Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

Sampah adalah bahan padat buangan dari kegiatan rumah tangga, pasar,
perkantoran, ruamh penginapan, hotel, rumah makan, industri, atau aktivitas
manusia lainnya. Sampah merupakan hasil sampingan dari aktivitas manusia yang
sudah tidak terpakai (Nurhidayat, 2006).Sampah juga merupakan bagian terintim
dari diri manusia yang hingga saat ini masalahnya selalu menarik untuk
dibicarakan tetapi menakutkan untuk dijamah. Berawal dari keberadaan sampah
tersebut maka estetika akan berkurang nilainya jika sampah dibiarkan ada dimanamana. Semua riset mengatakan bahwa pertambahan jumlah sampah sama dengan
pertambahan jumlah penduduk sehingga, semakin banyak penduduk yang
menghuni bumi maka jumlah sampah juga akan semakin bertambah (Ritapunto,
2009).

Kesadaran masyarakat tentang hidup bersih dan teratur perlu terus ditumbuhkan,
salah satunya dalam penanganan sampah dari skala rumah tangga karena sampah
juga merupakan bagian dari perilaku hidup bersih dan sehat. Untuk mengubah
kebiasaan membuang sampah menjadi mengelola sampah perlu upaya yang
dimulai secara individual di setiap rumah (Atmojo, 2007).Untuk menjaga
lingkungan bersih bebas dari sampah salah satu solusinya mengubah kebiasaan
membuang sampah untuk mengolah sampah menjadi kompos dimulai dari sampah

rumah tangga (Andriyeni, 2009). Karena sebagiansampah yang dihasilkan


merupakan sampah organik (sampah basah), yaitu mencapai 60-70% dari total
volume sampah, yang berasal dari dapur dan halaman. Sampah organik ini, jika
pengelolaannya tidak secara benar maka akan memberikan bau busuk (H 2S dan
FeS) dan akan menjadi sumber lalat, bahkan dapat menjadi sumber lebih dari 25
jenis penyakit (Atmojo, 2007).

Sampah organik yang masih mentah, apabila diberikan secara langsung ke dalam
tanah, justru akan berdampak menurunkan ketersediaan hara tanah, disebabkan
sampah organik langsung akan disantap oleh mikroba. Populasi mikroba yang
tinggi, justru akan memerlukan hara untuk tumbuh dan berkembang, dan hara tadi
diambil dari tanah yang seharusnya digunakan oleh tanaman, sehingga mikroba
dan tanaman saling bersaing merebutkan hara yang ada. Berdasarkan keadaan
tersebut, justru akan terjadi gejala kekurangan hara nitrogen (N) yang sering
ditunjukan oleh daun berwarna kekuning-kuningan (clorosis) (Atmojo, 2007).
Alam memiliki andil besar dalam pengolahan sampah secara otomatis terutama
sampah organik. Akan tetapi kerja keras alam dalam pengolahan sampah secara
natural sangat tidak berimbang dibanding berjuta ton volume sampah yang
diproduksi. Selain itu sampah tidak selalu harus dibuang karena dengan sedikit
kreatifitas dan kerja keras manusia, sampah yang tidak layak pakai dapat berubah
menjadi barang kaya manfaat. Beragam jenis sampah, terutama sampah organik
dapat dengan mudah dan sederhana diaplikasikan menjadi bahan olahan
(Andriyeni, 2009).

1.2.

Rumusan Masalah

Bagaimana pengolahan sampah sederhana dengan cara pembuatan kompos


menggunakan bahan dasar sampah daun secara anaerobik dan dengan perlakuan
pemberian EM4.

