Anda di halaman 1dari 54

Universitas Persada Indonesia YAI

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Beton adalah material konstruksi yang popular di Indonesia dan bahan bahan material
ini (semen, agregat, dan air) mudah didapat di Indonesia dan relative murah harganya.
Beton juga dikenal sebagai material anorganik yang ramah lingkungan dan mudah
dibentuk.
Kelemahan utama dari beton adalah, kekuatan tariknya, yang jauh lebih kecil
dibandingkan dengan kuat tekan. Hal ini melahirkan berbagai kombinasi beton dengan
material lain untuk mengkompensasi kelemahan tersebut. Material baja adalah material
yang paling umum dikombinasikan dengan beton. Hal ini disebabkan sifat-sifatnya yang
saling melengkapi dan dapat bekerja sama dengan baik.
Beton dikategorikan sebagai material geologik, material geologi adalah material
yang terdiri dari bermacam unsur, senyawa, dan mineral dengan proses geologi
membentuk suatu material. Batuan dan tanah adalah contoh paling nyata dari kategori
material ini. Beton biasa disebut juga batu buatan, karena tersusun dari berbagai
komponen yang ada di alam, yang disatukan oleh proses hidrasi semen dan air. Beton
sebagai material geologi, umumnya mempunyai perilaku yang kompleks, sifat-sifatnya
antara lain :kekuatan, susut, rangkak, dan bahan bahan aditif.
Kekuatan beton mempunyai beberapa aspek antara lain kuat tekan (fc), kuat tarik (ft),
dan riwayat kekuatan. Kekuatan beton merupakan fungsi waktu, sejak mulai pengecoran
sampai suatu waktu dimana kekuatan telah konstan. Sifat geologi beton juga member
variasi yang signifikan pada suatu populasi, sehingga kekuatan beton dikategorikan
variable acak.
Faktor perbandingan air semen (w/c) merupakan penentu dalam perencanaan
kekuatan suatu campuran beton, faktor air semen yang rendah menghasilkan beton yang
lebih kuat, namun campuran cukup kental sehingga lebih sulit dikerjakan (workability
rendah), dan juga sebaliknya.
Praktikum beton pada jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknologi dan Desain,
Universitas Persada Indonesia YAI adalah bagian dari kegiatan akademis yang wajib
diikuti oleh mahasiswa sebagai salah satu syarat dalam kelulusan mata kuliah beton.
Laporan Praktikum Beton

Universitas Persada Indonesia YAI

Dengan mengikuti praktikum beton diharapkan kami sebagai mahasiswa mampu


memahami penerapan ilmu beton khususnya dan Teknik Sipil pada umumnya di lapangan
pekerjaan.
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan dari pelaksanaan praktikum beton ini adalah :
a. Mengaplikasikan teori dari kuliah beton yang diterima dikampus untuk keperluan
pelaksanaan di lapangan atau dunia kerja.
b. Mencari dan mengikuti materi yang diberikan pembimbing dalam praktikum
beton yang nantinya akan diterapkan dalam pelaksanaan di lapangan.
c. Mengetahui berbagai macam uji atau test beton guna menentukan sifat dan
karakteristik beton tersebut sehingga dapat dijadikan referensi untuk pekerjaan
sipil.
d. Menyusun laporan tentang hal-hal yang diterima selama mengikuti Praktikum
laboratorium beton yang mencakup semua materi yang diikuti.

1.3 Materi Pembahasan


Materi yang akan dibahas pada praktikum ini adalah :
1. Pemeriksaan konsistensi normal semen hidrolis.
2. Pemeriksaan pengikatan awal semen.
3. Pengujian kandungan kadar lumpur dalam agregat halus dengan cara pengendapan
4. Pengujian zat organik dalam agregat halus (Pasir)
5. Pengujian analisis saringan agregat kasar
6. Pengujian analisis saringan agregat halus
7. Pengujian berat jenis dan penyerapan agregat kasar
8. Perencanaan campuran beton
9. Pelaksanaan pengadukan beton
10. Pengujian slump beton

Laporan Praktikum Beton

Universitas Persada Indonesia YAI

11. Pembuatan benda uji untuk pengujian kuat tekan beton


12. Pengujian kekuatan tekan beton
1.4 Waktu Praktikum
Waktu pelaksanaan praktikum beton dilaksanakan pada tanggal 13 Agustus 2016 dari
pukul 08.00 17.00 WIB.
1.5 Tempat Praktikum
Tempat dilaksanakannya praktikum beton adalah laboratorium beton di Universitas
Persada Indonesia Fakultas Teknik.

Laporan Praktikum Beton

Universitas Persada Indonesia YAI

BAB 2
LAPORAN KEGIATAN
2.1 Pemeriksaan Konsistensi Normal Semen Hidrolis.
A. Tujuan Percobaan
Menentukan konsistensi normal dari semen hidrolis untuk penentuan waktu
pengikatan semen
B. Teori Singkat
Konsistensi normal semen adalah suatu kondisi pasta semen dalam keadaan standar
basah yang airnya merata dari ujung satu hingga keujung lainnya. Maksud dari konsistensi
normal semen itu sendiri untuk menentukan waktu mulainya pengikatan semen mulai dari
dicampurnya semen dengan air dan juga menentukan kadar air yang sesuai dalam semen
Portland dalam waktu yang ditentukan. Karena jumlah air tersebut nantinya akan
mempengaruhi workability pasta semen itu sendiri.
Teori Percobaan ini dilakukan untuk menentukan jumlah air yang dibutuhkan pada
penyiapan pasta semen untuk pengujian. Le Chatelier adalah yang pertama mengobsrevasi
dan menemukan bahwa hidrasi dari semen secara kimiawi menghasilkan produk yang sama
dengan hidrasi dari masing masing senyawa.
Hidrasi semen adalah reaksi yang tejadi antara komponen-komponen atau senyawasenyawa semen dengan air menghasilkan senyawa hidrat. Reaksi semen tersebut akan
menghasilkan panas yang akhirnya akan mempengaruhi kualitas (mutu) beton.
C. Peralatan
1. Alat vicat

Laporan Praktikum Beton

Universitas Persada Indonesia YAI

2. Timbangan

3. Alat pengerek (seraper)

4. Gelas ukur

5. Sendok perata
6. Sarung tangan karet
7. Stopwatch

Laporan Praktikum Beton

Universitas Persada Indonesia YAI

D. Bahan
1. Semen

2. Air bersih

E. Cara Percobaan
Cara kerja :
a. Timbang PC sebanyak 300gr, letakkan dalam cawan.
b. Olesi dengan oli bagian dalam cincin ebonit.
c. Letakkan di atas plat kaca.
d. Aduk PC dengan air selama 3 menit.
e. Masukkan adonan ke dalam cincin, tekan agar padat, permukaan diratakan.
f. Letakkan kaca beserta cincin ebonit di atas landasan yang ada, sehingga jarum vicat
berada di atas permukaan adonan.
g. Atur posisi jarum vicat dengan mengatur baut pengencang, sehingga jarum vicat
berada di atas permukaan adonan. Diameter jarum 10mm.

Laporan Praktikum Beton

Universitas Persada Indonesia YAI

h. Jarum vicat siap dijatuhkan bebas, jarum dilepas setelah menembus adonan selama 30
detik, catat penurunannya.
i. Ulangi percobaan tersebut dengan pasta semen yang berlainan, sampai penurunannya
lebi
j. h kecil dari 10mm.
k. Buat grafik dari data data tersebut.

