Anda di halaman 1dari 20

BAB V

ANALISA DAN PERENCANAAN GESER


5.1. Pendahuluan
Gaya geser yang terjadi pada suatu penampang balok disebabkan karena
bekerjanya gaya luar pada balok tersebut. Seperti diperlihatkan pada gambar 5.1.1, yaitu
balok diatas dua tumpuan sederhana yang mendapat beban luar. Akibat beban luar yang
bekerja balok tersebut maka timbul momen lentur (M) dan gaya geser (V)

Gambar 4.1.1 momen lentur dan gaya geser pada balok

Momen lentur pada balok akan mengakibatkan terjadinya tegangan tekan diatas
garis netral penampang dan tegangan tarik dibawah garis netral penampang. Untuk
memenuhi kesetimbangan arah vertical maka jumlah gaya geser vertical pada
penampang harus sama dengan gaya luar yang bekerja. Penampang didekat tumpuan
bibawah garis netral tegangan tarik yang terjadi sama besarnya dengan geser pada
bidang dengan kemiringan 45 derajat yang diperlihatkan pada gambar 4.1.2 dan
tegangan tarik ini dinamakan tegangan tarik diagonal.

Gambar 5.1.2 geser murni pada penampang

Bila balok terbuat dari beton bertulang, maka gaya tarik diagonal ini akan
menyebabkan terjadinya retak miring dikarenakan kekuatan tarik beton yang kecil
dengnan demikian keruntuhan geser (shear failure) pada balok beton bertulang
sebenarnya adalah keruntuhan tarik didaerah retak miring.
5.2 Macam-macam Keruntuhan Balok Tanpa Tulangan Geser
Ragam keruntuhan yang terjadi pada balok beton bertulang yang disebabkan
oleh beban luar yang bekerja tergantung kelangsingannya, yaitu perbandingan antara
bentang bersih dan tinggi balok. Untuk beban terpusat bentang geser adalah jarak dari

titik tangkap beban terhadap muka perletakan, sedangkan untuk beban terbagi rata
bentang gesernya adalah bentang bersih dari balok tersebut. Jenis keruntuhan geser
balok tanpa tulangan dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu 1) keruntuhan lentur, 2)
keruntuhan tarik diagonal, dan 3) keruntuhan tekan akibat geser. Masing-masing jenis
keruntuhan dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Keruntuhan Lentur
Keruntuhan lentur terjadi bila tegangan lentur sangat dominant dari tegangan
geser. Kondisi ini terjadi pada balok bentang panjang atau pada balok dengan
perbandingan antara bentang geser a dan tinggi efektif penampang d antara 5.5
sampai denagn 6 atau perbandingan antara a/d 5.5. retak yang mendekati
vertical, terutama akan terjadi pada segertiga bentang tengah yang disebabkan oleh
momen lentur dan bila beban bertambah maka retak awal yang sudah terjadi akan
bertambah lebar mendekati garis netral penampang, dennan disertai lendutan yang
semakin besar. Bila tulangan under reinforce, maka keruntuhan diawali dengan
lelehnya baja tulangan tarik. Perilaku yang demikian dikatakan balok berperilaku
daktail sehingga dapat memberikan peringatan terlebih dahulu sebelum terjadi
keruntuhan total (gambar 5.2.1-a)
2. Keruntuhan Tarik Diagonal
Jenis keruntuhan ini akan terjadi pada balok dengan bentang sedang, dimana
perbandingan antara a dan d bervariasi antara 2.5 sampai dengan 5. pada awal
keruntuhan, terjadi retak-retak rambut ditengah bentang yang diakibatkan oleh
lentur (karena kekuatan tarik diagonal masih lebih kecil dari kekuatan lenturnya),
kemudian diikuti lepasnya lekatan beton dan tulangan didaerah perletakan sehingga
aka terjadi keruntuhan secara mendadak. (keruntuhan getas) tanpa adanya
peringatan (gambar 5.2.1-b).
3. Keruntuhan Tekan Akibat Geser
Keruntuhan jenis ini terjadi pada balok-balok bentang pendek dengan
perbandingan a dan d antara 1 sampai dengan 2.5 atau 5 untuk beban inerata. Seperti
pada bentang sedang, keruntuhan diawali dengan retak rambut yang bererah vertical

pada tengah bentang yang diakibatkan oleh lentur dan tidak menjalar. Kemudian
pada gambar perletakan terjadi kehilangan lekatan antara tulangan memanjang
dengan beton disekelilingnya. Keruntuhan akan terjadi secara mendadak yaitu pada
saat bertemunya retak miring tersebut dengan api beton tekan. (gambar 5.2.1-c)
Dari penjelasand diatas dapat disimpulakn bahwa perbandingan antara
bentanng geser dengan tinggi efektif penampang balok akan mempengaruhi jenis
keruntuhannya.

