Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Vitamin C adalah antioksidan yang larut dalam air yang ditemukan dalam
berbagai buahbuahan dan sayuran. Vitamin C diperlukan untuk produksi kolagen
dalam jaringan ikat, gigi dan tulang. Vitamin C merupakan antioksidan kuat yang
dapat membantu proses dalam pengobatan kanker, penyakit jantung dan
mengurangi stress (Tahirovic dkk, 2012).
Sebagian besar tumbuhan dan hewan memiliki kemampuan untuk mensintesis
vitamin C. Satusatunya mamalia yang tidak dapat mensintesis vitamin C adalah
primata, termasuk manusia. Oleh karena itu manusia tergantung pada sumber
sumber eksogen vitamin yang meliputi buah-buahan, sayursayuran serta
makanan suplemen dan sediaan farmasi yang biasanya berupa sediaan tablet
(Wardani, 2012). Dewasa ini penggunaan obatobatan dan sumber alami lainnya
yang mengandung vitamin C semakin meningkat sehingga diperlukan prosedur
penentuan yang akurat dan spesifik untuk menjamin kualitas mutu dari produk
(Okiei, 2009).
Banyak metode analisis yang telah digunakan dalam literatur untuk penentuan
vitamin C dalam matriks yang berbeda. Contohnya yaitu metode titrasi iodometri
dan asam basa pada sampel sediaan farmasi (Sudarmadji, 1989), titrasi dengan 2,6
Dikloroindofenol pada sampel makanan (Sudarmadji, 1989), dan spektrofotometri
UV-Vis dengan menggunakan pereaksi warna hijau leuko malakit pada sediaan
tablet dan buah-buahan (Tiwari, 2010). Selain itu, vitamin C dapat dianalisis
menggunakan pereaksi warna dinitrofenilhidrazin untuk sampel buah-buahan
(Kapur dkk, 2012), dan menggunakan pereaksi warna biru metilen pada sampel
tumbuhan (Tahirovic dkk, 2012), kromatografi cair kinerja tinggi pada sampel
minuman kesehatan (Kumar, 2011), kromatografi cair kinerja tinggi pada sampel
buah-buahan dan jus (Scherer, 2012). Berdasarkan metode-metode tersebut, oleh
karena itu diperlukan penelitian mengenai penetapan kadar vitamin C dengan
pereaksi warna lainnya. Pada penelitian ini akan dilakukan penentuan kadar

vitamin C dengan penambahan pereaksi warna Fe 3+ berlebih, Fe3+ akan


mengoksidasi vitamin C dan sisa Fe3+ akan direaksikan dengan SCN- akan
membentuk warna merah jingga.
1.2 Perumusan Masalah
Penentuan vitamin C pada sediaan tablet dengan metode spektrofotometri UV-Vis
dengan penambahan pereaksi warna telah banyak dilakukan. Sehingga pada
penelitian ini akan dikembangkan penentuan vitamin C pada sediaan tablet
dengan metode spektrofotometri UV-Vis dengan penambahan pereaksi Fe3+ dan
SCN- .
1.3 Batasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada penggunaan pereaksi Fe 3+ dan SCN-, analisis yang
dilakukan hanya pada sediaan tablet berwarna putih disertai dengan pencarian
kondisi reaksi yang optimal pada saat penetapan.
1.4 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengembangan metode analisis vitamin
C pada sediaan tablet.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah untuk memberikan alternatif metode pada
penetapan vitamin C dalam sediaan tablet.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Vitamin C
Vitamin merupakan suatu molekul organik yang sangat diperlukan tubuh untuk
proses metabolisme dan pertumbuhan yang normal. Vitamin tidak dapat dibuat
oleh tubuh manusia dalam jumlah yang cukup. Hampir semua vitamin yang kita
kenal sekarang telah berhasil diidentifikasi sejak tahun 1930. Vitamin pada
umumnya dapat dikelompokan menjadi dua golongan utama yaitu vitamin yang
larut dalam lemak yang meliputi A, D, E dan K dan vitamin yang larut dalam air
yang terdiri dari vitamin C dan Vitamin B (Winarno, 1992).
Struktur dari vitamin C dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
OH

HO

HO

OH

Gambar 1. Struktur Molekul Vitamin C.


