Anda di halaman 1dari 21

Daftar isi.............................................................................................................

1
BAB. I PENDAHULUAN...................................................................................2
Latar Belakang.....................................................................................................2
Tujuan Penulisan..................................................................................................2
Rumusan Masalah................................................................................................2
Manfaat Penulisan................................................................................................2
BAB. II LANDASAN TEORI..............................................................................3
BAB.III METODOLOGI......................................................................................4
BAB. IV PEMBAHASAN....................................................................................5
SIFAT DAN SUSUNAN STRUKTUR DALAM KAYU.....................................5
Sifat kayu secara kimiawi.......................................................................................7
Sifat kayu secara fisik.............................................................................................7
Sifat kayu secara mekanik......................................................................................8
Cacat kayu...............................................................................................................9
Macam Penggunaan kayu.......................................................................................10
Kayu dalam konstruksi bangunan...........................................................................13
Cara pengawetan kayu............................................................................................15
BAB. V PENUTUP................................................................................................18
Kesimpulan.............................................................................................................18
Daftar Pustaka.........................................................................................................19

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG
Bangunan bukan hanya merupakan sebuah benda yang dapat dipamerkan oleh pemiliknya, tapi

juga merupakan tempat bernaung, bertedeuh dan beraktivitas. Terlebih lagi sebagian besar aktivitas
sehari-hari kita lakukan di dalam ruang. Dengan pentingnya ruang sebagai bagian dari bangunan itu
sendiri maka pantaslah kita harus teliti dalam memilih material dan bahan bangunan yang baik dan
sesuai dengan kondisi iklim di mana bangunan itu akan berdiri. Kayu merupakan salah satu bahan
bangunan yang berasala dari alam dan sangat sering digunakan.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kayu merupakan bahan yang sangat sering dipergunakan
untuk tujuan penggunaan tertentu. Terkadang sebagai barang tertentu, kayu tidak dapat digantikan
dengan bahan lain karena sifat khasnya. Kita sebagai pengguna dari kayu yang setiap jenisnya
mempunyai sifat-sifat yang berbeda, perlu mengenal sifat-sifat kayu tersebut sehingga dalam pemilihan
atau penentuan jenis untuk tujuan penggunaan tertentu harus betul-betul sesuai dengan yang kita
inginkan. Selanjutnya akan dibahas mengenai sifat kayu, keuntungan dan kelemahannya.
1.2.

TUJUAN PENULISAN

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memahami sifat-sifat dasar dari kayu untuk
memudahkan para pengguna dalam memilih kayu sebagai bahan kontruksi bangunan. Sifat-sifat dari
kayu yang akan digunakan sebagai bahan kontruksi.
1.3.
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana sifat-sifat kayu yang baik untuk kontruksi?
Apa sajakah parameter yang perlu diperhatikan pada kayu sebagai bahan kontruksi?

1.4.

MANFAAT PENULISAN

Adapun manfaat dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah :


2

1. Penulis dan pembaca dapat mengetahui tentang jenis-jenis kayu yang cocok pada suatu kebutuhan
struktur bangunan tertentu.
2. menambah pengetahuan dan ilmu bagi penulis dan pembaca
3. sebagai pemenuhan tugas yang diberikan dosen.

BAB II
LANDASAN TEORI
Kayu merupakan hasil hutan yang mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai dengan
kemajuan teknologi. Kayu memiliki beberapa sifat yang tidak dapat ditiru oleh bahan-bahan lain.
Pemilihan dan penggunaan kayu untuk suatu tujuan pemakaian. Mengetahui sifat-sifat dari kayu ini
penting sekali dalam industri pengolahan kayu sebab dari pengetahuan sifat tersebut tidak saja dapat
dipilih jenis kayu yang tepat serta macam penggunaan yang memungkinkan, akan tetapi juga dapat
dipilih kemungkinan penggantian oleh jenis kayu lainnya apabila jenis yang bersangkutan sulit didapat
secara kontinyu atau terlalu mahal.
Sebagai bahan konstruksi bangunan, kayu sudah dikenal dan banyak dipakai belum orang
mengenal beton dan baja. Dalam pemakaiannya kayu tersebut harus memenuhi syarat : mampu
menahan bermacam-macam beban yang bekerja dengan aman dalam jangka waktu yang direncanakan;
mempunyai ketahanan dan keawetan yang memadai melebihi umur pakainya; serta mempunyai ukuran
penampang dan panjang yang sesuai dengan pemakainnya dalam konstruksi.
Salah satu kendala yang ada pada pemakaian kayu hutan tanaman atau hutan rakyat adalah
ukuran dan mutu kayu yang dihasilkan sangat bervariasi sehingga pemakai seringkali merasa kesulitan
dalam memilih jenis dan ukuran yang akan dipakai. Oleh karena itu perlu adanya upaya lain yaitu
pemasyarakatan/pengenalan jenis dan ukuran kayu yang dihasilkan dari hutan rakyat tersebut.

