Anda di halaman 1dari 35

BAB XI

BENCH BLASTING

11.1

Latar Belakang
Peledakan jenjang (bench blasting)adalah peledakan dengan menggunakan

lubang bor vertikal atau hampir vertikal. Lubang bor diatur dalam satu deretan
atau bisa juga beberapa deretan yang posisinya sejajar atau kearah bidang bebas
(free face).
Kondisi batuan dari suatu tempat ketempat yang lain akan berbeda
walaupun mungkin jenisnya sama. Hal ini disebabkan oleh proses genesa batuan
yang akan mempengaruhi karakteristik massa batuan secara fisik maupun
mekanik. Perlu diamati pula kenampakan struktur geologi, misalnya retakan atau
rekahan, sisipan (fissure) dari lempung, bidang diskontinuitas dan sebagainya.
Kondisi

geologi

semacam

itu

akan

mempengaruhi

kemampu-ledakan

(blastability). Tentunya pada batuan yang relatif kompak dan tanpa didominasi
struktur geologi seperti tersebut di atas, jumlah bahan peledak yang diperlukan
akan lebih banyak untuk jumlah produksi tertentu dibanding batuan yang sudah
ada rekahannya. Jumlah bahan peledak tersebut dinamakan specific charge atau
sering disebut sebagaiPowder Faktor(PF) yaitu jumlah bahan peledak yang
dipakai per m atau ton produksi batuan (kg/m atau kg/ton). Dengan demikian
makin keras suatu batuan pada daerah tertentu memerlukan PF yang tinggi agar
tegangan batuan terlampaui oleh kekuatan (strength) bahan peledak sehingga
batuan dapat terbongkar.
11.2

Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum bab XI (bench blasting)atau peledakan jenjang ini

adalah :
1. Memahami prinsip peledakan jenjang
2. Memahami macam pola pengeboran dan pola peledakan
3. Memahami rangkaian peledakan jenjang

Bakhrul Ulum /112140050

Bakhrul Ulum /112140050

4.

11.3

A.
5.

Dasar Teori

Geometri Peledakan
Geometri peledakan yang ditentukan terlebih dahulu adalah

burden(B), jika Bsudah ditentukan maka besaran yang lain seperti spacing,
stimming, subdrilling, dsb. dapat ditentukan.
B.
Geometri Peledakan menurut C.J. KONYA
6.

Untuk memperoleh hasil pembongkaran batuan sesuai dengan yang

dinginkan, maka perlu suatu perencanaan ledakan dengan memperhatikan


besaran-besaran geometri peledakan. Berikut akan dijelaskan perhitungan
geometri peledakan menurut C.J. Konya(1990) (lihat gambar 11.1).
7. Gambar 11.1.
8. Geometri Peledakan menurut

Konya(1990)
9.
10.

Geometri

Peledakan

menurut
Konya(1990) adalah

sbb:
1) Burden(B)
11.

Burden yaitu jarak tegak lurus terpendek antara muatan bahan

peledak dengan bidang bebas yang terdekat atau kearah dimana batuan akan
terlempar.Jarak burden yang terlalu kecil akan menghasilkan bongkaran yang
terlalu hancur dan tergeser jauh dari dinding jenjang dan kemungkinan terjadinya
batu terbang yang sangat besar. Sedangkan bila jarak burden telalu besar akan
menghasilkan fragment produk yang kurang baik, karena gelombang tekan yang
mencapai bidang bebas menghasilkan gelombang tarik yang sangat lemah di
bawah kuat tarik batuan, sehingga batuan dalam area burden tidak hancur.
Besarnya burden tergantung pada karakteristik batuan, karakteristik bahan
peledak dan diameter lubang ledak.

Bakhrul Ulum /112140050

12.

Secara sistematis besarnya burden dan hubunganya dengan

faktor-faktor tersebut dinyatakan sebagai berikut :


SGe 0,33
13.
B
= 3,15 De (
)
SGr
SGe
+ 1,5 )] De
14.
B
= [(2
SGr
Stv
15.
B
= 0,67 De (
) 0,33
SGr
16. Dimana :
17. B

= Burden(ft)

18. De

= Diameter bahan peledak(inchi)

19. SGe

= SG bahan peledak

20. Stv

= Relative bulk strength(ANFO = 100)


21.

Setelah diketahui nilai burden dasarnya, maka

menurut Konya harus dikoreksi terhadap beberapa faktor penentu, yaitu


faktor jumlah garis lubang ledak(Kr), Faktor bentuk lapisan batuan(Kd),
dan faktor kondisi dari struktur geologinya(Ks). Dengan adanya faktor
koreksi tersebut maka hasil nilai burden dapat dikoreksi dengan
banyaknya baris yang akan diledakan serta kondisi geologi setempat
dalam pelaksanaan peledakan. Adapun besarnya faktor-faktor tersebut
dapat dilihat pada tabel 11.1,11.2, dan 11.3.
22. Tabel 11.1.
23. Faktor Koreksi Terhadap Jumlah Baris Pada Satu Lubang Ledak
1. CORRECTION FOR NUMBER OF ROW
3. One or two rows of holes
4. Third and subsequent rows or buffer blast
24. Tabel 11.2.
26.
27.

25. Posisi Lapisan Batuan


7. CORRECTION FOR ROCK DEPOSITION
9. Bedding steeply dipping into cut
10. Bedding steeply dipping into face
11. Other cases of deposition

2. Kr
5. 1,00
6. 0,9

8. Kd
12. 1,18
13. 0,95
14. 1,00

Tabel 11.3.
28.

