Anda di halaman 1dari 15

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Kacang tanah merupakan salah satu sumber pangan yang cukup penting
di Indonesia, yaitu sebagai sumber protein nabati. Kacang tanah juga sangat
penting untuk dikembangkan karena dari segi produktivitasnya, kacang tanah
yang dibudidayakan di Indonesia masih rendah, yaitu hanya sekitar 1 ton/ha.
Tingkat produktivitas hasil yang dicapai ini baru setengah dari potensi hasil
apabila dibandingkan dengan USA, China, dan Argentina yang sudah mencapai
lebih dari 2.0 ton/ha (Adisarwanto, 2000).
Kebutuhan kacang tanah domestik belum bisa dipenuhi dari produksi
dalam negeri pada saat ini. Indonesia masih memerlukan substitusi impor dari luar
negeri. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka produksi kacang tanah
nasional harus ditingkatkan. Dalam rangka mencukupi kebutuhan kacang tanah
tersebut, pemerintah terus berupaya meningkatkan jumlah produksi melalui
intensifikasi, perluasan areal tanaman, dan peningkatan produktivitas per satuan
lahan (Pitojo, 2005).
Pupuk organik adalah nama kolektif untuk semua jenis bahan organik
asal tanaman dan hewan yang dapat dirombak menjadi hara tersedia bagi
tanaman. Dalam Permentan No.2/Pert/Hk.060/2/2006, tentangpupuk organik dan
pembenah tanah dikemukakan bahwa pupuk organik adalah pupuk yang sebagian
besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman atau
hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang
digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan
biologi tanah. Definisi tersebut menunjukkan bahwa pupuk organik lebih
ditujukan kepada kandungan C-organik atau bahan organik dari pada kadar
haranya. Dengan melihat padanilai C-organiknya yang menjadi pembeda dengan
pupuk anorganik. Bila C-organik rendah dan tidak masuk dalam ketentuan pupuk
organik maka diklasifikasikan sebagai pembenah tanah organik (Saraswati, dkk,
1998).

B. Tujuan
1. Tujuan dari praktikum ini adalah mempelajari dan mempraktekan penerapan
teknoogi budidaya kacang Tanah

II.

TINJAUAN PUSTAKA
A. Deskripsi Kacang Tanah

Tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea, L.) merupakan tanaman yang


berasal dari benua Amerika, khususnya dari daerah Brazilia (Amerika Selatan).
Awalnya kacang tanah dibawa dan disebarkan ke benua Eropa, kemudian
menyebar ke benua Asia sampai ke Indonesia (Purwono dan Purnamawati, 2007).
Dalam dunia tumbuhan, tanaman kacang tanah diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Rosales

Famili

: Papilionaceae

Genus

: Arachis

Spesies

: Arachis hypogaea, L.

Tanaman kacang tanah dapat tumbuh pada daerah tropik, subtropik, serta
daerah temperate pada 40oLU-40oLS. Persyaratan mengenai tanah yang
cocok bagi tumbuhnya kacang tanah tidaklah terlalu khusus. Syarat yang
terpenting adalah bahwa keadaan tanah tidak telalu kurus dan padat. Kondisi
tanah yang mutlak diperlukan adalah tanah yang gembur. Kondisi tanah yang
gembur akan memberikan kemudahan bagi tanaman kacang tanah terutama dalam
hal perkecambahan biji, kuncup buah, dan pembentukan polong yang baik.
Tanaman kacang tanah menghendaki keadaan pH tanah sekitar 6-6.5 (Aak, 1989).
Menurut Maesen dan Somaatmadja (1992) kacang tanah menghendaki
keadaan iklim yang panas tetapi sedikit lembab, yaitu rata-rata 65-75% dan curah
hujan tidak terlalu tinggi, yaitu sekitar 800-1300 mm/tahun. Pada waktu berbunga
tanaman kacang tanah menghendaki keadaan yang cukup lembab dan cukup

