Anda di halaman 1dari 27

BAB IV

UTILITAS

Unit utilitas atau unit penunjang proses produksi merupakan

bagian

penting dalam suatu pabrik sehingga keberadaannya sangat diperlukan. Pada


proses pembuatan semen terutama proses produksi tidak bisa berjalan lancar tanpa
adanya unit utilitas atau unit pendukung proses produksi. Unit pendukung proses
produksi pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk, Cirebon meliputi :
1. Unit Penyediaan dan Pengolahan Air
2. Unit Pembangkit Tenaga Listrik
3. Unit Penyediaan Udara Tekan
4. Unit Penyediaan Bahan Bakar
5. Unit Pembuatan Kantong Semen

4.1 Unit Penyediaan dan Pengolahan Air


Pemakaian kebutuhan air PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk, Cirebon
disediakan oleh suatu unit pengolahan dalam pabrik yaitu Water Treatment Supply
yang berada dibawah Departemen Produksi. Kebutuhan air dalam pabrik dibagi
menjadi dua yaitu air industri (air proses untuk pendinginan mesin-mesin) dan air
domestik (air minum, perkantoran, perumahan dan laboratorium). Air tersebut
diperoleh dari pengelolaan dan pengolahan air yang berasal dari Telaga Remis,
Palimanan yang berjaraknya + 15 km dari lokasi pabrik. Air dari Telaga Remis
diambil dengan menggunakan pompa kemudian disalurkan dengan pipa-pipa dan
ditampung dalam bak penampung yang berada di desa Cikahalang dan kemudian
148

149

disaring kotorannya seperti sampah plastik, kertas, dan daun. Air dari Telaga
Remis disalurkan ke pabrik dengan menggunakan pipa jenis DCip diameter 200
mm dengan Flow 108 m3/jam ditampung dalam Raw Water Pond dengan
kapasitas 300 m3. Dari Raw Water Pond disalurkan ke Precipitator Tank. PT.
Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk, Cirebon mempunyai 4 buah Precipitator Tank
yaitu 2 untuk industri dengan kapasitas 75 m3/jam dan 2 untuk air minum dengan
kapasitas 15 m3/jam. Precipitator Tank berfungsi sebagai alat pengolahan air,
sehingga air dapat dikonsumsi rumah tangga maupun untuk kebutuhan industri.
Selanjutnya air didistribusikan ke unit-unit pengolahan air untuk memenuhi
kebutuhan pabrik sehari-hari. Instalasi pengolahan air PT. Indocement Tunggal
Prakarsa, Tbk, Cirebon terdiri dari :
1. Raw Water Pond
Pengisisan air dari Telaga Remis dengan kapasitas 300 m 3. Pengisian air dari
Telaga Remis menggunakan pipa DCip diameter 200 mm dengan Flow 108
m3/jam dan pada pipa terpasang Flow Meter untuk mengetahui debit dan
jumlah pemakaian air dari Telaga Remis.
2. Panel
Panel merupakan alat untuk menjalankan sistem. Panel terdiri dari satu Main
Switch dengan dua Intake Pump secara manual dengan Pilot lampu merah
jalan dan kuning Overload.
3. Intake Pump
Jumlah Intake Pump pada pengolahan air industri terdiri dari 3 buah
sedangkan jumlah Intake Pump pada pengolahan air minum terdiri dari 2

