Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI

BLOK KARDIOVASKULAR

kelompok A-14
Anggi Larasati

(1102015023)

Asyifa Nurani

(1102015037)

Azmi Nadia Farah Iffah

(1102015043)

Bagas Anindito

(1102015044)

Farah Atsilla

(1102015072)

Fathir Rizki Suwandi

(1102015076)

Indah Pratiwi

(1102015097)

Ika tri rahayu

(1102014124)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2016/2017

III. SISTEM KARDIOVASKULER


III.1. PENGUKURAN SECARA TIDAK LANGSUNG TEKANAN DARAH ARTERI
PADA ORANG
TUJUAN
Pada akhir latihan ini mahasiswa harus dapat :
1. Mengukur tekanan darah arteri brachialis dengan cara auskultasi dengan penilaian
menurut metode lama dan metode baru The American Heart Association (AHA)
2. Mengukur tekanan darah arteri brachialis dengan cara palpasi
3. Menerangkan perbedaan hasil pengukuran cara auskultasi dengan cara palpasi
4. Membandingkan hasil pengukuran tekanan darah A. brachialis pada sikap berbaring,
duduk dan berdiri.
5. Menguraikan berbagai faktor penyebab perubahan hasil pengukuran tekanan darah pada
ketiga sikap tersebut diatas
6. Membandingkan hasil pengukuran darah A. brachialis sebelum dan sesudah kerja otot.
7. Menjelaskan berbagai faktorpenyebab perubahan tekanan darah sebelum dan sesudah
kerja otot.
Alat yang digunakam :
1. Sfigmomanometer
2. Stetoskop
TATA KERJA
I. Pengukuran tekanan darah A. brachialis pada sikap berbaring, duduk dan berdiri
Berbaring terlentang :
1. Suruhlah orang percobaan (o.p) berbaring terlentang dengan tenang selama 10 menit.
2. Selama menunggu, pasanglah manset sfigmomanometer pada lengan o.p
P.III.1.1. Apa yang harus diperhatikan pada waktu memasang manset?
Jawaban : Manset di pasang sekitar 3 jari diatas fossa cubiti, pastikan tidak menutupi
arteri brachialis yang akan diraba
3. Carilah dengan cara palpasi denyut A. brachialis pada fossa cubiti dan denyut A. radialis
pada pergelangan tangan kanan o.p.
P.III.1.2. mengapa kita karus meraba letak denyut A. brachialis dan A. radialis o.p?
Jawaban : Arteri radialis diraba untuk memeriksa frekuensi nadi o.p, sedangkan arteri
brachialis untuk menentukan sistolik palpatoir o.p untuk menentukan tekanan darah
dengan auskultasi.
4. Setelah o.p berbaring 10 menit, tetapkanlah kelima fase korotkoff dalam pengukuran
tekanan darah o.p tersebut.
P.III.1.3. tindakan apa yang saudara lakukan secara berturut-turut untuk mengukur
tekanan darah ini?
Jawaban :
1. Pasien dalam keadaan berbaring
2. Persiapkan stigmomanometer dan pasang manset 3 jari diatas fossa cubiti

3. Raba arteri brachialis di fossa kubiti dan tentukan tekanan sistolik palpatoir
4. Pompa manset sampai melebihi 30 mmHg dari tekanan sitolok palpatoir
5. Dengan menggunakan stetoskop, dengarkan baik2 bunyi nadi untuk menentukan
tekanan sistolik dan diastole
P.III.1.4. sebutkan kelima fase korotkoff. Bagaimana menggunakan fase korotkoff
tersebut dalam pengukuran tekanan darah dengan penilaian menurut menurut
metode lama dan baru!
Jawaban :
1. Suara Korotkoff pertama adalah suara pertama kali didengar yang menunjukan
tekanan sistolik. Suara ini jelas terdengar dan berulang selama setidaknya dua
denyut.
2. Suara Korotkoff kedua adalah suara murmur yang terdengar antara tekanan sistolik
dan diastolik.
3. Suara Korotkoff ketiga digambarkan sebagai suara yang keras dan jelas.
4. Suara Korotkoff keempat, merupakan suara yang menghentak kemudian merendam.
Suara ini menunjukan tekanan darah 10 mmHg di atas tekanan darah diastolic
5. Suara kelima dari Korotkoff adalah suara diam sejalan dengan tekanan manset yang
turun di bawah tekanan darah diastolik. Hilangnya suara dianggap sebagai tekanan
darah diastolik dikurangi 2 mmHg setelah suara terakhir terdengar.
5. Ulangi pengukuran sub.4 sebanyak 3 kali untuk mendapatkan nilai rata-rata dan catatlah
hasilnya.
P.III.1.5. apa yang harus diperhatikan bila kita ingin mengulangi pengukuran
tekanan darah? Apa sebabnya?
Jawaban : Memperhatikan udara dalam kantung udara (manset harus kempes) karena
dapat mempengaruhi pengukuran tekanan darah. Tunggu beberapa menit untuk jeda
apabila ingin mengulang penukuran tekanan darah, agar aliran darah kembali normal.
Duduk :
6. Tanpa melepaskan manset o.p disuruh duduk. Setelah ditunggu 3 menit ukurlah lagi
tekanan darah A.brachialisnya dengan cara yang sama.
Ulangi pengukuran sebanyak 3 kali untuk mendapatkan nilai rata-rata dan catatlah
hasilnya.
P.III.1.6. sebutkan 5 faktor yang menentukan besar tekanan darah arteri!
Jawaban :
1. Curah jantung Tekanan darah berbanding lurus dengan curah jantung (ditentukan
berdasarkan isi sekuncup dan frekuensi jantungnya).
2. Tekanan Perifer terhadap tekanan darah Tekanan darah berbanding terbalik dengan
tahanan dalam pembuluh.
3. Viskositas darah. Semakin banyak kandungan protein dan sel darah dalam plasma,
semakin besar tahanan terhadap aliran darah. Peningkatan hematokrit menyebabkan
peningkatan viskositas : pada anemia, kandungan hematokrit dan viskositas
berkurang.
4. Panjang pembuluh Semakin panjang pembuluh, semakin besar tahanan terhadap
aliran darah.

