Anda di halaman 1dari 20

1.

Fungsi Gelombang
(pandangan kuantum)
By Dedy Kurniawan Setyoko

4 Votes

Akhirnya, setelah berlama-lama tertunda peluncurannya, selain karena materi yang cukup sulit (bagi
saya) tetapi juga karena banyak yang harus diperbaiki, banyak rumus-rumus fisika yang harus di
transformasi ke dalam blog ini menggunakan Latex. Nah, kali ini adalah artikel mengenai fungsi
gelombang yang dilihat dari kaca mata kuantum, tapi memang belum begitu sempurna dan
membutuhkan uluran tangan dari para pembaca sekalian untuk perbaikannya. Semoga artikel ini
bermanfaat untuk kita semua, khususnya bagi para mahasiswa jurusan fisika yang sedang
mengambil mata kuliah Fisika Kuantum. Pendek kata dari saya, selamat membaca!

1. FUNGSI GELOMBANG (PANDANGAN KUANTUM)


1.1 Persamaan Shroedinger
Bayangkan sebuah partikel dengan massa m, dipaksa untuk bergerak sepanjang sumbu-x, dikenai
oleh sebuah gaya

(Gambar 1.1). Biasanya yang dilakukan oleh mekanika klasik adalah

menghitung posisi dari partikel pada sembarang waktu :


. Dengan mendapatkan fungsi posisi,
kita dapat menemukan kecepatan (
), momentum (
), energi kinetik (
), atau variabel-variabel dinamis lainnya yang kita suka. Dan bagaimana kita bisa
menghitung
? Kita terapkan Hukum Newton kedua:
. (untuk sistem yang konservatifsatu-satunya hal yang perlu kita pertimbangkan, dan untungnya hanya terjadi pada level
mikroskopik-gaya dapat diekspresikan dalam bentuk derivatif dari fungsi energi
potensial[1],
, dan hukum Newton kedua menjadi
keduanya merupakan kondisi awal yang tepat (biasanya posisi dan kecepatan pada
dengan

.) Ini,
), ditulis

Pendekatan mekanika kuantum pada masalah yang sama tersebut sungguh sangat berbeda. Pada
kasus ini, apa yang kita lihat adalah fungsi gelombang
, dari partikel, dan kita
mendapatkannya dengan menyelesaikan persamaan Schroedinger :
(1.1)

Gambar 1.1: Sebuah Partikel yang dipaksa bergerak dalam satu dimensi dibawah pengaruh suatu
gaya
Di mana i adalah akar dari -1, dan
yang dibagi dengan 2:

adalah konstanta Planck-atau sebaiknya, konstanta aslinya ( )

(1.2)

persamaan Schroedinger memainkan peranan penting yang secara logika dapat dianalogikan dengan
hukum Newton kedua: menentukan kondisi awal yang sesuai [biasanya,
Shroedinger ditulis

], persamaan

untuk setiap waktu yang akan datang, sama seperti dalam mekanika

klasik, hukum Newton ditulis

untuk setiap waktu yang akan datang.

1.2 Interpretasi Statistik


Tetapi apakah sebenarnya fungsi gelombang, dan apakah yang harus kamu lakukan setelah kamu
mendapatkannya? Baiklah, partikel, dengan sendirinya, terlokalisasi pada suatu titik, tetapi fungsi
gelombang (seperti yang disebutkan namanya) tersebar pada suatu ruang (pada fungsi x, untuk
setiap waktu). Bagaimana sebuah objek dapat dikatakan untuk menjelaskan keadaan dari sebuah
partikel? Jawabannya adalah disajikan oleh interpretasi statistik Born dari suatu fungsi
gelombang, di mana dikatakan bahwa
adalah probabilitas untuk menemukan pertikel
pada titik x, pada sutu waktu t, atau lebih tepatnya[2]:
(1.3)

Untuk fungsi gelombang pada gambar 1.2, kemungkinan besar ditemukan partikel di sekitar titik A,
dan relatif tidak mungkin untuk menemukan partikel di sekitar titik B.

