Anda di halaman 1dari 4

Realisasi Pendapatan Negara (miliar rupiah), 2012-2013

Sumber Penerimaan
Penerimaan Dalam Negeri
Penerimaan Pajak
Pajak dalam negeri
Pajak penghasilan
Nonmigas
Migas
PPN barang dan jasa, dan pajak penjualan atas barang
mewah
Pajak bumi dan bangunan
Bea perolehan atas tanah dan bangunan
Cukai
Pajak lainnya
Pajak perdagangan internasional
Bea masuk
Pajak ekspor
Penerimaan Bukan Pajak
Penerimaan sumber daya alam
Penerimaan minyak bumi
Penerimaan gas alam
Penerimaan pertambangan umum
Penerimaan kehutanan
Penerimaan perikanan
Penerimaan pertambangan panas bumi
Bagian laba BUMN
Penerimaan bukan pajak lainnya
Pendapatan Badan Layanan Umum (BLU)
Hiba
h

2012
1,332,323
980,518
930,862
461,403
377,942
83,461

2013
1,432,058
1,077,306
1,029,850
506,442
416,695
88,747

337,584
28,969

95,028
7,878
49,656
28,418
21,238
351,805
225,843
144,717
61,106
15,877
3,188
215,8
739
30,798
73,458
21,704

384,714
25,305

108,452
4,937
47,456
31,621
15,835
354,752
226,406
135,329
68,300
18,621
3,060
250
867
34,026
69,672
24,648

5,787

6,833

Jumlah

1,338,110

1,438,891

Sumber: Kementerian Keuangan


Catatan/Note:
Angka Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
(LKPP)/Financial Report of Central
1 Government figures

Data dikutip dari Publikasi Statistik Indonesia 2015.

ANALISA PENERIMAAN APBN SUB SEKTOR PERIKANAN

Hasil produksi perikanan tangkap Indonesia cenderung meningkat. Pada tahun 2012
pendapatan dari perikanan sebesar Rp 215,8 dan mengalami kenaikan sebesar Rp 34,2 miliar
pada tahun 2013. Bahkan, pada tahun 2013, peningkatan PDB perikanan dapat mengungguli
pertumbuhan PDB pertanian dan PDB Nasional. Namun, dengan hasil tangkapan dan PDB
perikanan yang tergolong tinggi sektor perikanan Indonesia pada kenyataannya hanya
menyumbang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar 0,2% dari total PNBP tahun
2012. Pemerintah pun hanya memberi target pada kisaran Rp 150-200 miliar per tahun untuk
PNBP sektor perikanan pada tahun 2009-2013. Setidaknya terdapat potensi peningkatan
PNBP sebesar Rp 25 triliun pertahun yang belum termanfaatkan dari sumberdaya ikan dan
non sumberdaya ikan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kenaikan penerimaan pendapatan di sektor pertanian, yaitu


produksi perikanan tangkap dan perikanan budidaya yang mengalami peningkatan.
Pertumbuhan ini menunjukkan adanya peningkatan daya beli dari para pelaku subsektor
kelautan dan perikanan dibandingkan subsektor lain pada kelompok pertanian, kehutanan,
perikanan, dan nasional. Kemudian pertumbuhan ini juga menunjukkan subsektor perikanan
tangkap dan perikanan budidaya menunjukkan potensi besar dalam pembangunan ekonomi
Indonesia.

Potensi perikanan Indonesia tidak hanya dilihat dari luasnya perairan laut yang dimiliki
bangsa ini, tetapi juga dari luasnya lahan di darat yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat
untuk mengembangkan budidaya perikanan. Salah satu upaya untuk mendorong peningkatan
ekonomi perikanan budidaya adalah melalui kebijakan percepatan industrialisasi kelautan dan
perikanan. Melalui kebijakan industrialisasi, pengelolaan sumberdaya perikanan budidaya,
pembangunan infrastruktur, pengembangan sistem investasi, ilmu pengetahuan, teknologi,
dan sumberdaya manusia, diselenggarakan secara terintegritas berbasis industri untuk
peningkatan produksi, produktivitas dan nilai tambah.
Potensi lahan perikanan budidaya secara nasional diperkirakan sebesar 17,74 juta Ha, yang
terdiri atas lahan budidaya air tawar 2,23 juta Ha, budidaya air payau 2,96 juta Ha dan
budidaya laut 12,55 juta Ha. Sedangkan pemanfaatannya hingga saat ini masing-masing baru

