Anda di halaman 1dari 42

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sastra merupakan bidang ilmu yang terus berkembang di lingkungan
masyarakat

mengikuti

perkembangan

zaman.

Taum

(dalam

Samsuddin, 2015 : 3) mengemukakan bahwa sastra merupakan pengetahuan


eksistensial mengenai bentuk hidup manusia sehingga mudah dideskripsikan,
tetapi tidak mudah untuk didefinisikan.
Sastra terus berkembang karena kecintaan masyarakat terhadap karya
sastra. Sastra adalah sebuah karya yang mengarah pada kreativitas yang
imajinatif. Karya sastra dalam kehidupan manusia sangat memberikan hiburan
dan pengajaran bagi pembaca dan pendengarnya. Karya sastra merupakan karya
imajinasi pengarang sehingga bukan hanya pengarangnya tetapi penikmatnya pun
akan memiliki daya imajinasi yang tinggi saat membaca atau mendengarnya.
Karya sastra walaupun hanya sebagai kreativitas atau karya imajinasi pengarang,
namun dapat membuat penikmatnya terhipnotis dengan cerita-cerita yang
disuguhkan sebab konflik yang disuguhkan sangat menarik dan konflik yang
diangkat memiliki kesesuaian dengan realita yang ada dalam kehidupan manusia
sehari-hari, sehingga menarik perhatian penikmatnya. Karya sastra yang baik
tidak dapat terhindar dari kenyataan tentang kemanusiaan, memiliki keterkaitan
dengan masalah kehidupan manusia, dan segala problematikanya yang beragam.

Fenomena-fenomena kehidupan yang pada umumnya terjadi pada masyarakat


dijadikan sebagai inspirasi oleh sastrawan untuk diwujudkan dalam bentuk karya
sastra. Dengan demikian, karya sastra hadir sebagai hasil perenungan pengarang
terhadap fenomena kehidupan manusia, sehingga karya sastra itu tidak hanya
dianggap sekedar cerita khayal pengarang semata, melainkan perwujudan dari
kreativitas

pengarang

dalam

berimajinasi

dan

menyampaikan

gagasan-

gagasannya.
Karya sastra di Indonesia sangat beragam salah satunya adalah novel.
Novel adalah karya sastra imajinasi pengarang. Pengarang menawarkan sebuah
keadaan atau konflik yang disesuaikan dengan realita hidup seseorang, baik
konflik hidup yang dialami oleh pengarang sendiri maupun konflik yang dialami
oleh orang lain. Novel menceritakan tentang kisah perjalanan hidup seseorang
yang mengandung konflik. Karena konflik itulah sehingga pembaca tertarik untuk
membaca cerita dan tertarik untuk mengetahui konflik apa yang terjadi dalam
cerita yang disuguhkan oleh pengarang. Selain sebagai hiburan bagi pembaca,
1
novel juga dapat dijadikan sebuah media pembelajaran bagi pembaca yang
kiranya memiliki kisah yang sama dengan cerita ataupun pembaca dapat
1

menemukan solusi dari cerita itu jika nanti pembaca mungkin mengalami hal
yang sama dengan cerita yang disuguhkan oleh pengarang.
Novel adalah sebuah karya yang medianya adalah bahasa. Bahasa
merupakan alat pendukung yang sangat penting bagi pengarang. Setiap
pengarang tidak sama dalam memanfaatkan khazanah bahasa dalam karyanya.
Setiap pengarang memiliki ciri khas dalam pemanfaatan gaya bahasanya untuk

mengembangkan cerita sehingga dapat menarik perhatian pembaca. Sebab, cerita


yang kompleks tidak mesti disuguhkan pula dengan bahasa yang kompleks,
namun

cerita

yang

kompleks

dapat

dibuat

menjadi

menarik

dengan

memanfaatkan bahasa sebaik mungkin di dalam karya sastra itu khususnya novel.
Gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang disesuaikan dengan kegemaran
pengarang itu sendiri apakah ia dalam penyampaian ceritanya bersifat telanjang
maksudnya dengan sekali baca pembaca sudah tahu apa ceritanya, ataukah
pengarang menggunakan bahasa analogi atau kiasan sehingga untuk memahami
cerita, pembaca harus pula berimajinasi. Seperti halnya novel-novel karya Asma
Nadia yang selalu mengangkat tema tentang konflik kehidupan. Banyak karya
yang telah dibuat oleh pengarang ini, dan tidak sedikit pula pembaca yang
antusias ingin memiliki novelnya. Novelnya pun banyak diangkat menjadi film
layar lebar. Tentu saja, hal itu tidak terlepas dari kepandaian pengarang
mengisahkan cerita dengan bahasa-bahasanya yang indah sehingga menarik hati
pembaca.
Asma Nadia telah banyak menciptakan karya sastra berupa novel, salah
satunya novel yang berjudul Pesantren Impian yang menjadi salah satu novel best
seller dan diangkat ke layar lebar pada tahun 2014. Novel ini sangat menarik
dengan penyuguhan bahasa yang dapat menggugah minat pembaca. Novel ini
mengisahkan tentang masa lalu lima belas remaja putri dan putra yang kelam.
Mereka menerima undangan misterius untuk menetap di Pesantren Impian.
Sebuah tempat rehabilitasi di sebuah pulau yang bahkan tak tercantum dalam
peta. Berbagai kejadian menegangkan kemudian terjadi di Pesantren Impian.

Pemerkosaan yang menimpa gadis bernama Rini hingga harus menanggung


kehamilan yang tak dikehendaki. Tragedi yang menyisakan teka-teki, sebab
bayang kegelapan terlalu sempurna menutupi wajah lelaki biadab yang
melakukannya. Kisah cinta yang tertunda, misteri si Gadis yang dicari-cari polisi.
Tentang rahasia yang disembunyikan Teungku Budiman, bahkan peristiwa
pembunuhan yang menegangkan. Namun, Pesantren Impian mampu menjadi
jembatan hidayah bagi hati yang sebelumnya tak pernah merindukan surga. Saat
membaca novel ini, pembaca dituntut untuk memasuki dunia fantasi pengarang
dan merasakan ketegangan sambil menebak teka-teki di dalamnya. Cerita dalam
novel ini dikembangkan oleh pengarang dengan kreativitasnya berimajinasi dan
menyalurkannya dengan bahasa tulis, sehingga pembaca ikut merasakan
ketegangan saat membacanya.
Gaya bahasa Asma Nadia yang khas muncul dalam pengisahan di novel
ini. Pilihan katanya tepat. Dalam kalimat-kalimatnya sering ditemui pemanfaatan
gaya bahasa simile, personifikasi dan sarkasme. Selain itu, dapat pula ditemukan
gaya bahasa lainnya seperti paradoks, hiperbola, metafora, dan sinekdoke. Salah
satu contoh gaya bahasa dala novel pesantren impian adalah gaya bahasa
personifikasi. Gaya bahasa personifikasi adalah gaya bahasa yang menginsankan
benda mati seolah hidup seperti manusia. Seperti contoh dalam novel ini
Matahari telah memantulkan bayangnya di pasir putih yang basah dijilat ombak
(halaman 12). Kata dijilat adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh lidah atau
indra perasa manusia. Namun, dalam contoh kalimat tersebut kata ombak
diandaikan seperti lidah manusia yang dapat menjilat. Kalimat tersebut

