Anda di halaman 1dari 14

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN

UAS
GEOMEKANIKA (GL 4013)
Nama

: Maulana Ashari

NIM

: 12013083

Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian


INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2016

UTS GEOMEKANIKA Maulana Ashari 12013083

UTS Geomekanika
1. Jelaskan pengertian istilah Reservoir Geomechanics?
Reservoir geomechanics (Castillo dan Moos, 2001) adalah studi
terintegrasi dari keadaan stress, tekanan pori (pore pressure) dan sifat
fisik reservoir, natural fractures/faults, cap rocks dan formasi pada
overburden. Reservoir geomechanics menjelaskan konteks untuk
memahami interaksi antara kondisi geologi dengan praktik pada produksi
dan engineering.
Parameter utama yang mengontrol interaksi tersebut diantaranya:
Kondisi in-situ stress,
Kekuatan batuan (rock strength)
Orientasi perlapisan (bedding orientation)
Tekanan pori (pore pressure)
Distribusi rekahan dan sesar
Lintasan sumur bor (wellbore trajectory), dan
Berat lumpur pemboran (mud weight).
Oleh karena itu, reservoir geomechanics juga dapat didefinisikan
sebagai cabang ilmu geologi struktur yang mempelajari kondisi stress
reservoir bawah permukaan yang berkaitan dengan operasi pemboran dan
pengembangan lapangan produksi.
2. Gambarkan dan jelaskan hubungan antara vertical stress dan
horizontal stress untuk sistem sesar dalam konteks geomekanika?

Gambar 1. Hubungan antara vertical stress dan horizontal stress untuk sistem sesar
(Zoback, 2007)

UTS GEOMEKANIKA Maulana Ashari 12013083

Dalam konteks geomekanika, untuk mendeskripsikan kondisi stress di


kedalaman terdapat empat parameter yang harus diperhatikan (Zoback,
2007) diantaranya; tiga besaran principal stress (Sv, SHmax, Shmin) dan
orientasi/arah stress. Adapun tiga besaran principal stress tersebut
diantaranya;
Sv, vertical stress, berhubungan dengan beban dari overburden.
Besaran dari Sv tersebut merupakan fungsi densitas batuan dari
permukaan hingga pada kedalaman tertentu (z), hal ini dapat
dijelaskan dengan rumus dibawah:
z

Sv = ( z ) gdz gz
0

SHmax, principal horizontal stress maksimum, dan


Shmin, principal horizontal stress minimum.

Hubungan antara principal stress terbesar (S1), menengah (S2), dan paling
kecil (S3) dengan vertical stress (Sv) dan horizontal stress (SHmax & Shmin)
dapat dilihat pada gambar 1. Skema klasifikasi sesar yang dibuat oleh
Anderson tersebut dibagi menjadi tiga, diantaranya:
1. Sesar normal
Pada sesar normal, S1 = Sv, S2 = SHmax, dan S3 = Shmin. Pada kondisi ini,
kerak mengalami perpanjangan (extending) dan sesar normal dengan
dipping yang terjal mengakomodasi pergerakan hanging wall yang
relatif turun terhadap foot wall.
2. Sesar strike-slip
Pada sesar strike-slip, S1 = SHmax, S2 = Sv, dan S3 = Shmin. Pada kondisi
ini, blok dari kerak mengalami pergeseran secara horizontal saling
melewati satu sama lain sepanjang sesar strike-slip yang hampir
vertikal.
3. Sesar naik
Pada sesar naik, S1 = SHmax, S2 = Shmin, dan S3 = Sv. Pada kondisi ini,
kerak berada pada keadaan kompresi dan sesar naik yang terbentuk
memiliki dipping relatif landai dan berasosiasi dengan pergerakan
hanging wall yang relatif naik terhadap foot wall.
Tabel 1. Hubungan magnitude stress dengan sistem sesar (Zoback, 2007)

3. Jelaskan dan gambarkan


compressive fracture!