Ringkasan

pengaruh

kelangsingan

balok

terhadap

keruntuhannya disajikan pada table 5.2.1


Tabel 5.2.1 pengaruh kelangsingan balok terhadap ragam keruntuhannya.
Jenis balok

Perbandingan a/d
Beban terpusat Beban merata

(a/d)
(n/d)
Panjang (langsing)
>5
> 16
Sedang
2,5 s/d 5,5
11 s/d 16
Pendek (tinggi)
1 s/d 2,5
1 s/d 5
Keterangan : a : Bentang gesert beban terpusat
d

Jenis keruntuhan
Lentur
Tarik diagonal
Tekan geser

: tinggi efektif penampang

Ln : bentang bersih balok

Gambar 5,.2.1 Ragam keruntuhan pada balok.

(a) keruntuhan lentur, (b) keruntuhan tarik diagonal dan (c) keruntuhan tekan
5.3. Kekuatan Geser Beton (Vc) Tanpa Tulangan Geser

jenis

Pada balok yang dibebani oleh lentur dan geser, tegangan geser beton tanpa
tulangan geser Vc diakibatkan oleh momen rencana luar Mu yang menyebabkan
tegangan geser Vu. Akibat bekerjanya tegangan lentur ft dan tegangan geser Vu didaerah
tarik penampang akan terjadi tegangan tarik utama yang dapat menyebabkan terjadinya
retak miring didaerah tepi penampang yang tertarik. Hal ini dipakai sebagai perhitungan
kekuatan tanpa tulangan geser.
Berdasarkan hasil-hasill percobaan yang telah dilakukan, peraturan ACI
memberikan model empiris yang merupakan solusi regresi kepersamaan dasar dan
tegangan utama yaitu :
ft (mak ) ft '

ft 2

ft

v 2 ....5.3.1
2
2

ft(mak) adalah tegangan tarik utama yang nilainya diasumsikan sama dengan suatu
konstanta dikalikan tegangan tarik belah fc dari beton karena ft merupakan fungsi dari
fc '

, maka persamaan 4.3.1 menjadi :


ft
fc'


v 2 5.3.2 ; dimana k = konstanta
2

2

fc' k

tegangan lentur didaerah tarik penampang besarnya sama dengan perbandingan


modulus elastisitas beton dan baja dikalikan tegangan tulangan memanjang atau
merupakan fungsi dari momen nominal penampang yaitu :
ft = .
= .

Ec
. fs
Es
Ec Mn
.
Es As.d

rasio tulangan tarik w

As

b.d dan nilai

Ec
konstan sehingga persamaan 5.3.2
Es

menjadi :
ft k1 .

Mn
w .b.d

5.3.3

dimana k1 adalah kostanta yang akan ditentukan dengan percobaan. Tegangan geser v
yang diakibatkan oleh gaya geser rencana Vu pada penampang dengan luas b.d adalah :
v k2 .

Vn
b.d

5.3.4

Harga konstanta k2 adalah konstanta lain yang nilainya ditentukan dengan percobaan,
Vn adalah gaya geser nominal penampang, k1 dan k2 tergantung dari berbagai variable
antara lain bentuk atau geometric penampang, jenis pembebanan, jumlah dan susunan
tulangan serta interaksi antara tulangan baja dan betonnya.
Dengan mendistribusikan ft pada persamaan 5.3.3 dan v pada persamaan 5.3.4 ke
persamaan 5.3.2, dan mengevaluasi harga k, k1, dan k2 maka diperoleh persamaan
tegangan regresi yaitu :

Vn
b.d

fc '

Vn.d
3,5
Mn. fc '

1,9 2500 w

5.3.5

Persamaan 5.3.5 diperlihatkan pada gambar 5.1 dengan harga

Vn .d
c

sehingga
Mn
d

persamaan 5.4.5 juga memperlihatkan pengaruh kelangsingan balok dan harga


Vu

tidak boleh lebih dari 1,0. Harga Vn

Vn.d
Mn

Mu

dan Mn . Secara pendekatan harga

Vn
Vu
sama dengan
. Jika geser nominal badan balok disebut Vc, maka Vn pada
Mn
Mu

persamaan 4.3.5 dapat dinyatakan dengan Vc sehingga persamaan menjadi :

