Anda di halaman 1dari 91

AKUNTANSI INTERNASIONAL UNTUK SMALL MEDIUM ENTITIES

(SME)

1.

Kriteria Small Medium Entities


Kriteria Small Medium Entities dapat berbeda antara satu negara dengan
negara lain. Ada yang menilainya dari sisi omzet, jumlah tenaga kerja, jumlah
aset dan lain sebagainya. Namun secara umum Small Medium-Sized Entities
(SMEs) merupakan perusahaan atau entitas yang berukuran kecil Walaupun
entitas ini kecil, peranannya terhadap perekonomian suatu negara tidak dapat
dianggap kecil. SME sendiri tetap diwajibkan untuk menyusun laporan
keuangan.

2.

Standar Akuntansi untuk Small Medium Entities


Standar akuntansi untuk SME adalah IFRS for SMEs yang merupakan bentuk
sederhana dari full IFRS. IFRS for SMEs diterbitkan oleh IASB (International
Accounting Standards Board) atau Badan Standar Akuntansi Internasional
yang berkedudukan di Eropa. Penjelasan secara detail mengenai standar
akuntansi untuk SME akan dibahas di bagian-bagian selanjutnya.

3.

Sejarah lahirnya IFRS for SME


Banyak kalangan menilai bahwa standar pelaporan keuangan (full IFRS)
relatif mahal untuk diterapkan oleh SME. Atas pertimbangan ini maka IASB
menerbitkan IFRS for SMEs.
IFRS for SMEs adalah versi sederhana dari IFRS. Pedoman ini adalah hasil
analisis biaya manfaat secara keseluruhan pemilik dalam mempertimbangkan
1

kebutuhan entitas non-publik dan pengguna laporan keuangan mereka,


dengan tujuan memberikan alternatif praktis untuk IFRS. Dengan pandangan
ini, IASB memberikan pengakuan dan pengukuran persyaratan tertentu yang
umumnya hanya mengizinkan satu perlakuan akuntansi. Perlakuan akuntansi
dalam standar umumnya lebih sederhana dari yang diizinkan atau diharuskan
oleh IFRS. Selain itu, persyaratan pengungkapan yang dikurangi dari IFRS,
dan topik yang tidak relevan dengan SME telah dihilangkan dari standar.
IASB telah menyederhanakan kegunaan standar dengan membatasi revisi atas
IFRS for SMEs untuk sekali setiap tiga tahun. Penyederhanaan ini
menyediakan versi IFRS yang tidak terlalu mahal untuk diterapkan daripada
full IFRS dan mungkin lebih relevan bagi pengguna laporan keuangan SME.
IFRS for SMEs dirancang untuk memberikan perbandingan komprehensif dan
rinci.
Berikut adalah timeline perkembangan penyusunan IFRS for SMEs hingga
diterbitkan dan diamandemen.
Tabel 1
Sejarah perkembangan penyusunan IFRS for SMEs
Tanggal

Perkembangan

Komentar

2001

Proyek dibawa dari IASC

Sejarah lama proyek

24 Juni 2004

Kertas diskusi pandangan


awal
tentang
Standar
Akuntansi Entitas Kecil dan
Menengah yang diterbitkan
Exposure Draft Usulan IFRS
untuk Entitas Kecil dan
Menengah yang diterbitkan
(Berbagai terjemahan juga
kemudian diterbitkan)

batas waktu komentar


24 September 2004

15 Februari 2007

batas waktu komentar


1 Oktober 2007 s.d 30
November 2007

9 Juli 2009

IFRS untuk Entitas Kecil Efektif


dengan
dan Menengah diterbitkan segera
tentang
(IFRS for SMEs)
masalah (tergantung
adopsi yurisdiksi)

26 Juni 2012

Permintaan
informasi
mengenai
Ulasan
Komprehensif dari IFRS
untuk UKM diterbitkan
ED/2013/9
Usulan
amandemen
Standar
Pelaporan
Keuangan
Internasional
untuk
UsahacKecil dan Menengah
Entitas (IFRS for SMEs)
diterbitkan
Amandemen IFRS untuk
UKM dikeluarkan

3 Oktober 2013

21 Mei 2015
2015

batas waktu komentar


30 November 2012

batas waktu komentar


3 Maret 2014

Efektif untuk periode


tahunan yang dimulai
pada atau setelah
tanggal 1 Januari
2017;
Aplikasi yang lebih
dahulu
terbit,
diizinkan
untuk
dipakai.

Sumber: www.iasplus.com
Pada tanggal 9 Juli 2009, IASB menerbitkan Standar Pelaporan Keuangan
Internasional untuk Usaha Kecil Menengah (UKM) atau yang lebih dikenal
sebagai IFRS for SMEs. Hal ini merupakan salah satu bagian dari akuntansi
internasional yang dikembangkan secara khusus untuk entitas kecil dan
menengah. Aturan tersebut disusun berdasarkan fondasi IFRS, tetapi produk
tersebut berdiri sendiri dan terpisah dari kesatuan lengkap Standar Pelaporan
Keuangan Internasional (IFRS fullset). IFRS for SMEs memiliki
penyederhanaan yang mencerminkan kebutuhan pengguna laporan keuangan

UMKM dan pertimbangan biaya-manfaat. Jika dibandingkan dengan IFRS,


IFRS for SMEs terdapat perbedaan di beberapa bagian sbb:
a. Topik yang tidak relevan dengan UKM dihilangkan.
b. IFRS memungkinkan pilihan kebijakan akuntansi secara lengkap,
sedangkan IFRS for SMEs memungkinkan pilihan yang lebih mudah.
c. Banyak dari prinsip-prinsip dasar pengakuan dan pengukuran aset,
kewajiban, pendapatan dan beban penuh pada IFRS yang disederhanakan.
d. Secara signifikan pengungkapan lebih sedikit diperlukan.
e. Standar telah ditulis dalam bahasa yang jelas dan mudah untuk
diterjemahkan.
Untuk lebih mengurangi beban pelaporan UKM, revisi IFRS ini akan terbatas
hanya sekali setiap tiga tahun. IFRS for SMEs sangat cocok untuk semua
entitas kecuali mereka yang efek diperdagangkan secara publik dan lembaga
keuangan seperti bank dan perusahaan asuransi. Sebanyak 230 halaman
merupakan hasil dari proses pembangunan lima tahun dengan konsultasi yang
luas dengan UKM di seluruh dunia. Sebagai standar yang mendampingi IFRS
for SMEs, terdapat pedoman pelaksanaan yang terdiri dari laporan keuangan
ilustratif dan penyajian dan checklist.pengungkapan IFRS for SMEs tersedia
untuk setiap yurisdiksi, dan memiliki kebebasan untuk diadopsi secara penuh
atau tidak. Masing-masing yurisdiksi juga memiliki kewenangan untuk
menentukan entitas manakah yang harus menggunakan standar.
Isi dari IFRS for SMEs
Berikut merupakan isi dari IFRS for SME.
Satu bagian
4

Kata Pengantar
1. Entitas Kecil dan Menengah
2. Konsep dan Prinsip Pervasif Presentasi
3. Laporan Keuangan
4. Laporan Posisi Keuangan
5. Laporan Laba Rugi Komprehensif dan Laporan Laba Rugi
6. Laporan Perubahan Ekuitas dan Laporan Laba Rugi Komprehensif dan
Saldo Laba
7. Laporan Arus Kas
8. Catatan atas Laporan Keuangan
9. Konsolidasi dan Laporan Keuangan Tersendiri Kebijakan
10. Akuntansi, Estimasi dan Kesalahan
11. Dasar Instrumen Keuangan
12. tambahan Instrumen Masalah Keuangan
13. Persediaan
14. Investasi pada Entitas Asosiasi
15. Investasi dalam Joint Ventures
16. Investasi Properti
17. Aktiva Tetap
18. Aset Tak berwujud selain Goodwill
19. Kombinasi Bisnis dan Goodwill
20. Sewa
21. Ketentuan dan Kontinjensi
22. Kewajiban dan Ekuitas

23. Pendapatan
24. Hibah Pemerintah
25. Biaya Pinjaman
26. Pembayaran berbasis Saham
27. Penurunan Nilai Aset
28. Manfaat Karyawan
29. Pajak Penghasilan
30. Kurs karena Penjabaran
31. Hiperinflasi
32. Peristiwa setelah Akhir Periode Laporan
33. Pihak terkait Pengungkapan
34. Aktivitas spesialis
35. Transisi ke IFRS untuk UKM (IFRS for SMEs)
Istilah
Tabel derivatif
Buklet terpisah
Kesimpulan Dasar
Ilustrasi Laporan Keuangan dan Penyajian dan Checklist Pengungkapan

4.

Perlakuan Akuntansi untuk SME di berbagai Negara di Dunia

Untuk menggambarkan perlakuan akuntansi untuk SME diberbagai belahan


dunia, berikut kami sajikan perlakuan akuntansi untuk SME mulai dari Eropa,
Amerika Serikat, Asia, Afrika dan di Indonesia.
4.1 EROPA
a. Kriteria SME di Uni Eropa
Kriteria perusahaan yang dapat dikatakan SME dapat berbeda antara
satu negara dengan negara lainnya. Beberapa negara mengukur dari
nilai penjualan, jumlah karyawan, nilai aset dan lain sebagainya. Uni
Eropa sebagaimana kami kutip dalam situs http://ec.europa.eu
memiliki 2 kriteria untuk mendefinisikan SME yaitu jumlah karyawan
dan omset atau total aset.
Tabel 2
Kategori perusahaan dan kriterianya
Kategori
Jumlah Karyawan
Medium-sized < 250
Small
< 50
Micro
< 10
Sumber: http://ec.europa.eu

Omset atau Total Aset


50 jt 43 jt
10 jt 10 jt
2 jt
2 jt

Dari kriteria di tabel 1 dapat di simpulkan bahwa untuk dapat


dikategorikan sebagai SME maka perusahaan di Uni Eropa harus
memiliki karyawan kurang dari 250 orang dan omset maksimal 50
juta atau total aset maksimal 43 juta.
b. Kriteria SME dalam IFRS
Istilah SME sudah dikenal luas di seluruh dunia, bahkan, banyak
yurisdiksi telah dikembangkan untuk mendefinisikan SME. Banyak
diantara negara-negara didunia mendefinikan SME dengan dasar
7

tingkat penjualan, aset, jumlah karyawan atau kriteria lainnya. Namun


secara umum istilah SME ini digunakan untuk mendeskripsikan
sebuah entitas yang sangat kecil.
Pada Bulan Juli 2009 International Accounting Standards Board
(IASB) menerbitkan the International Financial Reporting Standard
(IFRS) for Small and Medium sized Entities (SMEs). Standar ini
dikhususkan untuk entitas yang tidak memiiki akuntabilitas publik,
sehingga entitas yang memiliki akuntabilitas publik dikecualikan dari
standar ini.
Dalam IFRS SME Module 01 version 2013 sebuah entitas dapat
dikatakan memiliki akuntabilitas publik jika:
1) Instrumen utang atau ekuitasnya diperdagangkan di pasar modal
atau sedang dalam proses penerbitan untuk diperdagangkan di
pasar
2) Memegang aset fidusia untuk sebuah grup besar asing sebagai
salah satu bisnis utamanya. Ini biasanya terjadi pada Bank, credit
unions, perusahaan asuransi, broker saham, mutual fund dan bank
investasi.

c. Tujuan Penerbitan IFRS For SME


Pada dasarnya tujuan dari penerbitan standar adalah untuk membuat
laporan keuangan dapat dibandingkan antara satu perusahaan dengan
perusahaan lain. Dalam era global seperti sekarang, standar yang
melewati batas negara dapat sangat bermanfaat baik bagi investor,
8

kreditur maupun para pemangku kepentingan yang lain. Manfaat dari


standar laporan keuangan secara global tidak terbatas pada entitas
yang sahamnya diperdagangkan di bursa efek. Menurut IASB SME
dan pihak yang menggunakan laporan keuangannya dapat mengambil
manfaat dari diterbitkannya standar pelaporan keuangan ini. Laporan
keuangan SME yang dapat dibandingkan secara internasional ini
dibutuhkan karena:
1) Institusi keuangan menyalurkan utang lintas negara dan beroperasi
secara multinasional. Banyak SME yang memiliki utang di bank
dan banker sangat bergantung pada laporan keuangan dalam
membuat keputusan baik keputusan untuk menyalurkan kredit atau
tidak maupun keputusan dalam menentukan tingkat bunga.
2) Pemasok ingin mengetahui kesehatan keuangan pembeli sebelum
mereka melakukan penjualan secara kredit.
3) Lembaga pemeringkat utang ingin memberikan rating utang
perusahaan secara multinasional sehingga laporan keuangan yang
terstandar menjadi krusial.
4) Banyak SME memiliki pemasok di luar negeri dan menggunakan
laporan keuangannya untuk menilai prospek hubungan bisnisnya
dalam jangka panjang.
Selain untuk tujuan keseragaman, tujuan lain diterbitkannya IFRS for
SME adalah pertimbangan biaya-manfaat. Pengguna laporan
keuangan dari SME memiliki kepentingan yang lebih kecil jika
dibandingkan dengan perusahaan besar yang terdaftar di pasar modal
yang memiliki transaksi yang banyak dan kompleks. Sebagai contoh,
pengguna laporan keuangan SME mungkin lebih memiliki

kepentingan besar di pengelolaan arus kas, likuiditas, kekuatan posisi


laporan keuangan, kemampuan perusahaan membayar bunga utang
dan bagaimana tren keuntungan perusahaan. Namun, disisi lain SME
juga membutuhkan standar yang jelas untuk dapat mengakses
pendanaan ke perbankan. Dengan pertimbangan tersebut IASB
menerbitkan IFRS for SMEs yang telah mempertimbangkan
kesederhanaan dan pertimbangan dari pengguna laporan keuangan
yang membutuhkan informasi keuangan yang kredibel.
d. Perbedaan IFRS for SMEs dan Full IFRS
Full IFRS dirancang untuk menerapkan tujuan umum dari pelaporan
keuangan perusahaan yang berorientasi keuntungan sedangkan IFRS
for SMEs lebih diarahkan untuk tujuan laporan keuangan secara
umum hanya oleh entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik.
Secara sederhana, IFRS for SMEs adalah full IFRS yang
disederhanakan namun tetap memperhatikan kepentingan untuk
mengungkapkan kondisi keuangan perusahaan secara terstandar.
Berikut adalah beberapa perbedaan perlakuan untuk IFRS for SME
dan Full IFRS yang kami kutip dari IFRS Foundation-Training
Material for the IFRS for SMEs, Module-1 : Small and Mediumsized Entities Version 2013 dijelaskan pada tabel 3
Tabel 3
Perbedaan IFRS for SMEs dan Full IFRS
IFRS for SMEs
Full IFRS
Non-current assets (or groups of assets and liabilities) yang ada untuk
10

dijual
Tidak ada klasifikasi ada untuk
dijual
sehingga
perlakuan
akuntansi
khusus
tidak
diperlukan.

IFRS 5:
Non-current Assets yang ada untuk
dijual dan yang tidak dilanjutkan
operasinya:
Dicatat pada mana yang lebih
rendah antara nilai tercatat aset
dan nilai wajar dikurangi biaya
untuk menjual.
Depresiasi tidak diakui saat aset
tersebut termasuk kriteria aset
untuk dijual.
Unvested past service cost of defined benefit pension plans
Segera diakui sebagai keuntungan IAS 19 Employee Benefits:
atau kerugian
Diakui sebagai beban secara garis
lurus selama rata-rata periode
sampai manfaat menjadi vested
Exchange differences on a monetary item that forms part of the net
investment in a foreign operation, inconsolidated financial statements
Diakui
sebagai
pendapatan IAS 21 The Effects of Changes in
(beban) komprehensif lainnya dan Foreign Exchange Rates:
tidak
di
reklasifikasi
ke Di reklasifikasi ke keuntungan
keuntungan
atau
kerugian atau kerugian disposal investment
disposal investment
Borrowing Cost
Harus dibebankan ke laba rugi IAS 23 Borrowing Costs:
tahun berjalan
Dikapitalisasikan ke aset terkait.
Investment in an associate for which there is a published price
quotation
Harus diukur pada nilai wajar IAS 28 Investments in Associates:
melalui keuntungan atau kerugian Harus
diukur
menggunakan
metode ekuitas
Investment in a jointly controlled entity for which there is a published
price Quotation
Harus diukur pada nilai wajar IAS 31 Interests in Joint Ventures:
melalui keuntungan atau kerugian Harus
diukur
menggunakan
metode
ekuitas
atau
penggabungan
secara
proporsional.
Investment property whose fair value can be measured reliably without
undue cost or effort
Harus diukur pada nilai wajar IAS 40 Investment Property:
11

melalui keuntungan atau kerugian

Memilih antara nilai wajar melalui


pengakuan keuntungan (kerugian)
atau model biaya perolehandepresiasi-penurunan
nilai.
Disesuaikan dengan kebijakan
akuntansi entitas.

