Anda di halaman 1dari 13

PANDUAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)

DENGAN PERAWATAN METODE KANGGURU (PMK)


I.

Latar Belakang
Sesuai isi deklarasi bogota tentang Perawatan Metode Kangguru tahun 1998 :
A. Perawatan Metode Kangguru harus menjadi hak dasar bagi bayi baru lahir
B. Perawatan Metode Kangguru harus menjadi bagian integrasi dari manajemen BBLR
dan bayi normal, dalam berbagai kondisi dan pada semua tingkat pelayanan disemua
Negara
Program PMK terdiri atas empat komponen yaitu :
1. Kangaroo position yaitu posisi kangguru (kangaroo position merujuk pada kontak
kulit ibu dengan kulit bayi)
2. Kangaroo nutrition yaitu kangaroo nutrition merujuk pada praktek pemberian ASI
yang diperkuat dengan kontak kulit ibu dengan kulit bayi
3. Kangaroo discharge yaitu Kangaroo discharge merujuk pada kelanjutan praktek
PMK di rumah setelah keluar dari rumah sakit
4. Kangaroo support yaitu Kangaroo support merupakan bentuk dukungan PMK dapat
berupa dukungan fisik maupun emosional kepada ibu.

II.

Pengertian
A. Perawatan Metode Kangguru (PMK) adalah perawatan Bayi Beral Lahir Rendah
dengan melakukan kontak langsung antara kulit bayi dengan kulit ibu (skin to skin
contact)
B. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah kelompok bayi berat lahir dengan berat
kurang dari 2500 gram tanpa memandang usia kehamilannya, baik premature atau
cukup bulan
C. PMK berselang (continuous KMC) adalah perawatan Metode Kangguru yang di
praktekkan selama 24 jam terus menerus dalam sehari
D. PMK berselang (intermitten KMC) adalah perawatan Metde Kangguru yang di
praktekkan selama beberapa jam atau tiap beberapa hari
E. Bangsal/Unit PMK adalah sarana kesehatan untuk mempraktekkan PMK

III.

Tujuan Pelayanan Perawatan Metode Kangguru


Sebagai proses untuk meningkatkan pelayanan kepada pasien mengenai pelayanan
Perawatan metode kangguru, dengan cara :
A. Untuk menurunkan angka mortalitas dan morbiditas BBLR
B. Untuk meningkatkan keikut sertaan ibu dan keluarga dalam perawatan BBLR

IV.

Ruang Lingkup
Pelayanan Perawatan Metode Kangguru dapat dilakukan pada pasien yang dirawat di
ruang :
A. IRNA (Bersalin)
Semua petugas yang bekerja di rumah sakit harus memahami bahwa semua pasien yang
dirawat inap berhak mendapatkan pelayanan metode kangguru dan semua petugas tersebut
memiliki peran untuk membantu pasien.

V.

Tatalaksana
A. Petugas penanggung jawab :
1. Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP)
2. Perawata Penanggung Jawab Pelayanan (PPJP)
B. Perangkat Kerja
1. Status Rekam Medis Pasien
2. Buku KIA
C. Tatalaksana
1. Perawatan Metode Kangguru
Perawatan metode kanguru (PMK) adalah perawatan untuk BBLR dengan
melakukan kontak langsung antara kulit bayi dengan kulit ibu (skin-to-skin
contact). Metode ini sangat tepat dan mudah dilakukan guna mendukung
kesehatan dan keselamatan BBLR.
Esensinya adalah:
a. Kontak badan langsung (kulit ke kulit) antara ibu dengan bayinya secara
berkelanjutan, terus-menerus dan dilakukan sejak dini.
b. Pemberian ASI eksklusif (idealnya).
c. Dimulai dilakukan di RS, kemudian dapat dilanjutkan di rumah.
d. Bayi kecil dapat dipulangkan lebih dini.
e. Setelah di rumah ibu perlu dukungan dan tindak lanjut yang memadai.
f. Metode ini merupakan metode yang sederhana dan manusiawi, namun
efektif untuk menghindari berbagai stres yang dialami oleh BBLR selama
perawatan di ruang perawatan intensif.