Faktor Koreksi Terhadap Struktur Geologi

Bakhrul Ulum /112140050

15. CORRECTION FOR GEOLOGY STRUCTURE


17. Heavy cracked, frequent with joint, weakly
cemented layers
18. Thin well cemented layers with tight joint
19. Massive intact rock

16. Ks
20. 1,30
21. 1,10
22. 0,95

29.
30. Secara matematis persamaan burden terkoreksi dapat ditulis :
31. Bc = Kr x Kd x Ks B
32. Dimana :
33. B = Burden hasil perhitungan dengan rumus dasar(inch)
34. Bc = Burden terkoreksi(inch)
35. Kd = Faktor terhadap posisi lapisan batuan (Tabel 11.1)
36. Kr = Faktor terhadap baris lubang ledak (Tabel 11.2)
37. Ks = Faktor terhadap struktur geologi (Tabel 11.3)
2) Spacing (S)

38.

Spacing adalah jarak diantara lubang ledak dalam

satu garis yang sejajar dengan bidang bebas (Free face).Jika spacing
terlalu besar akan menghasilkan fragmentasi yang tidak baik dan dinding
akhir yang ditinggalkan relatif tidak rata, sebaliknya bila spacing terlalu
kecil dari jarak burden maka akan mengakibatkan tekanan sekitar
stemming yang lebih dan mengakibatkan gas hasil ledakan dihamburkan
ke atmosfir diikuti dengan suara bising (noise).Menentukan jarak spacing
menurut Konya, didasarkan pada jenis detonator listrik yang digunakan
dan berapa besar nilai perbandingan antara tinggi jenjang dan jarak
burden. Bila perbandingan antara L/B lebih kecil dari 4 maka digolongkan
jenjang rendah dan bila lebih besar dari 4 digolongkan jenjang
tinggi.Misalkan tinggi jenjang 6 meter dan burden menurut perhitungan
pernilai antara 2,3-2,7 meter, maka perbandingan L/B masih dibawah 4.
S= Jenis detonator yang digunakan adalah Delay detonator maka persamaan
( L+7
B)digunakan adalah :
yang
8
39.
40. Keterangan:
41. S =Spacing (m)
42. L = Tinggi jenjang (m)

Bakhrul Ulum /112140050

43. B = Burden (m)


44. Tabel 11.4.
45. Persamaan untuk menentukan Jarak Spacing
46. Tipe Detonator

47. L/B < 4

48. L/B > 4

49. Instantaneous

50. S =

(L+2 B)
3

51. S = 2.B

52. Delay

53. S =

(L+2 B)
8

54. S = 1,4.B

55.
3) Stemming
56.

Stemming adalah kolom material penutup lubang

ledak diatas kolom isian bahan peledak.Stemming yang terlalu pendek


dapat mengakibatkan batu terbang (fly rock) dan suara ledakan yang keras
sedangkan stemming yang terlalu panjang akan mengakibatkan retakan ke
belakang jenjang dan bongkah di sekitar dinding jenjang. Sedangkan
teoritik panjang stemmingsama dengan panjang burden, agar tekanan ke
arah bidang bebas atas dan samping seimbang. Persamaan yang digunakan
untuk menghitung jarak stemmingadalah :
57.
Stv 0,33
58.
T
= 0,45 x De x [
]
SGr
59.
60.
61. Keterangan:
62. De = Diameter Lubang Ledak (inchi)
Stv = Relative Bulk Strength (ANFO = 100)
63. SGr = Berat Jenis Batuan
4) Subdrilling
64.

Subdrillingadalah panjang lubang ledak yang berada

dibawah garis lantai jenjang, yang berfungsi untuk membuat lantai jenjang
relatif rata setelah peledakan.Persamaan untuk mencari jarak subdrilling
menurut Konya adalah:
J65.
= 0,3.B
66.
67. Keterangan:

Bakhrul Ulum /112140050

68. J = Subdrilling (m)


69. B = Burden (m)
5) Waktu Tunda
70.

Pemakaian detonator tunda dimaksudkan untuk

mendapatkan perbedaan waktu peledakan antara dua lubang ledak


sehingga diperoleh peledakan secara beruntun. Pengaturan waktu ini dapat
diterapkan pada peledakan beruntun dalam tiap-tiap baris. Detonator tunda
digunakan untuk peledakan beruntun antar baris lubang ledak, maka
persamaan yang digunakan untuk menentukan waktu tundanya adalah
sebagai berikut:
Tr71.
= Tr x B
72.
73. Keterangan:
74. tr = waktu tunda antara baris lubang ledak (ms)
75. Tr = Konstanta waktu tunda
76. B = Burden (ft)
77. Tabel 11.5.
78. Konstanta waktu tunda antar baris
79. Akibat yang dihasilkan

80. Konsta
nta Tr

81. Keras, Airblast berlebihan, back break, dll

82. 2

83. Runtuhan tinggi dekat jenjang, airblast moderat

84. 2-3

85. Tinggi runtuhan cukup, airblast dan back break


cukup

86. 3-4

87. Runtuhan berpencar dengan backbreak minimum

88. 4-6

89. Casting peledakan

90. 7-14

6) Pemakaian bahan peledak


91.

Untuk menentukan jumlah bahan peledak yang

digunakan dalam setiap lubang ledak maka terlebih dahulu ditentukan


loading density. Untuk menentukan loading density digunakan rumus:
de92.
= 0,34 x SGe x De2
93.

Bakhrul Ulum /112140050

94. Keterangan:
95. de= loading density, lb handak/ft kolom isian
96. SGe = berat jenis bahan peledak
97. De = diameter bahan peledak, (inchi)
98. Untuk menentukan banyaknya bahan peledak pada setiap lubang
digunakan rumus:

E =99.
Pc x de x N
100.

C.

Keterangan:

101.

E = jumlah bahan peledak

102.

Pc = tinggi kolom isian

103.

de = loading density (kg/m)

104.