Vitamin C mengandung tidak kurang dari 99,0 % C 6H8O6. Vitamin C berbentuk
serbuk atau hablur, putih atau agak kuning, tidak berbau, rasa asam. Oleh
pengaruh cahaya lambat laun menjadi gelap. Dalam keadaan kering, mantap di
udara, dalam larutan cepat teroksidasi, karena mudah dioksidasi, maka vitamin C
merupakan suatu reduktor yang kuat. Vitamin C termasuk golongan vitamin yang
mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol 95%, praktis tidak larut
dalam kloroform, dalam eter dan dalam benzen. Vitamin C memiliki suhu lebur
1900 C (FI IV, 1995). Vitamin C mudah teroksidasi oleh panas, sinar, alkali,
enzim, oksidator, serta oleh tembaga dan besi. Oksidasi akan terhambat bila
vitamin

dibiarkan

dalam

keadaan

asam,

atau

pada

suhu

rendah

(Sudarmadji, 1989).
Vitamin C mempunyai banyak fungsi dalam tubuh, sebagai koenzim atau
kofaktor. Vitamin C memiliki kemampuan reduksi yang kuat dan bertindak
sebagai antioksidan. Menurut Almatsier (2003), vitamin C pada tubuh manusia

juga berfungsi sebagai sintesis kolagen, sintesis karnitin, noradrenalin, serotonin,


adsorbsi dan metabolisme besi, absorbsi kalsium, mencegah infeksi serta
mencegah kanker dan penyakit jantung. Vitamin C sangat dibutuhkan oleh organ
tubuh manusia. Buahbuahan segar, sayuran dan beberapa tablet suplemen
vitamin C sintetik dapat digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan tubuh.
Kebutuhan vitamin C yang dianjurkan sesuai dengan Angka Kecukupan Gizi
(AKG) bagi lakilaki dan perempuan berusia lebih dari 13 tahun sebesar 60
mg/hari. Namun beberapa bukti ilmiah perlunya meningkatkan asupan vitamin C
karena dihubungkan dengan upaya untuk menurunkan penyakit kronis seperti
kardiovaskuler, kanker dan katarak. Kekurangan vitamin C akan menyebabkan
penyakit sariawan atau skorbut. Penyakit skorbut biasanya jarang terjadi pada
bayi, bila terjadi pada anak, biasanya pada usia setelah 6 bulan dan di bawah 12
bulan. Gejala-gejala penyakit skorbut ialah terjadinya pelembekan tenunan
kolagen, infeksi, dan demam. Juga timbul sakit, pelunakan, dan pembengkakan
kaki bagian paha. Pada anak yang giginya telah keluar, gusi membengkak,
empuk, dan terjadi perdarahan. Pada orang dewasa skorbut terjadi setelah
beberapa bulan menderita kekurangan vitamin C dalam makanannya.
Gejala-gejala ialah pembengkakan dan perdarahan pada gusi, gingivalis, kaki
menjadi empuk, anemia, dan deformasi tulang. Akibat yang parah dari keadaan
ini ialah, gigi menjadi goyah dan dapat lepas. Penyakit sariawan yang akut dapat
disembuhkan dalam beberapa waktu dengan pemberian 100 sampai 200 mg
vitamin C per hari. Bila penyakit sudah kronik perlu diperlukan waktu lebih lama
untuk penyembuhannya (Winarno, 1992).