Aset biologis
Diukur pada nilai wajar dikurangi IAS 41 Agriculture:
perkiraan biaya untuk menjual Diasumsikan bahwa nilai wajar
jika nilai wajar dapat ditentukan. dapat diukur secara akurat.
Apabila nilai wajar tidak dapat
ditentukan maka nilai aset diukur
pada harga perolehan dikurangi
akumulasi
depresiasi
atau
akumulasi penurunan nilai
Pajak Penghasilan
Perbedaan dari tarif pajak Exposure draft Income Tax:
dimasukan ke penghasilan yang Awalnya dihitung pajak sekarang
didistribusikan, setelah dihitung dan pajak tangguhan pada tarif
pajak sekarang dan pajak yang berlaku untuk diterapkan
tangguhan pada tarif yang ketika keuntungan didistribusikan.
diterapkan ke keuntungan yang
tidak didistribusikan
Share-based payments with cash alternatives in which the terms of the
arrangement provide the counterparty with a choice of settlement
Account for the transaction as a IFRS 2 Share-based Payment:
cash-settled share-based payment Accounting akin to a compound
transaction unless either the Instrument
entity has a past practice of
settling
by issuing
equity
instruments or the option to settle
in cash has no commercial
substance
Sumber: IFRS Foundation-Training Material for the IFRS for SMEs,
Module-1 : Small and Medium-sized Entities version 2013

4.2 AMERIKA
a. Perkembangan Akuntansi di Amerika Serikat

12

Akuntansi di AS diatur oleh Badan Sektor Swasta (Badan Standar


Akuntansi Keuangan, atau Financial Accounting Standards Boardi
FSAB), namun sebuah lembaga pemerintah (Komisi Pengawas Pasar
Modal atau Securities Exchange Commission SEC) juga memiliki
kekuasaan untuk menerapakan standarnya sendiri.
Hingga tahun 2002 Institut Amerika untuk Akuntan Publik
bersertifikat, badan sektor swasta lainnya, menetapkan Standar
Auditing. Pada tahun itu Badan Pengawas Akuntansi Perusahaan
Publik didirikan dengan kekuasaan yang luas untuk mengatur audit
dan auditor perusahaan publik. Di Amerika Serikat , dilakukan
pengujian dan analisa pada prinsip dan teori akuntansi yang
berkembang melalui 4 fase yakni :
1) Fase Kontribusi Manajemen (1900-1933)
Pengaruh manajemen dalam pembentukan prinsip-prinsip
akuntansi muncul dari meningkatnya jumlah pemegang saham dan
peranan ekonomik dominan yang dimainkan oleh korporasi industri
setelah 1900. Ketergantungan pada inisiatif manajemen
menimbulkan konsekuensi sbb: Sebagian besar teknik akuntansi
tidak memiliki dukungan teoritis, Pusat perhatian pada penentuan
penghasilan kena pajak dan minimisasi pajak penghasilan, Teknik
yang diadopsi adalah untuk meratakan pendapatan, Penghindaran
dari masalah-masalah kompleks dan solusi berdasarkan kebijakan
dianut, Perbedaan perlakuan teknik akuntansi dari perusahaan yang
berbeda untuk masalah yang sama. Perdebatan teoritis dan

13

kontrofersi pada saat itu terutama menyangkut akuntansi kos untuk


bunga.
Penentuan biaya overhead dalam kos produk menjadi isu utama
seiring dengan alokasi kos produk yang realistis, meningkatnya
investasi pada mesin-mesin dan kebutuhan modal untuk jangka
panjang. Pendapat The American Institute of Accountants (AIA)
menentukan bahwa tidak ada kos penjualan, beban bunga dan biaya
administrasi yang dimasukkan dalam kos overhead pabrik.
Perselisihan tentang akuntansi kos bunga dipandang sebagai
konflik antara teori entitas (entity) dan kepemilikan (proprietary).
Peristiwa penting lain adalah pengaruh pajak penghasilan terhadap
teori akuntansi yakni diakuinya pendapatan bersih atas dasar
periode akuntansi dan metode akuntansi yang digunakan oleh
pembukuan wajib pajak. Hal ini merupakan tahap awal harmonisasi
antara akuntansi pajak dengan akuntansi keuangan.
2) Fase Kontribusi Institusi (1933-1959)
Fase ini ditandai dengan timbulnya badan/institusi dan peningkatan
peranannya dalam pengembangan prinsip akuntansi, sebagai
berikut:
Tahun 1934 Kongres membentuk Securities and Exchange
Commision (SEC) untuk melaksanakan berbagai peraturan
investasi federal. Komisi ini dapat merumuskan hal-hal,
informasi, metode-metode, yang harus ditunjukan dalam laporan
keuangan.
14

Adanya usulan agar The American Institute of Certified Public


Accountants (AICPA) mulai melakukan kerjasama dengan bursa
saham sehingga standar yang ditetapkan dalam laporan
keuangan dapat sesuai dengan eksekutif perusahaan dan akuntan
sesuai dengan praktek yang ada.
Setelah berdirinya American Accounting Association (AAA) yang
banyak mengkritik SEC maka AICPA memutuskan untuk
memberdayakan Committee Accounting Procedure (CAP)
menerbitkan Accounting Research Bulletins (ARBs). Adanya
praktek-praktek akuntansi yang banyak dikritik, isu-isu yang tidak
populer, kegagalan untuk mengembangkan pernyataan menyeluruh
tentang prinsip akuntansi menyebabkan konflik antara SEC dengan
CAP.
Fase Kontribusi Profesional (1953-1973)
Komite Khusus tentang Program Riset mengusulkan
pembubaran CAP dan departemennya yang diterima oleh AICPA
kemudian didirikan Accounting Principle Board (APB) dan The
Accounting Research Division (ARD) untuk meneliti isu-isu
yang merupakan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum.
APB kemudian menerbitkan berbagai pendapat untuk
membahas isu-isu kontroversial , namun upaya tersebut tidak
berhasil sehingga APB diserang dan dikritik karena opini yang
bersifat kontroversial termasuk tentang akuntansi pensiun,

15

alokasi pajak penghasilan, kredit pajak investasi, akuntansi


untuk penggabungan usaha dan goodwill.
Fase Politisasi (1973-sekarang)
Keterbatasan asosiasi professional dan manajemen dalam
merumuskan teori akuntansi mendorong diadopsinya
pendekatan yang lebih deduktif dan politis. Dalam situasi
tersebut FASB mengindikasikan proses penetapan standar
akuntansi sebagai proses demokratik.
b. Kualifikasi dan regulasi di bidang akuntansi
Di Amerika Serikat, akuntan yang berpraktek disebut Certified Public
Accountant (CPA), Certified Internal Auditor (CIA) dan Certified
Management Accountant (CMA). Perbedaan jenis sertifikasi adalah
dalam hal jenis-jenis jasa yang ditawarkan.
Tabel 4
Sertifikasi akuntan dan auditor
Sertifikasi Dikeluarkan Oleh

Keterangan Lain

CPA

negara bagian tempat kedudukan


yang bersangkutan berupa ijin
untuk menawarkan jasa auditing
kepada public

Kebanyakan kantor akuntan juga


menawakan
jasa
akuntansi,
perpajakan, bantuan litigasi dan
konsultansi keuangan lainnya.

CIA

Institute of Internal Auditors Diberikan kepada kandidat yang


(IIA)
lulus dalam empat bagian ujian.

CMA

Institute
of
Management Diberikan kepada kandidat yang
Accountants (IMA)
dinyatakan lulus dalam empat
bagian ujian dan memenuhi
pengalaman praktek tertentu
berdasarakan ketentuan IMA
Sumber: wartawarga.gunadarma.ac.id
16

Tabel 5
Badan Standar Akuntansi di Amerika Serikat
Badan Standar Akuntansi di Penjelasan
AS
American Institute of Certified Suatu organinsasi profesional di bidang
Public Accountants
akuntansi publik yang keanggotaannya hanya
akuntan publik terdaftar (certified public
accountants). Organisasi ini menerbitkan jurnal
bulanan The journal of accountancy dan
berpengaruh kuat bagi perkembangan prinsipprinsip akuntansi serta norma pemeriksaan di
AS.
Financial
Accounting Organisai yang memberikan panduan standar
Standards Board
untuk pelaporan keuangan. Misi dari FASB
adalah untuk membangun dan meningkatkan
standar akuntansi keuangan dan pelaporan untuk
bimbingan
dan
pendidikan
masyarakat,
termasuk emiten, auditor dan pengguna
informasi keuangan.
Governmental
Accounting
Standards
Board
(Dewan
standar
akuntansi
pemerintahan)
Securities
and
Exchange Lembaga independen pemerintah AS yang
Commission
memegang tanggung jawab utama menegakkan
hukum federal efek dan mengatur industri efek,
pasar saham dan bangsa pilihan bursa, dan efek
elektronik lainnya.
Sumber: wartawarga.gunadarma.ac.id
c. Standar Akuntasi Keuangan (SAK) Di Amerika
Dalam akuntansi terapan di Indonesia kita mengenal yang namanya
SAK (Standar Akuntansi Keuangan), di Amerika lebih dikenal dengan
nama GAAP (General Accepted Accounting Principal.
1) Perkembangan GAAP (General Accepted Accounting Principal)

17

Standar Akuntansi secara historis telah ditetapkan oleh American


Institute of Certified Akuntan Publik (AICPA) tunduk pada
Securities and Exchange Commission peraturan. The AICPA
pertama kali membuat Komite Prosedur Akuntansi pada tahun
1939, dan diganti bahwa dengan Prinsip Akuntansi Dewan pada
tahun 1951 . Pada tahun 1973, Dewan Prinsip Akuntansi digantikan
oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (FASB) di bawah
pengawasan Yayasan Akuntansi Keuangan dengan Standar
Akuntansi Keuangan Dewan Pertimbangan. Organisasi-organisasi
lain yang terlibat meliputi Dewan Standar Akuntansi Pemerintahan
(GaSb), terbentuk tahun 1984, dan Perusahaan Publik Akuntansi
Dewan Pengawas (PCAOB). Sebagai internasional dan US GAAP
standar telah berkumpul, maka Dewan Standar Akuntansi
Internasional yang memproduksi Standar Pelaporan Keuangan
Internasional (IFRS) telah menjadi penting
Sekitar tahun 2008, FASB mengeluarkan Standar Akuntansi FASB
Kodifikasi, yang menata ulang ribuan GAAP pernyataan AS ke
sekitar 90 (semilan puluh) topik akuntansi. Pada tahun 2008,
Komisi Sekuritas dan Bursa mengeluarkan peta jalan awal yang
dapat memimpin AS untuk meninggalkan prinsip akuntansi yang
berlaku umum di masa depan (akan ditentukan pada tahun 2011),
dan untuk bergabung lebih dari 100 negara di seluruh dunia bukan
dalam menggunakan yang berbasis di London Standar Pelaporan

18

Keuangan Internasional. Pada 2010, proyek konvergensi sedang


berlangsung dengan pertemuan rutin FASB dengan IASB.
Untuk dan negara pemerintah daerah, GAAP ditentukan oleh
Dewan Standar Akuntansi Pemerintahan (GaSb), yang beroperasi
di bawah seperangkat asumsi, prinsip, dan kendala, berbeda dengan
PSAK sektor swasta standar. Ketentuan GAAP AS agak berbeda
dari Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS), meskipun
mantan Ketua SEC Chris Cox menetapkan jadwal bagi semua
perusahaan AS untuk menjatuhkan GAAP pada tahun 2016, dengan
perusahaan terbesar beralih ke IFRS pada awal 2009.
2) Perbedaan dan Persamaan GAAP dengan IFRS
Sebagaimana diatur dalam IAS 32 & 39 dan IFRS 7 & 9, maka
secara ringkas dapat dilihatpada perbedaan dan persamaan IFRS
dengan GAAP, yaitu sebagai berikut:
IFRS dan GAAP untuk debt securities memiliki perlakuan
akuntansi yang sama
IFRS dan GAAP menggunakan pengujian yang sama untuk
menentukan apakah methode equity digunakan yaitu
berdasarkan pengaruh yg signifikan dg patokan lebih dari 20%
kepemilikan.
Reklasifikasi securities adalah sama antar keduanya.
Dasar konsolidasi, IFRS dan GAAP mendasarkan pada
persentasi kepemilikan (50%)
IFRS dan GAAP sama dalam akuntansi untuk pemilihan Fair
Value yaitu pilihan menggunakan fair value harus dilakukan di
awal pengakuan.
19

GAAP tidak mengizinkan reversal untuk beban impairment


yang telah terjadi untuk available for sale debt and equity
securities.
IFRS tidak mengizinkan hal yang sama untuk available for
sale equity, namun mengizinkan reversal untuk available for
sale debt securities dan held-tomaturity securities.
3) Organisasi-organisasi ini mempengaruhi perkembangan GAAP di
Amerika Serikat.
United States Securities and Exchange Commission (SEC)/
Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat.
SEC diciptakan sebagai akibat dari Depresi Besar. Pada waktu
itu tidak ada struktur menetapkan standar akuntansi. SEC
mendorong pembentukan badan standar pengaturan swasta
melalui AICPA dan kemudian FASB , percaya bahwa sektor
swasta memiliki pengetahuan yang tepat, sumber daya, dan
bakat. SEC bekerja sama dengan berbagai organisasi swasta
pengaturan GAAP, tetapi tidak menetapkan GAAP sendiri.
American Institute of Certified Public Accountants (AICPA)
Pada tahun 1939, mendesak oleh SEC, AICPA menunjuk
Komite Akuntansi Prosedur (CAP). Selama tahun 1939-1959
CAP diterbitkan 51 Akuntansi Buletin Penelitian yang berurusan
dengan berbagai masalah akuntansi yang tepat waktu. Tahun
1959, AICPA menciptakan Prinsip Akuntansi Board (APB),
yang misi itu adalah untuk mengembangkan suatu kerangka
kerja konseptual secara keseluruhan. Ini diterbitkan 31 pendapat
20

dan dibubarkan pada tahun 1973 karena kurangnya produktivitas


dan kegagalan untuk bertindak segera. Setelah penciptaan FASB
, AICPA membentuk Komite Eksekutif Standar Akuntansi
(AcSEC). Hal ini menerbitkan: Audit dan Pedoman Akuntansi,
Laporan Posisi, Praktek Buletin
Financial Accounting Standards Board (FASB), Tahun 1984
FASB menciptakan Emerging Issues Task Force (EITF)
Dewan Standar Akuntansi Pemerintahan (GaSb) dibuat tahun
1984, membahas masalah-masalah pemerintah negara bagian
dan lokal pelaporan.
Organisasi lain berpengaruh (misalnya Ikatan Akuntan Amerika,
Ikatan Akuntan Manajemen, Keuangan Lembaga Eksekutif).
Organisasi berpengaruh lainnya Keuangan Pemerintah Officers
Association (GFOA)
d. Standard Akuntansi Untuk SME
Selama ini pada dasarnya terdapat satu kerangka pelaporan yang
berlaku umum yang dikenal sebagai, "Standar Akuntansi Keuangan
Berlaku Umum (GAAP) atau US GAAP ", dengan Dewan Standar
Akuntansi Keuangan(FASB) sebagai organisasi yang menetapkan
aturan dan persyaratan pelaporan untuk kedua perusahaan publik serta
perusahaan swasta.
Telah ada argumen yang panjang mengenai apakah mandat
persyaratan di bawah GAAP yang diarahkan untuk perusahaan publik
yang besar relevan dengan usaha kecil dan menengah. Praktisi telah

21

menyuarakan kebutuhan untuk "banyak GAAP" dan "Sedikit GAAP"


dengan mengetahui bahwa biaya untuk menerapkan beberapa
persyaratan pelaporan dalam kasus tertentu bisa sangat lebih besar
daripada manfaat memenuhi persyaratan untuk perusahaan swasta dan
belum tentu memberikan wawasan tambahan atau keuntungan untuk
para pengguna laporan keuangan yang akan mempengaruhi
kesimpulan yang dicapai apalagi mengenai laporan keuangan untuk
usaha kecil dan menengah.
Setelah lahirnya IFRS untuk UKM, Entitas swasta
mempertimbangkan adopsi Standar Internasional untuk Usaha Kecil
dan Menengah Entitas (IFRS untuk UKM) namun perlu waktu untuk
memahami dan menyesuaikan bagaimana standar baru akan
memodifikasi pelaporan keuangan. Kebanyakan di Amerika, pemilikmanajer entitas kecil dan menengah (UKM), CPA yang melayani
UKM, pengguna laporan keuangan UKM dan pemangku kepentingan
lainnya sering akrab dengan akuntansi Tax basis dan US GAAP.
Pada tanggal 10 Juni 2013, AICPA menerbitkan Financial Reporting
Framework for SMEs (FRF untuk UKM) yang merupakan Special
Purposes Framework mandiri yang mirip dalam banyak hal dengan
GAAP tetapi secara komprehensif merupakan standar akuntansi
lainnya dari GAAP.