perbedaan

tensile,

hybrid

dan

UTS GEOMEKANIKA Maulana Ashari 12013083


Berdasarkan pergerakan relatif terhadap bidang rekahan, Twiss and
Moores (1992) mengklasifikasikan rekahan menjadi tiga jenis (Gambar 2),
yaitu:
1. Rekahan Mode I
Rekahan tipe ini disebut rekahan tensile fracture, yaitu rekahan yang
memiliki pergerakan relatif tegak lurus terhadap bidang rekahan.
2. Rekahan Mode II
Rekahan tipe ini adalah compressive fracture yang memiliki pergerakan
relatif sejajar terhadap bidang rekahan dan tegak lurus ujung rekahan.
3. Rekahan Mode III
Rekahan tipe ini adalah hybrid fracture yang memiliki pergerakan
menggunting (scissor) relatif sejajar terhadap bidang rekahan dan
sejajar dengan ujung rekahan. Rekahan Mode III merupakan kombinasi
dari Mode I dan Mode II.

Gambar 2. Jenis (mode) rekahan pada batuan (Twiss dan Moore,1992)

Tiga jenis rekahan ini juga dapat dijelaskan dengan diagram Mohr

Gambar 3. Tiga tipe rekahan dan kaitannya dengan diagram Mohr (Fossen, 2010)

Dari gambar diatas diketahui bahwa:

UTS GEOMEKANIKA Maulana Ashari 12013083

Tensile fracture merupakan rekahan yang terbentuk secara Mode I,


rekahan ini mulai terbentuk ketika selubung Mohr bersinggungan
dengan sumbu horizontal pada diagram Mohr yang merupakan titik
kritis. Bukaan dari tensile fracture akan tegak lurus dengan S3.

Hybrid Fracture merupakan rekahan yang terbentuk secara Mode III,


rekahan ini terbentuk dalam kondisi campuran antara tensile dan
compressive. Hybrid fracture terbentuk pada sudut lancip terhadap
arah dari stress maksimum (maximum principal compressive stress,
S1). Dari gambar dapat dilihat bahwa bidang rekahan Hybrid fracture
memiliki sudut, sedangkan pada tensile fracture membentuk bidang
90o terhadap stress terkecil.
Compressive Fracture merupakan rekahan yang terbentuk secara Mode
II dan rekahan yang terbentuk akan memiliki pasangan konjugasinya
yang terbentuk pada waktu yang sama dan pada kondisi stress yang
sama.

4. Jelaskan pengertian istilah-istilah di bawah ini!


a. Mean stress
Mean stress adalah nilai rata-rata dari principal stress. Mean stress
digambarkan sebagai titik tengah pada lingkaran Mohr (Gambar 3)
dengan nilai 1/2 (1 + 3) yang merupakan komponen hidrostatis dari
principal stress dan cenderung untuk mengakibatkan dilation.
b. Differential stress
Differential stress adalah perbedaan antara principle stress maksimum
dan minimum; 1 - 3. Differential stress merupakan besaran scalar
positif dan memiliki nilai sama dengan dua kali nilai shear stress
maksimum. Untuk stress dua dimensi, differential stress merupakan
diameter dari lingkaran Mohr (Gambar 3). Differential stress
merupakan uniaxial stress yang diberikan sebagai tambahn pada
stress hidrostatik. Semakin besar differential stress, semain besar
potensi terjadinya distorsi.

Gambar 4. Diagram Mohr (Ragan, 2009)


c.

Tensile strength

UTS GEOMEKANIKA Maulana Ashari 12013083


Tensile strength adalah perpotongan dari sebuah kriteria rekahan
(fracture criterion) atau amplop (enveloped) dengan sumbu horizontal
negative. Secara umum, tensile strength adalah jumlah dari tensile
stress yang dapat ditahan oleh suatu material sebelum material
tersebut mengalami failure.

d. Compressive strength
Compressive strength adalah jumlah dari kompresi yang dapat ditahan
batuan tahan sebelum mengalami rekahan (fracturing), biasanya
berkali-kali jauh lebih besar dari tensile strength (delapan kali menurut
Griffith).

