Anda di halaman 1dari 5

Bening Bayam Paling Tidak Komplit

Oleh Yuhesti
Bukan pertama kalinya ia pergi ke pasar tumpah yang letaknya tak jauh dari satu-satunya
stasiun di kota Lubuklinggaukota kelahirannyapagi-pagi buta. Dulu ia sering sekali menemani
ibunya menunggu mobil dari Curup yang penuh dengan orang-orang yang mengangkut berkarungkarung sayuran tiba di sana. Hampir setiap hari ketika libur sekolah. Kala itu ia masih kelas satu
SMP. Rambutnya sepinggang dan berponi. Meskipun tidak mudah membangunkannya, ibunya
selalu berbisik akan membelikannya buah jika ia ikut.
Belikan aku es krim juga ya, Bu! Seperti biasa ia menawar sajennya lagi.
Tak selang dua detik ibunya mengangguk serupa ujung-ujung batang yang tertiup angin
kencang sehari sebelumnya. Pelan dan berat. Waktu itu ia belum bisa membedakan makna dari
bermacam-macam jenis anggukan. Ya adalah ya. Tidak adalah tidak. Dunianya masih matematis
pastidan tanpa filter. Terlepas dari apapun yang ibunya pikirkan saat itu, transaksi pertama yang
selesai kilat pun sudah dipilihnya.
500 meter dari stasiun, sementara ibunya menawar sekarung tomat kepada salah satu orang
yang baru saja keluar dari mobil L-300 yang baru saja tiba, dia merasa pipinya diuli bagai adonan
pempek oleh tangan ibunya. Terbayang olehnya wajah baru bangun tidur yang serupa puzzle belum
tersusun itu akan makin berantakan penampakannya.
Biarlah, pikirnya.
Orang-orang di sekitarnya pun tidak semuanya memperhatikan hal-hal yang seperti dia
pikirkan. Yang paling dekat dengannya adalah orang yang sedang bertransaksi dengan ibunya. Ia
sedang sibuk membuka karung dan menunjukkan menara tomat berbungkus karung setinggi satu
meter yang atasnya terlihat sebagian kecil yang rupanya masih merona jambu serupa pipi seorang
gadis yang tersipu-sipu malu. Beberapa yang lain juga sibuk dengan karungnya masing-masing.
Satu karung kol, satu karung sawi, satu karung cabai merah dan juga cabai rawit, satu karung
mentimun dan lain-lain. Sisanya orang-orang yang bergantian lalu-lalang, sedikit yang
memperhatikan, lalu sedetik kemudian tersenyum tipis sambil berlalu. Ada juga yang melambaikan
tangannya sambil melirik ibu yang kedua matanya masih saja terfokus pada tomat dan teman
transaksinya. Sementara itu di seberang jalan, stasiun tampak sepi dan hening, belum ada gaung
mesin lokomotif kereta atau pluit masinis. Memikirkan itu, ia membayangkan rumahnya yang juga
masih sepi dan hening sebab adiknyasatu-satunya sumur keramaiansudah dipastikan masih
tidur pulas di tempat tidurnya sekarang. Tidak pernah tidak.
Jemari ibu sudah lepas dari wajahnya serupa dua Amoeba identik yang tadinya membelah
diri masa lalunya. Ibu menariknya ke samping kanan karena ingin mengambil dompet yang terselip
di pinggang. Jika sudah begini, itu artinya transaksi kedua ibunya hari ini sudah mendekati garis
finish. Ibu melirik tepat ketika dia tersenyum. Namun, sebelum sempat terlalu kembang, ibu bilang
padanya masih butuh satu karung lagi, jadi dia seketika itu membanting kedua bibirnya kembali ke
posisi kesetimbangan.
Terbayang di benaknya jika sebentar lagi, ibu menggelar karung sebagai alas dan terpal
sebagai atap yang ditiangi bambu, tomat akan disusun limas, di sampingnya adalah sebukit kecil
cabai merah yang baru saja ditawarnya dari pedagang lain ini, lalu sedikit kol dan kacang panjang
sisa dagangannya kemarin. Orang-orang yang lalu lalang di hadapannya akan melirik, jika tertarik
memegang barang sebutir dua butir tomat atau cabai, jika tergoda akan menanyakan dan menawar
harga, jika dirasa pas di mata, pas di hati, pas di kantong pembeli maka transaksi ibu akan sukses.