Vc
bw.d

fc '

Vc 1,9

Vu .d
3,5
Mn. fc '

1,9 2500 w

fc ' 2500 w

Vu .d
Mu

..5.3.6

bw.d 3,5 bw.d

fc '

fc '

..5.3.7

Untuk satuan SI unit ACI 318-83M memberikan perumusan :


Vc

fc ' 100 w

Vu .d
bw.d 0,3bw.d
Mu

fc' 0,3bw.d

fc ' 5.3.8

Peraturan SKSNI-T-15 memberikan perumusan kekuatan beton tanpa tulangan di dalam


satuan SI unit sebagai berikut :
Vc

fc ' 100 w

Vu .d
bw.d 0,3bw.d
Mu

fc ' 5.3.9

Dimana :
Vc
fc '

bw

= Kekuatan geser beton tanpa tulangan


= Kekuatan tarik beton
= Lebar badan balok

= Tinggi efektif penampang

pw

= Rasio tulangan tarik

Vu .d
1 = Nilai kelangsingan struktur
Mu

Vu

= Gaya geser rencana

Mu

= Momen rencana

Pw

= Rasio tulangan tarik

Untuk keperluan praktis dan sebagai pendekatan yang aman, maka pengaruh
kelangsingan
Vc

1
6

Vu.d
dapat diabaikan. Sehingga persamaan 5.3.9 menjadi :
Mu
fc'bw.d

..5.3.10

5.4. Bentuk dan Kegunaan Tulangan Geser


Seperti telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, pada balok yang
menerima lentur dan tegangan geser kan terjadi gaya normal tekan dan gaya normal
tarik yang diterimakan ketulangan memanjang pada sisa tarik. Sedangkan pada sisi
badan balok terjadi gaya tekan diagonal pada daerah retak miring akibat gesekan
material beton pada daerah tersebut. Bila pada badan balok ditambahkan tulangan
vertical atau diagonal, maka akan terjadi susunan gaya yang membentuk
kesetimbangan. Hal ini diperlihatkan pada gambar 5.4.1 yang dikenal dengan metode
analogi rangaka batang. Karena tulangan dipasang pada badan balok maka penulangan
geser tersebut biasa disebut dengan penulangan badan (web reinforcement).

(a) Analogi rangka batang

(b) Penulangan geser miring

Gambar 5.4.1 analogi rangka batang untuk tulangan geser niring

(a) Analogi rangka batang

(b) Penulangan geser tegak

Gambar 5.4.2 analogi rangka batang untuk tulangan geser tegak

Dari penjelasan diatas maka tulangan geser dapat berupa :


a.

Sengkang tegak

b.

Sengkang miring

c.

Kombinasi sengkang tegak dan sengkang miring

d.

Pembengkokan tulangan memanjang

e.

Bentuk spiral yang biasa digunakan untuk penampang kolom lingkaran.

Sedangkan fungsi dari tulangan geserdapat dijelaskan sebagai berikut :


1. Tulangan geser berfungsi untuk memikul selisih gaya geser rencana Vu dan gaya
geser beton Vc.
2. Mencegah bertambahnya retak miring
3. Untuk mengikat tulangan memanjang supaya tetap pada posisinya, sehingga
kapasitas lenturnya tidak berubah.
5.5. Kekuatan Geser Pada Balok Yang Bertulangan Geser
Kekuatan geser nominal pada penampang balok yang bertulangan geser Vn
adalah jumlah dari kekuatan geser beton tanpa tulangan geser ditambah dengan
kekuatan geser sengkang Vs dengan bentuk perumusan sebagai berikut :
Vn = Vc + Vs .5.5.1
Vu

Harga Vn

dan Vc dihitung berdasarkan perumusan 5.3.9 atau 5.3.10, sehingga

kekuatan geser sengkang Vs adalah :


Vs

Vu
Vc

.5.5.2

Rumus Vs didasarkan pada penggunaan rangka analogi dimana bila retak miring yang
bersudut 45 merambat secara menerus dari tulangan tarik memanjang kedaerah
tekan beton dan memotong n buah sengkang tersebut sepangjang retak miring pada

balok pada gambar 5.4.2 dan bila pada balok tersebut dipakai sengkang tertutup, maka
besarnya Vs adalah :

Gambar 4.5.1. tulangan geser (sengkang vertical)

