Anda di halaman 1dari 7

2.

PRINSIP BELAJAR
Teori kognitif-sosial Albert Bandura berusaha menjelaskan belajar dalam latar naturalistik. Berbeda dengan
latar laboratorium, lingkungan sosial memberi banyak kesempatan bagi individu untuk mendapatkan keterampilan
dan kemampuan yang kompleks melalui observasi perilaku model dan konsekuensi behavioral.
a.
Asumsi Dasar
Asumsi teori kognitif-sosial berkaitan dengan hakikat proses belajar dan hasil belajar.
Belajar merupakan suatu proses internal yang mungkin atau mungkin juga tidak menghasilkan perubahan
perilaku.
Manusia dan lingkungannya saling mempengaruhi.
Perilaku terarah pada tujuan tujuan tertentu.
Perilaku menjadi semakin bisa diatur sendiri.
b.
Karakteristik Alamiah Proses Pemelajaran
Definisi pemelajaran observasional dalam teori sosial kognitif didasarkan kepada kelemahan yang
teridentifikasikan dalam pandangan sebelumnya akan pemelajaran imitatif.
1)
Pandangan Lain tentang Belajar Imitatif
Secara umum, behavioris memandang belajar imitatif sebagai asosiasi antara tipe stimulus tertentu dan
sebuah respons. Pemelajar yang meniru, atau mengimitasi, contoh perilaku akan diperkuat untuk respons yang
sesuai dengan model, dan kelak mengulangi perilaku itu. Satu problem dalam deskripsi ini adalah ia tidak
menjelaskan akuisisi respons baru. Dalam setting natural, pengamat tidak hanya meniru perilaku yang diamati.
Mereka sering meniru bermacam perilaku dan membuat abstraksi seperangkat perilaku dari tindakan beberapa
model. Misalnya, pertemuan anak dengan banyak model yang menunjukkan perilaku agresif yang berbeda akan
menghasilkan respons baru si anak yang merupakan kombinasi dari elemen yang diamati.
Perspektif lain berpendapat bahwa hubungan tertentu antara anak dan orang dewasa memengaruhi bagaimana
anak meniru pola tindakan dan pikiran orang dewasa. Mekanisme yang diusulkan untuk menjelaskan perilaku
imitatif ini adalah identifikasi anak dengan orangtua yang berjenis kelamin sama dengannya, pengasuhan, rasa takut,
dan lain-lain. Akan tetapi, mekanisme ini tidak cukup untuk menjelaskan banyak perilaku imitatif anak (Bandura,
1969). Misalnya, belajar perilaku peran jenis kelamin difasilitasi oleh berbagai macam kejadian. Diantaranya adalah
pemilihan warna merah muda dan biru dalam pengasuhan, pilihan baju dan mainan oleh orangtua, dan penguatan
orangtua terhadap aktivitas yang sesuai dengan gender.
2)
Asumsi tentang Belajar
Seperti telah dideskripsikan di paragraph sebelumnya, teori sebelumnya mengesampingakan dua
pertimbangan penting dalam penjelasan mereka. Yakni, pemelajar dapat: (a) mengabstraksi rangkaian informasi dari
pengamatan perilaku orang lain, dan (b) membuat keputusan tentang perilaku untuk diadopsi dan diberlakukan.
Asumsi dasar dari teori kognitif-sosial adalah bahwa observasi dan proses pengambilan keputusan adalah
mekanisme kunci dalam perolehan perilaku prososial dan antisocial (lihat Tabel 10.1). secara spesifik, kedar untuk
memilih, mengonstruksi, dan mengevaluasi jalannya tindakan .
Asumsi Teori Belajar Kognitif-Sosial
1.
Pemelajar dapat (a) mengabstraksi informasi dari pengamatan terhadap orang lain, dan (b)
membuat keputusan tentang perilaku yang akan dijalankan.
2.
Tiga cara relasi yang saling terkait antara perilaku (B), lingkungan (E) dan kejadian personal
internal (P) akan menjelaskan belajar.
3.
Belajar adalah akuisisi representasi simbolik dalam bentuk kode verbal atau visual.
c.
Hasil Belajar
Teori lain biasanya menyamakan belajar dan kinerja atau menerima kinerja sebagai indicator bahwa belajar
sudah terjadi. Sebaliknya, Bandura mencatat bahwa individu mendapatkan kode perilaku internal yang mungkin,
atau tidak mungkin tidak, dilakukan nanti. Dukungan untuk pendapat ini adalah situasi dimana pengamat tidak
mengamati adanya kinerja itu, tetapi pengamat mampu mendeskripsikan perilaku itu. Selain itu, pengamat kemudian
melakukan perilaku karena adanya perangsang .