22

FRF untuk UKM memiliki tujuan menyediakan menyeluruh, relevan,


dan kuat keuangan informasi dalam format yang user friendly tanpa
beberapa komplikasi dan persyaratan mencatat arus US GAAP.
Dalam hal ini pelaporan keuangan akan dilakukan secara efisien tanpa
kerumitan perlu atau biaya bagi mereka UKM yang tidak diperlukan
untuk mengeluarkan laporan berbasis GAAP. FRF untuk kerangka
UKM merupakan solusi biaya-bermanfaat bagi pemilik-manajer dan
orang lain yang membutuhkan laporan keuangan yang disusun secara
konsisten dan dapat diandalkan sesuai dengan kerangka kerja yang
telah mengalami komentar publik dan pengawasan profesional.
Prinsip-prinsip akuntansi menyusun FRF untuk UKM melaporkan
pilihan dimaksudkan untuk menjadi yang paling tepat untuk
penyusunan laporan keuangan usaha kecil berdasarkan kebutuhan
pengguna laporan keuangan dan pertimbangan biaya-manfaat. prinsip
akuntansi dalam FRF untuk kerangka UKM responsif terhadap isu-isu
terdokumentasi dengan baik dan kekhawatiran pemangku kepentingan
saat menghadapi ketika mempersiapkan laporan keuangan untuk
bisnis kecil pribadi.
The International Accounting Standards Board (IASB) telah diakui
oleh AICPA sebagai badan pengaturan standar akuntansi internasional
dan, sebagai hasilnya, IFRS untuk UKM dapat menjadi alternatif bagi
mereka UKM membutuhkan laporan keuangan GAAP. Meskipun
akan ada beberapa kesamaan antara FRF untuk kerangka UKM dan
IFRS untuk UKM, AICPA percaya bahwa FRF untuk UKM kerangka
23

akan lebih dimengerti dan lebih berguna pada saat ini karena secara
khusus ditulis untuk entitas AS. Selain itu, FRF untuk UKM kerangka
akan mengurangi perbedaan antara FRF untuk kerangka UKM dan
kode pajak AS. Misalnya, (LIFO) persediaan tidak diizinkan oleh
IFRS untuk UKM sedangkan akan diizinkan oleh FRF untuk kerangka
pelaporan UKM.
Secara umum, FRF untuk UKM mirip dalam banyak cara dengan
IFRS untuk UKM. Keduanya dimaksudkan untuk
disederhanakan,relevan, dan cost-effective untuk UKM. Selain itu,
keduanya berisi laporan keuangan dengan pengungkapan yang
ditargetkand dan mengandung sedikit panduan preskriptif.
Bagaimanapun, IFRS untuk UKM adalah GAAP sedangkan opsi
pelaporan FRF untuk UKM adalah kerangka tujuan khusus nonGAAP (basis akuntansi komprehensif lainnya atau OCBOA). Juga,
parameter mendefinisikan jenis entitas yang dimaksudkan untuk
memanfaatkan kerangka dan IFRS untuk UKM berbeda, yang mana
IFRS untuk UKM memiliki lingkup yang lebih ditentukan. Tabel
berikut menyajikan perbandingan antara FRF untuk UKM kerangka
akuntansi dengan IFRS untuk UKM untuk topik kunci tertentu.
4.3 ASIA
Asia merupakan sebuah benua di mana industri kecil dan menengah
berkembang dengan pesat. Sebagian besar pemerintahan negara-negara
di Asia melakukan upaya khusus untuk melindungi industri kecil dan
menengah. Usaha kecil menengah yang dibahas di sini diwakili oleh 3
24

negara yaitu Saudi Arabia (mewakili Timur Tengah), Korea Selatan


(mewakili Asia Timur), dan Thailand (mewakili Asia Tenggara).
a. Usaha Kecil dan Menengah di Arab Saudi
1) Kriteria UMKM di Arab Saudi
Perusahaan-perusahaan di bidang UMKM bervariasi baik dari segi
ukuran, jenis usaha, maupun lokasi beroperasi, misalnya perkotaan,
pedesaan, lokal, nasional maupun internasional. UMKM beroperasi
di semua kegiatan usaha, mulai dari perajin tunggal sampai
denganperusahaan permesinan atau perangkat lunak skala kecil.
Mereka menampilkan berbagai tingkat keterampilan, modal,
kecanggihan, dan orientasi pertumbuhan, tergantung pada ukuran
dan pasar yang mereka layani. Kriteria UMKM dapatberbedabedadi beberapa negara. Namun, parameter yang paling umum
digunakan adalah jumlah karyawan.
Adapun kriteria UMKM di Arab Saudi adalah sebagai berikut:
Tabel 6
Kriteria UMKM di Arab Saudi
Kategori Perusahaan
Mikro
Kecil
Menengah

Jumlah Karyawan
1-2
3-49
50-200

Pendapatan Tahunan
Kurang dari USD 27.000
USD 27,000-1.3 juta
USD 1,3-13.300.000

Sumber: SIDF
2) Lingkungan Bisnis UMKM di Arab Saudi
UMKM adalah tulang punggung dari setiap perekonomian yang
sukses dan berkelanjutan. UMKM merupakan bisnis lokal; Namun,
dengan meningkatnya globalisasi dan perdagangan antar negara,
25

UMKMdapat memanfaatkan peluang global. UMKM memiliki


pijakan yang kuat di Arab Saudi, sebagai hasil dari strategi
ekonomi keseluruhan regionalterkait diversifikasi dari sektor
minyak. Dengan jumlah 1,97 juta, UMKM mencakup hampir 90%
dari semua perusahaan di Arab Saudi. Hampir, 85% UMKM adalah
perusahaan pemilik tunggal. UMKM merupakan kunci untuk
membuka potensi besar ekonomi Arab Saudi.
Gambar 1
Distribusi UMKM berdasarkan sektor

Meskipun menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi


tercepat di dunia, Arab Saudi menunjukkan kontribusi yang relatif
rendah dari sektor UMKM, dalam hal PDB dan tingkat penyerapan
tenaga kerja. Kontribusi UMKM terhadap PDB adalah sebesar
33%, yang terbilang rendah bila dibandingkan dengan negaranegara maju. Sebagai contoh, UMKM Spanyol dan Amerika

26

Serikat masing-masing berkontribusi sebesar 63% dan 50%


terhadap PDB.

Grafik 1
Kontribusi UMKM terhadap GDP Arab Saudi tahun 2014

Dengan lebih dari 4,5 juta karyawan, UMKM menyerap hampir


25% tenaga kerja, tapi karena sebesar 74% UMKM bergerak di
sektor komersial dan konstruksi, mereka banyak mempekerjakan
tenaga kerja migran. Pekerja yang merupakan warga negara Arab
Saudi tidak lebih dari 10% dari total tenaga kerja yang
dipekerjakan oleh UMKM.
3) Standar Akuntansi untuk UMKM di Arab Saudi

27

Standar akuntansi Arab Saudi (GAAP Saudi) dikeluarkan oleh


Saudi Organization for Certified Public Accountants (SOCPA) atau
Organisasi Akuntan Publik Arab Saudi yaitu organisasi profesional
yang beroperasi di bawah pengawasan Kementerian Perdagangan.
Standar ini berlaku untuk semua jenis perusahaan, termasuk yang
bergerak di bidang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
Saat ini standar akuntansi di Arab Saudi sedang dalam masa transisi
kepada konvergensi IFRS. Proyek penerapan IFRS pada standar
akuntansi di Arab Saudiini merupakan hasil dari pertemuan Dewan
Pengurus SOCPA, yang diadakan pada tanggal 18 Februari 2012.
Penerapan IFRS di Saudi akan sama dengan standar yang
dikeluarkan oleh IASB dengan kemungkinan modifikasi dalam
beberapa hal berikut:
Menambahkan pengungkapan lebih mendalam;
Menghapus perawatan opsional;
Mengubah peraturan yang bertentangan dengan Syariah atau
hukum setempat
Penerapan IFRS pada standar akuntansi Saudi paling cepat akan
dilakukan untuk periode yang dimulai pada atau setelah 1 Januari
2017, untuk perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa saham.
Sedangkan untuk entitas lain, termasuk UMKM, tanggal awal
untuk penerapan IFRS adalah pada atau setelah 1 Januari 2018.

28

Gambar 2
Timeline Transisi Standar Akuntansi menuju IFRS di Arab Saudi

Sumber: Muhammad Asif Iqbal: SOCPA IFRS Transition Project


Timeline Transisi Standar Akuntansi Arab Saudi menuju IFRS:
31 Desember 2014 s.d. 31 Desember 2015: penggunaan standar
akuntansi yang lama
1 Januari 2016 s.d. 31 Desember 2016: masa transisi menuju
IFRS
31 Maret 2017: tanggal pelaporan interim pertama
menggunakan IFRS
31 Desember 2017: tanggal pelaporan tahunan pertama
menggunakan IFRS
Saat ini perusahaan-perusahaan di Arab Saudi, termasuk UMKM
masih menggunakan standar akuntansi yang diterbitkan oleh

29

SOCPA. Adapun perbedaan utama antara Standar Akuntansi


SOCPA dengan IFRS adalah sebagai berikut:
Tabel 7
Perbedaan SOCPA dan IFRS
No.

Elemen

SOCPA
Standards

1.

Penyajian
Laporan
Keuangan

Utang
yang
dalam
perjanjian akan dibayar
tidak dengan current
assets
seharusnya
dikeluarkan dari utang
jangka pendek sebelum
menerbitkan
laporan
keuangan.

Klasifikasi Utang

Accounting IFRS
Utang diklasifikasikan
sebagai utang jangka
panjang hanya jika
proses
pembiayaan
kembalinya
selesai
sebelum akhir periode
pelaporan

Contoh:

2.

Penyajian
Laporan
Keuangan
Extra
items

3.

ordinary

Persediaan
Metode Penilaian

- Pinjaman
jangka
pendek yang akan
dibayar dari hasil
pinjaman
jangka
panjang
- Utang usaha yang
akan dibayar dengan
menerbitkan saham
Mengharuskan
pengungkapan
Extraordinary
items
secara khusus

- Diutamakan
penggunaan Metode
Rata-rata Tertimbang
untuk item persediaan
yang sejenis.
- Penggunaan metode
LIFO
masih
30

IAS
1
tidak
memperbolehkan akun
apapun diklasifikasikan
sebagai extraordinary
items
- Penggunaan metode
LIFO
tidak
diperbolehkan
- Perusahaan
dapat
memilih
menggunakan FIFO
atau
Rata-rata

diperbolehkan

4.

Aset Tetap
Pengukuran
setelah pengakuan
awal

5.

Laporan
Kas

6.

Aset Tetap

Arus Hanya
menggunakan
indirect method pada
penyajian
laporan
Direct vs Indirect
keuangan standar
Method

Penyusutan
komponen
aset
7.

- Dicatat berdasarkan
harga
perolehan
dikurangi akumulasi
penyusutan
dan
impairment losses
- Penilaian
kembali
(revaluasi)
tidak
diperbolehkan

Tidak diatur
pada
dari

Aset Tetap

Penyusutan
tidak
dibebankan untuk aset
Penyusutan dari
tetap
yang
sudah
aset yang tidak
ditetapkan akan segera
terpakai
(iddle
dihapuskan
asset)
31

Tertimbang sebagai
metode
penilaian
persediaan
- Benchmark
treatment Dicatat
berdasarkan harga
perolehan dikurangi
akumulasi
penyusutan
dan
impairment losses
- Alternative
treatment

Diperbolehkan
mencatat
aset
berdasarkan
nilai
wajar
- Revaluasi
diperbolehkan
- Dapat menggunakan
metode
langsung
atau metode tidak
langsung
- IAS
7
merekomendasikan
penggunaan metode
langsung
pada
penyajian
laporan
arus kas, khusunya
pada pos kas bersih
dari aktivitas operasi
Komponen dari aset
yang berbeda jenis atau
kegunaannya
harus
disusutkan
secara
terpisah
Harus tetap dibebankan
penyusutannya
meskipun sudah tidak
digunakan.
Namun,
tidak
dibebankan
penyusutan iddle asset

yang akan dijual.


- Tidak diatur
- Peraturan
tentang
Hibah
dari
hibah dari pemerintah
Pemeintah
di
Saudi
mengharuskan hibah
dari pemerintah agar
dicatat di pos ekuitas
pemilik.
Aset Tetap
Dilakukan reviu hanya
jika terdapat indikasi
Pengukuran
perubahan kondisi aset
kembali
masa
manfaat,
nilai
residu dan metode
penyusutan

Hibah pemerintah yang


diterima
perusahaan
berupa aset tetap dapat
menjadi
pengurang
harga perolehan aset
yang tercatat

10.

Aset Tetap

Aset yang dibangun


sendiri diakui sebesar
Pengakuan untuk
harga perolehan atau fair
aset
yang
value (nilai wajar), mana
dibangun sendiri
yang lebih rendah. Selisih
antara harga perolehan
dan nilai wajar tersebut
dibebankan pada periode
dimana aset tersebut siap
digunakan.

Perlakuannya
sama
dengan aset lain yang
diperoleh
dengan
pembelian, dsb.

11.

Aset Tetap

Hanya kerugian yang


diakui pada saat menjadi
Kompensasi untuk
piutang. Unrealized gains
penururnan nilai
tidak diakui.
aset (impairment)

Kompensasi dari pihak


ketiga
untuk
impairment
atau
kerugianpenurunan nilai
aset dicatat pada saat
kompensasi
menjadi
piutang

12.

Aset
Berwujud

Tidak
dikapitalisasi

8.

9.

Aset Tetap

Tak Dapat dikapitalisasi

Dilakukan reviu setiap


tahun

dapat

Biaya
pendirian
perusahaan
13.

Aset

Tak Harus dicatat berdasaran Dapat


32

dicatat

BerwujudPencata harga
tan
setelah dikurangi
pertama
kali amortisasi
diakui
for

perolehan berdasarkan
harga
akumulasi perolehan atau nilai
wajar

14.

Accounting
investment
properties

15.

Transaksi Mata Transaksi


yang
uang asing
menggunakan mata uang
asing
diakui
dan
dilaporkan dalam Riyal
Saudi

16.

Zakat
perpajakan

17.

