Anda di halaman 1dari 40

1

Bab I Pendahuluan
I.1 Latar Belakang
Vitamin C adalah antioksidan yang larut dalam air yang ditemukan
dalam berbagai buahbuahan dan sayuran. Vitamin C diperlukan
untuk produksi kolagen dalam jaringan ikat, gigi dan tulang. Vitamin
C merupakan antioksidan kuat yang dapat membantu proses dalam
pengobatan kanker, penyakit jantung dan mengurangi stress
(Tahirovic dkk, 2012).
Sebagian besar tumbuhan dan hewan memiliki kemampuan untuk
mensintesis vitamin C. Satusatunya mamalia yang tidak dapat
mensintesis vitamin C adalah primata, termasuk manusia. Oleh
karena itu manusia tergantung pada sumbersumber eksogen vitamin
yang meliputi buah-buahan, sayursayuran serta makanan suplemen
dan sediaan farmasi yang biasanya berupa sediaan tablet (Wardani,
2012). Dewasa ini penggunaan obatobatan dan sumber alami
lainnya yang mengandung vitamin C semakin meningkat sehingga
diperlukan prosedur penentuan yang akurat dan spesifik untuk
menjamin kualitas mutu dari produk (Okiei, 2009).
Banyak metode analisis yang telah digunakan dalam literatur untuk
penentuan vitamin C dalam matriks yang berbeda. Contohnya yaitu
metode titrasi iodometri dan asam basa pada sampel sediaan farmasi
(Sudarmadji, 1989), titrasi dengan 2,6 Dikloroindofenol pada sampel
makanan (Sudarmadji, 1989), dan spektrofotometri UV-Vis dengan
menggunakan pereaksi warna hijau leuko malakit pada sediaan tablet
dan buah-buahan (Tiwari, 2010). Selain itu, vitamin C dapat
dianalisis menggunakan pereaksi warna dinitrofenilhidrazin untuk

sampel buah-buahan (Kapur dkk, 2012), dan menggunakan pereaksi


warna biru metilen pada sampel tumbuhan (Tahirovic dkk, 2012),
kromatografi cair kinerja tinggi pada sampel minuman kesehatan
(Kumar, 2011), kromatografi cair kinerja tinggi pada sampel buahbuahan dan jus (Scherer, 2012). Berdasarkan metode-metode
tersebut, oleh karena itu diperlukan penelitian mengenai penetapan
kadar vitamin C dengan pereaksi warna lainnya. Pada penelitian ini
akan dilakukan penentuan kadar vitamin C dengan penambahan
pereaksi warna Fe3+ berlebih, Fe3+ akan mengoksidasi vitamin C dan
sisa Fe3+ akan direaksikan dengan SCN- akan membentuk warna
merah jingga.
I.2 Perumusan Masalah
Penentuan vitamin C pada sediaan tablet dengan metode
spektrofotometri UV-Vis dengan penambahan pereaksi warna telah
banyak dilakukan. Sehingga pada penelitian ini akan dikembangkan
penentuan

vitamin C

pada

sediaan

tablet

dengan

metode

spektrofotometri UV-Vis dengan penambahan pereaksi Fe 3+ dan


SCN- .

DSDFSD
I.3 Batasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada penggunaan pereaksi Fe 3+ dan SCN-,
analisis yang dilakukan hanya pada sediaan tablet berwarna putih
disertai dengan pencarian kondisi reaksi yang optimal pada saat
penetapan.
I.4 Tujuan

3
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengembangan metode
analisis vitamin C pada sediaan tablet.
I.5 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah untuk memberikan alternatif
metode pada penetapan vitamin C dalam sediaan tablet.

Bab II Tinjauan Pustaka


II.1 Vitamin C
Vitamin merupakan suatu molekul organik yang sangat diperlukan
tubuh untuk proses metabolisme dan pertumbuhan yang normal.
Vitamin tidak dapat dibuat oleh tubuh manusia dalam jumlah yang
cukup. Hampir semua vitamin yang kita kenal sekarang telah
berhasil diidentifikasi sejak tahun 1930. Vitamin pada umumnya
dapat dikelompokan menjadi dua golongan utama yaitu vitamin yang
larut dalam lemak yang meliputi A, D, E dan K dan vitamin yang

larut dalam air yang terdiri dari vitamin C dan Vitamin B (Winarno,
1992).
Struktur dari vitamin C dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
OH

HO

HO

OH

Gambar II.1 Struktur Molekul Vitamin C.


Vitamin C mengandung tidak kurang dari 99,0 % C6H8O6. Vitamin C
berbentuk serbuk atau hablur, putih atau agak kuning, tidak berbau,
rasa asam. Oleh pengaruh cahaya lambat laun menjadi gelap. Dalam
keadaan kering, mantap di udara, dalam larutan cepat teroksidasi,
karena mudah dioksidasi, maka vitamin C merupakan suatu reduktor
yang kuat. Vitamin C termasuk golongan vitamin yang mudah larut
dalam air, agak sukar larut dalam etanol 95%, praktis tidak larut
dalam kloroform, dalam eter dan dalam benzen. Vitamin C memiliki
suhu lebur 1900 C (FI IV, 1995). Vitamin C mudah teroksidasi oleh
panas, sinar, alkali, enzim, oksidator, serta oleh tembaga dan besi.
Oksidasi akan terhambat bila vitamin C dibiarkan dalam keadaan
asam, atau pada suhu rendah

(Sudarmadji, 1989).

Vitamin C mempunyai banyak fungsi dalam tubuh, sebagai koenzim


atau kofaktor. Vitamin C memiliki kemampuan reduksi yang kuat
dan bertindak sebagai antioksidan. Menurut Almatsier (2003),

5
vitamin C pada tubuh manusia juga berfungsi sebagai sintesis
kolagen, sintesis karnitin, noradrenalin, serotonin, adsorbsi dan
metabolisme besi, absorbsi kalsium, mencegah infeksi serta
mencegah kanker dan penyakit jantung. Vitamin C sangat
dibutuhkan oleh organ tubuh manusia. Buahbuahan segar, sayuran
dan beberapa tablet suplemen vitamin C sintetik dapat digunakan
untuk memenuhi segala kebutuhan tubuh.
Kebutuhan vitamin C yang dianjurkan sesuai dengan Angka
Kecukupan Gizi (AKG) bagi lakilaki dan perempuan berusia lebih
dari 13 tahun sebesar 60 mg/hari. Namun beberapa bukti ilmiah
perlunya meningkatkan asupan vitamin C karena dihubungkan
dengan

upaya

untuk

menurunkan

penyakit

kronis

seperti

kardiovaskuler, kanker dan katarak. Kekurangan vitamin C akan


menyebabkan penyakit sariawan atau skorbut. Penyakit skorbut
biasanya jarang terjadi pada bayi, bila terjadi pada anak, biasanya
pada usia setelah 6 bulan dan di bawah 12 bulan. Gejala-gejala
penyakit skorbut ialah terjadinya pelembekan tenunan kolagen,
infeksi,

dan

demam.