(a) Retak miring pada balok bersengkang


(b) Sengkang tertutupp
(c) Ikatan sengkang dengan tulangan memanjang secara 3 dimensi
Maka besarnya Vs adalah :
Vs = nAv.fy

.4.5.3

Dimana : Vs : Kekuatan geser sengkang


n

: Jumlah sengkang

Av : 2 As (luas tulangan sengkang)


fy : Tegangan leleh baja
Jika jarak sengkang adalah s, maka jumlah sengkang n sejarak adalah
persamaan 4.5.3 menjadi :
Vs

Av. fy.d
s

.5.5.4

d
, sehingga
s

Jarak sengkang :
Av. fy.d
Vs

Atau :

.5.5.5

Av. fy.d
. Av. fy.d

Vu
Vu .Vc .5.5.6
Vc

Dimana : = 0,6 (reduksi kekuatan geser bahan)


d

= Tinggi efektif penampang

Vc =

1
6

fc 'bw.d ; kekuatan geser bahan

Vu = Kekuatan geser rencana beban berfaktor


Apabila pada balok dipasang sengkang miring dengan sudut

yang arahnya

berlawanan dengan arah retak miring yang terjadi seperti gambar 5.5.2, maka jarak n
sengkang sepanjang d adalah :
n.s = d(cot 45o + cot ) = d(1 cot ) 5.5.7
Jumlah sengkang :
n

d 1 cot
s

5.5.8

Komponen vertikal sengkang miring sejarak d dengan n tulangan adalah :


Vs = n.As.fy sin ..5.5.9
Dengan memasukkan harga n pada persamaan 4.5.9 didapat persamaan gaya geser
untuk sengkang miring yaitu :
Vs

As. fy.d
sin cos ...5.5.10
s

Jarak sengkang miring :


s

As. fy.d
sin cos 5.5.11
Vs

As. fy.d
Vu
Atau : s =
Vc

..5.5.12

. As. fy.d

= Vu .Vc sin cos .5.5.13


Berbeda dengan sengkang tegak, pemasangan sengkang miring dapat tunggal atau
rangkap, sehingga luasan tulangan dapat berupa luasan tunggal sebesar As atau luasan

tersebut dibagi menjadi dua bagian seperti sengkang tegak. Didalam perencanaan
penulangan

Gambar 4.5.2 tulangan geser miring

(a) Gambar tipikal sengkang miring


(b) Gambar 3 dimensi sengkang miring
5.6 Persyaratan Dan Pembatasan Tulangan Geser
Didalam perencanaan tulangan geser dengan menggunakan metode kekuatan,
SKSNI-T-15-1993-1993 mensyaratkan pembatasan didalam perencanaan tulangan geser
sebagai berikut :
1. Kuat geser rencana
Vu = .Vn .5.6.1
Dimana : : Reduksi kekuatan geser
: 0,65 untuk tulangan bentuk sengkang
: 0,70 untuk tulangan bentuk spiral
Vu : Gaya geser berfaktor
Vn : Adalah kekuatan geser nominal penampang
Vn : Vc + Vs

2. Pembatasan jarak sengkang


Bila dilihat hubungan antara Vs dan s pada persamaan 5.5.4 dan persamaan 5.5.5,
makin besar nilai Vs, makin rapat jarak sengkang s dan sebaliknya. Agar retak
miring pada balok dapat seluiruhnya dapat dipikul oleh sengkang maka harus ada
pembatasan jarak sengkang maksimum yaitu :
Vs

Vu
1
Vc

fc 'bw.d s mak

d
atau 600 mm (diambil nilai terkecil)
2

Vs

Vu
1
Vc

fc 'bw.d s mak

d
atau 300 mm (diambil nilai terkecil)
4

Dan nilai Vs tidak boleh lebih dari

2
3

fc 'bw.d

5.6.2

Gambar 5.6.1 gaya geser balok untuk penulangan sengkang

3. Luasan sengkang minimum (avmin)


Luasan sengkang minimum didalam perencanaan geser harus diberikan pada badan
balok untuk nilai Vu >

1
Vc , hal ini diperlukan untuk mencegah keruntuhan
2

mendadak (getas) seperti balok tanpa tulangan geser. Pemasangan tulangan


minimum ini diperlukan untuk memikul gaya geser tambahan setelah terbentuknya
retak miring.
Av (min)

1 bw.s
.
3 fy

Dimana : bw : lebar badan balok


s

: Jarak sengkang

fy : tegangan leleh baja


4. Cara pemasangan dengkang

5.6.3

Perhitungan gaya geser Vu untuk perencanaan sengkang dimulai dari


penampang kritis yaitu sejarak d (tinggi efektif penampang) dari dukungan/
perletakan.