Karena itu, teori kognitif-sosial memandang belajar dan kinerja sebagai dua kejadian terpisah. Belajar
didefinisikan sebagai akuisisi representasi simbolis dalam bentuk kode verbal atau visual yang bertindak sebagai
pedoman untuk perilaku di masa depan. Contohnya adalah anak yang melihat anak yang lebih tua berkelahi di masa
perploncoan siswa baru. Kekaguman dari teman-teman sekelasnya mungkin menyebabkan si pengamat
menyimpulkan bahwa berkelahi dalam situasi tertentu merupakan hal yang dapat diterima dan mendapat imbalan.
Anak kecil mendapatkan perilaku sekaligus tendensi untuk melakukan perilaku tersebut di waktu yang akan datang.

Ringkasnya, tiga asumsi mendukung teori kognitif-sosial. Pertama, proses belajar membutuhkan pemrosesan
kognitif dan keterampilan pengambilan keputusan dari si pemelajar. Kedua, belajar adalah tiga cara relasi yang
saling terkait yang terdiri dari lingkungan, faktor personal, dan perilaku. Ketiga, belajar membuahkan akuisisi kode
verbal dan visual dari perilaku yang mungkin akan dilakukan atau tidak dilakukan di masa depan.
d.
Komponen Belajar
Dalam latar naturalistik, individu mempelajari perilaku baru melalui observasi atau model serta akibat dari
tindakannya. Komponen belajar adalah: (a) model behavioral; (b) konsekuensi dari perilaku yang dicontohkan; (c)
proses internal pemelajar; dan (d) keyakinan akan ketangguhan diri si pemelajar.
e.
Model Kelakuan
Isi utama dalam model kelakuan (behavioral) adalah macam dan akibatnya, pemodelan dalam media masa
dan lingkungan komputer, karakteristik model, dan karakteristik pengamat.
1)
Macam Model dan Akibat Potensial
Dalam definisi fungsional, sebuah model terdiri dari serangkaian stimulus yang terorganisasi yang dapat
diserap pengamat, dan pengamat dapat menjalankannya berdasarkan pokok informasi. Dua macam model utama
adalah model nyata dan model simbolik. Model nyata antara lain anggota keluarga, kawan, rekan kerja, dan orang
lain yang berhubungan langsung dengan individu. Model simbolik, sebaliknya, adalah gambaran representasi
perilaku. Diantaranya adalah televise dan film yang menggambarkan lingkungan dan situasi di mana anak, remaja,
atau dewasa tidak berhubungan langsung dengan situasi itu. Fungsi utama dari model perilaku adalah untuk
mentranmisikan informasi kepada pengamat. Fungsi ini terjadi melalui salah satu dari tiga cara
Akibat Model
No.
Efek
Contoh
1.
Berfungsi sebagai petunjuk untuk meniru
Meniru kejahatan.
perilaku orang lain.
2.
(a) memperkuat atau
Siswa mencontek saat ujian:
(b) melemahkan sikap menahan diri untuk
(a) dihukum atau
melakukan tindakan tertentu.
(b) tidak dihukum.
3.
Menunjukkan pola perilaku baru.
Acara memasak di televisi.
2)
Model dalam Media Massa dan Lingkungan Komputer
Di dalam masyarakat Amerika kontemporer, pertemuan dengan model kebanyakan melalui media massa.
Model simbolik telah menggantikan peran pengalaman langsung dalam mempelajari berbagai aspek dunia yang
berbeda-beda (Bandura, 1982a, 1986). Misalnya, pengetahuan seseorang mengenai ruang operasi, pengadilan,
penjara, dan setting lainnya mungkin bersumber dari media massa.
Laporan pada akhir 1980-an mengindikasikan bahwa anak lebih sering menonton televise ketimbang
melakukan aktivitas lain, kecuali tidur (Berk, 1989; Carpenter, Huston & Spear, 1989; Huston, & Kunkel, 1989).
Satu dekade kemudian, Kaiser Family Foundation (1999) melaporkan bahwa secara keseluruhan anak usia antara 218 tahun menghabiskan rata-rata 5
jam per hari untuk menonton televisi, surfing di web, bermain video

3)

4)

game, atau menggunakan beberapa bentuk media lainnya. Laporan lain menyatakan bahwa orang dewasa biasanya
menghabiskan setidaknya 3 jam per hari menonton acara televisi (Robinson & Godbey, 1997).
Faktor-faktor yang Memengaruhi Responsivitas Terhadap Model
Satu factor penting dalam proses belajar adalah sejauh mana pemelajar memerhatikan model. Beberapa model,
seperti kawan atau rekan yang biasa dijumpai, akan lebih efektif ketimbang model lain dalam menarik perhatian
pemelajar. Teman sebaya, anak yang lebih tua, dan orang dewasa berperan penting dalam proses sosialisasi anak
kecil.