1.3.Tujuan

a. Mahasiswa mangetahui cara pengolahan sampah sederhana melalui


pembuatan kompos cair secara anaerobik dengan menggunakan bahan
dasar sampah daun dengan perlakuan pemberian EM4.
b. Mahasiswa mampu mengaplikasikan sampah daun menjadi bahan yang
bisa dimanfaatkan yaitu proses pengomposan sebagai pupuk bagi tanaman.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Sampah
Sampah adalah sisa-sisa bahan yang telah mengalami perlakuan, telah diambil
bagian utamanya, telah mengalami pengolahan, dan sudah tidak bermanfaat,
dari segi ekonomi sudah tidak ada harganya lagi dan dari segi lingkungan
dapat

menyebabkan

pencemaran

atau

gangguan

kelestarian

alam

(Amurwaraharja, 2006).
Sumber sampah yang terbanyak berasal dari pemukiman dan pasar
tradisional. Sampah pasar khususnya, seperti pasar sayur mayur, pasar buah,
atau pasar ikan, jenisnya relatif seragam, sebagian besar (95 %) berupa
sampah organik, sehingga lebih mudah ditangani. Sampah yang berasal dari
pemukiman umumnya sangat beragam, tetapi secara umum minimal 75 %
terdiri dari sampah organik dan sisanya anorganik (Sudradjat, 2006).
Agar sampah bisa dijadikan sebagai bahan baku kompos,
langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan
pemilahan sampah sesuai jenis. Saat ini memang masih
terasa sulit memilah-milah sampah. Namun, bila sejak awal
sudah dibiasakan, pemilahan akan lebih mudah dilakukan.
Pemilahan sebaiknya sudah dilaksanakan sejak tingkat rumah
tangga, pasar, atau komunitas lain. Sampah organik dipisah
dari sampah non-organik. Caranya, dengan menempatkan
masing-masing jenis ke dalam kantong plastik yang berbeda
warna. Misalnya kantong plastik bening untuk sampah

organik, kantong plastik putih untuk sampah kertas/karton,


dan kantong warna hitam untuk jenis sampah lainnya (Hakim,
2007).
Sampah memang kerap menjadi masalah besar. Sebenarnya
permasalahan sampah bisa dikurangi jika penanganannya
dimulai dari rumah ke rumah dengan cara mengolahnya
menjadi kompos. Selama ini pupuk kompos yang dihasilkan
dari sampah organik dalam bentuk padat memang banyak.
Namun, jarang yang berbentuk cair, padahal kompos cair ini
lebih praktis digunakan, proses pembuatannya relatif mudah,
dan biaya pembuatan yang dikeluarkan juga tidak terlalu
besar (Hadisuwito, 2007).

2.2.

Jenis-jenis Sampah

2.2.1. Sampah organik


Sampah organik berasal dari makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun
tumbuhan. Sampah organik sendiri dibagi menjadi sampah organik basah dan
sampah organik kering. Istilah sampah organik basah dimaksudkan untuk
sampah yang mempunyai kandungan air yang cukup tinggi. Contohnya kulit
buah dan sisa sayuran. Sedangkan bahan yang termasuk sampah organik
kering adalah bahan organik yang kandungan airnya kecil. Contoh sampah
organik kering adalah kayu atau ranting kering, dan dedaunan kering.
2.2.2. Sampah anorganik
Sampah anorganik bukan berasal dari makhluk hidup. Sampah ini berasal dari
bahan yang bisa diperbaharui (recycle) dan sampah ini sangat sulit terurai

oleh jasad renik. Jenis sampah ini misalnya bahan yang terbuat dari plastik
dan logam.

2.2.3. Sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)


Sampah B3 merupakan jenis sampah yang dikategorikan beracun dan
berbahaya bagi manusia. Umumnya, sampah ini mengandung merkuri seperti
kaleng bekas cat semprot atau minyak wangi (Purwendro dan Nurhidayat,
2007).

2.3.

Pupuk Cair Organik

Pupuk organik merupakan pupuk dengan bahan dasar yang diambil dari alam
dengan jumlah dan jenis unsur hara yang terkandung secara alami. Dapat
dikatakan bahwa pupuk organik merupakan salah satu bahan yang sangat
penting dalam upaya memperbaiki kesuburan tanah. Bahkan penggunaan
pupuk organik tidak akan meninggalkan residu pada hasil tanaman sehingga
aman bagi kesehatan manusia pupuk organik (Musnamar, 2007).
Dapat dikatakan bahwa pupuk organik merupakan salah satu bahan yang
sangat penting dalam upaya memperbaiki kesuburan tanah secara aman,
dalam arti produk pertanian yang dihasilkan terbebas dari bahan-bahan kimia
yang berbahaya bagi kesehatan manusia sehingga aman dikonsumsi.
Berdasarkan bentuknya, pupuk organik dibagi menjadi dua, yakni pupuk cair
dan padat. Pupuk organik cair adalah larutan dari hasil pembusukan bahan
bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan manusia

yang kandungan unsur haranya lebih dari satu unsur. Sedangkan pupuk
organik padat adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas
Kelebihan dari pupuk cair organik adalah dapat secara cepat mengatasi
defesiensi hara, tidak bermasalah dalam pencucian hara dan mampu
menyediakan hara secara cepat. Dibandingkan dengan pupuk cair anorganik,
pupuk organik cair umumnya tidak merusak tanah dan tanaman walaupun
sesering mungkin digunakan. Selain itu, pupuk ini juga memiliki bahan
pengikat, sehingga larutan pupuk yang diberikan ke permukaan tanah bisa
langsung digunakan oleh tanaman.
Pupuk cair dikatakan bagus dan siap diaplikasikan jika tingkat
kematangannya sempurna. Pengomposan yang matang bisa
diketahui dengan memperhatikan keadaan bentuk fisiknya,
dimana fermentasi yang berhasil ditandai dengan adanya
bercak bercak putih pada permukaan cairan. Cairan yang
dihasilkan dari proses ini akan berwarna kuning kecoklatan
dengan bau yang menyengat (Purwendro dan Nurhidayat,
2007) bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran
hewan,

dan

kotoran

manusia

yang

berbentuk

padat

(Hadisuwito, 2007).

2.4.

Kompos

Kompos atau humus adalah sisa-sisa mahluk hidup yang telah


mengalami pelapukan, bentuknya sudah berubah seperti
tanah dan tidak berbau. Kompos memiliki kandungan hara
NPK yang lengkap meskipun persentasenya kecil. Kompos

juga

mengandung

senyawa-senyawa

lain

yang

sangat

bermanfaat bagi tanaman. Kompos ibarat multivitamin bagi


tanah dan tanaman. Kompos memperbaiki sifat fisik dan
kimia tanah. Kompos akan mengembalikan kesuburan tanah.
Tanah keras akan menjadi lebih gembur. Tanah miskin akan
menjadi subur. Tanah masam akan menjadi lebih netral.
Tanaman yang diberi kompos tumbuh lebih subur dan kualitas
panennya lebih baik dari pada tanaman tanpa kompos. Pada
prinsipnya semua bahan yang berasal dari makhluk hidup
atau bahan organik dapat dikomposkan. Seresah, daundaunan, pangkasan rumput, ranting, dan sisa kayu dapat
dikomposkan. Kotoran ternak, binatang, bahkan kotoran
manusia bisa dikomposkan. Kompos dari kotoran ternak lebih
dikenal dengan istilah pupuk kandang. Sisa makanan dan
bangkai binatang bisa juga menjadi kompos. Ada bahan yang
mudah dikomposkan, ada bahan yang agak mudah, dan ada
yang sulit dikomposkan. Sebagian besar bahan organik
mudah dikomposkan. Bahan yang agak mudah dikomposkan
antara lain: kayu keras, batang, dan bambu. Bahan yang sulit
dikomposkan antara lain adalah kayu-kayu yang sangat keras,
tulang, rambut, dan bulu binatang (Isroi, 2008).
2.4.1. Prinsip Pengomposan
Prinsip pengomposan adalah menurunkan C/N rasio bahan organik sehingga
sama dengan tanah (<20). Dengan semakin tingginya C/N bahan maka proses
pengomposan akan semakin lama karena C/N harus diturunkan. Didalam

perendaman bahan-bahan organik pada pembuatan kompos cair terjadi aneka


perubahan hayati yang dilakukan oleh jasad renik. Perubahan hayati yang
penting yaitu sebagai berikut :

c.

a.

Penguraian hidrat arang, selulosa, hemiselulosa.

b.

Penguraian zat lemak dan lilin menjadi CO 2 dan air

Terjadi peningkatan beberapa jenis unsur di dalam tubuh jasad renik


terutama nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K). Unsur-unsur
tersebut akan terlepas kembali bila jasad-jasad renik tersebut mati.

d.

Pembebasan unsur-unsur hara dari senyawa-senyawa organik menjadi


senyawa anorganik yang berguna bagi tanaman.

Akibat perubahan tersebut, berat, isi bahan kompos tersebut menjadi sangat
berkurang. Sebagian senyawa arang hilang, menguap ke udara. Kadar
senyawa N yang larut (amoniak) akan meningkat. Peningkatan ini tergantung
pada perbandingan C/N bahan asal. Perbandingan C/N akan semakin kecil
berarti bahan tersebut mendekati C/N tanah. Idealnya C/N bahan sedikit lebih
rendah dibanding C/N tanah (Murbondo, 2004).
Dalam proses pengomposan, 2/3 dari karbon digunakan sebagai sumber
energi bagi pertumbuhan mikroorganisme, dan 1/3 lainnya untuk membentuk
sel bakteri. Perbandingan C dan N awal yang baik dalam bahan yang
dikomposkan adalah 25-30 ( satuan berat n kering ), sedangkan C/N di akhir
proses adalah 12-20. Pada rasio yang lebih rendah, amonia akan dihasilkan
dan aktivitas biologi akan terhambat. Harga C/N tanah adalah 10-20, sehingga
bahan bahan yang mempunyai nilai C/N mendekati C/N tanah dapat
langsung digunakan (Damanhuri dan Padmi, 2007).

Kecepatan suatu bahan menjadi kompos dipengaruhi oleh


kandungan C/N, semakin mendekati C/N tanah maka bahan
tersebut akan semakin lebih cepat menjadi kompos. Tanah
pertanian yang baik mengandung unsur C dan N yang
seimbang. Setiap bahan organik mempunyai kandungan C/N
yang berbeda.

2.4.2. Pengomposan Anaerobik


Proses pengomposan anerobik berjalan tanpa adanya oksigen. Biasanya,
proses ini dilakukan dalam wadah tertutup sehingga tidak ada udara yang
masuk (hampa udara). Proses pengomposan ini melibatkan mikroorganisme
anaerob untuk membantu mendekomposisikan bahan yang dikomposkan.
Bahan baku yang dikomposkan secara anaerob biasanya berupa bahan
organik yang berkadar air tinggi.
Pengomposan anaerobik akan menghasilkan gas metan
(CH ), karbondioksida (CO ), dan asam organik yang memiliki
4
2
bobot molekul rendah seperti asam asetat, asam propionat,
asam butirat, asam laktat, dan asam suksinat. Gas metan
bisa dimanfaatkan menjadi bahan bakar alternatif (biogas).
Sisanya berupa lumpur yang mengandung bagian padatan
dan cairan. Bagian padat ini yang disebut kompos padat dan
yang cair yang disebut kompos cair (Simamora dan Salundik,
2006).

2.4.3

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengomposan


Pembuatan kompos dipengaruhi oleh beberapa faktor :

a.

Nilai C/N Bahan


Semakin besar nilai C/N bahan maka proses penguraian oleh bakteri
akan semakin lama. Proses pembuatan kompos akan menurunkan C/N
rasio sehingga menjadi 12-20.

b.

Ukuran Bahan
Bahan yang berukuran lebih kecil akan lebih cepat proses
pengomposannya karena semakin luas bahan yang tersentuh bakteri.

c.

Komposisi Bahan
Pengomposan dari beberapa macam bahan akan lebih baik dan lebih
cepat. Pengomposan bahan organik dari tanaman akan lebih cepat bila
ditambah dengan kotoran hewan.

d.

Jumlah Mikroorganisme
Dengan semakin banyaknya jumlah mikroorganisme maka proses
pengomposan

diharapkan

akan

semakin

cepat.

Jumlah

mikroorganisme fermentasi didalam EM4 sangat banyak, sekitar 80


genus. Mikroorganisme tersebut dipilih yang dapat bekerja efektif
dalam memfermentasikan bahan organik. Dari sekian banyak
mikroorganisme ada lima golongan yang pokok yaitu, bakteri
fotosintesis,

lactobasilius

sp,

aspergillus

sp,

ragi

(yeast),

bekerja

dengan

actinomycetes.
e.

Kelembaban
Umumnya

mikroorganisme

tersebut

dapat

kelembaban sekitar 40-60%. Kondisi tersebut perlu dijaga agar

mikroorganisme dapat bekerja secara optimal. Kelembaban yang lebih


rendah atau lebih tinggi akan menyebabkan mikroorganisme tidak
berkembang atau mati.
f.

Suhu
Faktor suhu sangat berpengaruh terhadap proses pengomposan karena
berhubungan dengan jenis mikroorganisme yang terlibat. Suhu
optimum bagi pengomposan adalah 40-60 0 C. Bila suhu terlalu tinggi
mikroorganisme akan mati. Bila suhu relatif rendah mikroorganisme
belum dapat bekerja atau dalam keadaan dorman.

g.

Keasaman (pH)
Jika bahan yang dikomposkan terlalu asam, pH dapat dinaikkan
dengan cara menambahkan kapur. Sebaliknya, jika nilai pH tinggi
(basa) bisa diturunkan dengan menambahkan bahan yang bereaksi
asam (mengandung nitrogen) seperti urea atau kotoran hewan
(Indriani, 2004).
2.5.Air Kelapa

Air kelapa memiliki karakteristik cita rasa yang khas. Di samping itu, air
kelapa juga punya kandungan gizi, terutama mineral yang sangat baik untuk
tubuh manusia. Kandungan yang terdapat dalam air kelapa tidak hanya unsur
makro, tetapi juga unsur mikro. Unsur makro yang terdapat adalah karbon dan
nitrogen. Unsur karbon dalam air kelapa berupa karbohidrat sederhana seperti
glukosa, sukrosa, fruktosa, sorbitol, dan inositol. Unsur nitrogen berupa
protein yang tersusun dari asam amino, seperti alin, arginin, alanin, sistin, dan
serin (Ramadas, 2008).

Air kelapa kaya akan potasium (kalium) hingga 17 %. Selain kaya mineral,
air kelapa juga mengandung gula antara 1,7 sampai 2,6 % dan protein 0,07
hingga 0,55 %. Disamping kaya mineral, air kelapa juga mengandung
berbagai macam vitamin seperti asam sitrat, asam nikotinat, asam pantotenal,
asam folat, niacin, riboflavin, dan thiamin (Ramadas, 2008).
Dalam kandungan air kelapa terdapat 2 jenis bakteri yaitu azotabacter dan
actinomycetes yang dapat menguraikan sampah organik dan menghasilkan
senyawa organik yang berguna untuk kesuburan tanah. Bakteri azotabacter
dapat berfungsi mengikat (memfiksasi) nitrogen bebas sedangkan
actinomycetes dapat menghasilkan zat zat antibiotik yang dapat
menghambat atau bahkan mematikan bakteri yang bersifat patogen.

2.6.EM4 (Effective Microorganism)

EM4

(Effective

mengandung

Microorganism)
beberapa

merupakan

mikroorganisme

bahan
yang

yang
sangat

bermanfaat dalam proses fermentasi. Mikroorganisme yang


terdapat dalam EM4 terdiri dari bakteri fotosintes
(Rhodopseudomonas sp.), bakteri asam laktat, ragi (Sacharomices sp.),
actinomycetes, dan aspergillus sp. EM4 (Effective Microorganism) dapat
meningkatkan fermentasi limbah dan sampah organik, meningkatkan
ketersedian unsur hara untuk tanaman, serta menigkatkan aktivitas serangga
dan hama (Djuarnani, dkk., 2005).

Selain berfungsi dalam proses fermentasi dan dekomposisi bahan organik,


EM4 juga mempunyai manfaat yang lain seperti :

1.Memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.

2.Menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.

3.Menyehatkan tanaman, meningkatkan produksi tanaman dan menjaga

kestabilan produksi.

2.7.Perbandingan C/N

Rasio C/N adalah perbandingan kadar karbon (C) dan kadar nitrogen (N)
dalam satuan bahan. Semua makhluk hidup terbuat dari sejumlah besar bahan
karbon (C) serta nitrogen (N) dalam jumlah kecil (Yuwono, 2005).
Perbandingan C/N bahan organik (bahan baku kompos) merupakan faktor
terpenting dalam laju pengomposan. Proses pengomposan akan berjalan
dengan baik jika perbandingan C/N bahan organik yang dikomposkan sekitar
25-35 (Simamora dan Salundik, 2006).
Bahan organik yang mempunyai C/N yang tinggi berarti masih mentah.
Kompos yang belum matang (C/N tinggi) dianggap merugikan bila langsung
diberikan ke dalam tanah. Sebab bahan tersebut akan diserang oleh mikroba
untuk memperoleh energi (Yuwono, 2005).

2.8.pH

Kisaran pH kompos yang optimal adalah 6,0-8,0, derajat keasaman bahan


pada permulaan pengomposan pada umumnya asam sampai netral (pH 6,0 7,0). Derajat keasaman pada awal proses pengomposan akan mengalami

penurunan

karena

sejumlah

mikroorganisme

yang

terlibat

dalam

pengomposan mengubah bahan organik menjadi asam organik . Pada proses


selanjutnya, mikroorganisme dari jenis yang lain akan mengkonversi asam
organik yang telah terbentuk sehingga derajat keasaman yang tinggi dan
mendekati netral (Djuarnani, dkk., 2005

BAB III
METODELOGI PERCOBAAN

3.1.

ALAT DAN BAHAN

3.1.1. ALAT
Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu :
a. Pisau
b. Gentong
c. Plastic
d. Pengduk kayu
3.1.2. BAHAN
Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu :
a. EM-4
b. Air kelapa
c. Air cucian beras
d. Air
e. Daun-daun kering
3.1.3. CARA KERJA
1. Menyiapkan alat dan bahan yang kan digunakan.
2. Mengumpulkan sampah daun yang ada di sekitar Teknik Kimia Unila.
3. Mencacah sampah daun hingga berukuran 1-2 cm.
4. Memasukan sampah daun kering ke dalam gentong.
5. Memasukan air sebanyak 10 liter , air kelapa 500 ml, air cucian beras
500 ml dan EM-4 600 ml dan menguduknya hingga rata.
6. Menutup gentong dengan plastik secara anaerobic.
7. Mendiamkannya selama 1 minggu.

DAFTAR PUSTAKA
Darjati dan Winarko, 2003. Praktek PSA. Surabaya: Jurusan Kesehatan
Lingkungan.
Djaja, Willyan, 2008. Langkah Jitu Membuat Kompos dari Kotoran Ternak &
Sampah. Jakarta: Agro Media Pustaka.
Indriani, Y. H, 2005. Membuat Kompos cair Secara Kilat. Jakarta: Penebar
Swadaya. 8 : 30-33.

Murbandono, L, 2008. Membuat Kompos cair. Jakarta: Penebar Swadaya. 35 : 10.


Nia, Tanpa Tahun. Kompos. http://migroplus.com/brosur/Kompos.pdf`. [19
Desember 2009]
Nurhidayat dan Purwendro, S, 2006. Mengolah Sampah. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Simamora, Suhut dan Salundik, 2006. Meningkatkan Kualitas Kompos. Depok:
PT. AgroMedia Pustaka.1 : 13-29.

Beri Nilai