk memenuhi tugas
kepaniteraan klinik bagian Ilmu Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) FK
UKRIDA di RSUD Tarakan.

TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi Hidung dan Fisiologi Hidung
Anatomi Hidung Luar
Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung bagian dalam. Bentuk hidung luar
seperti piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah : 1) pangkal hidung
(bridge), 2) batang hidung (dorsum nasi), 3) puncak hidung (hip), 4) ala nasi, 5)
kolumela, dan 6) lubang hidung (nares anterior). 1Hidung terhubug dengan os frontale
dan maksila melalui pangkal hidung yang dibentuk ossa nasalia. Kulit pembungkus
hidung tertambat erat pada dasar hidung dan memiliki kelenjar sebasea, yang dapat
mengalami hipertrofi pada keadaan rhinophyma.3
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi
oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau
menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari : 1) tulang hidung (os
nasal) , 2) prosesus frontalis os maksila dan 3) prosesus nasalis os frontal ; sedangkan
kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di
bagian bawah hidung, yaitu 1) sepasang kartilago nasalis lateralis superior, 2)
sepasang kartilago nasalis lateralis inferior yang disebut juga sebagai kartilago ala
mayor dan 3) tepi anterior kartilago septum.2

Gambar 2. Anatomi Kerangka Hidung.3

Anatomi Hidung Dalam


Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke
belakang, dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi
kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares
anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan
kavum nasi dengan nasofaring.Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai dengan
ala nasi, tepat dibelakang nares anteriror, disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi
oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang
disebut vibrise.4
Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial, lateral,
inferior dan superior.Dinding medial hidung ialah septum nasi. Septum dibentuk oleh
tulang dan tulang rawan. Bagian tulang adalah lamina perpendikularis os etmoid,
vomer, krista nasalis os maksila dan krista nasalis os palatina. Bagian tulang rawan
adalah kartilago septum (lamina kuadrangularis) dan kolumela.2
Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periostium
pada bagian tulang, sedangkan diluarnya dilapisi pula oleh mukosa hidung. Bagian
depan dinding lateral hidung licin, yang disebut ager nasi dan dibelakangnya terdapat
konka-konka yang mengisi sebagian besar dinding lateral hidung.2
Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka. Yang terbesar dan letaknya paling
bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil adalah konka media, lebih
kecil lagi ialah konka superior, sedangkan yang terkecil disebut konka suprema.
Konka suprema disebut juga rudimenter.2
Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan
labirin etmoid, sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari
labirin etmoid.Di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga
sempit yang disebut meatus. Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus yaitu
meatus inferior, medius dan superior. Meatus inferior terletak di antara konka inferior
dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung.2

Gambar 2. Dinding lateral kavum nasi.3


Pada meatus inferior terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimalis. Meatus
medius terletak di antara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus
medius terdapat bula etmoid, prosesus unsinatus, hiatus semilunaris dan infundibulum
etmoid. Hiatus semilunaris merupakan suatu celah sempit melengkung dimana
terdapat muara sinus frontal, sinus maksila dan sinus etmoid anterior.Pada meatus
superior yang merupakan ruang di antara konka superior dan konka media terdapat
muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid. Dinding inferior merupakan dasar
rongga hidung dan dibentuk oleh os maksila dan os palatum. Dinding superior atau
atap hidung sangat sempit dan dibentuk oleh lamina kribriformis, yang memisahkan
rongga tengkorak dari rongga hidung.2
Fisiologi Hidung
Berdasarkan teori struktural, teori revolusioner dan teori fungsional, maka
fungsi fisiologis hidung dan sinus paranasal adalah:
1. fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara (air conditioning), penyaring
udara, humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme
imunologik lokal
2.

fungsi penghidu, karena terdapanya mukosa olfaktorius (penciuman) dan


reservoir udara untuk menampung stimulus penghidu

3.

fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara, membantu proses


berbicara dan mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang

4.

fungsi statistik dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi


terhadap trauma dan pelindung panas

5.

refleks nasal.2

RHINITIS ALERGI
Definisi
Rhinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi
pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama
serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan
alergen spesifik tersebut.Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on
Asthma) tahun 2001 adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore,
rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai
oleh IgE.2
Alergi adalah respons jaringan yang berubah terhadap antigen spesifik atau
allergen. Hipersensitivitas pejamu bergantung pada dosis antigen, frekuensi paparan,
polesan genetic dari individu tersebut, dan kepekaan relative tubuh pejamu.5
Rhinitis alergika terjadi bilamana suatu antigen terhadap seorang pasien telah
mengalami sensitisasi, merangsang satu dari enam reseptor neurokimia hidung:
reseptor histamin H1, adrenoseptor-alfa, adrenoseptor-beta2, kolinoseptor, reseptor
histamin H2 dan reseptor iritan. Dari semua ini yang terpenting adalah reseptor
histamin H1, dimana bila terangsang oleh histamine akan meningkatkan tahanan jalan
napas hidung, meneybabkan bersin, gatal, dan rinore.5
Etiologi Rhinitis Alergi
Etiologi rinitis alergi Rinitis alergi melibatkan interaksi antara lingkungan
dengan predisposisi genetik dalam perkembangan penyakitnya. Faktor genetik dan
herediter sangat berperan pada ekspresi rinitis alergi.Penyebab rinitis alergi tersering
adalah alergen inhalan pada dewasa dan ingestan pada anak-anak. Pada anak-anak
sering disertai gejala alergi lain, seperti urtikaria dan gangguan pencernaan. Penyebab
rinitis alergi dapat berbeda tergantung dari klasifikasi. Beberapa pasien sensitif
terhadap beberapa alergen. Alergen yang menyebabkan rinitis alergi musiman
biasanya berupa serbuk sari atau jamur. Rinitis alergi perenial (sepanjang tahun)
diantaranya

debu

tungau,

terdapat

dua

spesies

utama

tungau

yaitu

Dermatophagoidesfarinae dan Dermatophagoides pteronyssinus, jamur, binatang


peliharaan seperti kecoa dan binatang pengerat. Faktor resiko untuk terpaparnya debu
tungau biasanya karpet serta sprai tempat tidur, suhu yang tinggi, dan faktor
kelembaban udara. Kelembaban yang tinggi merupakan faktor resiko untuk untuk

tumbuhnya jamur. Berbagai pemicu yang bisa berperan dan memperberat adalah
beberapa faktor nonspesifik diantaranya asap rokok, polusi udara, bau aroma yang
kuat atau merangsang dan perubahan cuaca.6
Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas:

Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu

rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur.


Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu,

telur, coklat, ikan dan udang.


Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin atau

sengatan lebah.
Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa,
misalnya bahan kosmetik atau perhiasan.

Patofisiologi
Rhinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap
sensitisasi dan diikuti dengan tahap provokasi/ reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari
2 fase yaitu Immediate Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Cepat
(RAFC) yang berlangsung sejak kotak dengan allergen sampai 1 jam setelahnya dan
Late Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Lambat (RAFL) yang
berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hiper-reaktifitas) setelah pemaparan
dan dapat berlangsung sampai 24-48 jam.2
Pada kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitisasi, makrofag atau
monosit yang berperan sebagai sel penyaji (Antigen Presenting Cell/APC) akan
menangkap alergen yang menempel di permukaan mukosa hidung. Setelah diproses,
antigen akan membentuk fragmen pendek peptide dan bergabung dengan molekul
HLA kelas II membentuk komplek peptide MHC kelas II (Major Histocompability
Complex) yang kemudian dipresentasikan pada sel T helper (Th 0). Kemudian sel
penyaji akan melepas sitokin seperti Interleukin 1 (IL 1) yang akan mengaktifkan Th0
untuk berproliferasi menjadi Th 1 dan Th 2.2
Th 2 akan menghasilkan berbagai sitokin seperti IL3, IL 4, IL 5 dan IL 13. IL
4 dan IL 13 dapat diikat oleh reseptornya di permukaan sel limfosit B, sehingga sel
limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi Imunoglobulin E (IgE). IgE di
sirkulasi darah akan masuk ke jaringan dan diikat oleh reseptor IgE di permukaan sel
mastosit atau basofil (sel mediator) sehingga kedua sel ini menjadi aktif. Proses ini
disebut sensitisasi yang menghasilkan sel mediator yang tersensitisasi. Bila mukosa