Ada tiga karakteristik situasi yang memengaruhi responsivitas terhadap model (Bandura, 1986, h. 207). Yang
satu adalah atribut khusus atau karakteristik model. Karakteristik model yang penting adalah relevansi dan
kredibilitas di mata pengamat. Faktor kedua yang memengaruhi responsivitas terhadap model adalah ketidakpastian
tentang arah tindakan tertentu. Faktor ketiga adalah tingkat penguatan intrinsik yang sudah ada di dalam situasi.
Karakteristik Pengamat yang Relevan
Selain karakteristik situasional, sifat dari pengamat juga memengaruhi responsivitas terhadap pengaruh
pemodelan (Bandura, 1986). Beberapa riset mengindikasikan, bahwa orang yang kurang percaya diri dan memiliki
penghargaan diri yang rendah mudah mengadopsi perilaku model yang sukses. Karakteristik ini mungkin sebagian
menjelaskan tendensi remaja dalam meniru gaya rambut atau pakaian, misalnya, penyanyi rock.
Namun, ketika pembelajaran secara eksplisit menggunakan pemodelan untuk mengembangkan kompetensi,
mereka yang lebih berbakat dan berjiwa petualang kemungkinan akan mendapat manfaat terbanyak dari tindakan

3)

mengamati model yang ahli (Bandura, 1986, h. 208). Dengan kata lain, seseorang yang memiliki tujuan yang jelas
akan memilih model yang merupakan contoh dari keterampilan yang diminati. Pengamat ini berbeda dari pengamat
yang tidak yakin yang berpaling pada orang lain karena mereka kurang percaya diri terhadap kemampuan dirinya.
f.
Konsekuensi Perilaku
Teori kognitif-sosial mengidentifikasi tiga jenis konsekuensi yang memengaruhi perilaku. Jenis pertama,
konsekuensi yang mewakili (vicarious reinforcement, seolah-olah dirasakan sendiri oleh pengamat), diasosiasikan
dengan perilaku yang diamati. Jenis kedua, konsekuensi langsung, adalah hasil langsung yang dimunculkan oleh
perilaku imitatif selanjutnya dari si pengamat.
1)
Penguatan Pengganti
Agar penguatan pengganti (vicarious reinforcement) ini terjadi: (a) perilaku dari model harus menghasilkan
penguatan untuk perilaku tertentu, dan (b) reaksi emosional positif harus terbangkitkan pada diri pengamat.
Akibat Utama Konsekuensi Pengganti
Penguatan Pengganti
Hukuman Pengganti
Menyampaikan informasi tentang perilaku
Menyampaikan informasi tentang perilaku mana
mana yang tepat dalam latar tertentu.
yang tidak tepat dalam setting perilaku.
Bangkitnya respons emosional terhadap
Cenderung memunculkan pengaruh membatasi
kesenangan dan kepuasan pada diri pengamat. peniruan perilaku model (efek penghalang).
Setelah penguatan yang berulang, efek
Cenderung mengurangi nilai status model karena
motivasional-insentif akan muncul; perilaku
perilaku fungsional tidak ditransmisikan.
mendapat nilai fungsional.
2)
Hukuman Pengganti
Seperti halnya penguatan pengganti, hukuman yang dikenakan pada model cenderung mempunyai tiga
dampak pokok. Pertama, diberikan informasi tentang perilaku yang mungkin akan dihukum dan karenanya tidak
tepat untuk diikuti. Kedua, pengaruh menahan diri terhadap perbuatan agresi imitatif (efek penghalang). Ketiga,
karena perilaku yang ditransmisikan kepada pengamat tidak sukses, maka status model kemungkinan akan turun di
mata pengamat.
Ketiadaan Hukuman
Antisipasi akan dikenakannya hukuman biasanya membuat orang menahan diri untuk melakukan tindakan
yang dilarang. Akan tetapi, ketika seseorang tidak dihukum atas pelanggaran, informasi yang disampaikan kepada
pengamat adalah pelanggaran dapat dibenarkan. Contohnya adalah kelas dimana guru tidak memonitor ujian dan
mengawasi penyontekan. Jika tindakan mencontek tidak dihukum, siswa lain akan makin terdorong untuk ikut
mencotek pada ujian berikutnya. Perilaku ini mendapat nilai fungsional melalui tidak adanya hukuman.
4)
Penguatan Diri dan langsung
Penguatan langsung dalam teori kognitif-sosial merupakan penguatan positif yang diidentifikasi dalam
pengkondisian berpenguat. Yakni, perilaku perorangan menghasilkan perubahan dalam lingkungan sehingga
perilaku itu kemungkinan dilakukan lagi dalam situasi yang sama. Dalam teori kognitif-sosial, penguatan langsung
merujuk pada hasil dari perilaku imitatif pengamat. Hal ini pentingg jika perilaku imitatif akan dilanjutkan.