Prosentase air 25% - 30%

F. Hasil Pengujian
LABORATORIUM BETON
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK-UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA-YAI
JAKARTA

PEMERIKSAAN KONSISTENSI NORMAL SEMEN HIDROLIS


Prosentase Air (%)

Jumlah Air (ml)

30
29
28
27
26
25

90
87
84
81
78
75

Laporan Praktikum Beton

Jumlah Titik
Sampel
3
3
4
3
4
3

Penurunan
>5cm
>5cm
>5cm
>5cm
3.7cm
2.75cm

Universitas Persada Indonesia YAI

Hubungan Antara Tinggi Jatuh Vicat Dengan Prosentase Pemakaian Air Terhadap Semen
6
5
4
Tinggi Jatuh Alat Vicat (cm)

Penurunan

2
1
0

30 29 28 27 26 25

Prosentase Pemakaian Air Terhadap Semen (%)

G. Kesimpulan
Konsistensi normal semen hidrolis hanya mendapatkan angka penurunan 2.75cm
yaitu dengan prosentase air 25% dengan jumlah air sebanyak 75ml. Syarat yang diharuskan
adalah kurang dari 1cm untuk mendapatkan konsistensi semen normal semen hidrolis. Akan
tetapi ada beberapa faktor yang mempengaruhi seperti suhu (ketika dilaksanakan praktikum
turun hujan),teknik pengadukan, dan pencampuran air terhadap semen. Agar bisa didapatkan
hasil yang maksimal alangkah baiknya praktikum dilaksanakan ketika suhu berada dalam
keadaan tidak lembab atau hujan dan pencampuran air terhadap semen dilakukan sedikit demi
sedikit.
2.2 Pemeriksaan Pengikatan Awal Semen.
A. Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui hubungan antara prosentase pemakaian air terhadap semen waktu
inisial setting time beton.
B. Teori Singkat
Semen setelah bercampur dengan air akan mengalami pengikatan, dan setelah
mengikat lalu mengeras. Lamanya pengikatan sangat tergantung dari komposisi senyawa
dalam semen dan suhu udara sekitarnya. Waktu pengikatan pada pasta semen ada 2 (dua)
macam, yaitu waktu ikat awal (settingtime) dan waktu ikat akhir (final setting). Waktu ikat
awal adalah waktu yang dibutuhkan sejak semen bercampur dengan air dari kondisi plastis
menjadi tidak plastis, sedangkan waktu ikat akhir adalah waktu yang dibutuhkan sejak semen

Laporan Praktikum Beton

Universitas Persada Indonesia YAI

bercampur dengan air dari kondisi plastis menjadi keras.Waktu ikat awal menurut standar
SII minimum 45 menit, sedangkan waktu ikat akhir maksimum 360 menit. Waktu ikat awal
tercapai apabila masuknya jarum vicat ke dalam sampel dalam waktu 30 detik sedalam 25
mm. Waktu ikat akhir tercapai apabila pada saat jarum vicat diletakkan diatas sampel selama
30 detik, pada permukaan sampel tidak berbekas atau tidak tercetak. Catat berapa jam waktu
ikat akhir tercapai. Dalam pengujian waktu ikat pada semen kadang kadang dalam waktu
kurang dari 10 menit, semen sudah mencapai waktu ikat awal, yang ditandai dengan
masuknya jarum vicat kurang dari 25 mm. Waktu ikat awal tersebut bukanlah waktu ikat awal
yang sebenarnya, tetapi waktu ikat awal palsu (falsesetting). Ini terjadi karena gips alam yang
terdapat dalam semen berubah menjadi gips hemihidrat karena panas, baik panas pada waktu
dicampur dengan klinker maupun panas pada saat penyimpanan, akibatnya gips alam yang
asalnya stabil menjadi tidak stabil sehingga cepat bereaksi dengan air.

C. Peralatan
1. Alat vicat

2. Timbangan

Laporan Praktikum Beton

Universitas Persada Indonesia YAI

3. Alat pengerek (seraper)

4. Gelas ukur

5. Sendok perata
6. Sarung tangan karet
7. Stopwatch
D. Bahan
1. Semen

Laporan Praktikum Beton

10

Universitas Persada Indonesia YAI

2. Air bersih

E. Cara Percobaan
a.
b.
c.
d.

Ganti diameter jarum vicat : 1 mm.


Membuat adonan (pasta) sesuai dengan konsistensi normal.
Lakukan penyetelan jarum vicat.
Percobaan dimulai pada menit ke-15. Setiap 15 menit jarum vicat dijatuhkan. Setelah

30 detik sekrup pengunci dikencangkan dan dibaca penurunannya.


e. Geser cincin untuk membuat jarak dari lubang berikutnya sejauh 5 mm dan jarak
minimal 10 mm dari dinding cincin.
f. Percobaan dihentikan sampai dengan percobaan diatas 25 menit.
g. Buat grafik dari praktikum tersebut.

F. Hasil Pengujian
Laporan Praktikum Beton

11

Universitas Persada Indonesia YAI

LABORATORIUM BETON
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK-UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA-YAI
JAKARTA

PENGIKATAN AWAL SEMEN


HUBUNGAN ANTARA PROSENTASE PEMAKAIAN AIR TERHADAP SEMEN WAKTU
INISIAL SETTING TIME BETON
Tinggi Jatuh Alat
Vicat (cm)
2.5
0.6
0.4
0.35
0.2
0.1

Waktu (menit)
0
5
10
15
20
25

Hubungan Antara Tinggi Jatuh Vicat Dengan Waktu Inisial Setting Time
3
2.5
2
Tinggi Jatuh Alat Vicat (cm) 1.5
1
0.5
0

10

15

20

25

Waktu Inisial Setting time (menit)

G. Kesimpulan
Konsistensi normal semen hidrolis yang digunakan adalah konsistensi semen dengan
prosentase air 25%, yaitu sebanyak 75ml. Teknik pengadukan, teknik penambahan air, dan
suhu sangat mempengerahui waktu inisial setting time. Pada menit ke-25 ketika jarum vicat
dijatukan pengikatan sudah hampir maksimal, yaitu ditandai dengan penurunan hanya sebesar
0,1cm.
Laporan Praktikum Beton

12

Universitas Persada Indonesia YAI

2.3 Pengujian Kandungan Kadar Lumpur Dalam Agregat Halus Dengan Cara Kocokan
A. Tujuan Percobaan
Menentukan persentase kadar lumpur dalam agregat halus. Kandungan
lumpur harus lebih kecil dari 5 %, merupakan ketentuan dalam peraturan bagi
penggunaan agregat halus untuk pembuatan beton.
B. Teori Singkat
Lempung, lumpur, dan debu atau butiran butiran halus lainnya, misalnya
silt atau debu pecahan batu yang mungkin terdapat / menempel pada permukaan
agregat, dapat mengganggu ikatan antara agregat dengan pasta semennya.Jika terdapat
lumpur yang cukup besar dalam campuran beton, akan menambahkan permukan dari
agregat tersebut, sehingga keperluan air untuk membasahi semua permukan butiran
dalam campuran akan meningkat. Ini mengakibatkan kekuatan dan ketahanan beton
dapat menurun. Yang dimaksud dengan lumpur atau beton adalah partikel yang
berukuran antara 0,002 mm sampai 0,006 mm (2 sampai 6 mikron).
Pasir yang baik sebagai campuran beton adalah pasir yang kadar lumpurnya
tidak lebih dari 5% dari volume pasir yang digunakan dan apabila kadar lumpurnya
melebihi 5% maka pasir tersebut tidak dapat digunakan sebagai campuran beton karena
daya rekat dari semen akan berkurang.
C. Peralatan
a. Gelas ukur

b. Kompor pemanas

Laporan Praktikum Beton

13

Universitas Persada Indonesia YAI

c. Timbangan dengan ketelitian 1 gr.

d. Pengaduk

e. Jam/Stopwatch

D. Bahan
Laporan Praktikum Beton

14

Universitas Persada Indonesia YAI

a. Pasir kering

b. Air besih.

E. Cara Percobaan
a. Sistem kocokan

Keringkan pasir, lalu masukkan dalam gelas ukur 250 cc sebanyak 90 cc.

Isi air sebanyak 150 cc, lalu tutup rapat rapat.

