Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

ULUMULHHADIST

KEDUDUKANHSUNNAHHDALAMH

PEMBENTUKANHSYARIAT

ULUMULHHADIST KEDUDUKANHSUNNAHHDALAMH PEMBENTUKANHSYARIAT DISUSUNHOLEHH: AZIZHNURROCHMAN MA’NUSATULHKHAORO PAIHIIIHA

DISUSUNHOLEHH:

AZIZHNURROCHMAN

MA’NUSATULHKHAORO

PAIHIIIHA

FAKULTASHTARBIYAH

INSITUTHAGAMAHISLAMHNAHDLATULHULAMA

KEBUMEN

TAHUNH2016

Daftar Isi

Halaman Judul

i

Kata Pengantar

i

Daftar Pustaka

iii

BAB I

PENDAHULUAN

Latar belakang Masalah

1

Rumusan Masalah

1

Tujuan Penulisan

1

BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian Sunnah

2

Kedudukan Sunnah Dalam Pembentukan Syariah

3

Fungsi Sunnah Dalam Sebagai Sumber Hukum Islam

5

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

9

Daftar Pustaka

10

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufik dan hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Ulumul Hadis ysng berjudul Kedudukan Sunnah Dalam Pembentukan Syariat.

Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dan kami haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Wahyuni Syifaturrohman, M.Si selaku dosen yang membimbing kami dalam penyusunan makalah ini, sehingga dapat selesai dengan baik.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca semua. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya.

Kebumen, 3 Oktober 2016

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah Allah Swt telah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw dan memberikan hak serta wewenang kepada beliau untuk menjelaskan Al- Qur’an. Sehingga dengan Al-Qur’an dan Sunnah mendapat petunjuk ke jalan yang lurus. Tidak ada jalan yang benar kecuali jalan Al-Qur’an dan Sunnah. Umat Islam sejak zaman Nabi meyakini bahwa Sunnah merupakan sumber ajaran Islam disamping Al-Qur’an. Rasulullah Saw bersabda, ”Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Al-Hakim dan al-Baihaqi). Sebagai sumber hukum Islam, Sunnah memegang peranan penting sebagai penjelasan atas apa yang ada di dalam Al-Qur’an. Umat islam tidak akan pernah dapat menjalankan ketentuan hukum dan cara ibadah tanpa melihat keterangan atau praktek yg di contohkan oleh Rasululloh Saw. Seperti kita ketahui sebagai penjelasan dari Al-Qur’an, karena hukum dan kewajiban yang terdapat dalam Al-Qur’an hanya bersifat umum dan global.

2. Rumusan Masalah

a. Apa pengertian Sunnah?

b. Bagaimana kedudukan dalam pembentukan syariat?

c. Apa sajakah fungsi Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam?

3. Tujuan Penulisan

a. Untuk mengetahui pengertian Sunnah.

b. Untuk mengetahui kedudukan Sunnah dalam pembentukan Syariat.

c. Untuk mengetahui fungsi Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam.

1
1

BAB II PEMBAHASAN

1. Pengertian Sunnah Sunnah menurut bahasa, berarti jalan (yang dilalui) baik yang terpuji maupun yang tercela atau jalan yang lurus ataupun tuntunan yang tetap (konsisten). Bila kata sunnah disebutkan dalam masalah yang berhubungan dengan hukum syara’ maka yang dimaksudkan adalah segala sesuatu yang diperintahkan, dilarang, atau dianjurkan oleh Rasululloh Saw, baik berupa perkataan atau perbuatannya. Dengan demikian, apabila dalam dalam dalil hukum syara’ disebutkan Al Kitab dan As-Sunnah maka yang dimaksudkan adalah Al-Qur’an dan Al-Hadist. Sedangkan arti sunnah menurut istilah, ialah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhamad Saw. Baik berupa perkataan, perbuatan, takrir, budi pekerti, perjalanan hidup baik sebelum menjadi rasul atau sesudahnya. Secara umum, Sunnah merupakan segala sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang yang dipakai dalam hadis, yang pada prinsipnya Sunnah

