Anda di halaman 1dari 14

BAB I

STATUS PASIEN
I. IDENTITAS
Nama

Ny D A

Umur

: 33tahun

Jenis Kelamin

Perempuan

Agama

Islam

Pekerjaan

Ibu rumah tangga

Alamat

Tanggul Kulon

Tanggal periksa

28 - 12 - 2016

No. RM

2840

Status

Umum

II. ANAMNESIS
A. Keluhan utama

: kedua mata merah

B. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien mengeluh kedua mata merah sejak 3 hari yang lalu disertai keluar air
mata, gatal, dan cekot - cekot. Pasien tidak mengeluhkan pandangan kabur dan
silau, namun mengeluh agak kesulitan untuk membuka mata pada pagi hari.
Menurut pasien setiap pagi hari matanya mengeluarkan belek warna putih agk
kental.
C. Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak pernah mengalami sakit seperti ini sebelumnya. HT dan DM disangkal.
Riwayat alergi obat dan makanan disangkal.
D. Riwayat Obat
Pasien belum berobat dan tidak minum obat apapun untuk penyakitnya.
E. Riwayat Penyakit Keluarga
Anak pasien yang paling kecil memiliki keluhan yang sama. Alergi dalam
keluarga disangkal.
F. Riwayat Sosial
Pasien merupakan ibu rumah tangga.

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. Kesan umum
Keadaan umum : baik
Kesadaran

: CM

Status Gizi

: cukup

T = 120/80 mmHg

N = 82x/menit RR = 18x/menit S= 36,50C

Status Lokalis Mata

OD
OS
6/6
6/6
Tidak dilakukan pemeriksaan
Simetris

Visus
TIO
Posisi Bola Mata
Gerak Bola Mata

Segmen anterior:
-Palpebra
(superior/inferior)
-Konjungtiva
(bulbi/tarsal)
-Kornea
-Bilik Mata Depan
-Iris
-Pupil
-Lensa
Segmen posterior

SIMETRIS

SIMETRIS

Tenang

Tenang

Hiperemi

Hiperemi

Jernih
Jernih
Dalam
Dalam
Gambaran baik
Gambaran baik
Bulat,sentral,RC (+/+) Bulat,sentral,RC (+/+)
Jernih
Jernih
Tidak dilakukan pemeriksaan

B. DIAGNOSIS BANDING
1. Konjungtivitis bakteri
2. Konjungtivitis viral
3. Keratitis
V. DIAGNOSIS
ODS konjungtivitis bakteri
VI. TERAPI
Gentamycin ED 3 dd gtt II ODS
CTM 2 dd 1
VII. PROGNOSIS

- Asam Mefenamat 500 mg 3 dd 1

Ad vitam
Ad sanam

OD

OS

bonam

bonam

bonam

bonam

Ad kosmetikum

bonam

bonam

Ad fungsionam

bonam

bonam

PORTOFOLIO
Topik: konjungtivitis e.c suspek bakteri
Tanggal (Kasus): 28 -12 - 2016
Tanggal Presentasi: Tempat Presentasi: Puskesmas Tanggul
Objektif presentasi :
Keilmuan
Ketrampilan
Diagnostik
Manajemen
Neonatus
Bayi
Anak