seharusnya berbunyi Cahaya matahari terpantul di pasir putih yang basah karena
terkena ombak. Kalimat tersebut sengaja dibuat menarik oleh pengarang agar
menambah nilai estetikanya.
Berdasarkan pengamatan setelah membaca novel Pesantren Impian
banyak kalimat-kalimat yang akan sulit ditafsirkan maknanya sehingga pembaca
merasa kesulitan untuk menangkap pesan yang disampaikan pengarang. Atas
dasar itulah dilakukan telaah terhadap gaya bahasa. Pada mulanya, karya sastra
memang untuk dinikmati keindahannya, bukan untuk dipahami. Akan tetapi,
mengingat bahwa karya sastra juga merupakan sebuah produk budaya, maka
persoalannya menjadi lain. Karya sastra berkembang sesuai dengan proses
kearifan zaman sehingga lama-kelamaan sastra pun berkembang fungsinya. Yang
semula hanya sekedar menghibur, pada tahapan proses berikutnya karya sastra
juga dituntut untuk dapat memberikan sesuatu yang berguna bagi pembaca. Hal
ini relevan dengan idiom sastra Dulce et Utile (menyenangkan dan berguna).
Oleh karena itu, peneliti tertarik menganalisis novel Pesantren Impian dari segi
gaya bahasa. Alasan peneliti memilih gaya bahasa karena setelah membaca novel
Pesantren Impian, peneliti banyak menemukan gaya bahasa yang digunakan
pengarang dalam menyampaikan setiap gagasannya untuk membuat isi cerita
lebih menarik. Sedangkan alasan peneliti memilih novel Pesantren Impian karya
Asma Nadia sebagai objek penelitian sebab peneliti tertarik dengan jalan cerita
yang disuguhkan pengarang, yang mengangkat nilai religius yaitu kisah anak
manusia yang melewati masa lalu yang kelam dan akhirnya melalui masa
pertaubatan di Pesantren Impian. Sebab, pada hakikatya manusia pasti tidak luput

dari perbuatan dosa yang pada akhirnya akan melalui fase perenungan dan
petaubatan atas dosanya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan maka yang
menjadi masalah dalam penelitian ini adalah gaya bahasa apa sajakah yang
digunakan dalam novel Pesantren Impian karya Asma Nadia?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tentang gaya bahasa
dalam novel Pesantren Impian karya Asma Nadia.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Sumbangan pemikiran dalam upaya meningkatkan mutu apresiasi terhadap
karya sastra, khususnya mengenai gaya bahasa dalam novel Indonesia
modern.
2. Bahan masukan dalam pengembangan apresiasi sastra Indonesia baik
dunia pendidikan pada khususnya maupun di kalangan masyarakat pada
umumnya.
3. Sumbangan pemikiran tentang kajian gaya bahasa dalam novel bagi para
peneliti yang relevan.
1.5 Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah gaya bahasa yang terdapat
dalam novel Pesantren Impian karya Asma Nadia. Gaya bahasa yang akan diteliti
dibatasi pada gaya bahasa simile, metafora, personifikasi, hiperbola, paradoks,

sinekdoke, dan sarkasme.


1.6 Batasan Operasional
Adapun yang menjadi batasan operasional dalam penelitian ini adalah:
1. Gaya bahasa adalah pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang
dalam bertutur atau menulis.
2. Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita
kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan
watak dan sifat.
3. Pendekatan objektif dinamakan juga pendekatan structural adalah
pendekatan yang bertolak dari asumsi dasar bahwa karya sastra sebagai
karya kreatif memiliki otonomi penuh yang harus dilihat sebagai suatu
sosok yang berdiri sendiri terlepas dari hal-hal lain yang berada di luar
dirinya.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Novel
2.1.1 Pengertian Novel
Kata novel berasal dari bahasa Itali yaitu novella (yang dalam bahasa
Jerman novelle) secara harfiah novella berarti sebuah barang baru yang kecil dan
kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa (Nurgiyantoro,
2010 : 9). Dewasa ini, istilah novella dan novelle mengandung pengertian yang
sama dengan istilah Indonesia novelet (Inggris: novelette) yang berarti sebuah
karya prosa fiksi yang panjangnya cakupan, tidak terlalu panjang, namun juga
tidak terlalu pendek.
Novel adalah prosa baru yang menceritakan tentang kisah perjalanan hidup
pelaku utamanya yang mengandung konflik dan sangat menarik minat pembaca
untuk membaca lebih lanjut ceritanya. Novel lebih panjang dan kompleks
daripada cerpen,

setidaknya mencapai 40.000 kata, bahkan lebih (Wahyuni,

2014 : 118).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 969) novel diartikan
sebagai karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan
seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat
setiap pelaku. Novel adalah cerita rekaan yang melukiskan puncak-puncak
kehidupan seseorang mengenai kejadian-kejadian yang luar biasa yang

kehidupannya

secara

melompat-lompat

dan

berpindah-pindah,

peristiwa

mengubah nasib tersebut.


Novel dapat diartikan sebagai cerita yang berbentuk prosa yang
menyajikan permasalahan-permasalahan secara kompleks, dengan penggarapan
unsur-unsurnya secara luas dan rinci (Riswandi, 2010 : 35).
Sebuah novel merupakan sebuah totalitas, suatu kemenyeluruhan yang
bersifat artistik (Nurgiyantoro, 2010 : 822). Sebagai sebuah totalitas, novel
mempunyai bagian-bagian, unsur-unsur, yang saling berkaitan satu dengan yang
lain secara erat dan saling menggantungkan. Jika novel dikatakan sebagai
totalitas, unsur kata, bahasa merupakan salah satu bagian dari totalitas itu, salah
satu subsistem organisme itu, menyebabkan novel juga sastra pada umumnya
menjadi terwujud.
Menurut Jassin (dalam Nurgiyantoro, 2010 : 16) novel adalah suatu cerita
yang bermain dalam dunia manusia dan benda yang ada di sekitar kita, tidak
mendalam, lebih banyak melukiskan satu saat dari kehidupan seseorang dan lebih
mengenai sesuatu episode.
Novel sebagai sebuah karya fiksi menawarkan sebuah dunia, dunia yang
berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif, yang dibangun melalui
berbagai unsur intrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh dan penokohan, latar,
dan sudut pandang yang kesemuanya bersifat imajinatif. Kesemuanya itu walau
bersifat noneksistensial, karena dengan sengaja dikreasikan oleh pengarang,
dibuat mirip, diimitasikan, dan atau dianalogikan dengan dunia nyata, lengkap
dengan peristiwa-peristiwa dan latar aktualnya sehingga tampak seperti sungguh

10

ada

dan

terjadi

terlihat

berjalan

dengan

sistem

koherensinya

sendiri

(Nurgiyantoro, 2010 : 4).


Sebuah novel memiliki dunia sendiri dengan mekanisme dan realitasnya
sendiri. Ketika membaca novel kita seolah ikut serta dalam jalan cerita yang
disuguhkan dalam novel. Sebab pengarang menawarkan suatu permasalahan yang
sering terjadi dalam kehidupan nyata sehingga pembaca seolah hadir dalam cerita.
Untuk memahami keseluruhan isi novel tentunya tidak hanya sekedar membaca
tetapi diperlukan analisis, baik yang berhubungan dengan unsur intrinsiknya,
maupun dengan unsur ekstrinsiknya. Menganalisis novel dilakukan untuk
memahami secara lebih baik suatu karya sastra yang bersangkutan, di samping
untuk menjelaskan kepada pembaca yang kurang memahami karya sastra itu.
2.1.2 Unsur-unsur Novel
Unsur unsur pembangun novel terbagi atas dua unsur, yaitu unsur
instrinsik dan unsur ekstrinsik.Unsur Intrinsik (intrinsik) adalah unsur-unsur yang
membangun karya sastra itu sendiri. Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsurunsur yang secara langsung turut serta membangun cerita. Kepaduan berbagai
unsur intrinsik inilah yang membuat sebuah novel berwujud. Jika dilihat dari
sudut pembaca, unsur-unsur inilah yang akan dijumpai jika kita membaca sebuah
novel. Unsur yang dimaksud misalnya, peristiwa, cerita, plot, penokohan, tema,
latar,

sudut

pandang

penceritaan,

bahasa,

atau

gaya

bahasa

(Nurgiyantoro, 2010 : 23).


Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya
sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi karya sastra itu. Unsur

11

ekstrinsik dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi cerita sebuah


karya satra, namun tidak menjadi bagian di dalam cerita seperti halnya unsur
intrinsik. Walau demikian, unsur ini cukup berpengaruh terhadap totalitas bangun
cerita yang dihasilkan. Wellek (dalam Nurgiyantoro, 2010 : 24) unsur ekstrinsik
yang dimaksudkan antara lain adalah keadaan subjektivitas individu pengarang
yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup yang kesemuanya itu akan
mempengaruhi karya sastra yang ditulisnya. Unsur biografi pengarang akan turut
menentukan corak karya yang dihasilkannya. Unsur ekstrinsik berikutnya adalah
psikologi, baik yang berupa psikologi pengarang, psikologi pembaca, maupun
penerapan prinsip psikologi dalam karya. Keadaan dilingkungan pengarang
seperti ekonomi, politik, dan sosial juga akan berpengaruh terhadap karya sastra.
Unsur ekstrinsik yang lain misalnya pandangan hidup suatu bangsa, dan berbagai
karya seni yang lain.
2.2 Gaya Bahasa
2.2.1 Pengertian Gaya Bahasa
Gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah
style. Kata style diturunkan dari kata latin stilus, yaitu semacam alat untuk
menulis

pada

lempengan

lilin.

Keahlian

menggunakan

alat

ini

akan

mempengaruhi jelas tidaknya tulisan pada lempengan tadi. Kelak pada waktu
penekanan dititikberatkan pada keahlian untuk menulis indah, maka style lalu
berubah menjadi kemampuan dan keahlian untuk menulis atau mempergunakan
kata-kata secara indah (Keraf, 2000 : 112).
Style (gaya bahasa) menurut Abrams adalah cara pengucapan bahasa atau

12

bagaimana seseorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan


(Nurgiyantoro, 2010 : 276). Gaya bahasa mengandung pengertian cara seorang
pengarang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang
indah dan harmonis serta mampu menuangkan makna dan suasana yang dapat
menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca. Gaya bahasa diartikan sebagai
cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan
jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). sebuah gaya bahasa yang baik
harus mengandung tiga unsur berikut: kejujuran, sopan santun, dan menarik.
Dale et all (dalam Tarigan, 2013 : 4) berpendapat bahwa gaya bahasa
adalah bahasa indah yang digunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan
memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan
benda atau hal lain yang lebih umum. penggunaan gaya bahasa tertentu dapat
mengubah

serta

menimbulkan

konotasi

tertentu.

Seperti

halnya

yang

dikemukakan oleh Pradopo (2010 : 264) bahwa gaya bahasa merupakan cara
penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu. Gaya bahasa
merupakan penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapatkan nilai seni.
dikemukakan pula oleh Slametmuljana (dalam Pradopo, 2010 : 264) bahwa gaya
bahasa itu susunan perkataan yang terjadi karena perasaan dalam hati pengarang
yang dengan sengaja atau tidak, menimbulkan suatu perasaan yang tertentu dalam
hati pembaca. Selain itu, Harimurti (dalam Pradopo, 2010: 264-265)
mengemukakan bahwa gaya bahasa merupakan pemanfaatan atas kekayaan
bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis; lebih khusus adalah
pemakaian ragam bahasa tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, dan lebih

13

luas gaya bahasa itu merupakan keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis
sastra. Gaya bahasa menurut diartikan sebagai pernyataan yang berbentuk kalimat,
bukan yang berbentuk paragraf.
Gaya bahasa diuraikan dengan bermacam-macam definisi. Akan tetapi,
definisi itu pada umumnya menunjukkan persamaan. Namun, berdasarkan
berbagai pendapat tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa gaya bahasa
khususnya yang digunakan dalam karya sastra yaitu berbicara tentang ciri khas
pengarang menggunakan bahasa dalam menyampaikan gagasannya yang
sederhana dan tidak berlebih-lebihan, tetapi bahasanya efektif dan membangun
suatu pendeskripsian terhadap sesuatu secara konkret dalam imajinasi pengarang.
Gaya bahasa sastra adalah ragam khusus yang digunakan pengarang untuk
memperindah teks. Tanpa keindahan bahasa, karya sastra menjadi hambar.
Keindahan karya sastra dipengaruhi oleh kemampuan penulis memainkan bahasa.
2.2.2 Jenis-jenis Gaya Bahasa
Gaya bahasa dapat dikategorikan dalam berbagai cara sesuai dengan
klasifikasi yang dibuat oleh penulis. Tarigan (2013 : 5) mengategorikan gaya
bahasa dalam empat kelompok, yaitu: (1) gaya bahasa perbandingan, terdiri dari
simile, metafora, personifikasi, depersonifikasi, alegori, antitesis, pleonasme dan
tautologi, perifrasis, prolepsis, koreksio; (2) gaya bahasa pertentangan, terdiri dari
hiperbola, litotes, ironi, oksimoron, paronomasia, paralepsis, zeugma dan silepsis,
satire, inuendo, antifrasis, paradoks, klimaks, antiklimaks, apostrof, anastrof,
apofasis, histeron proteron, hipalase, sinisme, sarkasme; (3) gaya bahasa
pertautan, terdiri dari metonimia, sinekdoke, alusi, eufimisme, eponim,epitet,

14

antonomasia, erotesis, paralelisme, elipsis, gradasi, asindeton, polisindeton; (4)


gaya bahasa perulangan, terdiri dari aliterasi, asonansi, antanaklasis, kiasmus,
epizeukis, tautotes, anafora, epistrofa, simploke, mesodilopsis, epanalepsis, dan
anadiplosis.
2.2.2.1 Gaya Bahasa Perbandingan
1) Simile
Tarigan (2013 : 9) berpendapat bahwa simile adalah perbandingan dua hal
yang pada hakikatnya berlainan dan yang sengaja kita anggap sama. Perbandingan
itu secara eksplisit dijelaskan oleh pemakaian kata seperti, ibarat, serupa, bak,
sebagai, umpama, laksana, dan penaka. Hal ini sejalan dengan pendapat
Nurgiyantoro (2010 : 298) yang mengemukakan bahwa simile menyaran pada
adanya perbandingan yang langsung dan eksplisit, dengan mempergunakan katakata tugas tertentu sebagai penanda keeksplisitan seperti: seperti, bagai, bagaikan,
sebagai, laksana, mirip dan sebagainya. Pendapat tersebut menyiratkan bahwa
simile merupakan gaya bahasa yang membandingkan sesuatu dengan hal lain
yang dianggap mempunyai kemiripan atau sifat yang sama.
Contoh:
Bibirnya seperti delima merekah
seperti air di daun keladi
ibarat mengejar bayangan
2) Metafora
Metafora ialah perbandingan antara dua hal atau benda untuk menciptakan
suatu kesan mental yang hidup walaupun tidak dinyatakan secara eksplisit dengan
penggunaan kata-kata seperti, ibarat, bak, sebagai, umpama, laksana, penaka,
serupa

seperti

pada

gaya

bahasa

simile

15

(Tarigan, 2013 : 15). Hal demikian juga dikemukakan oleh Nurgiyantoro (2010 :
299), bahwa metafora merupakan gaya perbandingan yang bersifat tidak langsung
dan implisit. Hubungan antara sesuatu yang dinyatakan pertama dengan yang
kedua hanya bersifat sugestif, tidak ada kata-kata penunjuk eksplisit. Berdasarkan
pendapat tentang metafora, maka dapat dikatakan bahwa metafora adalah gaya
bahasa yang berusaha membandingkan satu hal dengan hal lainnya secara implisit.
Di dalam metafora ada dua gagasan yang disiratkan secara singkat, padat dan
tersusun rapi. Gagasan pertama merupakan suatu kenyataan, sesuatu yang
dipikirkan, yang menjadi objek, dan gagasan yang berikutnya adalah pembanding
terhadap kenyataan itu.
Contoh:
Langkahnya yang lamban adalah langkah-langkah seorang kakek
pikun.
3) Personifikasi
Tarigan (2013 : 17) mengemukakan bahwa personifikasi ialah jenis gaya
bahasa yang melekatkan sifat-sifat insani kepada benda yang tidak bernyawa
ataupun pada ide yang abstrak. Sama halnya yang dikemukakan Nurgiyantoro
(2010 : 299) bahwa personifikasi merupakan gaya bahasa yang memberi sifat-sifat
benda mati dengan sifat-sifat seperti yang dimiliki manusia sehingga dapat
bersikap dan bertingkah laku sebagaimana halnya manusia. Wahyuni (2014 : 32),
juga berpendapat bahwa personifikasi adalah gaya bahasa yang menganggap
benda-benda tidak bernyawa mempunyai kegiatan atau melakukan aktivitas
tertentu seolah-olah hidup. Jadi, berbicara tentang personifikasi berarti berbicara