5)
Interaksi dengan Konsekuensi Eksternal
Karakteristik penting konsekuensi yang dikenakan sendiri adalah bahwa konsekuensi itu sering berlangsung
bersama dengan konsekuensi eksternal (Bandura, 1974). Dua sumber penguatan itu dapat saling bertentangan atau
melengkapi satu sama lain. Ketika imbalan eksternal tersebut lebih berat dari pengecaman diri, maka imbalan
eksternal tersebut relatif tidak efektif. Contohnya adalah siswa yang berusaha mendapat nilai A dalam setiap
pelajaran. Memperoleh nilai B dalam satu mata pelajaran, dimana orang lain mendapat C dan D, tidaklah memenuhi
standar individu itu. Memperoleh nilai tertinggi di kelas itu hanya merupakan hiburan kecil.
Jenis konflik kedua adalah hukuman eksternal yang diberikan oleh lingkungan untuk perilaku yang oleh
seseorang diberi nilai tinggi. Kaum nonkonformis, pembangkang, dan martir berada dalam kategori ini. Untuk
kelompok martir, pemahaman mereka tentang harga diri berkaitan erat dengan keyakinan bahwa mereka lebih baik
menderita dan bahkan mati ketimbang menanggalkan nilai yang mereka anut.
g.
Proses Internal Pemelajar
Proses kognitif berperan penting dalam belajar. Kemampuan pemelajar untuk mengodekan dan menyimpan
pengalaman fana ke dalam bentuk simbolik dan untuk mempresentasikan konsekuensi masa depan dalam pikiran
merupakan hal yang penting untuk perolehan dan perubahan prilaku manusia.
Pemrosesan kognitif terdapat peristiwa dan kosekuensi potensial menjadi pedoman prilaku pemelajar. Empat
komponen proses bertanggung jawab atas belajar dan kinerja. Keempat komponen itu adalah atensi, retensi produksi
motorik dan proses motivasi (Bandura, 1971a, 1977b).

Proses atensional prilaku baru tidak bisa diperoleh kecuali pengamatan memerhatikan dan memahaminya
secara akurat (Bandura, 1977b). Namun berapa faktor dapat mempengaruhi perhatian. Termasuk di dalamnya adalah
karakteristik model, karakteristik dan nilai fungsionalprilaku, dan karakteristik pengamat. Proses retensi proses ini
bertanggung jawab atas pengkodean simbolik prilaku dan menyimpanan kode visual atau verbal dalam memori.
Proses ini penting karena pemelajar tidak dapat mengambil manfaat dari prilaku yang diamati saat tidak ada model
kecuali mereka dikodekan dan disimpan untuk penggunaan di kemudian hari.
Reproduksi Motorik dan Proses Motivasional. Setelah pengamat mendapatkan kode simbolik, kinerja dan
prilaku yang dikuasai akan tergantung pada reproduksi motorik dan proses motivasional pemelajar. Reproduksi
motorik mencangkup pemilihan dan pengorganisaaian respon pada level kognitif, diikuti dengan pelaksanaan
(Bandura, 1978b).
h.
Peran Ketangguhan Diri
Ketangguhan diri (self- efficacy) adalah keyakinan seseorang tentang kemampuannya sendiri dan keyakinan
ini memotivasi pemelajar dengan cara tertentu. Isu penting dalam ketangguhan diri adalah karakteristik esensial,
sumber keyakinan akan ketangguhan dan efeknya pada proses psikologis.
Keyakinan akan ketangguhan diri adalah keyakinan pada kemampuan diri seseorang untuk
mengorganisasikan dan melaksanakan tindakan yang digunakan untuk mendapatkan capaian tertentu. Keyakinan
seperti itu berlaku untuk situasi yang mungkin mengandung elemen baru, tidak bisa diprediksi, atau bahkan
mengandung unsur rekaan.
Sumber keyakinan akan ketangguhan. Ada empat jenis pengaruh yang berkontribusi pada keyakinan
seseorang tentang ketangguhan dirinya (Bandura, 1986, 1995), yaitu pengalaman penguasaan, pengalaman
pengganti, persuasi sosial serta keadaan emosional dan fisiologis. Bagi seseorang yang memiliki perasaan tangguh
yang kuat, kegagalan yang terjadi kadang sedikit pengaruhnya. Sebaliknya kegagalan berpengaruh pada seseorang
yang kurang yakin pada kemampuannya sendiri.