N = jumlah lubang ledak

Pedoman Perhitungan Geometri Peledakan menurut RL .Ash


105.
RL Ash(1967) membuat suatu pedoman perhitungan

geometri peledakan jenjang berdasarkan pengalaman empiris yang diperoleh di


berbagai tempat dengan jenis pekerjaan dan batuan yang berbeda-beda. Sehingga
R.L Ash berhasil mengajukan rumusan-rumusan empirik yang dapat digunakan
sebagai pedoman dalam rancangan awal suatu peledakan batuan.
106.

Dalam pelaksanaannya nanti hasil perhitungan

dengan cara RL. Ash harus dicoba di lapangan untuk memperoleh


gambaran dan perubahan kearah geometri yang lebih mendekati kondisi
sesungguhnya. Percobaan di lapangandilakukan dengan caratrial dan error
sampai diperoleh geometri peledakan optimal.

Bakhrul Ulum /112140050

107.

Nomenklatur Geometri Peledakan Jenjang RL. Ash


108.

110.
111.

Gambar 11.2.

109.
Geometri Peledakan menurut teori R.L. Ash(1967)
Notasi:
B = Burden

S = Spacing

H = Kedalaman

T = Stemming

PC= Panjang Isian

lubang ledak
112.

L = Tinggi Jenjang

Handak
113.
1.

J = Subdrilling

Penentuan Burden (B)


114.

Dimensi yang pertama kali ditentukan ialah

burden(B), yang diturunkan bedasarkan diameter lubang tembak atau


diameter mata bora tau diameter dodol bahan peledak (handak).
115.
Untuk
menentukan
burden,
R.L

Ash

(1967)mendasarkan pada acuan yang dibuat secara empirik, yaitu adanya


batuan standar dan bahan peledak standart.Batuan standart memiliki bobot
isi 160 lb/cuft, dan bahan peledak standart memiliki berat jenis 1,2 dan
kecepatan detonasi 12000 fps.
116.
Apabila batuan yang akan diletakkan sama dengan
batuan standart dan bahan peledak yang dipakai ialah bahan peledak
standart, maka digunakan burden ratio(Kb) standart yaitu 30.
117.
Tetapi apabila batuan yang akan diledakkan tidak
sama dengan batuan standart dan bahan peledak yang dipakai bukan pula
bahan peledak standart maka harga Kb-standart itu harus dikoreksi
menggunakan faktor penyesuaian (adjustment faktor).
118.

Jika:

119.
120.
121.

De = Diameter lubang ledak = Diameter dodol handak


B = Burden
Kb= Burden ratio

Bakhrul Ulum /112140050

122.
Kbx De
ft
B=
12123.
124.
125.
126.
127.
1.

atau B=

Bobot isi batuan standart =160 lb/cuft


Bahan peledak : SGstd=1,20; Vestd=VOD std=12000fps
Kbstandart = 30
Faktor penyesuai (adjustment faktor):

Batuan yang akan diledakkan (Af1)


2. Bahan peledak yang dipakai (Af2)
128.

Maka:

129.

Kb terkoreksi= 30 x Af1 x Af 2

130.

Af1

= Adjustment faktor untuk batuan yang diledakkan

131.

Af2

= Adjustment faktor untuk handak yang dipakai

132.

Dengan:

Af1=

133.1/ 3
Dstd
D134.

135.

D= Bobot isi batuan yangdiledakkan

Af2=

136. 2
SGVe
SGstdx Vestd2

1 /3

137.
138.

139.

SG = BJ handak yang

dipakai

2.

140.

Ve =VOD handak yang dipakai

141.

Jadi: B =

Spacing (S)
142.
143.
144.

1.

KbTerkoreksi x De
meter
39,3

Ks = S/B
Ks = Spacing Ratio (1,00-2,00)
S = Ks. B (meter)
145. Ukuran spacing dipengaruhi oleh :

Cara peledakan yang digunakan : serentak atau beruntun


2. Fragmentasi yang diinginkan
3. Delay interval

Bakhrul Ulum /112140050

10

146.

Spacing yang lebih kecil dari ketentuan akan

menyebabkanukuran batuan hasil peledakan terlalu hancur. Tetapi jika


spacing lebih besar dari ketentuan, akan menyebabkan banyak terjadi
bongkah (boulder) dan tonjolan (stump) di antara dua lubang ledak setelah
peledakan.
147.

Berdasarkan cara urutan peledakannya, pedoman

penentuan spacingadalah sebagai berikut :


1. Peledakan serentak S= 2B
2. Peledakan dengan delay interval lama (second delay) S=B
3. Peledakan dengan milisecond delay S antara 1B hingga 2B
4. Jika terdapat kekar yang tidak saling tegak lurus. Santara 1,2B hingga 1,8B
5. Peledakan dengan pola equilateral dan beruntun tiap lubang ledak dalam
baris yang sama S= 1,15 B
148.

150.
3.

149.
Gambar 11.3.
Pengaruh Spacing pada Penyebaran Energi Ledakan
151.

Stemming (T)
152.

Kt = T/B

153.

Kt = Stemming Ratio (0,75-1,00)

154.

T = Kt.B

Bakhrul Ulum /112140050

11

155.

Fungsi stemming:

1. Meningkatkan Confining Pressure dari akumulasi gas hasil ledakan


2. Menyeimbangakan tekanan di daerah stemming
4.

Kedalaman Lubang Ledak (H)


156.
157.
158.

Kh = H/B
Kh = Hole dept ratio (1,5-4,0)
H = Kh.B (meter)
159.
Kedalaman lubang ledak biasanya disesuaikan

dengan tingkat produksi (kapasitas alat muat) dan pertimbangan


Geoteknik.
5. Subdrilling (J)
160.
161.
162.