2.2 Sumber Vitamin C


Vitamin C dapat ditemukan pada bahan makanan nabati maupun hewani.
Sumber utama vitamin ini adalah buah-buahan dan sayursayuran, sedangkan
bahan makanan yang berasal dari hewan seperti daging dan susu kandungan
vitamin C nya lebih sedikit. Vitamin C sangat mudah rusak selama proses
persiapan, pemasakan dan penyimpanan. Cara memasak bahan makan sumber
vitamin C adalah dengan menggunakan sesedikit mungkin air. Oleh karena itu
sumber vitamin C dari makanan yang paling baik adalah memakan langsung
buah-buahan dalam bentuk keadaan ranum dan segar (Winarno, 1992).
Vitamin C dalam bentuk sediaan farmasi salah satunya adalah dalam bentuk
sediaan tablet. Tablet adalah sediaan padat, dibuat secara kempa cetak, dalam
bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung,
mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat
tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang,
zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang cocok (FI IV, 1995).
2.3 Analisis Vitamin C
Terdapat beberapa metode yang digunakan pada penentuan kadar vitamin C
diantaranya adalah:
2.3.1. Metode Titrasi
Metode titrasi yang umum digunakan pada penentuan Vitamin C adalah metode
Iodometri, metode ini memakai Iodium sebagai pentiter yang mengoksidasi
vitamin C dengan amilum sebagai indikatornya. Metode titrasi lainnya adalah
titrasi 2,6 dikloroindofenol (D). Metode ini menggunakan 2,6 D sebagai pentiter
dan menghasilkan hasil yang lebih spesifik dari titrasi Iodium. Metode titrasi
asam-basa juga dapat digunakan pada penentuan kadar vitamin C, metode titrasi
ini menggunakan NaOH sebagai pentiter, yang akan menetralkan vitamin C
dengan fenolftalein sebagai indikator (Sudarmadji, 1989).

2.3.2. Metode Spektrofotometri UV-Vis


Metode spektrofotometri dapat dilakukan dengan penambahan pereaksi warna
seperti Hijau leuko malakit (LMG), reaksi dari vitamin C dengan campuran
larutan kalium iodida-kalium iodat dalam suasana asam membebaskan iodin.
Iodin yang dibebaskan selektif mengoksidasi pewarna LMG. Warna yang
terbentuk menunjukkan serapan maksimum pada 620 nm (Tiwari, 2010). Metode
spektrofotometri lainnya adalah dengan pereaksi warna Dinitrofenilhidrazin
(DNPH). Vitamin C dioksidasi menjadi asam dehidroaskorbat dengan
menambahkan air bromin. Setelah itu asam L-dehidroaskorbat bereaksi dengan
2,4-DNPH dan menghasilkan osazon, kemudian direaksikan dengan H2SO4 85%
terbentuk larutan berwarna merah. Spektrum larutan 2,4-DNPH diukur pada
panjang gelombang 521 nm (Kapur dkk, 2012). Metode spektrofotometri lainnya
yaitu dengan penambahan pereaksi warna metilen biru (MB), yang merupakan
molekul larut dalam air. Di bawah kondisi asam, metilen biru dapat mudah
direduksi menjadi molekul terhidrogenasi berwarna biru leukometilen (LMB)
oleh vitamin C. Pada warna yang terbentuk dilakukan pengukuran pada serapan
maksimum 665 nm (Tahirovic dkk, 2012).
2.3.3. Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)
Pada metode KCKT penentuan vitamin C yang pertama dilakukan dengan elusi
isokratik dengan kolom C-18 dan fase gerak asam asetat:metanol (95:5)
(Kumar, 2011). Metode KCKT lainnya pada penentuan vitamin C dapat dilakukan
dengan gradien sistem pompa, pemisahan dilakukan dengan menggunakan kolom
C-18 dan deteksi oleh detektor UV-Visible. Waktu retensi dari vitamin C adalah
1,63 - 1,65 menit (Scherer, 2012).

2.4 Mekanisme Reaksi Vitamin C dengan Pereaksi Fe3+ dan SCNVitamin C mempunyai nilai potensial reduksi yang lebih kecil dibandingkan
dengan Fe3+ dimana dalam hal ini potensial reduksi Fe 3+ +0,77 volt, karena
vitamin C mempunyai potensial reduksi yang lebih kecil (+0,116 volt)
dibandingkan Fe3+ sehingga reaksi dapat berlangsung. Reaksi yang terjadi:
O= C
|
HO C
||
O
HO C
|
H C
|
HO C H
|
CH2OH

