Anda di halaman 1dari 16

BAB I

LAPORAN KASUS
Identitas
Nama

: Ny. MR

Umur

: 82 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Alamat

: Bulaan

Pekerjaan

: Pensiunan Guru

No. MR

: 16.30.43

Tanggal Masuk

: 27 Maret 2016 Pukul 13.05

Keluhan Utama
Nyeri kepala sejak 7 jam sebelum masuk rumah sakit
Riwayat Penyakit Sekarang

Nyeri kepala sejak 7 jam sebelum masuk rumah sakit. Nyeri kepala dirasakan saat
pasien bangun dari tidur malam. Pasien lupa nyeri kepala yang dirasakan seperti apa,

namun pasien merasakan pandangan kabur mendadak.


Mual ada, muntah tidak dirasakan pasien.
Nyeri dada tidak ada
Sesak nafas tidak ada
Batuk tidak ada.
Demam tidak ada.
Dada berdebar-debar tidak ada.
Sembab pada kedua tungkai tidak ada.
Kelemahan anggota gerak tidak ada
Rasa kesemutan pada tungkai tidak ada
Bicara pelo tidak ada.
BAK dan BAB tidak ada keluhan.

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat tekanan darah tinggi sejak 30 tahun yang lalu dengan kontrol tidak teratur.
Riwayat sakit jantung disangkal.
1

Riwayat diabetes mellitus disangkal.


Riwayat serangan stroke disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada anggota keluarga yang menderita hipertensi.


Tidak ada anggota keluarga yang menderita sakit jantung.
Saudara pasien mempunyai riwayat diabetes mellitus.

Riwayat Sosial Ekonomi Kebiasaan

Pasien seorang pensiunan guru di sekolah madrasah tsanawiyah.


Keluarga pasien mengakui jika pasien menyukai makanan yang berlemak dan tinggi

garam.
Beberapa hari sebelum gejala muncul pasien ada riwayat memakan gulai kambing.

Pemeriksaan Fisik
Vital Sign
Keadaan Umum : Sedang
Kesadaran

: Komposmentis Kooperatif

Tekanan Darah

: 250/110 mmHg

Nadi

: 100 kali/menit

Nafas

: 24 kali/menit

Suhu

: 36C

Status Generalis
Kulit

: teraba hangat, turgor baik

Kepala

: rambut tidak mudah dicabut, berwarna hitam beruban


Mata : konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil bulat dan isokor,
refleks

Telinga

cahaya (+/+)

: tanda inflamasi (-/-), discharge (-/-)

Hidung

: discharge (-/-), epistaksis (-/-)

Gigi dan Mulut

: karies (-), sianosis (-)

Tenggorokan

: Tonsil T1-1, arkus faring hiperemis (-)


Leher : JVP 5-0 mmH2O, tidak ditemukan pembesaran kelenjar
getah bening, trakea ditengah.

Thoraks

:
Cor

: Inspeksi

: iktus kordis tidak terlihat


Palpasi

: iktus kordis teraba di 1 jari lateral RIC VI,

kuat angkat (+), thrill (-)


Perkusi

: Batas atas

: RIC II
Batas kiri

: 1 jari lateral RIC VI

Batas kanan : Linea Parasternalis Dextra


Auskultasi
Pulmo : Inspeksi

Abdomen

: Irama reguler, bunyi jantung I-II murni,bising(-), gallop(-)


: pergerakan nafas statis dan dinamis simetris

Palpasi

: fremitus kiri = kanan

Perkusi

: sonor kiri = kanan

Auskultasi

: vesikuler +/+, wheezing -/-, ronkhi -/-

: Inspeksi

: tidak tampak membuncit, venektasi (-)

Palpasi

: soepel, hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (-)

Perkusi

: timpani

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Punggung

: Nyeri tekan dan nyeri ketok sudut CVA (-/-)

Genitalia

: tidak ada kelainan


3

Anggota Gerak

superior

inferior

(-/-)

(-/-)

udem pretibia :
akral

hangat

hangat

sianosis

(-/-)

(-/-)

tonus

(N/N)

(N/N)

kekuatan otot :