Untuk kol dan kacang panjangseperti halnya setiap dagangan sisaibu memberikan diskon bagi
yang membeli dan jika masih bersisa maka bisa dipastikan keesokan harinya tumisan kol atau
rebusan kacang panjang akan menjadi salah satu yang disajikan ibu.
***
Dia kini sudah berusia 25 tahun. Meskipun orang-orang meragukan kecakapannya memasak
dan benar bahwa dia sering lupa bumbu-bumbu untuk jenis masakan tertentu karena diakunya pula
bahwa memasak bukan kegiatan sehari-harinya, tetapi sebenarnya dia pandai meramu rasa
masakan. Kalau lupa kan tinggal googling, belanya kepada setiap yang menggoda. Ibunya
seperti ibu-ibu pada umumnyapernah memberikannya pelatihan khusus memasak. Karena ketika
masa sekolah tiba ibu dan ayahnya hanya ingin dia punya banyak waktu untuk belajar, biasanya
diberikan hanya ketika dia sedang dalam masa liburan sekolah. Dia masih ingat masakan pertama
yang diajarkan adalah membuat sambal hijau. Pertama-tama ibunya menyuruh mengupas setengah
siung bawang merah, beberapa bawang putih lalu membuang tangkai segenggammilik ibunya
cabai hijau. Lalu setelah mencucinya dengan air mengalir, cabai ditaruh di penggilingan dengan
ditaburi sedikit garam. Dia bertanya perihal garam itu kepada ibunya.
Agar mudah kerjamu, Nak. Jawab ibu singkat.
Setelah itu bawang merah dan putih ditambahkan pula ke penggilingan. Seketika matanya
panas dan berair tapi terus digilingnya sampai selesai meski harus sambil mengelap mata yang tak
mau berhenti basah dengan kaos bagian punggung tangannya. Ibu baru saja selesai menggoreng
ikan asin beledang di kuali. Lalu dituangkannya ikan asin beserta minyak itu ke atas cabai dan
bawang yang sudah digilingnya tadi.
Aduk! perintah ibunya.
Dia menuruti.
Beri sedikit gula. Lanjut ibunya lagi.
Dia mengambil sedikit gula dan menaburinya sambil terus mengaduk sambal di atas
penggilingan. Dengan menggunakan ujung jarinya dia merasai sambal setelah terlebih dahulu
mencoleti sambal yang dia ambil dengan menggunakan sendok.
Ibu, sudah pas, katanya.
Ibunya merasai sambal dengan protokol yang sama seperti yang dia lakukan tadi. Lantas
siapa yang mengikuti dan diikuti? Kecil kemungkinan ibu yang mengikutinya. Ibu hidup lebih
lama dibandingkan anak dan ibu sudah berada dalam usia dimana ia tidak lagi punya
kecenderungan mengikuti perilaku orang lain. Protokol yang sama itu sebab dia yang sebelumnya
sering memperhatikan ibunya memasak. Kebiasaan semacam itu akan mudah diikuti walau baik
yang mengikuti dan yang diikuti pun sama-sama tak sadar apalagi memikirkan.
Beberapa menit setelah ibunya menyepakati rasa sambal itu dan memuji hasil kerjanya, ada
sejumlah ketidaknyamanan yang bersarang di jemarinya. Setelah berpikir sejenak dia
menyimpulkannya sebagai panas dan perih. Ibunya bilang itu karena air dari biji cabai yang
mencipratinya ketika menggiling cabai dengan batu. Ibu menyuruhnya untuk mencuci tangan
dengan sabun, lalu mengolesinya dengan minyak. Diturutinya tanpa menawar. Tetapi karena tidak
kunjung berkurang, ibu mengeluarkan jurus lain yang tak kalah unikbagi seorang anak SD yang
baru belajar memasakyaitu memasukkan jemari ke dalam karung beras. Panas dan pedih
membuat sensasi dingin yang diberikan beras pada jemarinya terasa sangat luar biasa. Karena itu
dia tidak ingin jauh dari teman barunya itusekarung beras.