Juga

timbul

sakit,

pelunakan,

dan

pembengkakan kaki bagian paha. Pada anak yang giginya telah


keluar, gusi membengkak, empuk, dan terjadi perdarahan. Pada
orang dewasa skorbut terjadi setelah beberapa bulan menderita
kekurangan vitamin C dalam makanannya. Gejala-gejala ialah
pembengkakan dan perdarahan pada gusi, gingivalis, kaki menjadi
empuk, anemia, dan deformasi tulang. Akibat yang parah dari
keadaan ini ialah gigi menjadi goyah dan dapat lepas. Penyakit
sariawan yang akut dapat disembuhkan dalam beberapa waktu
dengan pemberian 100 sampai 200 mg vitamin C per hari. Bila

penyakit sudah kronik perlu diperlukan waktu lebih lama untuk


penyembuhannya (Winarno, 1992).
II.2 Sumber Vitamin C
Vitamin C dapat ditemukan pada bahan makanan nabati maupun
hewani. Sumber utama vitamin ini adalah buah-buahan dan
sayursayuran, sedangkan bahan makanan yang berasal dari hewan
seperti daging dan susu kandungan vitamin C nya lebih sedikit.
Vitamin C sangat mudah rusak selama proses persiapan, pemasakan
dan penyimpanan. Cara memasak bahan makan sumber vitamin C
adalah dengan menggunakan sesedikit mungkin air. Oleh karena itu
sumber vitamin C dari makanan yang paling baik adalah memakan
langsung buah-buahan dalam bentuk keadaan ranum dan segar
(Winarno, 1992).
Vitamin C dalam bentuk sediaan farmasi salah satunya adalah dalam
bentuk sediaan tablet. Tablet adalah sediaan padat, dibuat secara
kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua
permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau
lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan
dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat,
zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang cocok (FI IV, 1995).
II.3 Analisis Vitamin C
Terdapat beberapa metode yang digunakan pada penentuan kadar
vitamin C diantaranya adalah:
II.3.1 Metode Titrasi

7
Metode titrasi yang umum digunakan pada penentuan Vitamin C
adalah metode Iodometri, metode ini memakai Iodium sebagai
pentiter yang mengoksidasi vitamin C dengan amilum sebagai
indikatornya.

Metode

titrasi

lainnya

adalah

titrasi

2,6

dikloroindofenol (D). Metode ini menggunakan 2,6 D sebagai


pentiter dan menghasilkan hasil yang lebih spesifik dari titrasi
Iodium. Metode titrasi asam-basa juga dapat digunakan pada
penentuan kadar vitamin C, metode titrasi ini menggunakan NaOH
sebagai pentiter, yang akan menetralkan vitamin C dengan
fenolftalein sebagai indikator (Sudarmadji, 1989).
II.3.2 Metode Spektrofotometri UV-Vis
Metode spektrofotometri dapat dilakukan dengan penambahan
pereaksi warna seperti Hijau leuko malakit (LMG), reaksi dari
vitamin C dengan campuran larutan kalium iodida-kalium iodat
dalam suasana asam membebaskan iodin. Iodin yang dibebaskan
selektif mengoksidasi pewarna LMG. Warna yang terbentuk
menunjukkan serapan maksimum pada 620 nm (Tiwari, 2010).
Metode spektrofotometri lainnya adalah dengan pereaksi warna
Dinitrofenilhidrazin (DNPH). Vitamin C dioksidasi menjadi asam
dehidroaskorbat dengan menambahkan air bromin. Setelah itu asam
L-dehidroaskorbat bereaksi dengan 2,4-DNPH dan menghasilkan
osazon, kemudian direaksikan dengan H2SO4 85% terbentuk larutan
berwarna merah. Spektrum larutan 2,4-DNPH diukur pada panjang
gelombang 521 nm (Kapur dkk, 2012). Metode spektrofotometri
lainnya yaitu dengan penambahan pereaksi warna metilen biru (MB),
yang merupakan molekul larut dalam air. Di bawah kondisi asam,

metilen biru dapat mudah direduksi menjadi molekul terhidrogenasi


berwarna biru leukometilen (LMB) oleh vitamin C. Pada warna
yang terbentuk dilakukan pengukuran pada serapan maksimum 665
nm (Tahirovic dkk, 2012).
II.3.3 Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)
Pada metode KCKT penentuan vitamin C yang pertama dilakukan
dengan elusi isokratik dengan kolom C-18 dan fase gerak asam
asetat:metanol (95:5)

(Kumar, 2011). Metode KCKT lainnya

pada penentuan vitamin C dapat dilakukan dengan gradien sistem


pompa, pemisahan dilakukan dengan menggunakan kolom C-18 dan
deteksi oleh detektor UV-Visible. Waktu retensi dari vitamin C
adalah 1,63 - 1,65 menit (Scherer, 2012).

II.4 Mekanisme Reaksi Vitamin C dengan Pereaksi Fe 3+ dan


SCNVitamin C mempunyai nilai potensial reduksi yang lebih kecil
dibandingkan dengan Fe3+ dimana dalam hal ini potensial reduksi
Fe3+ +0,77 volt, karena vitamin C mempunyai potensial reduksi yang
lebih kecil (+0,116 volt) dibandingkan Fe 3+ sehingga reaksi dapat
berlangsung. Reaksi vitamin C dan Fe3+ dapat dilihat pada gambar
Gambar II.2.
O= C
|
HO C
||
HO C

O= C
|
O= C
|
O= C

O + Fe3+

+ Fe2+

9
|
C
|
HO C H
|
CH2OH

|
H C
|
HO C H
|
CH2OH

Vitamin C

Vitamin C teroksidasi

Gambar II.1 Reaksi vitamin C dan Fe3+.