5.5.5/5.5.5

5.5.5/5.5.5

refleks fisiologis:

+N/+N

+N/+N

refleks patologis :

(-/-)

(-/-)

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Hematologi:

Hemoglobin

: 14,2 gr%

Leukosit

: 9860/mm3

Trombosit

: 258.000/mm3

Hematokrit

: 41 vol%

Kimia Klinik: Gula darah sewaktu

: 148 mg/dl

SGOT

: 31 u/l

SGPT

: 20 u/l

Ureum

: 21 mg/dl

Kreatinin

: 0,6 mg/dl

Foto Rontgen Thoraks : Tanggal 27 Maret 2016

Cor : vetrikel kiri kearah lateral bawah dan tertanam.


Pulmo : Corakan vaskuler tampak normal, tidak tampak bercak pada kedua lapangan paru.
Kesimpulan: kardiomegali (Left Ventricular Hypertrophy), pulmo tidak tampak
kelainan
Elektrokardiografi (EKG) tanggal 27 Maret 2016

Interpretasi:

Irama
Heart Rate
Axis
Gelombang P
Interval PR
Kompleks QRS
Segmen ST
Q Patologis
S di V1+R di V5

: sinus
: 90 kali/menit
: abnormal left axis deviation
: normal
: 0,20 detik
: 0,12 detik
: ST isoelektris
: (-)
: < 35 mm (26 mm)
5

R/S di V1
T inverted
Kesan

: <1
: (-)
: Irama sinus, Left axis deviation

Diagnosis Kerja
Hipertensi Urgensi + Hipertension Heart Disease (Penyakit Jantung Hipertensi)
Terapi

Diet jantung II
IVFD Ringer Laktat 12 jam/kolf
Captopril tab SL 25 mg diberikan saat di IGD tensi turun menjadi 170/100 mmHg
Amplodipin 1x10 mg
Ramipril 1x5gr mg
Injeksi Ranitidin 2x1 Amp

Pemeriksaan Anjuran

Konsul ke bagian mata untuk kemungkinan terjadinya retinopati akibat krisis hipertensi.
Pemeriksaan profil lipid untuk menilai faktor resiko hipertensi pada pasien.
Pemeriksaan ureum kreatinin untuk menilai adanya gangguan pada ginjal.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Hipertensi
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai hipertensi bila memiliki tekanan darah sistolik
140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik 90 mmHg, pada pemeriksaan yang berulang. 1
6

Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang terbanyak menyerang manusia di dunia. Karena
hubungannya dengan tingginya angka kesakitan dan kematian, serta biaya perawatan, maka
hipertensi merupakan target perubahan kesehatan yang penting dalam masyarakat. Pasien dengan
peningkatan tekanan darah, harus segera didiagnosa lebih lanjut dan diberi terapi agar tidak
terjadi komplikasi yang lebih berat dan membahayakan.2
Pada anak-anak, definisi hipertensi yaitu apabila tekanan darah lebih dari 95 persentil
dilihat dari umur, jenis kelamin, dan tinggi badan yang diukur sekurang-kurangnya tiga kali pada
pengukuran yang terpisah. JNC VIII mengklasifikasikan tekanan darah untuk usia 18 tahun
dapat dilihat pada tabel 1 dibawah.
Tabel I. Klasifikasi tekanan darah untuk orang dewasa yang berusia 18 tahun atau lebih.
Klasifikasi Tekanan Darah
Normal
Pre hipertensi
Stage I Hipertensi
Stage II Hipertensi