Spasi sengkang mulai dari dukungan sampai dengan penampang kritis diambil
sebesar

1
s (s adalah jarak sengkang)
2

Diameter tulangan sengkang minimum adalah 10 mm untuk elemen struktur


yang menahan beban dan 8 mm untuk sengkang praktus.

Bila digunakan sengkang tegak/tertutup maka luasan sengkang adalah :


Av = 2 As dimana As adalah satu diameter tulangan.

Gambar 5.6.2 cara pemasangan sengkan pada balok

5.7. Prosedur Perencanaan Tulangan Geser


Dari penjelasan yang sudah dibahas didepan, maka dapat dirangkum prosedur
perencanaan tulangan geser sebagai berikut :
1. Penyajian data-data yang diperlukan yaitu fc, fy, Vu, bw dan d
2. Tentukan Vu pada penampang kritis (Vu sejarak d dari dukungan)
3. Pemeriksaan gaya geser

a. Vu Vc

2
3

fc '.bw.d , bila tidak terpenuhi penampang dan perbesar

1
2

b. Bila Vu .Vc digunakan tulangan geser minimum yaitu :


Av min

Av.bw.s
3 fy

c. Bila Vu .Vc , maka perlu penulangan geser pada balok, dimana nilai Vs adalah
Vs

Vu
Vc dengan nilai

= 0,65 untuk tulangan sengkang

= 0,70 untuk tulangan spiral

Penulangan geser dapat berupa sengkang tegak atau kombinasi sengkang dengan
sengkang miring

Bila digunakan sengkang tegak :


Dengan demikian luas tulangan sengkang Av = 2 As maka jarak sengkang adalah:
s

Av. fy.d
2 As. fy.d

Vs
Vs

Bila digunakan kombinasi sengkang tegak dan sengkang miring maka :


Minimum 50% gaya geser Vs diterimakan ke sengkang tegak, sisanya diterimakan
ke sengkang miring.
2 As. fy.d

Vy
Sengkang tegak : s 50% Vs ; Vs Vc

Av. fy.d

Tulangan miring : s 50% Vs sin cos


Av = As untuk sengkang miring tunggal
Av = 2 As untuk sengkang miring rangkap
Untuk mengetahui prosedur perencanaan tulangan geser yang lebih jelas, dapat dilihat
pada flowchart gambar 5.7.1.

Gambar 5.7,.1 diagram alir perencanaan tulangan geser

Contoh perencanaan.
Sebuah balok persegi dengan lebar 300 mm, tinggi balok 650 mm, mutu beton
fc = 20 Mpa dan tegangan leleh baja fy = 240 Mpa terletak diatas dua tumpuan
sederhana dengan bentang balok bersih 10 m. beban berfaktor yang bekerja pada balok
tersebut adalah Wu = 46 KN/m3 (termasuk berat sendiri balok), dan = 0,60.
Ditanyakan : rencanakan tulangan geser balok tersebut dan gambarkan penulangannya.

Penyelesaian :

Gambar 5.7.2 balok diatas dua tumpuan

Tinggi efektif penampang : d = (600 40) mm = 560 mm


Gaya geser tumpuan : Vu =
=

1
Wu.Ln
2
1
(460.10) = 230 Kn
2

Gaya geser pada penampang kritis : Vu (kritis) =

5 0,560
230 204,2 KN
5

Gaya geser yang disumbangkan oleh beton :


Vc
1
4

1
6

fc '.bw.d

fc '.bw.d

Vc
4

1
4

1
6

20 .300.560.10 3 125,2 KN

20 .300.560.10 3 187,8 KN

fc '.bw.d 0,60125,2 187,8 187,8 KN

Vu 204,2 187,8

Perhitungan dilanjutkan ke perencanaan sengkang

Syarat perlu tidaknya perhitungan sengkang :


Vc = 0,60.125,2 = 75,1 KN

Vs mak

2
3

fc'.bw.d

2
3

20 .300.560.10 3 500,9 KN

Vu 204,2 KN .Vc 75,1 KN

Vs mak 500,9 KN

Perhitungan dapat dilanjutkan

Perencanaan sengkang :

Gambar 5.7.3. Diagram geser setengah bentang balok

Pada penampang kritis :


