Anda di halaman 1dari 20

RESUME BUKU FILSAFAT ILMU DAN PERKEMBANGANNYA DI

INDONESIA
Karangan Drs.Surajiyo
Penerbit Bumi Aksara 2013

Buku filsafat yang terbit pada bulan September yang merupakan cetakan ketujuh ini terdiri
atas tiga bagian utama, yaitu bagian pertama membahas tentang pengenalan filsafat ilmu yang
terdiri atas tiga bab, bagian kedua membahas tentang masalah ilmu pengetahuan yang terdiri atas
lima bab dan bagian yang ketiga membahas tentang pengembangan ilmu pengetahuan terdiri atas
tiga bab. Masing-masing bab tersebut akan dibahas di bawah ini:
A. BAGIAN PERTAMA TENTANG PENGENALAN FILSAFAT ILMU
1. BAB 1 Pengantar Ilmu Filsafat
a. Pengertian Filsafat
Pengertian filsafat dapat ditinjau dari dua segi, yakni secara etimologi dan
terimonologi, keduanya dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Arti secara etimologi
Etimologi diartikan sebagai asal usul kata filsafat. Kata filsafat berasal dari bahasa
arab falsafah yang dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah philosophy yang berasal
dari bahasa yunani philosophia yang secara etimologi diartikan cinta kebijaksanaan
(love of wisdom).
2) Arti secara terminologi
Dalam buku filsafat ilmu dan perkembangannya di Indonesia menyebutkan beberapa
definisi tentang filsafat secara terminologi yang dari beberapa ahli tersebut dapat
disimpulkan bahawa pengertian filsafat secara terminologi adalah ilmu pengetahuan
yang mempelajari segala sesuatu. Yang dicari dari filsafat adalah hakikat dari sesuatu
sehingga kita dituntut untuk bersifat refleksi, radikal dan integral terhadap objek
tersebut.
b. Objek Filsafat
Objek dalam penelitian filsafat antara lain:
1) Objek material menyangkut segala sesuatu yang ada maupun tidak ada.
2) Objek formal menyangkut dari sudut mana objek material tersebut disorot
c. Metode Filsafat
Metode-metode dalam filsafat dapat dibagi menjadi beberapa bagian diantaranya adalah
sebagai berikut:

1) Metode Kritis yang dikembangkan oleh Socrates, Plato. Bersifat analisis istilah dan
pendapat, dengan jalan bertanya

(berdialog), membedakan, membersihkan,

menyisihkan, dan menolak, akhirnya ditemukan hakikat.


2) Motode Intuitif yang dikembangkan oleh Plotinus, dan Bergson. Dengan jalan
pembaharuan antara kesadran dan proses perubahan sehingga tercapai secara
langsung pemahaman mengenai keyakinan.
3) Metode Skolastik dikembangkan oleh Aristoteles, Thomas Aquinas, dan beberapa
filsafat abad pertengahan. Bersifat sintesis-deduktif dengan bertitik tolak dari definisidefinisi atau prinsip yang jelas dengan sendirinya ditarik kesimpulan.
4) Metode Geometris dikembangkan oleh Rene Descartes dan pengikutnya. Melalui
analisis hal-hal kompleks, dicapai intuisi akan hakikat-hakikat sederhana, kemudian
dideduksikan secara matematis segala pengertian lainnya.
5) Metode Empiris dikembangkan oleh Hobbes, Locke, Berkeley, David Hume. Hanya
pengalamanlah yang menyajikan pengertian benar, maka semua pengertian dalam
introspeksi dibandingkan dengan cerpen-cerpen (impresi) dan kemudian disusun
bersama secara geometris.
6) Metode Transendental oleh Immanuel Kant Dan Neo- Skolastik. Bertitik tolak dari
tepatnya pengertian tertentu, dengan jalan analisis diselidiki syarat-syarat apriori bagi
pengertian sedemikian.
7) Metode Fenomologis oleh Husserl dan Eksistensialisme. Dengan jalan beberapa
pemotongan sistematis, refleksi dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikathakikat murni.
8) Metode Dialektis oleh Hugel, dan Marx. Dengan jalan mengikuti dinamika pekiran
atau alam sendiri, menurut triade tesis, anititesis, sintesis dicapai hakikat kenyataan.
9) Metode Neo-positivistis. Kenyataan dipahami menurut hakikatnya dengan jalan
mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif
(eksakta).
10) Metode Analitika bahasa, Wittgenstein. Dengan jalan analisis pemakaian bahasa
sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofis.
d. Ciri-ciri Filsafat
Adapun ciri-ciri dari berfilsafat menurut Sunoto adalah deskriptif, kritik atau analitik,
evaluatik atau normative, spekulatif dan sistematik. Sedangkan menurut Drs. Sri Suprapto
Wirodiningrat menyebutkan bahwa filsafat memiliki tiga ciri yaitu menyeluruh, mendasar
dan spekulatif.
e. Asal dan peranan Filsafat
1) Asal filsafat