berarti jalan. Dikalangan ulama terdapat perbedaan pendapat. Hal ini disebabkan perbedaan pendapat. Hal ini disebabkan perbedaan latar belakang dan persepsi masing-masing terhadap diri Rasulullah Saw. 1 Ulama yang bergelut di bidang dakwah mendefinisikan sunnah ialah apa saja yang bukan bid’ah. Sunnah menurut istilah syar’i ialah sabda, perbuatan dan persetujuan yang berasal dari Rasulullah SAW. Sesuai dengan hal-hal tersebut maka Sunnah dibedakan menjadi 3 yaitu :

a. Sunnah Qauliyah (Perkataan)

b. Sunnah Fi’liyah (Perbuatan)

c. Sunnah Taqririyah (Persetujuan) 2

1 Buku sing nang perpusda 2 Prof. Dr. Muhamad Alawi Al-Maliki, Ilmu Ushul Hadist, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2006

2
2

2. Kedudukan Sunnah dalam Pembentukan Syariat Kedudukan sunnah dari segi statusnya sebagai dalil dan sumber ajaran islam, menurut jumhur ulama adalah menempati posisi kedua setelah Al- Qur’an. Hal tersebut bisa dipahami dari hadits yang berasal dari Mu’adz yang artinya: Tatkala Rasulullah Saw hendak mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau bertanya kepada Mu’adz, “Bagaimana engkau memutuskan perkara jika diajukan kepadamu?”. Mu’adz menjawab, “Aku akan memutuskan berdasarkan kitab Allah (Al-Quran).” Rasul bertanya lagi, “Apabila engkau tidak menemukan jawabannya di dalam Kitab Allah ?” Mu’adz berkata, “Aku akan memutuskannya dengan sunnah.” Rasul selanjutnya bertanya, “Bagaimana kalau engkau juga tidak menemukannya di dalam sunnah dan tidak di dalam Kitab Allah ?” Mu’adz menjawab, “Aku akan berijtihad dengan menggunakan akalku” Rasul SAW menepuk dada Mu’adz seraya berkata, “Alhamdulillah atas taufik yang telah dianugerahkan Allah kepada utusan RasulNya.”. dan juga firman Allah dalam Qur’an surat An-Nisa Ayat 59, yang artinya : “Wahai orang orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya, dan ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia (masalah tersebut) kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (Hadits) jika kamu benar benar beriman kepada Allah dan hari kemudian”. Sunnah adalah sumber hukum Islam yang kedua. Oleh karena itu, kewajiban mengikuti, kembali, dan berpegang teguh pada sunnah merupakan perintah Allah SWT dan juga perintah Nabi SAW, pembawa syariat yang agung. Perintah itu tertuang dalam Firman-Nya sebagai berikut:

a. “Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul (Nya) dan berhati-hatilah” (QS. Al-Maidah: 92) b. “Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah” (QS. An-Nisa: 80)

c. “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarang bagimu maka tinggalkanlah” (QS. Al-Hasyr :7)

3
3

Kemudian Nabi Muhamad Saw bersabda :

“Aku tinggalkan kepadamu sesuatu. Selama kamu sekalian berpegang teguh padanya, niscaya kamu sekalian tidak akan tersesat sepeninggalanku, yaitu Al-Qur’an dan Sunnahku”. 3 Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka orang-orang yang mengingkari sunnah sebagai hujjah, dengan dalil cukup mengamalkan Al-Qur’an, sungguh mereka itu terlalu kecil dan rendah. Mereka benar-benar telah terjerumus ke dalam kebathilan dan kesalahan. Seruan mereka agar taat kepada Allah dan mengikuti Al-Qur’an, tanpa mengikuti sunnah, itu merupakan perbuatan maksiat dan bid’ah. Al-Qur’an secara tegas menyebutkan, bahwa orang-orang yang tidak mau mendasarkan hukum-hukumnya dan mengembalikan segala persoalannya kepada Rasulullah saw, serta tidak mau tunduk dan patuh secara total terhadap hukum-hukum dan perintah-perintahnya dengan penuh kesadaran, adalah termasuk orang-orang yang tidak beriman. Firman Allah SWT:

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa : 65) Tidak ada konotasi makna lain dari mengambil hukum dan kembali kepada Nabi saw, selain hanya kembali dan tunduk kepada sunnahnya. Al- Qur’an menunjukkan kepada kita, bahwa tidak ada pilihan lain bagi orang mukmin untuk memilih hukum yang lain selain hukum-hukum Allah dan hukum-hukum RasulNya. Orang yang melanggar hukum Allah dan hukum RasulNya disebut Durhaka. Allah SWT berfirman:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan

3 Prof. Dr. Muhammad Alawi Al-Maliki, Ilmu Ushul Hadis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2006. Hal 5 - 6

4
4

sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzaab: 36) Nabi Saw memberitahukan kepada kita berdasarkan petunjuk Allah, bahwa akan datang orang-orang yang ingkar terhadap sunnah, dan kini realitanya memang ada. Dengan munculnya sekelompok orang yang menamakan dirinya Islam, namun anti Sunnah, adalah sebagai pemberitaan Allah SWT mengenai mukjizat NabiNya. Islam sebenarnya sama sekali lepas dari kelompok-kelompok umat seperti itu.

3. Fungsi Sunnah Sebagai Sumber Hukum Islam Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup, sumber hukum, dan ajaran Islam, tidak dapat dipisahkan antara satu dan lainnya. Al-Qur’an sebagai sumber pertama memuat ajaran-ajaran yang bersifat umum, dan global, sedangkan sunnah sebagai sumber ajaran kedua tampil untuk menjelaskan (bayan) 4 keumuman isi Al-Qur’an tersebut. Hal ini sesuai firman Alloh Swt dalam surat An-Nahl Ayat 44 :

Artinya :

“Dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia”.

a. Sebagai pengukuh (ta’kid) terhadap ayat-ayat Al-Qur’an Sunnah diartikan sebagai pengukuh ayat-ayat Al-Qur’an apabila makna yang terkandung di dalamnya cocok dengan makna yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Nabi saw bersabda:

“Sesungguhnya Allah swt memanjangkan kesempatan kepada orang-

4 Bayan adalah pertimbangan untuk pengambilan hukum

5
5

orang zalim, apabila Allah menghukumnya maka Allah tidak akan melepaskannya. Hadist tersebut cocok dengan firman Allah swt: “Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri yang berbuat

zalim,” (QS. Huud: 102). Hadist yang befungsi sebagai pengukuh (penta’kid) ayat-ayat Al- Qur’an jumlahnya banyak sekali, seperti hadis-hadis yang menunjukkan atas wajibnya shalat, zakat, haji, amal, berbuat baik, memberi maaf, dan sebagainya.

b. Sebagai penjelasan terhadap maksud ayat-ayat Al-Qur’an Sunnah dalam fungsi ini terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

- Menjelaskan ayat-ayat mujmal Hadis dalam fungsi ini di antaranya ialah hadis yang menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadah dan hukum- hukumnya, dari segi praktiknya, syarat, waktu dan tatacaranya, seperti masalah shalat dimana di dalam Al-Qur’an tidak disebutkan secara rinci tentang bilangan rakaat, waktu, rukun, syarat, dan sebagainya. Tetapi semua itu dijelaskan oleh sunnah.

- Membatasi lafadz yang masih muthlaq dari ayat-ayat Al-Qur’an Hadis yang membatasi kemutlakan lafadz dari ayat-ayat Al-Qur’an ialah seperti hadis-hadis yang menjelaskan tentang lafadz Al-Yad (tangan) yang terdapat dalam ayat Al-Qur’an: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah kedua tangannya” (QS.Al-Maidah : 38) Bahwa yang dimaksud memotong tangan dalam ayat tersebut adalah tangan kanan dan pemotongannya adalah sampai pergelangan tangan, tidak sampai siku.

6
6

- Mengkhususkan ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat umum. Hadis dalam kategori ini ialah seperti hadis yang mengkhususkan makna zalim dalam firman Allah Swt: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman” (QS. Al-An’am : 82) Bahwa yang dimaksud zalim pada ayat tersebut adalah menyekutukan Tuhan. Peristiwanya ialah sewaktu ayat tersebut turun, sebagian sahabat mengira bahwa yang dimaksud zalim pada ayat tersebut ialah zalim dalam arti umum, sehingga dia berucap. ”Siapakah dia antara kita yang tidak zalim?” kemudian Nabi saw menjawab, “Bukan itu yang dimaksud tetapi yang dimaksud zalim pada ayat itu ialah menyukutukan Allah (Syirik)”.

- Menjelaskan makna lafadz yang masih kabur Diantaranya ialah seperti hadis yang menjelaskan makna dua lafadz “Al-Khaithu”, dalam firman Allah Swt: “Dan makan minumlah kamu hingga jelas bagimu benag putih dan benang hitam. Yaitu fajar.” (QS. AL-Baqarah : 187) Peristiwanya ialah sebagian sahabat ada yang mengira bahwa yang dimaksud dengan benang dalam ayat itu ialah tali yang berwarna putih dan hitam. Kemudian, Nabi Saw bersabda, bahwa yang dimaksud ialah terangnya siang dan gelapnya malam.

c. Menetapkan hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an Contoh sunnah semacam ini banyak sekali, seperti hadis-hadis yang menetapkan hukum haram mengawini (Poligami) seorang perempuan berserta bibinya, riba fadhal, dan daging himar piaraan.

d. Menghapus ketentuan hukum dalam Al-Qur’an Sebagian ulama ada yang membolehkan sunnah menghapus ketentuan hukum dalam Al-Qur’an diantaranya ini seperti hadis:

7
7

“Tidak boleh berwasiat (memberikan harta peninggalan) kepada ahli waris”. Hadis tersebut menghapus ketentuan hukum dalam Al-Qur’an tentang diperbolehkannya wasiat kepada ahli waris, baik kepada kedua orang tua, atau kerabat-kerabat waris lainnya, sebagaimana firman Allah swt:

“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang diantara kamu kedatangan ( tanda-tanda) maut jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa” (QS.Al-Baqarah: 180)

8
8

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan Secara garis besar, makna dari kata Sunnah adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhamad Saw. Baik berupa perkataan, perbuatan, takrir, budi pekerti, perjalanan hidup baik sebelum menjadi rasul atau sesudahnya. Sunnah dilakukan untuk menuju pada kebaikan, sebagai bukti bahwa manusia taat kepada perintah-perintah Alloh Swt dan taat pada rasulNya. Kedudukan sunnah pada pembentukan syariat menempati posisi kedua setelah Al-Qur’an. Karena perintah-perintah di dalamAl-Qur’an masih bersifat umum. Dengan demikian sunnah tampil sebagai menjelaskan (bayan) dari perintah tersebut.

a.

Sebagai pengukuh (ta’kid) terhadap ayat-ayat Al-Qur’an

b.

Sebagai penjelasan terhadap maksud ayat-ayat Al-Qur’an

c.

Menetapkan hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an

d.

Menghapus ketentuan hukum dalam Al-Qur’an

9
9

Daftar Pustaka

Prof. Dr. Muhammad Alawi Al-Maliki, Ilmu Ushul Hadis, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006

Drs. H. Mudasir,Ilmu Hadist, Bandung: Pustaka Setia, 1999 Drs. M. Solahudin, Agus Suyadi, Ulumul Hadist, Bandung: Pusaka Setia, 2009

http://faisalchoir.logspot.com/2012/06/kedudukan-as-sunnah-dalam-syariat-

islam.html?m=1.13.40

10
10