Pengalaman untuk penguasaan yang dirancang untuk memperkuat ketangguhan diri siswa tidak boleh berupa
kesuksesan yang gampang diraih. Mengamati kesuksesan orang lain yang oleh pengamat dianggap sama dengan
dirinya (pengalaman pengganti) juga member konstribusi pada ketangguhan dirinya. Persuasi verbal, sumber ketiga
dari keyakinan ketangguhan, dapat membantu menghadapi keraguan ringan seseorang. Persuasi dapat membantu
seseorang untuk menghindari fokus pada kekurangan kekurangan dan untuk mengukur kesuksesan dalam arti
peningkatan ketimbangan mengalahkan orang lain. Keadaan fisiologis dan emosional seperti reaksi sters dan
ketegangan dan juga member imformasi tentang ketangguhan.
Efek Terhadap Proses Psikologis. Keyakinan akan ketangguhan diri mempengaruhi fungsi manusia secara
tidak langsung melalui empat proses utama, yakni proses kognitif, motivasional, afektif, dan seleksi (Bandura, 1995)
i.
Hakikat Belajar Kompleks
Berbeda dengan teori lain, teori kognitif sosial tidak mendiskripsikan bentuk pemikiran dan/atau prilaku yang
mempresentasikan belajar yang kompleks. Sebaliknya, teori ini mendiskripsikan faktor- faktor yang penting untuk
pencapain kinerja unggul dalam setiap ranah atau disiplin. Menurut Bandura (1986), faktor esensial dalam
mendapatkan kapabilitas yang kompleks adalah sistem pengaturan diri perorangan.
j.
Sistem Pengaturan Diri
Belajar Pengaturan Diri adalah pemikiran, perasaan dan tindakan yang dimunculkan sendiri yang
direncanakan dan disesuaikan secara siklis untuk mencapai tujuan pribadi (Zimmerman, 2000, h. 14). Disebut
pengaturan diri sebab bergantung pada keyakinan dan motif induvidual, bukan merupakan cirri tersendiri,
kemampuan mental atau tahapan kompetensi. Tiga sub proses dalam pengaturan diri adalah observasi diri, penilaian
diri dan reaksi diri.
Observasi diri membutuhkan perhatian sadar pada prilaku seseorang misalnya siswa yang mengamati bahwa
prestasi dirinya kurang ketika belajar dengan kawan mungkin memutuskan untuk lebih banyak belajar sendiri.
Penilaian diri adalah perbandingan kinerja seseorang saat ini dengan tujuan yang telah ditentukan.
k.
Pengembangan Sistem Pengaturan Diri
Bandura (1977a, 1978,1986) mengusulkan tiga cara interaksi antara faktor- faktor personal, prilaku, dan
lingkungan. Perilaku pengaturan diri dari seseorang juga memengaruhi lingkungan. Lingkungan memberi
konstribusi pada perkembangan swamonitor dan keterampilan evaluatif. Interaksi tiga arah factor-faktor personal,
lingkungan dan perilaku juga dapat menimbulkan lepasnya kapabilitas evaluasi diri. Hasilnya adalah perkembangan
dan dilakukannya tindakan yang tercela serta aktivitas yang tidak berprikemanusiaan. Dalam analisis kognitif-sosial,
tindakan itu dilakukan melalui proses yang memisahkan perilaku dari evaluasi diri. Sejak berkembangnya teori
kognitif-sosial, ada pihak lain yang mengusulkan proses tambahan yang terlibat dalam belajar yang diregulasi
sendiri dan mengembangkan model pengembangan diri. Contohnya adalah proses kemauan pemelajar yang
menyebabkan tetap di jalur belajar, terutama ketika ada hal lebih menarik untuk dilakukan.

Model belajar yang diatur sendiri yang lebih luas mendeskripsikan dua prioritas siswa yang berbeda di kelas.
Yang pertama adalah untuk mencapai pertumbuhan yang melibatkan pendalaman pengetahuan atau memperkaya
keterampilan kognitif dan sosial. Yang kedua adalah menjaga kesejahteraan emosional seperti berusaha untuk
tampak cerdas dan menghindari bahaya. Menurut model ini proses pertumbuhan adalah dari proses top-down, dan
dipandu oleh tujuan seseorang.sebaliknya pengaturan diri mungkin merespons isyarat di lingkungan dan bersifat
bottom-up. Misalnya kejenuhan, perasaan terpaksa, atau tidak aman mungkin menimbulkan tujuan untuk
mendapatkan kenyamanan, seperti mencari hiburan, determinasi diri atau tujuan keamanan.
2.2
PRINSIP PEMBELAJARAN
Teori pembelajaran masih belum diturunkan dari teori kognitif sosial. Namun, prinsip teori ini berpengaruh
besar terhadap isu kelas. Teori ini telah diimplementasikan secara sukses dalam akuisisi keterampilan motorik
maupun kognitif. Aplikasi awal terhadap keterampilan kognitif mencangkup kaidah linguistik pembentukkan
konsep, dan pemecahan masalah.
a.