Manusia berfilsafat berasal dari tiga hal yaitu keheranan, kesangsian, kesadaran akan
keterbatasan
2) Peranan filsafat
a) Filsafat telah mendobrak pintu dan tembok tradisi yang begitu sakral dan selama
itu tidak boleh diganggu gugat
b) Filsafat membantu manusia keluar dari kebodohan dan ketidaktahuaannya
c) Filsafat menjalankan perannya sebagai pembimbing dan membantu manusia
berfikir rasional.
f. Pembagian (cabang-cabang) Filsafat
Filsafat secara garis besar dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu:
1) Filsafat sistematis. Filsafat ini bertujuan dalam pembentukan dan pemberian landasan
pemikiran filsafat. Didalamnya meliputi logika (menyelidiki lurus atau tidak
pemikiran kita), metodologi, epistemologi (membicarakan tentang terjadinya
pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat-sifat,
metode dan kesahihan pengetahuan), filsafat ilmu, etika (membicarakan tingkah laku
atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk), estetika
(membicarakan tentang keindahan), metafisika (membicarakan sesuatu yang ada dan
sesuatu di sebalik yang tampak), filsafat ketuhanan, fiksafat manusia, dan kelompok
filsafat khusus seperti filsafat sejarah, filsafat hokum, filsafat komunikasi dan lainlain.
2) Sejarah filsafat. Merupakan bagian yang berusaha meninjau pemikiran filsafat di
sepanjang masa sejak zaman Kuno hingga zaman Modern. Bagian ini meliputi sejarah
filsafat Yunani (Barat), India, Cina, dan sejarah filsafat Islam.
2. BAB 2 Filsafat Pengetahuan (Epistemologi)
Epistemologi adalah bagian filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan,
sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat dan kesahihan pengetahuan.
a. Pengertian pengetahuan
Pengetahuan dapat diartikan sebagai hasil tahu manusia, usaha manusia untuk memahami
sesuatu. Jadi objek material epistemology adalah pengetahuan, sedangkan objek formalnya
adalah hakikat pengetahuan. Oleh karena itu, sistematika penulisan epistemologi adalah arti
pengetahuan, terjadinya pengetahuan, jenis-jenis pengetahuan dan asal usul pengetahuan.
b. Proses terjadinya pengetahuan
Pengetahuan berawal mula dari kenyataan yang dapat diindra kemudian dinalarkan. Nalar
sendiri merupakan corak berpikir dengan menggabungkan dua pemikiran atau lebih dengan
maksud untuk mendapatkan pengetahuan baru.
c. Jenis-jenis pengetahuan

Jenis-jenis pengetahuan menurut Plato yaitu terdiri dari pengetahuan Eikasia (khayalan),
pengetahuan Pistis (subtansial), pengetahuan Dianoya (matematik) dan pengetahuan Noesis
(filsafat).
d. Asal usul pengetahuan
Asal-usul pengetahuan dapat dilihat dari aliran-aliran, metode ilmiah dan sarana berfikir
ilmiah yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Aliran-aliran dalam pengetahuan
Aliran-aliran dalam pengetahuan yaitu rasionalisme yang merupakan sumber
pengetahuan yang mencukupi dan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal), empirisme
menyatakan bahwa yang menjadi sumber pengetahuan adalah pengalaman, kritisme,
dan positivisme berpangkal dari apa yang telah diketahui yang factual dan yang positif.
2) Metode ilmiah
Mencakup hal-hal yang mengkaji urutan langkah-langkah yang ditempuh supaya
pengetahuan yang diperoleh memenuhi ciri-ciri ilmiah. Menurut Soejono Soemargono
(1983) metode ilmiah secara garis besar ada dua macam, yaitu metode ilmiah yang
bersifat umum dan metode penyeledikan ilmiah.
3) Sarana berfikir ilmiah
Sarana berfikir ilmiah dibagi menjadi tiga bagian yaitu bahasa ilmiah, logika
matematika serta logika dan statistik.
3. BAB 3 Ruang Lingkup Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu adalah penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara untuk
memperolehnya. Cabang filsafat yang membahas tentang ilmu adalah filsafat ilmu. Tujuannya
menganalisis mengenai ilmu pengetahuan dan cara bagaimana pengetahuan ilmiah itu
diperoleh. Pokok perhatian dari filsafat ilmu adalah proses penyelidikan ilmiah itu sendiri
a. Objek filsafat ilmu
Filsafat ilmu memiliki dua objek filsafat yaitu objek material filsafat ilmu dan objek
formal filsafat ilmu. Objek material filsafat ilmu yaitu objek yang dijadikan sasaran
penyelidikan oleh suatu ilmu, atau objek yang dipelajari oleh ilmu, objek itu sendiri adalah
pengetahuan, yaitu pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode
ilmiah tertentu, sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Dan yang kedua
yaitu objek formal filsafat ilmu adalah hakikat ilmu pengetahuan, maksudnya filsafat ilmu
lebih menaruh perhatian terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa
hakikat ilmu pengetahuan itu? Bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah? Masalah
inilah yang dibicarakan dalam landasan pengetahuan, yaitu landasan ontologis,
epistemologis, dan aksiologis.
b. Lingkup filsafat ilmu menurut para Filsuf
4

Dalam buku ini disebuktkan beberapa lingkupan filsafat ilmu yang dikemukakan oleh The
Liag Gie (2000) antara lain:
1) Pater Angeles, menurut filsafat ini, filsafat ilmu memiliki empat bidang konsentrasi
yang utama yaitu telaah mengenai beberapa konsep dan metode ilmiah, telaah dan
pembenaran

mengenai

proses

penalaran

dalam

ilmu

berikut

struktur

perlambangannya, telaah mengenai saling keterkaitan diantara berbagai ilmu.


2) Marx Wartofsky, mengemukakan bahwa rentangan luas dari soal-soal interdisipliner
dalam filsafat ilmu meliputi perenungan mengenai konsep dasar, struktur formal dan
metodologi ilmu. Selain itu, persoalan ontologi dan epistemologi juga menjadi ruang
lingkup ilmu filsafat.
3) Ernest Nagel, yaitu yang menyebutkan bahwa filsafat ilmu mencakup tiga bidang
luas, yaitu pola logis yang ditunjukkan oleh penjelasan dalam ilmu, pembuktian
keabsahan kesimpulan ilmiah.
c. Masalah Filsafat Ilmu
Beberapa masalah filsafat ilmu menurut para filsuf ilmu, antara lain adalah sebagai
berikut:
1) Van Fraassen dan H.Margenau, menurut ahli ini masalah utama dalam filsafat ilmu
setelah tahun enam puluhan adalah metodologi, hal hal yang diperbincangkan ialah
mengenai sifat dasar dari penjelasan ilmiah dan tori pengukuran. Yang kedua adalah
landasan ilmu, bahwa ilmu empiris hendaknya melakukan penelitian mengenai
landasannya dan mencapai sukses seperti halnya landasan matematika. Masalah
selanjutnya yang dikemukakan oleh ahli ini adalah masalah ontologi, yaitu persoalan
utama yang dibicarakan adalah yang mencakup masalah substansi, proses, waktu,
ruang dan status.
2) Viktor Lenzen, yang mengajukan dua problem, yaitu struktur ilmu, yaitu metode dan
bentuk pengetahuan ilmiah, pentingnya ilmu bagi para praktik dan pengetahuan
mengenai realitas.
d. Manfaat Belajar Filsafat Ilmu
Dengan mempelajari filsafat ilmu, orang menjadi kritis terhadap kegiatan ilmiah,
maksudnya seorang ilmuwan harus memiliki sikap kritis terhadap bidang ilmunya sendiri,
sehingga dapat menghindarkan diri dari sikap solisiptik, yakni menganggap hanya
pendapatnya yang paling benar, manfaat yang kedua bahwa ilmu merupakan usaha
mengkritik asumsi dan metode keilmuwan. Sebab kecenderungan yang terjadi dikalangan
para ilmuwan menerapkan satu metode ilmiah tanpa memperhatikan struktur ilmu
pengetahuan itu sendiri. Manfaat selanjutnya bahwa filsafat ilmu memberikan pendasaran
5