Gambar 1.2: Bentuk fungsi gelombang. Partikel kemugnkinan besar ditemukan di sekitar titik A,
dan kemungkinan paling kecil ditemukan di sekitar titik B. Area terarsir merepresentasikan
kemungkikan ditemukannya partkel pada jangkuan dx.
Interpretasi statistik memperkenalkan istilah ketidakpastian dalam mekanika kuantum, bahkan
jika kita telah mengetahui semua teori mengenai partikel (tentunya juga fungsi gelombang), kita
tidak bisa memprediksi dengan tepat hasil dari percobaan sederhana untuk mengukur posisinya,
semua mekanika kuantum menyarankan informasi statistik tentang hasil yang paling mungkin.
Ketidakpastian ini telah menganggu bagi para fisikawan dan filosof. Ini keanehan alam, kekurangan
teori, kesalahan dalam pengukuran aparatus, atau apa?
Andaikan saya mengukur posisi dari partikel, dan saya menemukannya pada titik C. Pertanyaanya:
Di manakan partikel tersebut sesaat sebelum saya melakukan pengukuran? Ada tiga kemungkina
jawaban untuk pertanyaan ini, dan masing-masing merupakan karakter pemikiran mengenai
ketidakpastian kuantum:
1.

Posisi realist: Partikel telah berada di C. Kepastian ini kelihatan seperti jawaban yang
bijaksana, dan ini merupakan salah satu anjuran dari Einstein. Ingat, bagimanapun juga, jika
ini adalah jawan yang benar, maka mekanika kuantum adalah teori yang belum lengkap,
selama partikel benar-benar berada di C, dan sebelumnya mekanika kuantum memang tidak
sanggup untuk mengatakan demikian. Bagi realist, ketidakpastian ini bukan berasal dari
keanehan alam, tetapi merupakan pencerminan dari ketidaktahuan kita. Seperrti dEspagnat
katakan, posisi partikel tidak pernah tidak pasti (pasti), tetapi merupakan ketidaktahuan
dari peneliti.[3] Dengan jelas adalah bukan penyebab utama, beberapa tambahan

informasi (diketahui dengan istilah variabel tersembunyi)


memberikan deskripsi yang lengkap mengenai partikel.

dibutuhkan

untuk

2. Posisi orthodox: Partikel tidak berada di mana-mana. Merupakan kenyataan bahwa


pengukuran yang memaksa partikel untuk berada (bagimana dan mengapa partikel tersbut
berada di titik C tidak dipertanyakan). Jordan mengatakannya secara tepat: Pengamatan
tdak hanya mengganggu apa yang akan diukur, tetapi juga menciptakannya . . kita memaksa
[partikel] untuk mengasumsikan posisi yang pasti.[4] Pandangan ini (yang kemudian
dikenal dengan istilah interpretasi copenhagen) yang merupakan kolega dari Bohr dan
para pengikutnya. Di antara para fisikawan, ini adalah posisi yang paling dapat diterima.
Ingat, bagaimanapun juga, bahwa jika ini benar, maka terdapat sesuatu yang ganjil
mengenai kenyataan pengukuran, debat yang telah dilakukan lenih dari setengah abad,
memberikan penjelasan yang sedikit berharga.
3. Posisi agnostic: menolak untuk menjawab. Ini tidak sekonyol seperti setelah apa yang kita
dengar. Setelah semuanyapertimbangan apa yang bisa kita gunakan sebelum melakukan
pengukuran, ketika satu-satunya jalan untuk mengetahui apakah benar dan tepat apa yang
dilakukan dalam melakukan pengukuran, dalam hal apa yang kamu dapat sebelum
melakukan pengukuran? Ini adalah metafisika (dalam arti kata lain) untuk mengkawatirkan
tentang sesuatu yang tidak dapat di uji coba. Pauli berkata, Orang tidak harus memeras otak
untuk memikirkan masalah yang tidak dapat diketahui mengenai keberadaannya, kemudian
mengenai pertanyaan kuno, berapa banyak malaikat yang dapat duduk diatas jarum[5].
Selama beberapa dekade ini menjadi posisi fall-back dari kebanyakan fisikawan: mereka
mencoba untuk memberikan jawaban no. 2, tetapi jika mereka ditanya secara terus-menerus,
mereka akan beralih ke no.3 dan akhirnya mengakhiri percakapan.
Sampai akhir-akhir ini, semua jawaban (realist, ortodox, dan agnostic) memiliki banyak pengikut.
Tetapi pada 1964, John Bell mengejutkan dunia fisika dengan menunujukkan bahwa itu akan
membuat pengamatan yang berbeda jika partikel memiliki posisi yang tepat (meskipun tidak
diketahui) sebelum dilakukan pengukuran. Penemuan Bell ini menghilangkan agnositisme (doktrin)
dalam menentukan pilihan, dan membuat percobaan pertanyaan apakah jawaban no. 1 atau 2 yang
paling tepat. Kita akan mengetahui cerita ini di lain waktu, dan kita akan bisa menghargai bahwa
teorema Bell adalah yang paling tepat, dan untuk sekarang cukuplah untuk mengatakan eksperimen
tersebut telah mengkonfirmasi interpretasi ortodox[6] secara tegas: sebuah partikel tidak memiliki
posisi yang tepat sebelum pengukuran dan kebanyakan berada disekitar lengkungan, ini adalah
proses pengukuran yang menekankan pada suatu angka tertentu, dan dengan demikian akan
menciptakan hasil yang spesifik, terbatas hanya pada pembobotan statistik yang dikenakan oleh
fungsi gelombang.