150

buah, dimana satu Pump untuk Stand by. Untuk pengolahan air industri setiap
satu Precipitator digunakan satu Intake Pump, sedangkan untuk pengolahan
air minum setiap dua Precipitator digunakan satu Intake Pump.
4. Precipitator Tank dan Clasifier
Pada pengolahan air untuk industri terdiri dari 2 buah tangki pengendap atau
Precipitator Tank dengan kapasitas 75 m3/jam, sedangkan pada pengolahan air
minum terdiri dari 2 buah tangki pengendap atau Clasifier dengan kapasitas
15 m3/jam. Precipitator dan Clasifier berfungsi sebagai alat pengolahan air
sehingga air dapat dikonsumsi rumah tangga maupun untuk kebutuhan
industri. Precipitator digunakan untuk pengolahan air industri sedangkan
Clasifier digunakan untuk air rumah tangga. Dalam Precipitator Tank dan
Clasifier terdiri dari :
a. Agitator
Jumlah Agitator sebanyak 4 buah dengan jumlah pembagian 2 buah untuk
pengolahan air industri dan 2 buah untuk air minum. Agitator tersebut
berfungsi sebagai alat pengaduk antara bahan kimia dengan raw water agar
terjadi pencampuran. Putaran agitator 8 kali permenit (0,5 Hp). Tiap agitator
digerakkan oleh motor listrik.
b. Flow Meter Precipitator
Tiap Precipitator dilengkapi 1 buah flow meter. Alat ini berfungsi sebagai
alat pencatat hasil produk atau untuk mengetahui kapasitas flow rate.

151

5. Chemical Tank
Chemical Tank berfungsi untuk menampung bahan kimia yang digunakan
untuk proses pengolahan air seperti PAC (Poly Aluminium Chloride), Lime
dan hypocloride. Jumlah Chemical Tank untuk pengolahan air industri
sebanyak 4 buah, sedangkan jumlah untuk pengolahan air minum sebanyak 6
buah. Kapasitas Chemical Tank untuk pengolahan air minum adalah 190 liter
untuk semua Chemical Tank bahan kimia. Sedangkan Kapasitas Chemical
Tank untuk pengolahan air industri adalah 700 liter untuk Chemical Tank PAC
dan 480 liter untuk hypochloride. Chemical Tank ini dilengkapi dengan :
a. Chemical Pump
Chemical Pump adalah pompa yang digunakan untuk mengalirkan bahan
kimia dari Chemical Tank ke Precipitator. Jumlah Chemical Pump pada
pengolahan air industri sebanyak 4 buah, sedangkan jumlah Chemical Pump
pada pengolahan air minum sebanyak 6 buah.
b. Chemical Mixer
Jumlah Chemical Mixer untuk pengolahan air industri sebanyak 4 buah
masing-masing Chemical Mixer digerakkan oleh 1 motor. Pada setiap
Precipitator pengolahan air untuk industri digerakkan oleh 2 motor.
Sedangkan jumlah Chemical Mixer untuk pengolahan air minum sebanyak 6
buah dengan 2 motor penggerak.

6. Sand Filter

152

Jumlah Sand Filter pada pengolahan air industri sebanyak 4 buah sedangkan
jumlah sand filter pada pengolahan air minum sebanyak 2 buah. Sand filter
merupakan tangki penyaring dengan medium penyaring berupa pasir kuarsa
untuk menyaring sisa-sisa bahan kimia atau flok yang masih tertinggal.
7. Industrial Water Pond
Industrial Water Pond adalah tempat penampungan air hasil pengolahan
setelah melalui penyaringan di Sand Filter dan digunakan sebagai pendingin.
Industrial Water Pond berjumlah 2 buah dengan kapasitas masing-masing
pond 4700 m3 yang terletak di kolam Water Treatment.
8. Drinking Pond
Drinking Pond adalah tempat penampungan air hasil pengolahan air. Drinking
Pond berjumlah 2 buah dengan kapasitas masing-masing pond 1500 m3.
Pada bagian tengah Clasifier juga terdapat sekat yang berfungsi untuk tempat
mangendapnya flok-flok.

Tabel 4.1 Karakteristik Air Telaga Remis Yang Digunakan Sebagai

153

Air Sumber

ep

Paramater
A. FISIKA

Keterangan

art

1. Warna

Keruh

en

2. Bau

Agak amis

3. Rasa

Berasa

4. PH

6,5

5. Kekeruhan

25 ppm

6. Total Padatan

500 mg/lt

B. KIMIA
1. Calsium

75

2. Magnesium

30

3. Besi

0,1 mg/lt

4. Kesadahan

500 mg/lt

5. Mangan

0,5

6. Amonium

7. Klorida

600 mg/lt

8. Permanganat

10 mg/lt

9. Nitrat

10 mg/lt

10. Nitrit

1 mg/lt

11. Sulfat

5 mg/lt

12. Chromium
Quality Control, 2013)

4.1.1

Pengolahan Air Industri.