TDS (mmHg)
< 120
120 139
140 159
> 160

TDD (mmHg)
< 80
80 89
90 99
> 100

Pasien yang menderita hipertensi, kemungkinan besar juga dapat mengalami krisis
hipertensi. Krisis hipertensi merupakan suatu kelainan klinis yang ditandai dengan tekanan darah
yang sangat tinggi yaitu tekanan sistolik >180 mmHg atau tekanan distolik >120 mmHg yang
kemungkinan dapat menimbulkan atau tanda telah terjadi kerusakan organ. Krisis hipertensi
meliputi hipertensi emergensi atau darurat (emergency hypertension) dan hipertensi urgensi atau
mendesak (urgency hypertension). Hipertensi emergensi yaitu tekanan darah meningkat ekstrim
disertai kerusakan organ akut yang progresif, sehingga tekanan darah harus diturunkan segera
(dalam hitungan menit-jam) untuk mencegah kerusakan organ lebih lanjut. Hipertensi urgensi
yaitu terdapat tekanan darah yang sangat tinggi tetapi tidak disertai kelainan atau kerusakan
organ target yang progresif, sehingga penurunan tekanan darah dapat dilaksanakan lebih lambat
(dalam hitungan jam sampai hari).3
Prevalensi kejadian krisis hipertensi rata-rata 1-5% penduduk dewasa tergantung dari
kesadaran pasien akan adanya hipertensi dan derajat kepatuhan meminum obat. Sering pasien
tidak menyadari dirinya adalah pasien hipertensi atau tidak teratur atau berhenti meminum obat
antihipeertensi. 3

Gejala hipertensi krisis umumnya adalah gejala organ target yang terganggu, diantaranya
nyeri dada dan sesak nafas pada gangguan jantung dan diseksi aorta; mata kabur pada edema
papila mata; sakit kepala hebat, gangguan kesadaran dan lateralisasi pada gangguan otak; gagal
ginjal akut pada gangguan ginjal; disamping sakit kepala dan nyeri tengkuk pada kenaikan
tekanan darah pada umumnya. Diagnosis ditegakkan berdasarkan tingginya tekanan darah, gejala
dan tanda keterlibatan organ target. 3
Selain pemeriksaan fisik, data laboratorium ikut membantu diagnosis dan perencanaan
pengobatan selanjutnya. Pemeriksaan urin dapat menunjukkan proteinuria, hematuri, dan
silinder. Hal ini terjadi karena tingginya tekanan darah juga menandakan keterlibatan ginjal jika
kadar ureum dan kreatinin

meningkat. Gangguan elektrolit dapat terjadi pada hipertensi

sekunder dan berpotensi menimbulkan aritmia. Pemeriksaan penunjang seperti elektrokardiografi


(EKG) dapat dilakukan untuk melihat adnyan hipertrofi ventrikel kiri ataupun gangguan koroner
serta pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk melihat struktur ginjal dilaksanakan sesuai kondisi
klinis pasien. 3
Pengobatan hipertensi urgensi cukup dengan obat oral yang bekerja cepat sehingga
menurunkan tekanan darah dalam waktu beberapa jam. Di Indonesia banyak dipakai seperti pada
Tabel 2 dibawah ini. Pengobatan hipertensi darurat memerlukan obat yang segera menurunkan
tekanan darah dalam waktu menit hingga jam sehingga umumnya bersifat parenteral. Di
Indonesia banyak dipakai obat seperti pada Tabel 3. Untuk memudahkan penilaian dan tindakan
dibuat bagan seperti yang tercantum Tabel 4.3

Data-data dari krisis hipertensi ini berasal dari pengalaman klinik berbagai pusat rujukan
dan bukan berasal dari evidence based karena sedikitnya jumlah kasus dan sulit melaksanakan
suatu studi tersamar ganda, sehingga kepustakaan umumnya merupakan pendapat para ahli
berdasarkan pengalamannya masing-masing.3
B. Penyakit Jantung Hipertensi (Hipertension Heart Disease)4
Sampai saat ini prevalensi kejadian penyakit jantung hipertensi di Indonesia sekitar 510%, dengan 85-90% kasus tidak diketahui penyebabnya atau disebut sebagai hipertensi primer
atau hipertensi essensial. Tidak ada data akurat mengenai prevalensi hipertensi sekunder, namun
diperkirakan sekitar 6% pasien termasuk hipertensi sekunder.

