Anda di halaman 1dari 13

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Bakteri
Bakteri adalah sel prokariotik yang khas, uniseluler dan tidak mengandung
struktur yang terbatasi membran didalam sitoplasmanya. Reproduksi utama dengan
pembelahan biner sederhana yaitu suatu proses aseksual. Beberapa dapat tumbuh
pada 0oC, ada yang tumbuh dengan baik pada sumber air panas yang suhunya 90 oC
atau lebih. Bakteri menimbulkan berbagai perubahan kimiawi pada substansi yang
ditumbuhinya, mereka mampu menghancurkan banyak zat (Olyvia, 2012).
Bakteri memiliki ciri-ciri yang membedakannnya dengan mahluk hidup lain
yaitu :
1. Organisme multiselluler.
2. Prokariot (tidak memiliki membran inti sel).
3. Umumnya tidak memiliki klorofil.
4. Memiliki ukuran tubuh yang bervariasi antara 0,12 s/d ratusan mikron umumnya
memiliki ukuran rata-rata 1 s/d 5 mikron.
5. Memiliki bentuk tubuh yang beraneka ragam.
6. Hidup bebas atau parasit.
7. Yang hidup di lingkungan ekstrim seperti pada mata air panas,kawah atau gambut
dinding selnya tidak mengandung peptidoglikan.
8. Yang hidupnya kosmopolit diberbagai lingkungan dinding selnya mengandung
peptidoglikan.
(Michael, 2012).
Bakteri mengalami pertumbuhan yang dapat dibagi dalam 4 fase menurut yaitu:
1. Fase lag
Pada saat dipindahkan ke media yang baru, bakteri tidak langsung tumbuh
dan membelah, meskipun kondisi media sangat mendukung untuk
pertumbuhan. Bakteri biasanya akan mengalami masa penyesuaian untuk
menyeimbangkan pertumbuhan.

2. Fase log
Selama fase ini, populasi meningkat dua kali pada interval waktu yang
teratur. Jumlah koloni bakteri akan terus bertambah seiring lajunya aktivitas
metabolisme sel.
3. Fase tetap
Pada fase ini terjadi kompetisi antara bakteri untuk memperoleh nutrisi dari
media untuk tetap hidup. Sebagian bakteri mati sedangkan yang lain tumbuh
dan membelah sehingga jumlah sel bakteri yang hidup menjadi tetap.

4. Fase kematian
Pada fase ini, sel bakteri akan mati lebih cepat daripada terbentuknya sel baru.
Laju kematian mengalami percepatan yang eksponensial.
(Lubis, 2013)

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri (Hasyimi, 2010) yaitu :


1. Suhu
Suhu mempengaruhi laju pertumbuhan, mempengaruhi jumlah total
pertumbuhan, merubah proses-proses metabolik tertentu serta morfologi
(bentuk luar) sel. Kisaran suhu bagi mikroba terbagi 3 tahap yaitu suhu
minimum, suhu maksimum dan suhu optimum. Suhu pertumbuhan optimum
adalah suhu inkubasi yang memungkinkan pertumbuhan tercepat selama
periode waktu yang singkat, yaitu antara 12 s/d 24 jam.
2. pH
pH optimum bagi pertumbuhan bakteri berkisar antara 6,5-7,5. Beberapa
spesies bakteri ada yang mempunyai pH minimum 0,5 dan pH
maksimumnya 9,5. Pergeseran pH dalam suatu medium dapat terjadi
sedemikian besar, karena akibat adanya senyawa-senyawa asam atau basa
selama pertumbuhan. Pergeseran ini dapat dicegah dengan menggunakan
larutan penyangga yang disebut Buffer (kombinasi garam-garam KH2PO4
dan K2HPO4). Garam-garam anorganik diperlukan oleh mikroba untuk
keperluan mempertahankan keadaan koloidal, mempertahankan tekanan
osmose di dalam sel, memelihara keseimbangan pH serta sebagai aktivator
enzim.

3. Pencahayaan
Bakteri biasanya tumbuh dalam gelap, walaupun ini bukan suatu keharusan.
Tetapi sinar ultraviolet mematikan mereka dan ini dapat digunakan untuk
prosedur sterilisasi. Beberapa bakteri memerlukan persyaratan yang khusus.
Diantaranya, bakteri Fotoautotrofik (fotosintetik), yaitu bakteri dalam
pertumbuhannya harus ada pencahayaan.
4. Waktu
Jika bakteri menemukan kondisi yang cocok, pertumbuhan dan reproduksi
terlaksana. Bakteri berkembang biak dengan membelah diri. Dari satu sel
tunggal menjadi dua, dua menjadi empat, empat menjadi delapan dan 8
setiap 20-30 menit. Dalam kondisi yang mereka sukai itu, maka dalam 8
jam satu sel bakteri telah berkembang menjadi 17 juta sel dan menjadi satu
milyar dalam 10 jam.
5. Oksigen
Berdasarkan akan kebutuhan terhadap oksigen, bakteri dapat digolongkan
menjadi bakteri aerob mutlak (bakteri yang untuk pertumbuhannya
memerlukan adanya oksigen, misalnya M. tuberculosis), bakteri anaerob
fakultatif (bakteri yang dapat tumbuh, baik ada oksigen maupun tanpa
adanya oksigen), bakteri anaerob aerotoleran (bakteri yang tidak mati
dengan adanya oksigen), bakteri anaerob mutlak (bakteri yang hidup bila
tidak ada oksigen, misalnya Clostridium tetani) dan bakteri mikroaerofilik
(bakteri yang dapat hidup bila tekanan oksigennya rendah, misalnya
Neisseria gonorrhoeae).
6. Air
Air atau H2O merupakan bahan yang amat penting bagi pertumbuhan
bakteri karena 80%-90% bakteri tersusun atas air. Tetapi bakteri tidak dapat
menggunakan air yang mengandung zat-zat terlarut dalam konsentrasi
tinggi, seperti gula dan garam. Larutan pekat, misalnya larutan garam 200
mg/liter tidak menunjang pertumbuhan bakteri. Tekanan osmose juga sangat
diperlukan untuk mempertahankan bakteri agar tetap hidup, suatu misal
apabila bakteri berada dalam larutan yang konsentrasinya lebih tinggi
daripada konsentrasi yang ada dalam sel bakteri, maka akan terjadi

keluarnya cairan dari sel bakteri melalui membran sitoplasma yang disebut
plasmolisis.
7. Karbon
Unsur karbon sangat penting bagi pertumbuhan bakteri. Sumber karbon atau
carbon source antara bakteri yang satu dengan bakteri yang lain tidaklah
sama, dan unsur karbon tersebut diperlukan oleh semua makhluk hidup
mulai bakteri sampai dengan manusia. Telah diketahui bahwa berat unsur
karbon merupakan setengah dari berat kering bakteri. Menurut keperluan
kuman akan sumber karbon, maka kuman dibagi menjadi 2 golongan yakni
kuman autotrof yang memenuhi unsur karbonnya dari sumber anorganik.
Sebaliknya kuman heterotrof memenuhi keperluan karbonnya dari sumber
organik seperti karbohidrat (glukosa).

8. Nitrogen, sulfur dan fosfor


Nitrogen, sulfur dan fosfor diperlukan untuk menyusun bagian-bagian sel
misalnya untuk menyintesis protein diperlukan nitrogen dan sulfur. Untuk
mensintesis DNA dan RNA, diperlukan nitrogen dan fosfor. Demikian pula,
untuk menyintesis ATP. Seperti diketahui bahwa ATP adalah suatu bahan
yang penting dalam sel, yang berguna untuk persediaan dan transfer energi
dalam sel. Nitrogen, sulfur dan fosfor merupakan 18% berat kering dari sel
di mana nitrogen adalah 15% dari berat kering sel tersebut. Sumber sulfur di
alam bisa dalam bentuk ion sulfat atau berasal dari H2S maupun sulfur yang
terdapat dalam asam amino, sedangkan fosfor diperoleh dari senyawa fosfat.
Nitrogen oleh bakteri terutama diperlukan untuk menyintesis asam amino
yang selanjutnya digunakan untuk menyintesis protein, DNA, serta RNA.
Nitrogen tersebut diperoleh bakteri, misalnya dari proses dekomposisi bahan
organik atau berasal dari ion ammonium serta dari senyawa nitrat dan
nitrogen yang berada di udara melalui proses fiksasi nitrogen tergantung
dari jenis bakterinya. Bakteri yang dapat menggunakan nitrogen yang
berasal dari udara melalui proses fiksasi nitrogen adalah cyanobacteria
(blue green algae).
9. Senyawa logam

Senyawa logam untuk pertumbuhan makhluk hidup diperlukan dalam


jumlah sedikit. Oleh karena itu, disebut trace element. Termasuk di
antaranya yang diperlukan untuk kehidupan bakteri adalah Fe, Cu dan Zn.
Di alam, trace element terdapat pada air (tap water) atau bahan-bahan lain.
(Simanjuntak, 2014).
Bakteri merupakan mikroorganisme prokariotik, adalah organisme yang paling
banyak dan paling sederhana di dunia seperti yang kita kenal. Prokariota tidak
memiliki inti dan organel kompleks. Karena kebanyakan prokariota berbagai ukuran
kurang dari sepuluh mikrometer (m), mikroskop digunakan untuk mempelajari
bakteri. Identifikasi bakteri sangat penting dalam mikrobiologi dan patologi karena
melayani dasar pemahaman penyakit. Karena ini, berbagai jenis metode telah
diperkenalkan untuk mengklasifikasikan bakteri dalam mikrobiologi. Bentuk yang
paling biasa dari bakteri termasuk batang, cocci (bulat), dan bentuk spiral.
pengaturan seluler terjadi tunggal, dalam seri, dan dalam kelompok. Beberapa
spesies memiliki satu untuk banyak proyeksi yang disebut flagela yang
memungkinkan bakteri untuk berenang dan bergerak. cocci atau coccus untuk satu
sel adalah sel-sel bulat, kadang-kadang diratakan ketika berada berdekatan satu sama
lain. bakteri kokus bisa eksis secara individual, berpasangan, dalam kelompok empat,
dalam rantai, dalam kelompok atau dalam kubus yang terdiri dari delapan sel. Basil
adalah bakteri berbentuk batang yang juga dapat terjadi secara individual, di
pasangan, atau dalam rantai (Mohamad, dkk., 2014).
Hampir semua bakteri mempunyai stuktur dan organisasi dasar yang sama
walaupun bentuknya berbeda. Setiap sel terdiri atas lapisan dinding sel bagian luar
yang kaku dan dibawahnya terdapat membran sel, semipermiabel. Di dalam
membran tersebut terdapat isi dari sitoplasma termasuk di dalamnya bahan inti dan
berbagai komponen serta enzim yang dibutuhkan untuk metabolisme dan
pertumbuhan. Tergantung dari jenisnya, bakteri kadang-kadang mempunyai struktur
tambahan diantaranya yang penting adalah cambuk (flagella), kapsul (capsules) dan
endospora (endospores). Struktur tersebut sangat penting untuk pengenalan dan
identifikasi bakteri (Olyvia, 2012).

2.2 Klasifikasi Bakteri


2.2.1 Bentuk-Bentuk Bakteri

Variasi bakteri atau koloni bakteri dipengaruhi oleh arah pembelahannya,


umur, dan syarat pertumbuhan tertentu misalkan makanan, suhu, dan keadaan yang
tidak menguntungkan bakteri.

(a)

(b)

(c)

Gambar 2.1 Tiga kelas bakteri (a) kokus (b) vibrio (c) basil
(Mohamad, dkk., 2014).
a) Bentuk basil (batang)

Gambar 2.1 Basil


(Mohamad, dkk., 2014)
1. Basil tunggal, berupa batang tunggal, contohnya Escherchia coli dan
Salmonella typi.
2. Diplobasil; berbentuk batang bergandengan dua-dua.
3. Streptobasil; berupa batang bergandengan seperti rantai, contohnya
Streptobacillus moniliformis dan Azotobacter sp.

b) Bentuk bulat (kokus)

Gambar 2.2 Kokus


(Mohamad, dkk., 2014)
Bakteri berbentuk bulat (kokus = sferis/tidak bulat betul) dibagi mejadi bentukbentuk sebagai berikut:
1. Monokokus,berbentuk bulat, satu-satu, contohnya Monococcus gonorhoe.
2. Diplokokus, bentuknya bulat bergandengan dua-dua, misalnya Diplococcus
pneumonia.
3. Streptokokus, memiliki bentuk bulat bergandengan seperti rantai, sebagai
hasil pembelahan sel kesatu atau dua arah dalam satu garis.
4. Tetrakokus, berbentuk bulat terdiri 4 sel yang tersusun dalam bentuk bujur
sangkar sebagai hasil pembelahan sel kedua arah.
5. Sarkina, berbentuk bulat terdiri atas 8 sel yang tersusun dalam bentuk kubus
sebagai hasil pembelahan sel ketiga arah, contohnya Sarcia sp.
6. Stafilokokus, berbentuk bulat, tersusun seperti kelompok buah anggur
sebagai hasil pembelahan sel ke segala arah.
7. Mikrococcus, jika kecil dan tunggal
c) Bentuk Spiral

Gambar 2.3 Vibrio


(Mohamad, dkk., 2014)

1. Koma (vibrio); berbentuk lengkungan kurang dari setengah lingkaran, contoh


nya Vibrio coma, penyebab penyakit kolera.
2. Spiral; berupa lengkungan lebih dari setengah lingkaran, contohnya
Spirillium minor yang menyebabkan demam dengan perantara gigitan tikus
atau hewanpengerat lainnya.
3. Spiroooseta; berupa spiral yang halus dan lentur, contohnya Treponema
pallisum, penyebab penyakit sifilis.
Bentuk tubuh bakteri dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, medium dan usia.
Oleh karena itu untuk membandingkan bentuk serta ukuran bakteri, kondisinya harus
sama. Pada umumnya bakteri yang usianya lebih muda ukurannya relatif lebih besar
daripada yang sudah tua ( Pramuditya,dkk., 2011).
2.2.2 Warna Bakteri
Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan kontras dengan air, dimana
sel-sel bakteri tersebut disuspensikan. Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel
bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau
pewarnaan. Hal tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu
mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pengecatan. Pada
umumnya bakteri bersifat tembus cahaya, hal ini disebabkan karena banyak bakteri
yang tidak mempunyai zat warna. Tujuan dari pewarnaan adalah untuk
mempermudah pengamatan bentuk sel bakteri, memperluas ukuran jazad, mengamati
struktur dalam dan luar sel bakteri, dan melihat reaksi jazad terhadap pewarna yang
diberikan sehingga sifat fisik atau kimia jazad dapat diketahui (Arrachman, 2016).
Berdasarkan perbedaan dalam menyerap warna, bakteri dibagi atas dua
golongan yaitu bakteri gram positif dan gram negatif. Bakteri gram positif menyerap
zat warna pertama yaitu kristal violet yang menyebabkan berwarna ungu, sedangkan
bakteri gram negatif menyerap zat warna kedua yaitu safranin dan menyebabkan
warna merah.
Bakteri gram positif memiliki kandungan peptidoglikan yang tinggi
dibandingkan bakteri gram negatif. Sebaliknya, kandungan lipida dinding sel bakteri
gram positif lebih rendah dibandingkan bakteri gram negatif yaitu sekitar 11-22 %
(Simbolon, 2011).

2.3 Pemanfaatan Bakteri


Setiap mikroorganisme memiliki peranan dalam kehidupan, baik yang merugikan
maupun yang menguntungkan. Sekilas, makna praktis dari mikroorganis medisa dari
tertutama karena kerugian yang ditimbulkannya di bidang peternakan dan pertanian.
Walaupun di bidang lain mikroorganisme tampil merugikan, tetapi perannya yang
menguntungkan jauh lebih menonjol (Syafei, 2014).
Tabel 2.1 Manfaat Bakteri
1. Lactobacillus casei

Untuk pembuatan keju

2. Lactobacillus bulgaricus
3. Streptococcus lactis

Susu asam (yoghurt).


Mengolah susu menjadi keju dan

4. Lactobacillus citrovorum

mentega
Memberi aroma pada mentega dan

5.
6.
7.
8.

keju
Mengolah daging menjadi sosis
Menguraikan bangkai
Terasi Ikan
Membantu meningkatkan efisiensi

Pediococcus cerevisiae
Desulfovibrio desulfuricans
Lactobacillus sp.
Bio-cas

9. Cellulomonas

pencernaan ternak.
di dalam perut ruminansia untuk
membantu proses pencemaan

10. Aspergillus niger

makanan
Meningkatkan berat badan 5,9 %
dan meningkatkan efisiensi pakan

11. Bacillus anthracis

0,8 %.
penyakit yang ditimbulkan adalah

12. Campylobacterfetus sp.

Antraks
penyebab keguguran pada sapi,
kambing, serta radang usus
manusia

(Syafei, 2014).
2.4 Pewarnaan Gram
Pewarnaan gram adalah prosedur mikrobiologi dasar untuk mendeteksi dan
mengidentifikasi bakteri. Pewarnaan gram ditemukan oleh H. C. J. Gram, seorang
histologist kebangsaan Denmark, pada tahun 1884. Prosedur pewarnaan gram

dimulai dengan pemberian pewarna basa, yaitu kristal violet. Larutan iodin yang
kemudian ditambahkan menyebabkan semua bakteri terwarnai biru pada fase ini.
Sediaan kemudian diberi alkohol. Sel gram positif akan tetap mengikat senyawa
violet-iodin sehingga berwarna biru, sedangkan gram negatif akan hilang warnanya
oleh akohol. Sebagai langkah terakhir ditambahkan counterstain (misalnya safranin
yang berwarna merah) ditambahkan sehingga sel gram negatif yang tidak berwarna
akan mengambil warna kontras, sedangkan sel gram positif terlihat dalam warna biru
keunguan (violet). Perbedaan ini terjadi karena perbedaan penyusun peptidoglikan
pada struktur dinding selnya. Berikut dipaparkan kedua macam golongan bakteri
berdasarkan pewarnaan gram.
2.4.1 Bakteri Gram Positif
Golongan ini memiliki peptidoglikan setebal 20-80 mm dengan komposisi
terbesar teichoic, asam teichuroni, dan berbagai macam polisakarida. Golongan
ini memiliki 40 lembar peptidoglikan pada dinding selnya, yang merupakan 50%
dari seluruh komponen penyusun dinding sel. Polisakarida dan asam amino pada
lembar peptidoglikan bersifat sangat polar, sehingga pada bakteri gram positif
yang memiliki dinding sel yang sangat tebal, dapat bertahan dari aktivitas cairan
empedu di dalam usus. Sebaliknya, lembar peptidoglikan rentan terhadap lisozim
sehingga dapat dirusak oleh senyawa bakterisidal.
2.4.2 Bakteri Gram Negatif
Golongan ini hanya memiliki lapisan peptidoglikan yang tipis (5-10) nm3
dengan komposisi utama lipoprotein, membrane luar dan lipopolisakaida.
Membran luar pada gram negatif juga memiliki sifat hidrofilik, namun komponen
lipid pada dinding selnya justru memberikan sifat hidrofobik. Selain itu, terdapat
saluran special terbuat dari protein yang disebut Porins yang berfungsi sebagai
tempat masuknya komponen hidrofilik seperti gula dan asam amino yang penting
untuk kebutuhan nutrisi bakteri. Lipoprotein mengandung 57 asam amino yang
merupakan ulangan sekuen 15 asam amino yang saling bertaut dengan ikatan
peptida dengan residu asam diaminopimelic dari sisi tetrapeptida rantai
peptidoglikan. Lipoprotein berfungsi sebagai penstabil membran luar dan tempat
perlekatan pada lapisan peptidoglikan.
(Al Hanif, 2009)

2.5

Aplikasi Identifikasi Mikroba Pembuatan Minuman Probiotik dari

Susu Kedelai dengan Inokulum Lactobacillus casei, Lactobacillus plantarum,


dan Lactobacillus acidophilus
Para peneliti di dunia telah membuktikan pentingnya peranan mikroflora
yang terdapat pada saluran pencernaan bagi kesehatan. Di antaranya adalah bakteri
asam laktat yang berperan positif menjaga keseimbangan mikroflora usus serta
membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dikenal sebagai efek probiotik.
Probiotik adalah kultur tunggal atau campuran dari mikrobia hidup yang dikonsumsi
oleh manusia atau hewan, bermanfaat bagi host (hewan atau manusia) dengan jalan
menjaga keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan. Peranan bakteri asam
laktat sebagai bakteri probiotik sangat ditentukan oleh sifatnya yaitu tetap dalam
keadaan hidup sejak dikonsumsi hingga mencapai usus manusia. Tidak semua bakteri
asam laktat mempunyai sifat demikian.
Pada umumnya bakteri asam laktat yang berasal dari saluran pencernaan
manusia

seperti

Lactobacillus

acidophilus,

Lactobacillus

casei

Shirota,

Bifidobacterium bifidum, Lactobacillus gasseri, dan Lactobacillus reuteri dapat


berperan sebagai probiotik yang baik.
Sedangkan

Streptococcus

thermophilus,

Lactobacillus

bulgaricus,

Lactococcus lactis, Latococcus cremoris, dan Lactococcus diacetylactis merupakan


kultur fermentasi produk susu yang tidak dapat mencapai usus manusia dalam
keadaan hidup. Ditinjau dari kandungan gizinya, susu kedelai mempunyai
kemungkinan untuk mengganti susu sapi atau ASI, khususnya untuk makanan bayi
yang tidak tahan terhadap susu hewani, atau untuk masyarakat di daerah yang harga
susu hewaninya mahal atau tidak banyak tersedia. Susu kedelai mempunyai
kandungan gizi hampir sama dengan susu sapi terutama proteinnya yaitu 3,54%.
Perbedaan utamanya adalah jenis asam amino, yaitu bahwa susu kedelai tidak
mengandung kasein. Berdasar sifat dan komposisi susu kedelai yang hampir sama
dengan susu sapi, telah banyak dilakukan pemanfaatan susu kedelai untuk pembuatan
produk susu seperti yoghurt, keju dan lain-lain. Produk asam oleh bakteri dalam susu
kedelai lebih rendah dibandingkan dengan susu sapi karena adanya perbedaan jenis
karbohidrat yang dapat difermentasi pada kedua bahan tersebut, namun penambahan

gula sederhana seperti glukosa dan laktosa dalam susu kedelai dapat meningkatkan
produksi asam oleh beberapa jenis bakteri asam laktat tertentu. Laktosa dalam susu
kedelai dapat meningkatkan produksi asam oleh beberapa jenis bakteri asam laktat
tertentu (Setioningsih, dkk., 2004).

Flowchart Aplikasi Pembuatan Minuman Probiotik dari Susu Kedelai


dengan Inokulum Lactobacillus casei, Lactobacillus plantarum, dan
Lactobacillus acidophilus
Mulai

Susu kedelai sebanyak 100 ml dimasukkan ke dalam


botol

Diinokulasi starter siap pakai L.casei, L.plantarum,


dan L.acidophilus

Susu kedelai diinkubasi pada suhu 37oC untuk L.casei dan L.acidophilus dan
pada suhu 30oC untuk L.plantarum selama 96 jam
Dilakukan analisis yang meliputi jumlah sel bakteri, kadar asan laktat, kadar lemak, kadar
protein, viskositas dan uji organoleptik dengan waktu analisis 96 jam

Selesai
Gambar 2.2 Flowchart Pembuatan Minuman Probiotik dari Susu Kedelai dengan
Inokulum Lactobacillus casei, Lactobacillus plantarum, dan Lactobacillus
acidophilus
(Setioningsih, dkk., 2004).