Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN

CAIRAN DAN ELEKTROLIT

Oleh:
Yuli Winarni
NIM: 690150257

PROGRAM PENDIIDKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2016

1) KONSEP DASAR
A. PENGERTIAN
Kebutuhan cairan

dan

elektrolit

adalah

suatu

proses

dinamikkarena

metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang tetap dalamberespons terhadap


stressor

fisiologis

dan

lingkungan.

Keseimbangancairan adalah esensial bagi

kesehatan.
B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
1. Umur
Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia akan
berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan. Infant
dan anak-anak lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan dibanding
usia dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan di
karenakan gangguan fungsi ginjal ataw jantung.
2. Iklim
Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban udaranya
rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektrolit melalui
keringat. Sedangkan seseorang yang beraktifitas di lingkungan yang panas dapat
kehilangan cairan sampai dengan 5 L per hari.
3. Diet
Diet seseorag berpengaruh terhadap intake cairan dan elktrolit. Ketika intake
nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga
akan serum albumin dan cadangan protein akan menurun padahal keduanya
sangat diperlukan dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini akan
menyebabkan edema.
4. Stress
Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan pemecahan
glykogen otot. Mrekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air
sehingga bila berkepanjangan dapat meningkatkan volume darah.
5. Kondisi sakit
Kondisi sakit sangat b3erpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan dan
elektrolit misalnya:
Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui

IWL.
Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.

Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami ganguan


pemenuhan

intake

cairan

karena

kehilangan

kemapuan

untuk

memenuhinya secara mandiri.


6. Tindakan medis
Banayak tindakan medis akan berpengaruh pada keseimbangan cairan dan
elektrolit tubuh seperti: suction, NGT dan lain-lain.
7. Pengobatan
Pengobatan seperti pemberian dueretik, laksative dapat berpengaruh pada kondisi
cairan dan elektrolit tubuh.
8. Pembedahan
Pasien dengan tindakan pembedahan memiliki resiko tinggimengalami gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh karena kehilangan darah selama
pembedahan.
C. FISIOLOGI
Cairan dan substansi yang ada di dalamnya berpindah dari cairan interstitial masuk
kedalam sel. Pembuluh darah kapiler dan membrane sel yang merupakan membran
semipermiabel mampu memfilter tidak semua substansi dan komponen dalam cairan
tubuh ikut berpindah.
Metode perpindahan dari cairan dan elektrolit tubuh dengan beberapa cara yaitu:
1. Difusi
Merupakan proses di mana partikel yang terdapat di dalam cairan bergerak dari
konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah sampai terjadi keseimbangan. Cairan dan
elektrolit di difusikan menembus membrane sel. Klecepatan difusi di pengaruhi
oleh ukuran molekul, konsentarsi larutan dan temperature.
2. Osmosis
Merupakan bergeraknya pelarut bersih seperti air,

melaui

membran

semipermiabel dan larutan yang berkosentrasi lebih rendah ke kosentrsi yang


lebih tinggi yang sifat nya menarik.
3. Transport aktif
Partikel bergerak dari konsentrasi rendah ke lebih tinggi karena adanya daya aktif
dari tubuh seperti pompa jantung.
D. GANGGUAN / MASALAH
1. Hipovolemik
Adalah suatu kondisi akibat kekurangan volume cairan ekstra seluler (CES) dan
dapat terjadi karena kehilangan melalui kulit, ginjal, gastrointestinal, pendarahan
sehingga menimbulkan syok hipovolemik. Mekanisme nya adalah peningkatan