Fe3+

Vitamin C

O= C
|
O= C
|
O
+ Fe2+
O= C
|
H C
|
HO C H
|
CH2OH
Vitamin C teroksidasi

Sisa Fe3+ dari hasil reaksi antara Fe3+ dengan vitamin C, kemudian ditambahkan
HNO3 sebagai pengasam. Fe3+ yang terbentuk akan bereaksi dengan KSCN,
Reaksi yang terjadi:
Fe3+(sisa) + 6SCN- [Fe(SCN)6]3Dari warna larutan kompleks yang terbentuk yaitu warna merah jingga, sehingga
dapat diukur absorbansinya pada panjang gelombang 400-560 nm.
Perhitungan Absorbansi vitamin C didapat dari:
A1

= Fe3+ + SCN-

A2

= Fe3+(sisa) + SCN-

= Konsentrasi vitamin C

2.5 Instrumentasi Spektrofotometer UV-Vis


Hukum Lambert-Beer menyatakan hubungan linieritas antara absorban dengan
konsentrasi larutan analit dan berbanding terbalik dengan transmitan. Hukum
Lambert-Beer dinyatakan dalam rumus:
A= e.b.c
Dimana A adalah absorban,e adalah absorptivitas molar, b adalah tebal kuvet
(cm) dan c adalah konsentrasi.

Prinsip kerja spektrofotometri berdasarkan hukum Lambert-Beer, yaitu bila


cahaya monokromatik (I0), melalui suatu media (larutan), maka sebagian cahaya
tersebut diserap (Ia), sebagian dipantulkan (Ir), dan sebagian lagi dipancarkan (It).
Cahaya yang dideteksi oleh detektor adalah cahaya yang diserap oleh sampel.
Fungsi bagian-bagian instrumen spektrofotometer UV-Vis:
2.4.1. Sumber Radiasi
Beberapa sumber radiasi yang dipakai pada spektrofotometer UV-Vis adalah
lampu deuterium, lampu tungsten dan lampu merkuri. Sumber radiasi deuterium
dapat dipakai pada daerah panjang gelombang 190-380 nm. Sumber radiasi
tungstein merupakan campuran dari filament tungsten dan gas iodin (halogen),
dapat dipakai pada daerah panjang gelombang 380-900 nm. Sumber radiasi
merkuri biasanya dipakai untuk mengecek atau kalibrasi panjang gelombang pada
spektrofotometer UV-Vis pada daerah ultra violet khususnya disekitar panjang
gelombang 365 nm dan sekaligus mengecek resolusi dari monokromator.
2.4.2. Monokromator
Monokromator berfungsi untuk mendapatkan radiasi monokromatis dari sumber
radiasi

yang

memancarkan

radiasi

polikromatis.

Monokromator

pada

spektrofotometer UV-Vis biasanya terdiri dari susunan : celah (slit) masuk-filterprisma-kisi (grating)-celah keluar. Celah monokromator adalah bagian yang
pertama dan terakhir dari suatu sistem optik monokromator pada spektrofotometer
UV-Vis. Filter optik berfungsi menyerap warna komplementer sehingga cahaya
tampak yang diteruskan merupakan cahaya yang berwarna sesuai dengan warna
filter optik yang dipakai. Prisma dan kisi pada prinsipnya mendispersi radiasi
elektromagnetik sebesar mungkin supaya didapatkan resolusi yang baik dari
polikromatis.

2.4.3. Sel atau kuvet


Kuvet atau sel merupakan wadah sampel yang akan dianalisis. Ditinjau dari bahan
yang dipakai membuat kuvet ada dua macam yaitu: kuvet kuarsa dan kuvet gelas.
Kuvet dari leburan silika dapat dipakai untuk analisis kualitatif dan kuantitatif
pada daerah pengukuran 190-1100 nm, dan kuvet dari bahan gelas dipakai pada
daerah pengukuran 380-1100 nm karena bahan dari gelas mengadsorbsi radiasi
sinar UV.
2.4.4. Detektor
Fungsi detektor didalam spektrofotometer adalah mengubah sinyal radiasi yang
diterima menjadi sinar elektronik. Beberapa macam detektor yang telah dipakai
dalam spektrofotometer UV-Vis yaitu detektor fotosel, detektor tabung foton
tanpa hampa, detektor tabung penggandaan foton (photomultiplier tube), detektor
foto diode-array.

