Anda di halaman 1dari 20

BAB IV

STRUKTUR PELAT DAN BALOK MENERUS


4.1 Pendahuluan
Pelat adalah merupakan komponen struktur bangunan yang berfungsi untuk
menerima beban hidup secara langsung. Pada konstruksi bangunan beton bertulang
yang dicetak di tempat, pengecoran plat dilakukan bersamaan dengan balok penumpu
sehingga menjadi satu kesatuan yang monolit. Balok penumpu pelat dapat berupa balok
induk atau balok anak yang membatasi pelat pada keempat tepinya, dan dapat berupa
bentang menerus sepanjang bangunan. Pada pelat yang dibatasi balok pada keempat
tepinya, perbandingan sisi panjang dan sisi lebar pelat akan mempengaruhi model
penulangan dari pelat. Sebagai contoh, untuk pelat dimana perbandingan sisi panjang
(ly) dan sisi pendeknya (lx) lebih dari 2 dapat dipakai penulangan satu arah, sedangkan
bila perbandingan sisi panjang (ly) dan sisi pendek (lx) pelat kurang dari 2 dapat dipakai
sistem penulangan 2 arah. Pada pelat dengan penulangan satu arah, beban luar yang
bekerja pada pelat akan didistribusikan kearah sisi bentang pendek (lx), sehingga
didalam perencanaan, pelat dapat dianggap sebagai balok tunggal atau balok menerus
searah dengan sisi bentang pendek pelat. Sedangkan pada sistem penulangan 2 arah,
beban luar yang bekerja pada pelat akan didistribusikan pada keempat tepinya.
Dalam usaha untuk mempermudah dan penyederhanaan perencanaan, SKSNIT.03-1993, mengijinkan pemakaian koefisien-koefisien dari persamaan momen dan
gaya geser apabila bentang dan beban memenuhi persyaratan tertentu. Pendekatan
tersebut dapat diterapkan untuk pelat dengan sistem penulangan satu arah, atau balok
yang merupakan komponen struktur non prategang dan merupakan struktur yang
menerus.
4.2. Jenis tumpuan pelat
Untuk merencanakan pelat beton bertulang, jenis tumpuan tepi pelat akan
mempengaruhi gaya dalam yang bekerja pada pelat. Syarat-syarat tumpuan tepi akan
mempengaruhi jenis perletakan dan jenis ikatan ditempat tumpuan. Seperti diperlihatkan
pada gambar 4.2.1, dan 3 jenis tumpuan pelat yaitu (1) Tumpuan terletak bebas adalah
bila pelat dapat mengalami rotasi bebas pada tumpuan saat bekerjanya beban diatas

pelat tersebut seperti yang diperlihatkan pada gambar 4.2.1a yang menunjukkan sebuah
pelat yang diletakkan diatas tumpuan dinding. (2) Tumpuan terjepit elastik adalah
struktur pelat yang monolit dengan balok penumpunya dimana balok penumpu pelat
tidak cukup kaku sehingga pada saat bekerja beban pada pelat, balok penumpu masih
dapat berotasi terbatas maka akan terjadi jepit sebagian atau jepit elastik pada tumpuan
yang diperlihatkan pada gambar 4.2.1b. (3) Bila pelat terjepit secara monolit pada balok
penumpu yang kaku sehingga mencegah terjadinya rotasi pelat dan tumpuan relatif
sangat kaku terhadap momen puntir, maka pelat tersebut terjepit penuh (gambar 4.2.1c).

Gambar 4.2.1. Tumpuan pelat.

4.3. Bentang Teoritis Suatu Pelat.


Dalam perhitungan perencanaan pelat beton bertulang digunakan pengertian
bentang teoritis suatu pelat yang dinyatakan dengan L. Pada pelat menerus yang
dibatasi oleh balok beton bertulang pada sisi-sisinya dan merupakan kasatuan yang
monolit, maka bantang teoritis pelat adalah jarak dari pusat ke pusat balok (gambar
4.3.1). Bila pelat terletak diatas elemen konstruksi lain, maka kekuatan bahan dari
elemen pendukung atau tumpuan tersebut merupakan salah satu faktor yang

menentukan panjang perletakan yang diperlukan. Panjang teoritis pelat untuk lebar
perletakannya kurang dari dua kali tebal keseluruhan dari tebal pelat, maka bentang
teoritisnya adalah jarak dari pusat ke pusat balok (lihat gambar 4.3.2a), dan bila lebar
balok lebih dari dua kali tebal pelat maka bentang teoritis L = L + 100 (gambar 4.3.2b).