Asumsi Belajar
Tiga asumsi dasar yang mendukung prinsip sosial/kognitif yang dapat diterapkan untuk pembelajaran di
kelas, adalah (a) proses kognitif pemelajar dan pengambilan keputusan adalah faktor penting dalam belajar; (b) tiga
cara interaksi antara lingkungan, faktor personal, dan perilaku adalah bertanggung jawab atas belajar; dan (c) hasil
dari belajar adalah kode perilaku verbal dan visual.
b.
Komponen Pembelajaran
Dalam teori kognitif-sosial, komponen esensial dari belajar adalah model kelakuan, penguatan pada model,
dan pemprosesan kognitif pemelajar terhadap pemodelan perilaku. Oleh karena itu, komponen pembelajarannya
adalah: (a) mengidentifikasi model yang patut di kelas; (b) menentukan nilai fungsional dari perilaku; dan (c)
memandu pemrosesan internal pemelajar, yang mencakup membantu pelajar memahami ketangguhan dirinya.
c.
Mengidentifikasi Model yang Patut
Di kelas, baik guru maupun siswa dapat berfungsi sebagai model hidup untuk berbagai macam perilaku
akademik maupun perilaku sosial. Untuk remaja, pengaruh model contoh teman sebaya sering besar. Namun, guru
bertanggung jawab atas kelas dan berperan penting sebagai model tanggung jawab, integritas, ketulusan dan
perhatian pada kebaikan seseorang maupun kolektif (Brophy & Putnam, 1979, h. 196). Pemilihan model hidup atau
simbolik sering tergantung pada pertimbangan praktis. Untuk keterampilan motoric dan kognitif, keunggulan model
hidup adalah: (a) demontrasi fisik perilaku di depan siswa, dan (b) kesempatan siswa untuk bertanya. Pemilihan
model harus dilaksanakan dengan hati-hati jika menggunakan model yang berpengaruh. Karena anak mencari
tanggapan dari otoritas yang mengasuh, sifat-sifat ekspresif, dan sosok model dapat mengalihkan perhatian anak dari
perilaku yang dijadikan model. Masalah potensial ini dapat diatasi dengan menggunakan petunjuk verbal yang
berfokus pada perilaku yang relevan dan menampilkan reaksi ekspresif minimal selama berlangsungnya pemodelan.
d.
Menciptakan Nilai Fungsional Perilaku
Menurut teori kognitif-sosial, seseorang memerhatikan kejadian di lingkungan yang memprediksikan
penguatan (Bandura, 1977b, h. 85). Mereka cenderung mengabaikan kejadian yang tidak mengandung kemungkinan
penguatan. Karena itu Bandura (1977b) merekomendasikan agar pembelajaran harus diarahkan untuk menciptakan
ekspektasi hasil positif. Ada dua peringantan yang harus diperhatikan dalam penggunaan penguatan. Pertama,
penguatan pengganti berbeda dari penguatan implisit. Perilaku contoh yang dipuji seseorang dan diabaikan oleh
orang lain mungkin bagi guru dapat mengandung arti penguatan untuk semua siswa yang berperilaku baik. bagi
seseorang yang berperilaku sedikit kurang baik, konsekuaensi langsung atas perilaku mereka (yakni tidak ada
penguatan) mungkin ditafsirkan sebagai hukuman. Peringatan kedua adalah bahwa penguatan, seperti halnya
kecantikan, merupakan sesuatu yang tergantung kepada yang melihatnya. Pujian yang sama, saat diberikan pada dua
orang yang berbeda, dapat menimbulkan efek yang berbeda pula. Demikian pula, penghilangan hukuman akan
memberikan kesan pembolehan. Pembatasan perilaku akan berkurang, dan perilaku yang sebelumnya dilarang akan
dilakukan lebih bebas (Bandura, 1971a). karena itu, aturan yang tegas di kelas harus ditegakkan saat pelanggaran
terjadi.
e.
Membimbing Proses Internal Pemelajar
Aktivitas pembelajaran yang direkomendasikan cukup bervariasi, tergantung pada jenis keterampilan yang
akan dipelajari. Dibutuhkan penekanan yang berbeda untuk keterampilan kognitif dan motorik. Namun untuk kedua
keterampilan itu, pembelajaran untuk memberikan kesempatan: (a) mengodekan perilaku yang diamati ke dalam
citra visual atau simbol kata, dan (b) secara mental mengulangi perilaku yang dicontohkan.
1) Keterampilan Motorik
Kinerja keterampilan motorik yang sukses seperti pada golf, main ski, dan tenis tergantung pada monitoring
internal atas tanggapan kisnetik individual. Strategi yang dianjurkan adalah: (a) presentasi model yang direkam

video; (b) kesempatan untuk mengembangkan representasi konseptual; dan (c) berlatih dengan umpan balik visual
melalui monitor (Carroll & Bandura, 1982).
