Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN SINTESIS JURNAL

BLOCK GERIATRIC NURSING


LNO : Ns. Brune Indah Yulitasari, MNS

Di Susun Oleh :
Witri Nurhaeti
140100496

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS ALMA ATA YOGYAKARTA
TAHUN 2016

A. Latar Belakang

Lanjut usia (lansia) adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun


atau lebih. Saat ini jumlah penduduk lanjut usia diperkirakan mencapai 500 juta
dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mengalami peningkatan tajam hingga
menembus angka 1,2 milyar (WHO, 2012). Di Indonesia sendiri pada tahun 2000,
jumlah lansia meningkat mencapai 9,99% dari seluruh penduduk Indonesia
(22.277.700 jiwa) dengan angka harapan hidup usia 65-70 tahun dan pada tahun
2020 diperkirakan akan mencapai 30 juta jiwa orang dengan usia harapan hidup
sekitar 70-75 tahun (Depkes RI, 2001).
Proses menua merupakan proses alamiah yang pasti dialami oleh setiap
individu dalam fase kehidupannya. Seiring dengan menurunnya fungsi organ
tubuh, hal ini juga akan menimbulkan beberapa gangguan tidak hanya fisik dan
mental saja. Tetapi juga adanya gangguan seperti gangguan kognitif pada lansia.
Gangguan kognitif merupakan gangguan yang sering terjadi pada golongan usia
lanjut. Prevalensi gangguan kognitif meningkat pada negara yang memiliki
populasi usia lanjut tinggi. Indonesia merupakan negara keempat dunia yang
memiliki populasi usia tertinggi dan akan diperkirakan akan menjadi negara
ketiga pada tahun 2020.
Banyak masalah gangguan kognitif yang sering terjadi pada lansia, salah
satunya adalah demensia atau kepikunan. Demensia menupakan gangguan
fungsi intelektual dan memori yang disebabkan oleh gangguan di otak. Insidensi
demensia meningkat secara bermakna seiring dengan meningkatnya usia.
Setelah usia 65 tahun, prevalensi demensia meningkat dua kali lipat setiap
pertambahan usia 5 tahun. Secara keselurhan prevalensi demensia pada
populasi lansia dengan usia diatas 60 tahun adalah 5,6%. Di Indonesia, menurut
data profil kesehatan yang dilaporkan oleh Departemen Kesehatan tahun 1998,
terdapat 7,2 % populasi usia lanjut 60 tahun keatas mengalami demensia
(Depkes RI, 2001).

Beberapa faktor resiko yang berkaitan dnegan demensia adalah aktivitas


fisik dan aktivitas kognitif (Depkes RI, 2001).

Aktivitas untuk mengisi waktu

luang pada lansia dapat menurunkan risiko demensia. Jenis aktivitas yang
dilakukan melibatkan fungsi kognitif dan fisik. Pada lansia yang melakukan
aktivitas fisik dan melibatkan aktivitas kognitif dapat menurunkan risiko terjadinya
demensia (Verghese dkk, The New England Journal of Medicine, 2003).
Penelitian yang dilakukan oleh dr.R.W.Bowers dari Universitas Bowling Green
menunjukan

bahwa setelah 10 minggu jogging, pada mereka yang semula

hanya duduk dan diam saja ternyata meningkatkan daya ingat dan daya pikir
yang lebih tajam.
Pada penderita demensia terjadi penuruan daya ingat terutama memori
jangka pendek, perubahan kepribadian yang bermanfestasi menjadi perilaku
yang tidak sopan, kurangnya interaksi social, depresi, paranoid dan lain
sebagainya. Selain itu, terdapat juga perubahan dalam cara mempertimbangkan
dan mempersepsikan sesuatu, kemampuan berbahasa dan motorik. Hal ini
sangat berpengaruh sekali terhadap peningkatan kualitas hidup pada lansia.
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai


berikut Apakah terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan penurunan
kejadian demensia pada usia lanjut?
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui apakah ada hubungan atau keterkaitan antara aktivitas
fisik dan aktivitas fisik santai dengan kejadian demensia pada usia lanjut.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi pengaruh penurunan daya ingat (demensia) melalui
aktivitas fisik di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Jember
b. Menganalisis aktivitas santai di waktu luang dan resiko demensia pada
usia lanjut.