udara, sehingga kuncup buah dapat menembus tanah dengan baik dan
pembentukan polong dapat berjalan secara leluasa, sedangkan pada saat buah
kacang tanah menjelang tua, tanah harus diupayakan menjadi kering. Apabila
tanah terlalu basah, sebagian buah kacang tanah akan tumbuh di lahan
penanaman, bahkan sebagian buah kacang akan membusuk dan kualitasnya bisa
menjadi kurang baik. Daerah yang paling cocok untuk tanaman kacang tanah
adalah daerah dataran dengan ketinggian 0-500 meter di atas permukaan laut.
Disamping itu, tanaman kacang tanah menghendaki sinar matahari yang cukup.
Suhu optimum untuk pertumbuhan kacang tanah adalah 30oC dan pertumbuhan
akan terhambat pada suhu 15oC.
B. Fase Pertumbuhan Kacang Tanah
Penandaan fase tumbuh kacang tanah didasarkan pada pertumbuhan
jumlah buku pada batang utama dan perkembangan bunga hingga menjadi polong
masak, serta buku-buku pada batang utama yang telah berkembang penuh. Fase
vegetatif berlangsung sejak biji berkecambah hingga kanopi (tajuk) mencapai
maksimum. Penandaan fase reproduktif ditandai dengan adanya bunga, buah dan
biji. Pembungaan pada kacang tanah dimulai pada hari ke-27 sampai ke-32 setelah
tanam yang ditandai dengan munculnya bunga pertama. Jumlah bunga yang
dihasilkan setiap harinya akan meningkat sampai maksimum dan menurun
mendekati nol selama periode pengisian polong. Ginofor (tangkai kepala putik)
muncul pada hari ke-4 atau ke-5 setelah bunga mekar, kemudian akan
memanjang, serta menuju dan menembus tanah untuk memulai pembentukan
polong. Pembentukan polong dimulai ketika ujung ginofor mulai membengkak,
yaitu pada hari ke-40 hingga hari ke-45 setelah tanam atau sekitar satu minggu
setelah ginofor masuk ke dalam tanah (Trustinah, 1993).
C. Pupuk
Pupuk merupakan suatu bahan yang diberikan pada tanaman baik secara
langsung maupun tidak langsung untuk mendorong pertumbuhan tanaman,
meningkatkan produksi atau memperbaiki kualitasnya sebagai akibat perbaikan
nutrisi tanaman (Leiwakabessy dan Sutandi, 2004). Pupuk dapat digolongkan
4

kedalam senyawa organik maupun anorganik yang dapat terdiri dari satu atau
lebih unsur hara
1. Pupuk Kandang
Pupuk kandang merupakan campuran bahan organik yang berasal dari
kotoran padat, urin, dan sisa makanan. Susunan kimia pupuk kandang berbeda di
setiap tempat. Susunan tersebut tergantung dari macam ternak, umur dan keadaan
hewan, serta cara mengurus dan menyimpan pupuk sebelum dipakai (Soepardi,
1983).
Menurut

Sarief

(1986),

pupuk

kandang

memiliki

keunggulan

dibandingkan dengan pupuk lain, yaitu; 1. Merupakan humus yang dapat menjaga
tanah sehingga tanah mudah diolah dan terisi banyak oksigen, 2. Sebagai sumber
hara makro (nitrogen, fosfor, dan kalium), 3. Meningkatkan daya menahan air
(water holding capacity), 4. Banyak mengandung mikroorganisme. Semua
keunggulan pupuk kandang tersebut membuat pupuk kandang dianggap sebagai
pupuk yang lengkap. Pupuk kandang dapat berasal dari: sapi, kuda, kambing,
babi, unggas dan lain-lain. Tabel 1 menunjukan perbandingan komposisi unsur
hara dari beberapa sumber pupuk kandang yang telah siap pakai.
2. Pupuk Anorganik
Pupuk anorganik adalah bahan yang berisi unsur yang dibutuhkan
tanaman dengan kadar hara tinggi. Menurut jenis unsur hara yang dikandungnya,
pupuk anorganik dapat dibagi menjadi dua, yakni pupuk tunggal dan pupuk
majemuk. Pada pupuk tunggal, jenis unsur hara yang dikandungnya hanya satu
macam, biasanya berupa unsur hara makro primer. Pupuk majemuk adalah bahan
yang mengandung lebih dari satu jenis unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
Beberapa contoh pupuk anorganik adalah urea, TSP, dan NPK (Lingga dan
Marsono, 2001).

III.

MATERI DAN METODE PELAKSANAAN


A. Tempat dan Waktu

Kegiatan praktikum budidaya kacang tanah dilakukan di kebun


percobaan Gunung Bulu Universitas Mercu Buana Yogyakarta, dari tanggal 16
April 2016 sampai 2 Juni 2016
B. Bahan dan Alat
1. Bahan :
- Benih Kacang Tanah
- Pupuk kandang
- Pupuk anorganik ( Urea, SP-36, KCl)
- Furadan 3G
2. Alat :
- Cangkul
- Gembor
- Koret
- Sabit
- Tugal
- Ember
- Penggaris
- Alat Tulis
- Tali Rafia
C. Cara kerja
1. Persiapan lahan
- Membuat bedengan dengan ukuran 2 m x 2 m.
- Tanah diolah dengan cangkul (kedalaman olah 15-20 cm) kemudian di
haluskan dan diratakan.