Sewa

dan

Dicatat berdasarkan harga Harga perolehan atau


perolehan.
Informasi nilai wajar
tentang
nilai
wajar
dituangkan di catatan atas
laporan keuangan
Transaksi
yang
menggunakan
mata
uang asing dicatat pasa
saat pengakuan awal,
dengan
functional
currency, yang mungkin
berbeda dengan mata
uang yang digunakan
dalam laoran keuangan

- Zakat dicatat dalam - income tax dicatat


laporan laba rugi jika
pada laporan laba
perusahaan dimiliki
rugi
seluruhnya
oleh - tidak ada aturan
khusus terkait zakat
shareholders
Arab
Pajak
tangguhan
Saudi, jika tidak maka
disediakan
untuk
masuk ke dalam pos
semua beda waktu
ekuitas
kena pajak
- Income tax dicatat
dalam laporan laba
rugi jika perusahaan
dimiliki
seluruhnya
oleh
shareholders
Arab Saudi, jika tidak
maka masuk ke dalam
pos ekuitas
- persyaratan
pajak
tangguhan
sama
dengan IFRS tapi
IFRS jauh lebih rinci
Untuk
dapat Prinsip dasarsubstance
33

pembiayaan(fina
nce lease)

diklasifikasikan sebagai
sewa pembiayaan harus
memenuhi minimal salah
satu dari 4 kriteria
berikut:
- 90% dari nilai aset
- 75%
dari
masa
manfaat aset
- Opsi
pembelian
dengan harga murah
(Bargain
purchase
option)
- Transfer kepemilikan
di akhir masa leasing

over form Transfer


seluruh
risiko
dan
manfaat
secara
substantial kepemilikan
harus dipertimbangkan
saat
menentukan
klasifikasi sewa

Sumber: Diolah dari Muhammad Asif Iqbal: Saudi Accounting Framework in


comparison with IFRS Framework

b. Usaha Kecil dan Menengah di Korea Selatan


UKM di Korea Selatan didefinisikan sebagai suatu perusahaan yang
mempekerjakan kurang dari 300 orang dan yang mempunyai modal
dasar kurang dari 8 juta won. Selain itu suatu perusahaan dapat
diklasifikasikan sebagai UKM kalau perusahaan tersebut bukan salah
satu dari 30 perusahaan besar nasional dan sudah beroperasi selama
kurang lebih tiga tahun.
Karakteristik dasar UKM di Korea Selatan adalah sebagai berikut :
UKM dijadikan sebagai subkontraktor chaebol (konglomerat
raksasa) sebagai kebijakan pemerintah
Mempunyai orientasi ekspor
Adanya persaingan internal

34

1) Lembaga Pemerintah yang Menangani UKM di Korea


Lembaga yang menangani UMKM di Korea Selatan adalah SMBA
(Small and Medium Business Administration). Small Medium
Business Administration (SMBA) berfungsi untuk
mengembangkan dan mengimplementasikan kebijakan-kebijakan
yang terkait dengan UKM di Korea Selatan. SMBA mengarahkan
kebijakannya kepada perubahan struktur dan peningkatan daya
saing internasional UKM. Pemerintah Korea Selatan membantu
UKM mengembangkan kapabilitasnya. Selain itu kebijakan
pemerintah juga menekankan pada pembangunan sistem dimana
penghargaan dibuat dengan se-adil mungkin sesuai dengan
kompetisi pasar dan menciptakan suatu iklim dimana UKM dan
perusahaan ventura dapat berkontribusi dalam meningkatkan
pertumbuhan ekonomi nasional.
2) Kebijakan terhadap UKM di Korea Selatan
Ada paling sedikit 8 kebijakan dalam rangka pemberian bantuan
kepada UKM yaitu :
Pendirian UKM baru dan pengembangan UKM,
Peningkatan sistem inovasi teknologi UKM,
Penciptaan lingkungan usaha yang kondusif bagi pengelolaan

UKM,
Peningkatan informasi bagi UKM,
Perluasan pasar domestik dan internasional bagi UKM,
Peningkatan peran dan perluasan industri UKM,
Pengembangan sistem pendukung yang efisien tehadap UKM,
Pemberian insentif pajak kepada UKM dan badan yang terkait
dengan UKM.
35

3) Perkembangan UKM di Korea Selatan


Dari data yang dirilis SMBA, pada 2014 terdapat 3.542.350 UKM
dengan jumlah karyawan adalah 14.027.636. Dalam hal jumlah,
UKM membentuk 99% dari total perusahaan yang ada dan mampu
menyerap sebesar 87,9% dari total lapangan kerja. Dibandingkan
dengan tahun sebelumnya, jumlah perusahaan meningkat sebesar
126.487 dan peningkatan jumlah karyawan sebanyak 606.042.
Tabel 8
Perkembangan Jumlah UKM dan Karyawan di Korea Selatan
tahun 2010 s.d 2014

Sumber: http://www.smba.go.kr/eng/smes/status.do?mc=usr0001147
Dari data diatas, nampak perkembangan dari tahun ke tahun, baik
jumlah UKM maupun banyaknya penyerapan tenaga kerja.
Peningkatan ini ditunjang oleh kebijakan-kebijakan yang
dikeluarkan oleh pemerintah yang mendorong kepada
pengembangan UKM di Korea Selatan. Kegiatan yang dilakukan
pemerintah adalah mendorong berkembangnya perusahaan ventura
dan UKM; menciptakan lingkungan yang kondusif terhadap
tumbuhnya investasi bagi UKM dan perusahaan ventura; perluasan
36

pembangunan infrastruktur bagi pertumbuhan usaha baru yang


berkelanjutan; dan mempromosikan jiwa wiraswasta; serta
mendukung usaha ventura untuk menciptakan pasar internasional.
secara grafik, berikut ini adalah tren perkembangan UKM di Korea
Selatan dari tahun 2010 sampai dengan 2014.
Grafik 2

Sumber: Diolah dari www.smba.go.kr


Sedangkan, tren kenaikan jumlah penyerapan tenaga kerja dari
UKM pada tahun 2010 sampai dengan 2014, disajikan dalam grafik
berikut ini:
Grafik 3

37

Sumber: Diolah dari www.smba.go.kr


4) Sistem Akuntansi UKM di Korea Selatan
Korean Accounting Standards Board (KASB) telah mengadopsi
SAK sebagai Korean IFRS (K-IFRS). K-IFRS benar-benar identik
dengan IFRS IASB kecuali perbedaan waktu untuk IFRS baru
diterbitkan. K-IFRS terus mengikuti perubahan IFRS. K-IFRS
diaplikasikan penuh pada tahun 2011. Adopsi penuh IFRS
diputuskan sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan
transparansi akuntansi dan untuk menunjukkan kemauan yang kuat
untuk mengambil bagian dalam gerakan internasional terhadap satu
set standar akuntansi global yang berkualitas tinggi.
Perusahaan-perusahaan yang terdaftar wajib menerapkan K-IFRS
sejak tahun 2011. Selain itu, Lembaga keuangan terdaftar dan
Perusahaan milik Negara juga wajib menerapkan IFRS. Sedangkan
untuk perusahaan yang tidak terdaftar, dapat memilih untuk
menerapkanya. Penggunaan penuh IFRS dilakukan Korea Selatan
termasuk Negara yang paling banyak mengacu pada IFRS
mengingat tidak hanya perusahaan yang go public, perusahaan
privat dan UKM pun banyak yang menggunakan IFRS dalam
38

penyusunan laporan keuangannya dimana IFRS yang dianut adalah


IFRS yang dipublikasikan langsung oleh IASB.
5) Standar Akuntansi Korea untuk Entitas Non-publik
KASB telah mengembangkan Standar Akuntansi Korea untuk
Entitas Non-Publik berdasarkan GAAP Korea yang ada dengan
beberapa modifikasi. Standar Akuntansi Korea untuk Entitas NonPublik yang diterbitkan pada tahun 2009. KASB mengharapkan
untuk bertemu standar untuk entitas non-publik dengan IFRS untuk
UKM 'dalam jangka panjang'.
Perusahaan Terdaftar (dengan pengecualian dari lembaga keuangan
dan perusahaan milik negara) memiliki pilihan antara SAK penuh
dan Standar Akuntansi Korea untuk Entitas Non-Publik. Sistem
hukum yang dianut Korea Selatan adalah hukum kode.
Perusahaan tidak terdaftar yang tunduk pada audit eksternal dapat
menggunakan Korea GAAP (Standar Akuntansi untuk Non Entitas Umum) kecuali mereka memilih untuk menggunakan
Standar IFRS penuh. Juga, Standar Akuntansi UKM baru bagi
perusahaan yang tidak terdaftar selain yang dikenakan audit
eksternal akan berlaku pada tanggal 1 Januari tahun 2014.
c. Usaha Kecil dan Menengah di Thailand
Thailand telah dan sedang terus menggalakkan program yang gencar
untuk menciptakan wirausahawan baru di negara itu. UKM di
Thailand merupakan penggerak kedua perekonomian setelah
39

pertanian. Sumbangan UKM pada Pendapatan Domestik Bruto (PDB)


Thailand rata-rata mencapai sekitar 14 persen. Pada 2006, UKM di
Thailand berhasil menyediakan lapangan kerja bagi 76 juta jiwa.
Bandingkan dengan usaha kecil yang hanya melibatkan 23 juta
penduduk.
Thailand bahkan mendirikan sebuah lembaga pengkatalis lahirnya
wirausahawan baru yakni Inkubator Bisnis dan Teknologi (IBT) pada
2005. IBT itu langsung didukung sepenuhnya oleh NSTDA (National
Science and Technology Development Agency), Ministry of Science
and Technology di negara itu. IBT induk dibangun di kawasan Thai
Science Park. Di kawasan itu juga telah didirikan empat pusat
penelitian yakni bioteknologi, teknologi bahan baru, teknologi
elektronika dan IT, serta nanoteknologi. Kemudian IBT di berbagai
perguruan tinggi didirikan pula dengan memperoleh dukungan penuh
dari NSTDA.
Gambar 3
Kontribusi UKM di Thailand terhadap GDP tahun 2008

40

1) Langkah Thailand Memajukan Industri Kecil dan Menengah


Thailand secara khusus melakukan langkah-langkah berikut
sebagai upaya untuk memajukan UKM di negara tersebut:
Pertama, Federasi Industri Thailand melakukan pemangkasan pajak
bagi UKM dengan omzet di bawah 200 juta baht dan keuntungan di
bawah 5 juta baht. Perusahaan dengan kriteria tersebut tidak
membayar pajak di atas 5 persen.
Sementara perusahaan dengan omzet tahunan 200 juta baht dan
omzet di bawah 10 juta baht mendapat beban pajak kurang dari 10
persen. Untuk penghasilan di bawah 20 juta baht, pajak tidak lebih
dari 15 persen. Dilakukan amnesti pajak bagi UKM agar semakin
banyak UKM terdaftar sebagai wajib pajak. Diperkirakan ada 6070 persen UKM tidak membayar pajak sesuai aturan.
Kedua, para pengusaha mendapat pinjaman dengan bunga lunak
dari bank milik pemerintah.

41

Ketiga, pemerintah menyederhanakan visa, terutama untuk


pemegang visa Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Ingggris,
Jepang atau Australia.
Aturan itu untuk mendorong industri pariwisata tahun ini. Sekitar
12 miliar baht diperkirakan datang dari peningkatan wisatawan
dengan jumlah 300 ribu orang, kata Presiden Dewan Pariwisata
Thailand, Ittirith Kinglake.
Keempat, pemerintah menghilangkan pajak Air Conditioner (AC)
berkapasitas 62 ribu British Therman Units. Sebab, AC bukan lagi
barang mahal. Akibatnya, museum menjadi panas.
Tabel 9

Kelima, pemerintah memperbaiki laboratorium untuk


pengendalian mutu. Hal ini demi menjamin mutu produk ekspor
Thailand.

42

Keenam, Kementerian Pertanian meningkatkan dukungan terhadap


produksi komoditas strategis. Komoditas itu adalah jagung, ubi,
produk kelapa sawit dan gula.
Ketujuh, pemerintah memperlebar ruang gerak sektor swasta dalam
sistem rel kereta api. Ini mencakup keterlibatan mereka dalam jasa
dan operasi.
2) Sistem Akuntansi UMKM di Thailand
Thailand adalah salah satu negara di Asia Tenggara yang berhasil
menghindari penjajahan. Tetapi sistem akuntansi di negara ini
menghargai transparansi dan kebutuhan informasi investor, mirip
dengan negara Anglo-Amerika. Setelah krisis keuangan tahun
1997. Thailand menerapkan reformasi untuk meningkatkan
kerjasama pemerintah dan meningkatkan investasi untuk kompetisi.
Perekonomian Thailand pulih dengan cepat dan mengalami
pertumbuhan yang bagus. Tingkat kemiskinan juga menurun
sebagai akibat dari penguatan ekonomi.
Standar akun dikeluarkan oleh ICAAT, yang didirikan pada tahun
1948. tetapi, standar akuntansi Thailand harus disetujui oleh
menteri keuangan dan ditempatkan secara hukum sebelum
perusahaan

menggunakan

mereka.

Sekarang

ICAAT telah

mengadopsi 21 dari seluruh standar IAS.


Komisi bursa saham Thailand mensyaratkan bahwa semua
perusahaan yang mendaftarkan diri pada SET (bursa saham
Thailand) harus diaudit oleh auditor eksternal dan independen.

43

Lebih jauh lagi perusahaan yang ingin mendaftarkan diri dalam


bursa harus memenuhi beberapa persyaratan yang dibutuhkan oleh
investor. Sebagai tambahan , ini sudah diputuskan bahwa
pengawasan perusahaan yang sudah masuk ke dalam bursa saham
yang dulunya dilakukan oleh menteri keuangan sekarang di
pindahkan ke Thailand SEC yang mana akan menghasilkan
peraturan organisasi dan penekanan hukum ke perusahaan yang
sudah terdaftar dalam busrsa saham.
Prinsip akuntansi yang berlaku umum di Thailand (Thai GAAP)
didasarkan pada IASs dan SAK. Hanya beberapa Thai Standar
Akuntansi (Tass) seperti akuntansi atas restrukturisasi kredit
bermasalah, akuntansi untuk perusahaan investasi, hutang piutang
dan utang buruk, dan pengakuan pendapatan untuk bisnis real estat
berasal dari US GAAP relevan. Federasi Profesi Akuntansi (TPI)
berencana untuk mengadopsi sepenuhnya SAK sebagai GAAP
Thailand untuk perdagangan aktif lima puluh perusahaan yang
terdaftar di Bursa Efek Thailand (SET 50) pada tahun 2011. Setelah
itu, adopsi penuh SAK oleh SET 100 yang direncanakan untuk
2013. Sisa dari perusahaan yang terdaftar dan perusahaanperusahaan yang terdaftar di Pasar Investasi Alternatif (MAI) harus
sepenuhnya mengadopsi SAK pada tahun 2015.
Para IASs dan SAK yang akan sepenuhnya diterapkan ke semua
perusahaan yang terdaftar sebagaimana dimaksud adalah yang
diterbitkan dalam volume terikat pertama 2009 (IFRS 2008). Bagi

44

perusahaan publik tidak terdaftar, TPI berencana untuk


menerbitkan Tass dan TFRSs yang setara dengan IASs dan 2006
SAK versi (IFRS 2006) untuk diterapkan di 2011. Namun, FAP
dapat mengeluarkan pemberitahuan untuk memberikan
pengecualian untuk beberapa Tass dan TFRSs yang terlalu sulit
untuk diterapkan oleh perusahaan non-publik.
3) Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Akuntansi Negara
Thailand
Sumber Pendanaaan
Sumber pendanaan dari negara Thailand berasal dari Ekonomi
Thailand yang bergantung pada ekspor, dengan nilai ekspor
sekitar 60% PDB. Kepulihan Thailand dari Krisis Finansial Asia
pada 1997-1998 banyak tergantung permintaan luar dari
Amerika Serikat dan pasar asing lainnya. Sekitar 60% dari
seluruh angkatan kerja Thailand dipekerjakan di bidang
pertanian. Beras adalah hasil bumi yang paling penting.
Thailand adalah eksportir besar di pasar beras dunia. Komoditi
pertanian lainnya yang dihasilkan dengan jumlah yang cukup
besar adalah ikan dan produk-produk perikanan lainnya, tapioka,
karet, biji-bijian, dan gula. Ekspor makanan jadi seperti tuna
kaleng, nenas dan udang beku juga sedang meningkat. Dengan
mengekpor apa yang dimiliki negara Thailand seperti beras
maupun produk-produk lain dapat membuat pendapatan negara
Thailand bertambah. Dengan bertambahnya pendapatan dapat