logis terhadap metode keilmuwan. Setiap metode ilmiah yang dikembangkan harus dapat
dipertanggungjawabkan secara logis, agar dapat dipergunakan secara umum.

B. BAGIAN KEDUA MASALAH ILMU PENGETAHUAN


1. BAB 4 Apa itu ilmu pengetahuan
a. Definisi Ilmu Pengetahuan
The Liang Gie (1987) memeberikan pengertian tentang ilmu, yaitu rangkaian aktivitas
penelaah yang mencari penejelasan suatu metode untuk memperoleh pemahaman secara
rasional dan empiris mengenai dunia ini dalam berbagai seginya dan keseluruhan
pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin dimengerti manusia.
Ilmu pengethuan harus diusahakan dengan aktivitas manusia, aktivitas itu harus
dilaksanakan dengan metode tertentu dan akhirnya aktivitas metodis tersebut
menghasilkan pengetahuan yang sistematis. Adapun ciri-ciri ilmu pengetahuan adalah
sebagai berikut menurut The Liang Gie (1987) mempunyai 5 ciri pokok yaitu empiris,
sistematis, objektif, analistis, verifikatif. Demi objektivitas ilmu, ilmuan harus bekerja
dengan cara ilmiah sifat ilmiah dalam ilmu, dapat diwujudkan, apabila syarat-syarat yang
intinya yaitu Ilmu harus mempunyai objek, Ilmu harus mempunyai metode, Ilmu harus
sistematis dan Ilmu bersifat universal
b. Ciri-ciri ilmu pengetahuan
Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan menurut Liang Gie (1987) adalah sebagai berikut:
1) Empiris, diperoleh melalui percobaan
2) Sistematis, berbagai data dan keterangan yang tersusun sebagai kumpulan
pengetahuan itu mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur
3) Objektif, ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan
kesukaan pribadi
4) Analitis, pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya ke dalam
bagian yang terperinci, untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari
bagian-bagian iitu
5) Verifikatif, dapat diperiksa kebenarannya oleh siapa pun juga
c. Keragaman dan pengelompokkan ilmu pengetahuan
Kumpulan pertanyaan ilmuan mengenai suatu objek yang memuat pengethuan ilmiah
oleh The Liang Gie (2000) mempunyai empat bentuk, yaitu Deskripsi, Preskripsi,
Eksposisi pola dan Rekonstruksi historis
d. Susunan ilmu pengethuan

Langkah-langkah dalam ilmu pengetahuan biasanya diawali dengan situasi masalah dan
berlangsung dalam tahap-tahap sebagai berikut, yaitu perumusan masalah yang
dirumuskan secara tepat dan jelas dalam bentuk pertanyaan, kedua adalah pengamatan
dan pengumpulan data atau observasi yang hasilnya dituangkan dalam bentuk
pertanyaan-pertanyaan.

Ketiga

pengamatan

dan

klasifikasi

data

yaitu

proses

menganalisis, membandingkan dan membedakan data-data hasil temuan. Keempat adalah


tahapan perumusan pengetahuan (definisi). Tahap kelima adalah adalah tahap ramalan
dan terakhir tahap pengujian kebenaran.
e. Ilmu dan teknologi
Berdasarakan beberapa pendapat yang mengemukakan tentang ilmu dan teknologi maka
dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut yaitu teknologi bukanlah ilmu melainkan
penerapan dari ilmu itu sendiri, teknologi merupakan merupakan ilmu yang selalu
dikaitkan dengan aspek eksternal yaitu industri dan aspek internal dikaitakna dengan
objek material dari ilmu, teknologi merupakan keahlian yang terkait dengan realitas
kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, baik ilmu maupun teknologi merupakan
komponen dari kebudayaan, baik ilmu maupun pengetahuan memilki aspek ideasional
maupun factual, dimensi abstrak maupun konkret dan aspek teoritis maupun praktis.
Dengan demikian, terdapat hubungan timbal balik antara teknologi dan ilmu.
f. Wujud ilmu
Ilmu dapat dipahami sebagai aktivitas penelitian, metode kerja dan hasil pengetahuan.
Ketiga pengertian tersebut saling bertautan logis dan berpangkal pada satu kenyataan
yang sama bahwa ilmu hanya terdapat dalam msyarakat manusia, karena masyarakatlah
yang melakukan serangkaian metode ilmiah sehingga dihasilkan suatu pengetahuan.
2. BAB 5 Sejarah Ilmu Pengetahuan
a. Zaman Pra Yunani kuno
Pada zaman ini manusia masih menggunakan batu sebagai peralatan. Zaman ini
berlangsung sekitar empat juta tahun sampai dua puluh ribu tahun. Pada abad ke-6 SM di
Yunani mulai muncul para filsafat hal ini ditandai oleh faktor-faktor sebagai berikut yaitu:
1) Pada bangsa yunani, seperti juga bangsa yang lainnya terdapat suatu mitologi yang
kaya dan luas. Mitologi ini dianggap sebagai perinsip yang mendahului filsafat, karena
mite-mite sudah merupakan percobaan untuk mengerti. Yang sangat khusus dari
bangsa yunani adalah mereka mengadakan beberapa usaha untuk menyusun mite-mite
yang diceritakan oleh rakyat menjadi suatu keseluruhan yang sistematis.
2) Kesusastraan yunani
Kedua puisi Homeros yang masing-masing berjudul Ilias dan Odyssea mempunyai
kedudukan yang istimewa dalam kesustraan yunani.
7