rangsangan saraf simpatis (peningkatan frekuensi jantung, kontraksi jantung dan


tekanan vaskuler), rasa haus, pelepasan hormone ADH dan adosteron. Gejala:
pusing, lemah, letih, anoreksia, mual muntah, rasa haus, gangguan mental,
konstipasi dan oliguri, penurunan TD, HR meningkat, suhu meningkat, turgor
kulit menurun, lidah terasa kering dan kasar, mukosa mulut kering. Tanda-tanda
penurunan berat badan dengan akut, mata cekung, pengosongan vena jugularis.
Pada bayi dan anak adanya penurunan jumlah air mata.
2. Hipervolemi
Adalah penambahan/kelebihan volume CES dapat terjadi pada saat:
a) Stimulasi kronis ginjal untuk menahan natrium dan air.
b) Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi natrium dan air.
c) Kelebihan pemberian cairan.
d) Perpindahan cairan interstisial ke plasma.
Gejala: sesak napas, peningkatan dan penurunan TD, nadi kuat, asites, adema,
adanya ronchi, kulit lembab, distensi vena leher, dan irama gallop.
2) KONSEP KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
a. Riwayat keperawatan
a) Pemasukan dan pengeluaran cairan dan makanan (oral, parenteral)
b) Tanda umum masalah elektrolit
c) Tanda kekurangan dan kelebihan cairan
d) Proses penyakit yang menyebabkan gangguan homeostatis cairan dan
elektrolit
e) Pengobatan tertentu yang sedang dijalani dapat mengganggu status
cairan
f) Status perkembangan seperti usia atau situasi social
g) Faktor psikologis seperti perilaku emosional yang mengganggu
pengobatan
b. Pengukuran klinik
a) Berat badan
Kehilangan atau bertambahnya berat badan menunjukkan adanya
masalah keseimbangan cairan:
+/- 2% ringan
+/- 5% sedang
+/- 10% berat
Pengukuran berat badan dilakukan setiap hari pada waktu yang sama.
b) Keadaan umum
Pengukuran tanda vital seperti suhu, tekanan darah, nadi, pernafasan.
Tingkat kesadaran.

c) Pengukuran pemasukan cairan


Cairan oral: NGT dan oral
Cairan parenteral termasuk obat-obatan IV
Makanan yang cenderung megandung air
Irigasi kateter atau NGT
d) Pengukuran pengeluaran cairan
Urine: volume, kejernihan/kepekatan
Feses: jumlah dan konsentrasi
Muntah
Tube drainase
IWL
e) Ukur keseimbangan cairan dengan akurat: normalnya sekitar +/- 200
CC.
c. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pada kebutuhan cairan dan elektrolit difokuskan pada:
a) Integumen: keadaan turgor kulit, edema, kelelahan, kelemahan otot,
tetani, dan sensasi rasa
b) Kardiovaskuler: distensi vena jugularis, tekanan darah, hemoglobin,
dan bunyi jantung
c) Mata: cekung, air mata kerin
d) Neurologi: reflek, ganguan motorik dan sensorik, tingkat kesadaran.
e) Gastrointestinal: keadaan mukosa mulut, mulut dan lidah, muntahmuntah, dan bising usus.
d. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan darah lengkap :pemeriksaan ini melewati jumlah sel darah merah
hemoglobin (HB),dan hematrokit (HT)
a) Ht naik :adanya dehidrasi berat dan gejala syok
b) Ht turun :adanya perdarahan akut,massif dan reaksi hemilitik,
c) Hb naik :adanya hemokonsentrasi.
d) Hbturun :adanya perdarahan hebat,reaksi hemolitik.
e. Pemeriksaan elektrolit serum
Pemeriksaan ini di lakukan untuk mengetahui kadar natrium,kalium,klorida,ion
bikarbonat,
f. Ph dan berat jenis urine
Berat jenis menunjukkan kemampuan ginjal untuk mengatur konsentrasi
urine,normalnya Ph urine adalah 4,5-8 dan berat jenisnya 1,003-1,030.
g. Analisa gas darah :Biasanya yang di periksa adalah pH,PO,HCO,PC0, dan
saturasi 02 nilai PCO2 normal:35-40 mmHg: PO2 normal:80-100 Hg:HCO3normal;25-29 mEq/1,sedangkan saturasi O2 adalah perbandingan oksigen

