Anda di halaman 1dari 5

Perlu diketahui bahwa intervensi politik terhadap hukum sudah ada di Indonesia sejak

dulu, dalam perjalanannya dari fase ke fase ternyata hukum tidaklah steril dari subsistem
kemasyarakatan lainnya. Politik kerap kali melakukan intervensi terhadap hukum, sehingga
ketika kita melihat sistem ketatanegaraan Indonesia, hukum belumlah bisa dijadikan sebagai
panglima. Karena dengan adanya eskalasi politik yang kian masif maka rentan dengan
adanya politisasi dan kriminalisasi dalam penegakan hukum diindonesia. Hal itu bisa kita
lihat dengan adanya isu-isu yang masih hangat pada tahun 2014-2015, Indonesia sebenarnya
telah tejadi perang saudara dikalangan elit. Konflik antara 2 (dua) lembaga negara (POLRI
VS KPK) telah menjadi sorotan masyarakat diseluruh Indonesia bahkan menjadi sorotan
dunia. Perseteruan dalam dunia politik yang kian semerawut akhirnya perbuatan-perbuatan
yang menampakkan suatu peristiwa pidana seperti diada-adakan. Selain itu para penegakpenegak hukum yang terdiri dari Hakim, Jaksa, Polisi dan Advokat sudah sangat jarang sekali
mematuhi aturan-aturan yang berlaku. Mereka kebanyakan hari ini ikut berlomba-lomba
untuk ikut andil dalam memasifkan politisasi tanpa arah.
Kriminalisasi di Indonesia akhir-akhir ini bisa dibilang semakin bertambah banyak,
hal itu bisa dilihat kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan dari semua lapisan masyarakat,
baik itu masyarakat kalangan bawah maupun masyarakat kalangan elit. Contoh saja sekali
lagi mengenai konflik antara KAPOLRI Budi Gunawan yang dituduh telah menerima
gratifikasi saat menjabat sebagai Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan. Disamping itu
setelah penetapan Budi Gunawan sebagai tersangka oleh KPK, satu minggu kemudian
masyarakat dihebohkan lagi dengan adanya berita penangkapan Bambang Widjojanto selaku
wakil ketua KPK karena dahulu pada tahun 2010 diduga telah memberi arahan kepada saksi
terkait sengketa Pemilu. Dari semenjak KPK menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka
dan Penangkapan Bambang Widjojanto masyarakat sudah bisa menilai bahwa konflik yang
terjadi dalam penegakan hukum di Indonesia saat ini pastinya ada unsur muatan politik,
sehingga perbuatan kriminal yang telah dilakukan calon Kapolri dan Pimpinan KPK ada
keterkaitan dengan perpolitikan pada saat suksesi pemilihan Presiden 2014-2019. Memang
masyarakat arus bawah jarang sekali yang tahu kenapa tiba-tiba seorang calon Kapolri
dituduh melakukan kejahatan tindak pidana korupsi, padahal calon Calon Kapolri yang
seharusnya bisa dijadikan sebagai sauri tauladan dalam penegakan hukum malah menyalahi
aturan sendiri.

Bahwa bentuk politisasi dan kriminalisasi sudah terlihat jelas atas beberapa uraianuraian di atas, yang mana adanya politisasi secara skala besarnya hanya berada pada para
penguasa elit semata. Dengan adanya hal-hal yang ada keterkaitannya dengan politisasi
seperti yang sudah digambarkan melalui beberapa kasus-kasus yang saat ini sedang terjadi,
maka politisasi tersebut jika berakibat pada suatu hal yang sifatnya negatif akan terjerumus
pada kriminalisasi. Jikalau sudah masuk keranah kriminalisasi maka secara otomatis akan
mempengaruhi sistem penegakan hukum di Indonesia. Karena dalam mengacu sistem
ketatanegaraan di Indonesia jikalau hukum masih selalu diintervensi oleh politik maka
konflik yang terjadi atas adanya politisasi dan kriminalisasi tidak akan kunjung selesai.
Partai-partai Islam yang memperjuangkan syariah Islam atau menegakkan negara
Khilafah, sering kali dituduh melakukan politisasi agama. Yaitu berpolitik atas nama agama
atau membawa-bawa agama dalam dunia politik. Tentu tuduhan politisasi agama ini yang
cukup menyudutkan partai-partai Islam sebab tuduhan itu mengandung makna peyoratif
(memberikan citra buruk). Memang, jika politisasi agama diartikan penyalah gunaan agama
untuk menjustifikasi kepentingan politik sesaat, jelas tidak bisa dibenarkan. Seperti,
misalnya, kampanye untuk meraih massa dengan cara mendiskreditkan parpol.
Tetapi akan lain masalahnya jika yang dimaksud politisasi agama adalah berpolitik
atas dasar agama dengan asumsi bahwa agama itu harus netral atau terpisah dari politik. Di
sinilah kita perlu mengkaji secara kritis termasuk politisasi agama dalam arti tersebut, sebab
istilah itu membawa virus ideologis yang perlu diwaspadai. Dalam sistem demokrasi memang
mensyaratkan sekulerisme secara mutlak, dalamnya terdapat pernyataan sebagai berikut,
Sebuah demokrasi yang baik hanya bisa berjalan jika ia mampu menerapkan prinsip-prinsip
sekularisme dengan benar. Sebaliknya, demokrasi yang gagal atau buruk adalah demokrasi
yang tidak menjalankan prinsip-prinsip sekularisme secara benar.
Dalam demokrasi, andaipun tidak disingkirkan, maka agama akan dipaksa untuk
ditafsirkan ulang agar sesuai dengan keinginan demokrasi. Kita menolak tudingan bahwa
setiap penggunaan syariah Islam berarti ini politisasi agama adalah sebagai politik murahan.
Mengerdilkan Islam dengan menganggap Islam hanya bicara persoalan pribadi adalah keliru
besar. Sebab syariah Islam mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk ekonomi, politik,
pendidikan dan aspek sosial lainnya. Justru pengerdilan ini membuat agama mandul untuk
menyelesaikan persoalan masyarakat.