BAB III :
METODOLIGI

1. Metode Pustaka.
Metode pustaka yaitu cara pengumpulan dan dengan cara membaca buku ataupun literature lain yang
ada kaitanya terhadap obyek pembahasan.
2. Metode Langsung.
Metode langsung yaitu metode mencari data dengan browsing di internet untuk mencari informasi
tentang obyek pembahasan.
3. Metode Diskriptif Analitik.
Metode diskriptif analitik yaitu metode mendiskripsikan dan menganalisa literature atau buku sebagai
tambahan dalam kajian terhadap obyek yang ditulis.

BAB IV
PEMBAHASAN

SIFAT DAN SUSUNAN STRUKTUR DALAM KAYU


Ada banyak sekali jenis-jenis kayu. Dalam konstruksi dan pemakaian kayu sebagai bagian dari
konstruksi bangunan seseorang harus benar-benar mengetahui dan memahami sifat-sifat serta jenisjenis kayu yang biasa digunakan sebagai konstruksi bangunan itu sendiri. Sebelum memahami sifatsifat kayu, terlebih dulu kita harus mengenal bagian-bagian kayu.
KULIT
Adalah bagian yang terdapat pada bagian terluar, disini saya bedakanmenjadi dua bagian yaitu
Kulit luar yang mati, mempunyai ketebalan yang bervariasi menurut jenis pohon. Kulit bagian
dalam yang bersifat hidup dan tipis. Kulit berfungsi sebagai pelindung bagian-bagian yang
terdalam, terhadap kemungkinan pengaruh dari luar yang bersifat merusak, misalnya iklim,
serangan serangga, hama, kebakaran serta perusak kayu lainnya. Selain itu berfungsi sebagai
jalan bahan makanan dari daun ke bagian-bagian tanaman.
KAMBIUM
Merupakan jaringan yang lapisannya tipis dan bening, melingkari kayu, ke arah luar
membentuk kayu yang baru. Dengan adanya kambium maka pohon lambat laun bertambah
besar. Pertumbuhan meninggi ditentukan oleh jaringan meristem. Kambium terletak antara kulit
dalam dan kayu gubal.
KAYU GUBAL
Bagian kayu yang masih muda terdiri dari sel-sel yang masih hidup, terletak di sebelah dalam
kambium dan berfungsi sebagai penyalur cairan dan tempat penimbunan zat-zat makanan. Tebal
lapisan kayu gubal bervariasi menurut jenis pohon. Umumnya jenis yang tumbuh cepat
6

mempunyai lapisan kayu gubal lebih tebal dibandingkan dengan kayu terasnya. Kayu gubal
biasanya mempunyai warna terang.
KAYU TERAS
Terdiri dari sel-sel yang dibentuk melalui perubahan-perubahan sel hidup pada lingkaran kayu
gubal bagian dalam, disebabkan terhentinya fungsi sebagai penyalur cairan dan lain-lain proses
kehidupan. Ruang dalam kayu teras dapat mengandung berbagai macam zat yang memberi
warna lebih gelap. Tidak mutlak semua kayu teras demikian. Hanya pada jenis-jenis yang kayu
terasnya berisi tiloses. Pada beberapa jenis tertentu kayu teras banyak mengandung bahanbahan ekstraktif, yang member keawetan pada kayu tersebut, membuat lebih berat dan lebih
awet. Akan tetapi tidak semua jenis kayu yang memilikizat ekstraktif sudah dapat dipastikan
keawetannya. (Misalnya yang mempunyai kandungan zat gula, zat gtepung dan lain
sebagainya).
HATI
Merupakan bagian kayu yang terletak pada pusat lingkaran tahun (tidak mutlak pada pusat
bontos). Hati berasal dari kayu awal, yaitu bagian kayu yang pertama kali dibentuk oleh
kambium. Oleh karena itu umumnya mempunyai sifat rapuh atau sifat lunak.
LINGKARAN TAHUN
Batas antara kayu yang terbentuk pada permulaan dan pada akhir suatu musim. Melalui
lingkaran-lingkaran tahun ini dapat diketahui umur pohon. Apabila pertumbuhan diameter
(membesar) terganggu oleh musim kering karena pengguguran daun, ataupun serangga/hama,
maka lingkaran tahun dapat terdiri lebih dari satu lingkaran tahun (lingkaran tumbuh) dalam
satu musim yang sama. Hal ini disebut lingkaran palsu. Lingkaran tahun dapat mudah dilihat
pada beberapa jenis kayu daun lebar. Pada jenis- jenis lain, lingkaran tahun ada kalanya sulit
dibedakan terutama di daerah tropic, karena pertumbuhan praktis berlangsung sepanjang tahun.
JARI-JARI
Dari luar ke dalam berpusat pada sumbu batang, berfungsi sebagai tempat saluran bahan
makanan yang mudah diproses di daun guna pertumbuhan pohon.
Kayu memiliki kelebihan sebagai berikut:
Mudah didapatkan di toko-toko material.
Banyak dikuasai oleh tukang lokal.
Bahan kayu dapat dibentuk, dipotong, dan digunakan secara fleksibel.
Kelebihan-kelebihan dari kayu sebagai bahan konstruksi bangunan itu sendiri tentu memberikan
keuntungan bagi kita sendiri, namun dibalik kelebihan-kelebihannya itu kayu juga memiliki
kekurangan-kekurangan.