Campuran tersebut dikocok secara terus menerus selama 30 menit. Kemudian


diamkan selama 5 jam (lebih baik jika 24 jam) sampai kandungan lumpurnya
mengendap.

b. Setelah jernih air dibuang dan pasir dipindahkan ke dalam loyang. Kemudian
dipanaskan sampai benar benar kering.
c. Pasir yang telah mengering, didinginkan, ditimbang.
d. Hitung kandungan lumpur.

Berat pasir mula mula

: W1=......gr

Berat pasir setelah dikocok

: W2=......gr

Laporan Praktikum Beton

15

Universitas Persada Indonesia YAI

Berat lumpur

: W = W1 W2

Kandungan lumpur

: W = (W/W1)x100%

F. Hasil Pengujian
LABORATORIUM BETON
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK-UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA-YAI
JAKARTA

PENGUJIAN KANDUNGAN KADAR LUMPUR DALAM AGREGAT HALUS


DENGAN CARA KOCOKAN

Berat pasir mula mula


Berat pasir setelah dikocok
Berat lumpur

Kadar lumpur

: W1 = 300.4 gr
: W2 = 288 gr
: W = W1 W2
: W = 300.4 gr 288 gr = 12.4 gr
: W = (W/W1)x100%
: W = (12.4 gr / 300.4 gr) x 100% = 4.127 %

G. Kesimpulan
Dari hasil analisis dan perhitungan didapat hasil kadar lumpur adalah 4.127
%. Hasil ini memenuhi syarat karena dibawah ambang batas yang harus dipenuhi, yaitu
sebesar 5 %. Sehingga agregat halus yang dicoba dapat digunakan sebagai bahan
pengisi dalam beton.
2.4 Pengujian Zat Organik Dalam Agregat Halus (Pasir)
A. Tujuan Percobaan
Pengujian ini adalah untuk mendapatkan angka dengan petunjuk larutan
standar atau standar warna yang telah ditentukan terhadap larutan benda uji pasir.
Pengujian ini selanjutnya dapat digunakan dalam pekerjaan pengendalian mutu
agregat.

B. Teori Singkat

Laporan Praktikum Beton

16

Universitas Persada Indonesia YAI

Pada pasir yang digunakan untuk pembuatan beton, kemungkinan terdapat


bahan bahan organic tertentu yang dapat mengganggu beton bahkan dapat
merusakannya. Bahan bahan organic ini dapat dihilangkan dengan cara dicuci
dengan air tawar. Bila bahan bahan organic tersebut tidak dihilangkan akan
membuat konstruksi beton tersebut menjadi rusak. Adanya bahan organic seperti
klorida pada pasir akan member resiko berkaratnya baja tulangan dalam beton, yang
selanjutnya akan memecahkan beton.
C. Peralatan
a. Gelas ukur

b. Timbangan dengan ketelitian 1 gr.

c. Pengaduk

d. Jam/Stopwatch
Laporan Praktikum Beton

17

Universitas Persada Indonesia YAI

D. Bahan
a. Pasir kering

b. NaOH Teknis 3%

E. Cara Percobaan
a. Ambil pasir kering, masukkan ke dalam gelas ukur 250cc setinggi 106cc
b. Masukkan NaOH setinggi 150 cc dan ditutup.
c. Kocok campuran pasir dan NaOH selama 30 menit.
d. Diamkan selama 24 jam. Amati perubahan warna NaOH tersebut.
e. Warna hasil dari adukan, dicocokkan dengan teknometer. Hasil tersebut disesuaikan,
apabila diperoleh warna yang hitam atau diluar warna yang ada di alat test, maka pasir
tersebut tidak dapar digunakan.

F. Hasil Pengujian
Laporan Praktikum Beton

18

Universitas Persada Indonesia YAI

Larutan NaOH 3% diperoleh dari campuran 3 bagian larutan berat NaOH


dalam 97 bagian berat air suling.
Bila warna cairan contoh lebih tua dari warna standar, berarti kandungan
bahan organik melebihi batas toleransi ( pasir terlalu kotor ).

G. Kesimpulan
Setelah 24 jam larutan didiamkan, ternyata didapat warna larutan di bagian
atas pada botol yang telah dicampur dengan NaOH 3% memiliki warna yang lebih
muda daripada warna standar, pada saat sebelum dicampur dengan campuran beton
dan warna larutan pasir lebih muda dari warna standar. Dengan demikian agregat
tersebut baik digunakan sebagai campuran beton.

2.5 Pengujian Analisis Saringan Agregat Kasar

Laporan Praktikum Beton

19

Universitas Persada Indonesia YAI

A. Tujuan Percobaan
Tujuan pengujian adalah untuk memperoleh distribusi besaran atau jumlah
persentase butiran agregat kasar. Distribusi yang diperoleh dapat ditunjukkan dalam
tabel dan grafik
B. Teori Singkat
Ukuran agregat dinyatakan dengan diameter ( ) butiran. Butiran agregat
mempunyai bentuk yang tidak seragam, sebab ukuran masing masing sisi tidak
seragam. Untuk mendapatkan ukuran batuan yang sama persis dalam jumlah yang
sangat besar sangat mustahil. Untuk menyatakan diameter butiran, biasanya dinyatakan
dengan lolos pada suatu saringan dengan ukuran tertentu atau tertahan pada saringan
ukuran tertentu. Untuk mendapatkan ukuran agregat dilakukan analisis saringan.
Ukuran ayakan / saringan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu space dan
mesh. Space adalah ukuran sebenarnya dari ruangan bersih antara kawat kawat
ayakan. Jadi merupakan ukuran sebenarnya dari tiap tiap lubang ayakan. Sedangkan
Mesh adalah jumlah lubang yang terdapat dalam jarak 1 inci diukur dari sumbu ke
sumbu kawat.
C. Peralatan
a. Timbangan dan neraca dengan ketelitian 0,2% dari berat benda uji.

b. Seperangkat saringan dengan ukuran :


Laporan Praktikum Beton

20

Universitas Persada Indonesia YAI

- Perangkat saringan agregat kasar


- Perangkat saringan agregat halus

c. Oven yang dilengkapi pengatur suhu untuk pemanasan sampai (1105)C

d. Alat pemisah contoh (sample splitter)

e. Mesin penggetar saringan

Laporan Praktikum Beton

21

Universitas Persada Indonesia YAI

f. Talam talam

g. Kuas, sikat kuningan, sendok, dan alat alat lainnya.

D. Bahan

Laporan Praktikum Beton

22

Universitas Persada Indonesia YAI

Benda uji diperoleh dari alat pemisah contoh atau cara penempatan. Berat dari contoh
disesuaikan dengan ukuran maksimum diameter agregat kasar yang digunakan, seperti yang
diuraikan pada tabel perangkat saringan.

E. Cara Percobaan
a. Benda uji dikeringkan di dalam oven dengan suhu (1105)C sampai berat contoh
tetap.
b. Contoh dicurahkan pada perangkat saringan paling besar di atas. Perangkat saringan
diguncang dengan tangan atau mesin pengguncang selama 15 menit.