5. Radius pembuluh Tahanan perifer berbanding terbalik dengan radius pembuluh


sampai pangkat keempatnya.
Berdiri :
7. Tanpa melepaskan manset o.p disuruh berdiri. Setelah ditunggu 3 meit ukurlah lagi
tekanan darah A.brachialisnya dengan cara yang sama.
Ulangi pengukuran sebanyak 3 kali untuk mendapatkan nilai rata-rata dan catatlah
hasilnya.
P.III.1.7. mengapa pengukuran dilakukan beberapa saat setelah berdiri?
Jawaban : Untuk menormalkan kembali aliran darah saat perubahan posisi tubuh
8. Bandingkanlah hasil pengukuran tekanan darah o.p pada ketiga sikap yang berbeda
diatas!
II. pengukuran tekanan darah sesudah kerja otot
a. Ukurlah tekanan darah A.brachialis o.p dengan penilaian menurut metode baru pada sikap
duduk (o.p tidak perlu yang sama pada sub.I)
b. Tanpa melepaskan manset suruhlah o.p berlari ditempat dengan frekuensi 120
loncatan/menit selama 2 menit. Segera setelah selesai, o.p disuruh duduk dan ukurlah
tekanan darahnya.
c. Ulangi pengukuran tekanan darah ini tiap menit sampai tekanan darahnya kembali seperti
semula. Catatlah hasil pengukuran tersebut.
P.III.1.8. bagaimana tekanan darah seseorang segera setelah melalkukan kerja otot?
Jawaban : Setelah melakukan kerja otot tekanan darah seseorang meningkat di karnakan
untuk mengkompensasi kebutuhan tubuh akan O2 yang meningkat.
III. pengukuran tekanan darah A.brachialis dengan cara palpasi
Ukurlah tekanan darah A. brachialis o.p pada sikap duduk dengan cara auskultasi (sub.I)
Ukurlah tekanan darah A. brachialis o.p pada sikap yang sama dengan cara palpasi.
P.III.1.9. bagaimana saudara melakukan pengukuran tekanan darah cara palpasi?
Jawaban :
a. Pasang manometer pada lengan kanan/kiri atas, sekitar 3 cm diatas fossa cubiti
(Siku lengan bagian dalam). Jangan terlalu ketat atau terlalu longgar
b. Tentukan denyut nadi arteri radialis (nadi pada siku bagian dalam)
dekstra/sinistra dengan jari tangan kita
c. Pompa balon udara manset samapi denyut nadi arteri radialis tidak teraba
d. Pompa terus sampai manometer setinggi 20 mmHg lebih tinggi dari titik radialis
tidak teraba
e. Kempeskan balon udara manset secara perlahan dan berkesinambungan dengan
memutar sekrup pada pompa udara berlawanan arah jarum jam.
f. Catat mmHg manometer saat pertama kali denyut nadi teraba. Nilai ini
menunjukkan tekanan sistolik secara palpasi dan tak mungkin dengan cara ini
menemukan tekanan diastolic

Hasil percobaan :
Hari/tanggal : senin/5 desember 2016
Kelompok : A-14
o.p : Fathir Rizki Suwandi
DATA
POSISI
Berbarin
g
terlentan
g
Duduk
Berdiri

I/mmHg

II/mmHg

III/mmH
g

RataRata/mmHg

90/60

90/60

90/60

90/60

100/70
100/80

100/70
100/80

100/70
100/80

100/70
100/80

Tekanann darah a. Brachialis o.p pada sikap duduk dengan cara auskultasi (sub.1)
Waktu / Menit
0
1
2
3

Tekanan Darah / mmHg


130/100
120/80
120/80
110/70

Tekanan darah a. Brachialis o.p pada sikap yang sama dengan cara palpasi
Waktu / Menit
Auskultasi
Palpasi

Tekanan Darah / mmHg


110/70
110

KESIMPULAN
Berbaring
Ketika seseorang berbaring, maka jantung akan berdetak lebih sedikit dibandingkan saat ia
sedang duduk atau berdiri. Hal ini disebabkan saat orang berbaring, maka efek gravitasi pada
tubuh akan berkurang yang membuat lebih banyak darah mengalir kembali ke jantung
melalui pembuluh darah. Jika darah yang kembali ke jantung lebih banyak, maka tubuh
mampu memompa lebih banyak darah setiap denyutnya. Hal ini berarti denyut jantung yang
diperlukan per menitnya untuk memenuhi kebutuhkan darah, oksigen dan nutrisi akan
menjadi lebih sedikit
(Anggita, 2012).
Berdiri
Detak jantung akan meningkat saat seseorang berdiri, karena darah yang kembali ke jantung
akan lebih sedikit. Kondisi ini yang mungkin menyebabkan adanya peningkatan detak
jantung mendadak ketika seseorang bergerak dari posisi duduk atau berbaring ke posisi
berdiri
Pada posisi berdiri, maka sebanyak 300-500 ml darah pada pembuluh capacitance vena
anggota tubuh bagian bawah dan isi sekuncup mengalami penurunan sampai 40%. Berdiri
dalam jangka waktu yang lama dengan tidak banyak bergerak atau hanya diam akan
menyebabkan kenaikan volume cairan antar jaringan pada tungkai bawah. Selama individu
tersebut bisa bergerak maka kerja pompa otot menjaga tekanan vena pada kaki di bawah 30
mmHg dan alir balik vena cukup
(Ganong, 2002).
Duduk
Sikap atau posisi duduk membuat tekanan darah cenderung stabil. Hal ini dikarenakan pada
saat duduk sistem vasokonstraktor simpatis terangsang dan sinyal-sinyal saraf pun dijalarkan
secara serentak melalui saraf rangka menuju ke otot-otot rangka tubuh, terutama otot-otot
abdomen. Keadaan ini akan meningkatkan tonus dasar otot-otot tersebut yang menekan
seluruh vena cadangan abdomen, membantu mengeluarkan darah dari cadangan vaskuler
abdomen ke jantung. Hal ini membuat jumlah darah yang tersedia bagi jantung untuk
dipompa menjadi meningkat. Keseluruhan respon ini disebut refleks kompresi abdomen
(Guyton dan Hall, 2002).

III.2. KESANGGUPAN KARDIOVASKULAR


TUJUAN
Pada akhir latihan ini mahasiswa harus dapat :
1. Mengukur tekanan darah arteri brachialis pada sikap berbaring
2. Memberikan rangsang pendinginan pada tangan selama satu menit
3. Mengukur tekanan darah a. brachialis selama perangsangan pada sub.2
4. Menetapkan waktu pemulihan tekanan darah a. brachialis
5. Menggolongkan orang percobaan dalam golongan hiperreaktor atau hiporeaktor.
6. Melakukan percobaan naik turun bangku
7. Menetapkan indeks kesanggupan badan manusia dengan cara lambat dan cara cepat.
8. Menilai indeks kesanggupan badan manusia berdasarkan hasil sub.7.
Alat yang diperlukan :
1. Sfigmomanometer dan stetoskop
2. Ember kecil berisi air es dan thermometer kimia
3. Pengukur waktu (arloji/stopwatch)
4. Bangku setinggi 19 inchi
5. Metronome (frekuensi 120x/menit)
TATA KERJA
III.2.1. Tes Peninggian tekanan darah dengan pendinginan (Cold Pressure Test)
a. Suruh o.p berbaring terlentang dengan tenang selama 20 menit.
P.III.2.1. Mengapa o.p harus berbaring selama 20 menit?
Jawaban: untuk menstabilkan tekanan darah pada op.
b. Selama menunggu pasanglah manset sfigmomanometer pada lengan kanan o.p
c. Setelah o.p berbaring 20 menit, tetapkanlah tekanan darahnya setiap 5 menit sampai
terdapat hasil yang sama 3 kali berturut-turut (tekanan basal).
P.III.2.2. Apa kontraindikasi untuk melakukan Cold Pressure Test?
Jawaban: orang yang memiliki hipertensi, tekanan darah pada penderita semakin tinggi
dan pembuluh darah menyempit.
d. Tanpa membuka manset suruhlah o.p memasukkan tangan kirinya kedalam air es (4oC)
sampai pergelangan tangan.
e. Pada detik ke 30 dan detik ke 60 pendinginan, tetapkanlah tekanan sistolik dan
diastoliknya.
P.III.2.3. Bagaimana caranya supaya saudara dapat mengukur tekanan darah o.p
dengan cepat?
Jawaban: siapkan alat dan bahan sebelum percobaan dilakukan, tentukanlah tekanan
darah sistolik op dengan cara palpasi. Pompa manset hingga tekanan 30mmHg diatas
tekanan sistolik tersebut pada waktu yang telah ditentukan (30 detik setelah
pendinginan). Dengarkan bunyi yang dihasilkan kemudian catat hasil yang diperoleh.
Tanpa melepas manset,lanjutkan menguur tekanan darah kembali pada waktu yang telah
ditentukan (60 detik setelah pendinginan). Dengarkan bunyi yang dihasilkan dan catat