Berikut kekurangan dari kayu:

Mudah terbakar, dan dapat dimakan rayap.


Dapat mengembang dan menyusup.
Bentang atap dengan konstruksi kayu seringkali terbatas karena ukuran kayu di pasaran adalah
4 meter.
Harga kayu semakin lama semakin mahal karena semakin berkurangnya stok kayu dari alam.

SIFAT KAYU SECARA KIMIAWI:


Kayu dapat diserang oleh hama dan penyakit dan dapat terbakar terutama dalam keadaan
kering.
Kayu tersusun dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam-macam dan susunan dinding selnya
terdiri dari senyawa kimia berupa selulosa dan hemi selulosa (karbohidrat) serta lignin (non
karbohidrat).
Semua kayu bersifat anisotropik, yaitu memperlihatkan sifat-sifat yang berlainan jika diuji
menurut tiga arah utamanya (longitudinal, radial dan tangensial).
Kayu merupakan bahan yang bersifat higroskopis, yaitu dapat menyerap atau melepaskan kadar
air (kelembaban) sebagai akibat perubahan kelembaban dan suhu udara disekelilingnya.
SIFAT KAYU SECARA FISIK:
Berat suatu kayu tergantung dari jumlah zat kayu, rongga sel, kadar air dan zat ekstraktif
didalamnya. Berat suatu jenis kayu berbanding lurus dengan BJ-nya. Kayu mempunyai berat
jenis yang berbeda-beda, berkisar antara BJ minimum 0,2 (kayu balsa) sampai BJ 1,28 (kayu
nani). Umumnya makin tinggi BJ kayu, kayu semakin berat dan semakin kuat pula.
Arah serat adalah arah umum sel-sel kayu terhadap sumbu batang pohon. Arah serat dapat
dibedakan menjadi serat lurus, serat berpadu, serat berombak, serta terpilin dan serat diagonal
(serat miring).
Kesan raba adalah kesan yang diperoleh pada saat meraba permukaan kayu (kasar, halus, licin,
dingin, berminyak dll). Kesan raba tiap jenis kayu berbeda-beda tergantung dari tekstur kayu,
kadar air, kadar zat ekstraktif dalam kayu.
Bau dan rasa kayu mudah hilang bila kayu lama tersimpan di udara terbuka. Beberapa jenis
kayu mempunyai bau yang merangsang dan untuk menyatakan bau kayu tersebut, sering
digunakan bau sesuatu benda yang umum dikenal misalnya bau bawang (kulim), bau zat
penyamak (jati), bau kamper (kapur) dsb.

Keawetan adalah ketahanan kayu terhadap serangan dari unsur-unsur perusak kayu dari luar
seperti jamur, rayap, bubuk dll. Keawetan kayu tersebut disebabkan adanya zat ekstraktif
didalam kayu yang merupakan unsur racun bagi perusak kayu. Zat ekstraktif tersebut terbentuk
pada saat kayu gubal berubah menjadi kayu teras sehingga pada umumnya kayu teras lebih awet
dari kayu gubal.
Tekstur adalah ukuran relatif sel-sel kayu. Berdasarkan teksturnya, kayu digolongkan kedalam
kayu bertekstur halus (contoh: giam, kulim dll), kayu bertekstur sedang (contoh: jati,
sonokeling dll) dan kayu bertekstur kasar (contoh: kempas, meranti dll).
Gambar kayu tergantung dari pola penyebaran warna, arah serat, tekstur, dan pemunculan riapriap tumbuh dalam pola-pola tertentu. Pola gambar ini yang membuat sesuatu jenis kayu
mempunyai nilai dekoratif.
Kayu mempunyai sifat dapat menyerap atau melepaskan air. Makin lembab udara
disekitarnya makin tinggi pula kelembaban kayu sampai tercapai keseimbangan dengan
lingkungannya. Dalam kondisi kelembaban kayu sama dengan kelembaban udara
disekelilingnya disebut kandungan air keseimbangan (EMC = Equilibrium Moisture Content).
Kayu memiliki sifat sendiri terhadap suara:
Sifat akustik, yaitu kemampuan untuk meneruskan suara berkaitan erat dengan elastisitas
kayu.
Sifat resonansi, yaitu turut bergetarnya kayu akibat adanya gelombang suara. Kualitas
nada yang dikeluarkan kayu sangat baik, sehingga kayu banyak dipakai untuk bahan
pembuatan alat musik (kulintang, gitar, biola dll).
Sifat daya hantar kayu sangat jelek sehingga kayu banyak digunakan untuk membuat barangbarang yang berhubungan langsung dengan sumber panas. Pada umumnya, kayu juga
merupakan bahan hantar yang jelek untuk aliran listrik. Daya hantar listrik ini dipengaruhi oleh
kadar air kayu. Pada kadar air 0 %, kayu akan menjadi bahan sekat listrik yang baik sekali,
sebaliknya apabila kayu mengandung air maksimum (kayu basah), maka daya hantarnya boleh
dikatakan sama dengan daya hantar air.
SIFAT KAYU SECARA MEKANIK:
1. Kekuatan tarik kayu:
Kekuatan tarik kayu sejajar dengan arah serat.
Kekuatan tarik terbesar pada kayu ialah keteguhan tarik sejajar arah serat. Kekuatan tarik tegak
lurus arah serat lebih kecil daripada kekuatan tarik sejajar arah serat.
2. Kekuatan tekan kayu:
Kekuatan tekan kayu sejajar dengan arah serat.
Pada semua kayu, kekuatan tegak lurus serat lebih kecil daripada kekuatan kompresi sejajar
arah serat.
3. Kekuatan geser kayu:
Kekuatan geser kayu sejajar dengan arah serat kayu.
Kekuatan geser kayu tegak lurus arah serat.
9