D. Manfaat Sintesis
1. Bagi keperawatan gerontik

Diharapkan penelitian ini dapat menjadi salah satu informasi dan


referensi bagi dunia keperawatan gerontik dalam membantu dan menangani
masalah demensia pada usia lanjut, sehingga kejadian demensia bisa lebih
berkurang.
2. Bagi peningkatan kompetensi perawat
Diharapkan penelitian ini bisa dijadikan salah satu referensi bagi
perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan bagi usia lanjut dengan
beberapa aktivitas fisik yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing
lansia.
E. Hasil Sintesis Jurnal
1. Uraian Hasil Analisis Jurnal

Jurnal 1
Effendi AD, Mardiajana A, Dewi R . 2014. Hubungan antara Aktivitas Fisik dan
Kejadian demensia pada Lansia di UPT pelayanan Sosial Lanjut Usia
Jember. Jember : e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol . 2 (no. 2), Mei 2014
a. Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain
cross sectional. Populasi adalah lansia yang berada di UPT pelayanan
Sosial Lanjut Usia Jember dengan kriteris inklusi sebagai berikut :
1) Lansia yang bersedia menjadi responden
2) Lansia yang berada di UPT pelayanan Sosial Lanjut Usia Jember

saat penelitian berlangsung


3) Lansia yang dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia
atau bahasa jawa atau bahasa Madura.
Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling,
yaitu metode pengambuloan sampel yang didasarkan pada suatu
pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri
atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya kemudian
menetapkan berapa besar jumlah sampel.

Penelitian dilakukan pada

februari

kuisioner

2014

menggunakan

pengisian

dengan

teknik

wawancara serta memberikan penjelasan singkat kepada sampel


penelitian. Instrument penelitian menggunakan MMSE (Mini Mental state

Examination) yang berfungsi untuk mengukur tingkat demensia pada


responden. MMSE terdiri dari 11 pertanyaan dan setiap pertanyaan
memiliki bobot tersendiri dengan nilai maksimal 30. Untuk MMSE tidak
demensia 27-30, kemungkinan demensia 22-26, pasti demensia <21.
b. Tujuan

Tujuan dari penelitian ini yaitu peneliti ingin mengetahui apakah ada
hubungan antara aktivitas fisik dengan peneurunan kejadian demensia
pada lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Jember. Penelitian ini
juga bertujuan untuk mengidentifikasi apakah aktivitas fisik berperan
dalam fungsi kognitif sehingga bisa membantu mengurangi demensia atau
kepikunan pada lansia.
c. Hasil Penelitian
Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa responden yang
memiliki aktivitas fisik rendah megalami demensia sejumlah 24 orang.
Responden yang memiliki aktivitas sedang mengalami demensia sejumlah
9 orang dan responden yang memiliki aktivitas tinggi mengalami demensia
sejimlah 5 orang. Penelitian ini menunjukan aktivitas fisik berperan dalam
fungsi kognitif. Kaitannya denga aktivitas fisik adalah adanya gerak.
Bergerak menyiapkan otak untuk berfungsi secara optimal. Dengan
bergerak, aliran darah ke otak lebih tinggi sehingga suplai nutrisi lebih
terpenuhu khususnya oksigen dan glukosa nuntuk membantu
meningkatkan daya ingat dan berpikir. Aktivitas kecil seperti jalan kaki, lari
kecil berpengaruh terhadap lobus frontalis otak, area yang berpengaruh
pada konsentrasi mental, perencanaan dan pengambilan keputusan.
Seseorang yang mendapat latihan fisik memperlihatkan kebugaran
motorik, kinerja akademik dan sikap yang lebih baik dibandingkan dengan
seseorang yang tidak mendapatkan latihan fisik. Dengan melakukan
laihan fisik dapat juga meningkatkan atensi dan motivasi dengan cara
meningkatkan kadar dopamine dan norepinefrin. Aktivitas fisik dapat
meningkatkan aliran darah ke otak yang menyebabkan stimulasi ke area
otak yang membantu pembentukan memori.

Tabel diatas menunjukkan bahwa responden yang memiliki aktivitas fisik rendah sejumlah 24 orang
mengalami demensia. Pada responden yang memiliki aktivitas fisik sedang sejumlah 9 orang
mengalami kemungkinan demensia dan sejumlah 5 orang mengalami demensia. Pada responden
yang memiliki aktivitas fisik tinggi sejumlah 5 orang tidak mengalami demensia.
d. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa


aktivias fisik mampu meningkatkan memori, dan fungsi kognitif lainnya
sehingga mengurangi kejadian demensia pada lansia sehingga terdapat
hubungan antara aktivitas fisik dan kejadian demensia pada lansia di Upt
Pelayanan Sosial Lanjut Usia Jember. Dari total keseluruhan ada 43
responden, sebagian besar memiliki aktivitas rendah, dan sebegian besar
mengalami demensia. Hanya 5 responden dengan aktivitas tinggi dan
tidak mengalami demensia.

Jurnal 2
Verghese J, Lipton BR, Katz MJ, Hall CB, Derby CA, Kusiansky G, Ambrose
AF, Sliwinski M, and Buschke H. 2003. Leisure Activities and the Risk of
Dementia in the Elderly. England : The New England Journal of Medicine

a. Metode Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan jenis prospektif (prospective cohort)


dengan melibatkan 488 subjek antara tahun 1980 sampai 1983. Subjek
menjalani evaluasi klinis dan neuropsikologi saat pendaftaran pertama
kali. Kemudian dari keseluruhan subjek awal didapatkan 469 subjek yang
di teliti dan memnuhi kriteria. Kriteria eksklusi meliputi kerusakan parah
penglihatan atau pendengaran, dan diagnosis sebelumnya misalkan
penyakit Parkinson idiopatik, penyakit hati, Alzheimer, alkoholisme atau
penyakit terminal liannya dengan kelompok usia diatas 75 tahun yang
tinggal di masyarakat dan tidak memiliki demensia. setelah 3 tahun
menjalani proses penyaringan dan sebelum akhirnya didapatkan 469
responden, sebelumnya telah dilakukan kunjungan tindak lanjut selama 12
sampai 18 bulan. Masa studi potensi dalam periode 21 tahun yakni dari
tahun 1980 sampai tahun 2001. Namun ada dua mata pelajaran yang
tidak di ikutsertakan dalam kegiatan rekreasi
Selama studi berlangsung, subjek diwawancarai menggunakan
kuisioner medis terstruktur dan di periksa oleh dokter. Tes neuropsikologi
diberikan pada saat kinjungan studi yaitu dengan Blessed Information
MemoryConcentration test (rata-rata skor, 0 sampai 33), the verbal and
performance IQ according to the Wechsler Adult Intelligence Scale, the
Fuld Object-Memory Evaluation (rata-rata skor, 0 sampai 10), dan the
Zung

depression

scale

(rata-rata

skor, 0

sampai

100)

.Peneliti

menganalisis frekuensi partisipasi subjek dalam kegiatan rekreasi. Desain


penelitian menggunakan studi cross sectional dengan meengamati status
kognitif partisipan dan aktivitas fisik dalam kegiatan rekreasi. Studi
observasional juga menilai bahwa lansia dengan partisipasi yang tinggi
dalam kegiatan rekreasi memiliki risiko demensia yang rendah bila
dibandingkan dengan lasia yang partisipasi dalam kegiatan rendah. Coc
Proportional dan analisis bahaya digunakan untuk mengevaluasi risiko
demensia menurut tingkatan dasar dari pasrtisipasi dalam kegiatan
rekreasi yang disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan,
ada atau tidaknya penyakit kronis yang di derita lansia dan status kognitif.

b. Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menemukan


insidensi atau kejadian demensia pada lansia diatas 75 tahun dengan
aktivitas santai di waktu luang.selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk
menilai apakah peningkatan partisipasi dalam kegiatan aktivitas fisik
dalam kegiatan rekreasi ini dapat membantu menurunkan risiko demensia
atau bahkan partisipasi dalam kegiatan ini rekreasi menurun selama fase
praklinis demensia.
c. Hasil penelitian

Hasil penelitian menunjukan bahwa partisipasi aktif lansia dalam


kegiatan rekreasi memberikan dampak positif yang signifikan terhadap
penuruan risiko demensia. ada dua kegiatan yang dilakukan selama
periode rekreasi berlangsung, yakni aktifitas yang berkaitan dengan fungsi
kognitif eperti membaca, menonton TV, menulis, berdiskusi dan mengisi
teka-teki silang. Sementara aktivitas lainnya adalah aktivias fisik seperti
berdansa, berjalan, bersepeda, berenang dll. Dari kedua aktivitas ini
ternyata aktivitas yang berkaitan dengan fungsi kognitif lebih signifikan
terhadap rendahnya risiko demensia pada lansia.