Gambar 1. Metode Perawatan Kangguru


D. Komponen Perawatan Metode Kangguru
1. Kangaroo Position (posisi)
2. Kangaroo Nutrition (nutrisi)
3. Kangaroo Discharge (dukungan)
4. Kangaroo Support (pemulangan)
E. Konsep Pelayanan
1. Dilakukan secara komprehensif (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative)
2. Hospital based dan community based
3. Harus diintegrasi dengan pelayanan yang ada
4. Semua tindakan harus terdokumentasi
5. PMK utamanya merupakanm intevensi perawatan dengan dukungan medis
F. Alur pasien dalam pelayanan
Bayi dengan Berat Lahir Rendah bias mendapatkan perawatan Metode Kangguru
(PMK) di dalam dan luar rumahs akit. Bayi-bayi yang masih memerlukan fasilitas
perawatan spesialistik di rawat di Rumah Sakit. Sedangkan bayi-bayi dengan
kondisi umum stabil, toleransi minum baik dan ibu dianggap mampu melakukan
PMK dapat dirawat di luar RS atau di rumah dengan pengawasan tenaga kesehtan
terlatih. Jika bayi kembali masuk dalam keadaan gawat dapat langsung dating ke
RS/UGD.

Pasien
UGD

Polikilinik
3

NICU
(Level III)

Rumah

Ruang
Bersalin
Spesial
Care Poliklinik/
(Level II)
Puskesmas
DISCHARGE

Ruang Rawat
Gabung (Level I)

G. Prosedure/Alogaritma Pelayanan
Pelayanan PMK di berikan sesuai dengan standar profesi, procedure pelayanan
sebagai berikut :
1. PMK pada BBLR dilakukan setelah pemeriksaan dan persetujuan oleh
tenaga medis (dokter)
2. Setelah dokter memutuskan bahwa BBLR dapat dilakukan PMK,
selanjutnya inisiasi oleh tenaga keperawatan
3. Keluarga pasien diberikan informasi mengenai pelayanan PMK, setelah
setuju maka kelauarga menandatangai informed consent
4. Edukasi kepada keluarga pasien mengenai pelaksanaan PMK, sesuaikan
dengan level perawatan bayi :
a. Ruang Rawat PMK (level I) : dilakukan PMK secara kontinyu
b. Level II-III : PMK intermitten
5. Melatih keluarga untuk melakukan PMK terutama mengenai posisi bayi,
cara menyusui dan personal hygiene. Setelah keluarga dilatih maka
dilakukan uji coba penerapan PMK (dengan persetujuan dokter)
6. Perawat melakukan observasi terhadap pasien dan kelurga pasien selama
melaksnakan perawatan PMK
7. Pulang dan kunjungan control :
a. Pemulangan (discharge) pasien dapat dilakukan setelah mendapat
persetujuan dari dokter
b. Pada saat pulang keluarga diberikan edukasi menganai hal-hal yang
perlu di lakukan dan diperhatikan selama melakukan PMK di rumah.
Dapat di berikan catatan menganai kesehatan bayi menggunakan buku
KIA atau sejenisnya.
c. Kunjungan control dapat dilakukan ditempat pemberi layanan RS atau
fasilitas kesehatan di luar rumah sakit (puskesmas, klinik, dokter/bidan
swasta) apabila pasien sebelumnya merupakan kiriman/rujukan dari
sarana pelayanan kesehatan tersebut.

H. Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan merupakan satu rangkaian kegiatan keperawatan dalam
upaya memenuhi kebutuhan bayi baru lahir dan keluarganya. Pendekatan yang
digunakan adalah proses keperawatan yaitu suatu pendekatan sistematis
dimulai dari pengkajian, perumusan masalah, intervensi, implementasi dan
evaluasi. Untuk mengidentifikasi masalaha pemenuhan kebutuhan dasar bayi
baru lahir secara optimal, pengkajian harus dilakukan secara seksama baik itu
pengkajian pada bayi maupun pengakajian terhadap kebutuhan belajar dari
orang tua bayi.
Perawatan Metode Kangguru utamanya intervensi perawatan BBLR dengan
dukungan medis. Sehingga dapat lebih banyak berperan untuk melatih dan
mendidik Ibu adalah perawat atau bidan terlatih. Untuk itu perlu diperhatikan
hal-hal yang terkait dengan asuhan keperawatan yang diberikan tidak hanya
kepada si bayi tetapi juga kepada Ibu, bahkan keluarganya. Dalam memberikan
asuhan keperawatan PMK, komponen yang perlu dilakukan adalah :
1. Edukasi kepada Ibu
Ada sua macam edukasi, yaitu saat :
a. Periksa kahamilan (ANC)
b. Setelah persalinan dengan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
Edukasi yang diberikan berisi :
a. Apa dan bagaimana terjadinya BBLR
b. Penanganan BBLR, dimana diantaranya dengan PMK
c. Informasi tentang PMK mulai dari tujuan samapai manfaatnya
d. Membangun kesadaran akan pentingnya mencegah dan menangani
masalah BBLR
2. Konseling
Konseling adalah cara berhubungan dengan oaring dimana anda mengerti
apa yang mereka rasakan dan menolong mereka untuk memutuskan yang
harus dilakukan.
Prinsip-prinsip konseling :
a. Menggunakan komunikasi bahasa non verbal
b. Pertanyaan terbuka
c. Merespon bahasa tubuh yang menunukkan minat
d. Mengulang ucapan Ibu
e. Emapti-perlihatakan bahwa anda mengerti yang ibu rasakan
f. Hindari kata-kata yang menghakimi
Setelah dikonseling dan ibu memutuskan untuk PMK maka dilanjutkan
dengan latihan penerapan