yang sudah tersensitisasi terpapar dengan alergen yang sama, maka kedua rantai IgE
akan mengikat alergen spesifik dan terjadi degranulasi (pecahnya dinding sel)
mastosit dan basofil dengan akibat terlepasnya mediator kimia yang sudah terbentuk
(Preformed Mediators) terutama histamine. Selain histamine juga dikeluarkan Newly
Formed Mediators antara lain prostaglandin D2 (PGD2), Leukotrien D4 (LT D4),
Leukotrien C4(LT C4), bradikinin, Platelet Activating Factor (PAF) dan berbagai
sitokin. (IL 3, IL 4, IL 5, IL6, GM-CSF (Granulocyte Macrophage Colony
Stimulating Factor) dll. Inilah yang disebut sebagai Reaksi Alergi Fase Cepat
(RAFC).2
Selain histamine merangsang ujung saraf Vidianus, juga menyebabkan
rangsangan pada mukosa hidung sehingga terjadi pengeluaran Inter Cellular
Adhesion Molecule 1 (ICAM 1). Pada RAFC, sel mastosit juga akan melepaskan
molekul kemotaktik yang menyebabkan akumulasi sel eosinofil dan netrofil di
jaringan target. Respons ini tidak berhenti sampai disini saja, tetapi gejala akan
berlanjut dan mencapai puncak 6-8 jam setelah pemaparan. Pada RAFL ini ditandai
dengan penambahan jenis dan jumlah sel inflamasi seperti eosinofil, limfosit, netrofil,
basofil dan mastosit di mukosa hidung serta peningkatan sitokin seperti IL3, IL4, IL5
dan Granulocyte Macrophag Colony Stimulating Factor (GM-CSF) dan ICAM 1 pada
secret hidung. Timbulnya gejala hiperaktif atau hiperresponsif hidung adalah akibat
peranan eosinofil dengan mediator inflamasi dari granulnya seperti Eosinophilic
Cationic Protein (ECP), Eosinophilic Derived Protein (EDP), Major Basic Protein
(MBP) dan Eosinophilic Peroxidase (EPO). Pada fase ini, selain faktor spesifik
(alergen), iritasi oleh faktor non spesifik dapat memperberat gejala seperti asap rokok,
bau yang merangsang , perubahan cuaca dan kelembapan udara yang tinggi.2
Secara mikroskopik tampak adanya dilatasi pembuluh (vascular bad) dengan
pembesaran sel goblet dan sel pembentuk mukus. Terdapat juga pembesaran ruang
interseluler dan penebalan membran basal, serta ditemukan infiltrasi sel-sel eosinofil
pada jaringan mukosa dan submukosa hidung. Gambaran yang ditemukan terdapat
pada saat serangan. Diluar keadaan serangan, mukosa kembali normal. Akan tetapi
serangan dapat terjadi terus-menerus (persisten) sepanjang tahun, sehingga lama
kelamaan terjadi perubahan yang ireversibel, yaitu terjadi proliferasi jaringan ikat dan
hiperplasia mukosa, sehingga tampak mukosa hidung menebal.
Dengan masuknya antigen asing ke dalam tubuh terjadi reaksi yang secara
garis besar terdiri dari:

1. Respon primer
Terjadi proses eliminasi dan fagositosis antigen (Ag). Reaksi ini
bersifat non spesifik dan dapat berakhir sampai disini. Bila Ag tidak berhasil
seluruhnya dihilangkan, reaksi berlanjut menjadi respon sekunder.
2. Respon sekunder
Reaksi yang terjadi bersifat spesifik, yang mempunyai tiga
kemungkinan ialah sistem imunitas seluler atau humoral atau keduanya
dibangkitkan. Bila Ag berhasil dieliminasi pada tahap ini, reaksi selesai. Bila
Ag masih ada, atau memang sudah ada defek dari sistem imunologik, maka
reaksi berlanjut menjadi respon tersier.
3. Respon tersier
Reaksi imunologik yang terjadi tidak menguntungkan tubuh. Reaksi ini
dapat bersifat sementara atau menetap, tergantung dari daya eliminasi Ag oleh
tubuh. Gell dan Coombs mengklasifikasikan reaksi ini atas 4 tipe, yaitu tipe 1,
atau reaksi anafilaksis (immediate hypersensitivity), tipe 2 atau reaksi
sitotoksik, tipe 3 atau reaksi kompleks imun dan tipe 4 atau reaksi tuberculin
(delayed hypersensitivity). Manifestasi klinis kerusakan jaringan yang banyak
dijumpai di bidang THT adalah tipe 1, yaitu rinitis alergi.
Klasifikasi Rhinitis Alergi
Dahulu rhinitis alergi dibedakan dalam 2 macam berdasarkan sifat berlangsungnya,
yaitu : 3
1. Rinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, polinosis).
Di Indonesia tidak dikenal rinitis alergi musiman, hanya ada di negara
yang mempunyai 4 musim. Alergen penyebabnya spesifik, yaitu tepungsari
(pollen) dan spora jamur. Oleh karena itu nama yang tepat ialah polinosis atau
rino konjungtivitis karena gejala klinik yang tampak ialah gejala pada hidung
dan mata (mata merah, gatal disertai lakrimasi).
2. Rinitis alergi sepanjang tahun (perennial).
Gejala pada penyakit ini timbul intermitten atau terus menerus, tanpa
variasi musim, jadi dapat ditemukan sepanjang tahun. Penyebab yang paling
sering ialah alergen inhalan, terutama pada orang dewasa, dan alergen
ingestan. Alergen inhalan utama adalah alergen dalam rumah (indoor) dan
alergen diluar rumah (outdoor). Alergen ingestan sering merupakan penyebab
pada anak-anak dan biasanya disertai dengan gejala alergi yang lain, seperti
urtikaria, gangguan pencernaan. Gangguan fisiologik pada golongan perennial

lebih ringan dibandingkan dengan golongan musimantetapi karena lebih


persisten maka komplikasinya lebih sering ditemukan.3
Saat ini digunakan klasifikasi rhinitis alergi berdasarkan rekomendasi dari
WHO Initiative ARIA (Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma) tahun 2001, yaitu
berdasarkan sifat berlangsungnya dibagi menjadi:
1. Intermiten (kadang-kadang), yaitu bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau
kurang dari 4 minggu.
2. Persisten/ menetap, yaitu bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan lebih dari 4
minggu.2
Sedangkan untuk tingkat berat ringannya penyakit, rinitis alergi dibagi menjadi:
1. Ringan, yaitu bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktivitas harian,
bersantai, berolahraga, belajar, bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu.
2. Sedang atau berat, yaitu bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut di
atas.2
Gejala Klinik Rinitis Alergi
Gejala klinik rinitis alergi, yaitu : Gejala rinitis alergi yang khas ialah
terdapatnya serangan bersin berulang. Sebetulnya bersin merupakan gejala yang
normal, terutama pada pagi hari atau bila terdapat kontak dengan sejumlah besar
debu. Hal ini merupakan mekanisme fisiologik, yaitu proses membersihkan sendiri
(self cleaning process). Bersin dianggap patologik, bila terjadinya lebih dari 5 kali
setiap serangan, sebagai akibat dilepaskannya histamin. Disebut juga sebagai bersin
patologis. Gejala lain ialah keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak, hidung
tersumbat, hidung dan mata gatal, yang kadang-kadang disertai dengan banyak air
mata keluar (lakrimasi).
Tanda-tanda alergi juga terlihat di hidung, mata, telinga, faring atau laring.
Tanda hidung termasuk lipatan hidung melintang garis hitam melintang pada tengah
punggung hidung akibat sering menggosok hidung ke atas menirukan pemberian
hormat (allergic salute), pucat dan edema mukosa hidung yang dapat muncul
kebiruan. Lubang hidung bengkak. Disertai dengan sekret mukoid atau cair. Tanda di
mata termasuk edema kelopak mata, kongesti konjungtiva, lingkar hitam dibawah
mata (allergic shiner). Tanda pada telinga termasuk retraksi membran timpani atau
otitis media serosa sebagai hasil dari hambatan tuba eustachii. Tanda faringeal