Patogenesis penyakit jantung hipertensi biasanya dimulai dari terjadinya hipertrofi


ventrikel kiri yang menjadi kompensasi jantung menghadapi tekanan darah tinggi ditambah
dengan faktor neurohormonal yang ditandai dengan penebalan konsentrik otot jantung (hipertrofi
konsentrik). Fungsi diastolic akan mulai terganggu akibat dari gangguan relaksasi ventrikel kiri,
kemudian disusul oleh dilatasi ventrikel kiri (hipertrofi eksentrik). Rangsangan simpatis dan
aktivasi sistem RAA memancu mekanisme Frank-Starling melalui peningkatan volume diastolic
ventrikel sampai tahap tertentu dan pada akhirnya akan terjadi gangguan kontraksi miokard
(penurunan/gangguan fungsi diastolik).
Iskemia miokard (asimptomatis, angina pectoris, infark miokard, dll) dapat terjadi karena
kombinasi akserelasi proses aterosklerosis dengan peningkatan kebutuhan oksigen miokard
akibat hipertrofi ventrikel kiri. Hipertrofi ventrikel kiri, iskemia miokard, dan gangguan fungsi
endotel merupakan faktor utama kerusakan miosit pada hipertensi.
Keluhan dan gejala pada pasien penyakit jantung hipertensi pada tahap awal seperti pada
umumnya kebanyakan pasien yaitu tidak ada keluhan. Bila terjadi secara simptomatis, biasanya
disebabkan oleh:
o Peninggian tekanan darah itu sendiri, seperti dada berdebar-debar, rasa melayang
(dizzy).
o Penyakit jantung/ hipertensi vaskular seperti cepat lelah, sesak nafas, nyeri pada
dada (akibat iskemia miokard atau diseksi aorta), bengkak pada kedua kaki.
Gangguan vaskular lainnya adalah epistaksis, hematuria, pandangan kabur karena
perdarahan retina, transient cerebral ischemic.
o Tanda gejala klinis pada hipertensi sekunder, misalnya pada diabetes mellitus
(polidipsia, poliuria, polifagi), kelemahan otot pada aldosteronisme primer,
peningkatan berat badan pada sindrom Cushing. Feokromositoma dapat muncul
dengan keluhan episode sakit kepala, palpitasi, banyak keringat, dan rasa
melayang saat berdiri (postural dizzy).

Pemeriksaan fisik dimulai dengan menilai keadaan umum; memperhatikan tanda seperti
10

pada sindrom Cushing, feokromositoma, perkembangan tidak proporsionalnya tubuh atas


dibandingkan bawah yang sering ditemukan pada koarktasio aorta. Pengukuran tekanan darah
ditangan kiri dan kanan saat tidur dan berdiri. Pemeriksaan funduskopi juga penting untuk
menilai prognosis.
Pemeriksaan jantung untuk mencari tanda pembesaran jantung ditujukan untuk menilai
hipertensi ventrikel kiri dan tanda-tanda gagal jantung. Impuls apeks yang prominen, bunyi
jantung S2 yang meningkat akibat kerasnya penutupan katup aorta. Kadang ditemukan murmur
diastolik akibat regurgitasi aorta. Bunyi S4 (gallop atrial atau presistolik dapat ditemukan akibat
peningkatan tekanan atrium kiri. Bunyi S3 (gallop ventrikel atau protodiastolik) ditemukan bila
tekanan akhir diastolik ventrikel kiri meningkat akibat dari dilatasi ventrikel kiri. Paru perlu
diperhatikan apakah ada suara nafas tambahan seperti ronki basah atau ronki kering.
Pemeriksaan abdomen ditujukan untuk mencari aneurisma, pembesaran hati, limpa, ginjal dan
asites.
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium awal seperti urinalisis
(protein, leukosit, eritrosit, dan silinder), hemoglobin, hematokrit, elektrolit darah (kalium),
ureum kreatinin, gula darah puasa, dan kolesterol total. Pemeriksaan elektrokardiografi masih
menjadi standar metode dimana pada penyakit jantung hipertensi menunjukkan tanda hipertrofi
ventrikel kiri. Pemeriksaan penunjang yang lebih canggih seperti ekokardiografi dapat
menemukan tanda hipertrofi ventrikel kiri lebih dini dan spesifik, sedangkan ekokardiografiDoppler dapat dipakai untuk menilai fungsi diastolic (gangguan fungsi relaksasi ventrikel kiri,
pseudonormal atau tipe restriktif).
Evaluasi pasien hipertensi atau penyakit jantung hipertensi ditujukan untuk:

menilai kemungkinan hipertensi sekunder,


menetapkan keadaan pra pengobatan,
menentukan kerusakan organ target,
menetapkan faktor yang mempengaruhi pengobatan atau yang akan berubahn

karena pengobatan,
menetapkan faktor resiko penyakit jantung hipertensi lainnya.