F. Hasil Pengujian

Laporan Praktikum Beton

23

Universitas Persada Indonesia YAI

LABORATORIUM BETON
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK-UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA-YAI
JAKARTA

ANALISA SARINGAN AGREGAT KASAR (KERIKIL)


AGREGAT KASAR (KERIKIL)

Analisa saringan agregat kasar (kerikil)


Berat contoh 500 gram (diambil 2 kg)
Ukuran lubang
Berat
Persentase
mm
Inci
tertahan
Tertahan
(gram)
(%)

Nomor
saringan

4
10
20
40
60
100
200
Lolos 200
Total

4.75
2
0.85
0.6
0.425
0.3
0.15
0.075

1478.2
281.6
59.1
45.2
25.9
28.2
30.5
50.7
2000

73.91
14.08
2.955
2.26
1.295
1.41
1.525
2.535
100

Persentase
Tertahan
Kumulatif
(%)
73.91
87.99
90.945
93.205
94.5
95.91
97.435
100
-

Modulus Kehalusan Agregat Kasar (Kerikil) :

MK =

PersentaseTertahanKu mulatifTia pSaringan


100
73.91 87.99 90.945 93.205 94.5 95.91 97.435
100

Laporan Praktikum Beton

24

= 6.33895

Persentase
Lolos
Kumulatif
(%)
26.09
12.01
9.055
6.795
5.5
4.09
1.525
0
-

Universitas Persada Indonesia YAI

Grafik Hubungan % Lolos Saringan Agregat Kasar


120
100
Persentase Tertahan (%)
-

80
% Lolos Saringan

60

Persentase Tertahan
Kumulatif (%) -

40

Persentase Lolos
Kumulatif (%) -

20
0

Nomor Saringan

G. Kesimpulan
Dari hasil grafik hubungan antara lolos kumulatif dan ukuran saringan,
didapat bahwa agregat kasar ( kerikil ) masuk kedalam kurva batas gradasi agregat
kasar maks. 40 mm. Dari grafik seluruhnya terlihat berada didalam grafik batas
gradasi kerikil atau koral ukuran maksimum 40 mm maka ditetapkan butiran max
kerikil pada percobaan adalah 40 mm.
2.6 Pengujian Analisis Saringan Agregat Halus
A. Tujuan Percobaan
Tujuan pengujian ini adalah untuk memperoleh distribusi besaran atau jumlah
persentase butiran agregat halus. Distribusi yang diperoleh dapat ditunjukkan dalam
tabela taugrafik.
B. Teori Singkat
Ukuran agregat dinyatakan dengan diameter ( ) butiran. Butiran agregat
mempunyai bentuk yang tidak seragam, sebab ukuran masing masing sisi tidak
seragam. Untuk mendapatkan ukuran batuan yang sama persis dalam jumlah yang
sangat besar sangat mustahil. Untuk menyatakan diameter butiran, biasanya dinyatakan
dengan lolos pada suatu saringan dengan ukuran tertentu atau tertahan pada saringan
ukuran tertentu. Untuk mendapatkan ukuran agregat dilakukan analisis saringan.

Laporan Praktikum Beton

25

Universitas Persada Indonesia YAI

Ukuran ayakan / saringan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu space dan
mesh. Space adalah ukuran sebenarnya dari ruangan bersih antara kawat kawat
ayakan. Jadi merupakan ukuran sebenarnya dari tiap tiap lubang ayakan. Sedangkan
Mesh adalah jumlah lubang yang terdapat dalam jarak 1 inci diukur dari sumbu ke
sumbu kawat.
C. Peralatan
a. Timbangan dan neraca dengan ketelitian 0,2% dari berat benda uji.

b. Seperangkat saringan dengan ukuran :


- Perangkat saringan agregat kasar
- Perangkat saringan agregat halus

Laporan Praktikum Beton

26

Universitas Persada Indonesia YAI

c. Oven yang dilengkapi pengatur suhu untuk pemanasan sampai (1105)C

d. Alat pemisah contoh (sample splitter)

e. Mesin penggetar saringan

f. Talam talam

Laporan Praktikum Beton

27

Universitas Persada Indonesia YAI

g. Kuas, sikat kuningan, sendok, dan alat alat lainnya.

D. Bahan
Benda uji diperoleh dari alat pemisah contoh atau cara penempatan. Berat dari contoh
disesuaikan dengan ukuran maksimum diameter agregat halus yang digunakan, seperti yang
diuraikan pada tabel perangkat saringan.

E. Cara Percobaan
a. Benda uji dikeringkan di dalam oven dengan suhu (1105)C sampai berat contoh
tetap.
b. Contoh dicurahkan pada perangkat saringan paling besar di atas. Perangkat saringan
diguncang dengan tangan atau mesin pengguncang selama 15 menit.

Laporan Praktikum Beton

28

Universitas Persada Indonesia YAI

F. Hasil Pengujian
LABORATORIUM BETON
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK-UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA-YAI
JAKARTA

ANALISA SARINGAN AGREGAT HALUS (PASIR)


AGREGAT HALUS (PASIR)

Analisa saringan agregat halus (pasir)


Berat contoh 500 gram (diambil 1 kg)
Ukuran lubang
Berat
Persentase
mm
Inci
tertahan
Tertahan
(gram)
(%)

Nomor
saringan

4
10
20
40
60
100
200
Lolos 200
Total

4.75
2
0.85
0.6
0.425
0.3
0.15
0.075

28.8
89.5
228
244.4
141.4
123.5
74.6
69.8
1000

2.88
8.95
22.8
24.44
14.14
12.35
7.46
6.98
100

Persentase
Tertahan
Kumulatif
(%)
2.88
11.83
34.63
59.07
73.21
85.56
93.02
100
-

Modulus Kehalusan Agregat Halus (Pasir) :

MK =

PersentaseTertahanKu mulatifTia pSaringan


100
2.88 11.83 34.63 59.07 73.21 85.56 93.02
100

Laporan Praktikum Beton

29

= 3.602

Persentase
Lolos
Kumulatif
(%)
97.12
88.17
65.37
40.93
26.79
14.44
6.98
0
-

Universitas Persada Indonesia YAI

Grafik Hubungan % Lolos Saringan Agregat Halus


120
100
80
60
% Lolos Saringan
40
20
0

Persentase Tertahan (%)


Persentase Tertahan
Kumulatif (%) Persentase Lolos
Kumulatif (%) -

Nomor Saringan

G. Kesimpulan
Dari hasil grafik hubungan antara kumulatif lolos saringan dengan ukuran
saringan, didapat bahwa agregat halus ( pasir ) masuk kedalam batas gradasi agregat
halus ( pasir ) sedang no. 2. Dari grafik terlihat bahwa grafik seluruhnya masuk
kedalam batas gradasi agregat halus ( pasir ) sedang no. 2.
2.7 Pengujian Berat Jenis Dan Penyerapan Agregat Kasar
A. Tujuan Percobaan
Menentukan bulk and apparent specific-gravity dan penyerapan (absorpsi)
agregat kasar menurut prosedur ASTM C127. Nilai ini diperlukan untuk menetapkan
besarnya komposisi volume agregat dalam adukan beton.
B. Teori Singkat
Analisis specific gravity diperlukan untuk mengetahui keadaan dari agregat
tersebut pada komposisi volumenya. Penyerapan agregat juga diperlukan agar
mengetahui keadaan yang sebenarnya nanti pada waktu keadaan standar. Hal ini
diperlukan karena keadaan agregat yang hampir sama dengan keadaan agregat dalam
beton, sehingga tidak akan menambah ataupun mengurangi air dari pastanya.
Yang dimaksud dengan :
a. Berat Jenis Curah ( Bulk Spesific Gravity )
Ialah perbandingan antara berat agregat kering dan berat air suling yang isinya
sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh suhu 25C.

Laporan Praktikum Beton

30

Universitas Persada Indonesia YAI

b. Berat Jenis Kering Permukaan Jenuh ( Saturated Surface Dry ( SSD ) Spesific
Gravity )
Ialah perbandingan antara berat agregat kering permukaan jenuh dan berat air
suling yang isinya sama dengan dalam keadaan jenuh pada suhu 25C.
c. Berat Jenis Semu ( Apparent Spesific Gravity )
Ialah perbandingan antara berat agregat kering dan berat air suling yang isinya
sama dengan isi agregat dalam keadaan kering pada suhu 25C.
d. Penyerapan ( Absorption )
Ialah perbandingan berat air yang dapat di setiap pori terhadap berat agregat
kering, dinyatakan dalam persen.
C. Peralatan
a. Timbangan dengan ketelitian 0,5 gr yang kapasitas 5 kg.

b. Keranjang besi diameter 203,2 mm (8) dan tinggi 63,5 mm (2,5)

c. Alat penggantung

Laporan Praktikum Beton

31

Universitas Persada Indonesia YAI

d. Oven

e. Handuk/Lap
D. Bahan
Berat contoh agregat disiapkan sebanyak 11 liter dalam keadaan kering muka (SSD :
Surface Saturated Dry). Contoh diperoleh dari bahan yang diproses melalui alat pemisah atau
cara perempatan. Butiran agregat lolos saringan nomor 4 tidak dapat digunakan sebagai
benda uji.