45

dijadikan pendanaan bagi negara. Semakin banyak pendapatan


yang dihasilkan maka semakin besar juga pendanaan atau
pembelanjaan yang dapat dikeluarkan oleh negara Thailand.
Sumber Hukum
Pendiri hukum Thailand modern adalah Pangeran Rabi dari
Ratchaburi yang memainkan peran utama dalam
memperkenalkan sistem modern administrasi peradilan.
Penyusunan Kode Sipil dan komersial dimulai pada masa
pemerintahan Raja Rama V dan selesai pada masa pemerintahan
Raja Rama VII. Revolusi 1932 memiliki efek penting pada
sistem hukum dan peradilan Thailand karena mengubah bentuk
pemerintahan dari monarki absolut menjadi monarki
konstitusional. Konstitusi vested kekuasaan kehakiman dengan
Pengadilan. Hakim melaksanakan tugasnya atas nama Raja dan
terjamin kemandirian dalam kasus mengadili menurut hukum
yang berlaku.
Perpajakan
Informasi pajak Thailand perpajakan umum atas penghasilan,
bagaimana itu dihitung, kapan harus membayar pajak , apa ada
pembebasan dan banyak lagi. Semua individu, apakah asing atau
Thai , yang bekerja di Thailand atau memiliki penghasilan kena
pajak harus mengajukan permohonan untuk nomor identifikasi
wajib pajak yang dikeluarkan oleh Departemen Pendapatan pada
presentasi dari kartu identitas atau paspor asing Thailand dan
46

bukti dari kebutuhan untuk nomor tersebut. Ada tarif pajak yang
lebih rendah untuk perusahaan UKM dan kemitraan hukum ,
berarti dalam kasus ini, suatu entitas dengan tidak lebih dari 5
juta Baht modal disetor . Posisi pajak adalah sebagai berikut : di mana laba bersih kurang dari 150.000 Baht dalam periode
akuntansi : tidak ada pajak - di mana laba bersih lebih dari
150.000 Baht tetapi kurang dari 1 juta Baht dalam periode
akuntansi : pajak 15 persen - di mana laba bersih melebihi 1 juta
Baht dalam periode akuntansi : 23 persen pajak untuk periode
akuntansi yang dimulai dari 1 Januari 2012 , dan pajak 20
persen untuk periode akuntansi terhitung sejak 1 Januari 2013
Kantor pajak utama di Bangkok , tetapi ada Departemen
Pendapatan kantor cabang di seluruh Thailand . Kantor Utama
juga memiliki personel berbahasa Inggris yang dapat membantu
dengan pajak pengarsipan, informasi umum atau untuk mencari
cabang.
Ikatan Politik dan Ekonomi
Politik Thailand saat ini dilakukan dalam kerangka monarki
konstitusional , dimana Perdana Menteri adalah kepala
pemerintahan dan raja turun-temurun adalah kepala negara .
Peradilan adalah independen dari eksekutif dan legislatif .
Kerajaan Thailand dan Kerajaan Siam akhir berada di bawah
kekuasaan absolut raja- raja . Namun, setelah ' revolusi
demokratik ' pada tahun 1932 , dipimpin oleh birokrat dan

47

militer kebarat-baratan yang berorientasi tradisional , negara


resmi menjadi di bawah monarki konstitusional dengan perdana
menteri sebagai kepala pemerintahan. Konstitusi tertulis pertama
dikeluarkan. Namun politik menjadi arena pertempuran antara
faksi-faksi elit lama dan baru , birokrat , dan jenderal . Kudeta
terjadi dari waktu ke waktu , sering membawa negara di bawah
pemerintahan junta belum lain . Sampai saat ini Thailand telah
memiliki tujuh belas charter dan konstitusi , yang mencerminkan
tingkat tinggi ketidakstabilan politik . Setelah kudeta berhasil ,
rezim militer telah dibatalkan konstitusi yang ada dan
diumumkan charter interim . Negosiasi antara politisi , orang
berpengaruh dan jenderal telah menjadi faktor utama untuk
pemulihan stabilitas politik sementara.
Inflasi
Maret, harga konsumen naik 0,22% dari bulan sebelumnya,
yang hampir tidak berubah dari kenaikan 0,23% yang diamati
pada bulan Februari. Menurut Departemen Perdagangan,
kenaikan Maret adalah hasil dari kenaikan harga untuk makanan
dan minuman non-alkohol serta untuk transportasi dan
komunikasi. Inflasi tahunan naik tipis dari 2,0% pada bulan
Februari menjadi 2,1% pada bulan Maret. Hasilnya adalah setara
dengan ekspektasi pasar. Harga konsumen inti, yang
mengecualikan energi dan harga pangan segar, turun sedikit dari
0,27% pada Februari menjadi 0,08% pada bulan Maret. Selain

48

itu, inflasi inti tahunan naik tipis menjadi 1,3% (Februari: 1,2%).
Inflasi inti masih dalam kisaran target bank sentral sebesar 0,5%
-3.0%. The Bank of Thailand memproyeksikan inflasi akan ratarata 2,4% pada tahun 2014. Focus Economics Consensus
Forecast panelis memperkirakan inflasi rata-rata 2,8% pada
tahun 2014, yang turun 0,1 poin persentase dari Konsensus
bulan lalu. Untuk tahun 2015, panelis melihat rata-rata inflasi
sebesar 3,1%.
Tingkat Perkembangan Ekonomi
Pada tahun 2010 ekonomi negara thailand akan tumbuh lebih
dari 7% setahun ini namun melambat pada tahun 2011,
walaupun awal tahun adanya kekerasaan dan bencana. Berikut
merupakan beberapa faktor untuk menunjang Perekonomian
dinegara Thailand. 1. Pertanian (agrikultur) Hasil pertanian yang
utama di Thailand Beras, singkong (tapioca), karet, jagung, tebu,
kelapa, kacang kedelai 2. Pertambangan Hasil pertambangan
meliputi timah (hasil pertambangan utama), tembaga, minyak
dan gas, biji besi, emas, timbal, dan wolfram. 3. Industri Industri
yang dikembangkan masih bersifat industri pengolahan hasil
alam, seperti pengolahan beras, pengolahan karet mentah,
pemintalan benang, tekstil, semen, dan berbagai produk olahan
minyak bumi. Saat ini mulai berkembang industri perakitan
komponen elektronika dan otomotif. 4. Pariwisata Pemerintah
Thailand menggabungkan konsep wisata alam dan wisata

49

budaya. Salah satu objek wisata alam yang terkenal adalah


Pantai Pattaya di Teluk Siam dan panorama indah pegunungan
di Chiang Mai (Pegunungan Utara). Wisata budaya berupa
bangunan-bangunan sejarah atau tarian khas Thailand.
Tingkat Pendidikan
Dalam acara rapat dengan Atase Pendidikan (atdik) yaitu untuk
pemantapan program kerja dan pembinaan Sekolah Indonesia
Luar Negeri di Bangkok (SILN), telah di paparkan tentang
sistem pendidikan di Thailand. Dalam paparan tentang sistem
pendidkan di Thailand ternyata ada kesamaan dengan sitem
pendidikan di Indonesia dan ada juga perbedaanya. Berikut ini
penjelasannya. Sistem pendidikan di Thailand terbagi menjadi 3,
yaitu : pendidikan formal, pendidikan non-formal dan
pendidikan informal.Untuk sistem pendidikan formal terdiri dari
pendidikan dasar dan pendidikan tinggi. sedangkan sistem
pendidikan non-formal terdiri dari : program sertifikat kejuruan,
program short course sekolah kejuruan dan interest group
program. Wajib belajar di Thailand adalah wajib belajar 9 tahun,
dengan rincian grade sebagai berikut : Pendidikan play group
dan TK usia 3-6 tahun Pendidikan Sekolah dasar (selama 6
tahun), grade 1-6 Pendidikan Sekolah Menengah (selama 3
tahun), grade 7-9 Pendidikan Sekolah Menengah atas (selama
3 tahun), grade 10-12 Untuk grade 7-12 dalam satu kompon
sekolahan, mereka tak harus mendaftar lagi , sudah otomatis

50

melanjutkan di sekolah itu. Ujian Nasional (UN) di Thailand


dikoordinasikan oleh Bureu of Education Testing Office dari
Komisi Pendidikan Dasar yang memakai Sistem Ordinary
National Education Test (O-net). UN di wajibkan untuk grade 3,
6, 9 dan 12. Ada 8 mata pelajaran yang di-UN kan yaitu : 1.
Bahasa Thai 2. Matematika 3. Science 4. Ilmu sosial 5. Agama
dan Kebudayaan 6. Bahasa asing 7. Health dan Physical
Education 8. Art, Career dan Technology Sedangkan siswa dari
grade 1,2,4,5,7,8,10 dan 11, mengikuti ujian kelas dari sekolah
masing-masing yang mengacu dari Office of Academic affair ,
Kementrian Pendidikan Thailand, secara serentak. Mudahmudahan dapat menambah wawasan kawan-kawan.
Budaya
Budaya dari Thailand menggabungkan kepercayaan budaya dan
karakteristik adat ke daerah yang dikenal sebagai Thailand
modern ditambah dengan banyak pengaruh dari India kuno,
Cina, Kamboja, bersama dengan tetangga pra-sejarah budaya
Asia Tenggara . Hal ini dipengaruhi terutama oleh Animisme,
Hindu, Buddha , serta oleh migrasi kemudian dari Cina , dan
selatan India.
4.4 AFRIKA
a. Standar Akuntansi untuk Usaha Kecil dan Menengah di Afrika
Menurut kantor akuntan publik Pricewaterhouse-Cooper, hanya
negara-negara dengan latar belakang koloni Anglo-Saxon yang
51

mengikuti standar akuntansi IFRS (dengan sedikit modifikasi).


Negara-negara tersebut adalah:
(1) Afrika Selatan
(2) Namibia
(3) Swaziland
(4) Botswana
(5) Zimbabwe
(6) Mozambique
(7) Zambia
(8) Malawi
(9) Tanzania
(10) Uganda
(11) Kenya
(12) Ghana
Tunisia dan Aljazair tidak menggunakan IFRS, namun menggunakan
standar akuntansi nasional yang diadaptasi dari IFRS. Praktik
akuntansi di negara-negara yang tidak mengadopsi IFRS mengacu
pada standar akuntansi yang ditetapkan oleh ikatan akuntansi di
masing-masing negara, contohnya adalah Egyptian Accounting
Standards (EAS) yang ditetapkan oleh Egyptian Society of
Accountants and Auditors (ESAA) di Mesir. Badan lokal tersebut
tidak menetapkan standar akuntansi khusus untuk usaha kecil dan
menengah.
Gambar 4
Peta Penerapan IFRS di Afrika

52

Keterangan: Hijau tua: negara-negara yang mengadopsi IFRS


Hijau muda: negara-negara yang mengadaptasi IFRS
Sumber: Data: PwC; Peta: Karya sendiri
Penerapan IFRS di 12 negara di Afrika tersebut menimbulkan
permasalahan tersendiri. Solomon Zori (2012) berpendapat bahwa
IFRS merupakan standar yang memiliki sifat yang tidak stabil, dan
pertimbangan negara-negara Afrika untuk mengadopsi standar
tersebut adalah suatu hal yang mengejutkan. Menurutnya, penerapan
IFRS di Afrika merupakan hal yang mungkin, namun fakta bahwa
IFRS diharapkan untuk bisa diterapkan di negara-negara yang bahkan
tidak memiliki pasar modal adalah hal yang membingungkan. Afrika
memiliki kondisi politik, sosial, dan ekonomi yang beragam, dan jelas
memiliki kebutuhan informasi yang berbeda dari satu negara-negara
maju dan terindustrialisasi lainnya. Zori juga menunjukkan fakta
bahwa negara-negara yang sangat terindustrialisasi berkonvergensi
kepada IFRS dengan persyaratan-persyaratan tersendiri, atau dengan
kata lain, memilah-milah aturan mana yang cocok dengan kebutuhan
53

negara-negara tersebut. Sedangkan di Afrika dan banyak negaranegara berkembang lainnya, IFRS diharapkan untuk diadopsi secara
menyeluruh.
Dalam kaitannya dengan usaha kecil dan menengah, Zori menyatakan
bahwa biaya penerapan IFRS di Afrika mungkin tidak sesuai dengan
manfaat yang diperoleh. Adopsi IFRS di Afrika didorong oleh
perusahaan audit big four, mengingat keterlibatan besar mereka dalam
penyusunan IFRS yang terdokumentasi dalam literatur. Afrika
memerlukan sumber daya ahli untuk mendampingi transisi perubahan
standar menuju IFRS untuk memastikan kelancarannya, yang berarti
menggunakan jasa dari perusahaan big four tersebut. Oleh karena itu,
jelas penerapan IFRS di Afrika menguntungkan bagi mereka. Ia
menulis:
Manfaat nyata dari IFRS yang sulit untuk dihitung secara
moneter, tetapi mungkin lebih mudah untuk mengukur biaya
implementasi. Para pendukung IFRS berpendapat bahwa,
dengan mengadopsi IFRS, entitas kemungkinan akan
mengurangi biaya modal. Sayangnya, tidak ada bukti kuat
bahwa biaya modal mengurangi setelah mengadopsi IFRS.
Biaya implementasi IFRS jauh melebihi manfaat kecuali suatu
negara memiliki pasar saham yang berkembang dengan baik
dengan peserta ekuitas bersedia membayar premi untuk
pelaporan keuangan berkualitas tinggi. Sebagaimana
dinyatakan dalam sebuah wawancara dengan Christian D.
Migan, presiden OHADA (Organisation pour Harmonisation en
Afrique du Droit des AffairsOrganisasi untuk Penyelarasan
Hukum Bisnis di Afrika) Dia menyatakan dengan gamblang,

54

Siapa yang akan membayar biaya pelaksanaan IFRS dalam


negara-negara seperti Chad, Benin, Togo, Burkina Faso dan
semua negara-negara regional OHADA yang tidak memiliki
pasar modal dan hampir 80% dari ekonominya terdiri dari
usaha-usaha kecil?
Zori selanjutnya mendorong negara-negara Afrika untuk melihat
kembali kemungkinan adanya sebuah sistem akuntansi yang dapat
mencerminkan kebutuhan seluruh benua tersebut dan masing-masing
negara dengan lebih baik serta mempertanyakan apakah negara-negara
Afrika sudah siap untuk menerapkan IFRS.
b. Penerapan IFRS untuk UKM di beberapa Negara Afrika
1) Afrika Selatan
Menurut para pihak yang menyiapkan laporan keuangan di Afrika
Selatan pada tahun 2007, Penerapan IFRS for SMEs di Afrika
Selatan masih belum memenuhi kebutuhan dari usaha-usaha kecil,
seperti yang dikemukakan oleh HA van Wyk dan Rossouw, dari
Centre of Accounting University of the Free State, Afrika Selatan,
dalam makalahnya yang berjudul IFRS for SMEs in South Africa: A
Giant Leap for Accounting, but Too Big for Smaller Entities in
General yang dipublikasikan pada tahun 2009. Makalah tersebut
bertujuan untuk menilai kesesuaian IFRS for SMEs untuk UKM di
Afrika Selatan.
van Wyk dan Rossouw menyebarkan kuesioner kepada 242 orang
pelaku akuntansi di Afrika Selatan dan menanyakan empat
pertanyaan sekitar IFRS for SMEs. Pertanyaan pertama adalah
55

apakah IFRS for SMEs sekiranya akan mengurangi beban dalam


penyusunan laporan keuangan, mengingat salah satu tujuan IFRS
for SMEs adalah untuk mengurangi beban biaya untuk meyiapkan
laporan keuangan UKM. Berikut adalah hasil dari kuesioner
tersebut.
Tabel 10
Pendapat responden mengenai apakah IFRS for SMEs akan
mengurangi beban dalam penyusunan laporan keuangan
IFRS Mengurangi Beban?
Ya
Cukup
Tidak
Ragu-ragu

Persentasi Responden
45%
29%
13%
13%
100%
Sumber: Makalah van Wyk dan Rossouw berjudul IFRS for SMEs
in South Africa: A Giant Leap for Accounting, but Too Big
for Smaller Entities in General
Skeptisisme relatif responden dapat dikaitkan dengan fakta bahwa
mereka percaya bahwa standar tidak berlaku sepenuhnya kepada
klien mereka, yaitu usaha-usaha mikro (van Wyk, Rossouw,
2009:107). Namun, apakah dalam praktiknya IFRS for SMEs dapat
benar-benar mengurangi beban pelaku akuntansi masih belum
dapat diketahui.
Pertanyaan kedua adalah berapa banyak dari klien-klien responden
yang memiliki 50 pegawai seperti yang ditetapkan oleh IFRS for
SMEs. Berikut adalah hasilnya.
Tabel 11
Persentasi klien responden yang memiliki lebih dari 50 pegawai.
56

