Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
Masalah ekonomi hadir seiring dengan keberadaan manusia untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan akan makanan dan minuman,
berpakaian, bertempat tinggal dan hidup dengan layak mendorong manusia
melakukan tindakan ekonomi. Bercocok tanam, bertani, berburu, menebang
pohon, kerajinan tangan, berdagang, dan seterusnya. Dengan kegiatan ekonomi
juga manusia sebenarnya mengekspresikan sosialitasnya; dan melalui tindakan
ekonomi, melalui pertukaran kata Aristoteles dalam Nechomacean Ethics,
manusia berinteraksi dan membentuk suatu komunitas.
Seiring dengan perkembangan peradaban, kebutuhan manusia semakin
meningkat demikian juga cara dan sarana pemenuhan kebutuhan itu makin
beragam. Industrialisasi, perdagangan antar negara, dan kegiatan bisnis lainnya
kini semakin merebak dan bahkan mengancam keberadaan komunitas. Tindakan
ekonomi tidak lagi menunjukkan karakter sosialitas manusia dan tanggung
jawabnya terhadap yang sosial itu, tapi malahan sebaliknya mengancam,
melemahkan dan menghancurkannya. Inilah keprihatinan utama kehidupan
ekonomi sekarang ini.
Tapi jangan lupa 2500 tahun yang lalu seorang filsuf Yunani telah
merefleksikan masalah ekonomi semacam itu. Aristoteles mengecam sistem dan
tindakan ekonomi yang tidak wajar, tidak adil dan tidak sah, karena merugikan
dan merusak kehidupan bersama masyarakat negara kota (polis). Dalam
pandangan Aristoteles, kegiatan perekonomian terikat dengan sebuah etika, yakni
etika

polis.

Dalam refleksi ini, penulis akan membahas pemikiran ekonomi sang filsuf Yunani
ini. Pertama-tama akan dipaparkan terlebih dulu hakikat negara sebagai komunitas
etis dalam pandangan Aristoteles (1). Kemudian akan dibahas bagaimana aktifitas
ekonomi sebagai bagian dari kegiatan dalam negara polis (2), serta pandangan dan

teori-teori ekonomi menurut Aristoteles (3). Dan di akhir tulisan ini, penulis akan
mengemukakan sejumlah penilaian kritis.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Negara dan Etika Politik
Dalam pemikiran politiknya, Aristoteles menempatkan polis atau negara
kota sebagai institusi sosial yang sangat sentral. Polis adalah komunitas etis
yang ditata dan diorganisasikan secara politis dengan sejumlah regulasi dan
perundang-undangan yang diperuntukkan untuk suatu tujuan kehidupan bersama
yang baik, Summum bonum, dan berkeadilan. Dalam komunitas inilah manusia
bisa merealisasikan hidupnya sebagai makhluk yang hidup berkelompok, bios
politicos, sekaligus juga agar bisa mewujudkan kehidupan yang baik. Memang
ada bentuk komunitas yang lain, seperti rumah tangga dan asosiasi desa, namun
demikian hanya dalam negaralah sebagai komunitas final dan tertinggi, menurut
Aristoteles,

bisa

dicapai

kehidupan

yang

paling

baik

itu. Aristoteles

menulis, every state is community of some kind the state or political


community, which is the highest of all, and which embrace all the rest, aims at
good in a greater degree than any other, and at the highest good. (setiap negara
adalah komunitas dari beberapa kelompok negara atau komunitas politik yang
merupakan bentuk komunitas tertinggi dan mencakup seluruh komunitas
lainnnya, bertujuan untuk mencapai kebaikan yang paling puncak dan tertinggi).
Dengan demikian terbentuknya negara bukan hanya untuk menjamin
keamanan warga atau membuat perjanjian komersial, melainkan mengatur
kehidupan publik agar bisa berpartisipasi mewujudkan kebaikan bersama. Negara
ada bukan untuk tujuan pada dirinya sendiri atau untuk sebagian orang atau
kelompok dinasti tertentu, melainkan untuk semua warganegara agar menjalani
kehidupan dalam kebajikan dan mutu yang paling baik. Oleh karena itu, kegiatankegiatan warganegara pun harus tunduk dan diarahkan semata-mata untuk
kebaikan semua, yakni kebaikan polis. Aristoteles menegaskan, The state is by
nature clearly prior to the family and to the individual, since the whole is of