Sisa Fe3+ dari hasil reaksi antara Fe3+ dengan vitamin C, kemudian
ditambahkan HNO3 sebagai pengasam. Fe3+ yang terbentuk akan
bereaksi dengan KSCN, Reaksi yang terjadi:
Fe3+(sisa) + 6SCN- [Fe(SCN)6]3Dari warna larutan kompleks yang terbentuk yaitu warna merah
jingga, sehingga dapat diukur absorbansinya pada panjang
gelombang 400-560 nm.
Perhitungan Absorbansi vitamin C didapat dari:
A1
A2
A

= Fe3+ + SCN= Fe3+(sisa) + SCN= Konsentrasi vitamin C

II.5 Instrumentasi Spektrofotometer UV-Vis


Hukum Lambert-Beer menyatakan hubungan linieritas antara
absorban dengan konsentrasi larutan analit dan berbanding terbalik
dengan transmitan. Hukum Lambert-Beer dinyatakan dalam rumus:
A= e.b.c

Dimana A adalah absorban,e adalah absorptivitas molar, b adalah


tebal kuvet (cm) dan c adalah konsentrasi.
Prinsip kerja spektrofotometri berdasarkan hukum Lambert-Beer,
yaitu bila cahaya monokromatik (I0), melalui suatu media (larutan),
maka sebagian cahaya tersebut diserap (Ia), sebagian dipantulkan
(Ir), dan sebagian lagi dipancarkan (It). Cahaya yang dideteksi oleh
detektor adalah cahaya yang diserap oleh sampel.

Fungsi bagian-bagian instrumen spektrofotometer UV-Vis:


II.5.1 Sumber Radiasi
Beberapa sumber radiasi yang dipakai pada spektrofotometer UV-Vis
adalah lampu deuterium, lampu tungsten dan lampu merkuri. Sumber
radiasi deuterium dapat dipakai pada daerah panjang gelombang
190-380 nm. Sumber radiasi tungstein merupakan campuran dari
filament tungsten dan gas iodin (halogen), dapat dipakai pada daerah
panjang gelombang 380-900 nm. Sumber radiasi merkuri biasanya
dipakai untuk mengecek atau kalibrasi panjang gelombang pada
spektrofotometer UV-Vis pada daerah ultra violet khususnya
disekitar panjang gelombang 365 nm

dan sekaligus mengecek

resolusi dari monokromator.


II.5.2 Monokromator
Monokromator berfungsi untuk mendapatkan radiasi monokromatis
dari sumber radiasi yang memancarkan radiasi polikromatis.
Monokromator pada spektrofotometer UV-Vis biasanya terdiri dari
susunan : celah (slit) masuk-filter-prisma-kisi (grating)-celah keluar.

10

11
Celah monokromator adalah bagian yang pertama dan terakhir dari
suatu sistem optik monokromator pada spektrofotometer UV-Vis.
Filter optik berfungsi menyerap warna komplementer sehingga
cahaya tampak yang diteruskan merupakan cahaya yang berwarna
sesuai dengan warna filter optik yang dipakai. Prisma dan kisi pada
prinsipnya mendispersi radiasi elektromagnetik sebesar mungkin
supaya didapatkan resolusi yang baik dari polikromatis.

II.5.3 Sel atau kuvet


Kuvet atau sel merupakan wadah sampel yang akan dianalisis.
Ditinjau dari bahan yang dipakai membuat kuvet ada dua macam
yaitu: kuvet kuarsa dan kuvet gelas. Kuvet dari leburan silika dapat
dipakai untuk analisis kualitatif dan kuantitatif pada daerah
pengukuran 190-1100 nm, dan kuvet dari bahan gelas dipakai pada
daerah pengukuran 380-1100 nm karena bahan dari gelas
mengadsorbsi radiasi sinar UV.
II.5.4 Detektor
Fungsi detektor didalam spektrofotometer adalah mengubah sinyal
radiasi yang diterima menjadi sinar elektronik. Beberapa macam
detektor yang telah dipakai dalam spektrofotometer UV-Vis yaitu
detektor fotosel, detektor tabung foton tanpa hampa, detektor tabung
penggandaan foton (photomultiplier tube), detektor foto diode-array.
II.6 Validasi
Validasi metode analisa bertujuan untuk membuktikan bahwa semua
metode

analisa

yang

digunakan

dalam

pengujian

maupun

pengawasan mutu, senantiasa mencapai hasil yang diinginkan secara


konsisten. Parameter dalam validasi metode analisis adalah akurasi,
presisi, spesifisitas, linieritas dan rentang, batas deteksi, batas
kuantifikasi (USP 37, 2014).
II.6.1 Ketepatan (Akurasi)
Akurasi adalah kedekatan hasil uji antara hasil yang diperoleh dengan
nilai sebenarnya atau dengan nilai referensinya. Akurasi dapat
dinyatakan dengan persen perolehan kembali (persen recovery).
Akurasi yang baik menunjukan nilai 95% 105 %.

Akurasi=

Nilai Pengukuran
x 100
Nilai Sebenarnya

II.6.2 Kecermatan (Presisi)


Kecermatan adalah kedekatan hasil uji dengan cara memperoleh
pengukuran dari berbagai contoh yang homogen dalam kondisi yang
normal. Presisi adalah ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian
antara hasil uji individual, diukur melalui penyebaran hasil
individual rata-rata jika prosedur ditetapkan secara berulang pada
sampel yang diambil dari campuran yang homogen.

SD=

(X i x )2

%RSD=

n2
SD
x 100
x

Keterangan:

Xi

= pengukuran tunggal

12

13

= rata-rata

n = jumlah pengukuran
II.6.3 Spesifisitas
Selektifitas atau spesifitas suatu metode adalah kemampuan yang
hanya mengukur zat tertentu saja secara tepat cermat dan seksama
dengan adanya komponen lain yang mungkin ada dalam matriks
sampel.

II.6.4 Linieritas dan Rentang


Liniearitas adalah kemampuan metode analisis yang memberikan
respon secara langsung atau dengan bantuan transformasi matematik
yang baik, proporsional terhadap konsentrasi analit dalam sampel.
Uji linearitas dilakukan dengan satu seri larutan baku yang terdiri
dari 6 konsentrasi yang meningkat pada rentang 50-150% dari
percobaan rentang kerja yang diharapkan. Rentang dinyatakan
dengan satuan yang sama seperti hasil uji (persen atau bpj) yang
diperoleh melalui metode analisis. Kemudian data diproses dengan
menggunakan regresi linear. Rentang metode adalah pernyataan
konsentrasi terendah dan tertinggi analit yang mana metode analisis
memberikan akurasi, presisi dan liniearitas yang dapat diterima.
Sebagai parameter adanya hubungan linier yang ideal tercapai jika
nilai b = 0 dan r = +1 atau -1 tergantung pada arah garis. Nilai a pada
regresi linier menunjukkan kepekaan analisis terutama instrument
yang digunakan.