Sekali lagi kita perlu menegaskan Negara ini hancur justru karena diterapkan ideologi
kapitalisme sekuler dan dicampakkannya syariah Islam. Syariah Islam berasal dari Allah
SWT yang Maha Sempurna, mustahil mencelakakan manusia. Penerapan syariah Islam akan
menyelamatkan bangsa dan Negara ini. Tudingan bahwa syariah Islam mengancam pluritas
adalah kebohongan. Islam mengakui realita ada perbedaan suku, ras , warna kulit ditengah
masyarakat untuk saling kenal mengenal (taaruf). Yang diharamkan Islam adalah ketika
suku,ras, dan atau kebangsaan, menjadi ikatan tertinggi dan termulia yang menjadi dasar
yang menyatukan. Apalagi kalau kemulian diukur berdasarkan suku, ras, atau kebangsaan.
Harus diakui bahwa bangsa Indonesia -yang terdiri dari beragam agama dan
kepercayaan ini- belum mampu menciptakan kehidupan rukun. Propaganda toleransi dan
kebebasan beragama sudah lama diserukan kepada masyarakat. Namun, kenyataannya tindak
intoleran masih kerap terjadi. Tentu saja, hal ini terjadi bukan semata-mata karena
masyarakat tidak mengetahui soal toleransi. Namun, yang sebenarnya terjadi adalah
rusaknya sistem dan tata aturan dalam menjamin terwujudnya kehidupan rukun di negeri
ini. Diantaranya adalah karena pemerintah tidak tegas dalam menegakkan peraturan
kehidupan beragama, konstitusi yang sangat lemah, juga karena masyarakat tidak puas hidup
dalam sistem yang tidak memberikan keadilan bagi kehidupan beragama. Kasus sengketa
pendirian rumah ibadah menjadi bukti yang amat nyata. Persoalan berlarut-larut, bahkan
terulang di berbagai tempat.
Kondisi tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari sistem sekuler yang menjadi poros
berjalannya semua peraturan dan tatanan. Kondisi ini menjadikan negara bersikap ambigu
terhadap berbagai persoalan, meski dari sisi agama sebenarnya telah cukup jelas
pengaturannya. Terkadang, hanya karena Indonesia bukan negara Islam, aturan yang berasal
dari Islam lantas dengan mudah ditolak. Inilah yang membuat seruan toleransi beragama tak
cukup kuat untuk menata intoleransi yang datangnya dari sistem.
Dan saat negara tidak mampu membina, bahkan terkadang arogan dalam
menyelesaikan persoalan antar pemeluk agama, maka tindakan intoleransi kerap menjadi
jalan keluar secara spontanitas. Ini berarti intoleransi sesungguhnya merupakan persoalan
sistemik..
Perlu diketahui bahwa intervensi politik terhadap hukum sudah ada di Indonesia sejak
dulu, dalam perjalanannya dari fase ke fase ternyata hukum tidaklah steril dari subsistem

kemasyarakatan lainnya. Politik kerap kali melakukan intervensi terhadap hukum[4],