necessity prior to the part(Pada dasarnya negara secara alamiah lebih utama
daripada keluarga dan individu, karena yang keseluruhan itu juga lebih utama
dari bagian-bagiannya).
Menurut Aristoteles, kebaikan bersama dapat dicapai dalam sebuah negara
bila dipimpin oleh seorang negarawan yang bebas dan memiliki waktu luang
untuk mengurus negara. Seorang negarawan bukanlah orang yang disibukkan
dengan aktifitas kerja rumah tangga, seperti bekerja, berdagang, bercocok tanam
atau berbisnis lain, karena aktifitas-aktifitas semacam itu pasti mengganggu
urusan-urusan kenegaraan. Bukan hanya itu, menurut Aristoteles, pekerjaan kasar
semacam itu tidak akan memungkinkan seseorang menjadi negarawan yang baik.
Agar sang pemimpin bisa berkonsentrasi penuh mengatur kehidupan negara, maka
sebaiknya urusan perekonomian tersebut diserahkan kepada para pembantu dan
budak saja.
B. Aktifitas Ekonomi sebagai Masalah Etika
Dalam karya-karyanya, sebenarnya Aristoteles tidak membahas persoalanpersoalan ekonomi secara luas dan mendetail. Pemikiran ekonomi Aristoteles ini
paling-paling hanya bisa ditemukan dalam Politics terutama pada buku 1, dan
pada buku 5 dari karyanya yang berjudul Nicomachean Ethics. Lagi pula gagasangagasan ekonominya lebih merupakan bagian dari pembahasan komprehensifnya
mengenai teori politik (negara), ketimbang sebagai pemikiran filosofis yang
mandiri atau bidang refleksi yang tersendiri. Tegasnya, ia lebih pantas disebut
sebagai uraian mengenai pemikiran sosiologi politik daripada pembahasan
panjang mengenai sosiologi ekonomi atau ilmu ekonomi yang bersifat
teknis Sebagai bagian dari filsafat kenegaraan, masalah-masalah ekonomi terkait
dengan kehidupan warga dalam masyarakat polis, yakni bagaimana mewujudkan
kehidupan yang baik dan bermutu.
Bagi Aristoteles, negara ideal itu bisa dicapai, jika negara polis memiliki
sarana, syarat-syarat, aturan atau konstitusi yang memungkinkan suatu polis
dapat dikelola secara baik dan mendatangkan kebahagiaan bagi semua