Presenter: dr. Arditya Putra Hertyanto


Pendamping: dr. Diyan Pusposari

Penyegaran
Masalah
Remaja
Dewasa

Tinjauan Pustaka
Istimewa
ansia
L
Bumil

Deskripsi : Dewasa, Perempuan, usia 33 tahun, Konjungtivitis suspek Bakterial


Tujuan :
1. Penegakkan Diagnosa
2. Penatalaksanaan
Bahan bahasan:
Tinjauan Pustaka
Riset
Kasus
Audit
Cara membahas:
Diskusi
Presentasi dan diskusi
E-mail
Pos
Data pasien :
Nama: Ny DA
No registrasi: Usia: 33 tahun
Alamat: Tanggul Kulon
Agama: Islam
Bangsa: Indonesia
Data utama untuk bahan diskusi:
Diagnosis/Gambaran Klinis:
1. Diagnosis/Gambaran Klinis:
Keadaan umum tampak sakit sedang, dengan keluhan utama mata merah pada kedua
mata sejak 3 hari sebelum ke Puskesmas. Pasien juga mengeluh matanya cekot- cekot.
2. Riwayat Pengobatan:
Pasien belum berobat sebelumnya.
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit
Pasien mengeluh kedua mata merah sejak 3 hari yang lalu.
Pasien mengeluh mata merah awalnya yang sebelah kanan tanpa disertai pandangan
kabur. Mata merah merata. Pasien juga mengaku matanya berair, dan belekan sehingga
terasa lengket terutama pada saat bangun tidur. Terdapat rasa gatal dan cekot- cekot pada
mata, kelopak mata bengkak tidak ada, silau tidak ada, nyeri kepala tidak ada, mual
muntah tidak ada. Pasien tidak berobat dan hanya mengelap matanya menggunakan sapu
tangan. 1 hari sebelum ke Puskesmas, keluhan yang sama terjadi pada kedua mata pasien.
4. Riwayat Keluarga
- Anak pasien yang paling kecil memiliki keluhan yang sama.
5. Riwayat Pekerjaan: Ibu rumah tangga
6. Lain-lain
- Riwayat terkena benturan pada mata sebelumnya disangkal.
- Riwayat kemasukan debu sebelumnya disangkal.
- Riwayat menggunakan obat tetes mata atau lensa kontak sebelumnya disangkal.
- Riwayat alergi pada pasien disangkal
Daftar Pustaka
1. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata, edisi ketiga. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2009
2. Garcia-Ferrer, Fransisco J. et al. Konjungtiva. Dalam: Oftalmologi Umum Vaughan dan
Asbury, Edisi 17. Jakarta: EGC. 2009
3. Kanski, JJ. Bowling B. Clinical Ophtalmology: A systemic Approach Seventh Edition.
Eddinburgh: Butterworth Heinemann.2012
4. Van Hauven, WAJ. Zwaan J. Decision Making in Ophtalmology, An Algoritmic
Approach, Second Edition. Mosby Inc. 2000.
5. Khaw, PT. et al. ABC of Eyes, Fourth Edition. London: BMJ Books. 2004
Hasil Pembelajaran:
1. Diagnosis Konjungtivitis
2. Tatalaksana Konjungtivitis
RANGKUMAN PEMBELAJARAN

1. Subjektif :
Pasien mengeluh kedua mata merah sejak 3 hari yang lalu.
Pasien mengeluh mata merah awalnya yang sebelah kanan tanpa disertai
pandangan kabur. Mata merah merata. Pasien juga mengaku matanya berair, dan
belekan sehingga terasa lengket terutama pada saat bangun tidur. Terdapat rasa
gatal dan cekot- cekot pada mata, kelopak mata bengkak tidak ada, silau tidak
ada, nyeri kepala tidak ada, mual muntah tidak ada. Pasien tidak berobat dan
hanya mengelap matanya menggunakan sapu tangan. 1 hari sebelum ke
Puskesmas, keluhan yang sama terjadi pada kedua mata pasien.
2. Objektif :
Keadaan umum : baik
Kesadaran

: CM

Status Gizi

: cukup

T = 120/80 mmHg

N = 82x/menit RR = 18x/menit S= 36,50C

Status Oftalmologikus:

Visus
TIO
Posisi Bola Mata
Gerak Bola Mata

Segmen anterior:
-Palpebra
(superior/inferior)
-Konjungtiva
(bulbi/tarsal)
-Kornea
-Bilik Mata Depan
-Iris
-Pupil
-Lensa
Segmen posterior

OD
OS
6/6
6/6
Tidak dilakukan pemeriksaan
Simetris

SIMETRIS

SIMETRIS

Tenang

Tenang

Hiperemi

Hiperemi

Jernih
Jernih
Dalam
Dalam
Gambaran baik
Gambaran baik
Bulat,sentral,RC (+/+) Bulat,sentral,RC (+/+)
Jernih
Jernih
Tidak dilakukan pemeriksaan