Kj = J/B
Kj = Subdrilling Ratio (0,2-0,3)
J =Kj.b (meter))
163.
Panjang subdrilling dipengaruhi oleh struktur

geologi, tinggi jenjang dan kemiringan lubang ledak.


6.

Charge Lenght (PC)


164.
165.
166.
167.

7.

PC = H-T
PC = Panjang kolom isian (meter)
H = Kedalaman lubang tembak (meter)
T = Stemming(meter)

Stick Count (SC)


168.

Jumlah dodol ukuran standar 3,175 cm x20,32 cm

yang terdapat dalam satu dos seberat 22,68 kg.


8.

Loading Density (de)


169.

Loading density ialah jumlah isian handak per meter

panjang kolom isian


170.
171.
172.
173.
174.
175.

de = 71,63 De2/SC
de = 0,508 De2(SG)
de =Loading density (kg/m)
De = Diameter lubang ledak (inchi)
SG = BJ bahan peledak
Jadi jumlah handak dalam satu lubang ledak (E) = PC.de.Kilogram

Bakhrul Ulum /112140050

12

9.

Powder Factor (P)


176.

Pf =W/E

177.

Pf = Powder Factor(ton/kg)

178.

W = Berat batuan yang dsiledakkan (ton)

179.

E = Berat bahan yang digunakan (kg)

180.
181.

11.4
182.

183.
184.
185.

Pelaksanaan Praktikum
Pada praktikum babXI ini dilaksanakan pada

:
Hari, tanggal : Rabu, 16 November 2016
Sesi / jam

17.30 WIB
Tempat

: IV / 15.30

: Laboratorium Pemboran dan

Peledakan Teknik Pertambangan,

Fakultas

Teknologi Mineral, UPN Veteran Yogyakarta


186.

Peralatan dan perlengkapan

yang digunakan dalam praktikum antara lain:


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Dummy detonator nonel dan primer


Dummy bidang/face jenjang
Circuit tester (galvanometer)
Pipa (lubang ledak)
Meteran
Lead wire

7. Leg wire
8. Besi dan kawat

Bakhrul Ulum /112140050

13

187.

188.
189.
Gambar 11.5.

Gambar 11.4.
Gambar 11.6

190.
Circuit Tester
191.
192.

193.
194.
195.
196.

Detonator
Lead wire

Gambar 11.7 Gambar 11.8


Meteran

Dodol Dinamit
Adapun Prosedur Praktikum

bab XI :
1. Buat perhitungan rancangan peledakan jenjang
2. Membuat bentuk peledakan jenjang sesuai desain yang
sudah ditentukan burden, spacing, stemming, subdrilling,
dan kedalaman lubang ledaknya.

Bakhrul Ulum /112140050

14

3. Merangkai

inslatasi

peledakan

jenjang

dengan

pola

peledakan sesuai desain


4. Menguji arus pada instalasi yang telah dibuat

197.
198.
199.

Gambar 11.9.
Pola Peledakan
200.

201.
202.

204.

11.5.

Gambar 11.10.
Geometri Peledakan

203.
Pembahasan

Bakhrul Ulum /112140050

15

205.

PT.TBT melakukan pembongkaran batu andesit dengan

cara peledakan guna mencapai target produksi. Hasil bongkaran yang


diharapkan adalah 1500 ton, dengan bobot isi 1,98 ton/ m3 . Kehilangan
5% dan SGr batu andesit : 1,5 isian ANFO dengan, SGe = 1,5 STV = 100
dan VOD = 3500 m/s dengan primer daya gel magnum 2, @250gram per
lubang. Lubang ledak vertical mengikut arah lereng dengan diameter (De)
= 4 inch
206.

Tentukan :

a) Geometri peledakan, jikadilakukan 3 baris, tinggijenjang 9 meter, pola


peledakan sejajar, box cut dan serentak dalam 1 baris. Dengan pedoman
KONYA (Kr = 0,9, Kd = 1,0 Ks = 1,1)
b) Tentukan jumlah kebutuhan bahan peledak (ANFO, primer, detonator)
c) Hitung powder factor (Specific charge)
d) Tentukan rangkaian peledakan lengkap dengan inisiasinya
207.

Penyelesaian :

208.

a.

Geometri Peledakan
1

209.

B = 3,15 De(

SGe 3
)
Sgr

210.

1
1,5
=

3,15 4 inchi

211.

= 11,02 ft

212.

Stv
B = 0,67 De
SGr

( )

213.

100
1.5
=

0,67 4 inchi

214.

= 10,72 ft

215.
216.

B
=

1
3

+1,5 De
({ 2 SGe
}
SGr )

({ 2 1,51 )+1,5} 4 inchi

Bakhrul Ulum /112140050

16

= 11,33 ft

217.
218.

B rata-rata

219.

222.

= Bratarata Kd Kr Ks

220.

= 3,36 0,9 1,0 1,1

221.

= 3,33 m
9
3,33

Stiffness Ratio =
= 2,73

224.

Berdasarkan C. J. Konya

225.

S =

226.
227.
228.
229.

L+7 B 9+ ( 7 x 3,33 )
=
8
8

4,04 m
1

Stv 3
100
=0,45 x 4 x
T = 0,45 x De x
SGr
1,5

( )

( )

1
3

7,2 ft=2,2 m
J = 0,3 x B

0,3 3,33 m=0,99 m


231.

232.

11,02 ft +11,33 ft+ 10,72 ft


=11,023 ft =3,36 m
3

BTerkoreksi

223.

230.

H =

L+J

9+0,99 m=9,99 m
233.
234.
235.

PC=

HT

9,99 m2,2 m=7,79 m


Volume batuan terbongkar =
1.500 ton / tahun
3
=797,45 m
3
( 1005 ) X 1,98 ton / m

236.