3) Pengaruh ilmu pengetahuan yang pada waktu itu sudah terdapat di timur kuno
Ilmu ukur dan ilmuhitung sebagian berasal dari Mesir dan Babylonia pasti ada
pengaruhnya dalam perkembangan perkembangan ilmu astronomi di yunani. Namun
orang yunani telah mengolah ilmu-ilmu tadi dengan cara yang tidak disangka-sangka
oleh bangsa Mesir dan Babylonia.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada zaman Pra Yunani Kuno di dunia ilmu
pengetahuan dicirikan oleh know how yang dilandasi pengalaman empiris. Selain itu
kemampaun berhitung ditempuh dengan cara one-to one correspondency atau maping
process. Salah satu hasil temuan pada zaman pra yunani kuno adalah kedudukan matahari
dan bulan pada waktu terbit dan tenggelam bergerak dalam rangka zodiak tertentu.
b. Zaman Yunani Kuno
Zaman Yunani Kuno merupakan zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini orang
memilki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Berikut ini
dijelaskan tentang zaman keemasan dan masa helinistis dan romawi pada zaman Yunani
kuno.
1) Zaman Keemasan Filsafat Yunani
Pada waktu Athena dipimpin oleh Perikles kegiatan politik dan filsafat dapat
berkembang dengan baik. Ada segolong orang yang pandai berpidato (rethrorika)
dinamakan kaum sofis. Kegiatan mereka adalah mengajarkan pengetahuan kepada
kaum muda. Yang menjadi objek penyelidikannya bukan lagi alam tetapi manusia,
sebagaimana yang dikatakan oleh Prothagoras, manusia adalah ukuran untuk segalagalanya.
2) Masa Helinistis dan Romawi
Pada zaman Alexander Agung telah berkembang sebuah kebudayaan trans nasioanal
yang disebut kebudayaan Helinistis. Dalam bidanng filsafat tetap berkembang namun
pada zaman itu belum ada filsuf yang benar-benar besar kecuali Plotinus.
c. Zaman Abad Pertengahan
Periode abad pertengahan mempunyai perbedaan yang mencolok dengan abad
sebelumnya. Perbedaan itu terutama terletak pada dominasi agama. Timbulnya agama
Kristen yang diajarkan oleh Nabi Isa membawa perubahan besar terhadap kepercayaan
keagamaan. Agama Kristen mengajarkan bahwa wahyu Tuhan merupakan kebenaran
yang sejati. Hal ini bertentangan dengan pandangan Yunani Kuno yang mengatakan
bahwa kebenaran dapat dicapai oleh kemampuan akal. Periode pada zaman abad
pertengahan ini mengalami dua periode yaitu periode patristik yang mengalami dua tahap
yaitu permulaan agama keristen dan filsafat Agustinus. Periode kedua adalah periode
skolastik yang berlangsung dari tahun 800-1500 M. Periode ini dibagi menjadi tiga tahap
8

yaitu periode skolastik awal yang ditandai oleh pembentukan metode-metode yang lahir
karena hubungan yang rapat antara agama dan filsafat. Tahap kedua dari periode skolastik
adalah periode puncak perkembangan skolastik yang puncak perkembangannya adalah
Thomas Aquinas. Tahap ketiga dari periode skolastik ditandai oleh pemikiran kefilsafatan
yang berkembang kearah nominalisme.
d. Zaman Renaissance
Zaman Renaissance ditandai sebagai era kebangkitan kembali pemikiran yang bebas dari
dogma-dogma agama. Manusia pada zaman ini adalah manusia yang merindukan
pemikiran yang bebas. Ilmu pengetahuan yang berkembang maju pada masa ini adalah
astronomi. Tokoh-tokoh yang terkenal seperti Robert Bacon, Capernicus, Johanes
Keppler, dan Galileo Galilei.
e. Zaman Modern
Perkembangan ilmu pengethuan pada zaman modrn sesungguhnya sudah dirintis sejak
zaman Renaissance seperti Rene Descartes tokoh yang terkenal sebagai bapak modern.
Rene Descartes juga merupakan seorang ahli ilmu pasti, penemuannya adalah sistem
koordinat, selain itu terdapat juga Isaac Newton dengan temuannya teori gravitasi,
Charles Darwin dengan teorinya Struggle for life (perjuangan untuk hidup), J.J Thomson
dengan temuannya electron.
f. Zaman Kontemporer (abad ke-20 dan seterusnya)
Diantara ilmu khusus yang dibicarakan oleh para filsuft, bidang fisika menempati
kedudukan yang paling tinggi. Selain itu bidang ilmu lain yang juga mengalami kemajuan
pesat, sehingga berkembangnya teknologi canggih dan menyebabkan spesialisasi ilmu
yang semakin tajam.
3. BAB 6 Prinsip-Prinsip Metodologi
Metodologi merupakan hal yang mengkaji perihal urutan langkah-langkah yang ditempuh
supaya pengetahuan yang diperoleh memenuhi ciri-ciri ilmiah. Dengan kata lain dapat
dipahami bahwa metodologi bersangkutan dengan jenis, sifat, dan bentuk umum mengenai
cara-cara, aturan dan patokan prosedur jalannya penyelidikan, yang menggambarkan
bagaimana ilmu pengetahuan harus bekerja. Adapun metode adalah cara kerja dan langkahlangkah khusus penyelidikan secara sistematik menurut metodologi itu agar tercapai suatu
tujuan yaitu kebenaran ilmiah.
a. Unsur-unsur metodologi
Menurut Anton Bakker dan Achmad Charris Zubair dalam buku Metodologi Penelitian
Filsafat (1994) anatara lain dijelaskan sebagai berikut:
1) Interprestasi, diharapkan manusia dapat memperoleh pengertian, pemahaman atau
verstehen.
9