4.

5.

6.

7.

8.

Kekuatan geser miring.


Kekuatan lentur kayu:
Kekuatan lengkung statik, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara
perlahan-lahan.
Kekuatan lengkung pukul, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara
mendadak.
Kekakuan kayu:
Kekakuan adalah kemampuan kayu untuk menahan perubahan bentuk atau lengkungan.
Kekakuan tersebut dinyatakan dalam modulus elastisitas.
Keuletan kayu:
Keuletan adalah kemampuan kayu untuk menyerap sejumlah tenaga yang relatif besar atau
tahan terhadap kejutan-kejutan atau tegangan-tegangan yang berulang-ulang yang melampaui
batas proporsional serta mengakibatkan perubahan bentuk yang permanen dan kerusakan
sebagian.
Kekerasan kayu:
Kekerasan adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya yang membuat takik atau lekukan
atau kikisan (abrasi). Bersama-sama dengan keuletan, kekerasan merupakan suatu ukuran
tentang ketahanan terhadap pengausan kayu.
Kekuatan belah kayu:
Keteguhan belah adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha membelah
kayu. Sifat keteguhan belah yang rendah sangat baik dalam pembuatan sirap dan kayu bakar.
Sebaliknya keteguhan belah yang tinggi sangat baik untuk pembuatan ukir-ukiran (patung).
Pada umumnya kayu mudah dibelah sepanjang jari-jari (arah radial) dari pada arah tangensial.
Ukuran yang dipakai untuk menjabarkan sifat-sifat keku-atan kayu atau sifat mekaniknya
dinyatakan dalam kg/cm2.

CACAT KAYU
JENIS CACAT KAYU BAHAN BANGUNAN
Berbagai jenis cacat pada kayu dapat mempengaruhi perlemahan sebuah bangunan yang
menggunakan konstruksi kayu karena dengan adanya cacat kayu maka terjadi penurunan kekuatan
kayu. Bagi produsen kayu ,cacat kayu merupakan kerugian yang dapat menyebabkan penurunan harga
kayu ,meskipun demikian sebaiknya produsen tetap melindungi hak konsumen dengan memberikan
cacat tersebut ,mengingat resiko keruntuhan bangunan yang mengerikan dapat terjadi karena cacat
kayu yang tidak diantisipasi sebelumnya .
Jenis jenis cacat pada kayu antara lain :
1) Cacat mata kayu

10

Pengaruh mata kayu yaiutu mengurangi sifat keteguhan kayu ,menyulitkan pengerjaan
karena penampang mata kayu keras (pada mata kayu sehat ) ,mengurangi keindahan permukaan
kayu dan menyebabkan lubangnya lembaran-lembaran finir .
2) Pecah dan belah
cacat ini mengakibatkan keteguhan tarik dan keteguhan tekan kayu berkurang yang
disebabkan karena distribusi tegangan tidak merata pada saat kayu menahan beban , Kuat geser
kayu turun yang disebabkan karena adanya pengurangan luas daerah yang menahan geseran.
3) Pecah busur dan Pecah gelang
pengaruhnya data menyebabkan kuat tekan, kuat tarik dan kuat geser kayu menurun.
4) Hati kayu rapuh
Cacat ini biasanya terjadi ada kayu berdaun lebar yang menyebabkan kekuatan kayu
turun dan menyulitkan ada saat proses pembuatan finir.
5) Jamur penyerang kayu
Cacat ini menyebabkan kayu rapuh sehingga kekuatanya turun kemudian patah secara
mendadak bila diberi beban.
6) Serangga perusak kayu
Cacatnya berupa lubang ada kayu yang menyebabkan kekuatan kayu turun dan
mengurangi keindahan ermukaan kayu.
7) Lubang gerek dan lubang cacing laut
Lubang yang disebabkan oleh serangga penggerek atau cacing laut. pada umumnya
menyerang kayu yang baru ditebang pada pohon yang masih tegak berdiri.
Kayu kayu yang cacat masih data digunakan ada posisi bangunan yang tidak structural seperti
kusen jendela maupun pintu dengan finishing cat.
Untuk posisi structural seperti tiang rumah, kuda kuda,balok harus menggunakan kayu yang
mempunyai kekuatan lebih dari beban yang akan ditaruh diatasnya.