4.4. Distribusi Gaya-Gaya Dalam Pelat Lantai


Bila syarat-syarat batas dan bentang teoritis suatu pelat diketahui, momen lentur
yang timbul pada pelat dapat dihitung.
Momen lentur yang terjadi pada pelat dapat dibedakan antara :
-

Pelat yang membentang dalam satu arah yaitu pelat yang ditumpu sepanjang dua
tepi yang sejajar dimana bentang panjang pelat lebih besar dua kali bentang
pendeknya. Didalam menghitung gaya-gaya yang bekerja, pelat dapat dianggap
sebagai balok dengan bentang balok adalah bentang pendek dari pelat.

Pelat yang membentang dalam dua arah yaitu pelat yang menumpu pada keempat
tepinya. Momen lentur yang timbul pada pelat dapat berupa momen lentur dua arah
yaitu arah x (Mx) dan arah y (My).

4.5. Pelat Penulangan Satu Arah


4.5.1. Tebal minimum pelat dan persyaratan penulangan
Komponen struktur beton bertulang yang mengalami lentur harus dirancang agar
mempunyai kekakuan yang cukup untuk membatasi lendutan atau deformasi apapun

yang mungkin memperlemah kekuatan maupun kemampuan kelayakan struktur pada


beton kerja. Tebal minimum balok atau pelat satu arah non prategang bila lendutan tidak
dihitung dapat direncanakan berdasarkan SNI T-15-03-1993 pasal 3.2.5 sebagai
berikut :
Tabel 4.5.1.1 Tebal minimum balok non-prategang atau pelat satu arah bila
lendutan tidak diperhitungkan
Komponen
struktur

Tebal minimum, h
Satu ujung
Kedua ujung
Dua tumpuan
Kantilever
menerus
menerus
Komponen tidak mendukung atau menyatu dengan partisi atau
konstruksi lain yang akan rusak karena lendutan yang besar

Ln
Ln
Pelat solid satu
arah
20
24
Ln
Ln
Balok atau pelat
18,5
lajur satu arah
16
Ln : bentang bersih pelat dalam mm.

Ln
28
Ln
21

Ln
10
Ln
8

Nilai yang diberikan harus digunakan untuk komponen struktur untuk beton normal
(wc = 23 Mpa) dan mutu tulangan 400 Mpa. Untuk mutu tulangan selain 400 Mpa,

nilai pada tabel harus dikalikan dengan 0,4

fy
.
700

Pada prinsipnya perencanaan perhitungan luas tulangan pada pelat sama dengan
balok, perbedaan pokok antara penulangan balok dan pelat adalah pada pemasangan dan
penyajian informasi penulangan pada gambar (disajikan dalam bentuk diameter dan
jarak tulangan terpasang). Penulangan pada pelat terdiri dari tulangan utama yang
berfungsi untuk menahan momen lentur akibat beban yang bekerja diatas pelat dan
tulangan pembagi yang berfungsi untuk mengikat tulangan utama dan sebagai tulangan
susut untuk menghindari retak pada pelat saat proses pengerasan beton.
Penulangan pelat meliputi penulangan daerah tumpuan dan daerah lapangan.
Panjang tulangan yang dipakai untuk menahan momen jepit adalah
panjang tulangan untuk menahan momen positif adalah

1
L , sedangkan
4

1
L dimana 50% dari jumlah
2

tulangan yang terpasang didaerah lapangan harus diteruskan ketumpuan untuk


menjamin distribusi gaya dari lapangan ke tumpuan (gambar 4.5.1.1)

Gambar 4.5.1.1. Penulangan Pelat Satu Arah

4.5.2. Momen Dan Gaya Lintang Koefisien Pada Balok Dan Pelat Menerus Satu
Arah
Pelat satu arah yang dibahas dalam buku ini adalah pelat sederhana yang dapat
dianalisa dengan teori mekanika teknik yang didasarkan pada teori elastis linier. Pelat

satu arah dapat bersifat statis tertentu atau statis tak tentu. Pada pelat beton bertulang
yang bersifat statis tertentu, perhitungan momen meupun gaya lintang tidaklah sulit,
tetapi umumnya konstruksi beton yang sederhanapun bersifat statis tak tentu.
Balok atau pelat yang menerus adalah bersifat statis tak tertentu sehingga
didalam perhitungannya harus menggunakan sifat-sifat mekanika tak tertentu. Banyak
metode yang dapat digunakan untuk menghitung momen dan gaya lintang pada struktur
statis tak tertentu yang tidak dibahas pada buku ini. Pada kondisi tertentu dimana balok
dan pelat menerus mempunyai bentang, beban, dan dimensi yang sama atau hampir
sama, maka perhitungan momen dan gaya lintang dapat didasarkan pada tabel 4.5.2.1
untuk memperoleh koefisien distribusi momen pendekatan yang praktis.
Pemakaian tabel 4.5.2.1 harus dibatasi pada hal-hal yang cocok saja, karena koefisien
tersebut merupakan nilai pendekatan. Secara khusus pemakaian tabel ini hanya berlaku
untuk :
a. Beban terbagi rata
b. Perbedaan terbatas antara beban maksimum dan minimum (dalam hal beban hidup),
khususnya bila syarat ini terpenuhi :
q h (min) 0,4 q h (max)

