Anda di halaman 1dari 5

Nama : Riza Gustina

NPM : A1F015009
DIAGRAM TERNER
Diagram tiga sudut atau diagram segita berbentuk segitiga sama sisi dimana sudutsudutnya ditempati oleh komponen zat. Sisi-sisinya itu terbagi dalam ukuran yang menyatakan
bagian 100% zat yang berada pada setiap sudutnya. Untuk menentukan letak titik dalam diagram
segitiga yang menggambarkan jumlah kadar dari masing-masing komponen.
Pada slah satu sisinya ditentukan kedua titik yang menggambarkan jumlah kadar zat dari
masing-masing zat yang menduduki sudut pada kedua ujung sisi itu. Dari dua titik ini ditarik
garis yang sejajar dengan sisi yang dihadapinya, titik dimana kedua garis itu menyilang,
menggambarkan jumlah kadar masing-masing.
Titik dimana terjadi kesetimbangan antara wujud satu fasa dengan dua fasa dari
campuran ketiga komponen tersebut, apabila dihubungkan akan membentuk suatu diagram yang
menunjukkan batas-batas antara daerah (region) satu fasa dengan daerah (region) dua fasa. Dua
macam campuran pada titik kesetimbangan dapat dihubungkan dengan tie line apabila keduanya
dicampurkan menghasilkan campuran akhir yang berada pada daerah dua fasa.
Fasa merupakan keadaan materi yang seragam di seluruh bagiannya, tidak hanya dalam
komposisi kimianya tetapi juga dalam keadaan fisiknya. Contohnya: dalam sistem terdapat fasa
padat, fasa cair dan fasa gas. Banyaknya fasa dalam sistem diberi notasi P. Gas atau campuran
gas adalah fasa tunggal ; Kristal adalah fasa tunggal dan dua cairan yang dapat bercampur secara
total membentuk fasa tunggal.
Campuran dua logam adalah sistem dua fasa (P=2), jika logam logam itu tidak dapat
bercampur, tetapi merupakan sistem satu fasa (P=1), jika logam-logamnya dapat dicampur.
Pada perhitungan dalam keseluruhan termodinamika kimia, J.W Gibbs menarik
kesimpulan tentang aturan fasa yang dikenal dengan Hukum Fasa Gibbs, jumlah terkecil
perubahan bebas yang diperlukan untuk menyatakan keadaan suatu sistem dengan tepat pada
kesetimbangan diungkapkan sebagai:
V=CP+2
Dengan :
V = jumlah derajat kebebasan

P = jumlah fasa

C = jumlah komponen
Kesetimbangan dipengaruhi oleh suhu, tekanan, dan komposisi sistem. Jumlah derajat
kebebasan untuk sistem tiga komponen pada suhu dan tekanan tetap dapat dinyatakan sebagai :
V=3P
Jika dalam sistem hanya terdapat satu fasa maka V = 2 berarti untuk menyatakan suatu
sistem dengan tepat perlu ditentukan konsentrasi dari dua komponennya. Sedangkan bila dalam
sistem terdapat dua fasa dalam kesetimbangan, V = 1; berarti hanya satu komponen yang harus
ditentukan konsentrasinya dan konsentrasi komponen yang lain sudah tertentu berdasarkan
diagram fasa untuk diagram fasa untuk sistem tersebut. Oleh karena itu sistem tiga komponen
pada suhu dan tekanan tetap punya derajat kebebasan maksimum = 2 (jumlah fasa minimum =
1), maka diagram fasa sistem ini dapat digambarkan dalam satu bidang datar berupa suatu
segitiga tersebut menggambarkan suatu komponen murni.
Cara terbaik untuk menggambarkan sistem tiga komponen adalah dengan mendapatkan
suatu kertas grafik segitiga. Konsentrasi dapat dinyatakan dengan istilah persen berat atau fraksi
mol. Fraksi mol tiga komponen dari sistem terner (C = 3) sesuai dengan: XA + XB + XC = 1.
Diagram fasa yang digambarkan segitiga sama sisi, menjamin dipenuhinya sifat ini secara
otomatis, sebab jumlah jarak ke sebuah titik di dalam segitiga sama sisi yang diukur sejajar
denga sisi-sisinya sama dengan panjang sisi segitiga itu, yang dapat diambil sebagai satuan
panjang. Puncak puncak dihubungi ke titik tengah dari sisi yang berlawanan yaitu : Aa, Bb, Cc.
Titik nol mulai dari titik a,b,c dan A,B,C menyatakan komposisi adalah 100% atau 1, jadi garis
Aa, Bb, Cc merupakan konsentrasi A,B,C merupakan konsentrasi A,B,C.
Jumlah fasa dalam sistem zat cair tiga komponen bergantung pada daya saing larut antara
zat cair tersebut dan suhu percobaan. Apabila pada suhu dan tekanan yang tetap digunakan kurva
bimodal untuk menentukan kelarutan C dalam berbagai komposisi A dan B. Pada daerah di
dalam kurva merupakan daerah dua fasa, sedangkan yang di luarnya adalah daerah satu fasa.
Untuk menentukan kurva bimodal yaitu dengan menambahkan zat B ke dalam campuran A dan
C.
Kelarutan suatu zat adalah suatu konsentrasi maksimum yang dicapai suatu zatdalam
suatu larutan. Partikel-partikel zat terlarut baik berupa molekul maupun berupaion selalu berada
dalam keadaan terhidrasi (terikat oleh molekul-molekul pelarut air).Makin banyak partikel zat terlarut
makin banyak pula molekul air yang diperlukanuntuk menghindari partikel zat terlarut itu. Setiap

pelarut memiliki batas maksimumdalam melarutkan zat. Untuk larutan yang terdiri dari dua jenis
larutan elektrolit makadapat membentuk endapan (dalam keadaan jenuh). Pemisahan suatu
larutan dalamcampuran dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya dengan
ekstraksi.Ektraksi merupakan suatu metoda yang didasarkan pada perbedaan kelarutankomponen
campuran pada pelarut tertentu dimana kedua pelarut tidak salingmelarutkan.
Bila suatu campuran cair,misalnya komponen A&B dicampurkan tidak salingmelarutkan
sehingga membentuk dua fasa. Maka untuk memisahkannya digunakan pelarutyang kelarutannya
sama dengan salah satu komponen dalam campuran tersebut. Sehinggaketiganya membentuk
satu fasa.Sistem tiga komponen aturan fase menghasilkan F= 5 P. Bila terdapat satu fase,maka
F = 4, oleh karenanya penggambaran secara geometrik yang lengkap memerlukan
ruang berdimensi empat. Bila tekanan tetap, ruang tiga dimensi dapat digunakan.
Bila suhu maupuntekanan tetap, maka F = 3 P dan sistem dapat digambarkan dalam
ruang dua dimensi: P = 1,F = 2. Bivarian, P = 2, F = 1. Unvarian; P = 3, F = 0, invarian.Suatu
sistem tiga komponen mempunyai dua pengubah komposisi yang bebas, sebutsaja X2 dan X3.
Jadi komposisi suatu sistem tiga komponen dapat dialurkan dalam koordinatcartes dengan X2
pada salah satu sumbunya, dan X3 pada sumbu yang lain yang dibatasi olehgaris X2+X3=1.
karena X itu tidak simetris terhadap ketiga komponen, biasanya, komposisidialurkan pada suatu
segitiga sama sisi dengan tiap-tiap sudutnya menggambarkan suatukomponen murni, bagi suatu
segitiga sama sisi, jumlah jarak dari seberang titik didalamsegitiga ketiga sisinya sama dengan
tinggi segitiga tersebut. Jarak antara setiap sudut ketengah-tengah sisi yang berhadapan dibagi
100 bagian sesuai dengan komposisi dalam persen.Untuk memperoleh suatu titik tertentu dengan
mengukur jarak terdekat ketiga sisi segitiga.
Jika kedalam sejumlah air kita tambahkan terus menerus zat terlarut lama
kelamaantercapai suatu keadaan dimana semua molekul air akan terpakai untuk menghidrasi
partikelyang dilarutkan sehingga larutan itu tidak mampu lagi menerima zat yang akan
dtambahkan.Kita katakan larutan itu mencapai keadaan jenuh.Zat cair yang hanya sebagian larut
dalam cairan lainya, dapat dinaikan kelarutannyadengan menambahkan suatu zat cair yang
berlainan dengan kedua zat cair yang lebih dahuludicairkan. Bila zat cair yang ketiga ini hanya
larut dalam suatu zat cair yang terdahulu, maka biasanya kelarutan dari kedua zat cair yang
terdahulu itu akan menjadi lebih kecil. Tetapi bilazat cair yang ketiga itu larut dalam kedua zat
cair yang terdahulu, maka kelarutan dari keduazat cair yang terdahulu akan menjadi besar.

Gejala ini dapat terlihat pada sistem kloroform-asam asetat- air.Bila asam asetat
ditambahkan kedalam suatu campuran heterogen kloroform dan air pada suhu tertentu, kelarutan
kloroform dalam air akan bertambah, sehingga pada suatu ketikaakan menjadi homogen. Jumlah
asam asetat yang harus ditambahkan untuk mencapai titik homogen (pada suhu tertentu tadi),
tergantung dari komposisi campuran kloroform dalam air.
Kesetimbangan Fasa Sistem Terner Air Kloroform Asam Asetat
Kloroform yang kelarutannya dalam air sangat kecil, apabila ditambahkan asam asetat
kelarutannya bertambah besar. Hal ini disebabkan karena asam asetat mudah larut dalam air,
begitu pula asam asetat dapat larut dalam kloroform dalam berbagai perbandingan.
Bentuk diagram hasil kelarutan tersebut dilukiskan dalam segitiga sama sisi yang
terjadi pada suhu dan tekanan yang tetap. Aturan Gibbs yang digunakan untuk menentuka
kedudukan sistem adalah sebagai berikut, persamaan V = C P, dengan V adalah derajat
kebebasan, C adalah jumlah komponen, dan P adalah jumlah fasa dalam sistem.
Untuk sistem terner, C bernilai tiga, sehingga persamaan Gibbs menjadi persamaan
V = 3 P. Dengan menggunakan persamaan tersebut, derajat kebebasan yang diperlukan untuk
menentukan kedudukan sistem dalam daerah satu fasa adalah sebanyak dua.

Gambar 1. penentuan komposisi sistem


Kedudukan sistem ditentukan sebagai berikut:
A adalah tempat kedudukan sistem 100% A; 0% B; 0% C.
B adalah tempat kedudukan sistem 100% B; 0% A; 0% C.

C adalah tempat kedudukan sistem 100% C; 0% A; 0% B.


Garis miring AC yang sejajar denganya, secara berturut-turut dari kiri ke kanan,
merupakan tempat kedudukan sistem 0% B, 10% B, 20% B dan seterusnya sampai 100% pada
titik B.
Garis miring BC dan yang sejajar dengannya, secara berturut-turut dari kanan ke kiri,
merupakan tempat kedudukan 0% A, 10% A, 20% A, dan seterusnya sapai 100% A pada titik A.
Sementara itu, garis mendatar AB dan yang sejajar dengannya, secara berturut-turut dari bawah
ke atas, merupakan temat kedudukan sistem 0% C, 10% C, 20% C, dan seterusnya sampai 100%
C pada titik C. Titik D adalah kedudukan sistem dengan komposisi 20% B, 30% C, dan 50% A.
(Tim Kimia Fisika I UPI, 2014 : 1,2)
Komposisi salah satu komponen sudah tertentu jika dua komponen lainnya
diketahui. (Mulyani, 2001 : 404)
Bentuk diagram kloroform air asam asetat pada suhu dan tekanan tertentu
seperti terlihat pada gambar 2.

Gambar 2. diagram fasa kloroform air asam asetat


Kurva yang terdapat dalam segitiga merupakan kelarutan antara ketiga zat. Di dalam
kurva terdiri atas campuran sistem yang memiliki dua fasa cair-cair, yaitu: asam asetat dengan
kloroform yang larut dalam air dan asam asetat dengan air yang larut dalam kloroform. Garis PQ
merupakan garis penentu komposisi sistem, yang letaknya tidak sejajar dengan garis , dan
disebut garis dasi (tie line).