termasuk faringitis granuler akibat hiperplasia submukosa jaringan limfoid. Tanda


laringeal termasuk suara serak dan edema pita suara.
Gejala lain yang tidak khas dapat berupa: batuk, sakit kepala, masalah
penciuman, mengi, penekanan pada sinus dan nyeri wajah, post nasal drip. Beberapa
orang juga mengalami lemah dan lesu, mudah marah, kehilangan nafsu makan dan
sulit tidur.2
Diagnosis Klinis
Diagnosis rinitis alergi ditegakkan berdasarkan:
1. Anamnesis
Anamnesis sangat penting, karena seringkali serangan tidak terjadi
dihadapan pemeriksa. Hampir 50% diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesis
saja. Gejala rinitis alergi yang khas ialah terdapatnya serangan bersin
berulang. Sebetulnya bersin merupakan gejala yang normal, terutama pada
pagi hari atau bila terdapat kontak dengan sejumlah besar debu. Hal ini
merupakan mekanisme fisiologik, yaitu proses membersihkan sendiri (self
cleaning process). Bersin ini terutama merupakan gejala pada RAFC dan
kadang-kadang pada RAFL sebagai akibat dilepaskannya histamine. Karena
itu perlu ditanyakan adanya riwayat atopi pada pasien. Gejala lain ialah keluar
ingus (rinore) yang encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata
gatal, yang kadang-kadang disertai dengan banyak air mata keluar (lakrimasi).
Sering kali gejala yang timbul tidak lengkap, terutama pada anak-anak.
Kadang-kadang keluhan hidung tersumbat merupakan keluhan utama atau
satu-satunya gejala yang diutarakan oleh pasien.2
2. Pemeriksaan Fisik
Pada rinoskopi anterior tampak mukosa edema, basah, berwarna pucat
atau livid disertai adanya secret encer yang banyak. Bila gejala persisten,
mukosa inferior tampak hipertrofi. Pemeriksaan nasoendoskopi dapat
dilakukan bila fasilitas tersedia. Gejala spesifik lain pada anak ialah
terdapatnya bayangan gelap di daerah bawah mata yang terjadi karena stasis
vena sekunder akibat obstruksi hidung. Gejala ini disebut allergic shiner.
Selain dari itu sering juga tampak anak menggosok-gosok hidung karena gatal,
dengan punggung tangan. Keadaan ini disebut allergic salute. Keadaan
menggosok hidung ini lama kelamaan akan mengakibatkan timbulnya garis
melintang di dorsum nasi bagian sepertiga bawah, yang disebut allergic

crease. Mulut sering terbuka dengan lengkung langit-langit yang tinggi,


sehingga akan menyebabkan gangguan pertumbuhan gigi geligi (facies
adenoid). Dinding posterior faring tampak granuler dan edema (cobblestone
appearance), serta dinding lateral faring menebal. Lidah tampak seperti
gambaran peta (geographic tongue).2
3. Pemeriksaan Penunjang
In vitro :
Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat.
Demikian pula pemeriksaan IgE total (prist-paper radio imunosorbent test)
seringkali menunjukkan nilai normal, kecuali bila tanda alergi pada pasien
lebih dari satu macam penyakit, misalnya selain rinitis alergi juga menderita
asma bronchial atau urtikaria. Pemeriksaan ini berguna untuk prediksi
kemungkinan alergi pada bayi atau anak kecil dari suatu keluarga dengan
derajat alergi yang tinggi. Lebih bermakna adalah pemeriksaan IgE spesifik
dengan RAST (Radio Imuno Sorbent Test) atau ELISA (Enzyme Linked
Immuno Sorbent Assay Test). Pemeriksaan sitologi hidung, walaupun tidak
dapat memastikan diagnosis, tetap berguna sebagai pemeriksaan pelengkap.
Ditemukannya eosinofil dalam jumlah banyak menunjukkan kemungkinan
alergi inhalan. Jika basofil (>5sel/lap) mungkin disebabkan alergi makanan,
sedangkan jika ditemukan sel PMN menunjukkan adanya infeksi bakteri.2
In Vivo :
Allergen penyebab dapat dicari dengan cara pemeriksaan tes cukit
kulit, uji intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri (Skin End-point
Titration/SET), SET dilakukan untuk alergen inhalan dengan menyuntikkan
allergen

dalam

berbagai

konsentrasi

yang

bertingkat

kepekatannya.

Keuntungan SET, selain alergen penyebab juga derajat tinggi serta dosis inisial
untuk desensitisasi dapat diketahui.2
Untuk alergi makanan, uji kulit yang akhir-akhir ini banyak dilakukan
adalah Intracutaneus Provocative Dilutional Food Test (IPDFT), namun
sebagai baku emas dapat dilakukan dengan diet eliminasi dan provokasi
(Challenge Test).2
Alergen ingestan secara tuntas lenyap dari tubuh dalam waktu 5 hari.
Karena itu pada Challenge Test, makanan yang dicurigai diberikan pada

pasien setelah berpantang selama 5 hari, selanjutnya diamati reaksinya. Pada


diet eliminasi, jenis makanan setiap kali dihilangkan dari menu makanan
sampai suatu ketika gejala menghilang dengan meniadakan suatu jenis
makanan.2

Penatalaksanaan
1. Terapi yang paling ideal adalah dengan alergen penyebabnya (avoidance) dan
eliminasi.
2. Simptomatis
a. Medikamentosa-Antihistamin yang dipakai adalah antagonis H-1, yang
bekerja secara inhibitorkomppetitif pada reseptor H-1 sel target, dan
merupakan preparat farmakologik yang paling sering dipakai sebagai inti
pertama pengobatan rinitis alergi. Pemberian dapat dalam kombinasi atau
tanpa kombinasi dengan dekongestan secara peroral. Antihistamin dibagi
dalam 2 golongan yaitu golongan antihistamin generasi-1 (klasik) dan
generasi -2 (non sedatif). Antihistamin generasi-1 bersifat lipofilik,
sehingga dapat menembus sawar darah otak (mempunyai efek pada SSP)
dan plasenta serta mempunyai efek kolinergik. Preparat simpatomimetik
golongan agonis adrenergik alfa dipakai dekongestan hidung oral dengan
atau tanpa kombinasi dengan antihistamin atau tropikal. Namun pemakaian
secara tropikal hanya boleh untuk beberapa hari saja untuk menghindari
terjadinya rinitis medikamentosa.
Preparat kortikosteroid dipilih bila gejala trauma sumbatan hidung
akibat respons fase lambat tidak berhasil diatasi dengan obat lain. Yang
sering dipakai adalah kortikosteroid tropikal (beklometosa, budesonid,
flusolid,

flutikason,

mometasonfuroat

dan

triamsinolon).

Preparat

antikolinergik topikal adalah ipratropium bromida, bermanfaat untuk


mengatasi rinore, karena aktifitas inhibisi reseptor kolinergik permukaan
sel efektor.
b. Operatif
Tindakan konkotomi (pemotongan konka inferior) perlu dipikirkan bila
konka inferior hipertrofi berat dan tidak berhasil dikecilkan dengan cara
kauterisasi memakai AgNO3 25 % atau triklor asetat.
c.Imunoterapi