X i x yi y

2
2
( X i x ) ( y i y )

r=

II.6.5 Batas Deteksi dan Batas Kuantisasi


Batas deteksi merupakan jumlah terkecil analit dalam sampel yang
dapat dideteksi dan masih memberikan respon yang signifikan
dibandingkan dengan blangko. Batas deteksi merupakan parameter
uji batas. Batas kuantisasi merupakan jumlah terkecil analit dalam
sampel yang masih dapat dikuantifikasi dengan akurasi dan presisi
yang baik. Batas kuantisasi adalah nilai parameter penentuan
kuantitatif senyawa yang terdapat dalam konsentrasi rendah dalam
matriks.

Batas Deteksi

3 x SD
Slope

Batas kuantisasi

10 x SD
Slope

SD =

(X i x )2
n2

14

15
dimana, SD = Standar Deviasi (Simpangan Baku) dari blangko
contoh memberikan nilai deviasi standar yang tidak sama dengan
nol.

Bab III Metodologi Penelitian


III.1 Metode Penelitian
Penelitian ini terbagi menjadi 3 tahap, yaitu optimasi, validasi
metode analisa, dan penetuan kadar. Tahap optimasi dilakukan
dengan beberapa parameter untuk mendapatkan metode yang
optimal dalam penentuan kadar vitamin C. Parameter tersebut
meliputi penentuan panjang gelombang optimum dan penentuan
konsentrasi pereaksi. Setelah didapatkan prosedur yang optimum,
dilakukan validasi metode analisa dengan parameter akurasi, presisi,
spesifitas, linieritas, batas deteksi, batas kuantitasi, dan stabilitas.
Langkah selanjutnya penetapan kadar, dari metode yang telah
teroptimasi dan memenuhi syarat parameter validasi metode analisa.
III.2 Waktu dan Tempat Kegiatan
Penelitian dilakukan dilaboratorium Sekolah Tinggi Farmasi
Bandung. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Maret-Juni 2015.

Bab IV Prosedur Kerja


IV.1 Alat
Alat alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi seperangkat
instrument

spektrofotometri

UV-VIS

16

(Shimadzu),

Timbangan

17
Analitik (Mettler Toledo), pH meter (Mettler Toledo), alat gelas yang
digunakan dilaboratorium.
IV.2 Bahan
Bahan bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:
Standar vitamin C, NH4Fe(SO4)2.12H2O (merk), HCl pekat 37%
(merk), KSCN (merk),

HNO3(merk),, Aquadest, Sampel tablet

vitamin C.
IV.3 Pembuatan Pereaksi
1. Larutan Standar Besi

(III)

1000 g/mL:

0,863 gram

NH4Fe(SO4)2.12H2O ditimbang, dimasukkan kedalam labu ukur


100 mL dan ditambahkan 4 tetes HCl pekat 37%, dilarutkan
dengan aquadest dan digenapkan sampai tanda batas. Kemudian
2.

larutan dikocok sampai homogen.


Larutan Standar vitamin C 400 g/mL: 0,1 gram Vitamin C
ditimbang, dimasukkan kedalam labu ukur 250 mL, dilarutkan
dengan aquadest dan digenapkan sampai tanda batas. Kemudian

3.

larutan dikocok sampai homogen.


Pembuatan HNO3 0,12 M: Sebanyak 9,2 ml HNO3 pekat dipipet
kemudian diencerkan hingga 250 ml dengan aquadest.

4.

Kemudian larutan dikocok sampai homogen.


Pembuatan Pereaksi I: Pereaksi I dibuat dengan cara memipet 10
ml besi (III) 1000 g/mL dimasukkan kedalam labu ukur 500 ml
dan dicampurkan dengan 250 ml HNO 3 0,12 M, kemudian
diencerkan hingga 500 ml dengan aquadest. Kemudian larutan

5.

dikocok sampai homogen.


Pembuatan Pereaksi II:

6,063 gram KSCN ditimbang,

dimasukkan kedalam labu ukur 250 mL, diencerkan dengan


aquadest sampai tanda batas. Kemudian larutan dikocok sampai
homogen.

IV.4 Optimasi Kondisi Analisis


IV.4.1 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
IV.4.1.1 Penentuan Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
Pereaksi
Larutan dibuat dengan cara memipet 5 ml NH 4Fe(SO4)2 100 g/mL
dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml, kemudian ditambahkan 5 ml
KSCN 2 M dan 3 ml HNO3 4 M. Larutan tersebut diencerkan dengan
aquadest sampai tanda batas labu ukur dan dikocok sampai
homogen.
IV.4.1.2 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Pereaksi
dan Vitamin C
Larutan dibuat dengan cara memipet 5 ml NH 4Fe(SO4)2 100 g/mL
dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml yang telah berisi 1 ml larutan
standar vitamin C 100 g/mL, kemudian ditambahkan 5 ml KSCN 2
M dan 3 ml HNO3 4 M. Larutan tersebut diencerkan dengan aquadest
sampai tanda batas labu ukur dan dikocok sampai homogen.
IV.4.2 Penentuan Tahap Penambahan Asam
IV.4.2.1 Penentuan Tahap Penambahan Asam Cara I
Larutan dibuat dengan cara memipet masing-masing 5 ml
NH4Fe(SO4)2 11 g/mL dimasukkan kedalam masing-masing tabung
reaksi yang telah berisi vitamin C 1, 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 g/mL,
kemudian campuran tersebut dikocok dan diinkubasi selama 10
menit pada suhu ruang. Larutan tersebut ditambahkan 5 ml KSCN
0,22 M, kemudian larutan dikocok dan diinkubasi selama 10 menit
pada suhu ruang. Ukur larutan pada panjang gelombang 477 nm.
IV.4.2.2 Penentuan Tahap Penambahan Asam Cara II

18

19
Larutan dibuat dengan cara memipet masing-masing 5 ml
NH4Fe(SO4)2 11 g/mL dimasukkan kedalam masing-masing tabung
reaksi yang telah berisi vitamin C 1, 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 g/mL,
kemudian campuran tersebut dikocok dan diinkubasi selama 10
menit pada suhu ruang. Larutan tersebut ditambahkan 2,5 ml KSCN
0,44 M dan 2,5 ml HNO3 0,528 M, kemudian larutan dikocok dan
diinkubasi selama 10 menit pada suhu ruang. Ukur larutan pada
panjang gelombang 477 nm.
IV.4.2.3 Penentuan Tahap Penambahan Asam Cara III
Larutan dibuat dengan cara memipet masing-masing 10 ml campuran
NH4Fe(SO4)2 22 g/mL, HNO3 0,528 M dan KSCN 0,44 M dengan
komposisi 2 : 1 :1 dimasukkan kedalam masing-masing tabung
reaksi yang telah berisi vitamin C 1, 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 g/mL,
kemudian campuran tersebut dikocok dan diinkubasi selama 10
menit pada suhu ruang. Ukur larutan pada panjang gelombang 477
nm.
IV.4.2.4 Penentuan Tahap Penambahan Asam Cara IV
Larutan dibuat dengan cara memipet masing-masing 5 ml
NH4Fe(SO4)2 11 g/mL dimasukkan kedalam masing-masing tabung
reaksi yang telah berisi vitamin C 1, 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 g/mL,
kemudian campuran tersebut dikocok dan diinkubasi selama 10
menit pada suhu ruang. Larutan tersebut ditambahkan 5 ml campuran
KSCN 0,44 M dan HNO3 0,528 M, kemudian larutan dikocok dan
diinkubasi selama 10 menit pada suhu ruang. Ukur larutan pada
panjang gelombang 477 nm.
IV.4.2.5 Penentuan Tahap Penambahan Asam Cara V
Larutan dibuat dengan cara memipet masing-masing 7,5 ml
campuran NH4Fe(SO4)2 22 g/mL, HNO3 0,528 M dengan komposisi
2 : 1 dimasukkan kedalam masing-masing tabung reaksi yang telah