239.

241.

Lebar (Lb)

= (r . B) L

237.

= ( 3 x 3,33 m ) 9 m

238.

= 89,91 m2

Panjang (P)

240.

= 8,88 m

Jumlah Lubang Ledak (N)

Bakhrul Ulum /112140050

797,45 m 3
89,91m 2

{(

) }

P2 B
+1 + 2
S

17

244.

3,33 m
+1 )+ 2
({ 8,88 m2
}
4,04 m

242.

243.

= 3,55 4 lubang

Total JumlahLubangLedak (N)


(4

= 3 x 4 = 12 lubangledak =

lubang
)
baris

245.
b. Loading Density (de)

248.
249.

= 0,508 x De2 x Sge


246.

= 0,508 x ( 4

247.

= 8,13 kg/m

Kebutuhan Anfo

inchi)2 x 1

= De x PC
= 8,13 kg/m x 7,799 m

= 63,41 kg
Keb. Primer per lubang= 2 x 0,25 kg

250.

= 0,5 kg
251.

+
Kebutuhan bahan peledak per lubang

= 63,64 kg
252.

Kebutuhan bahan peledak total =

253. c.

( 63,64x 12)

= 763,68 kg
Powder Faktor : jumlah bahan peledak yang diperlukan untuk

membongkar per m3 bahan galian


254.

W 763,68 kg
=
=0,96 kg /m3
3
V 797,45 m

PF =

255.

Tabel 11.6.
256.

Spesifikasi alat bor Atlas Copco FlexiROC D45

257.

Spesifikasi alat bor Atlas Copco FlexiROC D45

258.

Hole Diameter

260.

Product series

262.
264.

259.

3,3-5,1 inch

261.

FlexiROC

Drilling method

263.

DTH

Maximum depth hole

265.

50 ft

267.

Yes

266.

Cabin (Y/N)

268.

Bakhrul Ulum /112140050

18

269.

Spesifikasi alat muat (backhoe) yang dapat mencapai tinggi jenjang

(L) 9,999 m Komatsu PC 1250-8.Dengan 9,1 m 29 10 boom dan 4,5 m 14 9


arm.
270. d. Gambar rangkaiam peledakan dengan metode peledakan elektrik seri in
paralel dengan 12 lubang ledak. (gambar terlampir)
271.

Peralatan yang digunakan :

1. Blasting Machine
2. Lead Wire
3. Blastometer
4. Rheostat
5. Current Leakage

272.

Perlengkapan yang digunakan :

1. Connecting Wire
2. Leg Wire
3. Detonator

273.
274.

11.6

Kesimpulan

275.

Bench blasting adalah peledakan yang dilakukan

pada jenjang tambang terbuka. Faktor yang dapat dikontrol dalam bench
blasting yaitu geometri pemboran, geometri peledakan, bahan peledak,
sistem penyalaan dan urutannya. Pedoman perhitungan dalam peledakan
bench blasting terdapat dua cara, yaitu menurut CJ Konya dan RL Ash.
276.

Geometri pemboran mencakup diameter lubang

ledak, kedalaman lubang ledak, inklinasi lubang ledak, tinggi jenjang,


jumlah pemboran lubang ledak yang berpengaruh pada peledakan pada
jenjang (bench blasting).
277.

Geometri peledakan mencakup burden, spacing,

stemming, subdrilling, waktu tunda, pemakaian bahan peledakan (powder


factor dan powder charge) dapat menentukan keberhasilan peledakan pada
jenjang.
278.
279.

Bakhrul Ulum /112140050

19

280.
281.
282.
283.
284.
285.
286.

287.
288.
289.
290.
291.
292.
293.
294.
295.
296.
297.
298.
299.
300.
301.
302.

Bakhrul Ulum /112140050

20

303.
304.

305.
306.

12.1

BAB XII

EFEK PELEDAKAN

Latar Belakang

Kriteria operasi peledakan yang paling baik pada kegiatan

penambangan adalah efisien, murah dan aman. Adapun penjabaran untuk


memenuhi kriteria tersebut adalah :
1. Sasaran produksi terpenuhi
2. Efisiensi bahan peledak tinggi yang dinyatakan dalam blasting ratio atau
powder factor
3. Tidak banyak terjadi kehilangan (looses)
4. Fragmentasi hasil peledakan seragam
5. Tidak mengganggu lingkungan, antara lain:
Tingkat getaran kecil
Tidak terjadi batu terbang
Gangguan suara
307.

Efek peledakan yang dimaksud adalah pengaruh adanya peledakan

terhadap lingkungan sekitarnya dengan keamanan, yaitu:


1. Ground vibration (getaran tanah)
2. Air blast (suara ledakan)
3. Fly rock (batu terbang)
308.
309.

12.2

310.

Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum dari bab XII ini adalah:

1. Memahami efek yang ditimbulkan akibat peledakan


2. Memahami efek peledakan tersebut terhadap lingkungan

3. Memahami Standar Nasional Indonesia yang berkaitan dengan efek


peledakan.

Bakhrul Ulum /112140050

21

12.3

Dasar Teori

12.3.1 Ground Vibration (Getaran Tanah)


311.

Getaran tanah (ground vibration) terjadi pada daerah elastis.Pada

daerah ini tegangan yang diterima mineral lebih kecil dan kuat tarik mineral
sehingga hanya menyebabkan bentuk dan volume. Sesuai dengan sifat
elastismaterial maka bentuk dan volume akan kembali pada keadaan semula
setelah tidak ada tegangan yang bekerja. Perhitungan besarnya getaran yang
ditimbulkan akibat dari peledakan menurut teori Berta (1990).
312.