16

tentang perbandingan antara benda-benda yang mati atau gagasan-gagasan yang


dibuat seolah hidup atau memiliki sifat selayaknya manusia.
Contoh:
Angin yang meraung
Anak panah melangkah mencari mangsa.
4) Depersonifikasi
Gaya bahasa depersonifikasi adalah gaya bahasa pembendaan yaitu
kebalikan

dari

gaya

bahasa

personifikasi

atau

penginsanan

(Tarigan, 2013 : 21). Depersonifikasi berbeda dengan personifikasi. Apabila


personifikasi

menginsankan

atau

memanusiakan

benda-benda,

maka

depersonifikasi justru membendakan manusia atau insan. Depersonifikasi terdapat


dalam kalimat pengandaian yang secara eksplisit memanfaatkan kalau, jika,
jikalau, bila (mana), sekiranya, misalkan, umpama, andai(kata), seandainya, dan
andaikan sebagai penjelas gagasan atau harapan.
Contoh:
Kalau dikau menjadi samudra, maka daku menjadi bahtera.
Andai kamu langit, dia tanah.
5) Alegori
Alegori adalah cerita yang dikisahkan dalam lambang-lambang
biasanya mengandung sifat-sifat moral atau spiritual manusia. Alegori
merupakan cerita-cerita yang panjang dan rumit dengan maksud dan
tujuan yang terselubung namun bagi pembaca yang jeli justru jelas dan
nyata (Tarigan, 2013 : 24). Menurut Pradopo (2010 : 71), alegori ialah
cerita kiasan ataupun lukisan kiasan. Cerita kiasan ataupun lukisan kiasan
ini mengiaskan hal lain atau kejadian lain. Alegori banyak terdapat dalam

17

sajak-sajak Pujangga Baru. namun pada waktu sekarang banyak juga


terdapat dalam sajak-sajak Indonesia modern. alegori ini merupakan
metafora yang dilanjutkan. Misalnya Menuju ke Laut, sajak Sutan
Takdir Alisjahbana. Sajak itu melambangkan angkatan baru yang berjuang
ke arah kemajuan.
6) Antitesis
Antitesis adalah sejenis gaya bahasa yang mengadakan komparasi atau
perbandingan antara dua antonim yaitu kata-kata yang mengandung ciri-ciri
semantik yang bertentangan (Tarigan, 2013 : 26). Antitesis dimaksudkan untuk
menyampaikan gagasan-gagasan yang bertentangan. Ide yang bertentangan itu
dapat diwujudkan ke dalam kata atau kelompok kata yang berlawanan. Misalnya,
sebuah penuturan yang berbunyi: Kita sudah kehilangan banyak kesempatan,
harga diri, dan air mata, namun dari situ pula kita akan, memperoleh pelajaran
yang

berharga

(Nurgiyantoro, 2010 : 302 - 303).


7) Pleonasme dan Tautologi
Pleonasme ialah sarana retorika yang sepintas seperti tautologi, tetapi kata
yang kedua sebenarnya telah tersimpul dalam kata yang pertama. Dengan cara
demikian, sifat atau hal yang dimaksudkan itu lebih terang bagi pembaca atau
pendengar (Pradopo, 2010 : 95). Poerwadarminta (dalam Tarigan, 2013 : 28) juga
mengemukakan pleonasme adalah pemakaian kata yang mubazir (berlebihan),
yang sebenarnya tidak perlu (seperti menurut sepanjang adat; saling tolong
menolong).

18

Dapat disimpulkan bahwa pleonasme merupakan gaya bahasa yang


menggunakan bahasa itu secara berlebihan. Jika kata yang berlebihan itu
dihilangkan maka artinya akan tetap utuh. misalnya Saya telah mencatat kejadian
itu dengan tangan saya sendiri, jelas terlihat contoh tersebut menggunakan kata
mubazir. Sebab, kita tahu bahwa jika kita mencatat pasti menggunakan tangan.
maka jika konstruksi yang berlebihan itu dihilangkan seperti Saya mencatat
kejadian itu, maknanya akan tetap utuh, atau tetap sama.
Tautologi menurut Pradopo (2010 : 95)

yaitu sarana retorika yang

menyatakan hal atau keadaan dua kali; maksudnya supaya arti kata atau keadaan
itu

lebih

mendalam

bagi

pembaca

atau

pendengar.

Tarigan (2013 : 29) tautologi ialah gaya bahasa yang menggunakan kata yang
berlebihan yang pada dasarnya mengandung perulangan dari sebuah kata yang
lain. Misalnya Kami tiba di rumah jam 04.00 subuh.
8) Perifrasis
Perifrasis adalah gaya bahasa yang mirip dengan pleonasme, yaitu
mempergunakan kata lebih banyak dari yang diperlukan. Perbedaannya terletak
dalam hal bahwa kata-kata yang berlebihan itu sebenarnya dapat diganti dengan
satu kata saja.
Contoh:
Berlibur di Pulau Dewata Bali adalah impianku (Pulau Dewata =
Bali)
(Waridah, 2014 : 15).
9) Prolepsis
Prolepsis disebut juga antisipasi adalah penetapan yang mendahului
tentang sesuatu yang masih akan dikerjakan atau akan terjadi. Misalnya

19

Mengadakan peminjaman uang berdasarkan perhitungan uang pajak yang masih


akan dipungut. (Tarigan, 2013 : 33). Dengan kata lain, prolepsis digunakan untuk
menyatakan dua hal atau dua keadaan yang berbeda. Keadaan pertama adalah
keadaan yang telah terjadi dan keadaan kedua adalah keadaan yang baru akan
terjadi setelahnya.
10) Koreksio
Koreksio adalah gaya bahasa yang berwujud mula-mula ingin menegaskan
sesuatu, tetapi kemudian memeriksa dan memperbaiki mana-mana yang salah
(Tarigan, 2013 : 34). Berbicara atau menulis, ada kalanya kita ingin mnyampaikan
atau menegaskan sesuatu, tetapi karena kesalahan pengucapan atau penulisan
yang kita lakukan, kemudian kita memperbaikinya atau mengoreksi kembali
kesalahan itu. Gaya bahasa itulah yang juga dikatakan gaya bahasa koreksio.
Contoh:
Dia benar-benar mencintai Neng Tetty, eh bukan, Neng Terry.
Pak Tarigan memang orang Bali, ah bukan, orang Batak
(Tarigan, 2013: 35).

2.2.2.2 Gaya Bahasa Pertentangan


1) Hiperbola
Hiperbola adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang
berlebih-lebihan jumlahnya, ukurannya atau sifatnya dengan maksud memberi
penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan
kesan

dan

pengaruhnya

(Tarigan, 2013 : 55). Seperti halnya Nurgiyantoro (2010 : 300) berpendapat bahwa

20

hiperbola merupakan suatu cara penuturan yang bertujuan menekankan maksud


dengan

sengaja

melebih-lebihkannya.