berisi vitamin C 1, 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 g/mL, kemudian


campuran tersebut dikocok dan diinkubasi selama 10 menit pada
suhu ruang. Larutan tersebut ditambahkan 2,5 ml KSCN 0,44 M,
kemudian larutan dikocok dan diinkubasi selama 10 menit pada suhu
ruang. Ukur larutan pada panjang gelombang 477 nm.
IV.4.3 Penentuan Waktu Inkubasi
IV.4.3.1 Penentuan Waktu Inkubasi I
Larutan dibuat dengan cara memipet masing-masing 1 ml larutan
standar vitamin C 8 g/mL dimasukkan kedalam masing-masing
tabung reaksi, ditambahkan masing-masing 5 ml Pereaksi I
kemudian campuran tersebut dikocok dan diinkubasi masing-masing
pada waktu 1-20 menit pada suhu ruang, kemudian ditambahkan
masing-masing 4 ml Larutan KSCN 0,1 M, kemudian larutan
dikocok dan diinkubasi selama 10 menit pada suhu ruang. Ukur
larutan pada panjang gelombang 477 nm.
IV.4.3.2 Penentuan Waktu Inkubasi II
Larutan dibuat dengan cara memipet masing-masing 1 ml larutan
standar vitamin C 8 g/mL dimasukkan kedalam masing-masing
tabung reaksi, ditambahkan masing-masing 5 ml Pereaksi I
kemudian campuran tersebut dikocok dan diinkubasi pada waktu
optimum inkubasi I pada suhu ruang, kemudian ditambahkan
masing-masing 4 ml Larutan KSCN 0,1 M, kemudian larutan
dikocok dan diinkubasi masing-masing pada waktu 1-20 menit pada
suhu ruang. Ukur larutan pada panjang gelombang 477 nm.
IV.5 Validasi Metode Analisis (USP 37, 2014)

20

21
IV.5.1 Uji Spesifitas
Larutan dibuat dengan cara memipet 1 ml larutan standar vitamin C
8 g/mL dan 1 ml standar vitamin C 8 g/mL dan placebo
dimasukkan kedalam masing-masing tabung reaksi, ditambahkan
masing-masing 5 ml Pereaksi I kemudian campuran tersebut dikocok
dan diinkubasi masing-masing pada waktu 10 menit pada suhu
ruang, kemudian ditambahkan masing-masing 4 ml Larutan KSCN
0,1 M, kemudian larutan dikocok dan diinkubasi selama 10 menit
pada suhu ruang. Ukur larutan pada panjang gelombang 477 nm.
IV.5.2 Uji Linearitas
Larutan dibuat dengan cara memipet 1 ml larutan standar vitamin C
(2-14) g/mL dimasukkan kedalam masing-masing tabung reaksi
yang telah berisi 5 ml larutan Pereaksi I kemudian campuran tersebut
dikocok dan diinkubasi selama 10 menit pada suhu ruang. Larutan
tersebut ditambahkan 4 ml KSCN 0,1 M, kemudian larutan dikocok
dan diinkubasi selama 10 menit pada suhu ruang. Ukur larutan pada
panjang gelombang 477 nm.
IV.5.3 Batas Deteksi (BD) dan Batas Kuantitasi (BK)
Dibuat tujuh seri konsentrasi 2, 4, 6, 8, 10, 12 dan 14 g/mL,
kemudian nilai batas deteksi dan batas kuantitasi dihitung secara
statistik melalui garis regresi linier dari kurva kalibrasi, nilai
pengukuran akan sama dengan nilai b pada persamaan garis linier y
= ax + b.
IV.5.4 Uji Akurasi
Sampel simulasi dibuat dengan konsentrasi 80 %, 100 % dan 120 %,
Sampel simulasi dibuat sesuai dengan tabel IV.1 Prosedur

pengukuran sesuai dengan tahap penetapan kadar. Tiap konsentrasi


diukur sebanyak 3 kali.
Tabel IV.1 Pembuatan Sampel Simulasi Akurasi dan Presisi

No.
1
2
3

Replika

Vitamin

Zat Tambahan (mg)

konsentrasi (%)

C (mg)

Dengan komposisi tertentu

80
100
120

40
50
60

60
50
40

IV.5.5 Uji Presisi


Sampel simulasi dibuat dengan konsentrasi 100%, Sampel simulasi
dibuat sesuai dengan tabel IV.1 Prosedur pengukuran sesuai dengan
tahap penetapan kadar. Pengukuran dilakukan sebanyak 10 kali
pengulangan.
IV.6 Penetapan kadar vitamin C
Sampel vitamin C ditimbang sebanyak 20 tablet digerus dan
ditimbang setara 1 tablet,

dilarutkan dalam labu ukur 250 ml,

kemudian dipipet 10 ml dimasukkan ke dalam labu ukur 25 mL.


Dipipet 1 ml larutan vitamin C dimasukkan kedalam tabung reaksi,
ditambahkan masing-masing 5 ml Pereaksi I kemudian campuran
tersebut dikocok dan diinkubasi pada waktu 10 menit pada suhu
ruang, kemudian ditambahkan 4 ml Larutan KSCN 0,1 M, kemudian
larutan dikocok dan diinkubasi selama 10 menit pada suhu ruang.
Ukur larutan pada panjang gelombang 477 nm. Pengujian dilakukan
sebanyak 3 kali.

