Anda di halaman 1dari 6

NARASI ILMIAH

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA


AKTUALISASI DIRI DUNIA KERJA

Disusun Oleh :
Guritno Lantip Prihasto
14/16969/ STIPP

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN INSTIPER
YOGYAKARTA
2016
Setiap manusia didunia dilahirkan dengan karakter yang berbeda beda.
Pada hakikatnya pengembangan karakter dimulai dari usia dini hingga dewasa dan
siap untuk berkarya. Karakter seseorang dapat tercipta melalui suatu peristiwa
yang sehari hari dilihat. Keluarga adalah lingkungan utama dalam
pembentukkan karakter, lingkungan sekitar dan lembaga pendidikan adalah nilai
tambah dalam pembentukkan karakter. Dalam berjalan seiringan dengan waktu
karakter yang akan terbentuk dari berbagai pengaruh dan pendidikan moral akan
membentuk dan menonjolkan pada suatu individu. Pendidikan karakter menurut
Ratna Megawati adalah sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat
mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikannya dalam kehidupan

sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif pada


lingkungannya. Pendidikan karakter dari kecil harus sudah ditanamkan dengan 3
garis besar yaitu agama, bangsa dan budaya. Agama merupakan pendidikan
pertama dimana semua agama melakukan ajaran ajaran masing dengan tujuan
menjadi orang baik dan hal tersebut mutlak dan benar. Sehingga dari aspek terebut
bangsa dan budaya menjadi pertimbangan setelah mengantu aspek keagamaan.
Karakter yang terdapat pada manusia secara garis besar dibagi menjadi 4,
karakter tersebut dapat bersifat melankolis, plegmatis, sanguinis dan koleris. Dari
berbagai jenis karakter tersebut sangat mempengaruhi kinerja, seperti karakter
pemimpin, pendengar, dan pembicara yang baik dapat disimpulkan dari jenis
karakter tersebut. Pada kaitannya dengan pekerjaan banyak manusia mengabaikan
untuk mengenali karakter daripada diri sendiri. Rasa tidak ingin untuk mengetahui
karakter individu sendiri tersebut menyebabkan individu tidak ingin untuk
berkembang dan berprestasi. Dalam dunia pekerjaan manusia memiliki tujuan
dalam bekerja dan hal tersebut memiliki beberapa tingkatan dalam usaha untuk
mewujudkannya.
Maslow mengajukan gagasan bahwa kebutuhan pada manusia adalah
bawaan, tersusun menurut tingkatan atau Hierarki Maslow. Maslow memerinci
kebutuhan manusia dalam lima tingkat kebutuhan (Hidayat, 2011). Pertama
adalah kebutuhan jasmani dan fisiologi, ini adalah kebutuhan dasar pada setiap
manusia untuk bertahan hidup. Beberapa dari kebutuhan jasmani manusia adalah:
lapar, haus, oksigen, seks, tempat berteduh dan tidur. (Poduska, 1997). Pada
tingkat ini adalah hal umum yang dapat dilihat pada dunia kerja indonesia, lulusan
berbagai tingkatan sekolah dasar hingga atas bekerja seadanya asal mencukupi
kebutuhan hidup, walaupun sebenarnya pekerja tersebut memiliki bakat namun
tidak adanya industri atau tempat untuk menyalurkan bakat menyebabkan bekerja
seadanya. Pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi seperti diploma dan sarjana
memiliki potensi untuk meneruskan belajar untuk mencapai tingkatan yang
selanjutnya namun berbagai kendala dilalui ditengah jalan seperti merasa salah
jurusan atau bukan passion pada bidang yang digeluti. Hal tersebut yang
menyebabkan adanya sarjana yang menganggur ataupun terpaksa bekerja
walaupun sudah mengetahui bakat yang dimilikinya.