Laporan Praktikum Beton

32

Universitas Persada Indonesia YAI

E. Cara Percobaan
a. Benda uji direndam selama 24 jam.
b. Benda uji dikering muka kan (kondisi SSD) dengan menggukungkan handuk pada
butiran agregat.
c. Timbang contoh. Hitung berat contoh kondisi SSD = A
d. Contoh benda uji dimasukkan kedalam keranjang dan direndam kembali didalam air.
Temperature air dijaga (73,43)F dan kemudian ditimbang setelah keranjang
digoyang-goyangkan dalam air untuk melepas udara yang terperangkap. Hitung berat
contoh kondisi jenuh = B.
e. Contoh dikeringkan pada temperature (212130)F setelah didinginkan, kemudian
ditimbang. Hitung berat contoh kondisi kering = C.

Laporan Praktikum Beton

33

Universitas Persada Indonesia YAI

F. Hasil Pengujian
LABORATORIUM BETON
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK-UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA-YAI
JAKARTA

PENGUJIAN BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AGREGAT KASAR


A. Berat contoh kondisi SSD

= 2000

Gram

B. Berat piknometer + air + contoh (SSD)

= 2100

Gram

C. Berat piknometer + air

= 2024.5

Gram

D. Berat contoh kering

= 1997.96 Gram

Apparent Specific Gravity

D
D C C

= 1.039

Bulk Specific Gravity Kondisi Kering

D
AC B

= 1.038

Bulk Specific Gravity Kondisi SSD

A
AC B

= 1.039

Persentase Absorpsi

AD
x 100 % = 1.021 %
D

G. Kesimpulan
Dari hasil analisis dan perhitungan, maka didapat nilai penyerapan
(absorpsi) air sebesar 1.021 %. Hal ini berarti bahwa agregat kasar (kerikil) yang
dianalisis memiliki kemampuan untuk menyerap air sekitar 1.021 % dari beratnya
sendiri.
Untuk mendapatkan absorpsi / penyerapan air yang sebenarnya pada agregat,
diperlukan ketelitian dalam menimbang barat dari agregat tersebut. Baik dalam kondisi
kering oven, ataupun dalam kondisi SSD.
2.8 Perencanaan Campuran Beton
Laporan Praktikum Beton

34

Universitas Persada Indonesia YAI

A. Tujuan Percobaan
Menentukan komposisi campuran untuk setiap unit volume beton juga diperlukan
cara mengenai tingkat kemudahan pelaksanaan bagi jenis struktur yang bersangkutan dan
ditunjukkan oleh besarnya nilai slump rencana.
B. Teori Singkat
Metode yang digunakan adalah perancangan campuran beton dengan metode British
1986 dimana hal pertama yang harus diperhatikan adalah bahwa semua persyaratan yang
ditentukan haruslah dipenuhi sebelum melangkah ke proses perhitungan untuk menentukan
komposisi campurannya.
Pada metode British 1986 persyaratan yang menyangkut gradasi agregat yang harus
dipenuhi yang ditunjukkan oleh besarnya persentase berat lolos kumulatif saringan tertentu
beberapa ukuran diameter maksimum butiran tercantum dalam BS 882 : 1983 sebagai standar
mengenai agregat dari sumber alam untuk beton yang disahkan kembalu pada tahun
berikutnya.
C. Peralatan
a. Alat tulis.
b. Tabel dan grafik yang dibutuhkan dalam perancangan metode British 1986.
D. Cara Percobaan
1. Penetapan kuat tekan beton yang disyaratkan (f'c) pada umur tertentu.
2. Penetapan nilai standar deviasi (Sd). Standar deviasi ditetapkan berdasarkan tingkat
mutu pengendalian pelaksanaan campuran beton-nya. Makin baik mutu pelaksanaan
makin kecil nilai standar deviasinya.
3. Perhitungan nilai tambah ('Margin/M')
4. Jika nilai tambah sudah ditetapkan sebesar 12 MPa, maka langsung ke langkah
5. Jika nilai tambah dihitung berdasarkan nilai standar deviasi Sd, maka margin dihitung
dengan rumus:
M = k. Sd
dimana:
M

: Nilai tambah (MPa)

Laporan Praktikum Beton

35

Universitas Persada Indonesia YAI

: 1.64

Sd : Standar deviasi (MPa)


6. Menetapkan kuat tekan rata-rata yang direncanakan, dihitung dengan rumus:
f'cr = f'c + M
dimana:
F-12
f'cr

: Kuat tekan rata-rata (MPa)

f'c

: Kuat tekan yang disyaratkan (MPa)

: Nilai tambah (MPa)

7. Penetapan jenis semen Portland.


8. Penetapan jenis agregat, memakai jenis pasir atau kerikil yang alami atau agregat
jenis batu pecah.
9. Menetapkan faktor air semen.
10. Penetapan faktor air semen maksimum, dari fas maksimum yang diperoleh
dibandingkan dengan fas langkah 8, dicari nilai yang terkecil.
11. Penetapan nilai slump, ditetapkan berdasar-kan pelaksanaan

pembuatan,

pengangkutan, penuangan, pemadatan maupun jenis strukturnya.


12. Penetapan ukuran maksimum agregat kasar.
13. Menentukan jumlah air per meter kubik beton berdasarkan ukuran maksimum
agregat, jenis agregat dan nilai slump.
14. Hitung berat semen yang dibutuhkan. Berat semen per kubik dihitung dengan
membagi jumlah air (langkah 12) dengan faktor air semen (langkah 8)
15. Kebutuhan semen minimum.
16. Penyesuaian kebutuhan semen. Apabila kebutuhan semen pada langkah 13 lebih kecil
dari kebutuhan semen minimum (langkah 14), maka kebutuhan semen harus dipakai
yang minimum.
17. Penyesuain jumlah air dan faktor air semen.
18. Penentuan daerah gradasi agregat halus. Gradasi agregat halus dibagi menjadi 4
daerah : daerah I, II, III dan IV.
19. Perbandingan agregat halus dan agregat kasar. Dicari berdasarkan besar butir
maksimum, nilai slump, faktor air semen dan daerah gradasi agregat halus,
berdasarkan data tersebut dapat dicari perbandingan agregat halus dan agregat kasar.
20. Berat jenis agregat campuran, dihitung dengan:
Bj agr.ksrs 100 K x Bj agr.hls 100 = P Bj camp
dimana:
Bj camp
: Berat jenis agregat campuran
Bj agr.hls
: Berat jenis agregat halus
Bj agr.ksr
: Berat jenis agregat kasar
P
: Persentase agregat halus terhadap agregat campuran
K
: Persentase agregat kasar terhadap agregat campuran
Laporan Praktikum Beton

36

Universitas Persada Indonesia YAI

21. Penentuan berat jenis beton. Dengam data berat jenis agregat campuran (langkah 18)
dan kebutuhan air tiap meter kubik beton, maka dapat diperkirakan berat jenis
betonnya.
22. Kebutuhan agregat campuran. Diperoleh dengan mengurangi berat beton per meter
kubikdengan kebutuhan air dan semen.
23. Hitung berat agregat halus, dengan cara mengalikan kebutuhan agregat campuran
(langkah 20)dengan prosentase berat agregat halusnya (langkah 17).
24. Hitung berat agregat kasar, dengan cara mengurangi kebutuhan agregat campuran
(langkah 20) dengan kebutuhan agregat halus (langkah 21).