anggotanya. Syarat penting bagi eksistensi negara kota tersebut adalah tersedianya
harta benda untuk memenuhi semua kebutuhan hidup warga. Namun demikian,
bukan berarti pemenuhan kebutuhan ekonomi warga ini ditangani langsung oleh
negara atau aparatur negara, tidak juga oleh warganegara yang bebas. Sebaliknya,
urusan ekonomi ini ditangani dalam lingkup tanggung jawab rumah tangga,
sedangkan pengelolaannya diserahkan kepada para pembantu dan budak.
Aristoteles menulis: Property is a part of the household, and the art of acquiring
property is a part of the art of managing the household; for no man can live well,
or indeed live at all, unless he be provided with necessary. (Harta benda adalah
bagian dari rumah tangga, dan cara memperolehnya juga adalah bagian dari
cara mengelola rumah tangga; karena orang tidak bisa hidup dengan baik,
bahkan orang tidak bisa sekadar hidup saja, kecuali ada harta benda).
Aristoteles mencermati dengan jelas bahwa rumah tangga memenuhi
kebutuhan hidupnya melalui pertanian, berburu, memancing dan membuat
kerajinan seperti menenun dan memintal. Rumah tangga juga harus menghasilkan
surplus yang cukup untuk memperoleh kebutuhan sehari-hari mereka. Tapi
menurut Aristoteles tidak mungkin warganegara yang bebas melakukan
pekerjaan-pekerjaan itu karena niscaya mereka tidak akan memiliki waktu luang
untuk mengelola polis dan memikirkan kebaikan semua warga kota. Oleh karena
itu, Aristoteles mengusulkan agar warganegara harus memiliki instrumen untuk
mengelola rumah tangganya. Ada dua instrumen yang disebut Aristoteles.
Pertama, instrumen produktif, yakni mekanisme untuk memproduksi hasil
atau tujuan-tujuan di luar pekerjaan (saya kira ini terkait dengan seni pemerolehan
kekayaan); dan kedua, instrumen tindakan yakni pelayan dan budak yang
keberadaan memungkinkan hidup yang baik dengan melayani tuannya. Keduanya
dibutuhkan dalam pengelolaan rumah tangga.
Karena pengelolan rumah tangga menjadi bagian dari upaya menciptakan
kebaikan publik, maka Aristoteles lalu mencoba membuat pemilahan mengenai
praktek-praktek ekonomi macam apa yang mendukung bagi kebaikan negara

kota (polis)sehingga dipandang sebagai kegiatan yang absah dan natural, dan
mana yang tidak mendukung kebaikan.
Jenis kegiatan ekonomi yang absah adalah usaha-usaha yang dilakukan
untuk sekadar memenuhi nafkah hidup sehari-hari dengan syarat kecukupan
alamiah, yakni dalam rangka menjamin adanya persediaan barang-barang yang
dapat disimpan dan yang diperlukan untuk kehidupan dan bermanfaat bagi polis
atau rumah tangga. Bertani, berburu, memancing, menenun, memintal, dan
sebagainya adalah cara pemerolehan yang sah karena harta benda atau kekayaan
yang dihasilkan dari pekerjaan itu diperoleh secara alamiah, disediakan alam
untuk kebutuhan sehari-hari manusia. Ia tetap absah, menurut Aristoteles,
sepanjang dilakukan tidak untuk mengejar keuntungan semata-mata atau untuk
mengejar harta secara tak terbatas.
Hal ini juga berlaku dalam mekanisme pertukaran yang dilakukan antar
asosiasi (rumah tangga). Dalam pertukaran (disini Aristoteles telah membuat
distingsi penting tentang nilai guna dan nilai tukar barang), orang-orang yang
memiliki sejumlah barang yang berbeda-beda saling melakukan pertukaran untuk
memenuhi kebutuhan yang muncul melalui barter. Misalnya gandum ditukar
dengan sepatu, sejumlah polpen ditukar dengan buku, bangunan rumah ditukar
dengan sebidang tanah, dan seterusnya. Pertukaran semacam ini perbolehkan
karena memenuhi syarat-syarat kecukupan alamiah itu dan not contrary to
nature.
Dalam kaitan ini pula, Aristoteles dalam Nicomachean Ethics menekankan
suatu pertukaran yang seimbang dan adil. Yakni pertukaran yang proporsional
antar barang-barang dimana ia dapat diperbandingkan antar satu sama lain. Ada
ekuivalesi antara apa yang diterima dan yang diberikan. Untuk kebutuhan
pertukaran inilah Aristoteles memperkenalkan munculnya mata uang yang
secara natural dipakai sebagai perbandingan. Money, then acting as a
measure, tulis Aristoteles. Yakni untuk mengukur keseimbangan maupun
kekurangan

dan

kelebihannya

satu

menyeimbangkan antar barang-barang itu.