2.6 Validasi
Validasi metode analisa bertujuan untuk membuktikan bahwa semua metode
analisa yang digunakan dalam pengujian maupun pengawasan mutu, senantiasa
mencapai hasil yang diinginkan secara konsisten. Parameter dalam validasi
metode analisis adalah akurasi, presisi, spesifisitas, linieritas dan rentang, batas
deteksi, batas kuantifikasi (USP 37, 2014).

2.6.1. Ketepatan (Akurasi)


Akurasi adalah kedekatan hasil uji antara hasil yang diperoleh dengan nilai
sebenarnya atau dengan nilai referensinya. Akurasi dapat dinyatakan dengan
persen perolehan kembali (persen recovery). Akurasi yang baik menunjukan nilai
95% 105 %.

Akurasi=

Nilai Pengukuran
x 100
Nilai Sebenarnya

2.6.2. Kecermatan (Presisi)


Kecermatan adalah kedekatan hasil uji dengan cara memperoleh pengukuran dari
berbagai contoh yang homogen dalam kondisi yang normal. Presisi adalah ukuran
yang menunjukkan derajat kesesuaian antara hasil uji individual, diukur melalui
penyebaran hasil individual rata-rata jika prosedur ditetapkan secara berulang
pada sampel yang diambil dari campuran yang homogen.
( X i x )2
SD=
n1

%RS D=

SD
.100
x

Keterangan:
X i = pengukuran tunggal
x

= rata-rata

n = jumlah pengukuran
2.6.3. Selektivitas / spesifisitas
Selektifitas atau spesifitas suatu metode adalah kemampuan yang hanya
mengukur zat tertentu saja secara tepat cermat dan seksama dengan adanya
komponen lain yang mungkin ada dalam matriks sampel.
2.6.4. Linieritas dan Rentang

10

Liniearitas adalah kemampuan metode analisis yang memberikan respon secara


langsung atau dengan bantuan transformasi matematik yang baik, proporsional
terhadap konsentrasi analit dalam sampel. Uji linearitas dilakukan dengan satu
seri larutan baku yang terdiri dari 6 konsentrasi yang meningkat pada rentang
50-150% dari percobaan rentang kerja yang diharapkan. Rentang dinyatakan
dengan satuan yang sama seperti hasil uji (persen atau bpj) yang diperoleh melalui
metode analisis. Kemudian data diproses dengan menggunakan regresi linear.
Rentang metode adalah pernyataan konsentrasi terendah dan tertinggi analit yang
mana metode analisis memberikan akurasi, presisi dan liniearitas yang dapat
diterima. Sebagai parameter adanya hubungan linier yang ideal tercapai jika nilai
b = 0 dan r = +1 atau -1 tergantung pada arah garis. Nilai a pada regresi linier
menunjukkan kepekaan analisis terutama instrument yang digunakan.
X i x yi y

2
2
X

x
(
( i ) y i y )

r=

2.6.5. Batas Deteksi dan Batas Kuantisasi


Batas deteksi merupakan jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat dideteksi
dan masih memberikan respon yang signifikan dibandingkan dengan blangko.
Batas deteksi merupakan parameter uji batas. Batas kuantisasi merupakan jumlah
terkecil analit dalam sampel yang masih dapat dikuantifikasi dengan akurasi dan
presisi yang baik. Batas kuantisasi adalah nilai parameter penentuan kuantitatif
senyawa yang terdapat dalam konsentrasi rendah dalam matriks.
Batas Deteksi

Batas kuantisasi =

3 x SD
Slope
10 x SD
Slope

11

SD =

(X i x )2
n1

dimana, SD = Standar Deviasi (Simpangan Baku) dari blangko contoh


memberikan nilai deviasi standar yang tidak sama dengan nol.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian


Penelitian ini terbagi menjadi 3 tahap, yaitu optimasi, validasi metode analisa, dan
penetuan kadar. Tahap optimasi dilakukan dengan beberapa parameter untuk
mendapatkan metode yang optimal dalam penentuan kadar vitamin C. Parameter
tersebut meliputi penentuan panjang gelombang optimum dan penentuan
konsentrasi pereaksi. Setelah didapatkan prosedur yang optimum, dilakukan
validasi metode analisa dengan parameter akurasi, presisi, spesifitas, linieritas,
batas deteksi, batas kuantitasi, dan stabilitas. Langkah selanjutnya penetapan
kadar, dari metode yang telah teroptimasi dan memenuhi syarat parameter validasi
metode analisa.