Gambar 5. Ilustrasi tensile strength dan compressive strength pada diagram Mohr
(Fossen,

e. Friction
Friction pada konteks geomekanika adalah sifat dari sebuah sesar.
Byerlee (1978) menyatakan bahwa friksi pada sesar tidak bergantung
pada kekasaran permukaan, normal stress, rate of slip. Koefisien dari
friksi memiliki range yang relatif kecil: 0.6 1.0. Frictional sliding
akan terjadi pada bidang sesar yang sudah terdapat sebelumnya ketika
ada shear stress yang cukup untuk mengatasi normal stress efektif
pada bidang sesar (Coulomb failure function (CFF) mendekati nilai 0)
(Zoback, 2007).
f. Internal angle of friction
Internal angle of friction adalah ukuran kemampuan unit batuan untuk
menahan shear stress. Sudut tersebut diukur antara gaya normal dan
gaya resultan yang dicapai ketika kegagalan (failure) terjadi akibat
shear stress.
g. Pore pressure
Pore pressure adalah tekanan pada fluida (air, minyak atau gas) yang
mengisi ruang pori pada batuan yang porous. Pore pressure
didefinisikan sebagai besaran skalar dari potensi hidraulik yang berada
dalam interconnected pore space dalam kedalaman yang dihitung dari
permukaan bumi (Zoback, 2007).

UTS GEOMEKANIKA Maulana Ashari 12013083

Gambar 6. Pore pressure gradient (Bowers,2002)

h. Confining pressure
Confining pressure adalah berat total dari air pori dan batuan yang
berada diatasnya pada kedalaman tertentu. Confining pressure
merupakan kombinasi dari hydrostatic stress dan lithostatic stress.

Gambar 7. Sumber: Pearson Education, Inc.

i. Hydraulic fracture
Hydraulic fracture adalah rekahan yang dibentuk dengan menaikan
tekanan fluida pada sebuah interval pada sumur sampai tekanan
formasi terlampaui dan batuan membentuk rekahan. Hydraulic
fractures akan membentuk pada titik dengan kompresi minimum di
sekitar sumur bor. Hydraulic fracture akan terbentuk tegak lurus
principal stress minimum (S3). Metode hydraulic fracturing biasanya
digunakan untuk mendorong produksi hidrokarbon dan menginjeksikan
air.

UTS GEOMEKANIKA Maulana Ashari 12013083

Gambar 8. Hydraulic fracturing (GMI)

j.

Leak off Test


Leak off Test adalah sebuah prosedur yang digunakan untuk
menentukan tekanan sumur bor yang dibutuhkan untuk membentuk
sebuah rekahan pada formasi terbuka (open formation). Selama
pengujian, lubang bor akan ditutup dan fluida akan diinjeksi ke dalam
lubang bor sehingga terjadi peningkatan tekanan secara gradual
hingga fluida akan masuk kedalam formasi (leak off), baik melalui jalur
yang permeable atau dengan membentuk rekahan pada batuan. Hasil
dari tes ini menunjukkan tekanan maksimum atau berat lumpur yang
diperlukan untuk pengeboran

Gambar 9. Leak off Test (GMI)

k. Lithostatic stress
Lithostatic stress atau overburden stress adalah tekanan pada
kedalaman tertentu akibat pembebanan batuan yang berada

UTS GEOMEKANIKA Maulana Ashari 12013083

diatasnya.

Lithostatic

stress

dinyatakan

sebagai

berikut:

Sv = ( z ) gdz gz
0

Dimana

( z)

merupakan densitas sebagai fungsi kedalaman, g

adalah percepatan gravitasi (Zoback 2007).

Gambar 10. Lithostatic stress gradient

l. Conductive fractures
Conductive fractures merupakan open fracture yang ditandai dengan
warna hitam pada borehole image. Hal ini dikarenakan open fracture
tersebut terisi dengan lumpur pengeboran sehingga saat terbaca di
borehole image menjadi konduktif.
m. Resistive Fractures
Resistive fractures merupakan closed fracture yang tampak berwarna
putih pada borehole image. Hal ini dikarenakan fracture tersebut terisi
mineral sehingga saat terbaca di borehole image menjadi resistif.
Namun, open fracture juga dapat berwarna putih saat dilihat borehole
image. Hal ini dikarenakan saat pengeboran menggunakan oil base
mud.
n. Borehole Breakout
Borehole breakout merupakan pembesaran penampang lubang bor
yang disebabkan oleh stress saat proses pemboran (Bell & Gough,
1979). Ketika proses pengeboran, material dipindahkan dari bawah
permukaan sehingga tidak dapat lagi mendukung batuan disekitarnya
dan membentuk konsentrasi stress disekitar dinding lubang bor.
Borehole breakout terjadi ketika stress pada lubang bor melebihi
compressive strength dari dinding lubang bor (Zoback dkk, 1985)