Dimana :
q h (min) = nilai rencana dari beban hidup minimum (per m2)
q h (max) = nilai rencana dari beban hidup maksimum (per m2)

c. Perbedaan terbatas pada beban yang bekerja pada bentang-bentang yang berbeda,
khususnya bila syarat berikut ini terpenuhi :
q h (max) terkecil

0,8

q h (max)

d. Perbedaan yang terbatas antara panjang bentang yang berbeda-beda, khususnya bila
syarta ini terpenuhi :
Bentang pendek 0,8 x bentang terpanjang
Bila keempat syarat diatas dipenuhi, maka nilai-nilai pada tabel 4.5.2.1 dapat digunakan
sebagai koefisien momen tumpuan dan lapangan dan reaksi pelat satu arah.

Tabel 4.5.2.1. Tabel Koefisien Momen dan Gaya Lintang Balok dan Pelat Menerus

Keterangan :

Momen

= koefisien x qu x L2

Gaya Lintang

= koefisien x qu x L

Dimana : qu

= 1,2 qd + 1,6 q1

= bentang teoritis pelat

4.5.3. Prosedur perencanaan pelat satu arah


Bila syarat-syarat batas, panjang bentang teoritis, dan distribusi momen pelat
diketahui, maka dapat dilakukan perencanaan penulangan pelat. Prosedur dan urutan
kegiatan perencanaan penulangan dapat dilihat pada diagram alir gambar 4.5.3 dibawah
ini.
Gambar 4.5.3.1. Diagram Alir Perencanaan Pelat Satu Arah

4.5.3.1 Contoh Perencanaan :


Diketahui suatu denah pelat seperti gambar 4.5.3. dibawah ini.

Gambar 4.5.3.1.1. Denah pelat

Data-data yang lain :Mutu beton fc= 20 Mpa


Tegangan leleh baja tulangan : 300 Mpa
Fungsi ruang : untuk perpustakaan (ql = 400 kg/m2 = 4 KN/m2)
Ditanyakan :
1. Rencanakan tebal pelat lantai tersebut
2. Hitung momen pelat
3. Hitung penulangan pelat
4. Gambarkan penulangan pelat tersebut
Penyelesaian :
1. Menghitung tebal pelat lantai : bentang pelat adalah bentang pendek pada denah Ln
= 2600 mm, fy = 300 Mpa < 400 Mpa
Tebal minimum pelat h min

Ln
fy
0,4

21
700
2600
300
0,4
102,6 mm
21
700

Dipakai tebal pelat 120 mm

2. Bentang teoritis pelat :


Ln = 2600 mm ; b = 400 mm
L = Ln + b = 2600 + 400 = 3000 mm
3. Momen pelat :
a. Beban pelat
Beban mati :
-

Berat sendiri pelat

Berat tegel dan spesi (asumsi)

= 0,66 KN/m2

Berat platon dan penggantung (asumsi)

= 0,17 KN/m2

: 0,12 x 24

qD

= 2,88 KN/m2

= 3,71 KN/m2

Beban hidup :
-

Beban hidup perpustakaan qL = 400 kg/m2 = 4 KN/m2

Beban rencana qu = 1,2 qD + 1,6 qL = 1,2(3,71) + 1,6(4) = 10,852 KN/m2


b. Momen pelat
Momen pelat dihitung berdasarkan tabel 4.5.2.1b, dengan mengasumsikan balok
cukup kaku terhadap momen puntir sehingga tidak terjadi rotasi pada pelat.
Hasil perhitungan momen disajikan pada tabel 4.6.1.