3.2 Waktu dan Tempat Kegiatan

12

Penelitian

dilakukan

dilaboratorium

Sekolah

Tinggi

Farmasi

Bandung.

Pengumpulan data dilakukan pada bulan Maret-Juni 2015.

BAB IV
PROSEDUR KERJA

4.1.

Alat

Alat alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi seperangkat instrument
spektrofotometri UV-VIS, Timbangan Analitik (Mettler Toledo), pH meter
(Mettler Toledo), alat gelas yang digunakan dilaboratorium.
4.2.

Bahan
Bahan bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: Standar vitamin C,
NH4Fe(SO4)2.12H2O, HCl pekat 37%, KSCN, HNO3, Aquabidest, Sampel tablet
vitamin C dengan beberapa merk.

4.3.

Pembuatan Pereaksi
1. Pembuatan larutan standar besi (III) 100 ppm: 0,0863 g NH4Fe(SO4)2.12H2O

13

ditimbang dan dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml. Selanjutnya, sedikit
aquabidest dan 4 tetes HCl pekat 37% ditambahkan ke dalam labu ukur,
kemudian padatan tadi dilarutkan sambil dikocok sampai larut sempurna.
Aquabidest ditambahkan ke dalam labu ukur sampai tanda batas dan dikocok
hingga homogen.
2. Pembuatan larutan standar induk vitamin C: 50 mg standar vitamin C
ditimbang dan dilarutkan dengan aquabidest dalam labu ukur 100 ml.
3. Pembutan larutan standar vitamin C: standar induk dipipet 1mL dimasukan
kedalam labu ukur 100 mL, ditambahkan 15 ml Larutan standar besi (III)
100 ppm, ditambahkan 2 ml KSCN 5M dan 3 ml HNO 3 4M, Aquabidest
ditambahkan ke dalam labu ukur sampai tanda batas dan dikocok hingga
homogen.
4. Pembuatan larutan uji 100 %: dari 20 tablet di timbang setara 1 tablet 100 mg
dilarutkan dengan aquabidest dalam labu ukur 100 ml sampai tanda batas dan
dikocok hingga homogen.
5. Pembuatan larutan KSCN 5M: 12,125 g KSCN ditimbang dan dilarutkan
dengan aquabidest dalam labu ukur 25 ml.

6. Pembuatan HNO3 4M: 61,54 ml HNO3 pekat dipipet dan diencerkan hingga
200 ml.
4.4. Optimasi Kondisi Analisis
4.4.1. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Fe3+
4.4.1.1.

Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Pereaksi

Penentuan panjang gelombang maksimum pereaksi dilakukan dengan cara


membuat dua larutan. Larutan pertama dibuat dengan cara memipet 2 ml aquadest
kemudian ditambahkan 5 ml larutan standar besi (III) 1 ppm kemudian
ditambahkan 3 ml HNO3 4M. larutan kedua dibuat dengan cara mempipet 2 ml
larutan pertama ditambahkan 2 ml KSCN 5M, 3 ml larutan HNO 3 4M dan 3ml

14

aquabidest.
4.4.1.2.

Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Pereaksi + sampel

Penentuan panjang gelombang maksimum pereaksi + sampel dilakukan dengan


cara membuat dua larutan. Larutan pertama dibuat dengan cara memipet 2 ml
vitamin C 1 ppm kemudian ditambahkan 5 ml larutan standar besi (III) 1 ppm
kemudian ditambahkan 3 ml HNO 3 4M. larutan kedua dibuat dengan cara
mempipet 2 ml larutan pertama ditambahkan 2 ml KSCN 5M, 3 ml larutan HNO3
4M dan 3ml aquabidest.
4.4.2. Penentuan konsentrasi maksimum Fe3+
Penentuan konsentrasi besi (III) dilakukan dengan cara memipet masing-masing
3, 4, 5, 6, 7 ml larutan standar besi (III) 100 ppm ke dalam masing-masing labu
ukur 100 ml yang telah berisi 1,0 ml vitamin C 100 ppm, kemudian tambahkan 2
ml KSCN 5M dan larutan 3 ml HNO3 4M. larutan tersebut diencerkan dengan
aquabidest sampai tanda batas labu ukur dan dikocok sampai homogen. Kemudian
diukur padapanjang gelombang maksimum.

4.5. Validasi metode analisis (USP 37, 2014)


4.5.1. Uji Akurasi
larutan uji dibuat dengan konsentrasi 80 %, 100 % dan 120 %, jumlah larutan uji
dibuat sesuai dengan Tabel 4.1, lalu dilarutkan kedalam labu ukur 100 mL,
dipipet 1 ml ditambahkan 15 ml Larutan standar besi (III) 100 ppm, ditambahkan
2 ml KSCN 5M dan 3 ml HNO3 4M, Aquabidest ditambahkan ke dalam labu ukur
sampai tanda batas dan dikocok hingga homogen. Kemudian diukur pada panjang
gelombang maksimum. Tiap konsentrasi diukur sebanyak 3 kali.

Tabel 4.1 Pembuatan larutan uji akurasi dan presisi


No.

Replika konsentrasi

Vitamin

(%)

(mg)

C Zat Tambahan
(mg)

15

1
2
3

80
100
120

40
50
60

60
50
40

4.5.2. Uji Presisi


Larutan uji dibuat dengan konsentrasi 100%, lalu dimasukan kedalam labu ukur
100 mL, kemudian dipipet 1 ml dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL
kemudian ditambahkan 15 ml Larutan standar besi (III) 100 ppm, ditambahkan 2
ml KSCN 5M dan 3 ml HNO3 4M, Aquabidest ditambahkan ke dalam labu ukur
sampai tanda batas dan dikocok hingga homogen. Kemudian diukur pada panjang
gelombang maksimum. Pengukuran dilakukan sebanyak 10 kali pengulangan.
4.5.3. Selektivitas
Selektivitas metode yang diusulkan dilakukan dengan membuat campuran dari
kedua analit dengan eksipien yang terdapat dalam formulasi dan kemudian
mengukur pemulihan persentase masing-masing komponen.
4.5.4. Uji Linearitas
Dibuat tujuh seri konsentrasi 70 %, 80 %, 90 %, 100 %, 110 %, 120 % dan 130
%, larutan uji dibuat sesuai dengan tabel Tabel 4.2, lalu dimasukan kedalam labu
ukur 100 mL, ditambahkan 15 ml Larutan standar besi (III) 100 ppm,
ditambahkan 2 ml KSCN 5M dan 3 ml HNO3 4M, Aquabidest ditambahkan ke
dalam labu ukur sampai tanda batas dan dikocok hingga homogen. Kemudian
diukur pada panjang gelombang maksimum. Tiap konsentrasi diukur sebanyak 3
kali.

Tabel 4.2 Pembuatan larutan uji linearitas


No.
1
2
3
4
5
6

Replika konsentrasi
(%)
70
80
90
100
110
120

Zat Tambahan Volume


Vitamin C (mg)
35
40
45
50
55
60

(mg)

Pemipetan

65
60
55
50
45
40

(ml)
0,7
0,8
0,9
1,0
1,1
1,2
16

130

65

35

1,3

4.5.5. Batas Deteksi (BD) dan Batas Kuantitasi (BK)


Dibuat tujuh seri konsentrasi 70 %, 80 %, 90 %, 100 %, 110 %, 120 % dan 130 %,
kemudian nilai batas deteksi dan batas kuantitasi dihitung secara statistik melalui
garis regresi linier dari kurva kalibrasi, nilai pengukuran akan sama dengan nilai b
pada persamaan garis linier y = ax + b.
4.5.6. Stabilitas
Stabilitas setiap komponen dilakukan dengan menganalisis sampel pada periode
waktu 6, 12, 18, 24, 30, 36, dan 48 jam.
4.6.