Gambar 1.3: pengerucutan fungsi gelombang: grafik dari segera setelah pengukuran menemukan
partikel di titik C.
Tetapi bagimana jika dilakukan pengukuran kedua, segera setelah pengukuran yang pertama?
Apakah akan didapatkan nilai C lagi, atau apakah didapatkan nilai baru pada setiap pengukuran
berikutnya?Pada pertnyaan ini semua fisikawan setuju pada pernyataan ini: pengulangan
pengukuran (pada partikel yang sama) harus dikembalikan pada kondisi semula. Memang, akan
sulit untuk membuktikan bahwa partikel benar-benar berada di titik C pada contoh yang pertama
jika hal ini tidak dapat segera dikonfirmasi dengan pengulangan pengukuran. Bagimana interpretasi
ortodox memberikan jawaban untuk fakta bahwa pengukuran kedua adalah terikat pada nilai C?
Jelas pengukuran yang pertama secara radikal telah mengubah funsi gelombang, sehingga sekarang
berbentuk kerucut yang tajam pada titik C (gambar 1.3). Kita katakan bahwa fungsi gelombang
mengerucut setelah dilakukan pengukuran, menjadi bentuk kerucut ditik C (yang segera menyebar
lagi, sesuai dengan persamaan Schroedinger, sehingga pengukuran kedua harus segera dilakukan
dengan cepat). Terdapat dua hal dalam proses fisika yang keduanya berbeda: biasanya, yang mana
fungsi gelombang berevolusi dalam aturan persamaan Scroedinger, dan pengukuran yang mana
secara tiba-tiba dan diskontinyu terkerucut.[7]

1.3 Probabilitas
Karena interpretasi statistik, probabilitas memainkan aturan penting dalam mekanika kuantum,
maka di sini akan dibahas materi yang sedikit menyimpang dari topik utama, yaitu diskusi singkat
mengenai teori probabilitas. Hal ini terutama soal memperkenalkan beberapa notasi dan
terminologi, dan kita akan melakukannya dalam konteks contoh sederhana.
Bayangkan sebuah ruangan yang berisi 14 orang yang masing-masing berumur seperti yang
disebutkan di bawah:

satu orang berumur 14 tahun

satu orang berumur 15 tahun

tiga orang berumur 16 tahun

dua orang berumur 22 tahun

dua orang berumur 24 tahun

lima orang berumur 25 tahun.

Jika N(j) menggambarkan jumlah orang pada umur j, maka

Gambar 1.4: Histogram menunujukkan jumlah orang N(j) dengan umur j, untuk contoh pada sesi
1.3.

N(14) = 1

N(15) = 1

N(16) = 3

N(22) = 2

N(24) = 2

N(25) = 5

Di mana N(17), adalah nol. Jumlah total orang yang ada dalam ruangan adalah:
(1.4)

(tentunya, N=14) Gambar 1.4 adalah histogram dari data. Di bawah ini adalah beberapa pertanyaan
yang akan mempertanyakan seputar distribusi.

Pertanyaan pertama. Jika kita mengambil secara random satu individu dalam group ini,
berapakah probabilitas bahwa orang ini berumur 15 tahun? Jawaban: satu peluang dalam 14, jadi
terdapat 14 kemungkinan pilihan. Jika P(j) adalah probabilitas untuk mendapatkan umur j, maka
P(14) = 1/14, P(15) = 1/14, P(16) = 3/14, dan seterusnya. Dapat ditulis,
(1.5)

Ingat bahwa probabilitas untuk mendapatkan 14 dan 15 adalah jumlah dari probabilitas masingmasing (yaitu, 1/7). Dengan kata lain, jumlah total dari probabilitas masing-masing umur adalah 1:
(1.6)

Pertanyaan kedua. Berapkah probabilitas umur yang paling besar? Jawab: 25, karena terdapat 5
orang dalam kelompok umur ini, sedangkan pada umur yang lain tidak lebih besar dari 3 orang.
Dengan kata lain, probabilitas j paling besar adalah j yang memiliki P(j) maksimum.
Pertanyaan ketiga. Berapakah mediannya? Jawab: 23, di mana 7 orang berumur lebih muda, dan
7 orang lainnya lebih tua. (dengan kata lain, median adalah nilai dari j yang probabilitas
mendapatkan umur yang lebih besar sama dengan probabilitas mendapatkan umur yang lebih kecil.)
Pertanyaan keempat. Berapakah rata-ratanya (mean)? Jawab:

Dengan kata lain, nilai rata-rata dari j (yang lebih sering ditulis dengan :

) diberikan oleh

(1.7)

Ingat bahwa tidak ada seorangpun yang memiliki umur pada mean atau median, pada contoh ini, tak
ada seorangpun yang berumur 21 atau 23. Pada mekanika kuantum, rata-rata biasanya adalah

kuantitas penting, dalam konteks dapat dinamakan dengan nilai ekspektasi. Ini adalah bentuk
yang dapat menyesatkan kita, yang dapat diartikan bahwa ini adalah hasil yang paling mungkin
didapatkan dalam pengukuran tunggal (bahwa probabilitas terbesar bukan berarti nilai rata-rata),
tetapi saya kuatir kita akan terjebak dengan istilah ini.
Pertanyaan kelima. Berapakah rata-rata kuadaratnya? Jawab: kita mendapatkan 14 2 = 196,
dengan probabilitas 1/14, atau 15 2=225 dengan probabilitas 1/14, atau 16 2 = 256 dengan
parobabilitas 3/14, dan seterusnya. Rata-ratanya, kemudian adalah
(1.8)

Dengan kata lain, nilai rata-rata dari beberapa fungsi j adalah diberikan oleh
(1.9)

(Persamaan 1.6, 1.7, dan 1.8 adalah, jika kamu perhatikan merupakan kasus khusus dari formula
ini). Hati-hati: rata-rata dari kuadrat (
) adalah tidak sama dengan kuadrat dari rata-rata (
). sederhanya, jika sebuah ruangan hanya berisi dua bayi, yang berumur, 1 dan 3 tahun,
maka

tetapi

Gambar 1.5: Dua buah histogram dengan rata-rata, median, nilai paling mungkin yang sama, tetapi
memiliki standar deviasi yang berbeda..
Sekarang, terdapat perbedaan yang sangat mencolok dari dua buah histogram dalam gambar 1.5,
walaupun keduanya memiliki median sama, mean yang sama, probabilitas yang sama, dan elemen
angka yang sama pula: yang pertama mengkerucut tajam pada rata-rata, dan yang kedua menyebar
dan cenderung datar. (yang pertama mungkin merepresentaskan profil umur siswa di kelas-kelas
perkotaan besar, dan kedua pada sekolah-sekolah yang ada di pedesaan.) kita membutukan ukuran

jumlahan numerik mengenai sebaran distribusi, yang berkaitan dengan rata-rata. Cara yang paling
jelas untuk melakukan ini adalah menemukan seberapa jauh seorang individu menyimpang dari
rata-rata.
(1.10)

Dan menghitung rata-rata dari


. Permasalahannya adalah, tentunya kita akan mendapatkan hasil
nol, karena pengurangan dengan rata rata, dengan sendirinya,
bisa positif dan negatif:

(Ingat, bahwa
adalah konstanta, dan itu tidak akan berubah dari satu bentuk jumlahan ke bentuk
yang lain.) Untuk menghindari permasalahan yang menjengkelkan ini, kita sebaiknya menghitung
rata-rata dari nilai absolut dari
. Tetapi nilai absolut adalah suatu pekerjaan yang tidak
menyenangkan, tetapi, kita dapat menyelesaikan masalah ini dengan mengkuadratkan dulu sebelum
menhitung rata-ratanya:
(1.11)

Kuantitas ini dikenal dengan variansi dari distribusi,


sendiri (akar dari rata-rata kuadrat dari
deviasi dari rata-rata wow!) dinamakan standar deviasi. Yang terakhir adalah pengukuran dari
penyebaran

Terdapat teori sederhana yang menggunakan standar deviasi:

Atau,
(1.12)

Persamaan
menghitung

1.12

membuktikan

dan

metode

perhitungan

yang

lebih

cepat:

hanya

dengan

, dan mengurangkannya. Secara kebetulan, saya ingatkan beberapa saat

yang lalu bahwa


tidak sama dengan
. Selama
tidak negatif (dari definisi pada persamaa
1.11), persamaan 1.12 secara tidak langsung juga berarti bahwa
(1.13)