sama

lain,

dan

sekaligus

juga

Pada tahap ini, Aristoteles tidak mempersoalkan mata uang sebagai alat
pertukaran yang bersifat alamiah. Namun samar-samar ia mulai khawatir juga
ketika uang sudah mulai dilembagakan. Dalam sistem pertukaran tersebut ada
tendensi yang berkembang yang menurut Aristoteles menjadi tidak alamiah lagi.
Yakni kecenderungan transaksi yang semata-mata untuk mengejar uang belaka.
Tendensi ini terus berkembang sehingga pertukaran dan perdagangan menjadi
bisnis yang ditujukan untuk mengakumulasi uang. Uang ditukarkan dengan
barang-barang, lalu barang-barang ini ditukar lagi untuk memperoleh uang yang
lebih banyak. Seolah-olah uang adalah tujuan orang dan segala yang lain harus
mendukung tujuan itu.
Kecenderungan itulah yang mendorong Aristoteles mengecam cara-cara
riba (usury) sebagai cara pemerolehan penghasilan yang tidak adil. Yakni
sebuah transaksi pertukaran yang dimaksudkan untuk memperbesar modal/uang
malalui sistem bunga. Demikian juga menopoli perdagangan yang dilakukan
untuk meraih keuntungan pribadi sebesar-sebesarnya.
Riba dan monopoli adalah cara pemerolehan yang tidak sah dan tidak
alamiah (unnatural), karena ditujukan untuk suatu jumlah kekayaan yang tidak
terbatas dan diperoleh dengan cara mengorbankan orang lain. Padahal, bagi
Aristoteles, ada batas-batas kepemilikan harta benda yang diperlukan bagi rumah
tangga masyarakat kota agar bisa mencapai happiness, good life dan
kesejahteraan bersama.
C. Beberapa Teori Ekonomi Aristoteles
Sebagaimana disinggung dalam bagian 2 di atas, sesungguhnya perhatian
utama Aristoteles tercurah pada pembahasan tentang ekonomi natural dan
berkeadilan yang menjadi kegiatan ideal kehidupan yang baik dan
berkeutamaan dari warganegara. Oleh karena itu analisis ekonominya lebih
memusatkan diri pada kecenderungan-kecenderungan subyektif sang pelaku
ekonomi sendiri, yakni kebutuhan dan pemuasan atas kebutuhan itu.

Menurut Aristoteles, kebutuhan manusia (mans need) tidak terlalu banyak,


tetapi keinginannya (mans desire) yang relatif tak terbatas. Kegiatan produksi
yang semata-mata untuk memenuhi hasrat manusia yang tanpa batas dikecamnya
sebagai tidak adil (unnatural).oeconomia dan chrematistike. Yang pertama adalah
kegiatan mencukupi kebutuhan sehari-hari rumah tangga, dan yang kedua adalah
usaha untuk memperoleh keuntungan sifatnya, misalnya perdagangan yang
didorong oleh morif keuntungan sebesar-besanya. Aristoteles mencela yang kedua
dan memuji yang pertama. Demikian juga ia membedakan antara use
(kegunaan) dan gain (keuntungan) serta antara
Dari analisis ekonomi ini setidaknya ada beberapa gagasan utama
Aristoteles yang pada dasarnya menjadi semacam embrio dari pemikiran ekonomi
dewasa ini. Adam Smith, misalnya, mengambil banyak insight dari pemikiranpemikiran ini.
Pertama, teori tentang nilai. Aristoteles telah membuat pembedaan antara
nilai guna dan nilai tukar barang. Bahwa nilai tukar barang dihasilkan dari nilai
gunanya. Sayangnya, Aristoteles tidak sampai membuat perumusan mengenai
nilai harga yang baru dikembangkan oleh pengikutnya kemudian, karena ia
dihadapkan oleh problem keadilan dalam penetapan harga itu, yakni keadilan
komutatifnya. Dalam hal ini Aristoteles mengecam monopoli pasar oleh satu
orang karena merupakan cara bertransaksi yang tidak adil. Namun demikian
secara bersamaan sesungguhnya Aristoteles telah berusaha mencari hukum
keadilan dalam penetapan harga.
Keadilan