2) Induksi dan deduksi, setiap ilmu terdapat penggunaan metode induksi dan deduksi
menurut pengertian empiris. Siklus empiris meliputi beberapa tahapan yakni
observasi, induksi, deduksi, kajian (eksperimentasi) dan evaluasi.
3) Koherensi intern, usaha untuk memahami secara benar guna memperoleh hakikat
dengan menunjukkan semua unsure structural dilihat dalam suatu struktur yang
konsisten, sehingga benar-benar merupakan internal structure atau internal relations.
4) Holistis, tinjauan secara lebih dalam untuk mencapai kebenaran secara utuh.
5) Kesinambungan historis, jika ditinjau menurut perkembangannya manusia itu adalah
makhluk historis. Manusia disebut demikian karena ia berekambang dalam
pengalaman dan pikiran bersama dengan lingkungan zamannya.
6) Idealisasi, merupakan proses untuk membuat ideal artinya upaya dalam penelitian
untuk memperoleh hasil yang ideal atau yang sempurna.
7) Komparasi, merupakan usaha untuk memperbandingkan sifat hakiki dalam objek
penelitian sehingga dapat menjadi lebih jelas dan lebih tajam.
8) Heuristika, merupakan metode untuk menemukan jalan baru secara ilmiah untuk
memecahkan

masalah.

Heuristika

benar-benar

dapat

mengatur

terjadinya

pembaharuan ilmiah dan sekurang-kurangnya dapat memberikan kaidah yang


mengacu.
9) Analogikal, filsafat meneliti arti, nilai dan maksud yang diekspresikan dalam fakta
dan data. Dengan demikian, akan dilihat analogi antara situasi atau kasus yang lebih
terbatas dengan yang lebih luas
10) Deskripsi, seluruh hasi penelitian harus dideskripsikan agar data tersebut dapat
dipahami secara mantap.
b. Pandangan mengenai prinsip metodologi
1) Rene Descartes
Rene Descartes mengusulkan metode umum yang memiliki kebenaran yang pasti.
Menurut Rene Descartes akal sehat ada yang kurang, ada pula yang lebih banyak
memilikinya, namun yang terpenting adalah penerapannya dalam aktivitas ilmiah.
Metode yang ia temukan merupakan upaya untuk mengarahkan nalarnya sendiri
secara optimal. Selain itu Rene Descartes menjelaskan kaidah-kaidah pokok tentang
metode yang akan digunakan dalam aktivitas ilmiah yang terdiri atas empat langkah
yaitu janganlah menerima apa saja sebagai benar juka anda tidak mempunyai
pengetahuan yang jelas mengenai kebenarannya, pecahkan tiap kesulitan anda
menjadi sebanyak mungkin bagian dan sebanyak yang dapat dilakukan untuk
mempermudah penyelesainnya secara lebih baik setelah itu arahkan pemikiran anda
secara tertib mulai dari objek yang paling sederhana, lalu meningkat sedikit demi
10

sedikit ke pengetahuan yang lebih kompleks kemudian buatlah penomoran untuk


seluruh permasalahan selengkap mungkin hingga and dapat merasa pasti tidak ada
sesuatu yang ketinggalan.
Selain itu Rene Descartes menyebutkan beberapa kaidah moral yang menjadi
landasan bagi penerapan metode tersebut, menegaskan pengabdian kepada kebenaran
yang acap kali terkecoh oleh indra, menegaskan perihal dualisme dalam diri manusia
yang terdiri atas dua subtansi yaitu jiwa bernalar dan jasmani yang meluas. Yang
terakhir Rene Descartes menjelaskan tentang dua jenis pengetahuan yaitu
pengetahuan spekulatif dan pengetahuan praktis yang menyaktu hal-hal yang bersifat
filosofis.
2) Alfred Jules Ayer
Ajaran penting dari Alfred Jules Ayer adalah yang terkait dengan masalah metodologi
alam prinsip verifikasi. Perinsip verifikasi merupakan pengandaian untuk melengkapi
suatu kriteria, sehingga melalui criteria tersebut dapat ditentukan apakah suatu
kalimat mengandung makna atau tidak. Melalui prinsip verifikasi ini tidak hanya
kalimat yang teruji secara empiris saja yang dapat dianggap bermakna tetapi juga
kalimat yang dapat dianalisis. Hal ini ditegaskan oleh Alfred Jules Ayer dalam kalimat
berikut suatu cara yang sederhana untuk merumuskan halite adalah dengan
mengatakan bahwa suatu kalimat mengandung makna , jika dan hanya jika proposi
yang dilingkup itu dapat dianalisis atau dapat diverifikasi secara empiris (Rizal
Mustansyir, 2001).
3) Karl Raimund Popper
Popper mengajukan pembenaran terhadap teori verifikasi yang mana prinsip tersebut
diberi nama prinsip falsifikasi sebagai berikut, yaitu Popper menolak anggapan umum
bahwa suatu teori dirumuskan dan dapat dibuktikan kebenarannya melalui prinsip
verifikasi. Teori ilmiah selalu bersifat hipotesis tidak ada kebenaran terakhir. Dia
menyebutkan bahwa sebuah pernyataan dapat dibuktikan kesalahannya. Maksudnya
sebuah hipotesis, hokum, ataukah teori kebenarannya hanya bersifat sementara,
sejauh belum ditemukan kesalahan-kesalahan yang ada di dalamnya. Menurut Popper
apabila suatu hipotesis dapat bertahan melawan segala usaha penyangkalan, maka
hipotesis tersebut semakin diperkokoh.
4) Michael Polanyi
Teori ilmu pengetahuan Michael Polanyi bertitik tolak dari kenyataan bahwa kita
dapat tahu lebih dari pada yang dapat kita katakan. Hal ini jelas menunjukkan dalam
11