2. Pemupukan
- Pupuk yang digunakan adalah Urea 40 kg/ha, SP-36 125 kg/ha, KCl 40 kg/ha
diberikan pada saat tanam secara larikan dengan membuat parit sekitar 7-10
cm disamping lubang tanam sedalam 3 cm.
- Perlakuan pemupukan yaitu pupuk kandang 10 ton/ha, 25 ton/ha, 35 ton/ha
3. Penanaman
- Pembuatan lubang tanam dengan kedalaman 3 cm, benih dimasukkan dalam
lubang (2 butir) kemudian tutup dengan tanah tipis
6

4. Pemeliharaan
- Penyulaman : Penyulaman dilakukan jika ada tanaman yang mati/tidak
-

tumbuh (paling lambat 1 minggu setelah tanam)


Penjarangan : Penjarangan atau mengurangi tanaman per lubang tanam
dilakukan pada umur 14 HST dengan mencabut tanaman dan menyisakan

satu tanaman per lubang yang baik pertumbuhannya.


Penyiangan : Dilakukan sebelum tanaman berbunga dengan alat koret atau

langsung dicabut.
Pembumbunan : Dilakukan dengan cara mengumpulkan tanah sekitar

tanaman sehingga membentuk gundukan


Pengairan : Pengairan terutama dilakukan pada periode kritis tanaman yaitu
pada pertumbuhan awal (hingga umur 15 hari), awal berbunga( umur 28
hari), pembentukan dan pengisian polong (umur 50 hari), dan awal

pemasakan (umur 75 hari)


Pengendalian hama dan penyakit, jenis dan dosis pestisida yang digunakan
disesuaikan dengan jenis hama/ penyakit yang menyerang. Hama utama
kacang tanah antara lain seperti wereng kacang tanah (Empoasca spp),
penggerek daun (Heliotis armigera), ulat jengkal (Plusia chalcites),dan ulat
grayak (Spodooptera litura). Hama-hama tersebut dapat dikendalikan dengan
insektisida endosulfan, klorfirifos, monokrotofos, metamidofos, diazinon.
Sebagai pencegahan dapat diaplikasikan pada umur 25, 35 dan 45 hari.
Sedangkan penyakit utama kacang tanah seperti layu bakteri (Pseudomonas
solanacearum),bercak daun (leafspot),karat daun (Puccinia arachidis).
Pengendalian dapat dilakukan dengan menanam varietas yang tahan/
menyemprotkan fungisida benomil, mankozeb, bitertanol, karbendazim, atau
klorotalonil. Sebagai pencegahan dapat diaplikasikan pada umur 35, 45 dan

60 hari.
5. Panen dan pasca panen
- Umur panen tergantung pada varietas. Ciri-ciri tanaman kacang tanah siap
panen: daun menguning dan sebagian berguguran, kulit polong mengeras,
berserat, bagian dalam berwarna coklat, jika ditekan polong mudah pecah.
- Perontokan polong kemudian dikeringkan hingga kadar air 12 %, ditandai
dengan terkelupasnya kulit ari.
D. Pengamatan

Pengamatan dilakukan dengan cara mengambil 5 sampel tanaman/ petak


dan 2 tanaman kurban, variabel yang diamati meliputi:
1. Tinggi tanaman (cm)
Pengamatan dilakukan mulai umur 7 HST sampai fase saat berbunga dengan
interval 1 minggu sekali (tinggi batang utama sampai titik tumbuh).
2. Jumlah cabang
Pengamatan dilakuakan dengan cara menghitung jumlah cabang per tanaman,
dilakukan pada saat tanman berbunga.
3. Bobot kering tanaman (gr)
Pengamatan dilakukan dengan cara brangkasan tanaman kurban yang telah
ditimbang bobot segarnya kemudian di oven dengan suhu 105

C sampai

diperoleh bobot konstan.