itu

terletak

pada

tercapainya

prinsip

keseimbangan

(equivalence) antara apa yang diberikan dan apa yang diterima. Dan dengan
adanya uang sebagai medium pertukaran, keseimbangan dalam penetapan harga
maupun dalam pertukatan sesungguhnya bisa menjadi ukuran bagi hukum
keadilan.
Secara logis bila praktek monopoli yang dalam definisi Aristoteles sebagai
dominasi penjual/pembeli tunggal (a single seller) dalam pasar dianggap tercela

dan tidak adil, maka sebaliknya Aristoteles akan bisa menerima praktek transaksi
pertukaran yang dilakukan dalam pasar kompetitif, di mana individu-individu bisa
terlibat dalam mekanisme tersebut, tanpa ada seorangpun yang bisa dengan
semaunya merubah harga.
Kedua, teori tentang uang. Bagi Aristoteles, uang adalah medium
pertukaran (a medium of exchange) sekaligus juga bisa dipakai untuk mengukur
nilai barang (a measure of value). Keberadaan uang sebenarnya digunakan untuk
menggantikan sistem barter (pertukaran barang dengan barang), bila barter tidak
dimungkinkan karena barang yang kita harapkan tidak ada dan karenanya kita
memerlukan barang lain untuk kita pertukarkan dalam proses barter
selanjutnya (indirect barter). Dan biasanya uang yang dijadikan alat pertukaran
memiliki nilai yang relatif stabil dan mudah dibawa.
Ketiga, tentang bunga. Aristoteles mengutuk bunga yang ada dalam
sistem riba. Ia menolak sistem riba atau transaksi pertukaran yang bermaksud
semata-mata memperanakpinakkan uang untuk memperbesar modal/uang.
Keempat, Aristoteles membuat pembedaan tiga jenis keadilan: keadilan
distributive, keadilan korektif dan keadilan komutatif. Keadilan distributife
menyangkut distribusi barang, termasuk kekuasaan politik dan hak milik diantara
anggota masyarakat sesuai dengan prinsip sumbangan atau jasa setiap orang.
Keadilan korektif adalah bentuk keadilan yang berfungsi untuk melindungi
individu dari kemungkian kerugian yang tidak semestinya baik dalam transaksi
yang dikehendaki maupun yang tidak dikehendaki. Keadilan jenis ini biasanya
terwujud dalam undang-undang yang memberi kompensasi atau ganti rugi bagi
pihak yang dirugikan dalam transaksi dan hukuman bagi yang merugikan. Prinsip
yang mau ditegakkan adalah kesamaan kedudukan setiap orang dan masingmasing orang tidak boleh merugikan yang lain. Sementara keadilan komutatif
adalah keadilan bagi masing-masing pihak untuk menerima sesuatu yang baik dan
menguntungkan secara timbal balik.

Dalam karyanya Nicomachean Ethics, Aristoteles memandang keadilan


sebagai keutamaan. Kehidupan yang baik akan tercapai bila prinsip-prinsip
keadilan dilaksanakan. Namun demikian, keadilan bagi Aristoteles tidak selalu
merupakan kesamaan, karena ada juga ketidaksamaan yang justeru mencerminkan
rasa keadilan.
D. Penilaian Kritis
Setelah diuraikan panjang lebar mengenai aspek-aspek pemikiran ekonomi
Aristoteles di atas, penulis ingin memberikan sejumlah penilaian kritis terhadap
gagasan Aristoteles. Ada kelebihan dan kekurangan dalam gagasan Aristoteles ini
yang akan segera diuraikan.
Pertama, tampak sekali bahwa Aristoteles sesungguhnya meletakkan
persoalan ekonomi sebagai bagian dari refleksinya terhadap persoalan-persoalan
kenegaraan. Negara polis yang dibayangkan Aristoteles adalah komunitas etis
yang keberadaannya semata-mata untuk merealisasikan kebaikan bersama. Dan
dengan demikian pula pengelolaan ekonomi (sebagai bagian dari persoalan
kenegaraan) juga harus tunduk pada tujuan-tujuan masyarakat dalam negara kota
yakni untuk mewujudkan kebaikan bersama itu. Kebaikan bersama atau
happiness ini dalam permikiran ekonomi Aristoteles dicapai bila tiap orang
memenuhi kebutuhan dasar hidup secukupnya dan melakukan transaksi ekonomi
secara wajar dan adil. Artinya secara moral kegiatan ekonomi ini tidak boleh
menyebabkan penderitaan dan kerugian bagi orang lain. Kita juga harus
memperlakukan orang lain secara fair dan menghargai hak-haknya, juga
menghormati hokum negara sebagai institusi yang menjamin kebaikan bersama
bagi seluruh masyarakat.
Gagasan besar inilah yang kini sangat relevan dengan pemikiran baru
dewasa ini, sebagaimana yang diserukan Leon Walras, mengenai perlunya sistem
ekonomi sosial menggantikan sistem liberalisme pasar yang telah mengingkari
tanggung jawab individu terhadap keutamaan kebaikan bersama

Kedua, pandangan antropologis Aristoteles yang menekankan karakter


sosialitas

manusia

mengenai social

pada

dasarnya

dimension dalam

ikut
pemikiran

memberikan
dan

pertimbangan

analisis

ekonomi.

Konsekuensi dari keyakinan ini adalah keutamaan keseluruhan atau komunitas


berada di atas keutamaan individu. Individu bermakna sejauh sejauh mendukung
kepentingan komunitas. Analisis ekonomi yang memperhatikan aspek sosialitas
manusia dan relasi harmoni dalam kehidupan bersama menjadi aspek penting dari
sistem ekonomi sosial di atas.
Ketiga, penulis melihat ada kecenderungan Aristoteles untuk tidak
menganggap serius dan penting persoalan ekonomi karena ternyata menejemen
pengelolaannya harus diserahkan kepada pelayan dan para budak. Mungkin niat
Aristoteles baik yakni agar para penguasa dan warganegara tidak begitu
disibukkan oleh urusan teknis menejemen sehingga bisa berkonsentrasi penuh
mewujudkan kebaikan negara. Tetapi samar-samar bisa dicurigai bahwa
sebenarnya Aristoteles menganggap pekerjaan kasar dan kerajinan yang
merupakan urusan menejemen rumah tangga itu adalah sesuatu yang hina, tidak
berkualitas, dan tidak bermartabat bila dibandingkan dengan aktifitas dalam polis.
Dengan gradasi antara keutamaan politik dan keutamaan ekonomi, dimana
masalah ekonomi adalah subordinatif terhadap masalah politik, meski tampak
sekali seruan Aristoteles bahwa persoalan ekonomi mesti tunduk pada keutamaan
politik, Aristoteles tidak melihat bahaya ketika ekonomi justeru lepas dari
tanggung jawab politik dan tirani ekonomi justeru lebih mematikan daripada tirani
politik.

DAFTAR KEPUSTAKAAN:
Aristoteles, Nicomachean Ethics, (terjemahan versi Inggris oleh H.
Rackham, MA), London: William Heinemann LTD, 1968
Aristoteles, Politics, (terjemahan versi Inggris oleh Benjamin Jowett),
New York: The Modern Library, 1943.
Deliarnov, Perkembangan Pemikiran Ekonomi, Jakarta: Rajawali Press.
Keraf, A. Sonny, Ketidaksamaan yang Adil, Etika Politik Aristoteles
dalam majalah Atma nan Jaya, edisi April, 1993.
Schumpeter, Joseph, A History of Economic Analysis, Oxford: University
Press, 1954
Lutz, Mark A, Economics for the Common Good. Two Centuries of Social
Economic Thought in the Humanistic Tradition, London & New York: Routledge,
1999

http://terjeru.blogspot.co.id/2014/01/filsafat-ekonomi-aristotelesintegrasi.html