3. Assessment:
Seorang perempuan, berumur 33 tahun, datang ke Puskesmas Tanggul pada
tanggal 28 Desember 2016 pukul 10.00 WIB dengan keluhan kedua mata merah.
Pasien mengeluh kedua mata merah sejak 3 hari yang lalu. Pasien mengeluh mata
merah awalnya yang sebelah kanan tanpa disertai pandangan kabur. Mata merah
merata. Pasien juga mengaku matanya berair, dan belekan sehingga terasa
lengket terutama pada saat bangun tidur. Terdapat rasa gatal dan cekot- cekot

pada mata, kelopak mata bengkak tidak ada, silau tidak ada, nyeri kepala tidak
ada, mual muntah tidak ada. Pasien tidak berobat dan hanya mengelap matanya
menggunakan sapu tangan. 1 hari sebelum ke Puskesmas, keluhan yang sama
terjadi pada kedua mata pasien. Anak terkecil pasien memiliki keluhan yang
sama.
Berdasarkan anamnesa, diagnosis banding untuk mata merah tanpa pandangan
kabur adalah konjungtivitis, perndarahan subkonjungtiva, episkleritis, skleritis,
pterigium, dan pingeukula. Namun pendarahan subkonjungtiva dapat
disingkirkan karena tidak adanya riwayat terkena benturan pada mata
sebelumnya. Pada episkleritis ataupun skleritis tidak ditemukan adanya sekret,
maka secara otomatis diagnosis banding ini dapat disingkirkan.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya injeksi konjungtiva. Sehingga
diagnosis banding untuk pingeukula dan ptyrigium dapat disingkirkan karena
tidak ditemukannya ada psudomembran ataupun nodul kuning pada konjungtiva.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang ditemukan, maka dapat
ditegakkan diagnosis konjungtivitis. Namun, untuk tatalaksana konjungtivitis
harus diketahui terlebih dahulu penyebabnya. Berdasarkan perjalanan penyakit,
pasien pada awalnya hanya mengeluh pada sebelah mata kanan dan sering
menyeka sekret matanya menggunaan sapu tangan, dan beberapa hari kemudian
keluhannya menyebar juga ke sebelah mata kiri. Hal ini dapat menandakan
bahwa penyebab dari konjungtivitis ini adalah adanya agen penginfeksi, seperti
bakteri ataupun viral, yang ditularkan melalui saputangan pasien. Selain itu tidak
adanya riwayat atopi pada pasien atau keluarga, riwayat penggunaan tetes mata
atau lensa kontak sebelumnya juga disangkal sehingga konjungtivitis alergika
dapat disingkirkan.
Pada pasien ditemukan keluhan berupa mata berair-air dengan sekret kental yang
terasa lengket pada saat bangun pagi, keluhan ini sangat khas biasanya pada
pasien konjungtivitis bakterialis. Pada konjungtivitis viral sekret yang dihasilkan
biasanya adalah sekret serous dan lebih banyak
4. Plan:
Diagnosis: Konjungtivitis Bakteri
Penatalaksanaan :
- Gentamycin ED 3 dd gtt II ODS
- CTM 2 dd 1
- Asam Mefenamat 500 mg 3 dd 1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Konjungtivitis adalah radang konjungtiva atau radang selaput lendir yang
menutupi belakang kelopak dan bola mata.1 Penyakit ini bervariasi mulai dari hiperemia
ringan dengan mata berair sampai konjungtivitis berat dengan banyak sekret purulen
kental. Penyebab umumnya eksogen tetapi bisa juga endogen. 2
Diagnosis
Gejala Klinis:
Gejala klinis yang biasanya dikeluhkan oleh pasien adalah mengeluh mata merah
dan berair-air. Pasien juga mengeluh sensasi benda asing yang mengganjal yang disertai

dengan rasa pedih seperti tergores atau terbakar karena pembengkakan dan hipertrofi
papil.2,3 Kelopak mata terasa lengket dan adanya eksudat dengan sekret yang lebih nyata
pada saat bangun tidur, hal ini biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri stafilokokus. 1,3
Namun bila pada saat bangun tidur nyerinya berkurang, dan rasa terbakar bertambah
sepanjang hari menandakan bahwa konjungtivitis terjadi akibat mata kering. 3 Rasa gatal
yang hebat menandakan bahwa adanya konjungtivitis alergi. 3 Pasien dengan
konjungtivitis tidak mengeluh adanya pandangan kabur.3 Pada anamnesis sebaiknya perlu
ditanyakan tentang riwayat alergi, pengobatan, usia, terpapar iritan, dan gejala-gejala
kelainan okuli, dan genital.4
Tanda Klinis:

Hiperemi
Hiperemi pada konjungtivitis berasal dari rasa superficial, tanda ini merupakan
tanda konjungtivitis yang paling mancolok. Hiperemi yang tampak merah cerah
biasanya menandakan konjungtivitis bakterial sedangkan hiperemi yang tampak
seperti kabut biasanya menandakan konjungtivitis karena alergi. Kemerahan paling
nyata pada forniks dan mengurang ke arah limbus disebabkan dilatasi pembuluh-

pembuluh konjungtiva posterior.2


Lakrimasi (Mata Berair)
Diakibatkan oleh adanya sensasi benda asing, terbakar atau tergores atau akibat rasa
gatal. Kurangnya sekresi airmata yang abnormal mengesankan keratokonjungtivitis

sicca.2
Eksudasi
Eksudasi adalah ciri semua jenis konjungtivitis akut. Eksudat berlapis-lapis dan
amorf pada konjungtivitis bakterial dan dapat pula berserabut seperti pada
konjungtivitis alergika, yang biasanya menyebabkan tahi mata dan saling
melengketnya palpebra saat bangun tidur pagi hari, dan jika eksudat berlebihan

agaknya disebabkan oleh bakteri atau klamidia.2


Pseudoptosis
Pseudoptosis adalah turunnya palpebra superior karena infiltrasi ke muskulus
muller (M. Tarsalis superior). Keadaan ini dijumpai pada konjungtivitis berat.

Misalnya Trachoma dan keratokonjungtivitis epidemika. 2


Hipertrofi Papil
Hipetropi papil merupakan reaksi non spesifik, terjadi karena konjungtiva terikat
pada tarsus atau limbus di bawahnya oleh serabut-serabut halus. Ketika berkas
pembuluh yang membentuk substansi papila sampai di membran basal epitel,
pembuluh ini bercabang-cabang di atas papila mirip jeruji payung. 2

Khemosis (Edema Konjungtiva)


Ini terjadi akibat terkumpulnya eksudat di jaringan yang longgar. Khemosis
merupakan tanda yang khas pada hay fever konjungtivitis, akut gonococcal atau

meningococcal konjungtivitis, serta kerato konjungtivitis. 2


Pembentukan Folikel
Folikel adalah bangunan akibat hipertrofi lomfoid lokal di dalam lapisan adenoid
konjungtiva dan biasanya mengandung sentrum germinotivum. Kebanyakan terjadi
pada viral conjungtivitis, chlamidial conjungtivitis, serta toxic conjungtivitis karena
topical medication. Pada pemeriksaan, vasa fecil bisa terlihat membatasi foliker dan
melingkarinya. 2

Pseudomembran dan Membran


Pseudomembran adalah koagulum yang melapisi permukaan epitel konjungtiva
yang bila lepas, epitelnya akan tetap utuh, sedangkan membran adalah koagulum

yang meluas mengenai epitel sehingga kalau dilepas akan berdarah. 2


Adenopati Preaurikuler
Beberapa jenis konjungtivitis akan disertai adenopoti preaurikular. Dengan
demikian setiap ada radang konjungtiva harus diperiksa adalah pembebasan dan

rasa sakit tekan kelenjar limfe preaurikuler. 2


Infiltrasi
Infiltrasi muncul akibat pengerahan selular dan biasanya disertai oleh respon
papilary. Hal ini dapat dikenali dengan hilangnya detail dari pembuluh darah pada
konjungtiva tarsal, terutama kelopak atas. 3