E. Hasil Pengujian

LABORATORIUM BETON
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK-UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA-YAI
JAKARTA
Laporan Praktikum Beton

37

Universitas Persada Indonesia YAI

PERENCANAAN CAMPURAN BETON

1. Kuat tekan beton yang disyaratkan (f'c) pada umur 28 hari adalah 30 MPa.
2. Penetapan nilai standar deviasi (Sd). Karena jumlah sampel kurang dari 15, maka
penghitungan standar deviasi tidak dilakukan.
3. Perhitungan nilai tambah ditetapkan sebesar 12 MPa
4. Jenis semen Portland yang digunakan adalah tipe 1.
5. Jenis agregat yang digunakan memakai jenis pasir alami atau kerikil batu pecah.
6. Faktor air semen adalah 0,5.
7. Faktor air semen maksimum adalah 0,6.
8. Nilai slump yang ditetapkan adalah 80mm 120mm.
9. Ukuran agregat kasar maksimum adalah 40mm.
10. Jumlah air per meter kubik beton berdasarkan ukuran maksimum agregat, jenis
agregat dan nilai slump adalah 195 Liter.
11. Berat semen yang dibutuhkan per-meter kubik adalah 325 Kg.
12. Kebutuhan semen minimum adalah 275Kg.
13. Tidak ada penyesuain kebutuhan semen.
14. Tidak ada penyesuain jumlah air dan faktor air semen.
15. Gradasi agregat halus ada pada gradasi nomor 2.
16. Perbandingan agregat halus dan agregat kasar 45% : 55%.
17. Berat jenis agregat campuran, yaitu pasir 2,60 dan kerikil 2,61.
18. Penentuan berat jenis beton adalah 2350 Kg/m.
19. Kebutuhan Agregat kasar adalah 1006,5 Kg.
20. Berat Agregat halus adalah 823,5 Kg.
G. Kesimpulan
Berdasarkan perhitungan mix design, maka kebutuhan bahan per-meter kubik adalah sbb:

Semen
Kerikil
Pasir
Air

: 325 Kg.
: 1006,5 Kg.
: 823,5 Kg.
: 195 Kg.

2.9 Pelaksanaan Pengadukan Beton


A. Tujuan Percobaan
Untuk melakukan proses pencampuran bahan bahan yang telah ditetapkan jumlah
kebutuhannya sesuai dengan perhitungan metode British 1986.
B. Teori Singkat

Laporan Praktikum Beton

38

Universitas Persada Indonesia YAI

Perencanaan campuran beton merupakan kunci dihasilkanya beton yang baik, akan
tetapi yang namanya kunci pastilah memiliki gigi-gigi kunci yang lainya kira-kira seperti
itulah perumpamaannya. Berawal dari proporsi campuran beton yang baik (inilah yang
dimaksud dengan kunci) dan masih didukung oleh faktor yang lainnya yaitu pencampuran,
pengecoran, pemadatan dan perawatan beton paska pengecoran (inilah yang dimaksud
dengan gigi-gigi kunci yang lain).
Sebagaimana definisi yang telah kita ungkapkan bahwa beton merupakan
persenyawaan yang terdiri dari agregat, air, semen, dan zat tambahan jika diperlukan syarat
khusus maka kendali proporsi material beton harus kita ketahui.
C. Peralatan
a. Sekop

b. Ember
c. Timbangan

d. Stopwatch
D. Bahan
a. Semen
Laporan Praktikum Beton

39

Universitas Persada Indonesia YAI

b. Pasir

c. Kerikil

d. Air

Laporan Praktikum Beton

40

Universitas Persada Indonesia YAI

E. Cara Percobaan
a. Persiapkan bahan campuran sesuai dengan rencana berat pada wadah yang terpisah
b. Persiapkan wadah yang cukup menampung volume berat beton basah rencana
c. Masukkan agregat kasar dan agregat halus ke dalam wadah
d. Dengan menggunakan skop atau alat pengaduk, lakukan pencampuran agregat.
e. Tambahkan semen pada agregat campuran dan ulangi proses pencampuran, sehingga
diperoleh adukan kering agregat dan semen merata.
f. Tuangkan sebanyak 1/3 jumlah air ke dalam wadah, dan lakukan pencampuran
sampai terlihat konsistensi adukan yang merata.
g. Tambahkan 1/3 jumlah air ke dalam wadah dan ulangi proses untuk mendapatkan
konsistensi adukan.
h. Lakukan pemeriksaan slump.
i. Apabila nilai slump telah mencapai nilai rencana, lakukan nilai pembuatan benda uji
silinder beton.
j. Lakukan perhitungan berat jenis benda uji beton.
k. Buatlah benda uji silinder atau kubus sesuai dengan petunjuk. Jumlah benda uji
ditetapkan berdasarkan volume adukan.
l. Lakukan pencatatan hal hal yang menyimpang dari perencanaan, terutama
pemakaian jumlah air dan nilai slump.
F. Hasil Pengujian

Laporan Praktikum Beton

41

Universitas Persada Indonesia YAI

LABORATORIUM BETON
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK-UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA-YAI
JAKARTA

PELAKSANAAN PENGADUKAN BETON

Pelaksanaan pengadukan beton mengikuti langkah yang direncanakan sesuai dengan


cara percobaan. Untuk mencegah menguapnya air dan pengikatan air terlalu dini, dilakukan
pengadukan antara semen dan agregat halus (pasir), setelah campuran homogen dimasukkan
kembali agregat kasar (kerikil) kedalam campuran, setelah homogen kemudian dimasukkan
air sesuai perencanaan. Pengadukan dilakukan oleh 2 orang yang mengaduk dan 1 orang yang
memasukkan bahan-bahan.
G. Kesimpulan
Dikarenakan rusaknya mesin pengaduk campuran beton (mixer), maka pengadukan
dilakukan dengan menggunakan manual (tangan). Tingginya kuat tekan yang direncakan
yaitu 30 Mpa mempersulit proses pengadukan. Semakin tinggi kuat tekan yang direncanakan,
semakin sulit pengadukan yang dilakukan karena semakin rendahnya prosentase w/c.
Perbandingan w/c semakin rendah, maka kuat tekan semakin tinggi akan tetapi tingkat
workability semakin rendah (proses pengadukan yang semakin sulit). Suhu, proses
pencampuran (teknik), dan proses pengadukan.

2.10 Pengujian Slump Beton


A. Tujuan Percobaan
Menentukan ukuran derajat kemudahan pengecoran adukan beton segar.
B. Teori Singkat
Uji Slump adalah suatu uji empiris/metode yang digunakan untuk menentukan
konsistensi/kekakuan (dapat dikerjakan atau tidak) dari campuran beton segar (fresh
concrete) untuk menentukan tingkat workabilitynya. Kekakuan dalam suatu campuran beton
menunjukkan berapa banyak air yang digunakan. Untuk itu uji slump menunjukkan apakah
campuran beton kekurangan, kelebihan, atau cukup air.

Laporan Praktikum Beton

42

Universitas Persada Indonesia YAI

Dalam suatu adukan/campuran beton, kadar air sangat diperhatikan karena


menentukan tingkat workabilitynya atau tidak. Campuran beton yang terlalu cair akan
menyebabkan mutu beton rendah, dan lama mengering. Sedangkan campuran beton yang
terlalu kering menyebabkan adukan tidak merata dan sulit untuk dicetak.
Uji Slump mengacupada SNI 1972-2008 dan ICS 91.100.30
Slump dapat dilakukan di laboratorium maupun di lapangan (biasanya ketika ready
mix sampai, diuji setiap kedatangan). Hasil dari Uji Slump betonya itu nilai slump. Nilai
yang tertera dinyatakan dalam satuan internasional (SI) dan mempunyai standar.
C. Peralatan
a. Cetakan berupa kerucut terpancung dengan diameter bagian bawah 20 cm, bagian atas
10 cm, dan tinggi 30 cm. Bagian atas dan bawah cetakan terbuka.

b. Tongkat pemadat dengan diameter 16 mm, panjang 60 cm. Ujung dibulatkan dan
sebaliknya bahan tongkat dibuat dari baja tahan karat.
c. Plat logam dengan permukaan rata dan kedap air.
d. Sendok cekung.
D. Bahan
a. Contoh beton segar dengan isi cetakan