Jenisnya desensitasi, hiposensitasi & netralisasi. Desensitasi dan


hiposensitasi membentuk IgG blocking antibody dan penurunan IgE.
Keduanya untuk alergi inhalan yang gejalanya berat, berlangsung lama dan
hasil pengobatan lain belum memuaskan.2
Komplikasi rinitis alergi
1. Polip hidung yang memiliki tanda patognomonis: inspisited mucous glands,
akumulasi sel-sel inflamasi yang luar biasa banyaknya (lebih eosinofil dan
limfosit T CD4+), hiperplasia epitel, hiperplasia goblet, dan metaplasia
skuamosa,
2. Otitis media yang sering residif, terutama pada anak-anak.
3. Sinusitis paranasal merupakan inflamasi mukosa satu atau lebih sinus para
nasal. Terjadi akibat edema ostia sinus oleh proses alergis dalam mukosa yang
menyebabkan sumbatan ostia sehingga terjadi penurunan oksigenasi dan
tekanan udara rongga sinus
Diagnosis Banding
Rhintis Vasomotor
Rinitis vasomotor adalah terdapatnya gangguan fisiologi lapisan mukosa
hidung yang disebabkan peningkatan aktivitas saraf parasimpatis. Penyakit ini
termasuk dalam penyakit rinitis kronis selain rinitis alergika. 7
Rinitis vasomotor adalah inflamasi kronis lapisan mukosa hidung yang
disebabkan oleh terganggunya keseimbangan sistem saraf parasimpatis dan simpatis.
Parasimpatis menjadi lebih dominan sehingga terjadi pelebaran dan pembangkakan
pembuluh darah di hidung. Gejala yang timbul berupa hidung tersumbat, bersin dan
ingus yang encer. 8Rinitis vasomotor dikatakan juga sebagaikondisi dimana pembuluh
darah yang terdapat di hidung menjadi membengkak sehingga menyebabkan hidung
tersumbat dan kelenjar mukus menjadi hipersekresi.7
Etiologi
Etilogi pasti rinitis vasomotor belum diketahui dan diduga akibat gangguan
keseimbangan sistem saraf otonom yang dipicu oleh zat-zat tertentu. Beberapa faktor
yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor :

Obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis, seperti


ergotamin, chlorpromazin, obat anti hipertensi dan obat vasokonstriktor
topikal.

Faktor fisik, seperti iritasi oleh asap rokok, udara dingin, kelembaban udara

yang tinggi dan bau yang merangsang.


Faktor endokrin, sepeti keadaan kehamilan, pubertas, pemakaian pil anti hamil
dan hipotiroidisme.7

Patofisiologi
Ada

beberapa

mekanisme

yang

berinteraksi

dengan

hidung

yang

menyebabkan terjadinya rhinitis vasomotor pada berbagai kondisi lingkungan. Sistem


saraf otonom mengontrol suplai darah ke dalam mukosa nasal dan sekresi mukus.
Diameter dari arteri hidung diatur oleh saraf simpatis sedangkan saraf parasimpatis
mengontrol sekresi glandula dan mengurangi tingkat kekentalannya, serta menekan
efek dari pembuluh darah (kapiler). Efek dari hipoaktivitas saraf simpatis atau
hiperaktivitas saraf parasimpatis bisa berpengaruh pada pembuluh darah tersebut yaitu
menyebabkan terjadinya peningkatan edema interstisial dan akhirnya terjadi kongesti
yang bermanifestasi klinis sebagai hidung tersumbat. Aktivasi dari saraf parasimpatis
juga meningkatkan sekresi mukus yang menyebabkan terjadinya rinorea yang eksesif.
2

Teori lain menyebutkan adanya peningkatan peptida vasoaktif yang


dikeluarkan sel-sel seperti sel mast. Peptida ini termasuk histamin, leukotrien,
prostaglandin, dan kinin. Peningkatan peptida vasoaktif ini tidak hanya mengontrol
diameter pembuluh darah yang menyebabkan kongesti, hidung tersumbat, juga
meningkatkan efek dari asetilkolin pada sistem saraf parasimpatis pada sekresi nasal,
yang meningkatkan terjadinya rinorea. Pelepasan dari peptida ini bukan diperantarai
oleh IgE seperti pada rhinitis alergik. Pada beberapa kasus rhinitis vasomotor,
eosinofil atau sel mast kemungkinan didapati meningkat pada mukosa hidung. Terlalu
hiperaktifnya reseptor iritans yang berperan pada terjadinya rhinitis vasomotor.
Banyak kasus rhinitis vasomotor berkaitan dengan agen spesifik atau kondisi tertentu.
Contoh beberapa agen atau kondisi yag mempengaruhi kondisi tersebut adalah
perubahan temperatur, kelembaban udara, parfum, aroma masakan yang terlalu kuat,
asap rokok, debu, polusi udara, dan stres (fisik dan psikis). 2
Mekanisme terjadinya rhinitis vasomotor oleh karena aroma dan emosi secara
langsung melibatkan kerja dari hipotalamus. Aroma yang kuat akan merangsang selsel olfaktorius terdapat pada mukosa olfaktori. Kemudian berjalan melalui traktus
olfaktorius dan berakhir secara primer maupun sesudah merelay neuron pada dua
daerah utama otak, yaitu daerah olfaktoris medial dan olfaktoris lateral. Daerah

olfaktoris medial terletak pada bagian anterior hipotalamus. Jika bagian anterior
hipotalamus teraktivasi misalnya oleh aroma yang kuat serta emosi, maka akan
menimbulkan reaksi parasimpatetik di perifer sehingga terjadi dominasi fungsi syaraf
parasimpatis di perifer, termasuk di hidung yang dapat menimbulkan manifestasi
klinis berupa rhinitis vasomotor. 2
Gejala Klinis
Gejala penderita rhinitis alergi atau rhinitis vasomotor kadang-kadang sulit
dibedakan karena gejala-gejalanya mirip, yaitu obstruksi hidung, rinorea dan bersin.
Biasanya penderita rhinitis alergik lebih merasakan gatal dan bersin berulang seperti
staccato. Biasanya ia tidak ditemukan atau tidak jelas pada rinitis vasomotor. Reaksi
bisa disebabkan oleh disfungsi sistem saraf autonom, tetapi disamping itu, obstruksi
hidung, rinorea dan bersin dapat disebabkan oleh faktor iritasi, fisik, endokrin dan
faktor lain. Hidung mungkin sensitif terhadap pengaruh hormon, oleh karena itu
reaksi rhinitis vasomotor mungkin berhubungan dengan kehamilan atau kontrasepsi
per oral, tetapi rhinitis vasomotor pada kehamilan segera menyembuh setelah
melahirkan dan mungkin berhubungan dengan keseimbangan hormon.
Biasanya penderita rhinitis vasomotor tidak mempunyai riwayat alergi pada
keluarganya. Mereka menjelaskan fenomena iritatifnya dimulai di usia dewasa. Jarang
terjadi bersin dan rasa gatal.Hidung tersumbat, bergantian kiri dan kanan, tergantung
pada posisi pasien. Terdapat rinorea yang mukus atau serosa, kadang agak banyak.
Jarang disertai bersin dan tidak disertai gatal di mata. Gejala memburuk pada pagi
hari waktu bangun tidur karena perubahan suhu yang ekstrim, udara lembab, juga
karena asap rokok dan sebagainya.2
Tabel 1. Perbedaan rhintis alergi dengan rhinitis vasomotor.2

Diagnosis
Diagnosis umumnya ditegakkan dengan cara eksklusi, yaitu menyingkirkan
adanya rhinitis infeksi, alergi, okupasi, hormonal dan akibat obat. Dalam anamnesa
dicari faktor yang mempengaruhi timbunya gejala. Rhinitis vasomotor dibuat dengan
menyingkirkan kemungkinan lainnya dengan anamnesa, pemeriksaan fisik pada
hidung dengan rinoskopi anterior didapatkan konka nasalis berwarna merah gelap
atau merah tua, tetapi dapat pula pucat, edema mukosa hidung dan permukaan konka
dapat licin atau berbenjol-benjol (hipertrofi). Pada rongga hidung terdapat sekret
mukoid, biasanya sedikit. Akan tetapi pada golongan rinore sekret yang ditemukan
serosa yang banyak jumlahnya. 2
Pada pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menyingkirkan rhinitis
alergik karena dapat ditemukan eosinofil di dalam sekresi hidung, akan tetapi dalam
jumlah sedikit. Tes cukit kulit biasanya negative, kadar IgE spesifik tidak meningkat.
Perubahan foto rontgen, penebalan membrana mukosa sinus tidaklah spesifik dan
tidak bernilai untuk diagnosis. Rhinitis vasomotor bisa terjadi bersama-sama dengan
rhinitis alergik.2
Penatalakasanaan
Non Farmakologik
Menghindari penyebab. Jika agen iritan diketahui, terapi terbaik adalah
dengan pencegahan dan menghindari. Jika tidak diketahui, pembersihan
mukosa nasal secara periodik mungkin bisa membantu. Bisa dilakukan dengan
menggunakan semprotan larutan saline atau alat irigator seperti Grossan
irigator.2
Farmakologik
Antihistamin mempunyai respon yang beragam. Membantu pada
pasien dengan gejala utama rinorea. Selain antihistamin, pemakaian
antikolinergik juga efektif pada pasien dengan gejala utama rinorea. Obat ini
adalah antagonis muskarinik. Obat yang disarankan seperti Ipratropium
bromida, juga terdapat formula topikal dan atrovent, yang mempunyai efek
sistemik lebih sedikit. Penggunaan obat ini harus dihindari pada pasien dengan
takikardi dan glaukoma sudut sempit. 2
Steroid topikal membantu pada pasien dengan gejala utama kongesti,
rinorea dan bersin. Obat ini menekan respon inflamasi lokal yang disebabkan
oleh vasoaktif mediator yang dapat menghambat Phospolipase A2,
mengurangi aktivitas reseptor asetilkolin, menurunkan basofil, sel mast dan