struktur ilmu pengethuan terdapat dua bagian besar jenis ilmu pengethuan yang
membentuk struktur itu, yaitu bagian pengetahuan yang termasuk segi implicit dan
bagian yang termasuk segi eksplisit. Bagian pertama menurut Michael Polanyi itulah
yang dikatakan sebagai segi yang tidak terungkap oleh ilmu pengetahuan yang oleh
positivisme ditolak. Jadi Polanyi telah merintis suatu model perekmbangan baru ilmuilmu dengan memadukan secara jernih antara nilai dan fakta, sehingga ilmu-ilmu
dikembangkan dapat sejalan dengan perkembangan masyarakat. Objektivitas yang
menjadi pokok perhatian dari ilmu-ilmu itu sehingga mutlak menggunakan
subjektivisme yang pada prinsipnya akan mencerminkan objektivitasnya. Dalam
kerangka ini tampak upaya Michael Polanyi untuk menunjukkan hakikat ilmu sebagai
realitas yang personal.
4. BAB 7 Penemuan Kebenaran
a. Definisi mengenai kebenaran
Tujuan dari pengetahuan adalah untuk mencari kebenaran . kebenaran adalah suatu sifat
kepercayaan dan diturunkan dari kalimat yang menyatakan kepercayaan tersebut.
Kebenaran merupakan suatu hubungan antara suatu kepercayaan dan fakta. Menurut
Djaelani (dalam Sofyan, 2010: 425) kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan
dengan fakta-fakta itu sendiri atau pertimbangan (judgment) dan situasi yang
dipertimbangkan itu berusaha melukiskannya.
b. Cara penemuan kebenaran
Cara penemuan kebenaran berbeda-beda, kebenaran dapat dilihat secara ilmiah dan non
ilmiah. Menurut Hartono Kasmadi dkk (1990) adalah sebagai berikut:
1) penemuan secara kebetulan, adalah penemuan yang berlangsung secara tanpa
disengaja.
2) penemuan coba dan ralat ( trial dan error), terjadi tanpa adanya kepastian akan
berhasil atau tidak berhasil kebenaran yang dicari.

12

3) penemuan melalui otoritas atau kewibawaan, misalnya orang-orang yang mempunyai


kedudukan dan kekuasaan sering di terima sebagai kebenaran meskipun pendapatnya
tidak di dasarkan pada pembuktian ilmiah.
4) penemuan secara spekulatif, cara ini mirip dengan cara coba dan ralat. Akan tetapi,
perbedaannya dengan coba dan ralat memang ada.
5) penemuan kebenaran lewat cara berpikir, kritis dan rasional. Cara berpikir yang di
tempuh pada tingkat permulaan dalam memecahkan masalah adlah dengan cara
berpikir analitis dan sintetis.
6) penemuan kebenaran melalui penelitian ilmiah, cara mencari kebenaran yang di
pandang ilmiah adlah yang dilakukan melalui penelitian. Penelitian adlah penyaluran
hasrat ingin tahu pada manusia dalam teraf keilmuan.

Adapun definisi dari kebenaran merupakan hal sentral dari filsafat ilmu karena sebagian
merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran. Adapun jenis-jenis
kebenaran menurut A.M.W. Pranarka (1987) tiga jenis kebenaran adalah sebagai berikut:
1) kebenaran epistemologika, kebenaran dalam hubungannya dengan pengethuan manusia
2) kebenaran ontologikal, kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat kepada segala sesuatu
yang ada ataupun diadakan.
3) kebenaran semantikal, kebenaran yang melekat dan terdapat dalam tutur kata dan bahasa
Adapun sifat dari kebenaran itu sendiri menurut Abbas Hamami Mintaredja (1983) kata
kebenaran dapat di gunakan sebagai suatu kata benda konkrit maupun abstrak. Jika subjek
hendak menuturkan kebenaran artinya proposisi yang benar. Teori-teori mengenai
kebenaran dan kekhilafan.
c. Teori kebenaran
Secara tradisional teori kebenaran itu antara lain sebagai berikut:
1) Teori kebenaran saling berhubungan, dapat diungkapkan bahwa suatu proporsi itu benar
bila mempunyai hubungan dengan ide-ide dari proporsi yang telah ada atau benar, atau
proporsi itu mempunyai hubungan dengan proporsi terdahulu yang benar. Pembuktian
teori kebenaran ini dapat melalui fakta sejarah.
13

2) Teori kebenaran saling berkesuaian, berkaitan dengan teori kebenaran Aristoteles yang
menyatakan segala sesuatu yang diketahui adalah segala sesuatu yang dapat
dikembalikan pada kenyataan yang dikenal oleh subjek. Teori ini berpendapat bahwa
suatu proposisi bernilai benar apabila saling berkesesuain dengan dunia kenyataan
3) Teori kebenaran Inherensi, pandangan teori ini adalah suatu proposisi bernilai benar
apabila mempunyai konsekuensi yang dapat dipergunakan atau bermanfaat.
4) Teori kebenaran berdasarkan arti (Semantic Theory Of Truth), proposisi ditinjau dari
segi artinya atau maknanya. Apakah proposisi yang merupakan pangkal tumpunya itu
mempunyai referen yang jelas. Oleh sebab itu, teori ini mempunyai tugas untuk
menguakkan kesahan dari proposisi dalam referensinya.
5) Teori kebenaran sintaksis, teori berpangkal tolak pada keteraturan sintaks atau
gramatika yang dipakai oleh suatu pernyataan atau tata bahasa yang melekatnya.
Dengan demikian, suatu pernyataan bernilai benar jika pernyataan itu mengikuti aturanaturan sintaksis yang baku.
6) Teori kebenaran nondeskripsi, karena pada dasarnya suatu statemen akan mempunyai
nilai benar yang amat tergantung pada peran dan fungsi dari pernyataan itu. Jadi,
pengetahuan akan memilki nilai benar sejauh pertanyaan itu memiliki fungsi yang amat
praktis dalam kehidupan sehari-hari.
7) Teori kebenaran logika yang berlebihan, setiap proposisi mempunyai isi yang sama,
memberikan informasi yang sama dan semua orang sepakat, maka apabila kita
membuktikannya lagi hal yang demikian itu hanya merupakan bentuk logis yang
berlebihan.
d. Kekhilafan
Dalam pengetahuan kehilafan terjadi karena kesalahan pengambilan kesimpulan yang tidak
runtut terhadap pengalaman-pengalaman. Menurut Francis Bacon (1561-1626) dengan
teorinya yang terkenal yang dinamakan idola yang tercemin dalam bentuk ilusi dan
prejudice yang menyelewengkan pemikiran ilmiah. Idola tersebut antara lain:
14