Berdasarkan

pendapat

itu,

dapat

disimpulkan bahwa gaya bahasa merupakan suatu sarana yang memungkinkan


seseorang untuk mengungkapkan maksud yang ingin disampaikan dengan cara
melebih-lebihkan pernyataan atau situasi yang ada.
Contoh:
Sempurna sekali, tiada kekurangan suatu apapun (buat pengganti
cantik).
Kurus kering, tiada daya kekurangan pangan (buat pengganti
kelaparan).
(Tarigan, 2013: 56).
2) Litotes
Litotes adalah kebalikan dari hiperbola. Litotes sejenis gaya bahasa yang
mengandung pernyataan yang dikurangi dari kenyataan yang sebenarnya (Tarigan,
2013: 58). Menurut Moeliono (dalam Tarigan, 2013: 58) litotes adalah gaya
bahasa yang di dalam pengungkapannya menyatakan sesuatu yang positif dengan
bentuk yang negatif atau bentuk yang bertentangan. Litotes mengurangi atau
melemahkan kekuatan pernyataan yang sebenarnya. Berdasarkan pendapat
tentang litotes itu, maka dapat dikatakan bahwa litotes merupakan gaya bahasa
yang digunakan oleh seseorang untuk menyampaikan maksud tertentu dengan
cara mengecil-ngecilkan sesuatu dari keadaan yang sebenarnya.
Contoh:
Jakarta sama sekali bukanlah kota yang kecil dan sepi.
Waktu mereka berdarmawisata ke Bandung, sempat juga mereka
mengunjungi gubuk kami yang kecil dan tua di dekat Lapangan
Golf Dago. (Tarigan, 2013: 59).
3) Ironi

21

Moeliono (dalam Tarigan, 2013: 61) mengemukakan bahwa ironi adalah


gaya bahasa yang menyatakan makna yang bertentangan, dengan maksud berolokolok. Sementara itu, Tarigan (2013: 61) juga mengemukakan bahwa ironi adalah
sejenis gaya bahasa yang mengimplikasikan sesuatu yang nyata berbeda, bahkan
seringkali bertentangan dengan yang sebenarnya dikatakan itu. Berdasarkan
pendapat Moeliono dan Tarigan, dapat disimpulkan bahwa ironi adalah gaya
bahasa pertentangan yang digunakan seseorang untuk menyampaikan hal yang
berbeda dengan kenyataan yang ada dengan maksud untuk mengejek atau
menjatuhkan seseorang.
Contoh:
Aduh, bersihnya kamar ini, puntung rokok dan sobekan kertas
bertebaran di lantai.
O, kamu cepat bangun, baru pukul sembilan pagi sekarang ini.
(Tarigan, 2013: 62)
4) Oksimoron
Oksimoron adalah gaya bahasa semacam paradoks namun lebih singkat
dan padat, mengandung kata-kata yang berlawanan arti dalam sebuah frase
(Tarigan, 2013: 63). kata oksimoron berasal dari bahasa Latin okys yang artinya
tajam dan moros yang artinya goblok, atau gila. Oksimoron adalah suatu acuan
yang berusaha untuk menggabungkan kata-kata untuk mencapai efek yang
bertentangan. Atau dapat juga dikatakan, oksimoron adalah gaya bahasa yang
mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan
dalam frasa yang sama, dan sebab itu sifatnya lebih padat dan tajam dari paradoks.
Contoh:
Keramah-tamahan yang bengis.

22

Untuk menjadi manis seseorang harus menjadi kasar.


Dengan membisu seribu kata, mereka sebenarnya berteriak-teriak
agar diperlakukan dengan adil (Keraf, 2000: 136).
5) Paranomasia
Ducrot dan Todorov (dalam Tarigan, 2013: 64) mengemukakan bahwa
gaya bahasa paronomasia adalah gaya bahasa yang berisi penjajaran kata-kata
yang berbunyi sama tetapi bermakna lain, kata-kata yang sama bunyinya tetapi
artinya berbeda. Berdasarkan pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa
dalam penggunaan gaya bahasa ini, pengarag berusaha mengungkapkan sesuatu
dengan menggunakan kata-kata yang sama persis tetapi dalam konstruksi yang
berbeda, sehingga walaupun katanya sama tetapi mengandung makna yang
berbeda.
Contoh:
Oh adinda sayang, akan kutanam bunga tanjung di pantai tanjung
hatimu.
6) Paralipsis
Paralipsis adalah gaya bahasa yang merupakan suatu formula yang
digunakan sebagai sarana untuk menerangkan bahwa seseorang tidak mengatakan
apa

yang

tersirat

dalam

kalimat

itu

sendiri

(Tarigan, 2013: 66). Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa


penggunaan gaya bahasa ini, digunakan ketika seseorang melakukan kesalahan
saat mengatakan sesuatu, namun hal yang salah tersebut diterangkan kembali
dengan mengatakan hal yang benar.
Contoh :
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa menolak doa kita ini, (maaf)
bukan, maksud saya mengabulkannya.

23

7) Zeugma dan Silepsis


Zeugma dan silepsis adalah gaya bahasa yang mempergunakan dua
konstruksi rapatan dengan cara menghubungkan sebuah kata dengan dua atau
lebih kata lain yang pada hakikatnya hanya sebuah saja yang mempunyai
hubungan dengan kata yang pertama (Tarigan, 2013: 68). Walaupun begitu,
terdapat perbedaan antara zeugma dan silepsis. Dalam zeugma terdapat gabungan
gramatikal dua buah kata yang mengandung ciri-ciri semantik yang bertentangan.
Dengan kata lain zeugma adalah kata yang dipakai untuk membawahi kedua kata
berikutnya, sebenarnya hanya cocok untuk salah satunya, baik secara logis
maupun secara gramatikal.
Contoh :
Anak itu memang rajin dan malas di sekolah.
Paman saya nyata sekali bersifat sosial dan egois.
Dalam silepsis, konstruksi yang digunakan itu secara gramatikal benar,
tetapi secara semantik salah (Keraf, 2000: 135).
Contoh :
Wanita itu kehilangan harta dan kehormatannya.
Konstruksi yang lengkap adalah kehilangan harta dan kehilangan
kehormatan.
8) Satire
Satire adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Satire
mengandung kritik tentang kelemahan manusia. Tujuan utamanya adalah agar
diadakan

perbaikan

secara

etis

maupun

estetis

(Keraf, 2000 : 144). Satire merupakan sejenis bentuk argumen yang beraksi secara
tidak langsung, terkadang secara aneh bahkan ada kalanya dengan cara yang