Diagnosis Banding
Konjungtivitis sebaiknya dibedakan dengan iritis dan keratitis dengan perbedaan sebagai
berikut (Tabel 1):1
Tabel 1: Diagnosis Banding Konjungtivitis
Tanda
Tajam penglihatan

Konjungtivitis
Normal

Keratitis/Iritis
Turun nyata

Silau

Tidak ada

Nyata

Sakit

Pedih, rasa terbakar

Sakit

Mata merah

Injeksi konjungtiva

Injeksi silier

Sekret

Serous, mukus, purulen

Tidak ada

Lengket Kelopak

Terutama pagi hari

Tidak ada

Pupil

Normal

Mengecil

Klasifikasi
Klasifikasi konjungtivitis berdasarkan onsetnya dibedakan menjadi: 4
a. Konjungtivitis akut adalah peradangan yang terjadi kurang dari 4 minggu, onset
terjadi secara tiba-tiba dan biasanya terjadi unilateral pada awalnya, dan akan
menjangkit mata sebelahnya sekitar 1 minggu kemudian.4
b. Konjungtivitis kronik adalah peradangan yang terjadi pada konjungtiva lebih dari
2 4 minggu.4
Klasifikasi konjungtivitis berdasarkan penyebabnya yang paling umum dibedakan
menjadi (Tabel 2):
a. Konjungtivitis Bakterialis
Suatu konjungtivitis yang disebabkan bakteri dapat saja akibat infeksi gonokok,
meningokok, Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, hemiphilus
influenzae, dan Escherchia coli. Memberikan gejala sekret mukopurulen dan
purulen sehingga kelopak mata terasa lengket saat bangun tidur, kemosis
konjungtiva yang memberikan sensasi benda asing, edema kelopak, kadangkadang disertai keratitis dan blefaritis. Terdapat papil pada konjungtiva dan mata
merah. Infeksi biasanya mulai pada satu mata dan melalui tangan menular ke
sebelahnya. Infeksi dapat menyebar ke orang lain melalui benda yang dapat
menyebarkan kuman (fomit).1,2 Pada pemeriksaan fluoresens, tidak ditemukan
adanya stain pada kornea.5 (ABC)
b. Konjungtivitis Viral
Konjungtivitis viral adalah suatu penyakit umum yang disebabkan oleh berbagai
jenis virus, yang paling sering adalah adenovirus. 2,5 Keadaan ini berkisar antara
penyakit berat yang dapat menimbulkan cacat, sampai infeksi ringan yang cepat
sembuh sendiri.2 Pasien konjungtivitis viral, biasanya mengeluhkan adanya rasa
berpasir dan tidak nyaman awalnya pada salah satu mata. Biasanya terdapat juga
gejala yang berhubungan dengan demam atau batuk. Sekret yang dihasilkan pada
konjungtivitis viral biasanya lebih encer dan lebih bertahan lama dibandingkan
dengan konjungtivitis baketeri, yaitu sekitar beberapa minggu sehingga pasien
perlu diberitahukan tentang hal tersebut.5
Pada pemeriksaan fisik biasanya didapatkan adanya injeksi konjungtiva yang
merata pada kedua mata dan mungkin terdapat sekret yang jernih. Pada
konjungtiva juga bisa didapatkan adanya pembentukan folikel yang merupakan
agregasi dari limfoid.5

c. Konjungtivitis Klamidia
Pasien biasanya berusia muda dengan riwayat konjungtivitis kronik bilateral
dengan sekret mukopurulen. Konjungtivitis tipe ini dapat berhubungan dengan
adanya riwayat penyakit kelamin. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya
injeksi konjungtiva yang bilateral dengan sekret mukopurulen dan terdapat
folikel pada konjungtiva. Biasanya infeksi sudah menyebar sampai kornea
(keratitis) dan terlihat adanya infiltrat pada kornea (pannus). 5
d. Konjungtivitis Alergika
Keluhan utama pada konjungtivitis alergika adalah gatal. Konjungtivitis terjadi
pada kedua mata dengan sekret yang jernih. Pada anamnesis, didapatkan adanya
riwayat atopi keluarga atau kontak terhadap bahan kimia atau tetes mata tertentu
sebelumnya. Gejala yang dirasakan biasanya sering berulang dan menahun.
Tanda karakteristik lainya adalah terdapatnya papil besar pada konjungtiva,
datang bermusim, yang dapat mengganggu penglihatan. Selain injeksi
konjungtiva, biasanya juga didapatkan adanya kemosis dan tampilan cobblestone.
Walaupun penyakit alergi konjungtiva dapat sembuh sendiri akan tetapi dapat
memberikan keluhan yang memerlukan pengobatan.1,5
Tabel 2: Pembedaan jenis-jenis konjungtivitis umum2
Temuan klinis dan sitologi
Gatal