1) Idola teatri (sandiwara), yaitu sesuatu yang sering dilihat sehari-hari yang

lama-

kelamaan tanpa disadari dan diselidiki dianggap sebagai kebenaran


2) Idola fori (pasar),yaitu keadaan dalam pikiran seseorang yang menyebabkan pikirannya
tidak dapat berfungsi dengan baik, karena orang tersebut hanya melihat sesuatu dari
segi bentuk dan luarnya saja
3) Idola specus (gua), yaitu suatu idola yang diakibatkan oleh individualism manusia
4) Idola tribus, yaitu idola yang diakibatkan kodrat manusiawi sehingga orang yang
terkena idola ini tidak dapat memahamiapa yang dihadapinya.
5. BAB 8 Definisi Dan Penalaran
Dalam penalaran ada dua proposisi pokok yang dinalar, yakni proposisi kategoris dan
proposisi majemuk.
a. Definisi
Definisi terdiri atas dua bagian, yakni bagian pangkal disebut defeniendum yang berisi
istilah yang harus diberi penjelasan, dan bagian pembatas disebut disebut definiens yang
berisi uraian mengenai arti dari bagian pangkal. Macam-macam Definisi yaitu definisi
nominalis ialah menjelaskan sebuah kata dengan kata lain yang lebih umum dimengerti.
Sedangakan realis penjelasan mengenai sesuatu hal berdasarkan term. Definisi praktis ialah
penjelasan tentang sesuatu ditinjau dari segi penggunaan dan tujuan yang sederhana.
Syarat-Syarat Definisi adalah sebuah definisi harus menyatakan ciri-ciri hakiki dari apa
yang didefinisikan,

merupakan suatu kesetaraan arti dengan yang didefinisika, harus

menghindarkan pernyataan yang memuat term yang didefinisikan, sebuah definisi harus
sedapat mungkin dinyatakan secara rumusan positif, dinyatakan secara singkat dan jelas
terlepas dari rumusan yang kabur atau bahasa kiasan.
b. Penalaran
Prinsip-prinsip penalaran menurut Aristoteles terdiri dari prinsip identitas, prinsip
kontradiksi dan prinsip eksklusi terti.
c. Silogisme kategoris

15

Silogisme adalah proses menggabungkan tiga proposisi, dua menjadi dasar penyimpulan,
satu menjadi kesimpulan. Dengan demikian, silogisme categories berarti argument yang
terdiri atas tiga proposisi kategoris yang saling berkaitan, menjadi kesimpulan yang
ditarik.
d. Proporsi majemuk
Proporsi majemuk adalah pernyataan yang terdiri atas dua bagian yang dapat dinilai benar
atau salah. Berdasarkan bentuk hubungan antara dua bagian itu proposisi majemuk dapat
dibedakan menjadi tiga yaitu:
1) Proposisi hipotik, pernyataan yang terdiri atas dua bagian yang hubungan keduanya
salinng ketergantungan yang satu sebagai premis dan yang lain sebagai kesimpulan.
2) Proposisi disjungtif, Proposisi ini ditandai dengan tanda atau.
3) Proposisi konjungtif, proposisi majemuk yang menegaskan bahwa 2 predikat
dihubungkan dengan subjek yang sama. Proposisi ini ditandai dengan kata dan.
e. Silogisme majemuk dan dilemma
Silogisme dibedakan menjadi 5 yaitu silogisme disjungtif inklusif, silogisme eksklusif,
silogisme disjungtif alternatif, silogisme hipotesis kondisional, silogisme hipotesis
bikondisional. Sedangakan dilemma diartikan sebagai silogisme yang terdiri atas dua
pilihan yang serba salah. Dilemma selalu ada dua proposisi hipotetik sebagai premis
mayor.
f. Sesat piker
Sesat piker dapat terjadi ketika menyimpulkan sesuatu lebih luas daripada dasarnya (latius
hos).
C. BAGIAN KETIGA PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN
1. BAB 9 Hubungan Dan Peranan Ilmu Pengetahuan Terhadap Pengembangan Kebudayaan
Nasional
a. Ilmu dan kebudayaan
16

Dewasa ini ilmu menjadi sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari, seolah-olah
manusia sekarang tidak dapat hidup tanpa ilmu pengetahuan. Kebutuhan manusia yang
paling sederhana pun sekarang memerlukan ilmu.

Ilmu adalah pengetahuan. Untuk

mendapatkan ilmu diperlukan cara-cara tertentu, ialah adanya suatu metode dan
mempergunakan sistem, mempunyai objek formal dan objek material. Istilah kebudayaan
diartikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti
kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat
b. Pengertian dan unsur-unsur kebudayaan
Ki Hajar Dewantara; kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan
manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni alam dan zaman (kodrat dan masyarakat) yang
merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan
kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan
kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
c. Pengaruh timbal-balik antara ilmu dan kebudayaan
Ilmu adalah dari pengetahuan. Untuk mendapatkan ilmu diperlukan cara-cara tertentu,
ialah adanya suatu metode dan mempergunakan sistem, mempunyai objek formal dan
objek material. Karena pengetahuan merupakan unsur dari kebudayaan, maka ilmu yang
merupakan bagian dari pengetahuan dengan sendirinya merupakan salah satu unsur dari
kebudayaan. Perkembangan ilmu tergantung dari

pada perkembangan kebudayaan,

sedangkan perkembangan ilmu dapat memberikan pengaruh pada kebudayaan.


d. Peranan ilmu terhadap pengembangan kebudayaan nasional
Istilah kebudayaan diartikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi)
manusia

seperti

kepercayaan,

kesenian,

dan

adat

istiadat.