hasil yang diperoleh. Pemeriksaaan harus dilakukan dengan cepat dan membutuhkan
banyak latihan.
P.III.2.4. Apa yrng diharapkan terjadi pada tekanan darah o.p selama pendinginan,
terangkan mekanismenya!
Jawaban: selama direndam es, pembuluh darah akan vasokontriksi yang bertujuan
untuk mengurangi panas tubuh yang keluar. Jika pembuluh darah mengecil maka
tekanan darah akan meningkat.
f. Catatlah hasil pengukuran tekanan darah o.p selama pendinginan. Bila pada pendinginan
tekanan sistolik naik lebih besar 20 mmHg dan tekanan sistoliknya lebih dari 15 mmHg
dari tekanan basal, maka o.p termasuk golongan hiperreaktor. Bila kenaikan tekanan
darah o.p masih dibawah angka-angka tersebut diatas, maka o.p termasuk golongan
hiporeaktor.
P.III.2.5. Apa gunanya kita mengetahui bahwa seseorang temasuk golongan
hiperreaktor atau hiporeakto?
Jawaban: sebagai tindakan preventif pada penderita hipertensi.
g. Suruhlah o.p segera mengeluarkan tangan kirinya dari air es dan tetapkanlah tekanan
sistolik dan diastoliknya setiap 2 menit sampai kembali ke tekanan darah basal.
h. Bila terdapat kesukaran pada waktu mengukur tekanan sistolik dan diastolic pada detik
ke 30 dan 60 pendinginan, percobaan dapat dilakukan dua kali. Pada percobaan pertama
hanya dilakukan penetapan sistolik pada detik ke 30 dan detik ke 60 pendinginan.
Suruhlah o.p segera mengeluarkan tangan kirinya dari air es dan tetapkanlah tekanan
sistolik dan diastoliknya setiap 2 menit sampai kembali ke tekanan darah basal. Setelah
tekanan darah kembali ke tekanan basal, lakukan percobaan yang kedua untuk
menetapkan tekanan diastolic pada detik ke 30 dan detik ke 60 pendinginan.
Nama o.p : Anggi larasati
Hasil percobaan :
Tekanan darah setelah 20 menit berbaring :
I.
110/70 mmHg
II.
110/70 mmHg
III. 110/70 mmHg
Tekanan darah rata-rata 110/70 mmHg
Tekanan darah saat pendinginan :
I.
30 detik : 130/80 mmHg
II.
60 detik : 130/80 mmHg
Kenaikan tekanan sistolik : 20 mmHg
Kenaikan tekanan diastolic : 10 mmHg
Tekanan darah setelah pendinginan :
I.
2 menit : 130/110 mmHg
II.
4 menit : 130/100 mmHg
III. 6 menit : 120/100 mmHg
IV. 8 menit : 120/100 mmHg
V.
10 menit : 120/90 mmHg

VI.