eosinofil. Efek dari kortikostreroid tidak bisa segera, tapi dengan penggunaan
jangka panjang, minimal sampai 2 gr sebelum hasil yang diinginkan tercapai.
Steroid topikal yang dianjurkan seperti Beclomethason, Flunisolide dan
Fluticasone. Efek samping dengan steroid yaitu edema mukosa dan eritema
ringan. 2
Dekongestan atau simpatomimetik agen digunakan pada gejala utama
hidung tersumbat. Untuk gejala yang multipel, penggunan dekongestan yang
diformulasikan dengan antihistamin dapat digunakan. Obat yang disarankan
seperti

Pseudoefedrin,

Phenilprophanolamin

dan

Phenilephrin

serta

Oxymetazoline (semprot hidung). Obat ini merupakan agonis reseptor dan


baik untuk meringankan serangan akut. Pada penggunaan topikal yang terlalu
lama (> 5 hari) dapat terjadi rhinitis medikamentosa yaitu rebound kongesti
yang terjadi setelah penggunaan obat topikal > 5 hari. Kontraindikasi
pemakaian dekongestan adalah penderita dengan hipertensi yang berat serta
tekanan darah yang labil. 2
Bedah
Jika rhinitis vasomotor tidak berkurang dengan terapi diatas, prosedur
pembedahan dapat dilakukan antara lain dengan Cryosurgery / Bedah Cryo
yang berpengaruh pada mukosa dan submukosa. Operasi ini merupakan
tindakan yang cukup sukses untuk mengatasi kongesti, tetapi ada
kemungkinan untuk terjadinya hidung tersumbat post operasi yang
berlangsung lama dan kerusakan dari septum nasi. Neurectomi n.vidianus
merusak baik hantaran simpatis and parasimpatis ke mukosa sehingga dapat
menghilangkan gejala rinorea. Kauterisasi dengan AgNO 3 atau elektrik cauter
dapat dilakukan tetapi hanya pada lapisan mukosa. Cryosurgery lebih
dipertimbangkan daripada kauterisasi karena dapat mencapai lapisan
submukosa. Reseksi total atau parsial pada konka inferior berhasil baik.2
Komplikasi
Biasanya komplikasi yang sering terjadi dari rinitis vasomotor ini adalah polip
hidung dan terjadinya sinusitis.2
Rhinosinusitis
Menurut European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polys (EPOS)
2012, rhinosinusitis didefinisikan sebagai suatu radang dari hidung dan sinus

paranasal, yang ditandai dengan dua atau lebih gejala, yang salah satunya harus ada
berupa obstruksi (hidung tersumbat) atau nasal discharge (sekret hidung baik anterior
atau posterior nasal drip): nyeri pada wajah dan berkurangnya sensitivitas pembau.
Pada rhinosinusitis kronis akut gejala berlangsung 12 minggu dan rinosinusitis
kronis berlangsung 12 minggu.
Diagnosis rhinosinusitis ditegakkan berdasarkan European Position Paper On
Rhinosinusitis And Nasal Polyps (EPOS) tahun 2012 adanya dua atau lebih gejala,
salah satu yang seharusnya dijumpai adalah hidung tersumbat / pembengkakan /
keluarnya cairan dari hidung ( cairan hidung yang menetes keluar bisa melalui
anterior maupun posterior) disertai rasa sakit pada wajah / rasa tertekan pada wajah
atau berkurang / hilangnya penciuman dan salah satu dari temuan nasoendoskopi
yaitu:
- polip dan/ atau
- sekret mukopurulen dari meatus medius dan/ atau
- edema/ obstruksi mukosa di meatus medius
dan/ atau gambaran tomografi komputer (CT scan):
- perubahan mukosa di kompleks osteomeatal dan/atau sinus.1
Klasifikasi rhinosinusitis
Rhinosinusitis diklasifikasikan berdasarkan beratnya serangan dan lama
serangan. Berdasarkan beratnya penyakit, penyakit ini dapat dibagi menjadi ringan,
sedang dan berat berdasarkan skor total visual analogue scale (VAS) dengan skor 0-10
cm:
- Ringan = VAS 0-3
- Sedang= VAS > 3-7
- Berat= VAS > 7-10

Gambar 3. Visual Analog Scale1


Untuk evaluasi nilai total, pasien diminta untuk menilai pada suatu VAS
jawaban dari pertanyaan berapa besar gangguan dari gejala rhinosinusitis saudara?
Nilai VAS >5 mempengaruhi kualitas hidup pasien. Berdasarkan lamanya penyakit,

rhinosinusitis diklasifikasikan menjadi akut maupun kronik. Dikatakan akut apabila


lamanya penyakit <12 minggu dan terjadi resolusi komplit gejala sedangkan
dikatakan kronik apabila lama penyakit >12 minggu dan tanpa resolusi gejala komplit
termasuk kronik eksaserbasi akut.
Patofisiologi rhinosinusitis
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium - ostium sinus dan lancarnya
klirens mukosiliar (mucocilliary clearance) di dalam kompleks ostiomeatal (KOM).
Mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai
mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan.
Stuktur yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema, mukosa
yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium
tersumbat. Sumbatan di ostium sinus dapat diakibatkan edema yang terjadi sekunder
karena adanya inflamasi traktus respiratorius atas (hidung).1
Akibatnya terjadi penurunan aerasi sinus, penurunan tekanan O2 dalam sinus,
hipooksigenasi dan akhirnya terjadi vasodilatasi kapiler sebagai mekanisme
kompensasi. Proses ini memicu terjadinya transudasi. Sebagian cairan transudat akan
masuk ke sub mukosa sehingga menyebabkan edema, sebagian lagi menuju ekstra
vaskuler, menembus epitel hingga masuk ke rongga sinus. Akibatnya akan terdapat
cairan transudat di rongga sinus yang mula-mula serous. Kondisi ini bisa dianggap
sebagai rinosinusitis non bakterial dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa
pengobatan.8
Bila kondisi menetap, sekret yang terkumpul dalam sinus merupakan media
yang baik untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri. Sekret menjadi purulen yang
berwarna kuning kehijauan. Keadaan ini disebut sebagai rinosinusitis akut bakterial
dan memerlukan terapi antibiotik. Jika terapi tidak berhasil (misalnya karena ada
faktor predisposisi), inflamasi berlanjut, terjadi hipoksia dan bakteri anaerob
berkembang. Keadaan sinus yang hipooksigen juga dapat mengganggu gerakan silia
sehingga mekanisme klirens mukosiliar terganggu. Akibatnya cairan transudat tidak
dapat didrainase dan semakin tertimbun di dalam sinus. Keadaan ini membuat pH
sinus menjadi asam dan mendukung aktivitas multiplikasi bakteri.8
Jika proses ini berlanjut, mukosa semakin bengkak dan menjadi siklus yang
terus berputar hingga perubahan mukosa menjadi kronik yaitu hipertrofi, polipoid atau
pembentukan polip dan kista. Pada keadaan ini mungkin diperlukan tindakan operasi.