mencapai 16,62 % untuk budidaya air tawar, 50,06 % untuk budidaya air payau dan 2,09 %
untuk budidaya laut.
Selama periode 2010 2013, produksi perikanan budidaya telah meningkat secara signifikan
dan melebihi target yang telah di ditetapkan, yaitu sekitar 28,64 % per tahun, yaitu 6,28 juta
ton pada tahun 2010 dan mencapai 13,31 juta ton pada tahun 2013 (data sementara).
Sedangkan nilai produksi nya mengalami kenaikan sekitar 22,51 % per tahun dalam kurun
waktu yang sama.
Pertumbuhan PDB perikanan dari tahun ke tahun selalu meningkat. Selama periode 20092013 pertumbuhan PDB sektor perikanan mencapai 14,83% per tahun, lebih tinggi
dibandingkan sektor pertanian. Capaian konstribusi sektor perikanan terhadap PDB nasional,
diantaranya berasal dari kegiatan perikanan budidaya.Hal ini patut menjadi pertimbangan
untuk diperhitungkan dalam perekonomian nasional.
Perikanan budidaya telah muncul menjadi alternatif utama usaha masyarakat, hal ini dapat
terlihat dari peningkatan jumlah Rumah Tangga Pembudidayaan Ikan (RTP) dari tahun-ke
tahun (kenaikan rata-rata 5,32%) bahkan menurut data BPS jumlah RTP perikanan budidaya
cenderung meningkat dan kondisi ini berbanding terbalik dengan jumlah RTP pertanian yang
cenderung menurun. Tahun 2013 jumlah RTP pembudidaya ikan mencapai 1.667.428 RTP.
Dalam era pasar bebas regional dan menuju pasar bebas internasional, peningkatan produksi
dan daya saing produk perikanan budidaya harus diikuti dengan standar kualitas produk
sekaligus peningkatan efisiensi usaha budidaya. Kualitas produk perikanan budidaya hanya
dapat dijaga melalui sistem pengawasan yang efektif dan efisiensi usaha budidaya hanya
dapat diperoleh melalui integrasi usaha yang dapat dilakukan melalui pembentukan kelompok
budidaya yang kuat.
Cara yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk perikanan
budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan
Budidaya (DJPB) adalah melalui penerapan sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB)
maupun Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) yang saat ini mampu menjaga kualitas
produk budidaya baik benih maupun konsumsi.
Kedua aturan ini disusun untuk mendukung penggunaan benih berkualitas dan juga
menghasilkan produk perikanan berkualitas yang memiliki daya saing. Namun yang perlu
juga diperhatikan adalah pengawasan dari penerapan CPIB dan CBIB ini. Pengawasan ini

sangat diperlukan untuk tetap menjaga penerapan dari sertifikasi yang telah diberikan dan
sekaligus juga untuk menjaga kualitas dari produksi perikanan budidaya.
Pengawasan akan lebih mudah dilakukan apabila suatu usaha budidaya dilakukan dalam
suatu kawasan dan berbasis kelompok. Klasterisasi atau pengelompokkan suatu usaha akan
mempermudah pengelolaan usaha sekaligus dapat meningkatkan efisiensi usaha budidaya itu
sendiri. Melalui kelompok dan juga klasterisasi, akan mudah terjadi alih teknologi,
pengendalaian dan pencegahan penyakit dan mempermudah akses permodalan. Hanya saja
yang perlu diketahui bahwa sistem klaster hanya akan terbentuk melalui menajamen kolektif
yang dipegang oleh seorang manajer teknis. Sistem Klaster juga akan menciptakan
kekompakan dan kebersamaan.

KESIMPULAN
Jika dilihat dari potensi PNBP SDA, target sasaran APBN untuk PNBP khususnya SDA dapat
tercapai bahkan target dan sasaran tersebut dirasa cukup rendah. Jika saja pemerintah mampu
mengatasi kelemahan dan permasalahan dalam pengelolaan tersebut, kontribusi PNBP
terhadap Penerimaan Negara dapat ditingkatkan lagi. Oleh karena itu strategi dan arah
kebijakan yang dibuat pemerintah saat ini harus mampu mengatasi kelemahan dan
permasalahan dalam pengelolaan PNBP.