sehingga ketika kita melihat sistem ketatanegaraan Indonesia, hukum belumlah bisa dijadikan
sebagai panglima. Karena dengan adanya eskalasi politik yang kian masif maka rentan
dengan adanya politisasi dan kriminalisasi dalam penegakan hukum diindonesia. Hal itu bisa
kita lihat dengan adanya isu-isu yang masih hangat pada tahun 2014-2015, Indonesia
sebenarnya telah tejadi perang saudara dikalangan elit. Konflik antara 2 (dua) lembaga negara
(POLRI VS KPK) telah menjadi sorotan masyarakat diseluruh Indonesia bahkan menjadi
sorotan dunia. Perseteruan dalam dunia politik yang kian semerawut akhirnya perbuatanperbuatan yang menampakkan suatu peristiwa pidana seperti diada-adakan. Selain itu para
penegak-penegak hukum yang terdiri dari Hakim, Jaksa, Polisi dan Advokat sudah sangat
jarang sekali mematuhi aturan-aturan yang berlaku. Mereka kebanyakan hari ini ikut
berlomba-lomba untuk ikut andil dalam memasifkan politisasi tanpa arah.
Kriminalisasi di Indonesia akhir-akhir ini bisa dibilang semakin bertambah banyak,
hal itu bisa dilihat kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan dari semua lapisan masyarakat,
baik itu masyarakat kalangan bawah maupun masyarakat kalangan elit. Contoh saja sekali
lagi mengenai konflik antara KAPOLRI Budi Gunawan yang dituduh telah menerima
gratifikasi saat menjabat sebagai Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan. Disamping itu
setelah penetapan Budi Gunawan sebagai tersangka oleh KPK, satu minggu kemudian
masyarakat dihebohkan lagi dengan adanya berita penangkapan Bambang Widjojanto selaku
wakil ketua KPK karena dahulu pada tahun 2010 diduga telah memberi arahan kepada saksi
terkait sengketa Pemilu. Dari semenjak KPK menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka
dan Penangkapan Bambang Widjojanto masyarakat sudah bisa menilai bahwa konflik yang
terjadi dalam penegakan hukum di Indonesia saat ini pastinya ada unsur muatan politik,
sehingga perbuatan kriminal yang telah dilakukan calon Kapolri dan Pimpinan KPK ada
keterkaitan dengan perpolitikan pada saat suksesi pemilihan Presiden 2014-2019. Memang
masyarakat arus bawah jarang sekali yang tahu kenapa tiba-tiba seorang calon Kapolri
dituduh melakukan kejahatan tindak pidana korupsi, padahal calon Calon Kapolri yang
seharusnya bisa dijadikan sebagai sauri tauladan dalam penegakan hukum malah menyalahi
aturan sendiri.
Bahwa bentuk politisasi dan kriminalisasi sudah terlihat jelas atas beberapa uraianuraian di atas, yang mana adanya politisasi secara skala besarnya hanya berada pada para
penguasa elit semata. Dengan adanya hal-hal yang ada keterkaitannya dengan politisasi

seperti yang sudah digambarkan melalui beberapa kasus-kasus yang saat ini sedang terjadi,
maka politisasi tersebut jika berakibat pada suatu hal yang sifatnya negatif akan terjerumus
pada kriminalisasi. Jikalau sudah masuk keranah kriminalisasi maka secara otomatis akan
mempengaruhi sistem penegakan hukum di Indonesia. Karena dalam mengacu sistem
ketatanegaraan di Indonesia jikalau hukum masih selalu diintervensi oleh politik maka
konflik yang terjadi atas adanya politisasi dan kriminalisasi tidak akan kunjung selesai.

Kesimpulan
Politisasi agama merupakan istilah yang bermuatan ideologi demokrasi-kapitalis yang
sekular. Asumsi dasarnya adalah agama harus dipisahkan dari dunia politik. Maka menurut
paham sekuler, politisasi agama adalah suatu penyimpangan.
Sebaliknya, Islam dan politik adalah suatu kesatuan integral. Politik adalah bagian
dari Islam sebagaimana sholat adalah bagian integral dari Islam. Islam tanpa politik adalah
ibarat Islam tanpa sholat san jelkas bahwa Politisasi dan Kriminalisasi dalam penegakan
hukum di Indonesia saat ini yang sudah terlihat jelas bahwa penegakan hukum di Indonesia
masih diintervensi oleh adanya politisasi dikalangan elit peguasa disamping itu netralitas
lembaga-lembaga penegak hukum belumlah terlihat jelas oleh masyarakat. Karena dengan
adanya konflik mengenai politisasi dan kriminalisasi yang masih memanas, masyarakat
masih beranggapan bahwa adanya kriminalisasi yang sedang terjadi pada saat ini pasti ada
keterkaitan dengan sistem politik yang ada. Adanya Politisasi dan Kriminalisasi sebenarnya
berawal dari permasalahan-permasalahan pribadi hingga ke permasalahan institusi, berawal
dari politisasi antar individu-individu akhirnya mencuat pada permasalahan institusi yang
mengakibatkan suatu tindakan-tindakan ke arah kriminalisasi, karena dalam proses penerapan
politik yang sudah dijalani hanya mengarah pada hal-hal negatif semata.