Vu1 = 204,2 KN
Vs1

= Vu1 .Vc = 204,2 75,1 = 129,1 KN

Vs1

= 0,60 215,2 KN

129,1

Sengkang 10 mm : As = 0,785 cm2


Av = 2 (0,785) = 1,57 cm2 = 157 mm2
Tegangan leleh baja : fy = 240 MPa
Perencanaan jarak sengkang.
Pada umumnya perencanaan jarak sengkang dibagi menjadi beberapa segmen :
a. Jarak 0.56 m s/d 1.56 cm (dari penampang kritis)
Vs1 = 215.2 KN; Av = 157 mm2 dan fy = 240 Mpa
Jarak sengkang :
s1 =

Av. fy.d 157.240.560

98,14 mm
Vs
215,2.10 3

dipakai sengkang
10 90 mm

Kontrol jarak sengkang :


1
3

fc '.bw.d

1
3

20 .300.560 250,4 MPa

Vs = 215.2 KN < 250.4 KN


1
1
d=
x 560 = 280 mm
2
2

smak =

s1 = 90 mm < 280 mm (ok)


Kontrol gaya geser nominal penampang.
Vn1 .Vc .Vs Vu1
Vs

Av. fy.d 157.240.560

.10 3 234,5 KN
s
90

Vn1 75,1 0,60( 234,5) 215,8 KN > Vu1 (204,2 KN)

ok

b. Jarak 1.56 m s/d 2.56 m


Vu2

Vs 2

5 1,56
204,2 140,5 KN
5

= Vu2 Vc

= 140,5 75,1 = 65,4 KN


65,4

= 0,6 109 KN

Vs

Jarak sengkang :
s1 =

Av. fy.d 157.240.560

193,6 mm
Vs 2
109

dipakai sengkang
10 180 mm

Kontrol jarak sengkang :


1
3

fc '.bw.d

1
3

20 .300.560 250,4 MPa

Vs2 = 109 KN < 250.4 KN


smak =

1
1
d=
x 560 = 280 mm
2
2

s2 = 180 mm < 280 mm (ok)


Kontrol gaya geser nominal penampang.
Vn2 .Vc .Vs Vu 1
Vs 2

Av. fy.d 157.240.560

.10 3 117 ,2 KN
s2
180

Vn 2 75,1 0,60(117 ,2) 145,4 KN > Vu2 (140,5 KN)

c. Jarak 2.56 m s/d 5.00 m

ok

Vu3

5 2,56
140,5 68,6 KN
5

Vu 3 Vc 75,1 KN

Dipakai sengkang
minimum

s3

3. Av. fy 3.157.240

376,8 mm
bw
300

s mak

d 560

280 mm
2
2

Dipakai sengkang 10 270 mm

SOAL_SOAL LATIHAN
1. Balok dengan perletakan sederhana menahan beban rencana merata 73 KN/m. jarak
dari pusat ke pusat dukungan 9,0 m, b = 350 mm, d = 510 mm, fc = 30 Mpa dan fy
= 400 Mpa. Tentukan jarak spasi sengkang yang diperlukan bila digunakan tulangan
baja D12 dan buatlah sketsa pola perancangan sengkang balok secara keseluruhan.
Perhitungan gaya geser balok didasarkan pada bentang bersih.
2. Rencanakan sengkang untuk balok tergambar di mana beban yang bekerja padanya
adalah beban kerja. Beban mati termasuk berat sendiri balok, dengan b = 400 mm, d
= 560 mm, fc = 20 Mpa, fy = 240 Mpa. Berikan sketsa pola perancangan sengkang
tersebut.

3. Rencanakan sengkang untuk balok tergambar di mana beban kerja yang bekerja
terdiri dari beban mati (termasuk berat sendiri) 20 KN/m dan beban hidup 30 KN/m.
b = 300 mm, d = 610 mm, baik untuk pemulangan di bawah maupun di atas berlaku
fc = 20 Mpa dan fy = 240 Mpa. Berikan sketsa pengaturan sengkang tersebut.

4. Rencanakan balok beton bertulang persegi untuk menahan momen dan gaya geser
dengan hanya menggunakan tulangan tarik saja untuk menahan lenturan. Beban
yang tampak pada gambar adalah beban guna. Beban merata terdiri dari beban mati
1.36 kNm (tidak termasuk berat sendiri balok) dan beban hidup) 1.36 kNm. Beban
terpusat adalah beban mati. Sedangkan fc = 30 MPa, f,,= 400 MPa, dan anggap
bahwa lebar dukungan 300 mm. berikan sketsa perencanaan termasuk pola
penulangan sengkang.