24

cukup

lucu

yang

menimbulkan

tertawaan

(Tarigan, 2013 : 70). Satire dikenal terutama sebagai bentuk suatu serangan, kita
mengharapkan menertawakan ketololan orang, masyarakat, praktik-praktik,
kebiasaan-kebiasaan serta lembaga-lembaga adat. Satire merupakan penggunaan
humor luas, parodi atau ironi untuk menertawakan suatu masalah. Lebih berbobot
daripada sekejar ejekan, satire berisi kritik moral atau politik.
Contoh :
Kadang-kadang bernada pahit dan kuat
Kadang-kadang bernada menusuk dan memilukan
9) Inuendo
Innuendo adalah jenis gaya bahasa yang berupa sindiran dengan
mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Gaya bahasa ini menyatakan kritik
dengan sugesti yang tidak langsung, dan tidak menyakitkan hati kalau ditinjau
sekilas (Tarigan, 2013 : 74).
Contoh :
Jadinya sampai kini Neng Syarifah belum mendapat jodoh karena
setiap ada jejaka yang meminang, dia sedikit jual mahal.
10) Antifrasis
Antifrasis adalah gaya bahasa yang berupa penggunaan sebuah kata
dengan makna kebalikannya. Antifrasis akan dapat diketahui dan dipahami
dengan jelas bila pembaca atau penyimak dihadapkan pada kenyataan bahwa yang
dikatakan
(Tarigan, 2013 : 75).
Contoh :

itu

adalah

sebaliknya

25

Bila diketahui bahwa yang hadir adalah seorang yang kurus, lalu
dikatakan bahwa si gendut telah hadir, maka jelas gaya bahasa
tersebut adalah antifrasis.
11) Paradoks
Menurut Tarigan (2013 : 77), paradoks adalah gaya bahasa yang
mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Paradoks
adalah suatu kenyataan yang bagaimanapun diartikan selalu berakhir dengan
pertentangan.
Contoh:
Aku kesepian di tengah keramaian.
Teman akrab adakalanya merupakan musuh sejati.
12) Klimaks
Klimaks adalah jenis gaya bahasa yang berupa susunan ungkapan yang
semakin lama semakin mengandung penekanan (Shadily dalam Tarigan, 2013 :
79). Gaya bahasa klimaks adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menuturkan
satu gagasan atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana meningkat kepada
gagasan atau hal yang lebih kompleks (Waridah, 2014: 22).
Contoh:
Seluruh warga, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua
turut hadir dalam acara pembukaan panti asuhan itu (Waridah,
2014: 22).
13) Antiklimaks
Antiklimaks merupakan suatu acuan yang berisi gagasan-gagasan yang
diurutkan dari yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting
(Tarigan, 2013 : 81).
Contoh:

26

Pembangunan lima tahun telah dilancarkan serentak di ibu kota


negara, ibu kota-ibu kota propinsi, kabupaten, kecamatan dan
semua desa di seluruh Indonesia.
14) Apostrof
Apostrof ialah sejenis gaya bahasa yang berupa pengalihan amanat dari
yang hadir kepada yang tidak hadir (Tarigan, 2013: 83). Cara ini lazimnya dipakai
oleh orator klasik atau para dukun tradisional.
Contoh:
Wahai roh-roh nenek moyang kami yang berada di negeri atas,
tengah, dan bawah, lindungilah warga desaku ini.
15) Anastrof atau Inversi
Anastrof atau inversi adalah gaya bahasa yang merupakan permutasi atau
perubahan urutan unsur-unsur konstruksi sintaksis, demikian yang dikemukakan
oleh

Ducrot

dan

Todorov

(dalam

Tarigan, 2013: 85). Menurut Waridah (2014: 20) anastrof adalah gaya bahasa yang
mendahulukan predikat sebelum subjek dalam suatu kalimat. Berdasarkan
pendapat tersebut, dapat dikatakan bahwa anastrof atau inversi adalah gaya bahasa
yang mengubah urutan subjek-predikat menjadi predikat-subjek dalam sebuah
konstruksi.
Contoh:
Bersih sekali kamarmu.
Kubelai rambutnya yang panjang.
16) Apofasis
Apofasis atau disebut juga preterisio adalah gaya bahasa yang digunakan
untuk menegaskan sesuatu dengan cara seolah-olah menyangkal hal yang
ditegaskan (Waridah, 2014: 18). Gaya bahasa apofasis adalah gaya bahasa yang

27

seolah menyangkal sebuah kenyataan tapi sebenarnya justru memamerkan


kenyataan yang ada.
Contoh:
Saya tidak ingin menyingkapkan dalam rapat ini bahwa putrimu
itu telah berbadan dua.
17) Histeron Proteron
Dalam tulisan atau percakapan, dalam menulis ataupun berbicara, ada
kalanya kita membalikkan sesuatu yang logis, membalikkan sesuatu yang wajar,
misalnya menempatkan pada awal peristiwa sesuatu yang sebenarnya terjadi
kemudian. Gaya bahasa ini disebut histeron proteron (Tarigan, 2013: 88). Histeron
proteron adalah gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari sesuatu yang logis
atau kebalikan dari sesuatu yang wajar (Keraf, 2013: 133).
Contoh:
Pidato yang berapi-api pun keluar dari mulut orang yang berbicara
terbata-bata itu.
Dia membaca cerita itu dengan cepat dengan cara mengejanya
kata demi kata.
18) Hipalase
Gaya bahasa hipalase adalah gaya bahasa yang menggunakan suatu kata
tertentu untuk menerangkan sebuah kata, yang seharusnya dikenakan pada sebuah
kata lain (Tarigan, 2013: 89). Dengan kata lain, gaya bahasa hipalase terdiri atas
dua konstruksi atau lebih yang berusaha menerangkan suatu keadaan atau situasi
yang terjadi dengan menggunakan kata-kata yang sebenarnya kata tersebut lebih
cocok untuk menerangkan kata lain. Sehingga, jika dilihat sekilas kalimat itu tidak
logis, namun sebenarnya pernyataan itu memiliki tujuan lain.
19) Sinisme

28

Gaya bahasa sinisme adalah sejenis gaya bahasa yang berupa sindiran
yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan
ketulusan hati (Tarigan, 2013 : 91). Hal ini sejalan dengan defenisi sinisme yang
diungkapkan Waridah (2014 : 30) yang menyatakan bahwa sinisme adalah
sindiran yang berbentuk kesangsian cerita mengandung ejekan terhadap
keikhlasan dan ketulusan hati.
Contoh:
Sudah, hentikan bujuk rayumu karena hanya membuatku semakin
sakit.

20) Sarkasme
Gaya bahasa sarkasme adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung olokolok atau sindiran pedas dan menyakiti hati (Poerwadarminta, 1976 dalam
Tarigan, 2013 : 92). Ciri utama gaya bahasa sarkasme ialah selalu mengandung
kepahitan dan celaan yang getir, menyakiti hati, dan kurang enak didengar.
Contoh:
Mulutmu harimaumu.
2.2.2.3 Gaya Bahasa Pertautan
1) Metonimia
Metonimia adalah gaya bahasa yang memakai nama ciri atau nama
hal yang ditautkan dengan nama orang, barang, atau hal, sebagai
penggantinya. Kita dapat menyebut pencipta atau pembuatnya jika yang
kita maksudkan ciptaan atau buatannya ataupun kita menyebut bahannya
jika yang kita maksudkan barangnya (Moeliono, 1984 dalam

29

Tarigan, 2013 : 121). Gaya bahasa metonimia adalah sejenis gaya bahasa
yang menggunakan nama suatu barang bagi sesuatu yang lain berkaitan
erat dengannya. Dalam metonimia, suatu barang disebutkan tetapi yang
dimaksud barang yang lain (Dale, et all, dalam Tarigan, 2013 : 121).
Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Waridah, (2014 : 9), yang
mengemukakan bahwa metonimia adalah gaya bahasa yang menggunakan
nama merk atau atribut tertentu untuk menyebut suatu benda.
Contoh:
Batuk-batuknya semakin parah karena terlalu sering mengisap
jarum.
2) Sinekdoke
Gaya bahasa sinekdoke adalah gaya bahasa yang menyatakan
sebagian untuk mengganti keseluruhan (Dale, et all, dalam
Tarigan, 2013 : 123). Gaya bahasa ini terbagi atas pars pro toto yaitu
sebagian untuk seluruh bagian dan totem pro parte yaitu keseluruhan
untuk sebagian.
Contoh:
Pars pro toto: Ina membeli lima biji duku manis
Totem Pro parte : pertandingan sepak bola antara Brazil melawan
Bolivia berakhir seri 0 0.
3) Alusi
Alusi adalah gaya bahasa yang menunjuk secara tidak langsung ke
suatu peristiwa atau tokoh berdasarkan anggapan adanya pengetahuan
bersama yang dimiliki oleh pengarang dan pembaca serta adanya
kemampuan para pembaca untuk menangkap pengacuan itu (Tarigan,

30

2013: 124). Menurut Waridah (2014: 8), alusi adalah gaya bahasa yang
berusaha menyugestikan kesamaan antara orang, tempat, atau peristiwa.
Contoh:
Peristiwa 12 Mei 1998 menjadi lembaran hitam dalam perjalanan
sejarah Republik Indonesia.
4) Eufemisme
Eufemisme adalah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti
ungkapan yang dirasakan kasar yang dianggap merugikan atau yang tidak
menyenangkan (Tarigan, 2013: 126).
Contoh:
Tuna aksara pengganti buta huruf.
5) Eponim
Eponim adalah gaya bahasa yang mengandung nama seseorang yang
begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk
menyatakan sifat itu (Tarigan, 2013 : 127).
Contoh :
Herkules menyatakan kekuatan
6) Epitet
Epitet adalah gaya bahasa yang mengandung acuan yang menyatakan
suatu sifat atau ciri yang khas dari seseorang atau sesuatu hal. Keterangan itu
merupakan suatu frase deskriptif yang memberikan atau menggantikan nama
sesuatu

benda

atau

nama

seseorang

(Tarigan, 2013 : 128).


Contoh:
Putri malam menyambut kedatangan para remaja yang sedang
diamuk asmara (Putri malam = Bulan).

31

7) Antonomasia
Antonomasia adalah gaya bahasa yang merupakan penggunaan gelar resmi
atau jabatan sebagai pengganti nama diri (Tarigan, 2013: 129).
Contoh:
Gubernur Sumatera Utara akan meresmikan pembukaan seminar
adat Karo di Kabanjahe bulan depan.
8) Erotesis
Erotesis adalah gaya bahasa yang berupa pertanyaan yang digunakan dalam
tulisan atau pidato yang bertujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan
penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menuntut suatu jawaban (Tarigan,
2013 : 130).
Contoh :
Soal ujian tidak sesuai dengan bahan pelajaran. Herankah kita jika
nilai pelajaran bahasa Indonesia pada ebtanas tahun ini sangat
merosot?
9) Paralelisme
Paralelisme adalah gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran
dalam pemakaian kata-kata atau frasa-frasa yang menduduki fungsi yang sama
dalam bentuk gramatikal yang sama. Kesejajaran tersebut dapat pula berbentuk
anak kalimat yang tergantung pada sebuah induk kalimat yang sama (Tarigan,
2013 : 131 - 132).
Contoh:
Baik golongan yang tinggi maupun golongan yang rendah harus
diadili kalau bersalah.
10) Elipsis

32

Ellipsis adalah gaya bahasa yang di dalamnya dilaksanakan


penanggalan atau penghilangan kata atau kata-kata yang memenuhi
bentuk kalimat berdasarkan tata bahasa. Elipsis adalah penghilangan
salah satu atau beberapa unsur penting dalam konstruksi sintaksis yang
lengkap (Ducrot & Todorov, 1981 dalam Tarigan, 2013 : 133).
Contoh:
Mereka ke Jakarta minggu yang lalu (penghilangan predikat:
pergi, berangkat).
11) Gradasi
Gradasi adalah gaya bahasa yang mengandung suatu rangkaian atau urutan
paling sedikit tiga kata atau istilah yang secara sintaksis bersamaan yang
mempunyai suatu atau beberapa ciri-ciri semantik secara umum dan yang di
antaranya paling sedikit suatu ciri diulang-ulang dengan perubahan-perubahan
yang bersifat kuantitatif (Ducrot & Todorov, 1981 dalam Tarigan, 2013 : 134).
Contoh:
Kita malah bermegah juga alam kesengsaraan kita karena kita
tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan
ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan
harapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan.
12) Asindeton
Asindeton adalah gaya bahasa yang berupa acuan padat dan mampan
dimana beberapa kata atau frasa atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan
dengan kata sambung. Bentuk-bentuk tersebut biasanya dipisahkan saja oleh tanda
koma (Tarigan, 2013 : 136).
Contoh:
Ayah, ibu, anak, merupakan inti suatu keluarga.

33

13) Polisindeton
Polisindeton adalah gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari asindeton.
Dalam polisindeton, beberapa kata, frase, atau klausa yang berurutan dihubungkan
satu

sama

lain

dengan

kata-kata

sambung

(Tarigan, 2013 : 137).


Contoh:
Istri menanam nangka dan jambu dan cengkeh dan papaya di
pekarangan rumah kami.

2.2.2.4 Gaya Bahasa Perulangan


1) Aliterasi
Aliterasi adalah sejenis gaya bahasa yang memanfaatkan
purwakanti atau pemakaian kata-kata yang permulaannya sama bunyinya
(Tarigan, 2013 : 175). Aliterasi adalah sejenis gaya bahasa yang berwujud
perulangan konsonan yang sama. Biasanya digunakan dalam puisi,
kadang-kadang dalam prosa, untuk perhiasan atau untuk penekanan
(Keraf, 1985 dalam Tarigan, 2013 : 175). Sedangkan menurut Waridah
(2014 : 18), aliterasi adalah pengulangan konsonan pada awal kata secara
berurutan.
Contoh:
mengalir, menimbu, mendesak, mengepung.
2) Asonansi

34

Asonansi adalah sejenis gaya bahasa repetisi yang berwujud


perulangan vokal yang sama. Biasanya dipakai dalam karya puisi ataupun
dalam prosa untuk memperoleh efek penekanan atau menyelamatkan
keindahan (Tarigan, 2013 : 176).
Contoh :
Kura-kura dalam perahu
Sudah gaharu cendana pula
Pura-pura tidak tahu
Sudah tahu bertanya pula
3) Antanaklasis
Antanaklasis adalah gaya bahasa yang mengandung ulangan kata yang
sama dengan makna yang berbeda (Ducrot & Todorov, 1981 dalam Tarigan,
2013 : 179). Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Waridah (2014 : 23),
bahwa antanaklasis adalah gaya bahasa yang menggunakan pengulangan kata
yang sama tetapi maknanya berlainan.
Contoh:
Ada dua buah rumah kaca di halaman rumah Pak Saiman.
4) Kiasmus
Kiasmus adalah gaya bahasa yang berisikan perulangan dan sekaligus pula
merupakan inversi hubungan antara dua kata dalam satu kalimat (Ducrot &
Todorov, 1981 dalam Tarigan, 2013 : 180).
Contoh:
Yang kaya merasa dirinya miskin, sedangkan yang miskin justru
merasa dirinya kaya.
5) Epizeukis

35

Epizekus adalah gaya bahasa perulangan yang bersifat langsung, yaitu kata
yang ditekankan atau yang dipentingkan diulang beberapa kali berturutturut(Tarigan, 2013 : 182).
Contoh:
Ingat, kamu harus bertobat, bertobat, sekali lagi bertobat agar
dosa-dosamu diampuni oleh Tuhan Yang Mahakuasa dan Maha
Pengasih.
6) Tautotes
Tautotes adalah gaya bahasa perulangan atau repetisi atas sebuah kata
berulang-ulang

dalam

sebuah

konstruksi

(Keraf,

1985

dalam

Tarigan, 2013 : 183).


Contoh:
Aku menuduh kamu, kamu menuduh aku, aku dan kamu saling
menuduh, kamu dan aku berseteru.
7) Anafora
Anafora adalah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pertama
pada setiap baris atau setiap kalimat (Tarigan, 2013 : 184).
Contoh:
Lupakah engkau bahwa merekalah yang membesarkan dan
mengasuhmu? Lupakah engkau bahwa keluarga itulah yang
menyekolahkanmu sampai ke perguruan tinggi? Lupakah engkau
bahwa mereka pula yang mengawinkanmu dengan istrimu?
Lupakah engkau akan segala budi baik mereka itu kepadamu?
8) Epistrofa
Epistrofa adalah semacam gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan
kata atau frase pada akhir baris atau kalimat berurutan (Tarigan, 2013 : 186).
Contoh:
Kemarin adalah hari ini
Besok adalah hari ini

36

Hidup adalah hari ini


Segala sesuatu buat hari ini

9) Simploke
Simploke adalah sejenis gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan pada
awal kalimat dan akhir beberapa baris atau kalimat berturut-turut (Keraf, 1985
dalam Tarigan, 2013 : 187).
Contoh:
Ibu bilang saya pemalas. Saya bilang biar saja
Ibu bilang saya lamban. Saya bilang biar saja
Ibu bilang saya lengah. Saya bilang biar saja
Ibu bilang saya manja. Saya bilang biar saja

10) Mesodilopsis
Mesodilopsis adalah sejenis gaya bahasa repetisi yang yang berwujud
perulangan kata atau frase di tengah-tengah baris atau beberapa kalimat berurutan
(Tarigan, 2013 : 188).
Contoh:
Orang tua tidak boleh memfitnah anaknya
Anak-anak tidak boleh memfitnah orang tua
Parra guru tidak boleh memfitnah para siswa
Para siswa tidak boleh memfitnah gurunya
Kamu tidak boleh memfitnah temanmu
Temanmu tidak boleh memfitnah kamu
Pendeknya kita tidak boleh memfitnah satu sama lain
11) Epanalepsis
Epanalepsis adalah semacam gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan
kata pertama dari baris, klausa atau kalimat menjadi terakhir (Tarigan, 2013 :
190).

37

Contoh:
Saya akan tetap berusaha mencapai cita-cita saya.
12) Anadiplosis
Anadiplosis adalah sejenis gaya bahasa repitisi di mana kata atau frase
terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frase pertama dari klausa
atau kalimat berikutnya (Tarigan, 2013 : 191).
Contoh:
dalam raga ada darah
dalam darah ada tenaga
dalam tenaga ada daya
dalam daya ada segala
Berdasarkan uraian mengenai jenis-jenis gaya bahasa tersebut dapat
disimpulkan bahwa gaya bahasa adalah cara pengungkapan dengan bahasa yang
khas untuk menuangkan sebuah gagasan sehingga menciptakan efek-efek tertentu
kepada para pembaca atau pendengar. Setelah membaca novel Pesantren Impian,
Gaya bahasa yang paling dominan dalam novel Pesantren Impian adalah
sarkasme disusul simile, metafora, personifikasi, hiperbola, paradoks, dan
sinekdoke. Pemanfaatan ragam gaya bahasa tersebut dimaksudkan oleh pengarang
untuk menghasilkan imaji tambahan dalam mengemas sebuah cerita sehingga
yang abstrak menjadi konkret dan menjadikan novel lebih nikmat dibaca.
2.3 Pendekatan Objektif
Pendekatan objektif disebut juga sebagai pendekatan struktural yaitu
pendekatan yang dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dalam dengan
mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak, dan unsur-unsur dengan
totalitas di pihak yang lain (Ratna, 2008: 73). Pendekatan struktural yang sering

38

juga disebut pendekatan objektif bertolak dari asumsi dasar bahwa karya sastra
sebagai karya kreatif memiliki otonomi penuh yang harus dilihat sebagai suatu
sosok yang berdiri sendiri terlepas dari hal-hal lain yang berada di luar dirinya
(Riswandi dan Kusmini, 2010: 62). Pendekatan sruktural yaitu pendekatan yang
menelaah karya sastra dari segi unsur demi unsur secara terpisah dengan tetap
memperhatikan hubungan unsur yang satu dengan unsur yang lainnya karena
segala unsur itu saling terikat, saling berkaitan, dan saling bergantung (Pradopo,
2010: 118-119). Bila mengkaji atau meneliti menggunakan pendekatan ini, maka
yang harus dikaji dan diteliti adalah aspek yang membangun karya sastra seperti
tema, alur, latar, penokohan, gaya penulisan, gaya bahasa, serta hubungan
harmonis antar aspek yang mampu membuatnya menjadi sebuah karya sastra.
Hal-hal yang bersifat ekstrinsik harus di kesampingkan karena unsur ekstrinsik
tidak punya kaitan langsung dalam struktur karya sastra tersebut.

39

BAB III
METODE DAN TEKNIK PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian dan Metode
3.1.1

Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
kepustakaan (Library Research). Dikatakan kajian kepustakaan karena kajian
dalam penelitian ini berupa data tertulis dan kegiatan dalam mencari,
mengumpulkan, dan mendapatkan data-data yang diperlukan dengan cara
menelaah dan menganalisis penggunaan gaya bahasa dalam novel Pesantren
Impian karya Asma Nadia.

3.1.2 Metode Penelitian

40

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif


kualitatif. Metode deskriptif ialah penelitian yang dimaksudkan untuk
mengumpulkan informasi mengenai subjek penelitian dan perilaku subjek
penelitian pada suatu periode tertentu (Mukhtar, 2013: 11). Metode deskriptif
tidak menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan apa adanya
tentang suatu variabel, gejala, atau keadaan. Penelitian ini mendeskripsikan
data yang akan dianalisis berupa pengggunaan gaya bahasa yang terdapat
dalam novel Pesantren Impian karya Asma Nadia, sedangkan metode
kualitatif digunakan untuk menguraikan konsep-konsep pemahaman yang
berkaitan satu sama lain dengan menggunakan kata-kata atau kalimat yang
berpedoman pada teori-teori sastra yang relevan dengan novel sebagai objek
40
kajian dalam penelitian ini. penelitian kualitatif deskriptif berusaha
mendeskripsikan seluruh gejala atau keadaan yang ada, yaitu keadaan atau
gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan.

3.2 Data dan Sumber Data Penelitian


3.2.1

Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data tertulis berupa teks

novel, yang memuat gaya bahasa dalam novel Pesantren Impian karya Asma
Nadia.
3.2.2

Sumber Data
Sumber data penelitiaan ini adalah sumber data tertulis dalam novel

Pesantren Impian karya Asma Nadia yang diterbitkan oleh penerbit AsmaNadia

41

Publishing House, Depok, cetakan pertama pada Juli 2014, dan terdiri atas 289
halaman.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Teknik baca, yakni membaca secara analisis teks novel dalam novel Pesantren
Impian karya Asma Nadia.
2. Teknik catat, yakni mencatat data-data tentang gaya bahasa yang terdapat
dalam novel Pesantren Impian karya Asma Nadia.
3.4 Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan objektif.
Pendekatan objektif yaitu suatu pendekatan yang digunakan dalam rangka
mengkaji unsur gaya bahasa sebagai aspek struktural yang digunakan pengarang
dan berusaha mengkaji muatan makna yang terkandung dalam novel Pesantren
Impian karya Asma Nadia.
Dalam penelitian ini yang menjadi objek utama yag akan dianalisis adalah
gaya bahasa dalam naskah novel Pesantren Impan karya Asma Nadia.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis data sebagai
berikut:
1. Setelah membaca novel, peneliti mengidentifikasi data mengenai gaya bahasa
dan diberikan kode.
2. Klasifikasi data, yaitu

mengklasifikasi

atau

mengelompokkan

data

berdasarkan permasalahan dalam penelitian dalam hal ini adalah data


mengenai gaya bahasa dalam novel Pesantren Impian karya Asma Nadia.

42

3. Deskripsi data, yaitu memaparkan data mengenai gaya bahasa yang telah
diklasifikasikan atau dikelompokkan dalam bentuk kebahasaan.
4. Interpretasi data, yaitu proses penafsiran data mengenai gaya bahasa dalam

novel Pesantren Impian karya Asma Nadia.