(D

0,05 mg/lt

154

Pengolahan air industri di PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk, Cirebon


digunakan sebagai air proses untuk pendinginan mesin-mesin. Air yang berasal
dari Raw Water Pond dengan kapasitas 300 m3, dipompa ke dalam dua buah
Tangki Pengendap atau Precipitator Tank sebanyak 1800 m3/hari. Kemudian di
dalam Precipitator Tank, air ditambahkan dengan :
1. PAC (Poly Aluminium Chloride) sebanyak 70 80 cc/m3 atau sekitar 10% dari
kapasitas total Chemical Tank PAC. PAC dengan rumus kimia Al2O3.2CaCl2.
PAC berfungsi untuk menangkap kotoran dan membentuk

flok sehingga

mudah diendapkan. PAC sebelum digunakan dilarutkan terlebih dahulu dalam


air dengan perbandingan 10 kg PAC dalam 1000 liter air. Dengan reaksi
sebagai berikut :
Al2O3.2CaCl2 + 3H2O

2Al(OH)3

Flok

+ 2CaCl2

2. Hypochloride (CaOCl2) sebanyak 40 50 cc/m3 atau sekitar 6% dari kapasitas


total Chemical Tank Hypochloride. Larutan hypochloride dibuat dengan
mencampurkan 6 kg hypochloride dalam 100 liter air. Hypochloride berfungsi
sebagai desinfektan atau membunuh kuman. Dengan reaksi sebagai berikut :
CaOCl2 + H2O

Ca(OH)2 + Cl2

Selanjutnya Raw Water dan ke dua bahan kimia yang masuk ke dalam
tangki pengendapan akan diaduk dengan Agitator sehingga terjadi pengikatan
kotoran dan terbentuknya flok. Dengan adanya pengadukan oleh Agitator maka
flok-flok tersebut akan berkumpul menjadi flok yang lebih besar kemudian
mengendap pada Secondary Chamber. Penambahan PAC berfungsi untuk
membentuk flok sedangkan Hypochloride untuk membunuh kuman. Air yang

155

jernih dibagian atas lalu masuk melalui Water Jone kemudian ditampung di Clean
Well. Setelah itu, air dipompa ke dalam empat tangki filtrasi (Sand Filter) dengan
medium penyaring berupa pasir kuarsa untuk menyaring sisa-sisa bahan kimia
atau flok yang masih tertinggal. Apabila input dan output sudah tidak sebanding
maka menandakan Sand Filter telah kotor atau tangki filtrasi tersebut sudah jenuh.
Hal ini dapat diketahui melalui Pressure Gauge yang terpasang pada setiap Sand
Filter yaitu adanya kehilangan tekanan (Loose of Head) karena air yang berada di
atas terlalu tinggi akibat adanya lapisan lumpur di bagian atas pasir kuarsa atau
terjadinya Over Flow pada Drain Pipe Flok, sehingga perlu dilakukan
pembersihan atau Washing.
Proses pembersihan Sand Filter dapat dilakukan dengan cara mengalirkan
air pencuci dari tangki penampungan air pencuci, air tersebut dipompakan masuk
dari bagian bawah Sand Filter melalui Transfer Pump sehingga air akan masuk
melalui batu-batuan, kerikil dan pasir kuarsa. Air pencuci tersebut akan
membersihkan sisa-sisa flok yang melekat pada lapisan-lapisan atas dari pasir
kuarsa. Setelah flok terangkat, air yang membawa flok tersebut akan dikeluarkan
melalui Drain Pipe Flok dan ditampung dalam bak penampungan. Proses
pembersihan kembali ini berjalan selama 30 menit.
Setelah bersih, Sand Filter dapat digunakan lagi, akan tetapi sebelum Sand
Filter ini beroperasi lagi air pencuci dipompakan lagi masuk ke Sand Filter dan
tinggal untuk sementara guna membersihkan atau mengalirkan flok yang masih
tertinggal yang berjalan selama kurang lebih 15 menit. Setelah Sand Filter benarbenar bersih, baru dapat beroperasi kembali. Untuk pengoperasiannya, kran