UTS GEOMEKANIKA Maulana Ashari 12013083

10

Gambar 11. Borehole breakout (Krisch, 1898)

o. Overpressure zone
Overpressure zone adalah suatu zona yang memiliki kondisi nilai
tekanan secara signifikan berada di atas gradien hidrostatik normal
(Jenkins et al., 2012). Zona ini dapat terbentuk ketika burial dari suatu
lapisan batuan sedimen yang mengandung air terjadi secara cepat
sehingga fluida tersebut tidak dapat keluar, sehingga tekanan pori
yang terbentuk meningkat seiring dengan peningkatan overburden.
Selain itu, juga dapat terbentuk akibat perubahan material padat
menjadi fluida (c:/ perubahan kerogen menjadi hidrokarbon) yang
mengakibatkan peningkatan tekanan pori.

Gambar 12. Respon effective stress akibat overpressure (Bowers, 2002)

5. Jelaskan secara singkat langkah-langkah untuk menentukan dan


memprediksi stress sebuah reservoir di kedalaman?

Kondisi stress reservoir secara umum dapat diketahui berdasarkan


kondisi tektonik dan orientasi dari sesar-sesar yang aktif. Dari hal
tersebut dapat diketahui arah dari principal stress, besaran stress
relatif, dan mengetahui apakah stress tersebutbekerja secara intense
atau relaxed.
Setelah kondisi umum stress reservoir diketahui, untuk menentukan
dan memprediksi stress reservoir di kedalaman dibutuhkan orientasi
dan magnitude dari Sv, SHmax dan Shmin, serta kondisi tekanan pori (pore
pressure) dan kekuatan batuan (cohesive strength)
a) Menentukan arah Sv, SHmax dan Shmin pada sumur vertikal

UTS GEOMEKANIKA Maulana Ashari 12013083

11

Orientasi dari Sv, SHmax dan Shmin dapat diketahui dari pemetaan
struktur/rekahan yang berada pada reservoir. Identifikasi rekahan
dapat dilakukan dengan bantuan borehole image. Pada borehole
image akan terlihat conductive fracture, resistive fracture, dan
borehole breakout yang nantinya akan dianalisi untuk menentukan
arah dari stress yang bekerja pada reservoir. Pada gambar dibawah
terlihat bahwa arah Shmin tegak lurus terhadap arah dari tensile
fracture, sedangkan arah SHmax tegak lurus terhadap arah dari
borehole breakout.
Effective stress pada dinding lubang
bor dapat dinyatakan menggunakan
persamaan
Kirsch.
Berdasarkan
persamaan tersebut, hoop stress
bersifat
kompresif
pada
Shmin,
sedangkan pada arah SHmax, hoop
stress memiliki nilai yang kecil. Ketika
nilai SHmax lebih besar dari nilai Shmin,
dinding lubang bor dapat berada pada
kondisi tensile pada arah SHmax sehingga membentuk drillinginduced tensile wall fractures. Konsentrasi hoop stress pada arah
Shmin akan membentuk regime kompresif sehingga menyebabkan
terbentuknya borehole breakout.

Gambar 14. Penentuan arah SHmax dan Shmin (Slide Perkuliahan Geomekanika)
b)

Menentukan besaran Sv (overburden stress)


Besaran Sv dapat dihitung berdasarkan densitas batuan dari
permukaan sampai kedalaman tertentu.
z

Sv = ( z ) gdz gz
0

c) Menentukan besaran Shmin menggunakan hydrofrac dan Leak off


Test (LOT)

UTS GEOMEKANIKA Maulana Ashari 12013083

12
o
o

Hydraulic fracture yang terbentuk di bumi akan selalu tegak


lurus arah principal stress minimum, S3 (Zoback, 2003).
Pengujian yang dilakukan untuk menentukan arah S hmin ialah
minifrac atau Leak Off Test (LOT).