Hubungan rinitis alergi dan rinosinusitis


Rinosinusitis merupakan masalah kesehatan yang meningkat seiring
meningkatnya kasus rinitis alergi dan mengakibatkan peningkatan beban finansial
terhadap penderitanya. Pembengkakan mukosa hidung pada rinitis alergi di ostium
sinus dapat mengganggu ventilasi bahkan menyumbat ostium sinus, yang akan
mengakibatkan retensi sekret mukus dan infeksi. Mukosa hidung dan sinus
membentuk suatu rangkaian kesatuan, sehingga membran mukosa sinus sering terlibat
pada penyakit yang disebabkan inflamasi pada mukosa nasi.
Penderita rinosinusitis kronik yang disertai rinitis alergi memiliki keluhan
rinosinusitis yang lebih berat. Diantara pasien alergi yang menjalankan imunoterapi,
sebagian besar yang merasa tertolong dengan terapi imun adalah pasien dengan
riwayat rinosinusitis berulang. Dan setengah dari pasien yang pernah menjalankan
operasi sinus lalu mendapat imunoterapi spesifik menyatakan bahwa operasi saja
tidak dapat menuntaskan episode berulang dari rinosinusitisnya. Hubungan antara
faktor alergi dan beratnya gejala rinosinusitis berdasarkan pemeriksaan CT scan,
terbukti bahwa jika terdapat faktor alergi pada rinosinusitis kronik, maka semakin
berat gejala rinosinusitisnya. Dengan pemeriksaan CT scan diketahui bahwa serum
total IgE berkorelasi dengan penebalan mukosa sinus. Dengan demikian penderita
rinosinusitis kronik yang akan menjalankan operasi sebaiknya diperiksa dahulu
apakah terdapat faktor alergi. Jika positif terdapat faktor alergi, sebaiknya alerginya
diterapi terlebih dahulu, sehingga kesembuhan akan lebih cepat dan kemungkinan
berulangnya rinosinusitis pasca operasi dapat dikurangi.
Rhinosinusitis akut
Rhinosinusitis akut dibagi menjadi rhinosinusitis akut viral (gejala <10 hari)
dan rhinosinusitis non-viral akut (terjadi perburukan gejala > hari atau gejala menetap
> 10 hari dengan lama sakit <12 minggu). Jika penyebab rhinosinusitis akut adalah
bakteri maka gejala yang timbul adalah lendir yang tidak berwarna dan biasanya
unilateral serta adanya sekret yang purulen dalam cavum nasi. Selain itu terdapat
nyeri lokal yang berat serta unilateral, demam >38C dan adanya peningkatan CRP.
Prevalensi kasus rhinosinusitis akut bervariasi dan dipengaruhi oleh cuaca dan variasi
iklim dan meningkat di lingkungan yang lembab serta banyak polusi udara. Rokok
juga berpengaruh terhadap rhinosinusitis akut karena mempengaruhi fungsi dan

motilititas dari silia. Laringofaringel refluks juga memiliki kaitan dengan


rhinosinusitis akut. Faktor predisposisi rhinosinusitis akut adalah lingkungan, rokok,
laringofaringeal refluks, cemas dan depresi.
Tatalaksana rhinosinusitis akut

Gambar 4. Tatalaksana Rhinosinusitis Akut pada Dewasa untuk Pelayanan Kesehatan


Primer1
Rhinosinusitis kronik
Pada rhinosinusitis kronik, dapat dijumpai polip hidung namun tidak selalu
disertai polip hidung. Gejala lebih dari 12 minggu dan terdapat dua atau lebih gejala,
salah satunya harus berupa hidung tersumbat/ obstruksi/ kongesti atau pilek (sekret
hidung anterior/ posterior) disertai:1
nyeri wajah/ rasa tertekan di wajah
penurunan/ hilangnya penghidu
Dan dari anamnesis didapatkan gejala alergi, ingus seperti air, hidung gatal,
mata gatal dan berair, jika positif ada, seharusnya dilakukan pemeriksaan alergi. (Foto
polos sinus paranasal/tomografi komputer tidak direkomendasikan). Berdasarkan
EPOS, faktor yang dihubungkan dengan kejadian rinosinusitis kronik tanpa polip nasi
yaitu ciliary impairment, alergi, asma, keadaan immunocompromised, faktor genetik,

kehamilan dan endokrin, faktor lokal, mikroorganisme, jamur, osteitis, faktor


lingkungan, faktor iatrogenik, H.pylori dan refluks laringofaringeal.
Penatalaksaaan rhinosinusitis kronik
Prinsip penatalaksanaan rinosinusitis kronik tanpa polip nasi pada orang
dewasa dibedakan menjadi dua yaitu penatalaksanaan medikamentosa dan
pembedahan. Pada rinosinusitis kronik (tanpa polip nasi), terapi pembedahan mungkin
menjadi pilihan yang lebih baik dibanding terapi medikamentosa. Adanya latar
belakang seperti alergi, infeksi dan kelainan anatomi rongga hidung memerlukan
terapi yang berlainan juga.
Terapi Medikamentosa
Terapi medikamentosa memegang peranan dalam penanganan rinosinusitis
kronik yakni berguna dalam mengurangi gejala dan keluhan penderita, membantu
dalam diagnosis rinosinusitis kronik (apabila terapi medikamentosa gagal maka
cenderung digolongkan menjadi rinosinusitis kronik) dan membantu memperlancar
kesuksesan operasi yang dilakukan. Pada dasarnya yang ingin dicapai melalui terapi
medikamentosa

adalah

kembalinya

fungsi

drainase

ostium

sinus

dengan

mengembalikan kondisi normal rongga hidung. Jenis terapi medikamentosa yang


digunakan untuk rinosinusitis kronik tanpa polip nasi pada orang dewasa antara lain:
1.

Antibiotika, merupakan modalitas tambahan pada rinosinusitis kronik


mengingat terapi utama adalah pembedahan. Jenis antibiotika yang digunakan
adalah antibiotika spektrum luas antara lain:
a. Amoksisilin + asam klavulanat
b. Sefalosporin: cefuroxime, cefaclor, cefixime
c. Florokuinolon : ciprofloksasin
d. Makrolid : eritromisin, klaritromisin, azitromisin
e. Klindamisin
f. Metronidazole

2.

Antiinflamatori dengan menggunakan kortikosteroid topikal atau


sistemik.

Kortikosteroid topikal : beklometason, flutikason, mometason


a. Kortikosteroid sistemik, banyak bermanfaat pada rinosinusitis kronik dengan
polip nasi dan rinosinusitis fungal alergi.

3.

Terapi penunjang lainnya meliputi:


a. Dekongestan oral/topikal yaitu golongan agonis -adrenergik
b. Antihistamin
c. Stabilizer sel mast, sodium kromoglikat, sodium nedokromil
d. Mukolitik
e. Antagonis leukotrien
f. Imunoterapi
g. Lainnya: humidifikasi, irigasi dengan salin, olahraga, avoidance terhadap
iritan dan nutrisi yang cukup

Terapi Pembedahan
Terapi bedah yang dilakukan bervariasi dimulai dengan tindakan sederhana
dengan peralatan yang sederhana sampai operasi menggunakan peralatan canggih
endoskopi. Beberapa jenis tindakan pembedahan yang dilakukan untuk rinosinusitis
kronik tanpa polip nasi ialah:1
1.

Sinus maksila:

a.

Irigasi sinus (antrum lavage)

b.

Nasal antrostomi

c.

Operasi Caldwell-Luc
2.

Sinus etmoid:
a. Etmoidektomi intranasal, eksternal dan transantral

3.

Sinus frontal:

a.

Intranasal, ekstranasal

b.

Frontal sinus septoplasty

c.

Fronto-etmoidektomi
4.

Sinus sfenoid :

a.

Trans nasal

b.

Trans sfenoidal
5.

Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/FESS) dipublikasikan pertama


kali oleh Messerklinger tahun 1978. Indikasi tindakan BSEF/FESS adalah:
a. Sinusitis kronis yang tidak membaik setelah terapi adekuat
b. Sinusitis kronis disertai kista atau kelainan yang irreversible
c. Polip ekstensif
d. Adanya komplikasi sinusitis

e. Sinusitis jamur

Gambar 5. Skema Penanganan Rhinosinusitis Kronis pada Dewasa untuk Pelayanan


Kesehatan Primer1

Komplikasi
Pada era pra antibiotika, komplikasi merupakan hal yang sering terjadi dan seringkali
membahayakan nyawa penderita, namun seiring berkembangnya teknologi diagnostik dan
antibiotika, maka hal tersebut dapat dihindari. 1 Komplikasi rinosinusitis kronik tanpa polip nasi
dibedakan menjadi komplikasi orbita, oseus/tulang, endokranial dan komplikasi lainnya.
1.1.

Komplikasi orbita :
a) Selulitis periorbita
b) Selulitis orbita
c) Abses subperiosteal
d) Abses orbita

1.2.
1.3.

Komplikasi oseus/tulang : Osteomielitis (maksila dan frontal)


Komplikasi intrakranial:

a)

Abses epidural / subdural

b)

Abses otak

c)

Meningitis

d)

Serebritis

e)

Trombosis sinus kavernosus


LAPORAN KASUS
I. IDENTITAS PASIEN

Nama

: Ny. F

Umur

: 19 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: pelajar

Alamat

: Jln. Sabeni

Status pernikahan

: belum menikah

II. ANAMNESIS
26

Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 5 September , 11.35 WIB.


Keluhan Utama
Pasien datang dengan keluhan hidung tersumbat sejak 1minggu yang lalu.
Keluhan Tambahan
Setiap pagi selalu bersin-bersin, terutama bila terkena udara dingin atau terpapar AC.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poliklinik dengan keluhan hidung tersumbat sejak 1minggu SMRS.
Pasien juga selalu bersin-bersin di pagi hari, terutama bila terkena udara dingin atau terpapar
AC. Pasien tidak memiliki riwayat trauma dan operasi pada hidung sebelumnya. Keluhan tidak
dipengaruhi posisi tubuh dan tidak mengganggu kegiatan sehari-hari. Gejala ini hilang timbul
dan dirasakan sejak 2 tahun yang lalu. Keluhan lain, seperti demam, sakit kepala,batuk, pilek,
nyeri di daerah wajah, trauma pada hidung, gangguan penciuman dan pengecapan disangkal oleh
pasien. Pasien sudah pernah berobat ke dokter sebelumnya, namun penyakitnya sering datang
lagi. Saat ini pasien tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak mempunyai riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan keadaan
sekarang. Pasien mengatakan tidak ada alergi seperti terhadap makanan maupun obat-obatan.
Riwayat Penyakit Keluarga
Ibu dan kakak pasien mempunyai riwayat alergi dingin yang sama seperti ini.
III. PEMERIKSAAN FISIK
A. STATUS LOKALIS

Telinga
Bentuk daun telinga
Kelainan Kongenital

Dextra
Sinistra
Normotia
Normotia
Mikrotia (-), anotia (-), atresia Mikrotia (-), anotia (-), atresia

Radang, Tumor

(-), fistula (-), bat ear (-)


(-), fistula (-), bat ear (-)
Nyeri (-),Massa (-), hiperemis Nyeri
(-),
Massa

Nyeri tekan tragus


Penarikan daun telinga

(-), sekret (-),edema (-)

hiperemis

Nyeri tekan (-)


Nyeri (-)

(-),edema (-)
Nyeri tekan (-)
Nyeri (-)

(-),

(-),
sekret

27

Kelainan

pre-,

infra-, Massa

(-),

hiperemis

(-), Massa

(-),

hiperemis

(-),

retroaurikuler
Region Mastoid

odem (-), nyeri (-), fistula (-)


odem (-), nyeri (-), fistula (-)
Massa (-), hiperemis (-), Massa (-), hiperemis (-),

liang telinga

odem (-), nyeri (-), abses (-)


odem (-), nyeri (-), abses (-)
lapang, furunkel (-), jar. lapang, furunkel (-), jar.
granulasi

(-),

serumen granulasi

(-),

serumen

(-),edem (-),sekret (-), darah (-),edem (-),sekret (-), darah


(-), hiperemis (-), kolesteatom (-), hiperemis (-),kolesteatom
Membran Timpani

(-), laserasi (-), hifa (-)


Utuh, reflex cahaya (+),

(-), laserasi (-),hifa (-)


Utuh, reflex cahaya (+),

bulging (-),

bulging (-),

perforasi

(-),

sekret (-), retraksi (-)

sekret

Kanan

Kiri

perforasi (-),

(-), retraksi (-)

Tes Penala
Rinne
Positif
Positif
Weber
Tidak ada lateralisasi
Swabach
Sama dengan pemeriksa
sama dengan pemeriksa
Penala yang dipakai
512 Hz
512 Hz
Kesan : Tidak terdapat gangguan pendengaran
Hidung
Dextra
Normal, tidak deformitas
Hiperemis (-), Odem (-), nyeri

Sinistra
Normal, tidak deformitas
Hiperemis (-), Odem (-), nyeri

(-)
Hiperemis (-), Odem (-), nyeri

(-)
Hiperemis (-), Odem (-), nyeri

maxillaris
Vestibulum

(-)
Laserasi

(-)
Laserasi

Cavum Nasi

furunkel (-), sekret (-)


Lapang, massa (-),sekret (+),

furunkel (-), sekret (-)


Lapang,massa (-), sekret (+),

Konka inferior

hiperemis (-)
Hipertrofi
(-),

hiperemis (-)
Hipertrofi
(-),

Meatus nasi inferior

(-),livide (+)
Tertutup, sekret (-)

Bentuk
Tanda peradangan
Daerah

sinus

frontalis

dan

(-),

massa

(-),

hiperemis

(-),

massa

(-),

hiperemis

(-),livide (+)
Tertutup, sekret (-)

28

Konka Medius

Hipertrofi

(-),

hiperemis

Hipertrofi

(-),

hiperemis

Meatus nasi medius


Septum nasi

(-),livide (+)
Tidak terlihat
Deviasi (-), hematoma (-),

(-),livide (+)
Tidak terlihat
Deviasi (-), hematoma (-),

abses (-)

abses (-)

Rhinopharhinx

Koana

: Tidak dilakukan

Septum nasi posterior

: Tidak dilakukan

Muara tuba eustachius : Tidak dilakukan

Tuba eustachius

: Tidak dilakukan

Torus tubarius

: Tidak dilakukan

Post nasal drip

: Tidak ada (-)

Pemeriksaan Transluminasi
Sinus Frontas kanan, Kiri

: tidak dilakukan

Sinus Maxilla kanan, Kiri

: tidak dilakukan

Tenggorokan
Pharynx
Dinding pharynx

: Hiperemis (-), Ulkus (-), mukosa tidak rata, granul (+)

Arcus

: Hiperemis (-), simetris

Tonsil

: T1-T1 tenang, hiperemis (-), kripta (-), detritus (-)

Uvula

: Di tengah, bifida (-), simetris, tidak memanjang

Gigi

: gigi berlubang (-), caries (-), gigi palsu (-)

Larynx
Epiglotis

: Tidak dilakukan

Plica aryepiglotis

: Tidak dilakukan

Arytenoidds

: Tidak dilakukan

Ventricular band

: Tidak dilakukan

Pita suara

: Tidak dilakukan
29

Rima glotidis

: Tidak dilakukan

Cincin trachea

: Tidak dilakukan

Sinus Piriformis

: Tidak dilakukan

Kelenjar limfe submandibula dan servical: tidak adanya pembesaran pada inspeksi dan palpasi.
RESUME
Anamnesis
Seorang gadis berusia 19tahun, datang ke poliklinik dengan keluhan hidung tersumbat
sejak 1 minggu yang lalu. Pasien juga mengatakan sering bersin-bersin dan hidung tersumbat
yang hilang timbul sudah sejak 2 tahun yang lalu. Keluhan muncul terutama pada pagi hari dan
saat terkena udara dingin atau terpapar AC. . Pasien mengatakan ibu dan kakak pasien
mempunyai riwayat penyakit yang sama seperti ini. Saat ini pasien tidak ada alergi seperti
terhadap makanan maupun obat-obatan.
Pemeriksaan Fisik
Telinga
-

Pada pemeriksaan menggunakan otoskop, tidak ditemukan adanya kesuraman pada


membran timpani.