dalam darah dengan jumlah oksigen yang dapat di bawa oleh darah,normalnya
di arteri (95%-98%)dan vena(60%-85%) ( Tarwoto dan Wartonah, 2006 ).
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Aktual/resiko defisit volume cairan
2. Volume cairan berlebih
C. RENCANA TINDAKAN
1. Aktual / resiko defisit volume cairan
Tujuan :
Mempertahankan keseimbangan cairan.
Menunjukkan adanya keseimbangan cairan seperti output urine
adekuat, tekanan darah stabil, membrane mukosa mulut lembab, turgor

kulit baik.
Secara verbal pasien mengatakan penyebab kekurangan cairan dapat

teratasi.
Intervensi
1) Ukur dan catat setiap 4 jam: Intake dan output cairan, Warna muntahan,
urine, dan feces, Monitor turgor kulit, Tanda vital, Monitor IV infuse, CVP,

2)
3)
4)
5)
6)
7)

Elektrolit, BUN, hematokrit dan haemoglobin, Status mental, Berat badan.


Rasional : Menentukan kehilangan dan kebutuhan cairan
Berikan makanan dan cairan
Rasional : memenuhi kebutuhan makan dan minum
Berikan pengobatan seperti antidiare dan anti muntah
Rasional : Menurunkan pergerakan usus dan muntah
Berikan dukungan verbal dalam pemberian cairan
Rasional : Meningkatkan konsumsi yang lebih
Lakukan kebersihan mulut sebelum makan
Rasional : Meningkatkan nafsu makan
Ubah posisi pasien setiap 4 jam
Rasional : Meningkatkan sirkulasi
Berikan pendidikan kesehatan tentang: Tanda dan gejala dehidrasi, Intake

dan output cairan, terapi.


8) Rasional : Meningkatkan informasi dan kerjasama.
2. Volume cairan berlebih
Tujuan :
Mempertahankan keseimbangan intake dan output cairan
Menurunkan kelebihan cairan
Intervensi
1) Ukur dan monitor: Intake dan output cairan, berat badan, tensi, CVP
distensi vena, jugularis dan bunyi paru
Rasional : Dasar pengkajian kardiovaskuler dan respon terhadap
penyakit

2) Monitor rongten paru


Rasional : mengetahui adanya edema paru
3) Hati-hati dalam pemberian cairan
Rasional : mengurangi kelebihan cairan
4) Pada pasien yang bedrest: Ubah posisi setiap 2 jam, Latihan pasif dan
aktif
Rasional : mengurangi edema
5) Pada kulit yang edema berikan lotion, hindari penekanan yang terus
menerus
Rasional : mencegah kerusakan kulit
6) Berikan pengetahuan kesehatan tentang:

Intake dan output cairan

Edema, berat badan

pengobatan
Rasional : pasien dan keluarga mengetahui terkait penyakit dan
kooperatif
7) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan, obat, dan efek
pengobatan
Rasional : kerjasama disiplin ilmu dalam perawatan

D. DAFTAR PUSTAKA
Docterman dan Bullechek. Nursing Invention Classifications (NIC), Edition 4, United
States Of America: Mosby Elseveir Acadamic Press, 2004.
Maas, Morhead, Jhonson dan Swanson. Nursing Out Comes (NOC), United States Of
America: Mosby Elseveir Acadamic Press, 2004.
Mubarak, Wahid Iqbal dan Nurul Chayatin. 2007. Buku Ajar Kebutuhan Dasar
Manusia dan Aplikasi dalam Praktek. Jakarta: EGC.
Saryono dan Anggriyana Tri Widianti. 2010. Catatan Kuliah Kebutuhan Dasar
Manusia ( KDM ). Yogyakarta: Nuha Medika.
Tarwoto & Wartonah. (2010). Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses Keperawatan.
Edisi 4. Salemba Medika : Jakarta
Tarwoto dan Wartonah. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan
Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika.