Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kemudahan, serta
shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Budaya Politik Di Negara Cina dari tugas UAS mata
kuliah Pemikiran Politik Barat Dan Timur.
Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kekurangan, oleh karena
itu dengan penuh kerendahan hati, saya berharap bagi Bapak dosen berkenan untuk memberikan
kritik dan sarannya.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi saya dan pembaca.
Akhir kata saya ucapkan terima kasih. Semoga Allah SWT selalu mencurahkan rahmat dan
hidayahnya kepada kita semua. Amin

Serang, 18 Desember 2015

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..1


DAFTAR ISI ..2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

..3

1.2 Tujuan Penulisan ..3


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

..4

BAB III
PEMBAHASAN
1. Sejarah Cina .5
2. Partai Komunis China (PKC) .7
3. Tipe Budaya Politik Cina

.8

BAB IV
KESIMPULAN

.10

DAFTAR PUSTAKA .11

BAB I
PENDAHULUAN
1.3 Latar Belakang
Budaya politik merupakan pola perilaku suatu masyarakat dalam kehidupan bernegara,
penyelenggaraan administrasi negara, politik pemerintahan, hukum, adat istiadat, dan norma
kebiasaan yang dihayati oleh seluruh anggota masyarakat setiap harinya. Budaya politik juga
dapat di artikan sebagai suatu sistem nilai bersama suatu masyarakat yang memiliki kesadaran
untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan kolektif dan penentuan kebijakan publik
untuk masyarakat seluruhnya.
Republik Rakyat Cina adalah sebuah negara komunis yang terdiri dari hampir seluruh wilayah
kebudayaan, sejarah, dan geografis yang dikenal sebagai Cina. Sejak didirikan pada 1949, RRC
telah dipimpin oleh Partai Komunis Cina (PKC). Sekalipun seringkali dilihat sebagai negara
komunis, kebanyakan ekonomi republik ini telah diswastakan sejak tiga dasawarsa yang lalu.
Walau bagaimanapun, pemerintah masih mengawasi ekonominya secara politik terutama dengan
perusahaan-perusahaan milik pemerintah dan sektor perbankan. Secara politik, ia masih tetap
menjadi pemerintahan satu partai.
RRC adalah negara dengan penduduk terbanyak di dunia, dengan populasi melebihi 1,3 miliar
jiwa, yang matoritas merupakan bersuku bangsa Han. RRC juga adalah negara terbesar Rusia
dan Kanada.

1.2 Tujuan Penulisan


Untuk memenuhi tugas UAS mata kuliah Pemikiran Politik Barat Dan Timur serta mengetahui
budaya politik di negara china beserta sejarah dan sistem perpolitikannya agar kita dapat
membandingkan budaya politik yang terjadi di negara cina dan Indonesia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Almond dan Verba mendefinisikan budaya politik sebagai suatu sikap orientasi yang khas warga
negara terhadap sistem politik dananeka ragam bagiannya, dan sikap terhadap peranan warga
negara yang ada di dalam sistem itu.
Dengan kata lain, bagaimana distribusi pola-polaorientasi khusus menuju tujuan politik diantara
masyarakat bangsa itu. Lebih jauh mereka menyatakan, bahwa warga negara senantiasa
mengidentifikasikan diri mereka dengan simbol-simbol dan lembaga kenegaraan berdasarkan
orientasi yang mereka miliki. Dengan orientasi itu pula mereka menilai serta mempertanyakan
tempat dan peranan mereka didalam sistem politik. Kebudayaan politik, meliputi sikap-sikap dari
warganegara terhadap pemerintahan dan politiknya. Untuk menilai dan memperbandingkan
kebudayaan politik, Almond mengajukan ukuran-ukuran : identitas nasional, kesadaran kelas,
motivasi berprestasi, keyakinan akan kebebasan dan persamaan, efektivitas politik dan
kepercayaan kepada pemerintah. Tipe budaya politik dibedakan menjadi dua. pertama
berdasarkansikap yang ditujukan. Dalam hal ini dibedakan lagi menjadi beberapasikap
diantaranya budaya politik militant dan budaya politik toleransi. Dalam budaya politik militant
perbedaan tidak dipandang sebagai usaha mencari alternatif yang terbaik, tetapi dipandang
sebagai usaha jahat dan menantang. Sedangkan dalam budaya politik toleransi pemikiran
berpusat pada masalah atau ide yang harus dinilai, berusaha mencari consensus yang wajar yang
mana selalu membuka pintu untuk bekerja sama. Kedua tipe budaya politik berdasarkan orientasi
politiknya. Dalam hal ini dibedakan lagi menjadi budaya politik parokial yang mana
tingkat partisipasi politiknya sangat rendah, yang disebabkan faktor kognitif (misalnya tingkat
pendidikan relatif rendah), budaya politik kaula yangmana masyarakat bersangkutan sudah
relatif maju (baik sosial maupunekonominya) tetapi masih bersifat pasif, dan budaya politik
partisipanyang mana budaya politik yang ditandai dengan kesadaran politik sangattinggi.
Munculnya ideologi komunisme di Cina tidak lepas dari pengaruh komunisme Uni Soviet.
Ideologi komunis yang berada negara cina tersebut memiliki pandangan sama terhadap wanita
pada awal kemunculannya (Stalin di UniSoviet dan Mao Zedong di China) yang mempengaruhi
munculnya partisipasi perempuan diperpolitikan China. ada faktor-faktor yang mempengaruhi
4