11

Penatalaksanaan umum penyakit jantung hipertensi sama seperti penatalaksanaan


hipertensi yang tercantum dalam JNC VII 2013, ESH/ESC 2013. Pengelolaan lipid agresif dan
pemberian aspirin sangat bermanfaat. Pasien hipertensi pasca infark jantung sangat mendapat
manfaat pengobatan dengan penyekat beta, penghambat ACE atauu antialdosteron. Pasien
hipertensi dengan gangguan fungsi ventrikel mendapat manfaat tinggi pengobatan diuretik,
penghambat ACE/ ARB, penyekat beta, dan antagonis aldosteron. Sedangkan pasien dengan
resiko penyakit jantung koroner mendapat manfaat dengan pengobatan diuretik, penyekat beta,
dan penghambat kalsium. Bila sudah dalam tahap gagal jantung hipertensi, prinsip pengobatan
sama dengan pengobatan gagal jantung yang lain, yaitu diuretik, penghambat ACE/ ARB,
penyekat beta, dan antagonis aldosteron.
Dari beberapa penelitian yang ada, pemberian obat anti hipertensi yang bersifat spesifik,
akan memberikan keuntungan pada kondisi tertentu. JNC VII merekomendasikan pengobatan
awal disesuaikan dengan pada kelompok dengan indikasi memaksa (compelling indication) dan
keadaan khusus lainnya (special situations).5
Indikasi yang memaksa meliputi:5
1. diabetes mellitus dan hipertensi
2. payah jantung kongestif
3. penyakit jantung koroner
4. hipertrofi ventrikel kiri
5. stroke
6. penyakit ginjal kronis
7. albuminuria/proteinuria
Keadaan khusus lainnya meliputi: 5
-

populasi

minoritas

- hipotensi postural
-

obesitas dan sindrom metabolik

- demensia
-

hipertrofi

ventrikel

kanan

- hipertensi pada perempuan


-

penyakit

arteri

perifer

- hipertensi pada usia lanjut

12

hipertensi pada anak dan dewasa

muda - hipertensi urgensi dan emergens


Jenis-jenis obat antihipertensi untuk terapi farmakologis antara lain: 5
Diuretika, terutama jenis thiazide atau aldosterone antagonist.
Beta blocker (BB): Propanolol, Atenolol, Bisoprolol, dsb
Calcium Canal Blocker atau Calcium Antagonist (CCB): Amlodipine, Nifedipine.
Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI): Captopril, Ramipril, dsb.
Angiotensin II Receptor Blocker (ARB): Losartan, Valsartan, Caandesartan, dsb.
Direct Renin Inhibitor (DRI): Aliskiren.
Akhir-akhir ini telah beredar berbagai macam obat anti hipertensi, yang merupakan
kombinasi 2 atau 3 macam obat anti hipertensi yang disebut single pill combination, dan berguna
untuk meningkatkan efek obat yang diharapkan. Kombinasi yang telah terbukti efektif dan dapat
ditoleransi penderita menurut JNC VIII yaitu:5

ACE Inhibitor dengan CCB


ACE Inhibitor dengan Thiazide
ARB dengan CCB
ARB dengan Thiazide
CCB dengan Thiazide