Pada pemeriksaan penala tidak didapatkan gangguan pada pendengaran.

Hidung
Konka inferior kanan dan kiri tampak livid. Terdapat sekret pada cavum nasi kanan dan
kiri. Meatus nasi dextra sinistra tertutup.
Tenggorok
Pada pemeriksaan faring dinding posterior tidak hiperemis dan tampak bergranul.

IV. DIAGNOSIS KERJA


Rhinitis Alergi
Dasar yang mendukung:
Anamnesis
- Riwayat bersin dan tersumbat di pagi hari yang hilang timbul
- Keluhan diperberat apabila terpapar dingin (alergi dingin)
Pemeriksaan fisik:
30

Kavum nasi terdapat sekret dan konka inferior livid

Rhinosinusitis Akut
Dasar yang mendukung :

Anamnesis :
- Sekret hidung encer dan banyak, namun kelamaan menjadi kental
- Keluhan ini sering dialami pasien
Pemeriksaan Fisik :
- Pada pemeriksaan rhinoskopi anterior terdapat sekret di vestibulum, meatus nasi
-

inferior tertutup
Pada pemeriksaan rhinoskopi posterior terlihat meatus nasi inferior tertutup

V. RENCANA PEMERIKSAAN LANJUTAN


1. Skin test
2. Rontgen sinus paranasal
PENATALAKSANAAN
Non-medikamentosa :

Hindari paparan alergen

Menjaga higienitas hidung

Menjaga kesehatan tubuh

Medika mentosa :
Antihistamin
Antihistamin generasi pertama, yang dapat menyebabkan gejala mengantuk pada
kebanyakan orang. Contoh obat antihistamin ini yaitu diphenhydramine dan klorfenamin

Antihistamin generasi kedua, yang biasanya tidak menyebabkan gejala mengantuk dan
contoh obat antihistamin atau merk obat antihistamin ini termasuk loratadin dan
cetirizine

Dekongestan

31

Golongan obat ini tersedia dalam bentuk topikal maupun sistemik. Onset obat topikal
jauh lebih cepat daripada preparat sistemik., namun dapat menyebabkan rhinitis medikamentosa
bila digunakan dalam jangka waktu lama.
Obat dekongestan sistemik yang sering digunakan adalah pseudoephedrine HCl dan
Phenylpropanolamin HCl. Obat ini dapat menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah. Dosis
obat ini 15 mg untuk anak 2-5 tahun, 30 mg untuk anak 6-12 tahun, dan 60 mg untuk dewasa,
diberikan setiap 6 jam. Efek samping dari obat-obatan ini yang paling sering adalah insomnia
dan iritabilitas.
Antibiotik
Pemberian antibiotik harus berdasarkan gejala klinis. Pada pasien ini diduga disebabkan
oleh bakteri karena gejala sudah berlangsung selama 7 hari dan terdapatnya perubahan sekret
menjadi kental yang menandakan adanya infeksi bakteri akut. Dapat diberikan golongan
penisilin (amoksisilin 500 mg 3 kali sehari) atau eritromisin bagi yang alergi.
-

Steroid topikal/intranasal seperti flutikason, beklometason, mometason, budesonide Anjuran:

flutikasone propionat 2x2 semprot sehari.


Cuci hidung dengan infus NaCl 0,9%
Reevaluasi setelah 4 minggu pengobatan

PROGNOSIS
Ad vitam

: Bonam

Ad sanationam : Dubia ad bonam


Ad fungtionam : Dubia ad bonam
PEMBAHASAN
Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik THT yang dilakukan pada pasien ini, maka
dapat ditegakan diagnosis kerja yaitu rhinitis alergi intermiten ringan dan rhinosinusitis akut.
Hasil anamnesis yang mendukung adalah gejala hidung sering tersumbat dan bersin-bersin
terutama pada pagi hari. Keluhan tersebut muncul terutama ketika terpapar udara dingin.
Pada pemeriksaan fisik hidung didapatkan konka inferior kanan dan kiri tampak livid.
Terdapat sekret pada cavum nasi kanan dan kiri. Dan meatus nasi dextra sinistra tertutup.
Dengan gejala yang mendukung tersebut maka penulis mengambil kesimpulan adanya
rhinitis alergi intermiten ringan dan rhinosinusitis.
32

Pemberian pengobatan antihistamin. Antihistamin yang diberikan dalam hal ini adalah
antihistamin generasi kedua yang tidak menimbulkan efek sedatif seperti loratadin 10 mg
diberikan 1 kali sehari selama 5 hari, dekongestan oral seperti pseudoefedrin 60 mg 3x1 selama
3 hari, NaCl cuci hidung untuk membersihkan hidung, steroid topikat (intranasal) flutikasone
propionat 2x2 semprot sehari, dan antibiotik cefixime 100mg 2xsehari
Prognosis ad vitam adalah bonam karena tidak mengancam nyawa pasien. Ad sanationam
adalah dubia ad bonam karena bila pengobatan tidak adekuat dan kontak dengan alergen tidak
dihindari maka dapat memperparah sinusitis. Ad functionam adalah dubia ad bonam
KESIMPULAN
Rinitis alergi adalah kelainan berupa inflamasi pada hidung dengan gejala bersin-bersin,
rinore, rasa gatal, dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh
IgE. Pemeriksaan alergi dengan tes kulit terhadap berbagai alergen mungkin dapat menunjang
penegakan diagnosis rinitis alergi. Pengobatan rinitis alergi bergantung pada tingkat keparahan
penyakit. Namun yang terpenting adalah dengan menghindari alergen pemicu.
Rhinosinusitis didefinisikan sebagai inflamasi sinus paranasalis. Penyebab utamanya
ialah infeksi virus yang kemudian diikuti oleh infeksi bakteri. Secara epidemiologi yang paling
sering terkena adalah sinus etmoid dan maksilla. Rhinosinusitis bisa terjadi pada salah satu dari
keempat sinus yang ada (maksilaris, etmoidalis, frontalis atau sfenoidalis). Rhinosinusitis bisa
bersifat akut (berlangsung selama 3 minggu atau kurang) maupun kronis (berlangsung selama 38 minggu tetapi dapat berlanjut sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun). Bila mengenai
beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut
pansinusitis

DAFTAR PUSTAKA
1. Soepardi A, Iskandar N, Basshirudin J, dkk. Telinga, hidung, teggorok, kepala dan leher.
Edisi ke-6. Jakarta: FKUI; 2007.h. 118-310.
2. Gurkov R, Nagel P. Dasar-dasar ilmu THT. Edisi ke-2. Jakarta: EGC; 2012.h. 34-41.
3. Boies, L. R. Penyakit telinga luar: BOIES Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke-6. Balai
Penerbit Buku Kedokteran EGC; Jakarta: 1997.h.76-9.

33

4. Soetirto I, Hendarmin H, Bashiruddin J. Gangguan Pendengaran (Tuli) : Buku Ajar Ilmu


Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi ke-7. Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; Jakarta: 2014.h.10-8.
5. Kridel RWH, Kelly PE, MacGregor AR. The nasal septum. In: Cummings, C.W., et al.
Otolaryngology Head & Neck Surgery. 4th Ed. Philadelphia: Mosby; 2005. P.1001.
6. Bailey B.J., Johnson J. T., Newlands S. D., Head & Neck Surgery Otolaryngology. 4th
Edition. Lippincot Williams & Wilkins. Philadelphia:2006.p.78-88.
7. Restuti RD, Bashiruddin J, Damajanti S, Soepardi EA, Iskandar N.Kelainan telinga luar.
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi keenam.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007.h.50-1.
8. Sanico A, Togias A. Noninfectious, nonallergic rhinitis (NINAR). Dalam: Lalwani
KA,Ed. Current Diagnosis & Treatment Otolaryngology Head and Neck Surgery second
edition. New York: Lange McGrawHill Comp, 2007.p. 112-117

34