Table 2. Risk of Development of Dementia According to the Frequency of


Participation in Individual Leisure Activities at Base Line.*
Subjects
Hazard Ratio with
All
for
Dementia
Leisure Activity and Frequency Dementia
Subjects
(95 % CI )
no.
Cognitive activities
Playing board games
Rare 108
366

1.00

Frequent
16
103
Reading
Rare 40
87
1.00
Frequent
84
382
Playing a musical instrument
Rare 120
452
1.00
Frequent
4
17
Doing crossword puzzles
Rare 117
407
1.00
Frequent
7
62
Writing
Rare 104
382
1.00
Frequent
20
87
Participating in group discussions
Rare 117
437
1.00
Frequent
7
32
Physical activities
Dancing
Rare 99
339
1.00
Frequent
25
130
Doing housework
Rare 39
106
1.00
Frequent
85
363
Walking
Rare 19
65
1.00
Frequent
105
404
Climbing stairs
Rare 44
153
1.00
Frequent
80
316
Bicycling
Rare 116
443
1.00
Frequent
8
26
Swimming
Rare 108
386
1.00
Frequent
16
83
Playing team games
Rare 120
450
1.00
Frequent
4
19
Participating in group exercise
Rare 88
330
1.00
Frequent
36
139
Babysitting
Rare 114
429
1.00
Frequent
10
40

0.26 (0.170.57)

0.65 (0.430.97)

0.31 (0.110.90)

0.59 (0.341.01)

1.00 (0.611.67)

1.06 (0.482.33)

0.24 (0.060.99)

0.88 (0.601.20)

0.67 (0.451.05)

1.55 (0.962.38)

2.09 (0.974.49)

0.71 (0.222.29)

1.00 (0.147.79)

1.18 (0.721.94)

0.81 (0.116.01)

d. Kesimpulan

Kesimpulan penelitian ini adalah selama studi yang dilakukan dalam kurun
waktu 21 tahun adalah adanya hubungan yang signifikan antara partisipasi tinggi
lansia dalam kegiatan rekreasi dan penurunan risiko demensia, baik untuk
penyakit Alzheimer dan demensia vaskuler. Frekuensi partisipasi juga sangat
pening berpengaruh terhadap status kognitif lansia, misalnya lansia dengan
frekuensi tinggi membaca Koran memiliki risiko demensia yang rendah bila
dibandingkan dengan lansia yang hanya satu minggu sekali membaca Koran.

2. Hasil Sintesis (Uraian hasil dari kedua jurnal menjadi satu kesimpulan)

Berdasarkan hasil penelitian dari kedua jurnal, dapat saya tarik kesimpulan
hasil bahwa aktivitas yang dilakukan lansia dalam kegiatan sehari-hari baik
aktivitas fisik seperti lari pagi, berjalan kaki, berenang, bersepeda dll dan aktivitas
dalam kegiatan rekreasi seperti membaca koran, menulis, mengisi teka-teki silang
juga berpengaruh terhdap status kognitif lansia. Kedua aktivitas ini memberikan
dampak yang signifikan terhadap penuruan risiko kejadian demensia pada lansia
khususnya.
F. Implikasi Keperawatan (berdasarkan hasil)

Implikasi yang dapat diterapkan dari kedua penelitian ini bahwa, aktivitas fisik
baik yang berisfat santai maupun aktiitas fisik seperti berjalan kaki, bersepeda dll
memiliki dampak positif terhadap penrinan risiko dan kejadan demensia pada lansia.
Sehingga, baik pelayanan kesehatan maupun pelayanan sosial bisa menerapkan dua
aktivitas ini dalam membantu mengurangi insidensi atau angka kejadian demensia pada
lansia.
G. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dari kedua jurnal ini adalah aktivitas fisik yang
dilakukan lansia dalam kegiatan sehari-hari dengan frekuensi tinggi mampu
mengurangi risiko dan kejadian demensia pada lansia.

DAFTAR PUSTAKA
Hidayati, Dian Fitria. 2012. Hubungan Aktivitas Fisik dan Aktivitas Kognitif terhadap
Kejadian Demensia pada Lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun 2012. Jakarta :
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
WHO. 2005. Neurology : Age And Dementia [Online] [Cited 2016 Des 22]. Available
from : URL http://who.int/en

Departemen Kesehatan RI . 2001. Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bagi


Petugas Kesehatan. Jakarta : Direktorat Bina Kesehatan Keluarga
Effendi AD, Mardijana A, dewi R. 2014. Hubungan Antara Aktivitas Fisik dan Kejadian
Demensia pada Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Jember. Jember : e-Jurnal
Pustaka Kesehatan, vol.2 (no.2), Mei 2014
Verghese J, Lipton RB, Katz MJ at al. 2003. Leisure Activities and the Risk of Dementia
in the Elderly. England : The New England Journal of Medicine [Cited 2016 Des 19].
Available From : URL http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa022252