MACAM PENGGUNAAN KAYU


Penggunaan kayu untuk suatu tujuan pemakaian tertentu tergantung dari sifat-sifat kayu yang
bersangkutan dan persyaratan teknis yang diperlukan. Jenis-jenis kayu yang mempunyai persyaratan
untuk tujuan pemakaian tertentu antara lain dapat dikemukan sebagai berikut :
11

1. Bangunan (Konstruksi)
Persyaratan teknis : kuat, keras, berukuran besar dan mempunyai keawetan alam yang tinggi.
Jenis kayu : bakau, bangkirai, ulin, meranti, jati, kapur, sengon, keruing, lara, rasamala.
2.

Veneer biasa
Persyaratan teknis : kayu bulat berdiameter besar, bulat, bebas cacat dan beratnya sedang.
Jenis kayu : meranti merah, meranti putih, nyatoh, ramin, agathis, benuang.

3. Veneer mewah
Persyaratan teknis : disamping syarat di atas, kayu harus bernilai dekoratif.
Jenis kayu : jati, eboni, sonokeling, kuku, bongin, dahu, lasi, rengas, sungkai, weru,
sonokembang.
4. Perkakas (mebel)
Persyaratan teknis : berat sedang, dimensi stabil, dekoratif, mudah dikerjakan, mudah dipaku,
dibubut, disekrup, dilem dan dikerat.
Jenis kayu : jati, eboni, kuku, mahoni, meranti, rengas, sonokeling, sonokembang, ramin.
5. Lantai (parket)
Persyaratan teknis : keras, daya abrasi tinggi, tahan asam, mudah dipaku dan cukup kuat.
Jenis kayu : balau, bangkirai, belangeran, bintangur, bongin, bungur, jati, kuku.
6. Bantalan Kereta Api
Persyaratan teknis : kuat, keras, kaku, awet.
Jenis kayu : balau, bangkirai, belangeran, bedaru, belangeran, bintangur, kempas, ulin.
7. Alat Olah Raga
Persyaratan teknis : kuat, tidak mudah patah, ringan, tekstur halus, serat halus, serat lurus dan
panjang, kaku, cukup awet.
Jenis kayu : agathis, bedaru, melur, merawan, nyatoh, salimuli, sonokeling, teraling.
8. Alat Musik
Persyaratan teknis : tekstur halus, berserat lurus, tidak mudah belah, daya resonansi baik.
Jenis kayu : cempaka, merawan, nyatoh, jati, lasi, eboni.
9. Alat Gambar
Persyaratan teknis : ringan, tekstur halus, warna bersih.
Jenis kayu : jelutung, melur, pulai, pinus.
10. Tong Kayu (Gentong)
12

Persyaratan teknis : tidak tembus cairan dan tidak mengeluarkan bau.


Jenis kayu : balau, bangkirai, jati, pasang.
11. Tiang Listrik dan Telepon
Persyaratan teknis : kuat menahan angin, ringan, cukup kuat, bentuk lurus.
Jenis kayu : balau, giam jati, kulim, lara, merbau, tembesu, ulin.
12. Patung dan Ukiran Kayu
Persyaratan teknis : serat lurus, keras, tekstur halus, liat, tidak mudah patah dan berwarna gelap.
Jenis kayu : jati, sonokeling, salimuli, melur, cempaka, eboni.
13. Korek Api
Persyaratan teknis : sama dengan persyaratan veneer, cukup kuat (anak korek api), elastis dan
tidak mudah pecah (kotak).
Jenis kayu : agathis, benuang, jambu, kemiri, sengon, perupuk, pulai, terentang, pinus.
14. Pensil
Persyaratan teknis : BJ sedang, mudah dikerat, tidak mudah bengkok, warna agak merah,
berserat lurus.
Jenis kayu : agathis, jelutung, melur, pinus.
15. Moulding
Persyaratan teknis : ringan, serat lurus, tekstur halus, mudah dikerjakan, mudah dipaku. Warna
terang, tanpa cacat, dekoratif.
Jenis kayu : jelutung, pulai ramin, meranti dll.
16. Arang (bahan bakar)
Persyaratan teknis : BJ tinggi.
Jenis kayu : bakau, kesambi, walikukun, cemara, gelam, gofasa, johar, kayu malas, nyirih,
rasamala, puspa, simpur.
PENGUJIAN KAYU
Untuk mengetahui kualitas suatu kayu kita data melakukan pengujian sederhana maupun
pengujian di laboratorium. Berikut ini beberapa contoh pengujian untuk kayu, yaitu :
Pengujian sederhana