4. Mulai berbunga
Pengamatan dilakukan ketike sudah ada minimal 1 tanaman berbunga.
5. Jumlah polong total per tanaman
Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah seluruh polong yang terbentuk,
baik yang isi maupun hampa.
6. Jumlah polong isi per tanaman
Pengamatan dilakukan dengan cara menghitung jumlah polong isi atau bernas/
tanaman.
7. Bobot biji per tanaman
Pengamatan dilakukan dengan cara menimbang biji per tanaman sampel, yang
sebelumnya polong dikeringkan dengan cara dijemur sampai diperoleh kadar
air biji maksimal 12 %.
8. Bobot 100 biji (gr)
Bobot 100 biji diamati dengan cara menimbang 100 biji kacang tanah dari petak
panen dan penimbangan diulang 3 kali dari biji yang berbeda.
9. Bobot biji per hektar (ton/ha)
Hasil biji per hektar diperoleh dari hasil penimbangan biji petak panen (harvest
area) yang dikonversikan ke ton per hektar.
Bobot biji ( gr )
1
1
x 10.000 m2 x
x
2
Hasil (ton/ ha) = Luas petak panen ( m )
1.000 .000 ha

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Dari hasil percobaan budidaya kedelai yang telah dilakukan maka di


peroleh hasih sebagai berikut :
1. Variabel Pertumbuhan
Variabel pertumbuhan yang diamati pada budidaya kacang tanah yaitu
tinggi tanaman. Pengamatan pada variable ini menggunakan 5 (lima) sampel
dimulai pada minggu ke-2 setelah tanam sampai dengan pada minggu ke-5 mst.
Perlakuan yang digunakan pada budidaya tanaman kedelai ini meliputi perlakuan
pemupukan Pupuk Kandang 15 ton/ha (K1); perlakuan pemupukan Pupuk
Kandang 25 ton/ha (K2) dan Pupuk Kandang 35 ton/ha (K3). Analisis data
mengenai variable pertumbuhan kacang kedelai terdapat pada Lampiran.
Tabel 1.1 Pertumbuhan tinggi tanaman kacang kedelai pada umur
2MST, 3MST, 4MST dan 5MST
Perlakuan

Rata-rata tinggi tanaman kacang tanah umur


2 MST
(cm)

Pupuk Kandang 15
ton/ha (K1)
Pupuk Kandang 25
ton/ha (K2)
Pupuk Kandang 35
ton/ha (K3)

3 MST
(cm)

4 MST
(cm)

5 MST
(cm)

6,6

9,2a

12,8

21,4

6,9

9,4b

13,6

24

6,1

12,82b

17,4

25,8

Keterangan:
- Angka yang tidak diikuti dengan notasi huruf berarti tidak terdapat beda
nyata antar perlakuan dengan uji Analisis varian (Anova).
- Angka yang diikuti notasi huruf sama berarti tidak terdapat perbedaan
antar perlakuan dengan uji lanjut DMRT taraf 5%

Tabel 1.2 Jumlah daun tanaman kacang tanah pada umur


2MST, 3MST, 4MST dan 5MST
Perlakuan

Rata-rata jumlah daun kacang tanah umur


2 MST
(cm)

Pupuk Kandang 15
ton/ha (K1)
Pupuk Kandang 25
ton/ha (K2)
Pupuk Kandang 35
ton/ha (K3)

3 MST
(cm)

4 MST
(cm)

5 MST
(cm)

6,8a

17,4

28a

32,2a

3,8b

5,4

18,4b

20,8b

4,6b

5,4

6,4c

7c

Keterangan:
- Angka yang tidak diikuti dengan notasi huruf berarti tidak terdapat beda
nyata antar perlakuan dengan uji Analisis varian (Anova).
- Angka yang diikuti notasi huruf sama berarti tidak terdapat perbedaan
antar perlakuan dengan uji lanjut DMRT taraf 5%.
2. Variabel Tanaman Korban
Variabel tanaman korban yang diamati pada budidaya kacang tanah
meliputi berat segar, berat kering, jumlah bintil akar per rumpun dan jumlah bintil
akar produktif per rumpun. Pengamatan pada variable ini yaitu menggunakan 2
(dua) tanaman korban dilakukan pada saat tanaman sudah 50% berbunga. Analisis
data mengenai variable hasil kedelai terdapat pada Lampiran.
Tabel 1.3 Rata-rata variable hasil berat segar, berat kering, jumlah bintil akar
per rumpun dan jumlah bintil akar efektif per rumpun
Rata-rata variabel hasil
Perlakuan

Pupuk
Kandang 15
ton/ha (K1)
Pupuk
Kandang 25
ton/ha (K2)