Penetapan kadar vitamin C


Sampel vitamin C ditimbang sebanyak 20 tablet setara 1 tablet 100 mg,
dilarutkan dalam labu ukur 100 ml, kemudian dipipet 1 ml dimasukkan ke dalam
labu ukur 100 mL kemudian ditambahkan 15 ml larutan standar besi (III) 100
ppm, kemudian ditambahkan 2 ml larutan KSCN 5M dan 3 ml larutan HNO 3 4M.
larutan tersebut diencerkan sampai 100 ml dengan aquabidest sampai tanda batas
labu ukur dan kocok sampai homogen. Kemudian diukur pada panjang gelombang
maksimum. Pengujian dilakukan sebanyak 3 kali.

4.7. Perhitungan

Vitamin C=

Aspl Wstd Wtab Pspl


x
x
x
x Cstd
Astd Wspl Dosis Pstd

17

DAFTAR PUSTAKA

1. A, Kapur., A, Haskovic., A, Copra-Janicijevic., L, Klepo., A, Topcagic., I,


Tahirovic., et. Al, (2012), Spectrophotometric analysis of total ascorbic acid
contetnt in various fruits and vegetables, Bulletin of the Chemists and
Technologists of Bosnia and Herzegovina, 38, 39-42.
2. Almatsier, Sunita., (2003), Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Jakarta: Gramedia.
3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia., (1995). Farmakope Indonesia.
Edisi IV., Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.
4. Konda Ravi Kumar., Kumar P.. Praveen., N. MallikarjunaRao., (2011),
Development and validation of RP-HPLC method for the estimation of
ascorbic acid in health drinks, J. Chem. Pharm. Res., 3(3):363-374.
5. Okiei, W., Ogunlesi, M., Azeez, L., Obakachi, V., Osunsanmi, M., Nkenchor,
G., (2009), The Voltammetric and Titrimetric Determination of Ascorbic Acid
Levels in Tropical Fruit Samples, Int. J. Electrochem. Sci., 4,276 287.
6. Rusmawan Ardiana Chevi., Djulia Onggo., Irma Mulyani., (2011), Analisis
Kolorimetri Kadar Besi (III) dalam Sampel Air Sumur dengan Metode
Pencitraan Digital, SNIPS, Institusi Teknologi Bandung.
7. Scherer, Rodrigo., Ana Ceclia Poloni Rybka., Ballu AugustoCristiano.,
Meinhart a DillenburgAdrian., Filho Teixeira Jose., Godoy Teixeira Helena.,
(2012), Validation of a HPLC method for simultaneous determination of main
organic acids in fruits and juices, Food Chemistry 135, 150154.
8. Sudarmadji, Slamet., Bambang, Haryono., Suhardi., (1996), Analisa Bahan
Makanan dan Pertanian, Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.
9. Tahirovic, Azra., CopraJanicijevic Amira., Basic, Nedzad., Klepo, Lela.,
Subasic, Mirel., (2012), Determination of Vitamin C in Flowers of Some
Bosnian Crataegus L. Spesies, University of Sarajevo No. 2, 1-12.

18

10. Tiwari K. Kishore., (2010), A New Spectrophotometric Method for the


Determination of Ascorbic Acid Using Leuco Malachite Green, J. Chin.
Chem. Soc., Vol. 57, 105-110.
11. United

States

Pharmacopeial.,(2014).,U.S.

Pharmacopeia

National

Formulary. USP37-NF32, Hal. 1157.


12. Wardani Andria Laras, (2012), Validasi Metode Analisis dan Penentuan Kadar
Vitamin C pada minuman Buah Kemasan dengan Spektrofotometri UVVisible, Universitas Indonesia, 1-56.
13. Winarno F.G, (1992), Kimia Pangan dan Gizi, Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.

19