Yang terutama penting adalah bahwa gladi atau latihan mental oleh pemelajar harus mendahului pelaksanaan
fisik dari keterampilan itu (Jeffrey, 1976). Gladi mental ini berfungsi sebagai pengorganisasian untuk kinerja
selanjutnya. Juga, penekanan pada kinerja motorik terlalu dini dapat membahayakan retensi pada saat kode memori
masih belum stabil. Observasi diri yang ditunda setelah pemodelan juga berguna untuk keterampilan sosial dan
komunikasi.
2) Perilaku Konseptual
Studi-studi awal mengindikasikan anak dapat menyimpulkan berlakunya kaedah dar model ketika
diintruksikan untuk menemukan keajegan dalam berbagai situasi yang dipresentasikan (prosenthal dan simmerman,
1978; simmerman dan prosenthal; 1974).
3) Memfasilitasi Ketangguhan Pemelajar
Hal penting bagi anak yang inpulsif adalah melatih kontrol diri saat menghadapi tugas yang meragukan atau
tugas baru. Rencana yang dikembangkan oleh Meichenbaum dan Goodman (1971) untuk mengajar anak inpulsif
mengelola prilaku mereka sendiri adalah dengan menggunakan pemodelan yang dikombinasikan dengan
pembelajaran diri yang diverbalisasikan.
Seorang dewasa pertama-tama akan berbicara dengan diri sendiri untuk memonitor 3 aspek belajar yang
dilakukan sendiri. Ketiga aspek tersebut adalah (a) definisi masalah ( apa yang harus saya kerjakan?); (b)
pembelajaran diri yang terfokus pada tugas (berhenti dulu dan ulangi pelajarannya); dan (c) penguatan diri dan
evaluasi diri (bagus, pekerjaan saya baik). (Meichenbaum dan Goodman, 1971).
4) Peran Ketangguhan Diri Guru
Ketangguhan diri guru adalah keyakinan guru akan kemampuannya untuk memengaruhi kinerja siswa
(McLaughlin & Marsh, 1978,h 84). Secara spesifik, ketangguhan diri guru adalah penilaian guru tentang
kemampuannya sendiri untuk memunculkan hasil kegiatan dan belajar siswa yang diinginkan, bahkan diantara siswa
yang mungkin tampak mengalami kesulitan atau tidak termotivasi (Tschannen-Moran & Woolfolkhoy, 2001, h.
783).
Salah satu model ketangguhan guru menyatakan bahwa ketangguhan terdiri dari 2 keputusan simultan. Yang
pertama menganalisis tugas guru, yang mencangkup beragam faktor yang memberi kontribusi pada kesulitan tugas
yang didasarkan pada sumber daya yang tersedia untuk memfasilitasi belajar; yang kedua adalah konsepsi guru
tentang kompetensi pengajarannya (Tschannen-Moran, et al., 1998, h.228).
Ketangguhan guru tidak berfungsi dalam isolasi. Bandura (2000) mencatat bahwa ketangguhan diri berperan
penting dalam perkembangan kognitif dan prestasi melalui tiga jalur. Yaitu: (a) keyakinan siswa pada ketangguhan
mereka untuk mengatur aktivitas belajar dan menguasai subjek akademik; (b) keyakinan guru pada ketangguhan
personal mereka untuk memotivasi dan mempromosikan belajar siswa mereka; dan (c) pemahaman ketangguhan
kolektif pihak sekolah bahwa sekolah mereka dapat mencapai kemajuan akademik yang signifikan (h.4).
f.
Mendesain Pembelajaran untuk Keterampilan yang Kompleks
Teori kognitif-sosial membahas belajar keterampilan kompleks dalam tiga cara. Aplikasi pertama adalah
mencontohkan dan mengajarkan strategi yang efektif untuk sukses dalam tugas yang kompleks. Aplikasi kedua
adalah strategi permodelan untuk mengarahkan dan memonitor belajar sendiri. Aplikasi ketiga dari teori kognitif
sosial dalam mengembangkan keterampilan yang kompleks mencakup dua pendekatan umum yakni a
mempromosikan keterampilan dan strategi pengaturan diri yang baru, dan b mendorong dan mendukung pengaturan
diri ketika ia muncul dikelas (Boekerts & Corno, 2005).
Dalam bidang penulisan, riset mengindikasikan bahwa guru harus (a) membuat kegiatan menulis sebagai
sesuatu yang nyaman dan menarik, (b) memberi kesempatan pada siswa untuk memulai mengatur usahanya sendiri,
(c) menggunakan tugas menulis yang membutuhkan pengaturan diri (tetapi bukan menceritakan pengelaman
personal), dan (d) memberi contoh pengaturan diri, memberi bantuan strategi kepada siswa saat mereka menulis
(Graham & Harris, 1994, h. 223).