Laporan Praktikum Beton

43

Universitas Persada Indonesia YAI

E. Cara Percobaan
a. Cetakkan dan plat dibasahi dengan kain basah.
b. Letakkan cetakkan di atas plat.
c. Isilah cetakan sampai penuh dengan beton segar dalam 3 lapis. Tiap lapisan kira kira
1/3 isi cetakan. Setiap lapis dipadatkan dengan tongkat pemadat sebanyak 25 tusukan
secara merata. Tongkat pemadat harus masuk tepat sampai lapisan bagian bawah tiap
tiap lapisan. Pada lapisan pertama, penusukan bagian tepi dilakukan dengan tongkat
dimiringkan sesuai dengan kemiringan dinding cetakan.
d. Setelah selesai pemadatan, ratakan permukaan benda uji dengan tongkat; tunggu
selama setengah menit, dan dalam jangka waktu ini semua kelebihan beton segar
disekitar cetakan harus dibersihkan.
e. Cetakan diangkat perlahan lahan agar tegak lurus ke atas.
f. Baliklah cetakan dan letakkan disamping benda uji.
g. Ukurlah slump yang terjadi dengan menentukan perbedan tinggi cetakan dengan
tinggi rata rata dari benda uji.

F. Hasil Pengujian
LABORATORIUM BETON
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK-UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA-YAI
JAKARTA

Laporan Praktikum Beton

44

Universitas Persada Indonesia YAI

PENGUJIAN SLUMP BETON


Setelah dilakukan pengujian slump dengan mengikuti langkah-langkah yang telah
disebutkan di atas, nilai yang didapat adalah sebesar 9cm atau 90mm. Hal ini sesuai dengan
nilai slump yang direncakanan yaitu 8cm 12cm. Oleh karena itu ukuran derajat kemudahan
pengecoran adukan beton segar sesuai yang direncakan.
G. Kesimpulan
Ukuran derajat kemudahan pengecoran adukan beton segar telah sesuai yang
direncanakan. Pengadukan yang dilaksanakan atau tingkat workability beton segar tidak
terlalu sulit, pencampuran air dan jumlah air cukup tepat, dan nilai slump sesuai yang
direncanakan.
2.11 Pembuatan Benda Uji Untuk Pengujian Kuat Tekan Beton
A. Tujuan Percobaan
Membuat benda uji untuk pemeriksaan kekuatan beton.
B. Teori Singkat
Cara pembuatan benda uji untuk tes beton cukup sederhana namun tetap perlu
memperhatikan beberapa hal agar tes beton yang akan kita lakukan dapat berjalan dengan
baik sesuai dengan apa yang diharapkan. Secara umum terdapat dua macam jenis benda uji
beton yaitu:

Kubus beton ukuran panjang 15 cm lebar 15 cm tinggi 15 cm.

Silinder beton ukuran diameter 15 cm tinggi 30 cm.

Pada perhitungan nilai kuat tekan beton umur 3 sampai 28 hari perlu dilakukan konversi
ke umur 28 hari, dan konversi benda uji kubus ke silinder.
C. Peralatan
a. Cetakan silinder, diameter 15 cm dan tinggi 30 cm.

Laporan Praktikum Beton

45

Universitas Persada Indonesia YAI

b. Cetakan kubus dengan sisi masing masing 15 cm.

c. Tongkat pemadat.
d. Bak pengaduk beton kedap air atau mesin pengaduk.
e. Timbangan dengan ketelitian 0,3% dari berat contoh.

f. Satu set alat pelapis (capping).


g. Peralatan tambahan : ember, skop, sendok, perata, dan talam.

Laporan Praktikum Beton

46

Universitas Persada Indonesia YAI

D. Cara Percobaan
a. Benda benda uji (silinder atau kubus) harus dibuat dengan cetakan yang sesuai
dengan bentuk benda uji. Cetakan disapu sebelumnya dengan vaselin, atau lemak,
atau minyak, agar mudah nantinya saat dilepas dari cetakan.
b. Adukan beton diambil langung dari wadah adukan beton dengan menggunakan ember
atau alat lainnya yang tidak menyerapair. Bila dirasa perlu bagi konsistensi adukan,
lakukan pengadukan ulang sebelum dimasukkan ke dalam cetakan.
c. Padatkan adukan dalam cetakan. Sampai permukaan adukan beton mengkilap.
d. Isilah cetakan dengan adukan beton dalam 3 lapis, tiap lapis dipadatkan dengan 25
kali tusukan secara merata. Pada saat melakukan pemadatan lapisan pertama, tongkat
pemadatan tidak boleh mengenai dasar cetakan. Pada saat pemadatan lapisan kedua
serta ketiga tongkat pemadat boleh masuk antara 25,4mm ke dalam lapisan
dibawahnya. Setelah selesai melakukan pemadatan, ketuklah sisi cetakan perlahanlahan sampai rongga bekas tusukan tertutup. Ratakan permukaan beton dan tutuplah
segera dengan bahan yang kedap air dan tahan karat. Kemudian biarkan beton dalam
cetakan selama 24 jam dan tempatkan di tempat yang bebas dari getaran.
e. Setelah 2 jam, bukalah cetakan dan keluarkan benda uji.
f. Rendamlah dalam bak perendam berisi air yang telah memenuhi persyaratan untuk
perawatan (curing), selama waktu yang dikehendaki.
E. Hasil Pengujian
LABORATORIUM BETON

Laporan Praktikum Beton

47

Universitas Persada Indonesia YAI

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK-UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA-YAI
JAKARTA

Pembuatan benda uji dengan mengikuti langkah-langkah di atas dan perhitungan mix
design untuk 3 buah benda uji Silinder dan 2 buah benda uji kubus dengan hasil perhitungan
adalah sebagai berikut:

3 buah benda uji silinder

1 buah benda uji silinder mempunyai volume 0.0053 m, maka total volume adalah
0.0159 m dan ditambahkan safety factor sebesar 15% mempunyai total volume 0.0183 m.
Perhitungan bahannya adalah:
Semen

: 6.77 Kg

Air

: 2.8 Liter

Pasir

: 13.07 Kg

Kerikil

: 19.67 Kg

2 buah benda uji kubus

1 buah benda uji kubus mempunyai volume 0.003375 m, maka total volume untuk 2
buah benda uji adalah 0.00675 m dan ditambahkan safety factor mempunyai total volume
0.0077625 m. Perhitungan bahannya adalah:
Semen

: 2.87 Kg

Air

: 1.1819 Liter

Pasir

: 5.494 Kg

Kerikil

: 8.28 Kg

F. Kesimpulan

Laporan Praktikum Beton

48

Universitas Persada Indonesia YAI

Setelah adukan beton segar di uji slump, maka selanjutnya adalah memasukkan
kedalam benda uji berupa 3 buah benda uji silinder dan 2 buah benda uji kubus. Karena
terbatasnya alat untuk pengadukan, maka pengadukan dilakukan 2x yaitu yang pertama untuk
3 buah benda uji silinder, dan kedua untuk 2 buah benda uji kubus. Benda uji dibuat sebanyak
5 buah untuk membantu dalam proses mengetahui kuat tekan beton dari usia 7, 14, 21, dan 28
hari.
2.12 Pengujian Kekuatan Tekan Beton
A. Tujuan Percobaan
Menentukan kekuatan tekan beton berbentuk kubus dan silinder yang dibuat dan
dirawat (cured) di laboratorium. Kekuatan tekan beton adalah perbandingan beban terhadap
luas penampang beton.
B. Teori Singkat
Beton adalah bagian dari konstruksi yang dibuat dari campuran beberapa material
sehingga mutunya akan banyak tergantung kondisi material pembentuk ataupun pada proses
pembuatannya.
Untuk itu kualitas bahan dan proses pelaksanaannya harus dikendalikan agar dicapai
hasil yang optimal.
Mutu Beton fc'
Beton dengan mufu fc' 25 menyatakan kekuatan tekan minimum adalah 25 MPa pada
umur beton 28 hari, dengan menggunakan silinder beton diameter 15 cm, tinggi 30 cm.
Mengacu pada standar SNI 03-2847-2002 yang merujuk pada ACI (American Concrete
Institute).
MPa = Mega Pascal ; 1 MPa = 1 N/mm2 = 10 kg/cm2.
Mutu Beton Karakteristik
Beton dengan mutu K-250 menyatakan kekuatan tekan karakteristik minimum adalah
250 kg/cm2 pada umur beton 28 hari, dengan menggunakan kubus beton ukuran 15x15x15
cm.
Mengacu pada PBI 71 yang merujuk pada standar eropa lama
Contoh :
K. 400, kekuatan tekan beton = 400 kg/cm2, dengan benda uji kubus 15 x 15 x 15
Fc = 40 MPa = kekuatan tekan beton = 40 Mpa, dengan benda uji silinder diameter 15 cm
tinggi 30 cm
Laporan Praktikum Beton

49

Universitas Persada Indonesia YAI

C. Peralatan
a. Mesin penguji
D. Bahan
a. Beton berbentuk benda uji kubus berukuran 15 x 15 x 15 sebanyak 2 buah.
b. Beton berbentuk benda uji silinder berukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm
sebanyak 1 buah.
E. Cara Percobaan
a. Ambilah benda uji dari tempat perawatan.
b. Letakkan benda uji pada mesin tekan secara sentries.
c. Jalankan mesin uji tekan. Tekanan harus dinaikkan berangsur angsur dengan
kecepatan berkisar antara 4kg/cm s.d. 6kg/cm perdetik.
d. Lakukan pembebanan sampai benda uji hancur dan catatlah beban maksimum hancur
yang terjadi selama pemeriksaan benda uji.
e. Lakukan langkah a, b, c, dan d sesuai jumlah benda uji yang akan ditentukan kekuatan
tekan karakteristiknya.

F. Hasil Pengujian

Laporan Praktikum Beton

50

Universitas Persada Indonesia YAI

LABORATORIUM BETON
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK-UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA-YAI
JAKARTA

PENGUJIAN KEKUATAN TEKAN BETON


No Pengujian

:-

Jenis Contoh

:-

Jumlah Contoh

:3

Terima Tanggal

: 25 Oktober 2016

Diuji Tanggal

: 29 Oktober 2016

Diuji Oleh

: Ir.Sarjono Puro, M.T

Diperiksa Oleh

: Ir.Sarjono Puro, M.T

Pengujian dilaksanakan sesuai cara uji SNI 03-1974-1990


No
Benda
Uji

1
2
3

Tanggal

Tanggal

Umur

Pembuatan

Pengujian

(hari)

14-08-16
14-08-16
14-08-16

29-10-16
29-10-16
29-10-16

75
75
75

Massa
Benda Uji
(Kg)

Dimensi

150
150
300

150

Luas

Gaya

Bidang

Tekan

(mm)

(kN)

22500
22500
17671

5
5
5

Kuat Tekan

Keteran

(N/mm)

gan

17,78
20
10,75

Berikut adalah langkah untuk mendapatkan nilai kuat tekan beton apakah sesuai yang
direncanakan atau tidak?
Jumlah benda uji yang ada haruslah paling sedikit 15 benda uji.
Langkah-langkahnya:
Laporan Praktikum Beton

51

Universitas Persada Indonesia YAI

1. Hitung kuat tekan beton rata-rata


2. Hitung nilai kuat tekan beton rata-rata dikurangi nilai kuat tekan beton masing-masing
benda uji
3. Kuadratkan hasil dari langkah ke-2, lalu jumlahkan.
4. Hitung standar deviasi dengan rumus ((langkah 3)/n-1)
5. Hitung nilai kuat tekan uji sampel dengan rumus fc = fc rata rata 1,64 x standar
deviasi.
G. Kesimpulan
Berdasarkan hasil uji kuat tekan, didapatkan kuat tekan karakteristik tertinggi yaitu
sebesar 20 Mpa. Hasil ini hanya sekitar 60% dari kuat tekan yang direncakan yaitu sebesar 30
Mpa. Baik faktor teknis dan non teknis banyak mempengaruhi tidak tercapainya kuat tekan
yang direncanakan.

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dengan melaksanakan 12 uji yang dilaksanakan dalam praktikum beton, maka
didapatkan kesimpulan bahwa:

Laporan Praktikum Beton

52

Universitas Persada Indonesia YAI

1. Agregat halus yang digunakan yaitu pasir dapat digunakan sebagai bahan atau
komponen penyusun beton. Hal ini dibuktikan dengan pengujian kadar lumpur dan
kandungan zat organik, gradasi agregat halus pun masuk kategori sedang yang
didasarkan dari uji analisa saringan.
2. Berdasarkan hasil uji analisa saringan agregat kasar, maka diamater kerikil yang
digunakan adalah maksimal 40mm.
3. Hasil uji kuat tekan beton tidak mencapai nilai kuat tekan yang direncakan. Hal ini
disebabkan oleh:
a. Karena tidak tersedianya timbangan yang sesuai standar, maka bobot atau berat
masing-masing tidaka presisi. Hal ini menyebabkan perubahan pada kuat tekan
beton.
b. Agregat kasar yang tersedia dilapangan berukuran lebih dari 40 mm.
c. Agregat kasar yang tersedia dilapangan telah bercampur dengan lumpur dan pasir
hitam.
d. Pengadukan mix design yang menggunakan tangan manual tanpa menggunakan
mesin molen.
e. Karena pengadukan menggunakan tangan manual, sehingga menyulitkan
pencampuran bahan demi bahan. Oleh karena itu untuk menambah workability,
dilakukan penambahan air. Hal ini tentu akan mempengaruhi w/c. Meningkatnya
jumlah air tentu akan mengurangi kuat tekan beton yang direncakan.
3.2 Saran
a. Diharapkan agar laboratorium beton Universitas Persada Indonesia bisa lebih baik
lagi lagi baik dalam hal kebersihan, kerapihan, dan keindahan.
b. Alat alat praktek diharapkan untuk dilengkapi lagi.
c. Memperbaiki alat praktek yang sudah rusak.
d. Pengumuman waktu praktek tidak mendadak, sehingga

mahasiswa

bisa

mempersiapkan terlebih dahulu dari jauh jauh hari dan waktu praktek agar lebih
lama serta jadwal praktek yang terjadwal bukan secara kuota.
DAFTAR PUSTAKA
Puro Sarjono. 2016. Modul Praktek Beton. Jakarta : Universitas Persada Indonesia YAI
Fakultas Teknik.
perancangan campuran beton. 18 Agustus 2016.
http://rumahdangriya.blogspot.co.id/2011/07/perencanaan-campuran-beton-atau.html
tata cara pengadukan beton. 18 Agustus 106. http://kampussipil.blogspot.co.id/2013/03/tata-cara-pengadukan-beton.html

Laporan Praktikum Beton

53

Universitas Persada Indonesia YAI

uji slump test. 18 Agustus 2016. http://kuliahinsinyur.blogspot.co.id/2012/06/concreteslump-test-uji-slump-beton.html


slump test. 18 Agustus 2016. http://www.ilmukonstruksi.com/2015/10/slump-test.html
cara pembuatan benda uji tes untuk test beton. 18 Agustus 106.
http://www.ilmusipil.com/cara-pembuatan-benda-uji-tes-untuk-tes-beton
cara pembuatan benda uji untuk test beton. 18 Agustus 106.
http://caturprasetyow.blogspot.co.id/2015/11/cara-pembuatan-benda-uji-untuk-tes-beton.html
memahami mutu beton fc mpa. 18 Agustus 2016.
http://www.hdesignideas.com/2012/06/memahami-mutu-beton-fc-mpa-dan-mutu.html

Laporan Praktikum Beton

54