13

Gambar 1. Pedoman

Tatalaksana

Hipertensi Menurut JNC VIII

BAB III
DISKUSI
Seorang
berusia 82 tahun dengan

pasien
diagnosa

perempuan
hipertensi

emergensi dan penyakit jantung hipertensi. Diagnosa ditegakkan ditegakkan melalui anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium. Pada
anamnesis, didapatkan gejala nyeri kepala, disertai pandangan mata yang kabur yang sesuai
dengan teori kepustakaan mengenai salah satu gejala yang terjadi pada krisis hipertensi. Gejala
krisis hipertensi biasa dengan gejala umum yaitu nyeri kepala dan nyeri tengkuk, serta gejala
yang mengenai organ target, seperti mata dengan gejala pandangan menjadi kabur pada kasus ini,
Pemeriksaan fisik yang biasanya menyertai dari krisis hipertensi biasanya terjadi
peningkatan tekanan darah yang sangat tinggi yaitu tekanan sistolik >180 mmHg atau tekanan
distolik >120 mmHg. Pada pasien ini dilakukan pengukuran tekanan darah dan didapatkan
250/110 mmHg. Selain anamnesis dan pemeriksaan fisik, untuk menegakkan diagnosis dapat
dibantu dengan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium. Pada pasien ini,
dilakukan pemeriksaan darah rutin, gula darah sewaktu, SGOT/SGPT, ureum dan kreatini untuk
mencari faktor resiko terjadinya peningkatan drastis tekanan darah. Pada pasien ini tidak
ditemukan interpretasi abnormal pada pemeriksaan laboratorium darah.
Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan foto thoraks apakah terjadi
pembesaran pada jantung dan juga elektrokardiografi penting dilakukan untuk menilai apakah
14

terjadi gangguan konduksi pada jantung setelah terjadi peningkatan drastis tekanan darah. Pada
pasien ini hasil foto thoraks dan elektrokardiografi menunjukkan pembesaran jantung atau left
ventrikel hypertrophy. Pada kasus ini keadaan hipertensi yang menunjukkan gejala pada jantung
disebut penyakit jantung hipertensi (hypertension heart disease). Terjadinya hipertrofi ventrikel
kiri akibat kompensasi jantung menghadapi tekanan darah tinggi. Hal ini akan berujung dengan
terjadinya gangguan pada fungsi diastolik akibat dari gangguan relaksasi ventrikel kiri, kemudian
disusul oleh dilatasi ventrikel kiri (hipertrofi eksentrik) dan pada akhirnya yang ditakutkan akan
terjadi gangguan kontraksi miokard.4
Pemeriksaan adanya gangguan organ target lain penting dilakukan untuk
mengurangi kejadian morbiditas dan mortalitas akibat peningkatan drastis tekanan darah. Pada
mata dapat dilakukan pemeriksaan funduskopi untuk menilai apakah terjadi edema papil.
Pemeriksaan fungsi ginjal apakah mengalami gangguan dapat dinilai dari hasil ureum dan
kreatinin.
Penanganan pertama untuk kasus krisis hipertensi yaitu pemberian obat anti
hipertensi yang bekerja secara cepat menurunkan tekanan darah yang sangat tinggi. Pada pasien
ini terjadi hipertensi urgensi, sehingga pengobatan hipertensi urgensi cukup dengan obat oral
yang bekerja cepat sehingga menurunkan tekanan darah dalam waktu beberapa jam. Berbeda
dengan pengobatan hipertensi darurat yang memerlukan obat yang segera menurunkan tekanan
darah dalam waktu menit hingga jam sehingga umumnya bersifat parenteral.3
Pengobatan pada pasien krisis hipertensi dengan penyakit jantung hipertensi
umumnya sama seperti pengobatan hipertensi umumnya dengan tujuan menurunkan angka
morbiditas dan mortalitas pada penyakit kardiovaskuler dan ginjal terutama. Pengobatan
hipertensi

terdiri

dari

pengobatan

nonfarmakologis

dan

farmakologis.

Pengobatan

nonfarmakologis berupa modifikasi gaya hidup dimana dapat dilakukan dengan menurunkan
berat badan berlebih, pembatasan asupan garam 100 meq/L/hari (2,4 gr natrium atau 6 gr
natrium klorida), meningkatkan konsumsi buah, meningkatkan aktivitas fisik paling tidak
berjalan 30 menit/hari selama 5 hari/minggu. Pengobatan farmakologis penting diberikan
terutama diberikan pada kondisi khusus, terutama pada kejadian hipertensi urgensi serta gejala
hipertrofi ventrikel kiri.5

15

16