Jumlah
responden

Persentase klien Persentasi Persentasi


dengan
lebih responden Kumulatif
dari 50 pegawai
(interval)
112
0
49,34%
49,34%
33
0-1
14,54%
63,88%
47
1-5
20,70%
84,58%
13
5-10
5,73%
90,31%
15
10-25
6,61%
96,92%
3
25-50
1,32%
98,24%
1
50-75
0,44%
98,68%
3
75-100
1,32%
100,00%
227
Total
100,00%
Sumber: Makalah van Wyk dan Rossouw berjudul IFRS for SMEs
in South Africa: A Giant Leap for Accounting, but Too
Big for Smaller Entities in General

Dari tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa hanya sedikit dari klien
responden yang memiliki lebih dari 50 pegawai. Hal ini
menunjukkan bahwa pedoman yang diikuti oleh IASB untuk
menentukan tipikal UKM tidak sejalan dengan tipikal UKM
yang ada di Afrika Selatan. Implikasi dari pernyataan tersebut
adalah IFRS for SMEs disusun menggunakan konteks yang tidak
relevan di Afrika Selatan dan prinsip akuntansi lainnya mungkin
lebih relevan dan dapat diterapkan oleh usaha-usaha kecil di Afrika
Selatan. Hal ini berlawanan dengan dua tujuan IASB dalam
penyusunan IFRS for SMEs, yaitu menyediakan seperangkat
standar yang tersederhanakan dan mandiri, yang sesuai untuk
usaha-usaha yang lebih kecil dan tidak terlisting dalam pasar
saham... dan untuk mengembangkan sebuah standar yang sesuai
dengan, dan dapat diterapkan dengan mudah oleh, bahkan UKM

57

yang paling kecilentitas yang disebut usaha mikro dengan hanya


sedikit pegawai. (van Wyk, Rossouw, 2009:107-108)
IASB juga menyatakan bahwa badan tersebut tidak memiliki
rencana untuk mengembangkan standar untuk usaha mikro karena
tingkat standar yang lebih rendah akan mengganggu penyajian
wajar dan tidak memenuhi persyaratan dari kegunaan laporan
keuangan. Atas gambaran umum IFRS for SMEs yang diberikan
oleh staf IASB, diajukan sebuah pertanyaan apakah standar ini
cocok untuk usaha berukuran mikro (yang memiliki pegawai
kurang dari sepuluh). Jawaban staf IASB untuk pertanyaan tersebut
adalah "pasti cocok". Namun, menurut Sheaver dan SleighJohnson, standar yang diusulkan tidak akan secara luas dianggap
sebagai berguna untuk mikro-entitas dengan 10 karyawan atau
kurang. Mereka menambahkan bahwa bahkan untuk sebuah
perusahaan 50-karyawan yang khas, persyaratan yang ditetapkan
oleh IFRS for SMEs masih terlalu besar dan, di beberapa tempat,
jauh dari sederhana. Argumen mereka memang sejalan dengan
hasil empiris yang disajikan di atas. Dalam perkembangan yang
lebih baru dari IFAC, yaitu makalah tentang pelaporan keuangan
usaha mikro yang mengungkapkan beberapa bukti empiris yang
mendukung persyaratan pelaporan lebih longgar untuk usaha
mikro. Kebutuhan prinsip akuntansi khusus untuk usaha mikro juga
baru-baru ini dijadikan penelitian oleh SAICA (South African
Institute of Chartered Accountants).
58

Merujuk pada pandangan IASB bahwa usaha mikro juga harus


mematuhi IFRS for SMEs, responden diminta untuk memberikan
pendapat mengenai apakah menurut mereka standar akuntansi atau
panduan untuk usaha mikro dibutuhkan terpisah dari IFRS for
SMEs. Berbeda dengan pandangan IASB, seperti disebutkan di
atas, 70% dari responden menyatakan bahwa standar akuntansi
terpisah untuk entitas yang lebih kecil (lebih kecil dari 50
karyawan) di Afrika Selatan memang diperlukan, sementara hanya
25% setuju dengan IASB dan 5% dari responden tidak yakin. (van
Wyk, Rossouw, 2007:108).
van Wyk dan Rossouw juga menanyakan kepada para responden
mengenai bentuk hukum klien mereka dan tujuan klien untuk
menyusun laporan keuangan dengan mengacu pada IFRS for SMEs
untuk mengevaluasi apakah jenis usaha yang ada di Afrika Selatan
sudah sesuai dengan definisi UKM yang ditetapkan oleh IFRS for
SMEs, dan untuk mengetahui sejauh mana manfaat IFRS for SMEs
bagi usaha-usaha tersebut. Berikut adalah jawaban dari responden
atas pertanyaan tersebut.
Tabel 12
Rerata persentasi bentuk usaha klien responden (1)
Bentuk Usaha
Perusahaan yang akuntabel secara
publik
(termasuk
perusahaan
terbuka)
Perusahaan terbatas
Perusahaan tertutup
Lainnya (mis. Kepemilikan pribadi,
59

Rerata persentasi klien


3%

15%
50%
32%

CV, firma)
Total
100%
Sumber: Makalah van Wyk dan Rossouw berjudul IFRS for
SMEs in South Africa: A Giant Leap for Accounting,
but Too Big for Smaller Entities in General
Tabel 13
Rerata persentasi bentuk usaha klien responden (2)
Tujuan
penggunaan Peringkat Persentasi responden
laporan keuangan oleh
UKM
Untuk
mendapatkan 2
65,4%
pendanaan baru (mis.
Kepada bank)
Untuk
keperluan 1
76,6%
perpajakan
Untuk
keperluan 3
60,3%
Manajemen
Untuk keperluan lainnya
4
38,0%
Sumber: Makalah van Wyk dan Rossouw berjudul IFRS for
SMEs in South Africa: A Giant Leap for Accounting, but Too
Big for Smaller Entities in General
Dari tabel-tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa jenis usaha yang
ada di Afrika Selatan sudah sesuai dengan definisi UKM yang
ditetapkan oleh IFRS for SMEs, namun manfaat IFRS for SMEs
bagi usaha-usaha tersebut masih terbatas.
Pertanyaan terakhir yang ditanyakan oleh van Wyk dan Rossouw
adalah mengenai topik-topik dalam IFRS for SMEs yang dapat
diterapkan pada UKM di Afrika Selatan untuk mengetahui apakah
beberapa area dalam IFRS for SMEs dapat disederhanakan. Untuk
tujuan ini, van Wyk dan Rossouw memberikan daftar topik dalam
IFRS for SMEs dan meminta responden menilai topik-topik mana
yang dapat diaplikasikan secara penuh, dapat diaplikaskan

60

sebagian, atau tidak dapat diaplikasikan dalam proses


penyusunan laporan keuangan UKM di Afrika Selatan.
Topik-topik yang dapat diaplikasikan secara penuh menurut para
responden adalah:

Pendapatan
Persediaan
Properti, Pabrik, dan Peralatan
Penyajian Laporan Keuangan
Pajak Pendapatan
Sewa Guna Usaha
Laporan Arus Kas
Properti Investasi
Kejadian setelah periode pelaporan
Kebijakan akuntansi, perubahan dalam perkiraan akuntansi dan

kesalahan
Biaya pinjaman
Provisi, kewajiban kontingensi, dan aset kontingensi
Sedangkan topik yang tidak dapat diaplikasikan adalah:

Laporan keuangan konsolidasi dan terpisah


Investasi dalam rekan
Kombinasi bisnis
Kepemilikan dalam kongsi

Topik yang dapat diaplikasikan sebagian adalah:

Penurunan nilai aset


Pengungkapan pihak terkait
Aset tak berwujud
Pertanian
Kontrak Konstruksi
Instrumen keuangan: Pengungkapan
Instrumen keuangan: pengakuan dan pengukuran
Instrumen keuangan: penyajian

61

Akuntansi untuk hibah pemerintah dan pengungkapan bantuan


pemerintah
Aset tidak lancar yang ditahan untuk dijual dan operasi yang
dihentikan
Dampak dari perubahan kurs valuta asing
Tunjangan pegawai
Dari hasil responden di atas, dapat disimpulkan bahwa para pakar
akuntansi di Afrika Selatan menganggap bahwa standar yang
ditetapkan dalam IFRS for SMEs memiliki kompleksitas yang tidak
sesuai dengan iklim usaha di negara tersebut, sehingga masih perlu
disederhanakan agar lebih sesuai dan dapat diterapkan.
2) Ghana
Dalam makalah yang ditulis oleh Francis Aboagye-Otchere dari
University of Ghana Business School, dan Juliet Agbeibor dari
Ghana Institute of Management and Public Administration pada
tahun 2012 yang berjudul: IFRS for SMEs: Suitability for Small
Businesses in Ghana, dinyatakan bahwa usaha-usaha kecil di
Ghana memiliki struktur dan aktivitas internasional yang terbatas
sehingga laporan keuangan yang dapat dibandingkan secara
internasional tidak dibutuhkan. Makalah tersebut juga
menyebutkan bahwa 19 dari 27 masalah yang dibahas dalam IFRS
for SMEs tidak dapat diaplikasikan, dan hal tersebut dipengaruhi
oleh ukuran, bentuk hukum, dan jumlah pemilik UKM di negara
tersebut.

62

Penelitian dilakukan oleh Aboagye-Otchere dan Agbeibor dengan


metode survey. Namun, berbeda dengan survey yang dilakukan
oleh van Wyk dan Rossouw sebagaimana dibahas pada subsubbab
sebelumya, Aboagye-Otchere dan Agbeibor mewawancarai
sejumlah sampel dari populasi pelaku usaha mikro, kecil, dan
menengah di Ghana. Dari hasil survey, ditemukan bahwa struktur
dan aktivitas internasional UMKM di Ghana pada umumya
bergerak di bidang ekspor, impor, dan kompetisi dengan usahausaha asing. Struktur dan kegiatan ini terjadi hanya beberapa kali
dalam satu kuartal pada entitas yang berpartisipasi dalam survey.
Struktur dan kegiatan lintas batas lainnya tidak pernah atau jarang
terjadi pada lebih dari 75 persen dari entitas yang berpartisipasi,
dan akibatnya, kepentingan struktur dan kegiatan tersebut dianggap
terbatas pada usaha kecil yang dipelajari. (Aboagye-Otchere,
Agbeibor, 2012: 199-200). Berdasarkan korelasi peringkat
Spearman, impor dan ekspor tidak menimbulkan kebutuhan untuk
aturan akuntansi internasional yang sebanding sebagai korelasi, dan
tidak ada hubungan yang signifikan antara ekspor dan pilihan
pelanggan sebagai pengguna laporan keuangan.
Hasil survei juga menunjukkan bahwa hampir 85 persen dari
responden jarang atau tidak pernah menerima permintaan untuk
menyiapkan laporan keuangan sesuai dengan aturan pelaporan
keuangan internasional, dan untuk entitas mikro, jumlah
permintaan tersebut juga lebih kecil.
63

Dari dua puluh tujuh permasalahan akuntansi yang dibahas dalam


IFRS for SMEs, menurut para responden, sembilan belas di
antaranya tidak dapat diterapkan oleh UMKM di Ghana.
Permasalahan-permasalahan tersebut adalah:
Membayar barang atau jasa dengan saham
Menyiapkan laporan keuangan dengan mata uang asing
Memperoleh hibah pemerintah
Meminjam atau memberikan pinjaman dalam mata uang asing
Menjual aset dan me-lease back aset tersebut dari pembeli
Mengadakan konstruksi dan kontrak jangka panjang lainnya
Penjualan atau penghentian unit usaha
Bergabung dengan usaha lain untuk menjadi satu entitas
Membeli perusahaan lain
Kepemilikan tanah atau bangunan hanya untuk disewakan atau
apresiasi kapital saja
Mengoperasikan joint venture
Memiliki 20-50 persen saham atas usaha lain
Memilik atau mengendalikan lebih dari setengah saham atas
usaha lain
Menyewagunakan aset kepada organisasi atau orang lain
Menyewagunakan aset dari organisasi atau orang lain
Transaksi untuk mengimbangi fluktuasi suku bunga

64

Membayar pegawai yang memutuskan untuk menerima


redundansi sukarela untuk manfaat keuangan atau manfaat
lainya dari usaha
Transaksi di mana pemasok dapat memutuskan untuk dibayar
dengan tunai atau saham perusahaan
Transaksi di mana jumlah yang harus dibayarkan kepada
pemasok didasarkan pada harga atau nilai saham perusahaan
Para peneliti menyimpulkan bahwa IFRS for SMEs dalam keadaan
seperti ini bukan merupakan standar akuntansi pilihan untuk usaha
kecil di Ghana. Peneliti mengutip kesimpulan penelitian dari Jarvis
dan Collis pada tahun 2003, yaitu bahwa alasan mengapa UKM
standar pelaporan keuangan yang terpisah adalah UKM tidak
terlibat dalam transaksi yang kompleks. Namun, pada
kenyataannya, dalam penyusunan IFRS for SMEs , kebutuhan
pelaporan keuangan usaha kecil tidak tercermin, dalam hal ini,
khususnya, usaha mikro, kecil, dan menengah di Ghana. Hal ini
merupakan tema yang berulang dengan penelitian yang
dilaksanakan oleh van Wyk dan Roussouw di Afrika Selatan, yang
dibahas dalam subsubbab sebelumnya.
Para peneliti juga menyimpulkan bahwa ukuran adalah faktor
diskriminatif untuk kesesuaian dan tantangan dari IFRS untuk
UKM. Ukuran, bentuk hukum dan jumlah pemilik memiliki
asosiasi lowpositive dengan kesesuaian dan tantangan dari IFRS

65

untuk UKM. Analisis juga menunjukkan bahwa entitas yang lebih


besar lebih mungkin untuk disusun sebagai perusahaan (sebagai
lawan kemitraan atau kepemilikan tunggal). Perusahaan juga
cenderung memiliki lebih pemilik dari kemitraan dan perseorangan.
Membedakan antara entitas atas dasar kuran sehingga hasil dalam
standar yang lebih tepat untuk entitas yang lebih besar yang
kemungkinan akan diselenggarakan sebagai perusahaan dan
memiliki lebih pemilik .
Tabel-tabel di bawah ini adalah komposisi UMKM di Ghana
berdasarkan sektor usaha, bentuk hukum, dan jumlah pemilik
menurut hasil Survey oleh Aboagye-Otchere dan Agbeibor.
Tabel 14
Frekuensi Responden berdasarkan Sektor Usaha
Sektor Usaha
Frekuensi
Persentase
Manufaktur
22
15
Perdagangan
74
50
Jasa
53
35
Sumber: Makalah Francis Aboagye-Otchere berjudul IFRS for SMEs:
Suitability for Small Businesses in Ghana

Tabel 15
Frekuensi Responden berdasarkan Bentuk Hukum
Bentuk Hukum
Perusahaan
Perseorangan
CV/Firma
Korporasi
Lain-lain

Frekuensi
63

Persentase
42

19
65
1

13
44
1

66

Sumber: Makalah Francis Aboagye-Otchere berjudul IFRS for SMEs:


Suitability for Small Businesses in Ghana

Tabel 16
Frekuensi responden berdasarkan Jumlah pemilik
Jumlah Pemilik
Frekuensi
Persentase
Satu
84
58
Dua s.d lima
59
40
Enam s.d. sepuluh
2
1
Lebih besar dari 1
1
pada dua puluh
Sumber: Makalah Francis Aboagye-Otchere berjudul IFRS for
SMEs: Suitability for Small Businesses in Ghana