Pendidikan dan konseling merupakan metode pemberian informasi dalam


uapaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga, informasi
tentang PMK merupakan dasar bagi keluarga dalam memutuskan
kesediaanya melakukan PMK. Tujuan akhir dari kegiatan ini adalah
keluarga mampu melaksanakan perawatan metode kangguru di rumah.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, perawat dan tenaga kesehatan lain
harus memiliki keterampilan dalam memberikan informasi, memahami
perawatan metode kangguru, dan memahami kesiapan keluarga dalam
menerima informasi. Factor-faktor tersebut dapat mempengaruhi kualitas
informasi yang diterima oleh keluarga yang pada akhirnya mempengaruhi
perubahan perilaku keluarga terhadap pelaksanaan PMK.
Keluarga merupakan pemberi asuhan utama bayi premature keluar dari
rmah sakit memlalui pemberian pendidikan kesehatan dan konseling
sangatlah penting mengingat bayi premature memerlukan perawatan khusus
dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
3. Perawatan Metode Kangguru
a. Persiapan
Sebelum ibu mampu melakukan PMK dilakukan latihan untuk adaptasi
selama lebih kurang 3 hari. Saat melakukan latihan ibu diajarkan juga
personal hygiene : dibiasakan mencuci tangan, kebersihan kulit bayi
(tidak di mandikan hanya dengan baby oil), kebersihan tubuh ibu
dengan mandi sebelum melakukan PMK. Serta diajarkan tanda-tanda
bahaya seperti :
1) Kesulitan bernapas (dada tertarik ke dalam, merintih)
2) Bernapas sangat cepat atau lambat
3) Serangan henti napa (apnea) sering dan lama
4) Bayi terasa dingin : suhu bayi di bawah normal walaupun telah
dilakukn penghangatan
5) Sulit minum : bayi tidak lagi terbangun untuk minum, berhenti
minum atau muntah
6) Kejang
7) Diare
8) Sclera/kulit menjadi kuning
1. Pelaksanaan
Dalam pelaksanaan PMK perlu diperhatikan 4 komponen PMk, yaitu :
1. Posisi bayi
Lakukan bayi di antara payudara dengan posisi tegak, dada bayi menempel
kedada ibu. Posisi bayi di jaga dengan kain pajang atau pengikat lainnya.
6

Kepala bayi di palingkan kesisi kanan atau kiri, dengan posisi sedikit tengadah
(ekstensi). Ujung pengikat tepat berada dibawah kuping bayi. Tungkai bayi
haruslah dalam posisi kodok, tangan harus dalam posisi fleksi. Ikatkan kain
dengan kuat agar saat ibu bangun dari duduk bangun dari duduk, bayi tidak
terglincir. Pastikan juga bahwa ikatan yang kaut dari kain tersebut menutupi
dada si bayi. Perut bayi jangan sampai tertekan dan sebaiknya berada di sekitar
enigastrium ibu. Dengan cara ini bayi dapat melakukan pernapasan perut.
Berikut adalah cara memasukkan dan mengeluarkan bayi dari baju kangguru,
misalnya saat akan disusui.
a. Pegang bayi dengan satu tangan di latakkan di belakang lehe sampai
punggung bayi
b. Topang bagian bawah rahang bayi dengan ibu jari dan jari-jari lainnya agar
kepala bayi tidak tertekuk dan tak menutupi saluran napas ketika bayi berada
pada posisi tegak
c. Tempatkan tangan lainnya di bawah pantat bayi

Gambar 2. Memposisikan Bayi Untuk PMK


2. Nutrisi dengan penberian ASI
Dengan melakukan PMK, proses menyusui menjadi lebih berhasil dan sebagian
besar bayi yang di pulangkan memperoleh ASI. Bayi pada kehamilan kurang
dari 30-32 minggu biasanya perlu diberi minum melalui pipa nasogastrik, untuk
ASI yang dip eras (expressed breast milk). Bayi dengan masa kehamilan 32-43
minggu dapat di beri minum melalui gelas kecil. Sedangkan bayi-bayi dengan
usia kehamilan sekitar 32 minggu atau lebih, sudah dapat dimulai menyusu ada
ibu.

Gambar 3. Menyusui Dalam PMK

3. Dukungan (support)
Saat bayi telah lahir, ibu memerlukan dukungan dari berbagai pihak,
diantaranya berupa :
a. Dukungan emosional : ibu memerlukan dukungan untuk melakukan PMK.
Banyak ibu-ibu muda yang mengalami keraguan yang sangat besar untuk
memenuhi kebutuhan bayi pertamanya sehingga membutuhkan dukungan
dari kelurga, teman serta petugas kesehatan.
b. Dukungan fisik : selama beberapa minggu pertama PMK, merawat bayi
akan sangat menyita waktu ibu. Istirahat dan tidur yang cukup sangat
penting pada peranannya pada PMK. Oleh karena itu, ibu memerlukan
dukungan untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas rumah.
c. Dukungan edukasi : sangat penting memberikan informasi yang
dibutuhkan agar ia dapat memahami seluruh proses PMK dan mengetahui
manfaat PMK. Hal ini membuat PMK menjadi lebih bermakna dan akan
meningkatkan kemungkinan bahwa ibu akan berhasil menjalankan PMK
baik di rumah sakit ataupun saat di rumah.
Dukungan bisa diperoleh dari petugas kesehatan, seluruh anggota keluarga,
ibu dan masyarakat. Tanpa adanya dukungan, akan sangat sulit bagi ibu
untuk dapat melakukan PMK dengan berhasil.
4. Pemulangan (discharge)
Pemulangan bayi dilakukan atas persetujuan dokter berdasarkan laporan
perawat. Bayi PMK dapat dipulangkan dari rumah sakit setelah memenuhi
criteria dibawah ini :
Kesehatan bayi secara keseluruhan dalam kondisi baik dan tidak ada henti
nafas (apnea) atau infeksi
a. Bayi minum dengan baik
b. Berat bayi selalu bertambah (sekurang-kurangnya 15 g/Kg/hari) untuk
sekurang-kurangnya tiga hari berturut-turut
c. Ibu mampu merawat bayi dan dapat datang secara teratur untuk melakukan
follow up
d. Mereka akan tetap memerlukan dukungan meskipun tidak sering dan
seintensif seperti sebelumnya. Jika tidak ada layanan tidak lanjut atau
lokasi rumah sakit letaknya jauh, pemulangan dapat ditunda, sebelum di
pulangkan, pastikan ibu sudah mengerti tanda-tanda bahaya pada bayi,
jadwal control bayi, monitoring tumbuh kembang dan bagaimana cara
merujuk ke rumah sakit jika ada bahaya.
5. Monitoring Kondisi Bayi
Hal hal yang harus di monitoring adalah :
9

a. Tanda vital 3x/hari (setiap ganti shift)


b. Timbang Berat Badan Bayi 1x/hari
c. Panjang badan dan lingkar kepala 1x/minggu
d. Predischarge score setiap hari
e. Jejas pasca persalinan
f. Skrining bayi baru lahir
g. Tumbuh kembang bayi : terutama panca indranya
h. Monitoring kondisi ibu
6. Monitoring kondisi ibu :
Hal hal yang perlu di monitoring, antara lain :
a. Tanda-tanda vital
b. Involusi uteri
c. Laktasi
d. Perdarahan post partum
e. Luka operasi
f. Luka perineum
7. Penanganan pencegahan
a. Untuk mencegah BBLR mendapat penyakit, maka BBLR perlu mendapat
imunisasi sesuai jadwal yang dianjurkan
b. Tanya dan cari tanda-tanda apapun yang mengindikasikan adanya penyakit,
baik yang dilaporkan atau tidak oleh ibu
c. Tangani setiap penyakit berdasarkan standar operasional procedure dan
juklak local
d. Jika pertambahan berat badan tidak mencukupi, tanya dan cari
permasalahannya,

penyebabnya

dan

solusi.

Semua

ini

umumnya

berhubungan dengan pemberian minum dan penyakit.


I. Pencatatan dan Pelaporan
Berdasarkan pencatatan dan pelaporan maka kualitas asuhan dapat diidentifikasi
dan diinginkan.
1. Pencatatan
Beberapa format pencatatan yang dapat di gunakan dalam pelaksanaan
PMK.
a. Lembar observasi Bayi Dalam PMK : di gunakan untuk memantau bayi
setiap hari, mencakup tandfa-tanda vital, berat badan, dukungan khusus
yang diberikan seperti oksigen
b. Catatan harian Berat Badan Bayi : digunakan untuk melihat kenaikan
berat badan yang dilakukan PMK secara keseluruhan. Catatan diisi setiap
hari oleh penanggung jawab PMK
10

c. Lembar Penilaian Kesiapan Pulang (predischarge scoring) : format ini


berisi tentang kondisi bayi saat menyusu, produksi ASI, rasa percaya diri
ibu dalam merawat bayi, dukungan social ekonomi, pertambahan berat
badan setiap hari, pengetahuan tentang PMK, rasa percaya diri ibu dalam
memberikan obat, penerimaan dan menerapkan PMK. Masing-masing
pernyataan diberi nilai dengan rentang 0-2. Nilai tertinggi mengambarkan
lebih siap. Criteria bayi boleh pulang adalah apabila nilai predischarge
score lebih dari 16. Penilaian dilakukan oleh pemberi asuhan.
2. Pelaporan
Laporan tentang proses pelaksanaan harus menacakup :
a. Waktu pelaksanaan PMK : hal ini mencakup pada usia beberapa hari
ratarata PMK dilakukan
b. Tipe PMK : apakah PMK dilaksanakan berselang (intermitten) atau 24
jam secara terus menerus (continuous)
c. Masalah/kendala yang dihadapi : kendala selama pelaksanaan PMK
dapat diidentifikasi melalui proses pemantauan.
Sesuai dengan sifatnya, laporan dibagi menjadi dua yaitu :
a. Laporan internal : laporan terkait pelaksanaan PMK di ruang rawat,
dilakukan secara berkala setiap bulan
b. Laporan ekaternal : laporan yang disampaikan ke divisi laporan
mencakup semua hal terkait dengan pelaksanaan PMK. Laporan
dilakukan 6 bulan sekali.
J. Model implementasi Perawatan Metode Kangguru (PMK)
Model A : Perawatan Metode Kangguru berselang sukarela dan tidak
menyediakan
pelayanan PMK terus menerus
Model B : Berada dalam bangsal neonatal, dimana dilakukan PMk terus
menerus.
Terdapat ruang terpisah untuk PMK dan dekat dengan NICU dan High care. Jika
pemondokan tersedia, ibu dan bayi berlangsung dimasukkan ke bangsal PMK
dan ibu melakukan sebagaian besar perawatan bayi. Sedangkan jika fasilitas
pemondokan tidak tersedia, ibu pulang dan dating untuk melakukan PMK
berselang juga pemberian ASI

11

Model C : Bangsal PMK terpisah dari bangsal neonatal. Perawatan di NICU dan
highcare menggunakan incubator dan PMK berselang. Pada tahap ini bangsal
PMK sebagai persiapan bayi untuk dipulangkan
Model D : Merupakan variasi dari model C dimana terdapat unit PMk terpisah
dengan NICU tersedndiri. Ibu dapat memutuskan apakah akan dirawat secara
PMK atau konvensional. Ibu mulai dengan PMK berselang di ruang khusus
walaupun bayi dengan ventilator. Setelah kondisi bayi membaik dapat
ditingkatkan menjadi PMK terus menerus samapai bayi siap dipulangkan.
Sesudah ibu dan bayi pulang akan dilakukan kunjungan rumah oleh tenaga
kesehatan. Model D sangat memakan biaya dan bukan pilihan yang baik untuk
Negara miskin.

12

Model E : Fasilitas High Care tidak tersedia. RS tidak punya ruang atau
pemondokan ibu dapat merujuk ib dan bayi ke fasilitas lain sampai bayi
mencapai berat yang cukup.
Model F : Ini adalah model perawatan PMK di rumah setelah bayi di pulangkan.
Bayi dirawat secara PMK terus menerus, dan ibu membawa ke klinik khusus
setiap hari atau dua kali seminggu untuk control. Semakin kuat bayi, frekuensi
kunjungan control semakin jarang. Model ini hanya dapat bekerja dimana sitem
rawat jalan dan transportasi unum tersedia.
K. Dokumen Terkait
1. Dokumen Rekam Medis
2. Dokumen asuhan keperawatan
3. Dokumen KIA

13