Gambar 15. Skema LOT (Zoback, et.al., 2003)

d) Menentukan besaran SHmax


Penentuan besaran SHmax dapat dilakukan melalui Drilling-Induced
Tensile Fractures dan Borehole Breakout.
Penentuan Magnitude SHmax dari Drilling-Induced Tensile Fractures
SHmax = 3.1Shmin 2.1Pp
Penentuan Magitude SHmax dari Borehole Breakout

2 b
1+2 cos

(C +2 P p + P+ T )S hmin
S Hmax =
e) Menentukan pore pressure
Pore pressure didapatkan dari tes langsung melalui Repeat
Formation Test (RFT) ataupun estimasi dengan data log sonic, serta
dapat ditentukan melalui seismuik dan Drilling Stem Test (DST).
f) Menentukan kekuatan batuan (Co)
Kekuatan batuan dapat dilaukan dengan pengujian sampel core.
Namun, perlu diingat pengambilan sampel dan pengujian di
laboratorium telah mengubah kondisi batuan sehingga yang
dihitung bukan merupakan kondisi in-situ stress.

13

UTS GEOMEKANIKA Maulana Ashari 12013083


Estimasi rock strength juga dapat dilakukan dengan menganalisis
breakout dan tensile fracture. Lebar breakout akan memberi
informasi tentang kekuatan batuan secar in-situ.
6. Faktor-faktor apa yang mengontrol
reservoir di kedalaman dan jelaskan?

kondisi

stress

sebuah

a) Pergerakan Tektonik Lempeng


Pergerakan tektonik lempeng merupakan faktor yang paling mendasar
yang mengontrol stress pada kerak bumi (Forsyth dan Uyeda 1975
dalam Zoback, 2007). Pergerakan tektonik tersebut menghasilkan
ridge push force pada mid oceanic ridges, slab pull force dari buoyancy
negative akibat penunjaman, gaya resistansi akibat kolisi dan
sebagainya.
b) Topografi
Topografi yang memiliki nilai ketinggian yang bervariasi dapat
membentuk suatu kondisi stress yang bahkan dapat mempengaruhi
stress yang ditimbulkan dari pergerakan tektonik lempeng (Artyushkov
1973; dalam Zoback, 2007). Sebagi contoh, pada rangkaian gunung
yang besar akan mempengaruhi stress yang signifikan di kedalaman.
Topografi akan mempengaruhi besaran Sv pada reservoir.
c) Lithospheric Bouyancy
Variasi lateral pada ketebalan dan densitas litosfer mampu
mempengaruhi kondisi stress pada reservoir. Sebagai contoh, pada
penebalan kerak dan penipisan litosfer akan menghasilkan extensional
stress, sementara penipisan kerak dan penebalan litosfer akan
menghasilkan compressional stress.
d) Lithospheric Flexure
Pembengkokan (bending) yang terjadi di litosfer akibat pembebanan
yang terlokalisir akan mempengaruhi kondisi stress di reservoir.

UTS GEOMEKANIKA Maulana Ashari 12013083

14
DAFTAR PUSTAKA

Castillo, D.A., dan Moos, D. 2001. Reservoir Geomechanics Applied to Drilling And
Completion Programmes In Hostile And Complex Environments: North West
Shelf, Timor Sea, North Sea And Colombia. Proceedings, Indonesian Petroleum
Association, Twenty-Eighth Annual Convention & Exhibition
Davis, G. H., Reynolds, S. J., Kluth, C. F. 2012. Structural Geology of Rocks and
Regions 3rd Edition. Danver: John Wiley & Sons, Inc.
Fossen, H. 2010. Structural Geology. Cambridge: Cambridge University Press.
Miall, A. D. 2016. Stratigraphy: A Modern Synthesis. Toronto: Springer.
Ragan, D. M. 2009. Structural Geology: An Introduction to Geometrical
Techniques 4th Edition. New York: Cambridge University Press.
Sapiie, B., Harsolumakso, A. H. 2012. Catatan Kuliah GL3011 Prinsip Dasar
Geologi Struktur. Bandung: Penerbit ITB.
Sapiie, B. Slide Perkuliahan Rekahan dan Geomekanika. 2014. ITB: Teknik Geologi
Zoback, M. D. et. al. 2003. Determination of stress orientation and magnitude in
deep wells. International Journal of Rock Mechanics & Mining Sciences 40
(2003) 10491076
Zoback, M. D. 2007. Reservoir Geomechanics. New York: Cambridge University
Press.