2.3
APLIKASI PENDIDIKAN
Teori kognitif-sosial memiliki dua implikasi utama untuk pendidikan. Pertama pemodelan yang merupakan
sumber utama informasi bagi pemelajar. Kedua pentingnya pemahaman ketangguhan dan keterampilan pengaturan
diri pribadi untuk menjadi pemelajar yang berhasil.
a. Isu-isu Kelas
Teori kognitif sosial membahas beberapa isu yang berkaitan dengan latar kelas. Teori ini juga membahas
beberapa karakteristik pemelajar dan aspek dari latar social untuk pemelajar.
b. Karakteristik Pemelajar

Perbedaan individual, kesiapan, dan mativasi untuk belajar merupakan karakteristik siswa yang berinteraksi
dengan pembelajaran.
1. Perbedaan individual
Masing-masing pemelajar memiliki kemampuan yang berbeda dalam mengabstraksi, mengodekan,
mengingat, dan menjalankan perilaku yang mereka saksikan.Contohnya, perilaku yang diamati dengan penuh
perhatian oleh pecinta alam, akan dianggap membosankan dan tidak menarik bagi pihak lain.
2. Kesiapan
Tingkat perkembangan pemelajar dan reseptivitas terhadap model tertentu merupakan dua factor utama yang
menentukan kemampuan individual untuk belajar observasional.
3. Motivasi
Meskipun beberapa aktivitas dilakukan pada awalnya untuk penguatan langsung, sumber utama dari motivasi
adalah berbasis kognitif (Bandura, 1977b, h. 161). Ada dua tipe motivasi kognitif. Pertama adalah representasi
kognitif dari konsekuensi masa depan untuk perilaku tertentu. Keduan dapat dinamakan motivasi diri karena ia
melibatkan pedoman standar untuk mekanisme evaluasi diri pembelajaran
c. Proses Kognitif dan Pembelajaran
Transfer belajar, mengembangkan keterampilan seseorang bagaimana belajar, dan mengajarkan pemecahan
masalah merupakan isu-isu kognitif yang penting bagi pendidikan.
d. Transfer Belajar
Konsep transfer telah diteliti dalam konteks kognitif-sosial dalam dua cara. Pertama adalah penyelidikan
tentang perlakuan yang berbeda atas pasien yang mengidap fobia. Pengalaman penguasaan yang diarahkan sendiri
ternyata lebih efektif dalam menghasilkan transfer ke situasi ancaman umum ketimbang berpartisipasi dalam
pemodelan saja (Bandura, 1976; Bandura, Adams & Beyer, 1977).
e. Implikasi untuk Penilaian
Teori kognitif-sosial memperkenalkan dua konsep yang mengacu pada karakteristik pribadi pemelajar dan
yang berpengaruh untuk belajar. Keduanya adalah pengaturan diri dan ketangguhan diri.
Pengaturan diri dalam belajar dapat dinilai melalui beberapa cara (Boekaerts & Corno, 2005). Di antaranya
adalah survei laporan diri, protokol berpikir dan berbicara keras-keras, wawancara tidak terstruktur, wawancara
terstruktur, catatan harian siswa, dan observasi dialog kelas.
f. Konteks Sosial untuk Belajar
Teori kognitif-sosial membahas isu belajar dalam latar naturalistik. Observasi berbagai model seperti televisi,
anggota keluarga, teman, dan penguatan yang diberikan ke kawan dan orang lain sangat mempengaruhi belajar.
Secara khusus teori kognitif-sosial mengingatkan bahwa belajar dalam masyarakat yang berorientasi media adalah
mlampaui belajar di kelas melalui cara yang halus dan meresap.
g. Kaitan dengan Perspektif Lain
Teori kognitif sosial mengasumsikan bahwa yang dimaksud pembelajaran adalah guru yang mengelola dan
mengarahkan dan siswa perorangan merupakan sasaran belajar. Jadi, ia berbeda dari perspektif konstruktivis dimana
yang primer adalah komunitas pemelajar.
h. Mengembangkan Strategi Kelas
Belajar observasional mencakup analisis cermat atas perilaku yang akan dicontohkan dan pemrosesan yang
merupakan syarat belajar. Hal-hal yang harus dilakukan, yakni:
Langkah 1: menganalisis perilaku yang akan dijadikan model.
Langkah 2: menetapkan nilai fungsional dari perilaku dan memilih model perilaku.
Mengembangkan urutan pembelajaran.
Mengimplemintasikan pembelajaran untuk memandu proses reproduksi motorik dan kognitif pemelajar.
Hal ini meliputi keterampilan motorik dan perilaku konsepsual