12 menit : 120/80 mmHg

Kesimpulan
OP termasuk hipereaktif karena kenaikan sistol lebih dari 20mmHg dan kenaikan diastole
tidak lebih dari 15mmHg.
Pembahasan
Pada data hasil percobaan diatas, terlihat secara umum bahwa tekanan darah basal
sistol dan diastole mengalami peningkatan setelah tangan dimasukkan kedalam air es. Hal ini
sesuai dengan mekanisme homeostasis tubuh manusia. Saat tubuh manusia berada pada
temperature yang relative lenih rendah, pembuluh-pembuluh darah akan menyempit
(vasokontriksi), terutama pembuluh darah perofer. Tujuan vasokontriksi tersebut adalah
untuk menjaga panas tubuh agar tidak keluar. Vasokontriksi tersebut berdampak pada
naiknya tekanan darah sistol dan diastole

III.2.2. Percobaan naik turun bangku (Harvard Step Test)


1. Suruhlah o.p berdiri menghadap bangku setinggi 19 inchi sambal mendengarkan detakan
sebuah metronome dengan frekuensi 120 kali per menit.
2. Suruhlah o.p menempatkan salah satu kakinya dibangku, tepat pada suatu detakan
metronome.
3. Pada detakan berikutnya (dianggap sebagai detakan kedua) kaki lainnya dinaikkan ke
bangku sehingga o.p berdiri tegak diatas bangku.
4. Pada detakan ketiga, kaki yang pertama kali naik diturunkan.
5. Pada detakan ke empat, kaki yang masih diatas bangku diturunkan sehingga o.p berdiri
tegak lagi didepan bangku.
6. Siklus tersebut diulang terus menerus sampai o.p tidak kuat lagi tetapi tidak lebih dari 5
menit. Catat berapa lama percobaan tersebut dilakukan dengan menggunakan stopwatch.
7. Segera setelah itu, o.p disuruh duduk. Hitunglah dan catatlah frekuensi denyut nadinya
selama 30 detik sebanyak 3 kali masing-masing dari 1-130, dari 2-230 dan dari 3330.
8. Hitunglah indeks kesanggupan o.p srta berikan penilaian menurut 2 cara berikut ini:
Cara lambat.
Indeks kesanggupan badan = lama naik turun bangku (dlm detik) x 100
2 x jumlsh ketiga denyut nadi tiap 30
Penilaian

: kurang dari 55
55-64
65-79
80-89
lebih dari 90

Cara cepat :
Dengan rumus

= kesangguapan kurang
= kesanggupan sedang
= kesanggupan cukup
= kesanggupan baik
= kesanggupan amat baik

Indeks kesanggupan badan = lama naik turun bangku (dlm detik) x 100
5,5 x denyut nadi selama 30 pertama
Lamanya
percobaan

Pemulihan denyut nadi dari 1 menit hingga 11


40 - 44

0
030
10
130
20
230
30
330
40
430
50

29
059
130
159
230
259
329
359
429
459

5
20
30
45
60
70
85
100
110
125
130
Dengan daftar

1
menit
2

45 - 49

50 - 54

55 - 59

60 - 64

65 - 69

70 - 74

75 - 79

80 - 84

85 - 89

5
15
30
40
50
64
75
85
100
110
115

5
15
25
40
45
60
70
80
90
100
105

5
15
25
35
45
55
60
70
80
90
95

5
15
20
30
40
50
55
65
75
85
90

5
10
20
30
35
45
55
60
70
75
80

5
10
20
25
35
40
50
55
65
70
76

5
10
15
25
30
40
45
55
60
65
70

5
10
15
25
30
35
45
50
55
60
65

5
10
15
20
30
35
40
45
55
60
65

Petunjuk-petunjuk :
Carilah baris yang berhubungan dengan lamanya percobaan
Carilah lajur yang berhubungan dengan banyaknya denyut nadi selama 30 pertama
Indeks kesanggupan badan terdapat di persilangan baris dan lajur.
Penilaian :

kurang dari 50
50-80
lebih dari 80

= kurang
= sedang
= baik

P.III.2.6. Hitung indeks kesanggupan badan seseorang dengan cara lambat dan cepat
dengan data sebagai berikut :
Nama o.p : Indah Pratiwi
Hasil percobaan :
Lama naik turun bangku : 124
Denyut nadi pada
1-130
2-230
3-330

= 42x
= 38x
= 35x

Indeks kesanggupan badan o.p


Cara lambat :
Indeks kesanggupan badan : 84 x 100 = 36
2 x 115
penilaian <55
: kesanggupan kurang

Cara cepat :
Indeks kesanggupan badan : 84 x 100 = 36
5,5 x 42
penilaian <50
: kesanggupan kurang
Kesimpulan
Dari percobaan Harvard Step Test, kita dapat menentukan indeks kesanggupan badan
seseorang dalam melakukan aktivitas otot. Melalui cara penghitungan yang telah dijelaskan
diatas, terlihat bahwa indeks kesanggupan badan sangat bergantung dari lamanya seseorang
untuk terus-menerus naik-turun bangku dan frekuensi denyut jantung yang diukur segera
setelah o.p. melakukan aktivitas tersebut. Semakin lama o.p. mampu bertahan naik turun
bangku dan semakin cepat frekuensi denyut jantungnya pulih ke frekuensi normal, maka
semakin baik pula kesanggupannya.
Kesanggupan badan seseorang dinyatakan dengan Indeks KEsanggupan Badan (IKB) yang
dapat dihitung dengan menggunakan rumus diatas. Semakin besar nilai dari IKB sesorang
maka kesanggupan badannya semakin baik.