Tinjuan hukum Scaled Distance pada kegiatan peledakan

menyangkut beberapa faktor yang berhubungan dengan perkiraan tingkat getaran


peledakan berdasarkan pada berat isian bahan peledak dan jarak suatu bangunan
atau daerah dari tempat peledakan.Cara praktis dan efektif untuk mengontrol
getaran adalah dengan menggunakan Scaled Distance yang memungkinkan
pelaksana di lapangan menentukan jumlah isian bahan peledak atau jarak aman
yang digunakan agar menghasilkan getaran peledakan yang diijinkan.
313.

Peledakan tunda (delay blasting) adalah suatu teknik peledakan

dengan cara meledakkan sejumlah muatan bahan peledak tidak sebagai suatu seri
dari muatan-muatan yang lebih kecil. Getaran yang dihasilkan dari getaran tunda
merupakan kumpulan dari getaran-getaran kecil dan bukan satu getaran
besar.Peledakan tunda mengurangi tingkat getaran setiap waktu tunda
menghasilkan

masing-masing

gelombang

seismik

yang

kecil

dan

terpisah.Gelombang hasil peledakan tunda pertama telah merambat pada jarak


tertentu sebelum peledakan tunda selanjutnya terjadi.
314.

Dalam menentukan jumlah muatan bahan peledak agar tidak

menimbulkan getaran yang dapat merusak suatu struktur banguan harus


diperhatikan dua hal :
Besaran getaran yang merupakan fungsi dari jumlah bahan peledak, jarak
struktur dari titik ledak, dan sifat media penghantar gelombang.
Kriteria kerusakan struktur itu sendiri, misalnya peerpindahan maksimum
yang masih diijinkan, kecepatan dan percepatan partikel maksimum.
315.

Mengingat belum adanya teori yang tepat dalam menentukan

besarnya getaran pada berbagai jarak dengan memperhitungkan sifat-sifat

Bakhrul Ulum /112140050

22

pentingbatuan, maka salah satu jawaban yang dapat diambil adalah penyelesaian
secara empiris,
316.

dengan mengambil asumsi :

1. Massa batuan bersifat elastis, homogen, dan isotrop.


2. Rambatan gelombang yang terjadi mempunyai bentuk muka gelombang
yang datar dengan pulsa berbentuk sederhana (bujur sangkar atau persegi
empat).
3. Jenis gerakan partikel yang terjadi adalah gerak harmonis sederhana.
4. Energi yang dihasilkan bahan peledak setara dengan beratnya.
317.

Berdasarkan asumsi diatas, dengan melakukan analisis dimensional

berdasarkan teori Buckingham, terlihat bahwa ada hubungan antara jarak dari titik
ledak dengan energi yang dihasilkan dalam peledakan, yaitu pengaruh jarak akan
setara dengan akar pangkat tiga dari energi peledakan. Apabila energi dalam hal
ini diekuivalensikan dengan jumlah bahan peledak, maka parameter yang
dihasilkan yaitu SD (Sceled Distance) dapat digunakan sebagai salah satu variabel
penentu dalam perkiraan getaran akibat peledakan.
318.

Hukum SD untuk kontrol getaran akibat peledakan ada dua macam

:
1.

Menurut analisis dimensional, SD dinyatakan sebagai :


319.
320.
321.
322.

R
CRSD =
W
Keterangan:

323.

CRSD

324. R
325.

W
326.

= cube root scaled distance, ft/ lb


= jarak dari sumber ledak, feet
= berat isian bahan peledak per delay, lb

Hukum CRSD ini digunakan untuk pendugaan kerusakan

strukturbangunan akibat peledakan pada jarak < 20 meter dari sumber ledakan.
2. Menurut USBM (United State Bereau of Mine), SD dinyatakan sebagai :
327.
328.
329.

Bakhrul Ulum /112140050

R
SRSD =
W

23

330.

Keterangan :

331.

SRSD

332.

333.

= square root scaled distance, fb/ lb


= jarak dari sumber ledak, feet
= berat isian bahan peledak per delay, lb

334.

Hukum SRSD ini digunakan untuk pendugaan kerusakan

struktur bangunan akibat peledakan pada jarak > 20 meter dari sumber
ledakan.
335.

Perhitungan SD akan menghasilkan suatu angka tertentu

yang digunakan untuk memperkirakan tingkat getaran peledakan, apabila


tidak ada pengukuran seismik. Menurt Nicholls, Johnson, dan Duval
dalam Buletin USBM, 656 (1971) SD yang disarankan sebagai batas aman
adalah minimal 50, jika alat seismograf tidak dipergunakan atau tidak
tersedia. Tingkat getaran pada SD tersebut berkisar antara 0,08 0,15 ips.
Secara umum harga SD yang besar (SD > 50) menunjukkan kondisi
getaran yang aman atau kerusakan yang terjadi kecil.
336. Tabel 12.1.
337. Pengaruh Getaran Tanah terhadap Kerusakan berdasarkan Kecepatan
Partikel
338. Kecepatan (inch/second)
339. Kerusakan
340. < 2,8

341. No damage

342. 4,3

343. Fine cracks

344. 6,3

345. Cracking

346. 9,1

347. Serious cracking

348.

Kecepatan partikel dapat

juga ditentukan dengan persamaan dari Konya sebagai berikut :


349. v = 100 (d/ W 0,5 1,6
350. Keterangan :
351. v = kecepatan partikel, (ips)
352. d = jarak dari pusat ledakan ke bangunan, (ft)
353. w= berat isian bahan peledak per delay, (lb)

Bakhrul Ulum /112140050

24

12.3.2 Air Blast (Suara Ledakan)


354. Suara ledakan (Air Blast) adalah suara yang ditimbulkan oleh atau
pada saat terjadi ledakan.Air Blast tidak seperti yang didengarkan seperti biasa,
tetapi merupakan gelombang tekanan yang terjadi pada atmosfer yang
terindikasikan oleh frekuensi tinggi, frekuensi rendah bahkan yang tidak terdengar
sekalipun.
355.