seperti; budaya dan partisipasi politik, etnis, nilai-nilai budaya setempat, serta agama atau
kepercayaan

kedua

negara.

Oleh

karena

itu

dalam

makalah

ini

akan

dibahas

mengenai perbandingan partisipasi perempuan di China berikut dengan faktor-faktor yang


mempengaruhinya.

BAB III
PEMBAHASAN
1. Sejarah Cina
China merupakan negara Asia Timur yang memiliki pertumbuhan yang paling signifikan
selama 30 tahun terakhir, baik dalam sektor ekonomi maupun politiknya. Pertumbuhan dan
perubahan yang terjadi di China tersebut tidak lepas dari dinamika kebijakan domestik yang
diambil oleh pemerintah China. Keberhasilan pemerintah China memilih kebijakan ekonomi dan
politik bagi negerinya mengantarkan China tumbuh sebagai salah satu macan Asia dan negara
yang paling berpengaruh di dunia.
China saat ini merupakan negara sosialis-leninis yang pada awalnya berbentuk
Autoritarian. Wang mengungkapkan bahwa budaya politik China mengalami perkembangan dari
yang awalnya berupa Autoritarian menjadi Anarki hingga kemudian menjadi Totalitarian.
Budaya politik autoritarian China dimulai ketika awalnya daratan China dikuasai oleh sebuah
kekaisaran dimana terdapat emperor yang menguasai sebuah dinasti, emperor tersebut
mempunyai kekuatan dan legitimasi yang besar dikarenakan ia dianggap sebagai Son of
Heaven. Taoisme menjadi paham utama dalam kehidupan China disaat itu, dimana pemujaan
terhadap emperor adalah sebuah tradisi yang selalu dilakukan. Terdapat total 24 dinasti pada
masa autoritarian China, sebelum gempa dahsyat kemudian menghancurkan Beijing pada tahun
1976 dan membuat kematian Mao Zhedong menjadi tanda berakhirnya masa authoritarianismeempire China.
5

Selanjutnya Confucianisme lahir menjadi sebuah filosofi yang mempengaruhi budaya


politik China. Sistem imperealisme diterapkan dan penguasa baru dipilih berdasarkan seleksi
masyarakat atas beberapa kriteria seperti kompetensi, merit, dan profesionalisme. Kandidat
pemimpin imperial ini kemudian dipilih berdasarkan kemampuan dan pengetahuannya atas
ajaran Confucius. Hanya kandidat yang lolos provincial examination saja yang dapat menjabat
sebagai pejabat pemerintah terendah. Confucianism sebagai ideologi negara pada masa itu
dianggap lebih berpengaruh terhadap kebijakan politik China karena Confucianism dapat disebut
juga sebagai authoritarianism. Keduanya sama-sama mementingkan legitimasi benar dan salah
daripada anggapan mengenai mandate of heaven seperti yang dipergunakan oleh pemerintah
China pada masa sebelumnya. Pada masa ini China juga menjalin hubungan dengan orang
asing/westerners namun dengan cara mengisolasi keberadaan mereka di wilayah pelabuhan, hal
ini tidak lepas dari anggapan orang China terhadap bangsa lain yang merupakan bangsa barbar.
Modernisasi pertamakali diterapkan di China pada masa pemimpin partai Nasionalis,
Chiang Kai-Shek menjadi pemimpin China pada tahun 1927-1937. China mulai menggunakan
politik komunisme semenjak tahun 1949, sistem politik China ini terpengaruh dari ajaran
Marxisme dan Leninisme yang berbasiskan pada paham sosialis. Hal ini membuat pemerintahan
China terpusat dan dipimpin oleh satu partai politik nasional yakni Partai Komunis China yang
merupakan partai tunggal dan amat berpengaruh terhadap kehidupan perpolitikan China. Partai
Komunis China menjalankan pemerintahan China dengan Presiden yang diangkat dari partai.
Presiden memiliki legitimasi yang tinggi dalam memimpin negara dan kebijakan luar negerinya,
disamping partai dan institusi kenegaraan.
Institusi kenegaraan China terdiri dari kongres nasional dan dewan negara yang mengatur
segala kebijakan dan peraturan pemerintahan China. Dewan negara adalah badan yang
menjalankan fungsi legislatif di China, dewan negara memberikan hasil legislatifnya kepada
kongres nasional yang diadakan setiap satu tahun sekali untuk kemudian mengatur seluruh
administrasi kenegaraan sekaligus pemilihan calon presiden selanjutnya dari Partai Komunis
China. Dalam bidang politik, China kerap kali mengeluarkan kebijakan yang berkaitan dengan
Taiwan dan Tibet yang diharapkan dapat membentuk one China dengan China itu sendiri, selain
itu China juga memiliki kebijakan politik dengan Hongkong dan Macau yang menjadi Special
Administration Regions (SAR) China dimana kedua daerah ini merupakan bagian dari China
6

yang memiliki sistem militer dan kebijakan politik asing yang sama dengan China namun
menggunakan sistem perdagangan mata uang dan imigrasi yang berbeda, atau yang disebut
dengan one country two system.
Daerah SAR dikenal juga dengan daerah pembangunan ekonomi China, dimana zona
ekonomi khusus merupakan salah satu strategi pembangunan China di bidang ekonomi.
Penerapan sistem ini dimulai ketika Deng Xiaoping yang mengumumkan reformasi dan
keterbukaan akan investasi asing (gaige kaifang) pada tahun 1970-an, berbeda dengan strategi
ekonomi China yang sebelumnya mengikuti model substitusi impor yang bersifat protektif dan
menarik diri dari ekonomi global (Wiryawan, 2008:3). Zona ekonomi khusus ini memberikan
perlakuan khusus bagi investor asing seperti pembebasan kewajiban pajak, peniadaan dan
pengurangan hambatan tarif sehingga negara dapat berintegrasi dengan perekonomian global.
Pengembangan zona ekonomi khusus merupakan salah satu kunci pendorong
keberhasilan pembangunan di China. Pengembangan ZEK sendiri melibatkan hubungan anatara
pemerintah pusat dengan pemerintah daerah yang memiliki peranan berkontak dengan pihak
asing yang membuka investasi asing di daerah tersebut. Pengembangan ZEK sendiri pertamakali
diusulkan oleh pemerintah provinsi Guangdong (Wiryawan, 2008: 9). Pada awalnya status ZEK
hanya diberikan ke beberapa wilayah/daerah khusus seperti Guangdong dan Fujian, namun saat
ini ZEK China telah berkembang ke banyak daerah dan hampir seluruh daerah China kini
merupakan ZEK dan terbuka dengan investasi asing.
Pembentukan ZEK sendiri memiliki sejarah yang unik, hal ini dikarenakan China
memiliki hubungan antara pusat dan daerah yang berbeda dengan negara komunis lainnya,
berbeda dengan komunisme Lenin pada masa itu, komunisme China lebih flexibel dan bahkan
dalam pemerintahan Mao Zedong, China ditengarai pernah mengalami gelombang desentralisasi
sebanyak 2 kali (Wiryawan, 2008: 13). Walaupun China memiliki sistem kontrol birokrasi
terpusat ala sosialis, namun pemerintah China memberikan kebebasan pada daerahnya untuk
menentukan kontrol sosial dan investasi terhadap asing, walaupun tetap dibawah kontrol pusat.
Hal ini berarti apabila pusat tidak menghendaki sebuah kebijakan daerah maka daerah tersebut
wajib untuk mematuhi aturan pusat.

Hubungn pusat daerah di China adalah kunci dari pembangunan ekonomi China, dimana
pada tahun 1949-1978 Mao Zedong mengumumkan 2 kali gelombang desentralisasi yakni pada
masa kampanye Lompatan Jauh Kedepan (11945-1957) dan Kampanye Revolusi Kebudayaan.
Dalam kampanya ini Mao mengkritik pemerintah Uni Soviet yang terlalu membelenggu
daerahnya sehingga daerah tidak dapat berkembang. Pada masa pasca tahun 1978,
perkembangan pusat-daerah di China menjadi semakin dinamis dengan mekanisme pasar untuk
menjalankan proses produksi. Peran pemerintah pusat dalam mengatur industri daerah dikurangi
meskipun kontrol pemerintah pusat akan daerah tetap absolut, seperti Benzinki dan Huntington
yang menyebutkan kewenangan daerah ini sebagai pinjaman pusat yang dapat dikembalikan
sewaktu-waktu.
Adaptasi lokal merupakan hal yang penting, dan pemerintah China membangunnya
secara gradual dan bertahap. Awalnya dari beberapa provinsi hingga kemudian menyebar ke
hampir seluruh daerah di China, awalnya hanya provinsi yang mendapatkan desentralisasi dalam
pengaturan fiskal, keputusan investasi, dan hubungan ekonomi luar negeri, namun gelombang
desentralisasi berkembang hingga tingkat kota. Beijing, Tianjin dan Shanghai adalah 3 kota
penyumbang terbesar untuk pusat. Pusat sendiri mendapatkan 42% dari pendapatan ZEK dan
jumlahnya ditetapkan selama 4 tahun menurut Konferensi Kerja (Guongzuo Huiyi). Perubahan
final terjadi pada 1992 dibawah kepemimpinan Deng Xiaoping, dimana Deng merasakan
perlunya pengembangan liberalisasi ekonomi yang lebih luas, pusat kemudian melebarkan arus
desentralisasi hingga perfektur dan kabupaten, sehingga modernisasi industri dapat masuk
kedalam seluruh bagian China walaupun pada dasarnya China tetap merupakan negara sosialiskomunis.
2. Partai Komunis China (PKC)
Partai Komunis China merupakan partai yang berkuasa di dalam pemerintahan China dan
didalamnya terdapat 63 juta anggota dan menjadi partai politik terbesar di dunia. Organ
administratif utama (Dewan Negara)yang terdiri dari Perdana Menteri (PM), Wakil-wakil PM,
dan kepala-kepala dari semua kementerian dan komisi. Terdapat juga partai politik yang lain di
RRC, walaupun mereka hanya sekadar sub-partai atau partaiyang rapat dengan PKC. PKC
mengadakan dialog dengan mereka melaluisuatu badan perhubungan khusus, yang dinamai
Dewan Perhubungan Cadangan Rakyat Cina (CPPCC) yang dipertimbangkan RRC Fungsi badan
8

perhubungan khusus ini lebih kepada mata luaran CPP, walaupunterdapat pengawai badan ini di
semua tingkat pemerintahan. PartaiKomunis China mempunyai kewenangan, antara lain:Mengatur dan mengendalikan seluruh struktur administratif dan bersama-sama dengan badanbadan tertinggi PKCmenyelenggarakan pemerintahan China.-Berperan sebagai penerjemah
keputusan-keputusan

partai

kedalam

tindakan-tindakan

negara

yang

menjadikannya

sebagailembaga yang paling kuat di antara berbagai lembaga yangdibentuk oleh konstitusi.

3. Tipe Budaya Politik Cina


Dari realitas budaya politik yang berkembang di dalam masyarakat,Gabriel Almond
mengklasifikasikan budaya politik sebagai berikut :
1. Parokial
A. Frekuensi orientasi terhadap sistem sebagaio byek umum, obyek-obyek input, obyek-obyek
output, dan pribadi sebagai partisipan aktif mendekati nol.
B. Tidak terdapat peran-peran politik yangkhusus dalam masyarakat.- Orientasi parokial
menyatakan alpanyaharapan-harapan akan perubahan yangkomparatif yang diinisiasikan
oleh system politik.
C. Kaum parokial tidak mengharapkan apapundari system politik.
D. Parokialisme murni berlangsung dalamsistem tradisional yang lebih sederhanadimana
spesialisasi politik berada pada jenjang sangat minim.
E. Parokialisme dalam sistem politik yangdiferensiatif lebih bersifat afektif dannormatif dari
pada kognitif.
2. Subjek/klausal
A. Terdapat frekuensi orientasi politik yang tinggi terhadap sistem politik yang diferensiatif dan
aspek output dari systemitu, tetapi frekuensi orientasi terhadapobyek-obyek input secara khusus,
dan terhadap pribadi sebagai partisipan yangaktif mendekati nol.
B. Para subyek menyadari akan otoritas pemerintah. Hubungannya terhadap sistem politik
secara umum, dan terhadapoutput, administratif secara esensialmerupakan hubungan yang pasif.
C.

Sering

wujud

di

dalam

masyarakat

yangterdiferensiansikan.
9

dimana

tidak

terdapat

struktur

input

D. Orientasi subyek lebih bersifat afektif dan normatif daripada kognitif.

3.Partisipan
A. Frekuensi orientasi politik sistemsebagai obyek umum, obyek-obyek input,output, dan
pribadi sebagai partisipanaktif mendekati satu.
B. Bentuk kultur dimana anggota-anggotamasyarakat cenderung diorientasikansecara eksplisit
terhadap sistem politik secara komprehensif dan terhadapstruktur dan proses politik
sertaadministratif (aspek input dan outputsistem politik)
C. Anggota masyarakat partisipatif terhadap obyek politik
D. Masyarakat berperan sebagai aktivis.
Berdasarkan keterangan diatas, Cina tidak dapat digolongkan kedalam salah satunya saja.
Berdasarkan ciri-ciri tersebut Cina mendekati tipe budaya politik parochial dan subjek/kausal.
Hal ini dapat dikatakan demikian mengingat perilakumasyarakat Cina yang tidak begitu
mengharapakan adanya perubahanapapun dalam system politiknya. Bahkan rakyat Cina
senantiasa tunduk pada setiap keputusan yang cenderung komunisme. Hal ini merupakan bukti
bahwa Cina menganut tipe budaya politik parochial. Sedangkan bukti bahwa Cina juga
merupakan negara yang berbudaya politik subjek ampak pada kepatuhan rakyat Cina pada
pemerintahan yang cukupotorirer, dan hal ini tidak disertai dengan aksi penolakan apapun.

BAB IV

10

KESIMPULAN
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan China terjadi dengan sangat
dinamis dan gradual, baik dalam sektor ekonomi maupun politiknya. China sendiri masih
merupakan negara komunis-sosialis, namun tidak seperti negara komunis lainnya, China masih
terbuka dan lebih fleksibel dalam menjalankan negaranya. Komunisme dilihat dari peran
totalitarian pusat China yang masih mendominasi dan absolut, namun daerah ZEK dan SAR
memiliki kesempatan akan otonomi yang diberikan dibawah totalitarianisme China.

11

DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_politik
http://kmplnmakalah.blogspot.co.id/2013/04/makalah-perbandingan-antara-negara.html
https://www.scribd.com/doc/77002285/14/Sistem-Nilai-dan-Budaya-Politik-di-China
http://fellinkinanti-fisip10.web.unair.ac.id/artikel_detail-45977-Masyarakat%20Budaya
%20Politik%20Asia%20Timur-Dinamika%20Ekonomi%20dan%20Politik%20China.html

12