Pada tingkatan kedua adalah kebutuhan rasa aman, setelah kebutuhan


dasariah terpuaskan, munculah apa yang digambarkan Maslow sebagai kebutuhan
akan rasa aman atau keselamatan. Kebutuhan ini menampilkan diri dalam kategori
kebutuhan akan kemantapan, perlindungan, kebebasan dari rasa takut, cemas dan
kekalutan; kebutuhan akan struktur, ketertiban, hukum, batas-batas, dan
sebagainya (Goble, 1987). Berbeda dengan tingkatan pertama dimana semua
orang tertuju untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan fisiologis. Kebutuhan
kedua ini bersifat tidak mutlak, dan berbeda standar rasa aman tiap manusia
seperti ketakutan menghadapi situasi baru dalam dunia kerja, pesimis dalam
tantangan baru, mutasi pekerjaan yang menyebabkan menyesuaikan dengan hal
baru. Tidak semua individu membutuhkan rasa aman akan hal tersebut, tertantang
akan hal hal baru membuat individu lebih berorientasi pada rasa puas pada
beberapa jenis karakter manusia.
Tingkatan ketiga adalah cinta dan rasa memiliki. Rogers (Jaenudin, 2015)
kebutuhan ini dapat dibangun melalui hubungan akrab dan penuh perhatian
dengan orang lain, dalam hal ini memberi dan menerima cinta sama-sama penting.
Hakikat manusia diciptakan berpasang pasangan oleh Tuhan adalah hal yang
benar sehingga tertuang pada tingkatan ini. Rasa cinta dan memiliki satu dengan
yang lain harus didapatkan dengan saling memberi dan menerima. Kepercayaan
adalah kunci dari rasa cinta dan memiliki, pada setiap pekerjaan jika masih ada
kecurigaan tidak akan dapat berjalan selaras. Rasa cinta dan merasa dicintai
sangat mempengaruhi prestasi pekerjaan, dimana seorang profesional yang sedang
bekerja pun dapat terpengaruhi oleh masaah dari orang dicintanya. Menghindari
membawa konflik kedunia kerja adalah hal yang sulit apabila penuh dengan
tekanan.
Kebutuhan harga diri berada pada tingkatan keempat. Maslow (Jaenudin,
2015) mengatakan bahwa kebutuhan harga diri yang terpuaskan akan membuat
individu menghasilkan rasa percaya diri, rasa kuat, rasa mampu, dan perasaan
berguna. Seseorang yang mengalami kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan ini
akan menghasilkan pelemahan semangat dan rasa inferior (Matthew &
Hergenhahn, 2013). Setelah kebutuhan jasmani fisiologis, rasa aman dan cinta
memiliki terpenuhi harga diri adalah sesuatu yang harus ditempatkan pada

kebutuhan manusia. Harga diri manusia dapat diciptakan oleh diri sendiri dan
penghargaan orang lain. Apabila kedua penghargaan keduanya positif dan
memunculkan karakter yang penuh akan rasa percaya diri pada dunia kerja. Harga
diri secara langsung berperan penting dalam perilaku sehari hari dalam
kehidupan sosial, interaksi sehari hari dan bermasyrakat. Harga diri
berhubungan dengan kepercayaan, apabila suatu kepercayaan yang diamanahkan
sekali tidak dilaksanakan dengan baik maka harga diri semakin menurun begitu
juga dengan rasa hormat pada kehidupan bersosial.
Tingkatan terakhir pada kebutuhan manusia adalah aktualisasi diri.
Aktualisasi diri didefinisikan sebagai perkembangan yang paling tinggi dan
penggunaan semua bakat kita, pemenuhan semua kualitas dan kapasitas kita.
Manusia dapat mencapai tingkat aktualisasi diri ini menjadi manusia yang utuh
dan mampu berkembang sepenuh kemampuannya (Jaenudin, 2015). Aktualisasi
diri dapat disebut juga mengeluarkan seluruh sifat tanpa menutup nutupi dalam
berkarir. Hampir mirip dengan passion namun aktualisasi lebih luas juga termasuk
aspek sosial bukan hanya bakat. Untuk mencapai aktualisasi diri dibutuhkan
pengenalan diri dan karakter yang mendalam sehingga dapat mengetahui bakat
pada diri sendiri.
Maslow mengatakan ada beberapa cara agar seseorang dapat mencapai
aktualisasi diri (Alberto, 2002), seperti bersedia berubah, memikul tanggung
jawab, mempelajari motif diri sendiri, menjaga kecemasan, dsb. Dari berbagai hal
hal tersebut yang paling signifikan adalah bersedia berubah, berubah dalam
bersikap baik didepan umum maupun pada diri sendiri. Berbohong pada diri
sendiri adalah hal yang sangat harus dihindari jika ingin mengetahui karakter.
Karena kejujuran harus dijunjung tinggi untuk beraktuliasasi diri. Kejujuran
meliputi beberapa sumber aspek salah satunya dari agama, agama mengajarkan
untuk selalu jujur. Apabila seseorang tidak jujur pada diri sendiri maka secara
tidak langsung tidak memiliki iman pada agamanya.
Sehingga dari hal hal tersebut menurut maslow adanya indikator
sesorang yang telah mengaktualisasikan dirinya adalah sebagai berikut, menerima
diri dan sifat-sifat mereka hampir tanpa memikirkannya. Perilaku tersebut ditandai
oleh kesederhanaan dan kealamiahan, tanpa kepalsuan atau efek yang dipaksakan

sehingga banyak respon orang yang tidak suka namun pemilik aktualisasi diri
tinggi tidak akan pernah memikirkan hal tersebut, sehingga cenderung
mengembangkan ikatan mendalam dengan sedikit individu yang juga memiliki
aktualisasi diri tinggi. Pribadi yang telah aktualisasi relatif independen dari
lingkungan fisik dan sosial mereka mereka bergantung pada pengembangan dan
pertumbuhan berkelanjutan mereka sendiri. Selera humor bersifat nyata dan
terkait dengan filosofi, tidak menyakitkan. Mereka cenderung serius dan penuh
pengertian. Berbeda dengan orang yang belum mengaktualisasikan dirinya
cenderung takut sendiri, takut akan menjadi bahan pembicaraan dan humor yang
menyakitkan agar dianggap pada sebuah diskusi sosial.
Pada dunia kerja indonesia belum banyak yang mengetahui tentang bentuk
dari aktualisasi kerja demi meningkatkan prestasi kerja. Perlunya pendidikan
karakter dari dini juga membantu akan keberhasilan seseorang dalam dunia kerja,
Seperti seorang wanita karir yang memiliki tanggung jawab seperti kodrat ibu
rumah tangga dan juga berpegang tanggung jawab pada sebuah jabatan misalnya.
Di sisi lain, wanita karir yang menjalankan peran ganda sebagai ibu rumah tangga
dan wanita karir berpotensi mengalami konflik peran. Prihanto & Lasmono (Fitri,
2000, dalam Apollo & Cahyadi, 2012) mengatakan beberapa konflik yang
dihadapi oleh seorang perempuan dalam menjalankan peran gandanya, yaitu
faktor yang berasal dari dalam diri sendiri, yaitu takut akan konsekuensi negatif
dari kesuksesan yang dicapainya, seperti kesulitan mendapatkan perlindungan dan
perhatian dari lawan jenis dan adanya perasaan takut anak maupun suami tidak
terurus Faktor dari luar menurut Yuarsi (dalam Fitriani, 1999, dalam Apollo &
Cahyadi, 2012).
Wanita karir sekaligus ibu rumah tangga merupakan aktualisasi diri dari
seorang wanita yang ingin menunjukkan bakatnya namun juga tidak ingin
kodratnya sebagai ibu rumah tangga ditinggalkan. Praktisnya seiring berjalannya
waktu dan prioritasnya seorang wanita karir cenderung untuk terus berkarir
sejalan dengan tumbuh besarnya anak ataupun semakin sedikit yang menjadi
tanggung jawab rumah dengan bantuan asisten rumah tangga. Pada wanita karir
hampir seluruh aspek kebutuhan dapat tercapai, berbeda jika hanya menjadi ibu
rumah tangga yang mungkin bergantung pada penghasilan pasanganya.

Kebutuhan akan fisiologis dan rasa aman dan cunta mungkin terpenuhi namun
apabila wanita memang berbakat karir akan merasa jika tidak memiliki harga diri
karena berpangku tangan dan juga tidak dapat mengaktualisasi diri sendiri.
Terjebak pada suatu rutinitas yang tidak biasa oleh wanita karir seperti mengurus
rumah, memasak, berbelanja akan terasa membelenggu.
Wanita karir yang mempunyai aktualisasi diri harus dapat membagi waktu
yang baik dalam keluarga maupun pekerjaan. Hambatan terbesar perempuan yang
menjalankan peran ganda adalah dalam hal pengaturan waktu. Sedyono &
Hasibuan (Setyowati, 2003, dalam Diansari, 2006) mengemukakan bahwa salah
satu tantangan terbesar bagi wanita karir adalah persepsi tentang kekurangan
waktu, perasaan bahwa adanya perbedaan yang sangat besar antara waktu yang
dimiliki dengan jumlah tugas yang harus dikerjakan.