Air Blast diukur dengan satuan dB atau psi, dihitung dengan rumus

:
356.

dB = 20 log (P/Po)

357.

Keterangan:

358.

dB

= level suara (dB)

359.

= overpressure (psi),

360.

Po

= overpressure pada suara yang paling lemah dapat

terdengar
2,9 x 109 psi atau 2 x 1010 bar

361.
362.

= pressure,psi atau bar

25,57 ( W / d), psi atau P = 0,7 ( W / d), bar

363.
364.

W= barat bahan peledak per delay, (lb) atau (kg),

365.

= jarak aman dari pusat ledakan ke bangunan, (ft) atau (m)


366.
Tabel 12.2
367.
Batas Level Suara

368.

Conditio
n

371.
374.
377.

Safe
Coution
Limit

369.

dB

372.

128

375.

128-136

378.

> 136

370.

psi

373.

0,00
7

376.

0,00

7-0,018
379.
>
0,18

380.
381.

382.

dB
384.

kPa
385.

177

14

Bakhrul Ulum /112140050

383.
386.

Airblast effect
All windows break

25

387.

388.

170
390.

6,3
391.

150
393.

0,63
394.

140
396.

0,20
397.

136
399.

0,13
400.

128

0,05

389.

Most windows break

392.

Some windows break

395.

Some large plate glass windows


may break

398.

USBM interim limit for allowable


401.

Complaints likely

402.

403.
404.

Gambar 12.1.
Sources of Air Blast

405.
12.3.3 Fly Rock (Batu Terbang)
406. Batu terbang yaitu batu yang terlempar secara liar pada saat terjadi
peledakan. Batu terbang dapat terjadi oleh beberapa sebab, antara lain karena :
1. Penempatan lubang bor tidak tepat
2. Kesalahan pola penyalaan
3. Lantai jenjang kotor
4. Evaluasi pemboran tidak tepat
5. Kesalahan penyambungan
6. Jumlah isian terlalu banyak
7. Karena ada struktur retakan, kekar, dan sebagainya.

Bakhrul Ulum /112140050

26

407.

Swedish Detonie Research Foundation (1975) mengemukakan

teorinya dalam menghitung jarak maksimum yang terjadi pada fragmentasi batuan
pada kondisi optimum.Pada gambar 12.2 diperlihatkan hubungan antara jarak
maksimum lemparan batuan dengan specific charge (loading density). Untuk
contoh perhitungan, jika specific charge 0,5 kg/m maka lemparan maksimum
yang terjadi adalah :
408. Lmax = 40 x D
409.

Dan diameter lubang ledak 4 inch maka : Lmax = 40 x 4 = 160 m

410.

Diameter fragmen batuan : Tb = 0,1 x D = 0,1 x 4 = 0,25 m


411.

413.

412.
Gambar 12.2.
Hubungan antara Jarak Maksimum Lemparan Batuan dengan
Specific charge

Bakhrul Ulum /112140050

27

12.4
416.
417.

414.
Gambar 12.3.
415.
Effect of Correct / Incorrect Stemming
Pelaksanaan Praktikum
Pada praktikum bab XII ini dilaksanakan pada
:
Hari, tanggal : Rabu, 16 November 2016

418.

Sesi / jam

: IV / 15.30 17.30

Tempat

: Laboratorium

WIB
419.

Pemboran dan Peledakan Teknik Pertambangan,

Fakultas Teknologi

Mineral, UPN Veteran Yogyakarta


420.

Urutan percobaan :

1. Memperhatikan design peledakan yang telah dilakukan pada praktikum


sebelumnya
Berapa muatan per delay
Menghitung scaled distance jika jarak terdekat dengan struktur 1 km
Menentukan jarak aman jika ditentukan SD=50
Menghitung berapa jarak lemparan maksimum untuk batu terbang dan

2.
3.
4.
5.

berapa diameternya
421.

12.5

Pembahasan

422.

PT.TBT melakukan pembongkaran batu andesit dengan cara

peledakan guna mencapai target produksi. Hasil bongkaran yang

Bakhrul Ulum /112140050

28

diharapkan adalah 1500 ton, dengan bobot isi 1,98 ton/ m3 . Kehilangan
5% dan SGr batu andesit : 1,5 isian ANFO dengan, SGe = 1,5 STV = 100
dan VOD = 3500 m/s dengan primer daya gel magnum 2, @250gram per
lubang. Lubang ledak vertical mengikut arah lereng dengan diameter (De)
= 4 inch. Hitung efek peledakan yang ditimbulkan?
423.

Penyelesaian:

CRSD=

424.

Maka R=CRSD W 3
1

W3

425.

= berat bahan peledak per delay

W =4 63,66 kg x 2,2=560,21lb

426.
427.

1
3

428.

R=CRSD W
1
ft
3
50 1 (560,21 lb )
l b3
0,3048 m
412,18 ft
ft

429.
430.

125,63 m

431.

1,6

d
W
412,18 ft 1,6
100
560,21 lb
1,03inch per second
26,16 mm per second

Vmax 100

432.

433.
434.
435.
436.
438.
439.
Kelas

( )

437.
Tabel 12.3.
Kelas dan Jenis Bangunan serta Peak Vektor Sum (RSNI)
441. Peak vektor
440. Jenis Bangunan
sum (mm/detik)

442.
1

443. Bangunan kuno yang dilindungi undangundang benda cagar budaya (undang-undang
no.6 tahun 1992)

444.

445.
2

446. Bangunan kuno dengan pondasi batu dan


adukan semen saja termasuk bangunan dengan
produksi dari kayu dan lantainya diberi adukan
semen

447.