13

Pengujian sederhana data kita lakukan di lapangan. Pengujian sederhana data kita lakukan dengan
melakukan pengamatan terhadap kayu tersebut. Ciri kualitas kayu yang baik yaitu : kayu keras, kering,
berwarna gela, lurus, tidak memiliki retak, dan ketika di pukul dengan benda keras berbunyi nyaring.
Pengujian Laboratorium
Beberapa pengujian kayu yang dilakukan dilaboratorium yakni, Pengujian kuat lentur, tujuannya untuk
mendapatkan nilai kuat lentur kayu. Pengujian kuat tekan kayu, tujuannya untuk memeroleh nilai kuat
tekan kayu. Pengujian kuat geser kayu, tujuannya untuk memperoleh nilai kuat geser sejajar serat kayu.
Pengujian tarik kayu searah serat, tujuannya untuk mengetahui kuat tarik, kadar air, berat jenis kering
udara, serta lingkar tahun. Dan masih banyak pengujian kayu yang data dilakukan di laboratorium.
KAYU DALAM KONTRUKSI KONSTRUKSI BANGUNAN
Sampai abad ke-20 sebagian besar dari hampir semua bangunan perumahan dan struktur
bangunan komersial dibangun dari kayu. Karena masih berlimpahnya sumber kayu menyebakan
hampir semua struktur bangunan perumahan, jembatan, bangunan komersial ringan, pabrik dan tiang
menggunakan kayu solid. Sekarang bangunan tersebut lebih banyak menggunakan bahan kayu
struktural yang lebih modern. Misalnya lantai, dinding, atap untuk konstruksi ringan umumnya dibuat
dari papan kayu atau panel kayu.
Kayu untuk keperluan bangunan umumnya dari kelas kuat I, II dan III dengan rasio kekuatan terhadap
berat yang cukup tinggi, serta mempunyai kelas awet I atau II. Bila dari kelas awet III atau di
bawahnya, maka kayu tersebut harus diawetkan terlebih dahulu.
Penggunaan kayu gergajian secara konvensional untuk bahan bangunan hanya terbatas untuk
dimensi tertentu dan tidak bisa digunakan untuk konstruksi bangunan yang memerlukan bentangan
yang lebar dan tinggi. Untuk mendapatkan kayu dengan bentangan dan ukuran yang besar sangat sulit,
karena bentang dan ukuran terbesar sesuai dengan ukuran pohonnya. Untuk mengatasi hal itu perlu
dibuat balok glulam yaitu gabungan dua atau lebih papan kayu gergajian yang direkat dengan
menggunakan perekat tertentu dengan arah serat kayunya sejajar satu sama lain.
a) Lantai (Flooring)
Lantai kayu atau mozaik parquet flooring sangat disukai karena selain berksesan setetis yang kental,
juga memberikan kesan hangat pada ruangan. Untuk Hardwood atau kayu daun lebar sangat disukai
14

dan sering digunakan. Untuk keperluan lantai diperlukan kayu dengan kekerasan tinggi, beberapa
industri mensyaratkan kayu untuk lantai dipilih kayu yang bercorak indah, kelas kuat I-III dan kelas
awet I-II.
b) Dinding
Untuk dinding bagian luar (eksterior) selain digunakan papan kayu, saat ini lebih umum digunakan
kayu lapis eksterior, flakeboard atau papan partikel eksterior. Sedangkan untuk dinding di bagian dalam
ruangan (interior) tidak diperlukan persyaratan yang tinggi. Untuk pembuatan dinding, selain
diperlukan kayu yang bercorak indah, juga kayu yang stabil dan awet, untuk berbagai keperluan
dipersyaratkan mampu meredam suara (isolator).

c) Kayu lapis
Kayu lapis indah yang dibuat dari venir mangium, tusam, mindi dan mimba dapat digunakan untuk
dinding dengan penampilan yang cukup bagus.
d) Papan mineral
Papan mineral seperti papan gypsum dan papan mineral. Papan semen yang dibuat dari kayu karet,
jeungjing ternyata dapat digunakan untuk pembuatan dinding bangunan yang tahan lama.

PENGAWETAN KAYU
Keawetan kayu berhubungan erat dengan pemakaiannya. Kayu dikatakan awet bila mempunyai
umur pakai lama. Kayu berumur pakai lama bila mampu menahan bermacam-macam factor perusak
kayu. Dengan kata lain: keawetan kayu ialah daya tahan suatu jenis kayu terhadap factor-faktor perusak
yang datang dari luar tubuh kayu itu sendiri. Kayu diselidiki keawetannya pada bagian kayu terasnya,
sedangkan kayu gubalnya kurang diperhatikan. Pemakaian kayu menentukan pula umur keawetannya.
Kayu, yang awet dipakai dalam konstruksi atap, belum pasti dapat bertahan lama bila digunakan di
laut, ataupun tempat lain yang berhubungan langsung dengan tanah. Demikian pula kayu yang
dianggap awet bila dipakai di Indonesia. Serangga perusak kayu juga berpengaruh besar. Kayu yang
mampu menahan serangga rayap tanah, belum tentu mampu menahan serangan bubuk. Oleh karena itu
tiap-tiap jenis kayu mempunyai keawetan yang berbeda pula. Misalnya keawetan kayu meranti tidak
akan sama dengan keawetan kayu jati. Ada kalanya pada satu jenis kayu terdapat keawetan yang
berbeda, disebabkan oleh perbedaan ekologi tumbuh dari pohon tersebut.
15

FAKTOR-FAKTOR PERUSAK DALAM PENGAWETAN KAYU


PENYEBAB NON MAKHLUK HIDUP
1. Faktor fisik : ialah keadaan atau sifat alam yang mampu merusak komponen kayu
sehingga umur pakainya menjadi pendek. Yang termasuk factor fisik antara lain: suhu
dan kelembaban udara, panas matahari, api, udara, dan air. Semua yang termasuk faktor
fisik itu mempercepat kerusakan kayu bila terjadi penyimpangan. Misalnya bila kayu
tersebut terus-menerus kena panas maka kayu akan cepat rusak.
2. Faktor mekanik: terdiri atas proses kerja alam atau akibat tindakan manusia. Yang
termasukfaktor mekanik antara lain: pukulan, gesekan, tarikan, tekanan, dan lain
sebagainya. Faktor mekanik berhubungan erat sekali dengan tujuan pemakaian.
3. Faktor kimia : juga mempunyai pengaruh besar terhadap umur pakai kayu. Faktor ini
bekerja mempengaruhi unsure kimia yang membentuk komponen seperti selulosa, lignin
dan hemiselulosa. Unsur kimia perusak kayu antara lain: pengaruh garam, pengaruh
asam dan basa.
PENYEBAB KERUSAKAN OLEH MAHKLUK HIDUP
Makhluk hidup perusak kayu beraneka macam, kebanyakan serangan perusak ini sangat
cepat menurunkan nilai keawetan dan umur pakai kayu. Ada jenis yang langsung memakan
komponen kayu tersebut, ada juga yang melapukkan kayu, mmengubah susunan kimia kayu,
tetapi ada pula yang hanya merusak kayu dengan mengubah warna menjadi kebiru-biruan kotor.
Jenis-jenis serangga sering melubangi kayu untuk memakan selulosa dan selanjutnya
menjadikan tempat bersarang. Adapun jenis-jenis perusak kayu makhluk hidup antara lain:
JENIS JAMUR
Jenis jamur (cendekiawan atau fungi), ialah jenis tumbuhan satu sel, yang berkembang
biak dengan spora. Hidupnya sebagai parasit terhadap makhluk lain. Umumnya hidup sangat
subur di daerah lembab. Jamur terkenal sebagai perusak kayu kering. Sifat utama kerusakan
oleh jamur ialah pelapukan dan pembusukan kayu, tapi ada juga kayu yang hanya berubah
warnanya menjadi kotor, misalnya jamur biru (blue stain). Macam-macam jamur antara lain:
jamur pelapuk kayu, jamur pelunak kayu dan jamur pewarna kayu.
JENIS SERANGGA
Jenis serangga, merupakan perusak kayu yang sangat hebat, terutama di daerah tropic
misalnya: Indonesia, Malaysia, Filipina, dan lain-lain. Serangga tersebut makan dan tinggal di
dalam kayu. Macam-macam serangga perusak kayu antara lain: rayap tanah, rayap kayu kering,
dan serangga bubuk kayu.
JENIS BINATANG LAUT
16

Jenis binatang laut, terkenal dengan nama Marine borer. Kayu yang dipasang di air asin akan
mengalami kerusakan yang lebih hebat daripada kayu yang dipasang di tempat lain. Hampir
semua jenis kayu mudah diserang oleh binatang laut. Akan tetapi, ada pula beberapa jenis kayu
yang memiliki factor ketahanan, karena adanya zat ekstraktif yang merupakan racun bagi
binatang laut, antara lain: kayu lara, kayu ulin, kayu giam, dan lain-lain.
CARA PENGAWETAN
CARA PERENDAMAN
kayu direndam di dalam bak larutan bahan pengawet yang telah ditentukan konsentrasi
(kepekatan) bahan pengawet dan larutannya, selama beberapa jam atau beberapa hari. Waktu
pengawetan (rendaman) kayu harus seluruhnya terendam, jangan sampai ada yang terapung.
Karena itu diberi beban pemberat dan sticker. Ada beberapa macam pelaksanaan rendaman,
antara lain rendaman dingin, rendaman panas, dan rendaman panas dan rendaman dingin. Cara
rendaman dingin dapat dilakukan dengan bak dari beton, kayu atau logam anti karat. Sedangkan
cara rendaman panas atau rendaman panas dan dingin lazim dilakukan dalam bak dari logam.
Bila jumlah kayu yang akan diawetkan cukup banyak, perlu disediakan dua bak rendaman (satu
bak untuk merendam dan bak kedua untuk membuat larutan bahan pengawet, kemudian diberi
saluran penghubung). Setelah kayu siap dengan beban pemberat dan lain-lain, maka bahan
pengawet dialirkan ke bak berisi kayu tersebut. Cara rendaman panas dan dingin lebih baik dari
cara rendaman panas atau rendaman dingin saja. Penetrasi dan retensi bahan pengawet lebih
dalam dan banyak masuk ke dalam kayu. Larutan bahan pengawet berupa garam akan
memberikan hasil lebih baik daripada bahan pengawet larut minyak atau berupa minyak, karena
proses difusi. Kayu yang diawetkan dengan cara ini dapat digunakan untuk bangunan di bawah
atap dengan penyerang perusak kayunya tidak hebat.
CARA PENCELUPAN
kayu dimasukkan ke dalam bak berisi larutan bahan pengawet dengan konsentrasi yang telah
ditentukan, dengan waktu hanya beberapa menit bahkan detik. Kelemahan cara ini: penetrasi
dan retensi bahan pengawet tidak memuaskan. Hanya melapisi permukaan kayu sangat tipis,
tidak berbeda dengan cara penyemprotan dan pelaburan (pemolesan). Cara ini umumnya
dilakukan di industri-industri penggergajian untuk mencegah serangan jamur blue stain. Bahan
pengawet yang dipakai Natrium Penthachlorophenol. Hasil pengawetan ini akan lebih baik bila
kayu yang akan diawetkan dalam keadaan kering dan bahan pengawetnya dipanaskan lebih
dahulu.
CARA PEMULASAN DAN PENYEMPROTAN

17

cara pengawetan ini dapat dilakukan dengan alat yang sederhana. Bahan pengawet yang masuk
dan diam di dalam kayu sangat tipis. Bila dalam kayu terdapat retak-retak, penembusan bahan
pengawet tentu lebih dalam. Cara pengawetan ini hanya dipakai untuk maksud tertentu, yaitu :
1. Pengawetan sementara (prophylactic treatment) di daerah ekploatasi atau kayu-kayu
gergajian untuk mencegah serangan jamur atau bubuk kayu basah.
2. Untuk membunuh serangga atau perusak kayu yang belum banyak dan belum merusak
kayu (represif).
3. Untuk pengawetan kayu yang sudah terpasang.
Cara pengawetan ini hanya dianjurkan bila serangan perusak kayu tempat kayu akan
dipakai tidak hebat (ganas).
CARA PEMBALUTAN
cara pengawetan ini khusus digunakan untuk mengawetkan tiang-tiang dengan menggunakan
bahan pengawet bentuk cream (cairan) pekat, yang dilaburkan/diletakkan pada permukaan kayu
yang masih basah. Selanjutnya dibalut sehingga terjadilah proses difusi secara perlahan-lahan
ke dalam kayu.

18

BAB V
PENUTUP
KESIMPULAN
Sifat-sifat kayu sangat beragam. Namun pada intinya diketahui bahwa dalam suatu kontruksi
ada persyaratan tertentu yang harus dimiliki kayu. Kuat tekan, kuat tarik, kuat geser, kuat lentur dsb,
harus dipertimbangkan nilainya. Sebab, dalam suatu perencanaan kontruksi, harus dan wajib memiliki
perhitungan yang matang. Dan juga Sifat-sifat kayu tersebut juga membawa efek pada kontruksi yang
akan menggunakan kayu sebagai bahannya.
Kayu merupakan bahan kontruksi yang bersal dari makhluk hidup. Pastinya dalam umur kayu
tersebut tidak lah kekal. Ada beberapa factor yang dapat merusak keawetan kayu. Perlulah kiranya
tindakan pengawetan kayu agar daya guna dan ketahanannya lebih tahan lama lagi.

19

DAFTAR PUSTAKA
-

http://muherda.blogspot.com/2011/03/sifat-sifat-umum-kayu.html
http://ocw.usu.ac.id/course/download/3190000052-pemanenan-hasil
(hutan/8_teknik_penebangan_kayu.pdf)
http://5454k3.wordpress.com/2010/08/10/proses-pengeringan-kayu/
http://www.tentangkayu.com/2008/02/proses-pengeringan-kayu.html
http://uli-adriani.blogspot.com/2010/04/pengawetan-kayu.html

20

21