Anda di halaman 1dari 4

Metode pembuatan supositoria dibagi menjadi 3 yaitu:

a. Dengan tangan (Manual)


Yaitu dengan cara menggulung basis suppositoria yang telah dicampur homogen dan
mengandung zat aktif, menjadi bentuk yang dikehendaki. Mula-mula basis diiris,
kemudian diaduk dengan bahan-bahan aktif dengan menggunakan mortir dan stamper,
sampai diperoleh massa akhir yang homogen dan mudah dibentuk. Kemudian massa
digulung menjadi suatu batang silinder dengan garis tengah dan panjang yang
dikehendaki. Amilum atau talk dapat mencegah pelekatan pada tangan. Batang
silinder dipotong dan salah satu ujungnya diruncingkan.
b. Pencetakan dengan Kompresi
Pada pencetakan dengan kompresi, suppositoria dibuat dengan mencetak massa yang
dingin ke dalam cetakan dengan bentuk yang diinginkan. Alat kompresi ini terdapat
dalam berbagai kapasitas yaitu 1,2 dan 5 g. Dengan metode kompresi, dihasilkan
suppositoria yang lebih baik dibandingkan cara pertama, karena metode ini dapat
mencegah sedimentasi padatan yang larut dalam bahan pembawa suppositoria.
Umumnya metode ini digunakan dalam skala besar produksi.
c. Cetak Tuang
Pertama-tama bahan basis dilelehkan, sebaiknya diatas penangas air atau penangas
uap untuk menghindari pemanasan setempat yang berlebihan, kemudian bahan-bahan
aktif diemulsikan atau disuspensikan kedalamnya. Akhirnya massa dituang kedalam
cetakan logam yang telah didinginkan, yang umumnya dilapisi krom atau nikel.
HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM FORMULASI
1. Pemilihan Obat / Zat Aktif
Suatu zat aktif dapat dberikan dalam bentuk suppositoria jika:
a. Dapat diabsorpsi dengan cukup melalui mukosa rektal untuk mencapai kadar
terapeutik dalam darah (absorpsi dapat ditingkatkan dengan bahan pembantu).
b. Absorpsi zat aktif melalui rute oral buruk atau menyebabkan iritasi mukosa saluran
pencernaan, atau zat aktif berupa antibiotik yang dapat mengganggu keseimbangan
flora normal usus.
c. Zat aktif berupa polipeptida kecil yang dapat mengalami proses enzimatis pada
saluran pencernaan bagian atas (sehingga tidak berguna jika diberikan melalui rute
oral).
d. Zat aktif tidak tahan terhadap pH saluran pencernaan bagian atas.
e. Zat aktif digunakan untuk terapi lokal gangguan di rektum atau vagina.
Sifat dari zat aktif yang mempengaruhi pengembangan produk suppositoria:
a. Sifat fisik
Zat aktif dapat berupa cairan, pasta atau solida.

Penurunan ukuran partikel dapat meningkatkan bioavailabilitas obat


(melalui peningkatan luas permukaan) dan meningkatkan kinetika
disolusi pada ampula rektal.

Penurunan ukuran partikel dapat menyebabkan pengentalan


campuran zat aktif/eksipien, yang menyebabkan aliran menjadi jelek
saat pengisian suppositoria ke cetakan, dan juga memperlambat
resorpsi zat aktif.
Adanya zat aktif berupa kristal kasar (baik karena kondisi zat aktif saat
ditambahkan ke dalam basis atau karena pembentukan kristal) dapat
menyebabkan iritasi permukaan mukosa rektal yang sensitif
b. Densitas bulk
Jika terdapat perbedaan yang signifikan antara densitas zat aktif dengan
eksipien,diperlukan perlakuan khusus untuk mencapai homogenitas produk.
Usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini yaitu dengan
menurunkan ukuran partikel atau meningkatkan viskositas produk.
Peningkatan viskositas produk dapat dicapai dengan penambahan bahan
pengental, atau dengan menurunkan suhu campuran agar mendekati titik
solidifikasi sehingga fluiditasnya turun.
c. Kelarutan (solubilitas)
Peningkatan kelarutan zat aktif dalam basis meningkatkan
homogenitas produk, tetapi menyulitkan/mengurangi pelepasan zat
aktif jika terjadi kecenderungan yang besar dari zat aktif untuk tetap
berada dalam basis.
Afinitas zat aktif terhadap basis/eksipien dapat diatur dengan derajat
misibilitas dari kedua komponen suppositoria
2. Pemilihan Basis

Peran utama basis suppositoria:


a. Menjadikan zat aktif tertentu dapat dibuat dalam bentuk suppositoria yang
tepat dengan karakteristik fisikokimia zat aktif dan keinginan formulator
b. Basis digunakan untuk mengatur penghantaran pengobatan pada tempat
absorpsinya.
Karakteristik basis yang menentukan selama produksi:
a. Kontraksi
Sedikit kontraksi pada saat pendinginan volume suppositoria diinginkan untuk
memudahkan pengeluaran dari cetakan.
b. Ke-inert-an (inertness)
Tidak boleh ada interaksi kimia antara basis dengan bahan aktif.
c. Pemadatan
Interval antara titik leleh dengan titik solidifikasi harus optimal: jika terlalu pendek
maka penuangan lelehan ke dalam cetakan akan sulit; jika terlalu panjang, waktu
pemadatan menjadi lama sehingga laju produksi suppositoria menurun.
d. Viskositas
Jika viskositas tidak cukup, komponen terdispersi dari campuran akan
membentuk sedimen, mengganggu integritas dari produk akhir.
Karakteristik basis yang menentukan selama penyimpanan:
a. Ketidakmurnian (Impurity)
Kontaminasi bakteri / fungi harus diminimalisir dengan basis yang non-nutritif
dengan kandungan air minimal.
b. Pelunakan (softening)
Suppositoria harus diformulasi agar tidak melunak atau meleleh selama
transportasi atau penyimpanan.
c. Stabilitas

Bahan yang dipilih tidak teroksidasi saat terpapar udara, kelembapan atau
cahaya.
Karakteristik basis yang menentukan selama penggunaan:
a. Pelepasan
Pemilihan basis yang tepat memberikan penghantaran bahan aktif yang optimal
ke tempat target.
b. Toleransi
Suppositoria akhir toksisitasnya harus minimal, dan tidak menyebabkan iritasi
jaringan mukosa rektal yang sensitif.
Kriteria pemilihan basis berdasarkan karakteristik fisikokimianya:
a. Jarak lebur
Spesifikasi suhu lebur basis suppositoria (terutama basis lemak) dinyatakan
dalam jarak lebur daripada suatu titik lebur. Hal ini karena terdapat suatu rentang
suhu antara bentuk stabil dan tidak stabil, suatu hasil dari polimorfisme bahan
tersebut. Penambahan cairan ke dalam basis umumnya cenderung menurunkan
suhu leleh suppositoria, sehingga disarankan penggunaan basis dengan suhu
leleh lebih tinggi. Sedangkan, penambahan sejumlah besar serbuk fine akan
meningkatkan viskositas produk, sehingga diperlukan basis dengan suhu leleh
yang lebih rendah.
b. Bilangan iodin
Rancidifikasi (oksidasi) basis suppositoria dapat menjadi massalah. Karena
sensitivitas dari jaringan mukosa rektal, dan potensinya terpapar lelehan basis
suppositoria, maka antioksidan berpotensi mengiritasi tidak dianjurkan digunakan
dalam suppositoria. Untuk mencegah penggunaan antioksidan, sebaiknya
digunakan basis dengan bilangan iodin < 3 (dan lebih diutamakan < 1)
c. Indeks hidroksil
Bahan yang memiliki indeks hidroksil rendah juga memberikan stabilitas yang
lebih baik dalam kasus dimana zat aktif sensitif terhadap adanya radikal hidroksil.
3. Pemilihan bahan pembantu yang dapat meningkatkan homogenitas produk,

kelarutan, dll
Bahan pembantu digunakan untuk:
a. Meningkatkan penggabungan (inkorporasi) dari serbuk zat aktif
Peningkatan jumlah serbuk zat aktif dapat mengganggu integritas suppositoria
dengan menyebabkan peningkatan viskositas lelehan, sehingga menghambat
alirannya ke dalam cetakan. Ajuvan yang digunakan untuk mengatasi hal ini
yaitu: Mg karbonat, minyak netral (gliserida asam lemak jenuh C-8 hingga C-12
dengan viskositas rendah) 10 % dari bobot suppositoria, dan air (1 2 %).
b. Meningkatkan hidrofilisitas
Penambahan bahan peningkat hidrofilisitas digunakan untuk mempercepat
disolusi suppositoria di rektum, sehingga meningkatkan absorpsi, jika digunakan
dengan konsentrasi rendah. Tetapi, jika digunakan dalam konsentrasi besar,
bahan ini malah menurunkan absorpsi. Bahan peningkat hidrofilisitas juga dapat
menyebabkan iritasi lokal.
Contoh bahan ini yaitu:
1. surfaktan anionik, misalnya: garam empedu, Ca oleat, setil stearil
alkohol plus 10 % Na alkil sulfat, Na dioktilsulfosuksinat, Na lauril
sulfat (1 %), Na stearat (1 %), dan trietanol amin stearat (3 5 %);
2. surfaktan nonionik dan amfoterik, misalnya: ester asam lemak dari
sorbitan (Span & Arlacel), ester asam lemak dari sorbitan teretoksilasi
(Tween), ester dan eter teretoksilasi (polietilenglikol 400 miristat, Myrj,
eter polietilenglikol dari alkohol lemak), minyak natural termodifikasi
(Labrafil M2273, Cremophor EL, lesitin, kolesterol)

3. gliserida parsial, misalnya: mono- dan digliserida mengandung asam

c.

d.

e.

f.

g.

h.

lemak tergliserolisasi (Atmul 84), mono- dan digliserida (gliserin


monostearat dan gliserin monooleat), monogliserida asam stearat dan
palmitat, mono- dan digliserida dari asam palmitat dan stearat.
Meningkatkan viskositas
Pengaturan viskositas dari lelehan suppositoria selama pendinginan merupakan
titik kritis untuk mencegah sedimentasi. Bahan yang digunakan yaitu: asam
lemak dan derivatnya (Al monostearat, gliseril monostearat, & asam stearat),
alkohol lemak (setil, miristat dan stearil alkohol), serbuk inert (bentonit & silika
koloidal).
Mengubah suhu leleh
Contoh bahan yang digunakan: asam lemak dan derivatnya (gliserol stearat dan
asam stearat), alkohol lemak (setil alkohol dan setil stearat alkohol), hidrokarbon
(parafin), dan malam (malam lebah, setil alkohol, dan malam carnauba)
Meningkatkan kekuatan mekanis
Pecahnya suppositoria merupakan masalah yang ditemui saat digunakan basis
sintetik. Untuk mengatasinya dapat ditambahkan ajuvan seperti: polisorbat,
minyak jarak (castor oil), monogliserida asam lemak, gliserin, dan propilenglikol.
Mengubah penampilan
Pewarna dapat digunakan untuk berbagai alasan seperti psikologis, menjamin
keseragaman (uniformitas) warna produk dari lot ke lot, untuk membedakan
produk, dan menyembunyikan kerusakan saat pembuatan seperti eksudasi atau
kristalisasi permukaan. Bahan hidrosolubel, liposolubel dan insolubel serat tidak
bersifat mengiritasi mukosa dapat digunakan untuk mewarnai suppositoria.
Melindungi dari degradasi
Agen antifungi dan antimikroba digunakan jka suppositoria mengandung bahan
asal tanaman atau air. Digunakan asam sorbat atau garamnya jika pH larutan zat
aktif kurang dari 6. p-hidroksibenzoat atau garam natriumnya juga dapat
digunakan. Tetapi, potensi bahan-bahan ini menyebabkan iritasi rektal perlu
dipertimbangkan.
Antioksidan seperti BHT, BHA, tokoferol dan asam askorbat digunakan untuk
mencegah ketengikan (rancidity) pada formulasi suppositoria yang menggunakan
lemak coklat (cocoa butter).
Sequestering agents seperti asam sitrat dan kombinasi antioksidan digunakan
untuk mengkompleks logam yang mengkatalisis reaksi redoks. Contohnya:
campuran tiga bagian BHT, BHA, dan propilgalat dengan satu bagian asam sitrat
memberikan hasil memuaskan pada penggunaan 0,01 %.
Mengubah absorpsi
Pada kasus di mana absorpsi obat di rektal amat terbatas, perlu ditambahkan
bahan untuk meningkatkan uptake obat tersebut. Sejumlah bahan telah
digunakan untuk meningkatkan bioavailabilitas dari zat aktif dalam suppositoria.
Sebagai contoh, penambahan enzim depolimerisasi (mukopolisakarase) telah
dipelajari untuk meningkatkan penetrasi beberapa zat aktif.
(Lieberman, Disperse System, thn 1989, vol 2, 537-54)