Viral
Minimal

Bakteri
Minimal

Klamidia
Minimal

Alergika
Hebat

Hiperemia

Generalisat

Generalisat

Generalisata

Generalisat

Mata berair

Sedang

Eksudasi

Banyak

Sedang

Banyak

Minimal

Adenopati preaurikular

Minimal

Banyak

Hanya

Sering

Jarang

konjungtiviti

pada

Minimal
Tak ada

s inklusi
Disertai sakit tenggorokan
dan demam

Tak pernah
Sesekali

Sesekali

Tak pernah

Tatalaksana

Pada konjungtivitis bakterialis, 60% kasus teratasi selama 5 hari tanpa pengobatan.
Pemberian antibiotik topikal dan sistemik dapat diberikan. Pemberian steroid
topikal dapat mengurangi pseudomembran dan membran yang terbentuk pada

konjungtivitis ini meskipun cara kerjanya masih belum jelas. Irigasi dapat dilakukan
pada kasus dengan hiperpurulen. Operasi dapat dilakukan pada kasus trakoma untuk
mengurangi entropion dan trikiasis serta menjaga kelopak mata dapat menutup

sempurna dengan rotasi bilamelar tarsal. 3


Pada konjungtivitis viral, penyembuhan spontan dapat terjadi selama 2-3 minggu.
Yang perlu diperhatikan adalah mengurangi resiko transmisi dengan menjaga
tangan tetap bersih, menghindari mengucek mata, dan berbagi handuk. Pemberian
obat steroid topikal seperti prednisolon dapat membantu mengurangi membran dan
pseudomembran. Pemberian air mata buatan dan kompres hangat atau dingin dapat

mengurangi gejala. 3
Pada konjungtivitis klamidia, tatalaksana menggunakan tetrasiklin oral selama
setidaknya 1 bulan dapat menghilangkan masalah, namun kurangnya ketaatan
minum obat dapat menyebabkan rekuransi gejala. Selain itu, penyakit kelamin yang

berhubungan dengan konjungtivitis ini sebaiknya ditatalaksana. 5


Pada konjungtivitis alergi, dapat diberikan air mata buatan untuk gejala yang ringan.
Antihistamin diberikan untuk eksaserbasi, yang dapat dikombinasikan dengan
vasokonstriktor atau mast cell stabilizers. Pemberian obat steroid topikal juga dapat
diberikan walaupun tidak terlalu bermakna. 3

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi, pasien didiagnosa
dengan konjungtivitis bakteri.
B. Saran
-

Harus menjaga kebersihan mata


Hendaknya pasien menghapus air mata dengan bahan yang bersih.
Menghindari memegang mata yang sakit
Mencuci tangan setelah memegang mata
Hendaknya mata yang sakit ditutup sementara waktu untuk menghindari
kontaminasi dari lingkungan luar.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata, edisi ketiga. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2009
2. Garcia-Ferrer, Fransisco J. et al. Konjungtiva. Dalam: Oftalmologi Umum Vaughan dan
Asbury, Edisi 17. Jakarta: EGC. 2009
3. Kanski, JJ. Bowling B. Clinical Ophtalmology: A systemic Approach Seventh Edition.
Eddinburgh: Butterworth Heinemann.2012
4. Van Hauven, WAJ. Zwaan J. Decision Making in Ophtalmology, An Algoritmic
Approach, Second Edition. Mosby Inc. 2000.
5. Khaw, PT. et al. ABC of Eyes, Fourth Edition. London: BMJ Books. 2004