Neneknya yang baru saja bertandang ke rumahnya heran melihat pemandangan yang tidak
biasa itu. Barangkali tidak demikian jika nenek melihat episode ini dari permulaan. Namun karena
hanya sepotong adegan ini saja yang menggantung di pikirannyaakibat tanpa sebabpada tahap

ini nenek dan juga kebanyakan orang akan mempersingkat perseteruan pikirannya dengan
mengajukan pertanyaan alih-alih berasumsi ini dan itu. Ibu yang segera menjawabnyasambil
terus mengaduk-aduk nasi setengah matang dalam periuk di atas komporbahwa dia baru saja
resmi menjadi gadis rumah itu karena sudah bisa memasak sambal hijau. Tangannya panas dan
perih karena jemarinya kecipratan air dari biji cabai ketika menggilingnya.
Dia tersenyum dengan memperlihatkan barisan gigi depannya yang besar-besar dan belum
lengkap. Tak bisa ditahan bahagianya karena telah berhasil memasak sambal hijau tersebut. Ibu
mengakuinya, nenekyang bilang bahwa dia adalah cucu kesayangannyasudah pasti akan
mengakuinya lebih dari itu. Bisa dia tebak nenek akan memeluk dan mencuri cium pipi kanan dan
kirinya. Kala itu jemarinya tertarik keluar dari karung beras. Dan karena panas dan pedih itu datang
menyerang lagi, dia urungkan menghapus cap bibir nenek tetapi segera memasukkan jemarinya lagi
ke karung beras. Tak sampai semenit, ibu memanggilnya untuk menyiapkan sajian makan siang.
Wajahnya sedikit merengut tapi tetap menjauh dari karung beras itu sambil mengibas-ibaskan
jemarinya di udaraupaya meringankan panas dan perih karena air biji cabaiuntuk mengambil
taplak meja dari dalam almari dan membentangnya di depan televisi.
Dia mengambil 5 piring, untuk ayah, ibu, adik, dan neneknya serta dirinya sendiri. Sendok
dan gelas pun dihitungnya sama dengan jumlah piring. Ditatanya rapi sebakul nasi, tak lupa sambal
hijau yang dihidangkannya dengan rasa bangga itu kemudian menyusul rebusan sayur, ikan sarden
goreng dan air kobokan yang dibawa ibunya. Setelah satu jam berlalu, dia melihat mangkuk
sambalnya bersih. Rupanya, keluarganya tahu benar cara membuat semangat memasaknya terus
membara. Tidak sekedar pujian yang dilisankan selama makan siang bersama itu saja tetapi
mangkuk sambal yang bersih yang bisa menjelaskan lebih banyak kepadanya dari yang bisa
dijelaskan kata-kata.
Bahwa sambal buatanku benar lezat, Simpulnya.
Di hari-hari libur berikutnya, dia belajar membuat berbagai macam jenis sambal lain yaitu
sambal teri, sambal terasi, sambal nanas, sambal rebus, dan sambal-sambal lainnya. Berbagai jenis
sayur tumis, yaitu tumis kangkung, tumis sawi, dan tumis-tumisan lainnya. Kemudian pindang ikan,
pindang daging, rendang, sayur lodeh, sop ayam, sayur bening dan sebagainya. Tetapi dari semua
yang dia pelajari, dia paling senang bening bayam buatan ibunya. Ayahnya pun begitu. Adiknya
juga. Bening bayam biasanya disajikan dengan ikan goreng dan sambal terasi. Jika sudah begitu,
suasana di altar makan akan membara dan pikiran setiap orang yang mengelilinginya adalah untuk
menyapu bersih semua yang disajikan. Ia juga sama. Ia tidak ingin sampai tidak kebagian lagi
karena kebiasaan makannya yang sering lambat bak putriini istilah yang sebenarnya
mendiskriminasi semua putri. Akhirnya ketika semua piring yang tadinya berisi makanan bersih,
sambil menurunkan makanan di perut, mereka akan mengobrol dan semua akan terasa komplit
seusainya. Komplit di lidah, di perut dan di sana-sini.
***
Baginya, pasar tumpah itu tak banyak berubah meskipun dia sudah berubah banyak. Sudah
lama ibunya berhenti berjualan karena kala itu ibu memutuskan untuk menjadi TKW ke negeri
Jiran. Ayah sedang membangun usaha pembuatan batu bata kala itu. Ingatannya tentang pasar
tumpah itu selalu bagian tepat ketika terakhir kalinya ia menemani ibunya berdagang sayuran
sebelum berangkat ke Malaysia. Ketika pulang ibunya mengantungi setengah kilo apel dan setengah
kilo jeruk di tangan kanannya lalu tangan satu lagi memegang dua buah es krim Conello rasa
cokelat. Tak terbayang betapa bahagianya ia hari itu. Buah dan es krim itu adalah kemewahan yang
tidak bisa ia dan adiknya rasakan setiap haripersis seperti momen ketika membeli baju baru kala
lebaran tiba. Ia hampir tidak mampu mengklasifikasikan memori itu sebagai kenangan yang

membahagiakan atau menyedihkan. Mengingatnya kadang membuatnya tertawa, kadang juga


menitikkan air mata.
Tiga tahun kemudian ibu pulang ke rumah dan usaha ayahtanpa disangkanyasudah jauh
berkembang meski tidak pesat. Ia, adik dan ayah memulai kehidupan baru bersama ibu. Uang hasil
kerja sebagai TKW dimodalkannya untuk membuat usaha toko kelontong. Sejak itu kehidupan
keluarganya meski tidak sekaya para pengusaha tetapi sudah lebih baik dari saat ibunya berjualan
dulu. Ia lalu disekolahkan ke universitassesuatu yang dulu rasanya tidak mungkinketika
adiknya saat itu masih duduk di bangku SMP. Beberapa tahun setelahnya mereka sudah pindah ke
rumah yang baru berkamar tiga. Tidak lagi orang tuanya berbagi ruang kamar dengan ia dan
adiknya yang disekat dengan triplek. Orang tuanya membeli rumah yang tidak jauh dengan toko
kelontong ibu.
50 menitan sudah dia berjalan mengelilingi pasar tumpah itu. Di tas belanjaannya sudah ada
cabai, ikan mas, bawang merah, bawang putih, bayam, jagung manis, wortel, tomat. Ia melihat-lihat
sambil memikirkan apalagi yang harus dibelinya. Ia diam sejenak dan tampak berpikir keras.
Rasanya tepat seperti hendak menyusun bangunan dari potongan-potongan lego yang kurang. Tetapi
bedanya sekarang ia tidak tahu potongan apa yang kurang itu. Lalu di depan penjual bumbu dia
melihat temu kunci dan seketika menemukan apa yang kurang itu.
Eureka! teriaknya diam.
Dia puas dengan belanjaannya saat itu dan memilih pulang setelah mengantongi dua jari
temu kunci itu dalam tas belanjanya.
Sesampainya di rumah, dilihatnya adik masih tidak beranjak dari kasurnya. Dari pintu yang
dia lihat adalah punggung yang berselimut. Kamarnya gelap, tirai jendela kamar rupanya tak juga
dibuka. Berdiri beberapa menit di sana sambil memandanginya. Dia sedang bimbang mau
memanggilnya atau tidak, mengingat ini sudah tengah hari. Tetapi diputuskannya untuk berlalu saja.
Ingin ditengoknya pula kamar utama di rumah itu. Sebelum membuka pintu, dia menimbangnimbang apakah akan membukanya atau tidak. Akhirnya diputuskannya untuk tidak membukanya.
Dia mengeluarkan belanjaannya dari tas. Ikan yang sudah diperutinya, dibumbui dan
dipanggang di atas kompor. Sementara itu dia membuat sambal terasi sebelum kemudian dia
mengupas wortel, mencucinya lalu memotongnya serong. Kemudian menyiangi bayam dan lalu
mencucinya dengan air keran. Jagung manis dicucinya terlebih dahulu sebelum kemudian
diberondolnya hingga yang tersisa hanyalah bongkolnya yang gundul. Dia membalikkan ikan yang
dipanggangnya tadi. Kemudian diambilnya temu kunci, bawang merah, bawang putih, dan tomat.
Temu kunci dikupasnya lalu di rendamnya di dalam semangkuk air. Bawang merah dan putih yang
telah dikupas pun direndamnya di mangkuk yang sama. Begitu pula tomat. Semua bumbu tadi
diirisnya di atas tatakan. Kemudian karena dilihatnya ikan yang dipanggang tadi sudah matang,
diangkatnya dari kompor dan menggantinya dengan panci yang berisi air. Dimasukkannya bumbubumbu yang telah diiris tadi, garam secukupnya dan sedikit gula. Kemudian dimasukkannya irisan
wortel dan jagung manis. Ditunggunya hingga mendidih dan wortel serta jagung melunak.
Kemudian dimasukkannya bayam. Setelah merasa rasanya cukup ketika mencicipinya dengan
menggunakan sendok, dia segera mematikan kompor. Dia tidak ingin bayamistilah populernya
overcook. Ibunya yang dulu selalu memperingatkannya akan hal ini. Saat itu tepat ketika perutnya
usil bersiul. Untunglah nasi sudah dimasaknya sebelum dia berangkat tadi.
Beberapa menit kemudian semua yang dimasaknya sudah tersaji di hadapannya. Ayah dan
adiknya belum juga move on dari tempat tidur.
Makan sendiri lagi, gumamnya.

Ia menaruh secentong nasi di piringnya sendiri, mengambil bagian ekor ikan, menyendok
sambal terasi kemudian menuangkan kuah bening ke atas nasinya sambil diambilnya bayam dan
jagung. Ia memang selalu melewatkan wortel. Tidak pernah suka rasanya. Tetapi anehnya tidak ada
wortel dalam bening bayam, rasanya tak nikmat baginya. Seperti ada yang kurang.
Wortel itu baik untuk kesehatan mata, nasehat ibunya setiap kali. Sekarang juga begitu
andai ibunya ada bersamanya di meja makan.
Aku tahu, bisikku.
Baru beberapa sendok ia menyuapkan nasi, ia merasa mual. Ingin disudahinya dengan
menyisakan setengah bagian yang diambilnya tadi.
Ah, sial, kutuknya.
Sementara itu, ia berpikir alangkah baiknya jika makanan di atas meja ini bisa memprotes,
mendemo dirinya karena gagal berselera. Menjadi seorang pemakan yang aniaya. Atau kursi dan
meja yang bisa mengobrol dengannya. Menanyakan bagaimana pekerjaannya atau apakah ia
bahagia. Dari pertanyaan yang remeh, yang sehari-hari, juga pertanyaan yang memerlukan
pemikiran yang mendalam. Alangkah baiknya jika...
Pikirannya terus mengawang-awang entah apa jurusannya. Dan ia seperti sengaja tersesat di
sanaentah di mana.
Kami merindukanmu, Ibu. Bisiknya lirih. Tepat ketika itu bola bening bergulir dari
pinggiran mata kirinya dan seolah tak mau kalah satu matanya yang lain juga mengikuti berselang
tak sampai sedetik setelahnya.
Aku merindukanmu. Bisiknya lagi sambil menenggelamkan wajahnya di atas tumpukan
kedua tangannya di atas meja. Tiba-tiba. Gerakannya seperti menghempas, dan karenanya muncul
riak-riak kecil air di dalam gelas di atas meja. Tetapi tak sedikitpun itu mencuri perhatiannya.
Aku merindukanmu. Bagai bola yang memantul di ruang pikirannya tanpa bisa ia tangkap
dan tenangkan, menjadi satu-satunya gema yang meramaikan kepalanya.