Momen pelat = koefisien x qu x L2


qu = 10,852 KN/m2
L = 3000 mm
Tabel 4.5.3.1. Hasil perhitungan momen
Titik
Batang
M Tumpuan
(KNm)
Lapangan
M Lapangan

A
B
C
D
AB
BA
BC
CB
CD
DC
-6,10 -9,767 -9,767 -9,767 -9,767 -6,10
AB
+ 6,976

BC
6,10

Cd
+ 6,976

(KNm)
c. Perhitungan penulangan pelat
1. Penulangan tumpuan tengah (momen tumpuan maksimum)

Mu = -9,767 KNm
drenc = h 30 mm = 120 30 = 90 mm
b

= 1 m = 1000 mm
Mu

.b. d renc 2

9,767 .10 6
2
0,8.1000. 90

0,85

1,507

0,72 1,7

0,85 0,72 1,7

K
fc '

1,507
0,0806
20

fc '
20
0,0806.
0,00537
fy
300

0,85. fc '
600
; 1 = 0,85 untuk fc= 20 mpa
.1
fy
600 fy

0,85.20
600

.0,85.
0,0321
300
600 300

max 0,75 b 0,75. 0,0321 0,0241


min

1,4
1,4

0,00464
fy
300

Pemeriksaan Rasio Tulangan Tarik :


0,00537 min 0,00464
max 0,0321

Harga rasio tulangan tarik memenuhi syarat


Luas tulangan :
As .b.d renc
0,00537(1000)(90) 483,3 mm 2

Dipakai tulangan 10 150 mm As

pakai

Pemeriksaan dpakai = h selimut beton -

523,6 mm 2

1
tulangan
2

= 120 20 - 1 10 = 95 mm > drenc

2. Penulangan lapangan tepi (momen lapangan maksimum)

(oke)

Mu = + 6,976 KNm
Drenc = h 30 mm = 120 30 = 90 mm
b

= 1 m = 1000 mm

Mu

.b. d renc 2

6,767 .10 6
2
0,8.1000. 90

1,077

0,85

0,72 1,7

0,85

0,72 1,7

.
min

K
fc '

1,077
0,0573
20

fc'
20
0,0573.
0,00537
fy
300
1,4
1,4

0,00464
fy
300

Pemeriksaan Rasio Tulangan Tarik :


0,00537 min 0,00464

pakai max 0,00464


Luas tulangan :
As .b.d renc

0,00464(1000)(90) 417,6 mm 2

Dipakai tulangan 10 150 mm As

pakai

523,6 mm 2

Pemeriksaan dpakai = h selimut beton - 1

tulangan

= 120 20 - 1 10 = 95 mm > drenc

3. Luas tulangan susut :


As = 0,0020 b.h
= 0,0020.1000.120
= 240 mm2
Dipakai tulangan susut 8 200 mm (As = 251,3 mm2)
4. Gambar penulangan pelat.

(oke)

Gambar 4.5.3.1.2. Penulangan pelat hasil perhitungan.

4.6. Pelat Penulangan Dua Arah


Pelat dengan penulangan dua arah adalah pelat yang ditumpu pada keempat
tepinya dan bersifat statis tek tertentu. Momen-momen yang timbul pada pelat dua arah

ini meliputi momen tumpuan arah x dan y (Mtx dan Mty) serta momen lapangan arah x
dan y (Mlx dan Mly). Seperti pada pelat satu arah yang menerus lebih dari dua
tumpuan, perhitungan momen pada pelat dengan penulangan dua arah dapat
menggunakan tabel 4.6.1 untuk memudahkan analisa dan perencanaan.
Seperti pada pelat satu arah, pemakaian tabel 4.6.1 ini dibatasi beberapa syarat yaitu :
a. Beban yang bekarja adalah beban terbagi rata.
b. Perbedaan terbatas antara besarnya beban hidup maksimum dan minimum pada
panel pelat yaitu : q h min 0,4 q h max .
c. Perbedaan yang terbatas antara besarnya beban hidup pada panel yang berbeda-beda
yaitu : q h min terkecil q h max terbesar.
d. Perbedaan yang terbatas antara panjang bentang yaitu : bentang terpendek 0,8 x
bentang terpanjang
Tabel ini menunjukkan momen lentur yang bekerja pada jalur selebar 1 meter,
masing-masing arah sumbu x dan sumbu y :
Mlx

: Momen lapangan maksimum arah x permeter lebar jalur arah sumbu

Mly

: Momen lapangan maksimum arah y permeter lebar jalur arah sumbu y.

Mtx

: Momen tumpuan maksimum arah x permeter lebar jalur arah sumbu x.

Mty

: Momen tumpuan maksimum arah y permeter lebar jalur arah sumbu y.

Mtix

: Momen jepit tak terduga pada tumpuan arah x permeter lebar jalur arah sumbu
x.

Mtiy

: Momen jepit tak terduga pada tumpuan arah y permeter lebar jalur arah sumbu
y.
Nilai-nilai pada tabel 4.6.1 juga mencakup pengaruh panel yang dibebani dan

panel yang tak dibebani. Momen jepit tak terduga ini dianggap sama dengan setengah
momen lapangan dipanel berbatasan yaitu :
Arah sumbu x

1
1
Mlx dan arah sumbu y Mly
2
2

4.6.1 Tabel Momen


Pada pelat yang ditumpu pada keempat tepinya yang terletak bebas, terjepit atau
kombinasi dari keduanya, momen tumpuan, momen lapangan maupun momen tak
terduga dapat dilihat pada tabel 4.6.1 yang disajikan pada halaman 126 dan 127.
4.6.2 Contoh Perencanaan
Diketahui suatu pelat seperti gambar 4.6.1. Tebal pelat adalah 140 mm dengan
beban-beban yang bekerja diatasnya yaitu beban mati 4 KN/m2 dan beban hidup 5
KN/m2. Mutu beton 25 Mpa dan baja tulangan dengan tegangan leleh 300 Mpa.

Ditanyakan : rencanakan penulangan pelat tersebut dan gambarkan penulangannya


Penyelesaian :
Beban rencana pelat :
qu = 1,2 qD + 1,6 qL
= 1,2 (4) + 1,6 (5) = 12,8 KN/m2
Momen pelat :
Ly 5
1,25 1,4
Lx 4

Dari tabel momen 4.6.1 didapat :


Mlx 0,001 qu Lx

x 0,00112,8 4 2 42 8,6

KNm/m2
Mly 0,001 qu Lx

x 0,00112,8 4 2 18 3,69 KNm/m2

Mtx 0,001 qu Lx

x 0,00112,8 4 2 72 14,75 KNm/m2

Mty 0,001 qu Lx

x 0,00112,8 4 2 55 11,26 KNm/m2

Penulangan pelat :
a. Penulangan momen tumpuan
Mtx(max) = -14,75 Knm/m2
h = 140 mm ;b = 1000 mm (direncanakan tiap 1 m lebar pelat)
drenc. = h 30 = 140 30 = 110 mm
K =

Mu

.b. d renc

14,75.10 6
=
2
0,8.1000.110

0,85

1,524

0,72 1,7

= 0,85 0,72 1,7

K
fc '

1,524
0,0649
25

= . fc' 0,0649. 25 0,00541


fy
300
b

=
=

0,85. fc '
600
; 1 0,85 untuk fc= 25 mpa
. 1
fy
600 fy

0,85.25
600

.0,85
0,04014
300
600 300

max 0,75. b 0,75. 0,04014 0,03011


min

1,4
1,4

0,00467
fy
300

Pemeriksaan Rasio tulangan tarik :

= 0,00541 > max = 0,00464


< min = 0,03011
Harga rasio tulangan tarik memenuhi syarat
Luas tulangan :
As = .b.drenc
= 0,00541 (1000) (110) = 595,1 mm2
Dipakai tulangan 10 125 mm (As pakai = 628 mm2)
Pemeriksaan dpakai = h selimut beton = 120 20

1
tulangan
2

1
10 = 95 mm > drenc
2

(oke)

b. Penulangan momen lapangan


Mtx(max) = 8,60 Knm/m2
h = 140 mm ;b = 1000 mm (direncanakan tiap 1 m lebar pelat)
drenc. = h 30 = 140 30 = 110 mm
K =

Mu

.b. d renc

8,60.10 6
=
2
0,8.1000.110

0,85

0,888

0,72 1,7

= 0,85 0,72 1,7

K
fc '

0,888
0,038
25

= . fc ' 0,038. 25 0,00317


fy
300
b

=
=

0,85. fc '
600
; 1 0,85 untuk fc= 25 mpa
. 1
fy
600 fy

0,85.25
600

.0,85
0,04014
300
600

300

max 0,75. b 0,75. 0,04014 0,03011


min

1,4
1,4

0,00467
fy
300

Pemeriksaan Rasio tulangan tarik :

= 0,00541 > max = 0,00464


< min = 0,03011
Harga rasio tulangan tarik memenuhi syarat
Luas tulangan :
As = .b.drenc
= 0,00464 (1000) (110) = 510,4 mm2
Dipakai tulangan 10 125 mm (As pakai = 628 mm2)
Pemeriksaan dpakai = h selimut beton = 120 20
Luas tulangan susut :

1
tulangan
2

1
10 = 95 mm > drenc
2

(oke)

As = 0,0020.b.h = 0,0020.1000.120 = 240 mm2


Dipakai tulangan susut 8 200 mm (As = 251,3 mm2)
Gambar penulangan pelat

Gambar 4.6.2.1. Penggambaran tulangan pelat hasil perhitungan