III.3. PENGARUH PERANGSANGAN N.VAGUS PADA JANTUNG KURA-KURA


TUJUAN
Pada akhir latihan ini mahasiswa harus dapat :
1. Membebaskan N.vagus (N.X) kiri dan kanan
2. Membuktikan pengaruh kegiatan N.X yang terus menerus (vagotonus) pada jantung
3. Mencatat dan menjelaskan pengaruh perangsangan lemah dan kuat N.X pada jantung
dalam hal :
Masa laten
Akibat ikutan (after effect)
Frekuensi denyut
Kekuatan kerutan
4. Mendemonstrasikan peristiwa lolos vagus (vagal escape)
Alat dan binatang percobaan yang diperlukan :
1. Kura-kura + meja operasi kura + tali pengikat
2. Kimograf rangkap + kertas + perekat + kipas kimograf + statif dan klem.
3. 2 pencatat jantung + 2 penjepit jantung
4. 2 sinyal maknit : 1 untuk mencatat waktu (waktu 1 detik)
1 untuk mencatat tanda rangsang
5. stimulator induksi + elektroda perangsang + kawat-kawat.
6. Botol plastic berisi larutan Ringer + pipet.
7. Benang + malam + kapas.
Tata kerja
III.3.1. Pengaruh kegiatan N.X yang terus menerus pada jantung
a. Ikatlah keempat kaki kura-kura yang telah dirusak otaknya dan dibor perisai dadanya
pada meja operasi.
b. Lepaskan perisai pada dada kura-kura yang telah dibor dari jaringan dibawahnya dengan
menggunakan pinset dan scalpel tanpa menimbulkan banyak pendarahan.
c. Bukalah dengan gunting pericardium yang membungkus jantung secara hati-hati agar
jangan terjadi pendarahan. Sekarang terlihat jantiung berdenyut dengan jelas.
d. Bebaskan kedua N.X sesuai petunjuk umum.
e. Buatlah 2 ikatan longgar ada setiap N.X.
f. Buktikanlah bahwa kedua saraf yang saudara bebaskan benar-benar N.X dengan cara
merangsangnya dengan arus faradic yang cukup kuat dan cukup lama untuk
memperlihatkan efek N.X terhadap jantung.
P.III.3.1. Apakah N.X termasuk golongan saraf kolinergik?
Jawaban : Iya, karena secara anatomi dan fisiologi sistem saraf autonom dibagi menjadi
2 yaitu :
Saraf simpatis(adrenergic)yang berasal dari ganglion cervikalis. Saraf simpatis
dibagi 2, yaitu saraf simpatis preganglion untuk mengeluarkan neurotransmiter
asetilkolin dan simpatis postganglion untuk mengeluarkan norpinefrin.

Saraf parasimpatis(kolinergik) yang berasal dari nervus vagus. Saraf parasimpatis


juga dibagi 2 yaitu pre dan post ganglion yang sama-sama mengeluarkan
neurotransmitter asetilkolin.
P.III.3.2. Bagaimanakah pengaruh N.X psda jantung berdasarkan pembagian
sarafadrenergic dan kolinergik?
Jawaban : Pengaruh nervus vagus pada jantung dimana nervus vagus juga merupakan
saraf kolinergik adalah memperlemah kontraksi otot jantung daan vasokonstriksi pada
arteri coronaria.
Sedangkan saraf adrenergenik berfungsi untuk memperkuat kontraksi otot jantung dan
vasodilatasi arteri coronaria.
P.III.3.3. Apa yang saudara harapkan dapat dilihat pada jantung kura-kura bila N.X
dirangsang?
Jawaban : Yang diharapkan adalah dapat terlihat melemahnya kontraksi otot jantung
dan terlihat gambaran berkurangnya frekuensi denyut jantung yang disertai fase
bradikardi dan cardiac arrest. Bila melemahnya kontraksi otot jantung maka dapat
disimpulkan bahwa inotropik, kemotropik dan denotropiknya bernilai negatif.
g. Hitunglah frekuensi denyut jantung
h. Ikatlah kuat-kuat semua ikatan longgar tersebut diatas dan guntinglah kedua N.X
diantara kedua ikatan.
i. Tunggulah 1 menit dan hitunglah kembali frekuensi denyut jantung.
P.III.3.4. mengapa harus menunggu 1 menit sebelum menghitung kembali frekuensi
denyut jantung?
Jawaban : Karena jantung tidak dapat terus menerus berkontraksi karena itu diperlukan
waktu agar jantung dapat beradaptasi dahulu untuk kembali ke kontraksi normal atau
kontraksi setelah nervus vagus dipotong
P.III.3.5. Perubahan apa yang saudara harapkan terjadi ada frekuensi denyut jantung
setelah pemotongan kedua N.X?
Jawaban : Perubahan yang diharapkan adalah perubahan frekuensi denyut jantung
yang sebelumnya melambat akibat rangsangan secara terus-menerus pada nervus vagus
menjadi lebih cepat. Di sini akan terlihat peningkatan denyut jantung dengan gambaran
denyut yang rapat-rapat.

III.3.2. Pengaruh perangsangan N.X pada atrium dan ventrikel.


a. pasanglah pelbagai alat sesuai dengan gambar sehingga saudara dapat mencatat :
Mekanomiogram atrium
Mekanomiogram ventrikel
Tanda rangsang
Tanda waktu (1 detik)
b. Tanpa menjalankan tormol, rangsanglah N.X. kanan bagian perifer dengan rangsang
faradic lemah, sehingga terlihat jelas timbulnya brakikardi.
c. Jalankan tromol dengan kecepatan yang tepat untuk mencatat 10 denyut jantung sebagai
kontrol. Tanpa menghentikan tromol rangsanglah N.X kanan bagian perifer dengan
rangsang sub2 selama 5 detik. Hentikan tromol setelah terjadi pemulihan jantung yang
sempurna.
Perhatikan :
a. Masa laten
b. akibat ikutan (after effect)
c. Frekuensi denyut

d. Kekuatan kerutan
P.III.3.6. Apa yang dimaksud dengan masa laten dan akibat ikutan ?
Jawaban : Masa laten adalah masa mula perangsangan sampai timbul respon pertama.
Pada perangsangan di nervus vagus, repon pertamanya berupa bradikardi.
Sedangkan masa laten akibat ikutan adalah timbulnya respon pertama (bradikardi)
setelah rangsangan dihentikan (terjadi setelah fase cardiac arrest).
d. Tanpa menjalankan tromol rangsanglah N.X kanan bagian perifer dengan rangsang
faradic yang cukup kuat sehingga terlihat jelas timbulnya henti jantung.
e. Setelah menunggu 5 menit mengulangi percobaan sub3 dengan menggunakan rangsang
faradic sub4 sehingga terjadi henti jantung (cardiac arrest).
P.III.3.7. Bagaimana mekanisme terjadinya henti jantung ?
Henti jantung atau Cardiac arrest disebut juga cardiorespiratory arrest,
cardiopulmonary arrest, atau circulatory arrest, merupakan suatu keadaan darurat
medis dengan tidak ada atau tidak adekuatnya kontraksi ventrikel kiri jantung yang
dengan seketika menyebabkan kegagalan sirkulasi. Gejala dan tanda yang tampak,
antara lain hilangnya kesadaran, napas dangkal dan cepat bahkan bisa terjadi apnea
(tidak bernafas), tekanan darah sangat rendah (hipotensi) dengan tidak ada denyut nadi
yang dapat terasa pada arteri, dan tidak denyut jantung.
Penyebab cardiac arrest yang paling umum adalah gangguan listrik di dalam jantung.
Jantung memiliki sistem konduksi listrik yang mengontrol irama jantung tetap normal.
Masalah dengan sistem konduksi dapat menyebabkan irama jantung yang abnormal,
disebut aritmia. Terdapat banyak tipe dari aritmia, jantung dapat berdetak terlalu cepat,
terlalu lambat, atau bahkan dapat berhenti berdetak. Ketika aritmia terjadi, jantung
memompa sedikit atau bahkan tidak ada darah ke dalam sirkulasi.

Aritmia dicetuskan oleh beberapa faktor, diantaranya: penyakit jantung koroner yang
menyebabkan infark miokard (serangan jantung), stress fisik (perdarahan yang banyak
akibat luka trauma atau perdarahan dalam, sengatan listrik, kekurangan oksigen akibat
tersedak, penjeratan, tenggelam ataupun serangan asma yang berat), kelainan bawaan
yang mempengaruhi jantung, perubahan struktur jantung (akibat penyakit katup atau
otot jantung) dan obat-obatan. Penyebab lain cardiac arrest adalah tamponade jantung
dan tension pneumothorax.
Patofisiologi cardiac arrest tergantung dari etiologi yang mendasarinya. Namun,
umumnya mekanisme terjadinya kematian adalah sama. Sebagai akibat dari henti
jantung, peredaran darah akan berhenti. Berhentinya peredaran darah mencegah aliran
oksigen untuk semua organ tubuh. Organ-organ tubuh akan mulai berhenti berfungsi
akibat tidak adanya suplai oksigen, termasuk otak. Hypoxia cerebral atau ketiadaan

oksigen ke otak, menyebabkan korban kehilangan kesadaran dan berhenti bernapas


normal. Kerusakan otak mungkin terjadi jika cardiac arrest tidak ditangani dalam 5
menit dan selanjutnya akan terjadi kematian dalam 10 menit (Sudden cardiac death).
III.3.3 Lolos Vagus (Vagal Escape)
Jalankan tromol dengan kecepatan yang tepat untuk mencatat 10 denyut jantung sebagai
kontrol. Tanpa menghentikan tromol rangsanglah N.X. kanan bagian perifer dengan
rangsang faradic cukup kuat sehingga terjadi henti jantung. Teruskan perangsangan dan
pencatatan sehingga timbul lolos vagus. Bila perangsangan sudah berlangsung 30 detik
tanpa terjadi lolos vagus hentikan perangsangan.
P.III.3.8. Apa yang dimaksud dengan lolos vagus ?
Jawaban : Lolos vagus adalah denyut yang muncul setelah rangsangan nervus vagus
tidak lagi dilakukan.
P.III.3.9. Bagaimana mekanisme terjadinya lolos vagus ?
Jawaban : Mekanisme lolos vagus
Suatu kompleks lolos vagus ialah kompleks ektopik yang timbul karena terlambatnya
impuls yang datang dari arah atas. Kompleks lolos paling sering timbul di daerah
penghubung AV dan ventrikel, jarang di atria. Jelas bahwa mekanisme lolos ialah suatu
mekanisme penyelamatan system konduksi jantung agar jantung tetap berdenyut
meskipun ada gangguan datangnya impuls dari atas. Lolos vagus biasanya terjadi
karena ada aliran balik vena.
Bila pada usaha saudara yang pertama lolos vagus tidak terjadi, maka boleh dicoba 2x
lagi dengan waktu rangsang yang lebih lama, dan bila masih juga belum berhasil
hentikanlah percobaan saudara.
P.III.3.10. Faktor apa yang menghilangkan kemungkinan terjadinya lolos vagus?
Jawaban : Faktor adanya aliran darah di jantung dan impuls listrik jantung yang
kurang untuk merangsang kontraksi, dan juga pemberian rangsangan yang tidak
kontinyu.
HASIL PRAKTIKUM & ANALISA
A. Pengaruh Kegiatan N. X yang Terus-Menerus pada Jantung
Percobaan dilakukan dengan mengamati tayangan video mengenai topik terkait.
B. Pengaruh Perangsangan N. X pada Atrium dan Ventrikel
Percobaan dilakukan dengan mengamati tayangan video mengenai topik terkait.
C. Lolos Vagus (Vagal Escape)
Pada perangsangan parasimpatis multipel, jantung akan mengalami masa laten dan bradikardi
pada mulanya, kemudian cardiac arrest. Setelah beberapa saat, akan timbul suatu denyutan
baru yang tidak dipengaruhi oleh Nervus Vagus (padahal ketika itu, Nervus Vagus masih
dirangsang). Denyutan itu disebut sebagai Vagal Escape. Setelah terjadi vagal escape,
terdapat denyutan bradikardi sebagai akibat intervensi kembali Nervus Vagus. Hal tersebut
disebut dengan after effect. Setelah itu, denyut jantung kembali seperti semula.

KESIMPULAN
Nervus Vagus memiliki serabut parasimpatis yang berfungsi untuk memperlambat denyut
jantung. Jika Nervus Vagus dipotong, maka tidak ada lagi yang menstimulasi agar jantung
memperlambat kinerjanya sehingga kontraksi akan terus cepat dan frekuensi pun meningkat.
Cardiac arrest terjadi karena perangsangan faradic yang kuat, kemudian terjadi
hiperpolarisasi yang justru tidak menimbulkan potensial aksi.
Vagal escape dapat terjadi karena jantung memiliki sifat otoritmisitas, jantung akan
memompa dirinya sendiri tanpa stimulasi dari SA Node. Kontraksi jantung yang terjadi
merupakan akibat dari venous return yang terus terjadi sehingga volume end diastolic pun
lebih besar dan merangsang jantung untuk berdenyut.

DAFTAR PUSTAKA
Sherwood, L. 2004. Human physiology from cells to system 5 th ed. Thompson LearningBrooksdale Cole : New York
Arthur C. Guyton and John E. Hall ( 1997), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9.Penerbit
Buku Kedokteran EGC : Jakarta
Ganong.2008.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Jakarta:EGC.
Cameron, J.R.et al. 2006. Fisika Tubuh Manusia. Jakarta : EGC