22

23

Bab V Hasil Percobaan dan Pembahasan


Vitamin C adalah antiokidan, vitamin C dapat dioksidasi oleh Fe3+,
hal ini dapat dilihat dari nilai potensial reduksi vitamin C yang lebih
kecil dibandingkan dengan Fe3+ yaitu +0,116 volt sedangkan Fe 3+
+0,77 volt. Karena vitamin C mempunyai potensial reduksi yang
lebih kecil dibandingkan Fe3+ sehingga reaksi dapat berlangsung.
Penetapan kadar vitamin C didasarkan pada rekasi seperti persamaan
dibawah ini:
Reaksi :
Fe3+ + 6SCN- [Fe(SCN)6]3 2Fe3+ + Vitamin C Vitamin C(teroksidasi) + 2Fe2+
Fe3+(sisa)+ 6SCN- [Fe(SCN)6]3Pada percobaan dilakukan dengan dua tahap, tahap pertama pada
tabung reaksi 1 ditambahkan larutan Fe3+ , HNO3 dan KSCN, pada
tabung reaksi 2 yang telah berisi vitamin C ditambahkan larutan Fe3+
, HNO3 dan KSCN. Reaksi yang terjadi pada tabung reaksi 1 dapat
dilihat pada peramaan 1 dan reaksi yang terjadi pada tabung reaksi 2
dapat dilihat pada persamaan 2. Dimisalkan Fe3+ adalah m mol,
SCN- didesain berlebih sehingga akan menghasilkan m mol
[Fe(SCN)6]3- vitamin C yang bereaksi adalah b mol dan 2b adalah

2Fe3+ sisa. Dari persamaan ini maka dapat diturunkaan nilai

berbanding lurus dengan vitamin C sesuai dengan persamaan


dibawah ini:

Fe3+ + 6SCN- [Fe(SCN)6]3m mol


m mol
2Fe3+ + Vitamin C Vitamin C(teroksidasi) + 2Fe2+
2n mol n mol
Fe3+(sisa)+ 6SCN- [Fe(SCN)6]3-

(Peramaan 2)

A1= (kompleks).b.c (mol/Vt) = (kompleks).b. mol/Vt


A2= (kompleks).b.c (mol/Vt) = (kompleks).b. mol/Vt
A1-A2 = (kompleks).b (mol awal mol sisa)
Vt
A1-A2 = (kompleks).b ( m (m-2n))
Vt

A 1 A 2
=0+2 n
(kompleks ). b
Vt
A 1 A 2=

Vt
.2n
( (kompleks)
.b)

24

(Peramaan 1)

25

A=

Vt
.2 n
( (kompleks)
.b)

A=k .2 n

(Peramaan 1)

A n

Penentuan panjang gelombang maksimum untuk pereaksi dilakukan


tanpa penambahan vitamin C. Sedangkan pada penentuan panjang
gelombang maksimum campuran antara pereaksi dan vitamin C
dilakukan dengan penambahan 1 ml vitamin C 100 g/mL. Kedua
uji tersebut menunjukan perubahan

warna saat

dilakukan

penambahan KSCN dari tidak berwarna menjadi merah jingga. Hal


ini disebabkan karena Fe (III) membentuk senyawa kompleks
dengan SCN-. Panjang gelombang maksimum untuk pereaksi sebesar
477,4 nm dengan serapan 0,702. Sedangkan untuk campuran
pereaksi dan vitamin C sebesar 476,8 nm dengan serapan 0,642. Hal
ini dapat terjadi karena konsentrasi Fe (III) berkurang akibat terjadi
reaksi antara Fe (III) dengan vitamin C.
Berikut adalah gambar spektrum pada penentuan panjang gelombang
maksimum:

Gambar V.1 Spektrum Larutan Fe (III) dan KSCN Suasana Asam.

Gambar V.2 Spektrum Larutan Fe (III), Vitamin C, dan KSCN dalam


Suasana Asam

26

27
Pada tahap penentuan Kurva Kalibrasi cara I, perubahan warna yang
dihasilkan tidak berwarna merah jingga, warna yang dihasilkan dari
NH4Fe(SO4)2, Vitamin C dan KSCN adalah warna kuning. Hal ini
disebabkan karena tidak dilakukan penambahan HNO3 sebagai
pengasam, sedangkan reaksi NH4Fe(SO4)2 dan KSCN dapat
membentuk kompleks berwarna merah jingga pada suasana asam.
Hasil absorbansi yang didapatkan nilainya kecil. Pada tahap
penentuan Kurva Kalibrasi cara II, pada penambahan NH 4Fe(SO4)2
dan vitamin C tidak terjadi perubahan warna, kemudian larutan
tersebut diinkubasi selama 10 menit pada suhu ruang, kemudian
ditambahkan HNO3 dan KSCN terjadi perubahan warna dari bening
menjadi merah jingga. Hal ini disebabkan karena

NH 4Fe(SO4)2

membentuk senyawa kompleks dengan SCN . Hasil absorbansi yang


didapatkan baik semakin besar konsentrasi vitamin C yang
ditambahkan maka absorbansi yang dihasilkan akan menurun hal ini
disebabkan semakin besar konsentrasi vitamin C yang ditambahkan
maka semakin besar pula konsentrasi NH 4Fe(SO4)2 yang dibutuhkan
sehingga absorbansi yang dihasilkan menurun karena nilai
absorbansi merupakan sisa NH4Fe(SO4)2. Pada tahap penentuan
Kurva Kalibrasi cara III, pada pembuatan campuran NH 4Fe(SO4)2 22
g/mL, KSCN 0,44 M dan HNO 3 0,528 M telah terjadi perubahan
warna dari yang tadinya tidak berwarna menjadi berwarna merah.
Sehingga pada konsentrasi

NH 4Fe(SO4)2 10 g/mL dan pada

penambahan vitamin C 3, 5, dan 10 g/mL warna yang dihasilkan


tidak jauh berbeda dan menyebabkan nilai absorbansi yang terlalu
besar. Hal ini menyebabkan kesalahan pada saat pengukuran
sehingga didapatkan hasil absorbansi yang tidak jauh berbeda pada

konsentrasi vitamin C 3, 5, dan 10 g/mL yang ditambahkan. Pada


Pada tahap penentuan Kurva Kalibrasi cara IV, pada pembuatan
campuran KSCN 0,44 M dan HNO 3 0,528 M telah terjadi perubahan
warna dari yang tadinya tidak berwarna menjadi berwarna merah ini
dapat terjadi karena HNO3 telah bereaksi dengan KSCN. Sehingga
pada saat campuran vitamin C dan NH4Fe(SO4)2 ditambahkan
campuran HNO3 dan KSCN warna yang terbentuk pada berbagai
macam konsentrasi vitamin C tidak jauh berbeda. Hal ini
menyebabkan kesalahan pada saat pengukuran sehingga didapatkan
hasil absorbansi yang tidak jauh berbeda pada berbagai konsentrasi
vitamin C yang ditambahkan. tahap penentuan Kurva Kalibrasi cara
V, pada pembuatan campuran NH4Fe(SO4)2 dan HNO3 tidak terjadi
perubahan warna. Kemudian campuran NH 4Fe(SO4)2 dan HNO3
ditambahkan ke dalam tabung reaksi yang telah berisi vitamin C dan
tidak terjadi perubahan warna, kemudian larutan tersebut diinkubasi
selama 10 menit pada suhu ruang, kemudian ditambahkan KSCN
terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah jingga. Hal ini
disebabkan karena

NH4Fe(SO4)2 membentuk senyawa kompleks

dengan SCN-. Hasil absorbansi yang didapatkan baik semakin besar


konsentrasi vitamin C yang ditambahkan maka absorbansi yang
dihasilkan akan menurun. Hasil dari kurva kalibrasi tidak
memberikan nilai yang baik karena pada konsentarsi vitamin C 20,
25 dan

30 g/mL tidak terbentuk kompleks warna, hal ini

disebabkan karena pada penambahan konsentrasi vitamin C 20, 25


dan 30 g/mL konsentrasi vitamin C terlalu tinggi.
Tabel V.1 Hasil Penentuan Tahap Penambahan Asam

28

29
Vitamin
C g/ml
1
3
5
10
15
20
25
30

Cara I
0,640
0,653
0,657
0,658
0,660
0,662
0,664

Cara II
-0,005
0,02
0,371
0,604
0,618
0,618
0,618

Abs
Cara III
0,000
0,000
0,000
3,984
4,021
4,029
4,026

Cara IV
-0,024
-0,021
-0,028
-0,003
-0,012
-0,016
0,509

Cara V
0,200
0,335
0,643
0,943
1,105
1,111
1,112

Pada penentuan waktu inkubasi I dan II dilakukan dengan cara


memvariasikan waktu inkubasi pada beberapa waktu yaitu 1, 5, 10,
15 dan 20 menit. Waktu reaksi I dan II mulai stabil setelah diinkubasi
selama 10 menit. Hal ini disebabkan karena reaksi antara Larutan Fe
(III), vitamin C, HNO3 dan KSCN berlangsung cepat.
1
0.8
0.6
A 0.4
0.2
0
0

10

15

20

25

Waktu (menit)

Gambar V.3 Penentuan Waktu Inkubasi I

1
0.8
0.6
A 0.4
0.2
0
0

10

15

20

25

Waktu (menit)

Gambar V.4 Penentuan Waktu Inkubasi II


Pada penentuan spesifitas dilakukan dengan cara membandingkan
antara nilai absorbasi standar dengan nilai absorbansi standar yang
ditambahkan placebo. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai persen
bias yaitu 1,65%. Dari hasil uji selektifitas diperoleh data yang
memenuhi persyaratan karena memiliki nilai < 2%. Berikut adalah
data perhitungan spesifitas:
Tabel V.2 Hasil Penentuan Spesifitas
Absorbansi
Standar dan Placebo

% Bias
1,65

0,463
0,456

Standar

30

31

Penentuan uji linieritas dilakukan dengan cara memvariasikan kadar


vitamin C.

1 ml sampel vitamin C dengan konsentrasi 2, 4, 6, 8, 10,

12 dan 14 g/mL. Masing-masing ditambahkan 5 ml Pereaksi 1


ditambahkan ke dalam tabung reaksi yang telah berisi vitamin C dan
tidak terjadi perubahan warna, kemudian larutan tersebut diinkubasi
selama 10 menit pada suhu ruang, kemudian ditambahkan KSCN
terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah jingga larutan
tersebut diinkubasi selama 10 menit pada suhu ruang. Hal ini
disebabkan karena

NH4Fe(SO4)2 membentuk senyawa kompleks

dengan SCN-. Hasil absorbansi yang didapatkan menunjukan


semakin besar konsentrasi vitamin C yang ditambahkan maka
absorbansi yang dihasilkan akan menurun. Dari data didapatkan nilai
absorbansi berada pada rentang linier yang diperkenankan yaitu
y=0,071x-0,120 dengan nilai regresi linier 0,998. Daerah ini
memiliki regresi linier yang lebih tinggi dari regresi linier yang
ditetapkan yaitu R 0,995 pada kelayakan suatu metode analisis.
Pada rentang linier ini menunjukkan bahwa y=0,071x-0,120 adalah
daerah respon linier suatu validasi metode penetapan kadar senyawa
dalam suatu analit.
Tabel 6. Hasil Penentuan Uji Linieritas
Sampel (g/mL)
2

Absorbansi

x Sd

0,03

0,45 0,31

0,157

0,291

0,459

10

0,601

12

0,726

14

0,876

Absorban

0.5
0
0 2 4 6 8 10 12 14 16
Konsentrasi (ppm)

Gambar V.5 Penentuan Uji Linieritas


Pada penentuan batas deteksi dan batas kuantisasi ditetapkan secara
tidak langsung. Dari persamaan linier vitamin C yaitu y=0,071x-0,12
dapat dicari batas deteksi maupun batas kuantisasinya. Dimana batas
deteksi merupakan konsentrasi analit terendah yang mampu
menghasilkan absorbansi cukup besar sehingga mampu terdeteksi
dan dapat dibedakan dengan absorbansi blangko. Batas kuantisasi
merupakan konsentrasi analit yang menghasilkan absorbansi lebih
besar dari blangko atau jumlah terkecil analit dalam sampel yang

32

33
masih

memenuhi

kriteria

cermat

dan

seksama

dan

dapat

dikuantifikasi dengan akurasi dan presisi yang baik. Dari hasil


perhitungan secara statistik diperoleh nilai batas deteksi 0,46 g/mL
dan batas kuantisasi adalah 1,55 g/mL.

Tabel V.4 Perhitungan Batas Deteksi dan Batas Kuantisasi


Konsentrasi

Vitamin C

y'

y-y'

(y-y')

0,03

0,022

0,008

0,00006

0,157

0,164

-0,007

0,000049

0,291

0,306

-0,015

0,000225

0,459

0,448

0,011

0,000121

10

0,601

0,59

0,011

0,000121

12

0,726

0,732

-0,006

0,00004

14

0,876

0,874

0,002

0,000004

SUM

0,00062

s(y/x)2

0,000124

s(y/x)

0,011135529

BD

0,46

BK

1,55

sox

0,154660121

vox

1,933251515

Keterangan: x= Konsentrasi deret standar y= absorbansi

Pada penentuan uji perolehan kembali dilakukan dengan membuat


sampel simulasi konsentrasi 80%, 100% dan 120%. Dari hasil yang
diperoleh nilai perolehan kembali masih memenuhi persyaratan yang
telah ditetapkan.
Tabel V.5 Hasil Penentuan Uji Akurasi
Konsentrasi

80%
(40 mg/tab)

100%
(50 mg/tab)

120%

Abs

Kadar Terukur
(mg/tab)

% Recovery

0,364

39,86

99,64

0,370
0,371

40,57
40,68

101,43
101,70

0,463

50,77

101,54

0,4645

50,93

101,86

0,459

50,33

100,66

0,5475

60,03

100,05

34

x Sd

100,92
1,12

101,35
0,62
100,33

35
(60 mg/tab)

0,545

59,76

99,60

0,555

60,80

101,33

Rata-rata

100,87

Standar Deviasi

0,9004

Koevisien Variasi

0,892625828

0,90

Hasil yang didapat dari penentuan uji presisi diperoleh nilai


simpangan baku adalah 0,7859 dan koevisien variasi 1,57 hasil yang
diperoleh tersebut memenuhi standar yang telah ditetapkan yaitu
nilai Koevisien Variasi 2%.
Tabel V.6 Hasil Penentuan Uji Presisi
Presisi Hari

Presisi Hari Ke-2

Ke-1
Sampel

Abs

Kadar
(mg/Tab)

Abs

Kadar
(mg/Tab)

1.

0,465

50,99

0,4645

50,93

2.

0,453

49,62

0,448

49,12

3.

0,449

49,23

0,4495

49,29

4.

0,460

50,38

0,463

50,77

5.

0,463

50,77

0,464

50,88

6.

0,465

50,93

0,452

49,56

7.

0,4505

49,40

0,4615

50,60

8.

0,464

50,88

0,461

50,55

9.

0,448

49,07

0,450

49,34

10.

0,464

50,82

0,447

49,01

Rata-rata

0,46

50,21

0,46

50,01

0,007167
Simpangan Baku

0,7859462

0,0073009

0,8005346

Koevisien Variasi

1,57

1,57

1,60

1,60

Penentuan kadar vitamin

C hasil yang ditetapkan

memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan yaitu 90-110 %.


Tabel V.7 Hasil Penentuan Kadar Sampel
Kandungan Vitamin C pertablet
(mg/tablet)

Kadar
(%)

0,474

51,18

102,37

0,475

51,64

103,28

Sampel

Abs

1
2

36

37
3

0,499

52,21

104,42

Bab VI Kesimpulan dan Saran

VI.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian disimpulkan pengembangan metode kadar
vitamin C dalam sediaan tablet dengan spektrofotometri UV-Vis
mengunakan penambahan pereaksi Fe3+ dan SCN- dapat dilakukan.
Pada tahap optimasi, panjang gelombang maksimum untuk kompleks
[Fe(SCN)6]3-adalah 477 nm. Waktu inkubasi I dan II stabil pada
menit ke-10. Hasil analisis data untuk spesifitas didapatkan nilai
persen bias yaitu 1,65 %. Hasil analisis data untuk linieritas,
didapatkan nilai koefisien relasi (r) 0,998, dengan batas deteksi 0,46

g/mL dan batas kuantisasi 1,55 g/mL. Nilai persen recovery pada
penentuan akurasi adalah 100,87%. Nilai koevisien variasi dari
penentuan presisi yaitu 1,57%. Metode dapat digunakan untuk
penetapan kadar vitamin C dalam sampel tablet. Rata-rata dari hasil
penentuan kadar vitamin C adalah 103,35%.
VI.2 Saran
Perlu dikembangkan kembali pengembangan metode kadar vitamin
C

dalam

sediaan

lainnya

dengan

spektrofotometri

mengunakan penambahan pereaksi Fe3+ dan SCN-.

38

UV-Vis

39
DAFTAR PUSTAKA
A, Kapur., A, Haskovic., A, Copra-Janicijevic., L, Klepo., A,
Topcagic., I, Tahirovic., et. Al, (2012), Spectrophotometric
analysis of total ascorbic acid contetnt in various fruits and
vegetables, Bulletin of the Chemists and Technologists of
Bosnia and Herzegovina, 38, 39-42.
Almatsier, Sunita., (2003), Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Jakarta:
Gramedia.
Departemen

Kesehatan

Republik

Indonesia.,

(1995).

Farmakope Indonesia. Edisi IV., Jakarta: Direktorat Jenderal


Pengawasan Obat dan Makanan.
Konda Ravi Kumar., Kumar P.. Praveen., N. MallikarjunaRao.,
(2011), Development and validation of RP-HPLC method for
the estimation of ascorbic acid in health drinks, J. Chem.
Pharm. Res., 3(3):363-374.
Okiei, W., Ogunlesi, M., Azeez, L., Obakachi, V., Osunsanmi,
M., Nkenchor, G., (2009), The Voltammetric and Titrimetric
Determination of Ascorbic Acid Levels in Tropical Fruit
Samples, Int. J. Electrochem. Sci., 4, 276 287.
Rusmawan Ardiana Chevi., Djulia Onggo., Irma Mulyani.,
(2011), Analisis Kolorimetri Kadar Besi (III) dalam Sampel Air
Sumur dengan Metode Pencitraan Digital, SNIPS, Institusi
Teknologi Bandung.
Scherer, Rodrigo.,

Ana

AugustoCristiano.,

Meinhart a DillenburgAdrian., Filho

Ceclia

Poloni

Rybka.,

Ballu

Teixeira Jose., Godoy Teixeira Helena., (2012), Validation of a


HPLC method for simultaneous determination of main organic
acids in fruits and juices, Food Chemistry 135, 150154.

Sudarmadji, Slamet., Bambang, Haryono., Suhardi., (1996),


Analisa Bahan Makanan dan Pertanian, Yogyakarta: Liberty
Yogyakarta.
Tahirovic, Azra., CopraJanicijevic Amira., Basic, Nedzad.,
Klepo, Lela., Subasic, Mirel., (2012), Determination of Vitamin
C in Flowers of Some Bosnian Crataegus L. Spesies, University
of Sarajevo No. 2, 1-12.
Tiwari K. Kishore., (2010), A New Spectrophotometric Method
for the Determination of Ascorbic Acid Using Leuco Malachite
Green, J. Chin. Chem. Soc., Vol. 57, 105-110.
United States Pharmacopeial.,(2014).,U.S.

Pharmacopeia

National Formulary. USP37-NF32, Hal. 1157.


Wardani Andria Laras, (2012), Validasi Metode Analisis dan
Penentuan Kadar Vitamin C pada minuman Buah Kemasan
dengan Spektrofotometri UV-Visible, Universitas Indonesia, 156.
Winarno F.G, (1992), Kimia Pangan dan Gizi, Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.

40