Anda di halaman 1dari 3

RESUME JURNAL :

Judul jurnal

Latar Belakang

Tujuan

Metodologi

Hasil

Kesimpulan

Rangkuman dan
Hasil Pembelajaran

Accuracy of Total Corneal Astigmatism


MeasurementsWith a Scheimpflug Imager and a
Color Light-Emitting Diode Corneal
Topographer
Tujuan dari mengukur keakuratan total astigmat pada kornea bagian
anterior, posterior serta total dari astigmate dapat mengurangi
astigmate pada pasien operasi katarak dengan menggunakan alat
scheimpflug dan color light emmiting diode corneal topographer
Untuk menilai dan mengukur ke akuratan total astigmate pada
kornea dengan menggunakan scheimpflug imager dan color light
emmiting diode topografi kornea dan membandingkan keakuratan
dari total astigmat cornea pada bagian permukaan anterior
permukaan kornea
Populasi terdiri dari 91 mata dari 91 pasien dengan monofokal, non
toric intraokular lensa (IOLS). Astigmat refraktif diukur
menggunakan ARK-530A autorefraktor. Anterior dan total astigmat
cornea diukur menggunakan pentacam HR dan cassini. Dengan
mengukur keakuratan dari total kornea dengan menggunakan alat
tersebut
Astigmat refraktif 0.84 diopter (D). perbedaan mean panjang
keduanya 0.61 D, 0.58 D, 0.49 D, dan 0.45 D untuk Pentacam
anterior, Cassini anterior, Pentacam total, and Cassini
total kornea astigmatism, respectively. dengan perbedaan panjang
vektor terjadi pengurangan 0.12 and 0.13 D
untuk Pentacam dan Cassini, respectively, jika total dari anterior
astigmat kornea diukur. if the total instead
of anterior corneal astigmatism was measured. Pengurangan ini
secara statistik signifikan (P<.001).
Pentacam lebih akurat dari pada cassini mengukur total astigmat
dari kornea dan lebih tinggi astigmat pada anterior
kornea.mengukur total dari anterior astigmat kornea dapat
mengurangi angka astigmat.
Adanya alat pentacam dan cassini dapat mengukur bagian anterior
dan posterior dari kornea, serta total dari kornea yang adapat diukur
dan lebih akurat dengan menggunakan pentacam sehingga astigmat
dapat dikoreksi maksimal.

RESUME JURNAL :
Judul jurnal

Dominant Eye and Visual Evoked Potential of Patients with Myopic


Anisometropia

Latar Belakang

Dominansi okular didefenisikan sebagai kecenderungan untuk lebih


memilih input visual dari satu mata dalam fiksasi dan fungsi
perseptif, anisometrop atau perbedaan relatif dalam keadaan bias
mata kedua mata adalah umum pada pasien mata. Visual evoked
potensial mengukur respon listrik dari korteks visual utama untuk
rangsangan visual. Sebagai hasil dari dominasi hemispare serebral
korteks visual yang cenderung memilih input visual dari mata
dominan dari mata nondominan

Tujuan

Visual evoked potensial mengukur respon listrik dari korteks visual


utama untuk rangsangan visual. Sebagai hasil dari dominasi
hemispare serebral korteks visual yang cenderung memilih input
visual dari mata dominan dari mata nondominan

Metodologi

prospektif nonrandomized controlled study dilakukan untuk


mengeksplorasi hubungan antara dominasi mata dan derajat miopia
pada pasien dengan anisometropia dan untuk menyelidiki karakter
potensial menimbulkan visual dalam anisometropia lebih tinggi

Hasil

1771 dewasa muda dengan kasus myopia termasuk 790 anisometrop


yang direkrut didapatkan hasil signifikan hungan kedua mata
dominan speris equivalen (SE) refraksi subjektif. Rata-rata pada
anisometrop 1.0-1.75 D,terdapat perbedaan yang signifikan pada
spheris equivalen power dengan non dominant eye, pada kelompok
SE annisometriop lebih signifikan lebih tinggi pada mata dominan
dari pada non dominandengan tingkat. Dengan signifikansi SE
anisometrop 2.5D. tidak ada perbedaan yang signifikan antara
mata dominan dan non dominan.pada study candidat atau pada
anisometrop

Kesimpulan

Hasil ini menunjukan bahwa dengan peningkatan anisometrop pada


mata dominan memiliki kecenderungan bias lebih tinggi dan N75
gelombang latency dari mata dominan adalah lebih lama dari pada
mata dominan di anisometropia tinggi.

Rangkuman dan
Hasil Pembelajaran

Visual evoked potensial mengukur respon listrik dari korteks visual


utama untuk rangsangan visual. Sebagai hasil dari dominasi
hemispare serebral korteks visual yang cenderung memilih input
visual dari mata dominan dari mata nondominan. gelombang
latency dari mata dominan adalah lebih lama dari pada mata
dominan di anisometropia tinggi.