Untuk meneliti hubungan antara faktor-faktor di atas dengan


kesesuaian IFRS for SMEs untuk UMKM di Ghana, para peneliti
mempelajari empat puluh empat kejadian di mana responden
menerima permintaan untuk memberikan laporan keuangan yang
dapat dibandingkan secara internasional dan menilai apakah IFRS
for SMEs dapat diterapkan pada masing-masing kasus tersebut.
Sektor usaha memiliki hubungan positif rendah yang signifikan
dengan hanya dua dari 44 kasus yang dipelajari. Penulis juga
menemukan bahwa tidak ada kasus yang berhubungan dengan
sektor bisnis yang dianggap penting oleh survey atas UMKM di
Ghana.
Bentuk hukum usaha memiliki hubungan positif rendah yang
signifikan dengan 23 dari 44 kasus yang dipelajari. Hubungan
67

antara bentuk hukum dan dua dari tiga kegiatan internasional yang
dilakukan oleh usaha kecil di Ghana (persaingan dengan
perusahaan asing dan ekspor) dan lima dari delapan isu-isu
akuntansi ditemukan relevan untuk usaha kecil di Ghana (penelitian
dan pengembangan proyek, pembelian / penjualan barang dalam
mata uang asing, berbagi keuntungan dengan atau membayar bonus
kepada karyawan, imbalan kerja tidak sepenuhnya jatuh tempo
dalam waktu 12 bulan dari periode dimana karyawan diberikan
layanan terkait dan transaksi untuk mengimbangi fluktuasi asing
tukar mata uang). Bentuk hukum usaha juga positif terkait dengan
frekuensi yang entitas menerima permintaan untuk menyiapkan
informasi pelaporan keuangan yang dapat dibandingkan secara
internasional dan penilaian responden tentang perlunya usaha
mereka untuk memberikan informasi tersebut. Hasil ini
menyiratkan bahwa standar mungkin akan lebih cocok dan tidak
menyulitkan bagi korporasi daripada untuk firma. Firma juga
cenderung untuk berpendapat bahwa standar yang lebih cocok dan
tidak menyulitkan daripada untuk perusahaan perseorangan.
Jumlah pemilik memiliki asosiasi positif rendah yang signifikan
dengan 19 dari seluruh kasus yang dinilai. Jumlah pemilik
berhubungan positif dengan dua dari tiga kegiatan internasional
yang dilakukan oleh usaha kecil di Ghana (persaingan dengan
perusahaan asing, dan ekspor); enam dari delapan isu-isu akuntansi
yang relevan (projek penelitian dan pengembangan, pembagian
68

keuntungan atau pemberian bonus untuk karyawan, imbalan kerja


tidak sepenuhnya jatuh tempo dalam waktu 12 bulan dari periode
dimana karyawan diberikan layanan terkait, pemberianan manfaat
keuangan atau manfaat lainnya bagi mantan pegawai, transaksi
untuk mengimbangi fluktuasi harga komoditas, dan transaksi untuk
mengimbangi fluktuasi valuta mata uang asing); frekuensi entitas
menerima permintaan untuk menyiapkan laporan keuangan sesuai
dengan aturan akuntansi internasional; dan penilaian responden
tentang perlunya badan mereka untuk mempersiapkan informasi
pelaporan keuangan yang dapat dibandingkan secara internasional.
Ukuran memiliki asosiasi positif rendah yang signifikan dengan 17
dari 44 kasus yang dipelajari. Ukuran berhubungan positif dengan
dua dari tiga kegiatan internasional yang relevan dari usaha kecil
(ekspor dan impor); frekuensi usaha menerima permintaan untuk
menyiapkan informasi pelaporan keuangan yang dapat
dibandingkan secara internasional; dan penilaian responden tentang
perlunya badan mereka untuk memberikan informasi tersebut.
Ukuran juga berhubungan positif dengan tujuh dari delapan isu-isu
akuntansi yang relevan (projek penelitian dan pengembangan,
pembagian keuntungan atau pemberian bonus kepada karyawan,
imbalan kerja tidak sepenuhnya jatuh tempo dalam waktu 12 bulan
dari periode di mana pegwai diberikan layanan terkait, pemberian
manfaat keuangan atau manfaat lainnya kepada mantan pegawai,
pembayaran kepada pegawai untuk mengakhiri masa kerja mereka
69

sebelum tanggal pensiun normal, transaksi untuk mengimbangi


fluktuasi harga komoditas, dan transaksi untuk mengimbangi
fluktuasi nilai tukar valuta asing). Pengaruh ukuran pada
kesesuaian dan tantangan dari IFRS for SMEs telah
didokumentasikan oleh peneliti-peneilit lain, seperti Eierle et al.
(2007), Eierle dan Haller (2009) dan peneliti seperti Sian dan
Roberts (2006), Coetzee (2007) dan Neag et al. (2009) yang
mempertanyakan penerapan standar untuk usaha mikro. (AboagyeOtchere, Agbeibor, 2012: 203-204)
3) Nigeria
Pada tanggal 28 Juli 2010, Dewan Federal Eksekutif Nigeria
(Nigerian Federal Executive Council/NFEC) menyetujui bahwa 1
Januari 2012 dijadikan sebagai tanggal efektif untuk konvergensi
standar akuntansi di Nigeria (Statement of Accounting Standard/
SAS) ke Standar Pelaporan Keuangan Internasional (International
Financial Reporting Standard/ IFRS). Dewan menunjuk Dewan
Standar Akuntansi Nigeria (Nigeria Accounting Standard Board/
NASB), di bawah pengawasan Kementerian Federal Dagang dan
Industri Nigeria, untuk mengambil tindakan yang diperlukan guna
mencapai tujuan itu.
Tindakan dewan untuk mengadopsi IFRS tersebut didasarkan pada
rekomendasi yang ditetapkan dalam laporan Komite Road Map
menuju Adopsi Standar Pelaporan Keuangan Internasional di

70

Nigeria. Laporan itu disiapkan oleh kelompok kerja dan para ahli
baik dari pemerintah dan sektor swasta yang didirikan oleh NASB.
Pada tanggal 3 September 2010, NASB mengumumkan tahap-tahap
pengimplementasian IFRS sbb:
Untuk entitas publik yang telah terdaftar dan entitas publik yang
signifikan diharapkan engadopsi Standar IFRS secara efektif
pada Januari 2012.
Untuk entitas kepentingan umum lainnya adopsi Standar IFRS
efektif Januari 2013.
Untuk UKM, pengadopsian dari IFRS untuk UKM (IFRS for
SMEs) efektif Januari 2014
IFRS diperlukan untuk semua entitas kepentingan umum, yakni
mencakup perusahaan-perusahaan, pemerintah, organisasi
pemerintah, dan entitas non-profit yang diwajibkan oleh hukum
untuk mengajukan pengembalian dengan pihak berwenang. Di
bawah ini merupakan kelompok yang tidak termasuk ke dalam
kategori entitas kepentingan umum.
Usaha Kecil dan Menengah (UKM) menggunakan IFRS untuk
UKM Standard (IFRS for SMEs) sebagai aturannya. UKM
didefinisikan sebagai entitas:
yang tidak dalam proses menerbitkan utang atau ekuitas
untuk perdagangan di pasar umum;

71

yang tidak memegang aset dalam kapasitas fidusia untuk


sekelompok luas luar sebagai salah satu bisnis utama mereka;
yang memiliki omset tahunan tidak lebih dari N500 juta
(sekitar US $3 juta) atau jumlah yang mungkin harus
diperbaiki oleh Corporate Affairs Commission (CAC);
yang memiliki nilai aset total tidak lebih dari N200 juta
(sekitar US $1 juta) atau jumlah yang mungkin harus
diperbaiki oleh CAC;
yang tidak memiliki anggota Dewan asing;
yang tidak memiliki anggota yang merupakan pemerintah
atau perusahaan pemerintah atau lembaga atau nominee-nya;
dan
yang direksi bersama-sama memiliki tidak kurang dari 51
persen dari modal saham ekuitas.
Perusahaan berukuran mikro merupakan entitas yang tidak
termasuk ke dalam entitas kepentingan umum maupun UKM.
Entitas ini dapat menggunakan baik IFRS untuk UKM (IFRS for
SMEs) maupun menggunakan Pedoman Akuntansi untuk Entitas
Kecil dan Menengah (Small Medium- sized Entities Guidelines
Accounting/ SMEGA) level 3 yang dikeluarkan oleh Konferensi
PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (United Nations
Conference on Trade and Development/ UNCTAD).

72

c. Standar Akuntansi untuk UKM di negara-negara yang tidak


menerapkan IFRS
o Mesir
Standar akuntansi yang berlaku umum di Mesir disebut dengan
Egyptian Accounting Standards (EAS) yang ditetapkan oleh
Egyptian Society of Accountants and Auditors (ESAA). EAS, yang
disusun dengan berpanutan kepada IAS mulai tahun 1997,
memiliki 35 pernyataan standar, yang merupakan jumlah yang
sama dengan standar yang dikeluarkan secara internasional mulai
dari 2006, sejak dari penerbitan IAS hingga IFRS. Seperti telah
dinyatakan di awal pembahasan ini, ESAA tidak membuat
pernyataan standar terpisah untuk UMKM di Mesir. Menurut
kantor akuntan publik KPMG pada tahun 2010, terdapat beberapa
poin perbedaan antara EAS dan IFRS.
Properti, pabrik, dan peralatan (Property, plant and Equipment)
Berdasarkan IFRS, penggunaan biaya historis atau nilai
revaluasi diperbolehkan. valuasi sering seluruh kelas aset yang
diperlukan ketika model revaluasi dipilih. Di bawah EAS,
evaluasi tidak diizinkan kecuali dalam keadaan tertentu,
misalnya, penggabungan (merger) atau perubahan bentuk dan
struktur hukum.
Akuisisi dari entitas sepengendali

73

Berdasarkan IFRS, tidak ada panduan khusus untuk transfer aset


bersih atau pertukaran kepentingan ekuitas entitas sepengendali.
Dalam praktiknya, pendekatan diikuti oleh tiap-tiap perusahaanperusahaan berbeda-beda, dan mencakup akuntansi pembelian,
menggunakan nilai wajar, dan pendekatan berdasarkan nilai
buku. EAS tidak mengatur mengenai perlakuan akuntansi untuk
akuisisi antara entitas sepengendali.
Sewa guna usaha
Berdasarkan IFRS, klasifikasi sewa guna usaha tergantung pada
apakah secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang
terkait dengan kepemilikan aset sewaan telah dialihkan dari
pemberi sewa guna usaha (lessor) kepada penyewa guna usaha
(lessee). Berdasarkan EAS, aset sewaan diakui dalam buku
lessor dan disusutkan, dan lessee mengakui pembayaran sewa
dalam laporan laba rugi pada periode yang dibayarkan.
Pembagian keuntungan kepada pegawai dan badan direksi
Berdasarkan IFRS, pembagian keuntungan kepada karyawan
dan direksi diakui pada saat terjadinya dalam laporan laba rugi
(menggunakan basis akrual). Sementara itu, menurut EAS,
pembagian keuntungan kepada karyawan dan direksi diakui
sebagai pembagian dividen melalui ekuitas dan sebagai
kewajiban ketika disetujui oleh rapat umum pemegang saham
perusahaan yang bersangkutan.

74

Menarik kesimpulan dari penelitian yang dilakukan oleh AboagyeOtchere dan Agbeibor di Ghana sebagaimana dibahas pada
subseksi sebelumnya, tim penulis berpendapat bahwa dari poin
yang berbeda ini, EAS telah relevan untuk diterapkan kepada
UMKM di Mesir, dengan asumsi bahwa kondisi UMKM di Mesir
lebih maju (yaitu memiliki volume usaha yang lebih tinggi dari
pada di Ghana, mengingat GDP Mesir adalah sebesar 5,7 kali dari
GDP Ghana), termasuk poin mengenai Pembagian keuntungan
pada pegawai yang memiliki relevansi lebih kecil saat diterapkan
pada usaha kecil dan mikro di Ghana.
4.5 INDONESIA
a. Definisi SME (Small Medium Entities) di Indonesia
Di Indonesia SME (Small Medium Entities) lebih dikenal dengan
istilah Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah atau UMKM. UMKM
sendiri diatur berdasarkan Undang Undang Nomor 20 tahun 2008
tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Definisi UMKM adalah
sebagai berikut:
1) Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan /
atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro
sebagaimana diatur dalam Undang Undang Nomor 20 tahun 2008.
2) Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri,
yang dilakukan oleh perorangan atau badan usaha yang bukan
merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang
dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak
75

langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi


kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud Undang Undang
Nomor 20 tahun 2008.
3) Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri
sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha
yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan
yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun
tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan jumlah
kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur
dalam Undang Undang Nomor 20 tahun 2008.
b. Kriteria UMKM di Indonesia
Untuk membedakan sebuah usaha apakah itu termasuk usaha mikro,
usaha kecil, atau usaha menengah, oleh pemerintah diberikan batasan
berdasarkan Undang Undang Nomor 20 tahun 2008 sesuai dengan
kriteria jenis usaha masing masing yang didasarkan atas peredaran
usaha dan atau jumlah aktiva yang dimiliki sebagai berikut :
1) Kriteria Usaha Mikro adalah :
Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000,00
(lima puluh juta rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan
tempat usaha; atau
Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp
300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
2) Kriteria Usaha Kecil adalah :

76

Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 50.000.000,00 - (lima


puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah
dan bangunan tempat usaha; atau
Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp
2.500.000.000,00 - (dua setengah milyar rupiah).
3) Kriteria Usaha Menengah adalah :
Usaha Menengah memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling
banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak
termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp
2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai
dengan paling banyak Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh milyar
rupiah).
c. Klasifikasi UMKM
Dalam perkembangannya, UMKM dapat diklasifikasikan menjadi 4
(empat) kelompok yaitu :
1) Livelihood Activities, merupakan UMKM yang digunakan sebagai
kesempatan kerja untuk mencari nafkah, yang lebih umum dikenal
sebagai sektor informal. Contohnya adalah pedagang kaki lima
2) Micro Entities, merupakan UMKM yang memiliki sifat pengrajin
tetapi belum memiliki sifat kewirausahaan
77

3) Small Dynamic Entities, merupakan UMKM yang telah memiliki


jiwa kewirausahaan dan mampu menerima pekerjaan subkontrak
dan ekspor
4) Fast Moving Entities, merupakam UMKM yang telah memiliki
jiwa kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi
Usaha Besar (UB)
d. Penerapan SAK UMKM di Indonesia
Dalam perkembangan perekonomian Indonesia, terdapat banyak usaha
yang berkembang dalam masyarakat. Dari usaha yang bernilai tinggi
hingga usaha kecil dan menengah. Usaha Mikro, kecil, dan Menengah
atau yang sering disebut dengan UMKM ini dilakukan oleh 90% dari
total perusahaan di Indonesia. Kendala utama yang menjadi fokus
dalam pengembangan UMKM selain modal adalah pengelolaan
keuangan. Sistem pembukuan UMKM selama ini sangat sederhana
dan cenderung mengabaikan standar yang berlaku. Padahal, laporan
keuangan yang akurat dan baku akan banyak membantu mereka dalam
pengembangan bisnisnya secara kuantitatif dan kualitatif. Oleh karena
itu, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), menyiapkan SAK (Standar
Akuntansi Keuangan) yang dapat digunakan juga bagi UMKM dan
dinamakan dengan SAK-ETAP (Entitas Tanpa Akuntanbilitas Publik).
Menurut Musnandar dalam Kholmi (2011), menyatakan bahwa yang
melatar belakangi diperlukan SAK ETAP ini karena PSAK
(Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) yang mengadopsi IFRS
(International Financial Reporting Standard) terlalu kompleks jika
78

untuk diterapkan oleh perusahaan Mikro, Kecil dan Menengah


(UMKM) di Indonesia. Oleh Karena itu, SAK-ETAP dianggap cocok
untuk karakter bisnis UMKM khususnya di Indonesia. Memang pada
mulanya SAK-ETAP diusulkan untuk mengikuti IFRS for SMEs
(Small Medium Entities) , namun setelah dikaji ternyata tidak
sederhana bagi perusahaan mikro, kecil, menengah di Indonesia untuk
menerapkan IFRS for SMEs (Small Medium Entities).
1) SAK-ETAP (Standar Akuntansi Keuangan - Entitas Tanpa
Akuntanbilitas Publik)
SAK-ETAP diluncurkan secara resmi pada tanggal 17 Juli 2009
dan mulai berlaku efektif per 1 Januari 2011 namun penerapan dini
per 1 Januari 2010 diperbolehkan. Entitas yang laporan
keuangannya mematuhi SAK ETAP harus membuat suatu
pernyataan eksplisit dan secara penuh (explicit and unreserved
statement) atas kepatuhan tersebut dalam catatan atas laporan
keuangan. Laporan keuangan tidak boleh menyatakan mematuhi
SAK ETAP kecuali jika mematuhi semua persyaratan dalam SAK
ETAP. Apabila perusahaan memakai SAK-ETAP, maka auditor
yang akan melakukan audit di perusahaan tersebut juga akan
mengacu kepada SAK-ETAP
2) Ruang Lingkup SAK-ETAP
Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas
Publik (SAK-ETAP) dimaksudkan untuk digunakan entitas tanpa

79

akuntabilitas publik. Entitas tanpa akuntabilitas publik adalah


entitas yang:
Tidak memiliki akuntabilitas publik yang signifikan.
Berdasarkan poin ini, menunjukkan bahwa SAK-ETAP tidak
diberlakukan pada ruang lingkup entitas yang telah terdaftar dan
sedang mengajukan pernyataan pendaftaran di pasar modal
untuk tujuan penerbitan efek di pasar modal, kecuali terdapat
ijin khusus untuk penggunaan SAK-ETAP. Perusahaan Go
Public telah memiliki standar tersendiri untuk laporan keuangan
yang diwajibkan dari OJK, yaitu menggunakan SAK-UMUM.
SAK-UMUM tersebut telah mengadopsi sebagian
dari International Financial Reporting Standard (IFRS).
Tidak menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan
umum (General Purpose Financial Statement) bagi pengguna
eksternal.
Berdasarkan poin ini, menunjukkan bahwa entitas yang telah
menerbitkan laporan keuangannya untuk pihak eksternal (Bank,
Investor, dan Kreditur) tidak diperkenankan menggunakan SAKETAP. Karena, SAK-ETAP terlalu sederhana jika digunakan
untuk perusahaan Go Public oleh karena itu, laporan keuangan
bagi perusahaan Go Public diwajibkan menggunakan SAKUMUM yang nantinya laporan keuangan tersebut setara dengan
Standar Internasional (IFRS).