Dan keduanya akan sama hanya jika


, yang dapat dikatakan untuk distribusi dengan tanpa
sebaran (setiap pengukuran menghasilkan nilai yang sama).
Sejauh ini, diasumsikan jika kita hanya berhubungan dengan variabel diskret, yang mamberikan
nilai yang pasti (pada contoh ini, j memiliki nilai yang bulat selama hanya menggunakan tahun saja).
Tetapi cukup sderhana jika diperluas menjadi distribusi kontinyu. Jika saya mengambil orang secara
random di jalan, probabilitas bahwa umurnya adalah 16 tahun, 4 jam, 27 menit, dan 3,3333 detik
adalah nol. Satu-satunya hal yang paling mungkin adalah mengatakan probabilitas bahwa usianya
terletak dalam interval tertentu, katakanlah diantara 16 tahun, dan 16 tahun lebih satu hari. Jika
intervalnya cukup pendek, probabbilitasnya akan proporsonal dengan panjang intervalnya.
Misalnya, kemungkinan bahwa umunya diantara 16 dan 16 lebih 2 hari adalah kira-kira 2 kali dari
probabilitas umurnya berada diantara 16 dan 16 lebih 1 hari.(kecuali, kalau terjadi kejadian luar
biasa, misalkan ledakan kelahiran bayi pada 16 tahun yang lalu pada hari itu, pada kasus ini, kita
telah mengambil interval terlalu panjang untuk digunakan. Jika ledakan kelahiran bayi terjadi 6 jam
terakhir, sebaiknya kita mengambil interval pada skala detik atau kurang, untuk lebih
amanya.Secara teknis, kita berbicara mengenai interval yang sangat kecil.) Dengan demikian
(1.14)

Faktor proporsionalitas,
, sering dinamakan dengan probabilitas untuk mendapatkan x, tetapi
ini adalah bahasa yang tidak bagus, bentuk yang lebih baik adalah rapat probabilitas. Probablilitas
bahwa x berada diantara a dan b (pada interval terbatas) diberikan oleh integral dari
(1.15)

Dan aturan yang telah dideduksi dari distribusi diskret di wujudkan dalam cara di bawah:
(1.16)

di mana

adalah
(1.17)

maka untuk

adalah
(1.18)

dengan demikian
(1.19)

1.4 Normalisasi
Sekarang Kita kembali ke interpretasi statistik fungsi gelombang (persamaan 1.3), yang dikatakan
bahwa

adalah rapat probabilitas dalam menemukan partikel pada titik x dalam waktu t.

Dari persamaan 1.16 dikatakan juga bahwa integral


berada pada suatu tempat):

harus bernilai 1 (yang berarti partikel harus

(1.20)

Tanpa ini, interpretasi statistik tidak akan bernilai apa-apa.


Bagaimanapun, hal ini seharunya mengganggu kita: fungsi gelombang dihasilkan dengan
menyelesaikan persamaan Schroedinger, tetapi kita tidak dapat menentukan kondisi tanpa
memperhatikan bahwa keduanya konsisten. Sepintas persamaan 1.1 menyatakan bahwa

merupakan solusi, begitu juga dengan


, di mana A adalah suatu konstanta kompleks. Apa
yang harus kita lakukan kemudian adalah dengan memasukkan faktor pengganda pada persamaan
1.20 untuk meyakinkan bahwa persamaan 1.20 dapat terpenuhi. Proses ini dinamakan
dengan normaslisasi fungsi gelombang. Pada beberapa solusi persamaan Shroedinger, batasan
integralnya adalah tak terbatas (infinite), pada kasus ini tak ada faktor pengganda yang bisa
menghasilkan nilai 1, yang pada akhirnya akan menghasilkan solusi trivial
. Kelihatan seperti
solusi yang tak ternormalisasi yang tak dapat merepresentasikan sebuah partikel, dan ini tidak dapat
diterima. Keadan yanng dapat dicapai secara fisis berkaitan dengan solusi pengintegral-kuadrat
(square-integrable[8]) pada persamaan Schroedinger.
Tetapi tunggu dulu! Andaikan saya telah menormalisasikan fungsi gelombang pada waktu
,
bagaimana saya bisa memastikan kalau itu akan tetap ternormalisasi setelah waktunya berjalan
dan
berubah? (kita tidak bisa tetap menormaslisasikannya, karena A menjadi sebuah fungsi t,
dan mkita tidak akan mendapatkan solusi dari persamaan Shroedinger.) Untungnya, persamaan
Scroedinger mempunyai sifat yang dapat mempertahankan normalisasi fungsi gelombang. Tanpa
keistimewaan ini, persamaan Shroedinger tidak akan cocok dengan interpretasi statistik, dan teoriteori yang telah dijelaskan tadi akan runtuh.maka sebaiknya kita berhenti sejenak dan coba
perhatikan bukti ini dengan seksama:
(1.21)

[Ingat bahwa integral tersebut hanya merupakan fungsi t, maka digunakan turunan total ( ) dalam
bentuk yang pertama (bagian kiri tanda =), tetapi integran adalah fungsi x dan juga t, maka
digunakan turunan parsial ( ) pada bentuk kedua (sebelah kanan tanda =)]. Dengan aturan
perkalian,
(1.22)

Di mana persamaan Schroedinger tampak seperti di bawah ini


(1.23)

Dan karenanya (dengan menggunakan kompleks konjugat pada persamaan 1.23)


(1.24)

Maka
(1.25)

Integralnya (persamaan 1.21) dapat ditulis secara eksplisit:


(1.26)

Tetapi
pasti bernilai nol, karena batas integralnya adalah () tak terbatas, sebaliknya fungsi
gelombang tidak akan ternormalisasi, sehingga persamaan 1.26 menjadi
(1.27)

Dan oleh karena itu, integral pada bagian kiri konstan (tidak bergantung waktu), jika
ternormalisasi pada
, maka akan tetap ternormalisasi pada waktu ke depannya. TERBUKTI

1.5 Momentum
Partikel dengan keadaan

, nilai ekspetasi x adalah

(1.28)

Apakah sebenarnya ini artinya? Ini secara tegas bukan berarti jika kamu mengukur posisi partikel,
lagi, lagi, dan lagi,
adalah rata-rata dari hasil yang kamu peroleh.
Kebalikannya, pengukuran pertama (yang tidak tentu) akan mengkerucutkan fungsi gelombang yang
menajam pada nilai yang dihasilkan pada pengukuran tersebut, dan pengukuran selanjutnya (jika
dilakukan dengan segera) akan menghasilkan nilai yang sama. Pengertian yang lebih baik,
adalah rata-rata pengukuran yang dilakukan pada partikel dengan keadaan , yang berarti kamu
harus mengembalikan partikel kepada keadaan awal setelah masing-masing pengukuran, atau
dengan cara lain, kamu menyiapkan banyak partikel, yang masing-masing memiliki keadaan yang
sama, dan mengukur posisi masing-masing partikel tersebut:
adalah rata-rata dari setiap hasil
tersebut.[saya lebih suka menggambarkannya dengan sebarisan botol di atas papan, setiap botol
berisi partikel dengan keadaan yang sama (relatif terhadap pusat botol). Beberapa orang
mahasiswa dengan alat ukur berada pada maasing-masing botol, dan pada saat diberi tanda mereka
mengukur posisi dari partikel yang ada di botol yang di depannya secara bersamaan. Ketika dibuatan
histogram dari hasil pengukuran dengan

, dan dihitung rata-ratanya, yang seharusnya sama

dengan
. (tentunya, kita hanya bisa menggunakan contoh yang berhingga, kita tidak bisa
mengharapkan hasil yang sempurna, tetapi lebih banyak botol yang digunakan maka hasil yang
didapatkan akan semakin baik)]. Pendek kata, nilai ekspektasi adalah rata-rata dari pengulangan
pengukuran pada beberapa sistem yang identik, bukan rata-rata dari pengulangan pengukuran pada
sistem yang sama.
Sekarang, dengan berjalannya waktu,
akan berubah (karena faktor kebergantungan terhadap
waktu), dan mungkin kita akan tertarik untuk mengetahui seberapa cepat perubahannya. Merujuk
pada persamaan 1.25 dan 1.28, kita lihat bahwa[9]
(1.29)

Ungkapan di atas dapat disederhanakan dengan integral terpisah[10]


(1.30)

[saya menggunakan fakta bahwa


.dan mengeluarkannya dari batas integral, akan
bernilai nol pada .] dengan menerapkan integral terpisah pada bentuk kedua, didapatkan

(1.31)

Bagimanakah hasilnya? Ingat bahwa kita berbicara mengenai kecepatan dari nilai ekspektasi x,
yang mana tidak sama dengan kecepatan dari partikel. Tak ada yang bisa kita tahu lebih jauh untuk
menghitung kecepatan partikel, tidak jelas apakah pengertian kecepatan dalam mekanika kuantum.
Jika partikel tidak mempunyai posisi yang tepat (pada saat pengukuran), maka kita juga tidak dapat
menentukan kecepatan partikel dengan benar. Semua yang dapat kita jawab adalah mengenai
probabilitas untuk mendapatkan kuantitas fisis secara terpisah. Akan kita lihat dalam pembahasan
selanjutnya bagaimana mengkonstruksi rapat probabilitas untuk kecepatan pada keadaan , untuk
saat ini cukuplah mempostulatkan bahwa nilai ekspektasi dari kecepatan adalah turunan terhadap
waktu dari nilai ekspektasi posisi:
(1.32)

Persamaan 1.31 memberitahukan kita bagaimana menghitung


Sebenarnya, biasanya lebih mudah bekerja dengan momentum

secara langsung dari

, dari pada kecepatan:

(1.33)

tetapi coba kita ekspresikan

dan

dengan jalan lain yang lebih sederhana :


(1.34)

dan untuk

adalah:

(1.35)

Dapat dikatakan bahwa operator x merepresentasikan posisi, dan operator


merepresentasikan momentum, dalam mekanika kuantum, untuk menghitung nilai ekspektasi,
kita menempatkan operator yang tepat diantara
dan , kemudian mengintegrasikannya.
Indah bukan? Tetapi bagaimana dengan variabel dinamis yang lain? Faktanya adalah semua
kuantitas fisis dapat ditulis dalam bentuk posisi dan momentum. Energi kinetik, misalnya, adalah:

Dan momentum angular adalah

(persamaan yang terakhir, tentunya tidak hanya berdasarkan pada gerak satu dimensi saja). Untuk
menghitung nilai ekspektasi kuantitas seperti ini, sederhananya saja dengan mengganti setiap p
dengan

, memasukkannya ke dalam

dan

, kemudian mengintegrasinya:

(1.36)

misalnya
(1.37)

Persamaaan 1.36 adalah perumusan untuk mnghitung nilai ekspektasi untuk semua kuantitas
dinamis untuk partikel pada keadaan yang berasal dari persamaan 1.34 dan 1.35 .

1.6 Prinsip Ketidakpastian


Bayangkan kalau kamu sedang memegang ujung sebuah tali yang sangat panjang, dan kamu
membangkitkan gelombang dengan mengguncangnya naik turun secara beraturan (Gambar 1.6).
Jika seeorang bertanya kepadamu,tepatnya, di manakah gelombang itu berada? Kamu mungkin
akan berfikir kalau dia sedikit gila: Gelombangnya tidak tepat berada di suatu tempat, gelombangnya
tersebar pada interval 50 kaki, kira-kira begitu jawabannya. Dengan kata lain, jika dia menanyakan
berapakah panjang gelombannya, kamu mungkin bisa menjawabnya dengan jawaban yang
beralasan: itu sekitar 6 kaki.Tetapi sebaliknya, jika kemu memberikan sentakan yang tiba-tiba pada
tali itu (Gambar 1.7), kamu akan mendapatkan sebuah lengkungan sempit yang bergerak merambat
pada tali. Kali ini pertanyaannya (tepatnya, di manakah gelombangnya berada?) ini adalah
perntanyaan yang logis, dan yang kedua (Berpakah panjang gelombangnya?) kelihatan sebuah
pertanyaan yang aneh, kali ini gelombangnya memiliki periode yang tidak tentu, bagimanakah kamu
bisa menentukan panjang gelombangnya?

Gambar 1.6: gelombang dengan (secara wajar) memiliki panjang gelombang yang pasti tetapi
posisinya tidak jelas.
Tentunya, kamu dapat menggambarkan gelombang dengan kasus di atara dua gelombang tadi, yang
memiliki posisi yang terdefinisi dengan baik dan panjang gelombang yang juga terdefinisi dengan
baik, tetapi terdapat harga yang harus dibayar: gelobang yang memilki posisi yang pasti, adalah
gelombang yang memiliki panjang gelombang yang tidak pasti, dan vice versa[12]. Teorema
analisis Fourier dengan tepat membahas hal ini, tetapi kali ini hanya akan dibahas secara kualitatif.
Penggunaan ini tentunya untuk semua fenomena gelombang, dan juga pada fungsi gelombang
mekanika kuantum. Sekarang panjang gelombang
dihubungkan dengan momentum dari partikel
dengan menggunakan formulasi de Broglie[13]:
(1.39)