Pada

hakikatnya,

perkembangan kebudayaan nasional adalah perubahan dari kebudayaan yang sekarang


bersifat konvensional kearah situasi kebudayaan yang lebih mencerminkan asprasi dan
tujuan nasional. Proses perkembangan kebudayaan ini pada dasarnya adalah penafsiran
kembali nilai-nilai konvensional agar lebih sesuai dengan tuntutan zaman serta
penumbuhan nilai-nilai bru yang fungsional. Untuk terlaksananya proses dalam
pengembangan kebudayaan tersebut maka diperlukan sifat kritis, rasional, logis, obyektif,
terbuka, menjunjung kebenaran dan pengabdian universal
e. Strategi kebudayaan
Strategi kebudayaan merupakan upaya bagaimana menangani kebudayaan khususnya di
Indonesia yang beragam budaya. Pancasila sebagai paradigma perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Pancasila sebagai paradigma pembangunan nasional

17

mengandung arti bahwa segala aspek pembangunan harus mencerminkan nilai-nilai


pancasila.
2. BAB 10 Etika Keilmuan
Ilmu berupaya mengungkapkan realitas sebagaimana adanya, sedangkan moral pada dasarnya
adalah petunjuk tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia.
a. Antara etika, moral, normal, dan kesusilaan
Etika secara etimologi diartikan sebagai watak, kesusilaan, atau adat. Secara terminologi
etika merupakan cabang ilmu filsafat yang membicaran tingkah laku, atau perbuatan
manusia dalam hubungannya dengan baik burk dengan kata lain etika merupakan sebuah
ilmu bukan sebuah ajaran. Sedangkan moral diartikan sebagai perbuatan yang sedang
dinilai. Norma merupakan garis pengarah atau suatu peraturan. Kesusilaan sendiri
diartikan sebagai hasil suatu menjadi yang terjadi didalam jiwa. Dengan demikian,
kesusilaan hanya berkaitan dengan batin kita.
b. Problem etika ilmu pengetahuan
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menghambat ataupun meningkatkan
keberadaan manusia tergantung pada menusianya itu sendiri, karena ilmu pengetahuan dan
teknologi dilakukan oleh manusia dan untuk kepentingan manusia dan kebudayaannya.
c. Ilmu: bebas nilai atau tidak bebas nilai
Bebas nilai atau tidak bebas nilai yang dimaksudkan adalah tuntunan setiap kegiatan
ilmiah agar didasarkan pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri.

d. Pendekatan ontologisme
Ontologis adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Secara ontologis
ilmu membatasi lingkup penelaah keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada
dalam jangkauan pengalaman manusia.
e. Pendekatan epistomologi
18

Epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber,
metode, struktur, dan validitas atau kebenaran pengetahuan.
f. Pendekatan aksiologi
Aksiologis adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum.
g. Sikap ilmiah yang harus dimiliki ilmuan
Ilmu bukanlah merupakan pengetahuan yang datang demikian saja sebagai barang yang
sudah jadi dan datang dari dunia khayal.
3. BAB 11 Strategi Pengembangan Ilmu Di Indonesia
a. Pengertian paradigma
Menurut Khun, cara kerja paradigma dan terjadinya revolusi ilmiah dapat digambarkan
kedalam tahap-tahap yaitu pada tahap pertama paradigma ini membimbing dan
mengarahkan aktivitas ilmiah dalam masa ilmu normal. Tahap kedua menumpuknya
anomaly menimbulkan krisis kepercayaan dari para ilmuan terhadap paradigm. Dan Tahap
ketiga para ilmuan bias kembali lagi pada cara-cara ilmiah yang sama dengan memperluas
dan mengembangkan suatu paradigma tandingan yang dipandang bias memecahkan
masalah dan membimbing aktivitas ilmiah berikutnya.
b. Landasan ontologisme, epistemologis, axiologis, dan antropologis pancasila
Landasan ontologis pancasila adalah Tuhan, manusia, satu, rakyat dan adil. Sedangakan
landasan epistemologis pancasila merupakan cerminan dari masyarakat Indonesia pada
saat kelahirannya digali dari budaya bangsa Indonesia itu sendiri. Landasan axiologis
pancasila merujuk kepada nilai-nilai dasar yang terdapat di dalam pembukaan UUD 1945.
Landasan antropologis pancasila memnadang manusia sebagai monopluralis.
c. Pancasila sebagai paradigma perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Pembangunan nasional adalah upaya bangsa untuk mencapai tujuan nasionalnya
sebagaimana yang dunyatakan dalam pembukaan UUD 1945. Pada hakikatnya pancasila
sebagai paradigma pembangunan nasional mengandung arti bahwa segala aspek
pembangunan harus mencerminkan nilai-nilai pancasila. Sistem Etika yang Tercermin
dalam Pancasila Sebagi Dasar Perkembangan IPTEK adalah:
1) Sila Ketuhan Yang Maha Esa, menempatkan manusia di alam semesta bukan sebagai
pusatnya, melainkan sebagai bagian yang sistematik dari alam yang diolahnya.
19

2) Sila kemanusiaan yang adil dan beradab, IPTEK harus dapat diabdikan untuk
peningkatan harakat dan martabat manusia, bukan

menjadikan manusia sebagai

makhluk yang angkuh dan sombong akibat dari penggunaan IPTEK


3) Sila persatuan indonesia, IPTEK dikembangkan harus memperkuat rasa persatuan
dan kesatuan bangsa.
4) Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan, setiap ilmuan harus menghotmati dan menghargai kebebasan orang lain
dan harus memilki sikap yang terbuka.
5) Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, kemajuan IPTEK harus mampu
menjaga keseimbangan keadilan dalam kehidupan kemanusiaan.
d. Visi ilmu di Indonesia
Bagi bangsa Indonesia strategi pengembangan ilmu pengetahuan

yang paling tepat

menurut Koento Wibisono (1994) ada dua hal pokok, yaitu visi dan orientasi filosofiknya
diletakkan pada nilai-nilai pancasila di dalam mengahadai masalah-masalah yang harus
dipecahkan sebagai data atau fakta objektif dalam satu kesatuan integratif.
Visi dan orientasi operasionalnya diletakkan pada dimensi-dimensi berikut:
1) Teleologis, dalam arti bahwa ilmu pengetahuan hanya sekedar sarana yang memang
harus kita pergunakan untuk mencapai suatu teleos (tujuan), yaitu sebagaimana
merupakan ideal kita untuk mewujudkan cita-cita sebagaimana dicantumkan dalam
pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
2) Etis, bahwa ilmu pengetahuan harus kita operasionalisasikan untuk meningkatkan
harkat dan martabat manusia.
3) Integral atau integratif, penerapan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kualitas
manusia, sekaligus juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas struktur masyrakatnya,
sebab manusia selalu hidup dalam relasi baik dengan sesame maupun dengan
masyarakat yang menjadi ajangnya.

20