80

3) Karakteristik SAK-ETAP
SAK-ETAP memiliki beberapa karakteristik diantaranya adalah
sebagai berikut :
berdiri sendiri dan tidak mengacu pada SAK-UMUM,
menggunakan historical cost,
hanya mengatur transaksi umum yang terjadi pada ETAP, lebih
sederhana, tidak berubah dalam beberapa tahun ke depan.
4) Manfaat SAK ETAP
Ada beberapa manfaat yang dapat dirasakan oleh UMKM dalam
menerapkan SAK-ETAP antara lain :
UMKM dapat menyusun laporan keuangan sendiri dan dapat
diaudit serta mendapat opini audit yang nantinya akan
digunakan untuk memperoleh pinjaman dana dari pihak
eksternal (bank).
SAK-ETAP lebih sederhana dalam implementasinya dibanding
PSAK-IFRS (SAK-UMUM).
Meskipun lebih sederhana, namum SAK-ETAP ini tetap
memberikan informasi yang handal dalam penyajian laporan
keuangan.
5) Faktor Penyebab Pelaku Bisnis Mikro, Kecil, dan Menengah
Kurang Menerapkan SAK-ETAP
Penyebab pelaku bisnis Mikro, Kecil dan Menengah kurang
menerapkan SAK-ETAP yaitu:

81

Kurangnya sosialisasi tentang SAK-ETAP. Sehingga pelaku


bisnis kecil menengah masih takut untuk menggunakan SAKETAP karena tidak mau mengambil resiko untuk mengubah
semua tatanan keuangan yang sudah ada.
Pelaku bisnis menganggap bahwa menerapkan atau tidak, tidak
akan berpengaruh pada usahanya karena laporan keuangan yang
dibuat hanya untuk kalangan pribadi.
Diperlukan biaya yang mahal untuk mendapatkan karyawan
yang terlatih.
Oleh karena itu, sampai saat ini masih banyak UMKM belum
menerapkan SAK-ETAP dalam penyajian laporan keuangannya.
6) Kelebihan dan Kekurangan SAK-ETAP
Adapun kelebihan dari SAK-ETAP ini yaitu :
Lebih sederhana dibandingkan dengan SAK-UMUM,
Mudah digunakan bagi UMKM di Indonesia,
Standar-standar dalam SAK-ETAP juga tidak mengalami
perubahan dalam jangka waktu yang panjang, sehingga SAKETAP bisa relatif konsisten.
Karena SAK-ETAP relative konsisten, maka proses penyusunan
pun akan hemat biaya dan tenaga.
7) Kekurangan SAK-ETAP adalah :
Kesederhanaan penyajian laporan keuangan dapat mengabaikan hal
yang tidak relevan, artinya banyak pula informasi yang tidak
diungkapkan secara wajar.
82

8) Perbandingan PSAK dengan SAK-ETAP


Berikut ini adalah table perbandingan PSAK dengan SAK-ETAP
sehingga kita dapat membandingkan letak perbedaan dan
persamaannya:
Tabel 17
perbandingan PSAK dengan SAK-ETAP
No
1

Elemen
Penyajian
Laporan
Keuangan

PSAK

Laporan posisi keuangan

Informasi yang disajikan


dalam laporan posisi keuangan

Pembedaan asset lancar


dan tidak lancar dan laibilitas
jangka pendek dan jangka
panjang

Aset lancar

Laibilitas jangka pendek

Informasi yang disajikan


dalam laporan posisi keuangan
atau catatan atas laporan
keuangan
(Perubahan istilah di ED PSAK
1: Neraca
menjadi
Laporan
Posisi Keuangan, Kewajiban
(liability) menjadi laibilitas)

Laporan
Laba Rugi

SAK ETAP

Sama
dengan
PSAK, kecuali
informasi
yang disajikan
dalam
neraca, yang menghilangkan
pos:

Aset keuangan

Properti
investasi
yang diukur pada nilai
wajar (ED PSAK 1)

Aset biolojik yang


diukur
pada
biaya
perolehan dan nilai wajar
(ED PSAK 1)

Kewajiban berbunga
jangka panjang

Aset dan kewajiban


pajak tangguhan

Kepentingan
nonpengendalian
Laporan
laba
rugi Tidak sama dengan PSAK
yang
menggunakan
komprehensif
laba
Informasi yang disajikan istilah laporan
SAK
dalam laporan Laba Rugi rugi komprehensif,
ETAP menggunakan istilah
Komprehensif
Laba rugi selama periode laporan laba rugi.
Pendapatan komprehensif
lain selama periode
Informasi yang disajikan
dalam laporan laba rugi
83

komprehensif atau catatan atas


laporan keuangan
3

Penyajian
Perubahan
Ekuitas

Catatan Atas
Laporan Keu
angan

Laporan
Arus Kas

Laporan
keuangan ko
nsolidasi dan
terpisah

Kebijakan
akuntansi, es
timasi, dan
kesalahan

Sama
dengan
PSAK, kecuali
untuk
beberapa hal yang terkait
pendapatan komprehensif
lain.

Catatan atas laporan Sama


dengan
PSAK, kecuali
keuangan
pengungkapan modal.

Struktur

Pengungkapan kebijakan
Akuntansi

Sumber
estimasi
ketidakpastian

Modal (ED PSAK 1)

Pengungkapan lain

Arus
kas
aktivitas Sama
dengan
operasi: metode langsung dan PSAK kecuali:

Arus kas aktivitas


tidak langsung

Arus
kas
aktivitas
operasi: metode tidak
langsung
investasi
Arus kas mata uang

Arus
kas
aktivitas
asing, tidak diatur.
pendanaan

Arus kas mata uang asing

Arus kas bunga dan


dividen, pajak penghasilan,
transaksi non-kas

Persyaratan
penyajian Tidak diatur
lapkeu konsolidasi

Entitas bertujuan khusus

Prosedur konsolidasi

Lapkeu tersendiri

Lapkeu gabungan
PSAK 25 (Laba atau Rugi Bersih SAK ETAP sudah maju satu
untuk
periode
Berjalan, langkah
dibandingkan
Kesalahan
Mendasar,
dan PSAK (tidak ada kesalahan
Perubahan Kebijakan Akuntansi) mendasar dan laba atau

Laba atau rugi bersih rugi luar biasa).


untuk Periode berjalan

Kesalahan Mendasar
84

Perubahan
kebijakan
Akuntansi

Pemilihan dan penerapan


kebijakan akuntansi

Konsistensi
dan
perubahan kebijakan akuntansi

Perubahan
Estimasi
akuntansi

Kesalahan.

Pos luar biasa

Laba atau rugi dari


aktivitas normal

Operasi
yang
tidak
dilanjutkan

Perubahan
estimasi
Akuntansi

Penerapan suatu standar


Akuntansi keuangan

Perubahan
kebijakan
Akuntansi yang lain

Ruang lingkup: aset dan PSAK 50 (1998).


kewajiban keuangan

Instrumen
keuangan
dasar:

Diklasifikasikan
pada
nilai wajar melalui laporan laba
rugi, dimiliki hingga jatuh
tempo, tersedia untuk dijual,
pinjaman dan pinjaman yang
diberikan

Impairment
menggunakan incurred loss
concept

Derecognition

Hedging dan derivatif

Ruang lingkup: investasi


pada efek tertentu

Pengukuran persediaan
Sama dengan PSAK

Biaya persediaan

Biaya pembelian

Instrumen
Keuangan
Dasar

Persediaan

85

Biaya konversi

Biaya lain-lain

Biaya
persediaan
pemberian jasa

Teknik pengukuran biaya

Rumus biaya

Nilai realisasi bersih

Pengakuan sebagai beban

Pengungkapan
Investasi

Ruang lingkup: entitas


pada perusah
asosiasi
aan asosiasi
Metode akuntansi
dan entitas

Metode biaya
anak

Metode ekuitas

Model nilai wajar (ED


PSAK 15)

Ruang lingkup: entitas


asosiasi dan entitas anak

Metode akuntansi

Entitas asosiasi : metode


biaya
Investasi

Jointly
controlled
pada perusah
operation, asset, and entity
aan asosiasi
Metode akuntansi
dan entitas

Metode
konsolidasi
anak
proporsional

Metode ekuitas

Model nilai wajar (ED


PSAK 12 : PBA/PBO/PBE)
Property
Metode akuntansi: Model nilai
Investasi
wajar dan Model biaya
Aset Tetap

Menggunakan pendekatan
komponenisasi

Pengukuran
menggunakan model biaya atau
model revaluasi

Pengukuran
biaya
perolehan

Pengakuan pengeluaran
selanjutnya

10

11

12
13

86

metode ekuitas

Sama dengan PSAK kecuali


metode akuntansi hanya
menggunakan metode biaya.

Metode
akuntansi: model
biaya
Sama
dengan
PSAK kecuali:

Tidak menggunakan
pendekatan
komponenisasi.

Revaluasi diijinkan
jika dilakukan berdasarkan
Peraturan Pemerintah. Hal
ini mengacu ke PSAK 16

Penyusutan

Tidak perlu review nilai


residu, metode penyusutan, dan
umur manfaat setiap akhir
periode pelaporan, tetapi jika
ada indikasi perubahan saja
Asset Tidak
Prinsip umum untuk
Berwujud
pengakuan

Pengakuan
awal,
pengukuran selanjutnya

Amortisasi selama umur


manfaat atau 10 tahun

Penurunan
nilai
Menggunakan
metode
pembelian

Goodwill dimaortisasi 5
tahun atau 20 tahun dengan
justifikasi manajemen
Sewa

Mengatur perjanjian yang


mengandung sewa

Klasifikasi
bersifat principle based

Laporan keuangan lessee


dan

Tidak
mengatur
perjanjian yang mengandung
sewa (ISAK 8)
Lessor

14

15

16

Ekuitas

(1994)

Tidak perlu review


nilai residu.

Sama
dengan
PSAK, kecuali aset tidak
berwujud yang diperoleh
dari penggabungan usaha.

Klasifikasi
sewa:
kombinasi IFRS for SMEs
dan SFAS 13

Laporan keuangan
lessee
dan
lessor
menggunakan PSAK 30
(1990): Akuntansi
Sewa Guna Usaha
Sama dengan PSAK

Kewajiban diestimasi
Kewajiban kontinjensi
Aset kontinjensi
Penjelasan
Sama
dengan
Akuntasi ekuitas untuk PSAK, kecuali :

Reorganisasi
87

17

Pendapatan

18

Biaya
Pinjaman

19

Penurunan
Nilai Aset

20

Imbalan
Kerja

badan usaha bukan PT

Akuntansi ekuitas untuk


badan usaha berbentuk PT

Reorganisasi

Selisih penilaian kembali

Penjualan barang

Penjualan jasa

Kontrak konstruksi

Bunga,
dividen
dan
royalti

Lampiran
kasus
pengakuan pendapatan
(ED
PSAK 23)

Komponen
biaya
pinjaman

Pengakuan
dan
kapitalisasi biaya pinjaman

Penurunan
nilai
persediaan

Penurunan nilai nonpersediaan

Penurunan nilai goodwill

21

Pajak
Penghasilan

Imbalan kerja jangka


pendek
Imbalan pasca kerja,
untuk
manfaat
pasti
menggunakan PUC
Imbalan jangka panjang
lainnya
Pesangon
pemutusan
kerja
Menggunakan deferred
88

Selisih
penilaian kembali

Sama dengan PSAK.

Biaya
pinjaman langsung
dibebankan

Sama
dengan
PSAK, kecuali:

Ruang lingkup yang


meliputi semua jenis aset.

Tidak
mengatur
penurunan nilai goodwill

Ada
tambahan
penurunan nilai untuk
pinjaman yang diberikan
dan
piutang
yang
menggunakan
PSAK
31: AkuntansiPerbankan p
aragraf 16 dan 17.
Sama
dengan
PSAK, kecuali
untuk
manfaat pasti menggunakan
PUC dan jika tidak bisa,
menggunakan metode yang
disederhanakan

22

Mata Uang
Pelaporan

23

24

25

Peristiwa
setelah
akhir periode
pelaporan
Pengungkap
an
pihakpihak yang
mempunyai
hubungan
istimewa
Aktivitas
Khusus

Peristiwa
memerlukan penyesuaian

Peristiwa yang tidak


memerlukan penyesuaian

Pengertian pihak-pihak Sama dengan PSAK 7


yang mempunyai hubungan
istimewa

Pengungkapan

Ketentuan
Transisi

Sama dengan PSAK Mata


Uang Pelaporan

Mata
uang
fungsional

Pelaporan transaksi
mata uang asing dalam
mata uang fungsional

Perubahan
mata
uang fungsional (Pada
prinsipnya sama)
yang Sama dengan PSAK

26

taxconcept
Pengakuan
dan
pengukuran pajakkini
Pengakuan
dan
pengukuran pajaktangguhan
Menggunakan taxpayable
concept
Tidak
adapengakuan
danpengukuran pajaktangguhan
Mata uang pencatatan dan
pelaporan
Mata uang fungsional
Penentuan saldo awal
Penyajian komparatif
Perubahan mata uang
pencatatan dan pelaporan

Akuntansi perkoperasian Tidak diatur


Akuntansi minyak dan
gas bumi
Akuntansi pertambangan
umum
Akuntansi
perusahaan
efek
Akuntansi reksa dana
Akuntansi perbankan dan
asuransi

Retrospektif
prospektif (jika
89

atau
tidak

27

praktis) yang diterapkan


secara prospective catchup
(dampak ke saldo laba)

Perpindahan dari dan


ke SAK ETAP
Berlaku
efektif
untuk laporan
keuangan
yang dimulai pada tanggal 1
Januari 2011, penerapan dini
1 Januari 2010

Tanggal
Efektif

Sumber: Diolah dari PSAK Umum dan PSAK-ETAP

DAFTAR PUSTAKA
Aboagye-Otchere, Francis, dan Juliet Agbeibor. 2012. The International
Financial Reporting Standard for Small and Medium-sized Entities (IFRS
for SMES): Suitability for small businesses in Ghana, Journal of Financial
Reporting and Accounting, Vol. 10 iss 2 hlm. 190-214.
http://keuanganlsm.com/perbedaan-sak-etap-dengan-psak/

http://www.iasplus.com/en/standards/other/ifrs-for-smes
http://www.ifrs.org/Use-around-the-world/Documents/Jurisdictionprofiles/Nigeria-IFRS-Profile.pdf
KPMG Hazem Hassan. 2010. Egyptian Accounting Standards (EASs) vs
IFRSs.https://home.kpmg.com/eg/en/home/insights.html. Diakses tanggal 11
Oktober 2012, pukul 09.13.

90

van Wyk, HA, dan J. Rossouw. 2009. IFRS for SMEs in South Africa: A Giant
Leap for Accounting, but Too Big for Smaller Entities in General Meditari
Accountancy Research, Vol. 10 Iss. 2 hlm 99-116
Zori, Solomon. 2012. The State of IFRS in Africa: Is IFRS in
Disarray?.https://governancexborders.com/2012/01/11/the-state-of-ifrs-inafrica-is-ifrs-in-disarray/ . Diaksestanggal 5 Oktober 2016, pukul 13.42

91