Berat
Segar

Berat
Kering

Jumlah bintil
akar/rumpun

Jumlah bintil
akar
produktif/rumpu
n

85,5

19,4

90

90

50,2

16,7

71,5

71,5

10

Pupuk
Kandang 35
ton/ha (K3)
53,85
22,65
74,5
74,5
Keterangan :
- Angka yang tidak diikuti dengan notasi huruf berarti tidak terdapat beda
nyata antar perlakuan dengan uji Analisis varian (Anova).
- Angka yang diikuti notasi huruf sama berarti tidak terdapat perbedaan
antar perlakuan dengan uji lanjut DMRT taraf 5%.
3. Variabel Hasil Panen
Variabel tanaman korban yang diamati pada budidaya kacang tanah
meliputi bobot polong, jumlah polong dan harvest area. Pengamatan pada variable
ini menggunakan 5 (lima) sampel dimulai pada minggu ke-2 setelah tanam sampai
dengan pada minggu ke-5 mst. Analisis data mengenai variable hasil kedelai
terdapat pada Lampiran.
Tabel 1.4 Rata-rata variable hasil berat segar, berat kering, jumlah bintil akar
per rumpun dan jumlah bintil akar efektif per rumpun
Rata-rata variabel hasil
Perlakuan

Bobot
Polong

Jumlah
Polong

Harvest Area

Pupuk
Kandang 15
ton/ha (K1)
15,26
9
86,73
Pupuk
Kandang 25
ton/ha (K2)
21
11,8
68,25
Pupuk
Kandang 35
ton/ha (K3)
13,38
9,4
55,45
Keterangan :
- Angka yang tidak diikuti dengan notasi huruf berarti tidak terdapat beda
nyata antar perlakuan dengan uji Analisis varian (Anova).
- Angka yang diikuti notasi huruf sama berarti tidak terdapat perbedaan
antar perlakuan dengan uji lanjut DMRT taraf 5%.

11

B. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan praktikum kacang tanah, pada variabel
pertumbuhan ada beda nyata untuk parameter tinggi tanaman pada umur kacang
tanah 3 MST dan jumlah daun pada umur 2 MST, 4 MST, dan 5 MST hal ini
disebabkan karena pupuk kandang yang mengandung unsur N yang berpengaruh
pada pertumbuhan tinggi tanaman, pendapat saya di perkuat Marsono dan Sigit
(2008) menyatakan bahwa Hal tersebut diduga karena pupuk kandang ayam
memberikan nitrogen yang cukup untuk digunakan tanaman agar dapat tumbuh.
Pupuk kandang ayam memiliki kandungan N yang tinggi selain itu juga terdapat
unsur hara P dan K. Marsono dan Sigit (2008) menyatakan bahwa pupuk kandang
yang berasal dari kotoran ayam padat mengandung 0.40% N, 0.10% P, dan 0.45%
K, sedangkan kotoran ayam cair mengandung 1.00% N, 0.80% P, dan 0.40% K.
Untuk parameter jumlah daun ada beda nyata pada jumlah daun kacang tanah 2
MST, 4 MST dan 5 MST. Pupuk kandang merupakan salah satu pupuk yang
lengkap, karena mengandung hampir semua unsur hara dibutuhkan pada masa
pertumbuhan vegetatif seperti batang, daun dan pertumbuhan vegetatif seperti
bunga dan dalam pemasakan biji (Kasno 2005).
Pada pengamatan tanaman korban tidak ada beda nyata untuk parameter
berat segar, berat kering, jumlah bintil per akar per rumpun, jumlah bintil akar
produktif per rumpun. Dan untuk variabel hasil panen tidak ada beda nyata pada
parameter bobot polong , jumlah polong dan harvest area Tidak berpengaruhnya
jumlah polong bernas diduga karena kandungan unsur hara di dalam dosis pupuk
kandang sangat sedikit, sehingga proses pengisian polong kurang sempurna. Hal
ini sesuai dengan pendapat Naab (2009), yang menyatakan bahwa tanaman
kacang tanah memerlukan P, Ca dan S dalam jumlah yang besar untuk
pembentukan polong dan peningkatan kualitas minyak dalam biji. Tanaman yang
kekurangan unsur hara akan terganggu proses metabolisme sehingga akan
menghambat pertumbuhan dan hasil tanaman (Agustina 2006). Hal ini sesuai
dengan pendapat Lakitan (1995), bahwa proses pengisian polong sangat
dipengaruhi oleh jumlah hara yang tersedia di sekitar tanaman. Proses pengisian

12

polong akan berjalan sempurna jika hara P berada dalam jumlah yang cukup dan
tersedia (Dartius 1990). Bobot polong per tanaman diamati pada saat panen.
Berdasarkan analisis ragam, pemberian beberapa jenis pupuk organik tidak
menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap bobot polong per tanaman yang
dihasilkan Kandungan bokashi dari kotoran ayam merupakan pupuk lengkap,
yang mengandung unsur hara makro dan mikro. Unsur P yang terkandung lebih
besar dibanding pupuk organik yang lain. Kandungan unsur hara bokashi dari
kotoran ayam adalah nitrogen (N) sebesar 1,0%, fosfor (P) 0,8%, kalium (K) 0,4%
dan air 55%, serta mengandung Ca, Mg, dan sejumlah unsur mikro lainnya seperti
Fe, Cu, Mn, Zn, B, Cl, dan Mo, yang berfungsi sebagai bahan makanan bagi
pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Lingga, 1998).

13

V.

KESIMPULAN

Berdasarkan pengamatan hasil praktikum kacang tanah dapat diambil


kesimpulan

1. Untuk variabel pertumbuhan Tidak ada beda nyata pada parameter tinggi
tanaman pada umur 2 MST, 4 MST dan 5 MST, tetapi ada beda nyata pada
umur 3 MST. Tidak ada beda nyata pada parameter jumlah daun pada
umur 3 MST, namun ada beda nyata pada umur 2 MST, 4 MST, dan 5
MST hal ini di pengaruhi oleh unsur N pada pupuk kandang.
2. untuk variabel tanaman korban tidak ada beda nyata pada parameter berat
segar, berat kering, jumlah bintil akar per rumpun dan jumlah bintil akar
per rumpun produktif per rumpun.
3. Untuk variabel hasil panen tanaman kacang tanah tidak ada beda nyata
pada parameter bobot polong , jumlah polong karena kacang tanah
memerlukan P, Ca dan S dalam jumlah yang besar untuk pembentukan
polong.

14

DAFTAR PUSTAKA
Aak. 1989. Kacang Tanah. Kanisius. Girisonta. 84 hal.
Adisarwanto, T. 2000. Meningkatkan Produksi Kacang Tanah di Lahan Sawah dan
Lahan Kering. Penebar Swadaya. Malang. 88 hal
Agustina. 2006. Nutrisi Tanaman. Jakarta : Rineka Cipta.
Dartius.1990. Fisiologi Tumbuhan. Fakultas Pertanian Sumatera Utara, Medan.
Kasno, A., Winarto dan Sunardi 2005. Kacang Tanah. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman
Pangan. Malang : Balai Penelitian Tanaman Pangan.
Lakitan B. 1995. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : Rajawali Pers.
Leiwakabessy, F. M. dan A. Sutandi. 2004. Pupuk dan Pemupukan. Departemen
Tanah. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 208 hal.
Lingga, P . 1998. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Jakarta : Penebar Swadaya.
Maesen, V. and S.Somaatmadja. 1992. Plant Resources of South East Asia No.1
Pulses. Prosea Foundation. Bogor.
Marsono dan P. Sigit. 2008. Pupuk Akar. Jakarta : Penebar Swadaya.
Naab. 2009. Pengaruh Pemberian Bahan Organik Terhadap Ketersediaan Unsur
Hara Mikro pada Tanah. [ 20 Agustus 2013].
Pitojo, S. 2005. Benih Kacang Tanah. Kanisius. Yogyakarta. 75 hal.
Purwono, dan H.Purnamawati. 2007. Budidaya 8 Jenis Tanaman Pangan Unggul.
Penebar Swadaya. Bogor.
Saraswati, R., D.H. Goenadi, D.S. Damardjati, N. Sunarlim, R.D.M.
Simanungkalit, dan Djumali Supayani. 1998. Pengembangan Rhizo-pls
untuk Meningkatkan Produksi., Efesiensi Pemupukan Menunjang
Keberlanjutan Sistem Produksi Kedelai, Laporan Akhir Penelitian Riset
Unggulan Kemitraan I Tahun (1995/1996- 1997-1998). Balai Penelitain
Bioteknologi Tanaman Pangan.
Sarief, S. 1986. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana.
Bandung. 180 hal.
Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Jurusan Tanah. Fakultas Pertanian IPB.
Bogor.
Trustinah. 1993. Biologi Kacang Tanah. Hal 9-16. Di dalam Kasno, A., A.Winarto
dan Sunardi (ed). Kacang Tanah. Balai Penelitian Tanaman Malang.
Malang.

15