Oleh karena itu, penyebaran panjang gelombang berkitan dengan penyebaran momentum, dan
secara umum dapat dikatakan bahwa, penentuan posisi yang paling tepat adalah penentuan
momentum yang tidak tepat. Secara kuantitatif:
(1.40)

Di mana,
adalah standar deviasi x, dan
adalah standar deviasi p. Ini adalah prinsip
ketidakpastian Heissenberg yang terkenal. (penjelasan mengenai ini akan dijeaskan kemudian)

Gambar 1.7: Gelombang dengan posisi yang dapat ditentukan secara pasti tetapi memiliki panjang
gelombang yang tidak pasti.

Mohon dimengerti pengertian dari prinsip ketidak pastian: seperti pengukuran posisi,
pengukuran momentum menghasilkan jawaban yang tepat, penyebaran di sini merujuk pada
fakta bahwa pengukuran tersebut pada sistem-sistem yang identik tidak menghasilkan nilai yang
konsisten. Kamu bisa, jika kamu mau, siapkan sistem seperti pada pengukuran posisi berulang
yang dilakukan sangat cepat antara satu pengukuran dengan yang lain (dengan membuat yang
terlokalisasi dalam kerucut), tetapi ada harga yang harus dibayar: Momentum pada pengukuran
ini akan sangat lebar penyebarannya. Atau kamu bisa menyiapkan sistem yang bisa
menghasilkan momentum (dengan membuat gelombang sinusoidal panjang), tetapi pada kasus
ini pengukuran posisi kan menghasilkan nilai yang penyebarannya sangat lebar. Atau kamu
sudah jenuh untuk menyiapkan sistem tersebut dan akhirnya membuat sistem dengan posisi dan
momentum yang tidak terdefinisi dengan baik: persamaan 1.40 adalah sebuah ketidaksamaan,
dan tidak terdapat batas tentang seberapa besar
dan , hanya dengan membuat pada tali
yang cukup panjang dengan banyak perut dan lembah gelombang dan tanpa struktur periodik.

[1] Gaya magnetik adalah pengecualian, tapi jangan dulu dikawatirkan mengenai hal ini. Dengan
kata lain, kita sebaiknya mengasumsikannya kali ini bahwa gerakannya adalah non-relativistk (v <<
c)

[2] Fungsi gelombang adalah fungsi kompleks, tetapi


(dimana
adalah kompleks
konjugat dari ) yang bersifat real dan tidak negtif-sebagai sebuah probabiltas tentunya.
[3] Bernard dEspagnat, The Quantum Theory and Reality, Scientic American, Nov 1979 (Vol 241),
halaman 165.

[4] Dikutip dari artikel yang menarik oleh N. David Mermin, Apakah bulan masih ada ketika tak
seorangpun melihat?, Physics Today, April 1985, halaman 38.
[5] Dikutip oleh Mermin (catatan kaki sebelumnya), halaman 40.
[6]Pernyataan ini cukup kuat: berdasarkan pada beberapa teori dan eksperimen terobosan,
beberapa diantaranya akan dibahas kemudian. Dan terdepat keeksisan dengan formulasi lain
(seperti interpretasi banyak dunia) yang tidak dapat dimasukkan dalam tiga jawaban posisi (realist,
ortodox, dan agnostic). Tetapi ini dirasa cukup bijaksana, paling tidak dalam pandangan pendidikan,
untuk memakai landasan yang benar dan tepat pada tingkat ini, dan mengabaikan pilihan lainnya.
[7]Aturan pengukuran dalam mekanika kuantum sangat kritis dan ganjil yang mungkin akan
meragukan kita apakah pengkuran yang dulakukan sudah tepat. Apa yang telah dilakukan dalam
hubungannya dengan interaksi antara sistem mikroskopik (kuantum) dengan pengukuran aparatus
makroskopik (klasik) (seperti yang dikatakan Bohr),
[8]Nyatanya
pasti menghasilkan nilai nol lebih cepat dari pada
, di mana
.
Normalisasi hanya menghasilkan nilai modulus A, fase gelombang tidak akan dihasilkan.
Bagimanapun juga, seperti yang telah kita lihat, tak ada hasil fisis yang dihasilkan.
[9]Untuk menhindari kekacauan penulisan persamaan pada bentuk ingteral, saya akan
menyembunyikan batas integral ketika menjadi .
[10]Aturan product rule adalah:

yang mana mengikuti kaidah di bawah ini: