Anda di halaman 1dari 8

Supremasi hukum dari segi istilah mempunyai arti bahwa suatu negara yakni negara hukum

yang di dalamnya hukum diperlakukan sebagai penguasa atau panglima. Penempatan hukum
dalam posisi supremasi, mengandung pengertian bahwa hubungan antara penguasa dan warga
negara serta hak, kewajiban dan tanggungjawab masing-masing haruslah dilaksanakan dengan
penuh tanggungjawab sebagaimana yang telah dituangkan di dalam aturan hukum, baik di dalam
aturan hukum tertulis berupa peraturan perundangan maupun hukum yang tidak tertulis.
Menurut Lawrence M. Friedman ada hambatan dalam mewujudkan supremasi hukum yaitu dari
sistem hukum, menururnya bahwa sistem hukum dalam arti luas terdiri dari tiga komponen yaitu
komponen substansi hukum (legal substance), komponen struktur hukum (legal structure), dan
komponen budaya hukum (legal culture). Substansi hukum (legal substance) adalah aturanaturan dan norma-norma aktual yang dipergunakan oleh lembaga-lembaga, kenyataan, bentuk
perilaku dari para pelaku yang diamati di dalam sistem. Struktur hukum (legal structure)
merupakan batang tubuh, kerangka, bentuk abadi dari suatu sistem dengan wujud utamanya
adalah lembaga-lembaga pembentuk dan penegak hukum berikut sumber daya manusianya.
Budaya hukum (legal culture) merupaan gagasan-gagasan, sikap-sikap, keyakinan-keyakinan,
harapan-harapan dan pendapat tentang hukum[5]. Dalam perkembangannya Friedman
menambahkan pula komponen yang keempat, yang disebutnya komponen dampak hukum (legal
impact) yaitu dampak dari suatu keputusan hakim. Komponen dampak ini terutama berkaitan
dengan kondisi-kondisi yang ingin diwujudkan atau dicapai melalui pembentukan dan
pemberlakuan suatu produk hukum, terkait dengan fungsionalisasi hukum sebagai sarana
rekayasa sosial sebagaimana yang dikemukakan oleh Rescue Pound[6].
Dengan beberapa pengertian diharapakan bagi para mahasiswa sebagai kalangan intelektual
untuk mampu mewujudkan keinginan untuk menegakan supremasi hokum dengan
mempetimbangkan hambatan-hambatan yang akan terjadi selama perwujudan supremasi hukum
ini.

C. Tanggungjawab Mahasiswa Dalam Upaya Penegakan Supremasi Hukum di Indonesia


Mahasiswa merupakan kalangan akademisi yang memberikan harapan kepada masyarakat agar
dapat membawa pemerintah dengan baik. Karena dimata masyarakat keadaan pemerintahan
sekarang dinggap carut marut seperti penyelesain kasus yang berbelit-belit tanpa ada penyelesain
yang jelas.
Dalam kondisi pelaksanaan hukum di Indonesia yang carut marut seperti sekarang, peran
dan tanggungjawab sebagai upaya perwujudan tegaknya supremasi, dapat dilakukan
dengan :
1. Secara santun tanpa mengurangi esensi dan agenda yang diperjuangkan.
2. Semangat mengawal dan mengawasi jalannya reformasi, harus tetap tertanam dalam jiwa
setiap mahasiswa.
Sikap kritis harus tetap ada dalam diri mahasiswa, sebagai agen pengendali untuk mencegah
berbagai penyelewengan yang terjadi terhadap perubahan yang telah mereka perjuangkan.
Dengan jiwa semangat dan idealismenya diharapkan mahasiswa mampu melaksanakan apa yang
ingin diwujudkan masyarakat secara menyeluruh yaitu dengan cara melakukan perubahanperubahan atas keadaan yang dianggap tidak adil.
Karena sesungguhnya mahasiswa merupakan kalangan akademisi yang harus
mengimplementasikan perbutannya demi kemajuan bangsa serta mewakili aspirasi masyarakat.
Terkait dengan berbagai permasalahan mengenai semakin melemahnya supremasi hukum
yang terjadi di negara Indonesia, peran serta mahasiswa dalam upayanya untuk kembali
menciptakan kembali supremasi hukum di Indonesia sangatlah berperan penting. Apalagi
bila hal ini dikaitkan dengan keberadaan dari berbagai pihak untuk terus memperlemah
sistem hukum di Indonesia sudah mencakarkan kukunya dengan kuat di segala lapisan
kehidupan. Selain itu upaya lain yang harus dilakukan oleh mahasiswa sebagai wujud
tanggungjawab dalam menegakkan supremasi hukum di Indonesia, dapat dilakukan dengan terus
memberikan sorotan maupun kritikan-kritikan tajam terkait dengan upaya pemerintah dalam
menerapkan sistem hukum di Indonesia.

Upaya lain yang harus dilakukan adalah terus menyebarkan asas responsif kepada pemerintah
agar senantiasa tanggap terhadap persoalan-persoalan masyarakat secara umum. Pemerintah
harus memenuhi kebutuhan masyarakatnya, bukan menunggu masyarakat menyampaikan
aspirasinya, tetapi pemerintah harus proaktif dalam mempelajari dan mengalisa kebutuhankebutuhan masyarakat. Jadi setiap unsur pemerintah harus memiliki dua etika yaitu etika
individual yang menuntut pemerintah agar memiliki kriteria kapabilitas dan loyalitas profesional.
Dan etika sosial yang menuntut pemerintah memiliki sensitifitas terhadap berbagai kebutuhan
public
Menegakkan Supremasi Hukum di Indonesia
Bukan menjadi rahasia lagi jika dalam beberapa minggu terakhir ini di Indonesia terjadi hiruk
pikuk perdebatan atas kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Presiden terpilih Joko
Widodo yang baru seumur jagung, perjalanan di awal masa kepemimpinannya banyak diterpa
masalah yang menjadi pergunjingan publik. Dari berbagai macam kebijakan yang dikeluarkan
oleh pemerintah adalah dalam dialektika antara hukum dan konfigurasi politik. Seolah sudah
menjadi hukum alam bahwa hukum dan politik sangat sulit dipisahkan. Dalam artian bahwa
keduanya saling berkaitan meskipun dalam bidang yang berbeda. Akan menjadi permasalahan
jika salah satu diantara keduanya terlalu mendominasi, bahkan hingga menghegemoni bidang
lainnya.
Sebagaimana dalam disertasi Mahfud MD bahwa sistem politik yang otoriter akan melahirkan
hukum yang represif, sedangkan sistem politik yang demokratis akan melahirkan hukum yang
responsif. Namun, kondisi saat ini tidak dapat digolongkan dalam kedua pilihan tersebut karena
saat ini dapat dikatakan bahwa sebuah demokrasi yang kebablasan yang mengambil penafsiran
semua memiliki kebebasan tanpa menyadari dibalik kebebasan terdapat pula tanggungjawab atas
kebebasan tersebut. Begitu pula dengan kondisi konfigurasi politik saat ini yang kesemuanya
mengatasnamakan kehendak rakyat yang secara realitanya ditentang oleh rakyat. Kepentingan
politik yang terlalu dominan seolah akan menjadikan hukum sebagai alat legitimasi untuk
membenarkan kepentingan politik tersebut. Bahkan, karena terlalu memaksakan kepentingan
politik mencari alasan-alasan yang tidak bisa diterima dengan akal sehat. Hukum yang
terkontaminasi oleh kepentingan politik seolah lemah tak berdaya dan tidak bisa berdiri tegak

untuk memberikan keadilan dan menjaga kepentingan rakyat yang menjadi pemegang kedaulatan
tertinggi.
Sebelum suksesi kepemimpinan negara beralih ke Presiden Jokowi, kekisruhan politik mulai
terjadi ditandai dengan aturan dalam UU Pilkada, yaitu proses pemilihan Kepala Daerah yang
sebelumnya dipilih secara langsung menjadi dipilih melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Jika kita membaca peta politik hal ini tidak bisa dilepaskan dengan perseteruan antara Koalisi
Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat dalam parlemen. Tidak hanya itu, dalam parlemen
sendiri juga mengalami kekacauan yang terjadi karena kepentingan kedua koalisi tersebut.
Motivasi untuk merebut kekuasaan sangat kental antar kedua koalisi dalam parlemen untuk
memperebutkan ketua-ketua komisi atau alat kelengkapan DPR sebagaimana diatur dalam UU
MPR,DPR,DPD,DPRD (MD3). Sehingga UU yang sudah ditetapkan sebagai hukum kemudian
direvisi dengan kesepakatan politik kedua koalisi tersebut. Padahal pembuatannya sebelum UU
tersebut disahkan sudah menghabiskan biaya yang besar, terlebih seolah para wakil rakyat hanya
melihat persoalan yang menjadi prioritas negara ini hanya berkaitan dengan kekuasaan.
Beberapa kebijakan yang dikeluarkan oleh Presiden Jokowi yang berkaitan langsung antara
hukum dan politik dimulai dari pengangkatan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia yaitu
Yasonna Hamonangan Laoly yang memiliki latar belakang partai politik. Kemudian,
pengangkatan Jaksa Agung yaitu Muhammad Prasetyo yang juga memiliki latar belakang partai
politik. Posisi penting dalam penegakan hukum yang diambil dari orang-orang dengan latar
belakang partai politik ini menimbulkan keresahan dikalangan masyarakat yang khawatir akan
sulit melakukan penegakan hukum jika keterkaitan dengan partai politik yang syarat akan
kepentingan tersebut tidak diputus. Memang pemilihan keduanya menjadi hak prerogatif
Presiden Jokowi, namun pertimbangan yang kemudian muncul dikalangan masyarakat adalah
menghindari akan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dan dikhawatirkan rakyat dikemudian
hari, dimana kepentingan politik akan mengintervensi penegakan hukum.
Terakhir adalah soal pengangkatan Kapolri yang masih sangat hangat diperbincangakan hingga
saat ini. Presiden Jokowi yang mengajukan satu nama calon untuk disetujui oleh DPR yaitu
Komjen.Pol. Budi Gunawan menjadi polemik dikalangan masyarakat. DPR yang telah
memberikan lampu hijau persetujuan kepada calon Kapolri untuk dilantik oleh Presiden

terhambat karena penetapan Komjen.Pol. Budi Gunawan sebagai tersangka atas dugaan kasus
rekening gendut oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Hal ini yang memunculkan desakan keras
kepada Presiden untuk membatalkan pelantikan Komjen.Pol. Budi Gunawan sebagai Kapolri dan
mengajukan calon lain untuk mengisi jabatan Kapolri. Kemudian, disusul dengan
kejadianditetapkannya Bambang Widjojanto (wakil ketua KPK) sebagai tersangka oleh Polri atas
dugaan kasus menyuruh memberikan keterangan palsu pada perkara sengketa Pilkada Kota
Waringin Barat dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi saat menjadi kuasa hukum salahsatu
pihak yang berperkara. Hal ini seolah membuka tabir lama yang kembali mencuat yaitu
perseteruan antara lembaga penegak hukum yaitu KPK dan Polri.
Asumsi yang muncul saat ini banyak diperbincangkan di kalangan masyarakat adalah adanya
kepentingan politis yang melatarbelakangi keduanya baik itu penetapan tersangka Komjen.Pol.
Budi Gunawan oleh KPK maupun penetapan Bambang Widjojanto (wakil ketua KPK) sebagai
tersangka oleh Polri. Perseteruan ini bisa dipastikan akan menghambat penegakan hukum yang
seharusnya menjadi prioritas utama dibandingkan kepentingan politik golongan tertentu ataupun
ego sektoral dari masing-masing institusi penegak hukum tersebut. Bukan hanya berdampak
pada saat ini, namun jika hal ini dibiarkan terjadi tanpa penyelesaian yang tegas oleh Presiden
maka kekhawatiran yang kemudian muncul adalah tidak berjalannya koordinasi antara KPK dan
Polri yang akan menjadi bagian dari aktor penegakan hukum.
Kejadian-kejadian yang muncul sebagaimana pemaparan diatas dapat ditarik secara sederhana
kesimpulan bahwa dominasi politik atas hukum telah terjadi. Carut marut hukum dan penegakan
hukum menjadi terbengkalai karena ketergantungannya terhadap konfigurasi yang berkembang.
Begitu pula keputusan yang diambil Presiden akan dipandang syarat akan kepentingan politik.
Dengan dasar inilah menunjukkan bahwa telah nyata terjadi supremasi politik lebih kuat
dibandingkan dengan supremasi hukum dan kedaulatan berada bukan pada rakyat tetapi oligarki
partai politik.Jika dikembalikan pada UUD NRI 1945 sebagai konstitusi negara jelas dan tegas
menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara hukum (pasal 1 ayat 3). Artinya supremasi
tertinggi adalah supremasi hukum dan kedaulatan yang berada ditangan rakyat akan
dilaksanakan sesuai dengan hukum yang berlaku. Kehendak rakyat menjadi pertimbangan utama
bagi suatu hukum bukan kepentingan politik. Begitu pula hukum sejatinya untuk meligitimasi
kehendak rakyat bukan kepentingan politik golongan tertentu.

Salah satu janji Presiden bahwa ia Patuh terhadap Konstitusi dan tunduk pada kehendak rakyat
masih diingat oleh rakyat Indonesia yang telah memilihnya sebagai pemimpin negara ini. Jika
Presiden Jokowi masih ingat dengan janjinya, maka tepatlah sekiranya kekisruhan yang terjadi
saat ini sebagai ajang pembuktian bagi Presiden Jokowi untuk membuktikan janjinya kepada
seluruh rakyat Indonesia. Sejalan dengan itu, bahwa salahsatu yang menjadi prioritas dalam
Nawa Cita adalah mewujudkan supremasi hukum dan pemberantasan korupsi yang terjadi di
Indonesia. KPK dan Polri yang menjadi elemen penting dalam hal pemberantasan korupsi harus
segara diselamatkan. Dalam rangka inilah wajib bagi Presiden Jokowi untuk menegakkan
supremasi hukum dan bertindak atas kehendak rakyat Indonesia mengambil sikap tegas untuk
menyelesaikan permasalahan ini. Presiden Jokowi harus segera membersihkan lembaga negara
khususnya penegak hukum dari kepentingan politik pragmatis golongan tertentu, dan apabila
tekanan dari kepentingan partai politik terlalu kuat untuk mengintervensi kebijakan Presiden
Jokowi, maka tak perlu ragu untuk keluar dari jeratan kepentingan partai politik tersebut dan
berada satu barisan dengan rakyat, karena ketundukan sejatinya pada kehendak rakyat bukan
pada kepentingan golongan tertentu.
Negara Indonesia akan hancur jika hukum yang menjadi bangunan bagi jalannya negara atas
kehendak rakyat tidak berdiri tegak. Begitu pula dengan pelaksanaan proses politik yang tidak
dijiwai dengan kebijaksanaan dan sikap kenegarawanan para politisi negara ini. Hukum sejatinya
akan menjadi hukum jika memberikan keadilan, bukan keadilan bagi kepentingan politik
golongan tertentu melaikan keadilan bagi rakyat. Politik sebagai sarana untuk mencapai
kekuasaan juga tidak hanya dimaknai sesederhana itu, karena kekuasaan sejatinya merupakan
sebuah amanah yang diberikan oleh rakyat untuk menyelenggarakan negara ini demi
kepentingan bersama yaitu, kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia

Das Sollen adalah segala sesuatu yang mengharuskan kita untuk berpikir dan bersikap. Contoh :
dunia norma, dunia kaidah dsb. Dapat diartikan bahwa das sollen merupakan kaidah dan norma
serta kenyataan normatif seperti apa yang seharusnya dilakukan.
Das Sein adalah segala sesuatu yang merupakan implementasi dari segala hal yang kejadiannya
diatur oleh das sollen dan mogen. Dapat dipahami bahwa das sein merupakan peristiwa konkrit
yang terjadi.
Merokok merupakan peristiwa konkrit (das sein) tetapi bila orang merokok di dekat pom bensin
dan terjadi ledakan akibat orang yang merokok tersebut, maka merokok menjadi peristiwa
hukum yang dapat menyebabkan perokok tersebut dihukum.
Peristiwa konkrit (das sein) memerlukan das sollen untuk menjadi peristiwa hukum. Begitu pula
sebaliknya, dunia norma (das sollen) juga memerlukan peristiwa konkrit (das sein) untuk
menjadi peristiwa hukum. Contoh : terdapat aturan "barangsiapa membunuh harus dihukum..",
maka bila tidak terjadi pembunuhan maka tidak berlaku pula aturan ini. Sehingga kami
mempunyai kesimpulan umum bahwa das sollen dan das sein itu saling melengkapi satu sama
lain.
Ketika penguasa terjebak hukum, kira-kira siapakah yang akan menang ? tentunya jawabannya
sudah terbesit di benak kita masing-masing karena hal ini bukanlah sekedar lulucon dongeng
semata, iya mungkin ini bisa jadi lulucon dongen apabila dipertanyakan kepada warga-warga
negara maju yang mana aspek persamaan hak dan keadilaan hukumnya lebih diutamakan.
Negara Indonesia merupakan Negara hukum sebagaimana yang telah tertuang dalam
Pasal 1 ayat (3) UUD 1945. Aristoteles merumuskan bahwa negara hukum adalah Negara yang
berdiri di atas hukum yang menjamin keadilan kepada warga negaranya, dan keadilan merupakan
syarat bagi tercapainya kebahagiaan hidup untuk warga Negara. Dalam negara hukum prinsip
dasar yang wajib dijunjung oleh setiap warga negara yaitu supremasi hukum, kesetaraan di
hadapan hukum, dan penegakan hukum dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan
hukum.
Didalam negara hukum pada hakikatnya warga masyarakat atau rakyatnya tidak lagi
diperintah oleh seorang raja atau apapun namanya, akan tetapi diperintah berdasarkan hukum

dan ide ini merupakan suatu isyarat bahwa bagi Negara hukum mutlak adanya prinsip persamaan
hak di depan hukum (equality before the law), tanpa pandang bulu bagi setiap warganya
meskipun itu si pembuat hukum itu sendiri..
supremasi hukum merupakan upaya untuk menegakkan dan menempatkan hukum itu
pada posisi tertinggi yang dapat melindungi seluruh lapisan masyarakat tanpa adanya intervensi
oleh dan dari pihak manapun termasuk oleh penyelenggara Negara itu sendiri. Menegakkan dan
menempatkan hukum pada posisi tertinggi tanpa adanya intervensi dari pihak eksternal dalam
rangka melindungi seluruh lapisan masyarakat, dan hukum itu harus berfungsi layaknya seorang
komando yang dapat disegani dan dihormati oleh siapapun.
Namun apa hendak dikata hal itu jauh berbeda dengan realita, ketika para elit negara kita
menatapnya dengan sebelah mata, yang hanya mengandalkan uang semata, bahkan UUD 1945
yang merupakan sebagai landasan ideologi suci bangsa dapat diperjual belikan olehnya dan
prinsip persamaan hukum semakin berbeda. banyak para elit yang tersandung hukum tapi bisa
terlepas dan terlupakan begitu saja tanpa adanya alasan yang jelas.
Banyak kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara tapi hukumannya jauh
berbeda dengan sang anak yang hanya mencuri sepasang sandal. Bila kita kaji, jauh lebih parah
danpak dari korupsi itu sendiri yang dapat menelantarkan ribuan bahkan jutaan jiwa dari pada
sang maling sandal yang hanya berdampak kepada pemilik sandal saja, dalam hal ini bukan
berarti maling itu baik, hanya saja asas persamaan hak terabaikan. Belum lagi kita menyinggung
mengenai penjara para koruptor yang begitu mewah yang dipenuhi dengan berbagai fasilitas
ditambah dengan tidak adanya penjagaan yang ketat, tapi apa yang dirasakan oleh si anak maling
sandal ini ??? Wallahualam
Ketika supremasi hukum dipatahkan maka keadilanpun melayang, hukum itu terkesan khusus
bagi setiap mereka yang tak bedaya, yang seharusnya mereka adalah menjadi pelindung bagi
warganya yang lemah tapi kenyataannya, warga yang lemah tetap berada diantara yang lemah,
dan mereka yang kuat tetap berada diantara sesama kuat bahkan hukum sekalipun dapat
diperlemahkannya.