Bakhrul Ulum /112140050

29

448.
3

449. Bangunan dengan pondasi pasangan bata


dan adukan semen slope beton, kolom dan
rangka diikat dengan slope beton

451.
4

452. Bangunan dengan pondasi pasangan bata


dan adukan semen slope beton, kolom dan
rangka diikat dengan ring baja

453.

7-20

454.
5

455. Bangunan dengan pondasi, pasangan


bata dan adukan semen, slope beton, dan diikat
dengan rangka baja

456.

12-40

450.

457.
458.
Kel
461.
1
470.
2
479.
Kel
482.
3
485.
486.
492.
4
501.
5
510.

459.

Frekuensi

462.
465.
468.
471.
474.
477.
480.

460.

0-5
5,-20
20-100
0-5
5,-20
20-100

463.
466.
469.
472.
475.
478.

Frekuensi

483.

PPV(mm/s)

481.

2
3
5
3
5
7
PPV(mm/s)

0-5

484.

5,-20
20-100
0-5
5,-20
20-100
0-5
5,-20
20-100

488.
491.
494.
497.
500.
503.
506.
509.

7
12
7
12
20
12
24
40

Lanjutan tabel 12.3


487.
490.
493.
496.
499.
502.
505.
508.

Berdasarkan nilai Vmax

1,03inch per second

= 26,16 mm/s

maka peledakan tersebut dikategorikan kelas 5 dengan jenis bangunan : dengan


pondasi, pasangan bata dan adukan semen, slope beton dan diikat dengan rangka
baja.
511.

Bakhrul Ulum /112140050

Tabel 12.4.

30

512. Pengaruh Getaran Tanah terhadap Kerusakan berdasarkan Kecepatan


Partikel
513. Kecepatan (inch/second)

514. Kerusakan

515. < 2,8

516. No damage

517. 4,3

518. Fine cracks

519. 6,3

520. Cracking

521. 9,1

522. Serious cracking

523.
524.

Berdasarkan tabel pengaruh getaran tanah terhadap

kerusakan berdasarkan kecepatan partikel menurut Langefors, Vmax dengan


nillai 1,4114 inch per second termasuk kedalam kategori no damage
525.

Air Blast (dB)

20 log

( pp )
0

526.

20 log

527.

20 log

(
(

25,57

1
3

( )
W
d

psi

2,9 109 psi


1

)
)

560,21 3
25,57
psi
412,18
2,9 109 psi

=136,77 dB

528.
529.
530.
531.

Conditio

Tabel 12.5.
Batas Level Suara
532.

dB

533.

Psi

535.

128

536.

0,007

128-136

539.

0,007-

542.

0,018
> 0,18

n
534.
537.

Safe
Coution

540.

538.

Limit

541.

> 136

543.
544.

545.

dB
547.

kPa
548.

177

14

546.
549.

Bakhrul Ulum /112140050

Airblast effect

All windows break

31

550.

551.

552.

Most windows break

170
553.

6,3
554.

555.

Some windows break

150
556.

0,63
557.

558.

Some large plate glass windows may

140
559.

0,20
560.

break
561.
USBM interim limit for allowable

136
562.

0,13
563.

564.

128
565.
566.

0,05

Complaints likely

Berdasarkan tabel Batas Level Suara menurut USBM 1978,

dB dengan nilai 136,77 termasuk ke dalam kategori limit (berbahaya) dan


dapat merusak kaca.

567.
569.
570.

568.
Gambar 12.4.
Hubungan antara Jarak Maksimum Lemparan Batuan dengan
Specific charge
Berdasarkan pengeplotan nilai PF 0,96 km/m3 pada grafik

Maximum Throw didapat nilai Throwh x D = 108 m


571.

Lmax

= 108 x De

572.

= 108 x 4

573.

= 432 m

574.

Diameter fragmen batuan (Tb)= 0,1 x De2/3

575.

Bakhrul Ulum /112140050

= 0,1 x ( 4 )2/3

32

576.

= 0,25 m

577.
12.6

Kesimpulan
578.

1.

Area bebas (clear area) untuk aktivitas peledakan adalah :

Untuk manusia jarak minimal 500 m dari titik peledakan


2. Harus menempatkan shelter tidak di depan bidang bebas dengan jarak
minimum 200 m
3. Untuk juru ledak dapat berada pada jarak minimal 200 m dari titik peledakan

dengan syarat berada pada tempat berlindung yang aman dari lontaran batu
4. Untuk jarak aman alat ditentukan oleh kepala teknik
5. Menggambarkan jarak-jarak aman (posisi road guard) tersebut ke dalam peta

kerja
6. Suatu sistem (memakai peta yang dicantumkan radius 200 m dan 500 m,

mengukur secara fisik di lapangan, misalnya) harus dilakukan untuk


memperoleh jarak area bebas yang benar di lapangan.
579.
580.
581.
582.
583.
584.
585.

Bakhrul Ulum /112140050

33

586.

587.

DAFTAR PUSTAKA

Koesnaryo S. 2001.Pemboran Untuk Penyediaan Lubang Ledak.Program


Studi Teknik Pertambangan, FTM, UPN Veteran Yogyakarta.
Yogyakarta.

588.
589.

R. Hariyanto. 2016. Buku Panduan Praktikum Teknik Peledakan. Program


Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknoloigi Mineral, UPN Veteran
Yogyakarta. Yogyakarta.
590.
591.
592.
593.
594.
595.
596.
597.
598.
599.
600.
601.
602.
603.
604.
605.
606.
607.
608.
609.
610.
611.
612.
613.
614.
615.
616.
617.
618.
619.
620.
621.

Bakhrul Ulum /112140050

34

622.

Bakhrul Ulum /112140050

35