156

Transfer Pump ditutup sedangkan kran Intake Pump dari Precipitator Tank dibuka
sehingga air akan mengalir ke Sand Filter dan Sand Filter akan beroperasi
kembali.
Dari tangki filtrasi, air dipompa dan ditampung dalam dua buah Industrial
Water Pond dengan kapasitas masing-masing 4700 m3 yang nantinya akan
didistribusikan ke pabrik. Air industri yang telah digunakan dialirkan kembali ke
Industrial Water Pond melalui Warm Water Pond. Air ini biasanya masih bersuhu
tinggi. Dari Warm Water Pond air ditransfer ke Cooling Tower menggunakan dua
pompa (Return Pump) dengan kapasitas 350 m3/jam. Cooling Tower terbagi atas
dua buah segmen dengan kapasitas 700 m3/jam dan diameter kipas 225 mm
dengan motor 22 KW. Air mengalir melalui Screen Flat Stainless dan turun,
karena putaran kipas yang terpasang diatas

maka terjadi proses penurunan

temperatur air. Air yang sudah diturunkan suhunya masuk kembali ke Industrial
Water Pond kemudian didistribusikan kembali ke pabrik.

Berikut ini karakteristik air industri hasil pengolahan PT. Indocement


Tunggal Prakarsa, Tbk yang ditunjukkan pada Tabel 46.

157

Tabel 4.2 Karakteristik Hasil Pengolahan Air Industri


Parameter
A. FISIKA

Satuan

Keterangan

1. Warna

Jernih

2. Bau

Tidak berbau

3. Rasa

Tidak berasa

4. Kekeruhan

mgSiO2/lt

0,00

5. Residu terlarut

mg/lt

2920

6. Temperatur

28,3

1. PH

7,10

2. Mangan

mg/lt

0,08

3. Tembaga

mg/lt

0,30

4. Seng

mg/lt

0,70

5. Cadmium

mg/lt

0,08

6. Timbal

mg/lt

0,04

7. Nikel

mg/lt

0,00

8. Cobalt

mg/lt

0,00

9. Cromium

mg/lt

0,30

10. Nitrit

mg/lt

0,01

B. KIMIA

11. Sulfat
mg/lt
(Departemen Quality Control, 2013)

4.1.2

0,00

Pengolahan Air Domestik


Pengolahan air domestik terbagi menjadi 2 yaitu pengolahan air minum

dan air kebutuhan untuk mandi dan laboratorium Air yang berasal dari Raw Water

158

Pond dengan kapasitas 300 m3, dipompa ke dalam dua buah tangki pengendap
atau Clasifier sebanyak 390 m3/hari. Kemudian dalam Clasifier, air ditambahkan
dengan
1. PAC (Poly Aluminium Chloride) sebanyak 120 150 cc/m3 atau sekitar 10 %
dari kapasitas total Chemical Tank PAC. PAC merupakan campuran bahan
kimia Al2O3 dan CaCl3. PAC berfungsi untuk menangkap kotoran dan
membentuk flok sehingga mudah untuk diendapkan. PAC sebelum digunakan
dilarutkan terlebih dahulu dalam air dengan perbandingan 10 kg PAC dalam
air 1000 liter air. Dengan reaksi sebagai berikut :
Al2O3.2CaCl2 + 3H2O

2Al(OH)3

Flok

+ 2CaCl2

2. Hypochloride (CaOCl2) sebanyak 45 75 cc/m3 atau sekitar 6% dari kapasitas


total Chemical Tank Hypochloride. Larutan hypochloride dibuat dengan
mencampurkan 6 kg hypochloride dalam 100 liter air. Hypochloride berfungsi
sebagai desinfektan atau membunuh kuman. Dengan reaksi sebagai berikut :
CaOCl2 + H2O

Ca(OH)2 + Cl2

3. Lime sebanyak 210 270 cc/m3 atau sekitar 4% dari kapasitas total Chemical
Tank Lime. Lime ditambahkan untuk menetralkan pH. Sebelum digunakan
lime dilarutkan dalam air dengan perbandingan 4 kg lime dan 100 liter air.
Dengan reaksi sebagai berikut :
CaO + H2O

Ca(OH)2

Selanjutnya Raw Water dan ke tiga bahan kimia yang masuk ke dalam
Tangki Pengendapan yang sebelumnya akan diaduk dengan Agitator sehingga
terjadi pengikatan kotoran dan terbentuknya flok. Dengan adanya pengadukan

159

oleh Agitator maka flok-flok tersebut akan berkumpul menjadi flok yang lebih
besar kemudian mengendap pada Secondary Chamber. Penambahan lime
dilakukan agar lebih banyak kotoran yang terikat. Dari tangki pengendap air
dipompa ke dalam 2 buah tangki filtrasi yang menggunakan medium penyaring
pasir kuarsa dan karbon aktif.
Sedangkan karakteristik hasil pengolahan air domestik PT. Indocement
Tunggal Prakarsa, Tbk, ditunjukkan pada Tabel 47.
Tabel 4.3 Karakteristik Hasil Pengolahan Air Domestik
Parameter

Satuan

Keterangan

FISIKA
1. Warna

Jernih

2. Bau

Tidak berbau

3. Rasa

Tidak berasa

4. Kekeruhan

mgSiO2/lt

0,00

5. Residu terlarut

mg/lt

149

6. Temperatur

28

1. pH

7,10

2. Tembaga

mg/lt

0,00

3. Seng

mg/lt

0,00

4. Cromium

mg/lt

0,02

5. Cadmium

mg/lt

0,00

6. Timbal

mg/lt

0,01

7. Sulfida

mg/lt

0,00

KIMIA

160

8. Flourida

mg/lt

9. NItrit

mg/lt

10. Chlor
mg/lt
(Departemen Quality Control, 2013)

1,00
0,007
0,00

Dari data tabel diatas maka air tersebut dapat dipergunakan untuk
keperluan domestik misalnya MCK.
Untuk pengolahan air minum, dari salah satu tangki filtrasi dialirkan ke
alat ozonatik melalui tangki penampung atau Raw Water Tank. Dari Raw Water
Tank, air dialirkan ke Oxygen Generator yang berfungsi untuk memproduksi
udara murni (O2) sebagai bahan baku ozon, bila lampu indikator berwarna merah
menandakan Oxygen Generator siap mentransfer udara murni pada mesin transfer
ozon. Kemudian mengalir ke dalam Trafo bertegangan tinggi yang diatur 800 mV
untuk pemurnian air minum. Dari Trafo tersebut air dialirkan ke Tabung Ozonisasi
melalui Intake Pump. Tabung Ozonisasi ini terdiri atas dua bagian dimana pada
bagian tengahnya diberi penyekat secara horizontal, dimana pada penyekat
horizontal dibagian tengah terdapat lubang lingkaran dan pada penutup tabung
bagian atas saluran sirkulasi O3. Pada bagian atas tabung Ozonisasi adalah tempat
penampungan air baku yang berasal dari Intake Pump. Air yang berasal dari
tabung atas akan ditampung lagi pada tabung bagian bawah dan pada bagian
bawah penutup tabung terdapat Transfer Pump yang berfungsi untuk mengalirkan
air menuju ke Distribution Pump. Apabila Distribution Pump berwarna hijau
menandakan bahwa kadar ozon pada tabung ozon bagian bawah telah memenuhi
standar untuk pemurnian air minum. Hal ini dapat dilihat pada indikator elektroda
ozon yang dipasang pada Inlet Distribution Pump. Di dalam Distribution Pump

161

juga dilengkapi ultraviolet yang berfungsi untuk menurunkan kadar ozon. Dari
Distribution Pump air di tampung dalam Distribution Tank. Setelah 8 jam air baru
dapat dikonsumsi untuk air minum karena air O3 tersebut telah terurai menjadi air
O2.
Dari tangki filtrasi yang satu lagi, air disalurkan ke panampungan atau
tower yang berada pada RSP lantai 5 dan tower housing. Air untuk keperluan
minum dan laboratorium diperiksa sebulan sekali di laboratorium kimia untuk
mengetahui kualitas air. Air juga diperiksa sebulan sekali di PDAM Cirebon.
Proses pengolahan air dapat dilihat dalam Gambar 14 yaitu diagram alir proses
pengolahan air.

Air Sumber
Bak Penampung
Hypochloride 6%
PAC 10%

Hypochloride 6%
Raw Water Pond

PAC 10%
Lime 4 %

Precipitator Tank

Sand Filter

Industrial Water Pond

Air Industri

Clasifier Tank

Sand Filter

Air Domestik

Sand Filter

Alat Ozomatic
Air Minum

162

Gambar 4.1 Diagram Alir Proses Pengolahan Air


(Sumber : Erry, 2013)

4.1.2.1 Kesadahan
Kesadahan air adalah kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air,
umumnya ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat.
Air sadah tidak begitu berbahaya untuk diminum, namun dapat menyebabkan
beberapa masalah. Dalam industri, kesadahan air yang digunakan harus diawasi
dengan ketat untuk mencegah kerugian. Untuk menghilangkan kesadahan
biasanya digunakan berbagai zat kimia, ataupun dengan menggunakan resin
penukar ion.
Air sadah digolongkan menjadi dua jenis, berdasarkan jenis anion yang
diikat oleh kation (Ca2+ atau Mg2+), yaitu air sadah sementara dan air sadah tetap.
1. Kesadahan sementara disebabkan oleh garam-garam karbonat (CO 32-) dan
bikarbonat (HCO3-) dari kalsium dan magnesium, kesadahan dapat

163

dihilangkan dengan cara pemanasan, sehinga air terbebas dari ion Ca 2+ dan
atau Mg2+.
Reaksi :
Ca(HCO3)2

dipanaskan

Mg(HCO3)2

dipanaskan

CO2(gas) + H2O(cair) + CaCO3


CO2(gas) + H2O(cair) + MgCO3

2. Kesadahan tetap disebabkan oleh adanya garam-garam khlorida (Cl-) dan


sulfat (SO42-) dari kalsium dan magnesium. Kesadahan ini disebut juga
kesadahan non karbonat yang tidak dapat dihilangkan dengan cara pemanasan,
tetapi dapat dihilangkan dengan cara pertukaran ion dan penambahan larutan
soda kapur (terdiri dari larutan natrium karbonat dan magnesium hidroksida)
sehingga terbentuk endapan kalium karbonat (padatan/endapan) dan
magnesium hidroksida (padatan/endapan) dalam air.
Reaksi :
CaCl2 + Na2CO3

CaCO3 + 2NaCl(larut)

CaSO4 + Na2CO3

CaCO3 + Na2SO4(larut)

MgCl2 + Ca(OH)2

Mg(OH)2 + CaCl2(larut)

MgSO4 + Ca(OH)2

Mg(OH)2 + CaSO4(larut)

Penghilangan kesadahan (pelunakan) air dilakukan untuk menghilangkan


kation Ca2+ dan Mg2+. Kation penyebab kesadahan dapat dikurangi atau
dihilangkan dengan proses :
1. Pemanasan
Penghilangan kesadahan dengan cara pemanasan hanya dapat menghilangkan
kesadahan sementara yakni garam Ca(HCO3)2 dan Mg(HCO3)2. Jika air yang

164

mengandung garam tersebut dipanaskan maka akan terjadi senyawa CaCO 3


dan MgCO3 yang mempunyai sifat kelarutan kecil di dalam air sehingga dapat
diendapkan.
2.

Proses Pengendapan Kimia


Di dalam proses pengandapan kimia ini tujuannya untuk membentuk garamgaram kalsium dan magnesium menjadi garam-garam yang tidak larut,
sehingga dapat diendapkan dan dapat dipisahkan dari air. Bentuk garam
kalsium dan magnesium yang tidak larut dalam air adalah kalsium karbonat
(CaCO3) dan magnesium hidroksida (Mg(OH)2). Proses pengendapan dapat
dilakukan dengan proses kapur soda ash (Lime Soda Softening) atau dengan
proses soda kaustik.

3.

Pertukaran Ion
Pada proses pertukaran ion bertujuan untuk menghilangkan kesadahan air
dengan penambahan resin R H (yaitu suatu polimer dengan resin karbon R
yang mengikat ion H+). Proses ini terjadi di dalam Cation Exchanger. Ion-ion
positif seperti Ca2+, Mg2+, Na2+, K+ akan diikat oleh resin.
Reaksi :
L+ + xR H

R xL + Xh+

Kation resin

Resin kation

Ion logam L+x dalam operasi akan diganti ion H+ dari resin R H sehingga air
akan keluar dari Cation Exchanger bersifat asam (pH 3,1 3,3).

4.2 Unit Pembangkit Tenaga Listrik

165

Unit penyediaan tenaga listrik merupakan unit penunjang yang sangat


vital keberadaannya. PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk, Cirebon
memerlukan energi yang cukup besar dimana untuk sumber utamanya PT.
Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk, Cirebon memasang listrik dari PLN yang
berasal dari Gardu Induk Sunyaragi, Cirebon dengan tegangan 150 kV dan
sumber tenaga listrik lainnya berasal dari generator set sebagai cadangan bila
ada gangguan listrik pada PLN. Hal ini jauh lebih efisien bila dibandingkan
dengan membangun unit pembangkit tenaga listrik sendiri. Distribusi tenaga
listrik PT. ITP ditunjukkan dalam Gambar 4.2.

Gardu Induk Sunyaragi


150 KV

Gardu Induk Arjawinangun


150 KV
Gardu Induk di PT. Indocement Tunggal Prakarsa
70 KV, 50 Hz

Pemisah Line
70 KV

Line 1
70 KV

Line 2
70 KV

Panel Penerima
Sub-station
Plant 9

Panel Penerima di Lokal


Sub-station 6,6 KV
Plant 10

SSE 1

SSE 2

SSE 3

SSE 4

SSE 5

SSE 6

SSE 7

uk mengoperasikan motor-motor listrik yang berdaya kecil


SS 1

220 V untuk penerangan

SS 2

SSE 10

SS 3

SSE 10.1

SS 4

SS 5

SS 6

SS 7

Gambar 15. Distribusi Tenaga listrik PT. Indocement Tunggal


Gambar 4.2 Distribusi Tenaga listrik PT. Indocement Tunggal
Prakarsa,Tbk, Cirebon
Prakarsa,Tbk, Cirebon
(Sumber : Ranu,2013)
(Sumber : Ranu,2013)

149

Tegangan 150 KV yang diambil dari gardu induk PLN di daerah Sunyaragi
tersebut diturnkan terlebih dahulu menjadi 70 KV di Gardu Induk Arjawinangun.
Dari gardu induk Arjawinangun listrik sebesar 70 KV tersebut disalurkan ke gardu
induk PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk Cirebon. Untuk menjaga sistem
tenaga listrik, maka pihak PLN menerapkan sistem penyaluran tenaga listrik
saluran ganda (Double Line) yang bertujuan untuk mencegah kemungkinan
terputusnya aliran listrik. Apabila salah satu aliran mengalami gangguan atau
dalam pemeliharaan maka penyaluran dayanya dapat disalurkan melalui saluran
yang satu lagi, sehingga tidak akan mengganggu penyelenggaraan proses produksi
yang ada pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk, Cirebon. Line 1 digunakan
untuk penyaluran tenaga listrik ke plant 9, sedangkan line 2 untuk plant 10. Selain
kedua line tersebut PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk, Cirebon menyediakan
listrik dengan menggunakan Gas Engine (GE) pada line 3 yang merupakan paralel
dari line 2 .
Tenaga listrik ditransmisikan oleh PLN diterima oleh gardu induk PT.
Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk, Cirebon sebesar 70 KV, 50 Hz. Selanjutnya
masing-masing masuk PMS (pemisah) Line, PMT (pemutus). PMS sel kemudian
diparalelkan melalui sebuah sel daya ke PMT kemudian PMT dikeluarkan dari
transformator daya penurun tegangan (Step Down) dengan kapasitas daya 63
MVA. Kebutuhan tenaga listrik di PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk,
Cirebon yaitu :
a. Tenaga listrik yang bertegangan 6,6 KV

150

Dimana tegangan primer 70 KV diturunkan pada sel sekunder sebesar 6,6 KV.
Tegangan listrik diturunkan menjadi 6,6 KV dan kemudian didistribusikan ke
masing-masing panel penerima di lokal Sub-Station (SS). PT. Indocement
Tunggal Prakarsa,Tbk, Plant 9, Cirebon memiliki delapan buah Sub-Station,
yaitu :

SSE 1 : Limestone Crusher

SSE 2 : Additive Crusher

SSE 3 : Raw Mill

SSE 4 : Homogenizing Silo, RSP, Coal Mill dan Motor Kiln

SSE 5 : Kiln dan Grate Cooler

SSE 6 : Cement Mill dan Packing

SSE 7 : Utilita, Lighting

SSE 10 : Housing

SSE 10.1 : Temporary Office


Kemudian listrik dengan tegangan 6,6 KV (high tension) ini umumnya
digunakan untuk menjalankan peralatan-peralatan utama, seperti Kiln, RSP,
EP dan Crusher.

b. Tenaga listrik yang bertegangan 400 V


Tenaga listrik ini diperoleh dengan cara menurunkan tenaga listrik yang
bertegangan 6,6 KV menjadi 400 V. Tenaga ini umumnya digunakan untuk
mengoperasikan motor-motor listrik yang berdaya kecil.
c. Tenaga listrik yang bertegangan 220 V

151

Tenaga listrik ini diperoleh dengan cara menurunkan tenaga listrik yang
bertegangan 400 V menjadi 220 V. Tenaga ini umumnya digunakan untuk
sistem penerangan Plant dan Housing.
PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk, Cirebon juga menyediakan
sumber listrik cadangan berupa sebuah generator, dengan pembagian sebagai
berikut :

P 9 : 750 V

P 10 : 1250 V
Hal ini penting dilakukan untuk menjaga kemungkinan adanya gangguan
listrik dari PLN karena proses pabrik harus berjalan secara kontinyu. Kapasitas
daya dari generator terbatas, maka generator difungsikan pada keadaan yang
sangat penting saja, yaitu :

Pengoperasian Kiln

Hydrant

Pompa-pompa lubrikasi, untuk motor Raw Mill, Kiln, RSP, Cement Mill

Emergency Lighting

Sistem komputer
4.3 Unit Penyediaan Udara Tekan
Kebutuhan udara tekan yang digunakan pada PT. Indocement Tunggal
Prakarsa , Tbk, Cirebon meliputi :
a. Udara Tekan

152

Udara tekan diantaranya dipergunakan untuk proses Pneumatic seperti


pembersihan debu pada peralatan, menggerakkan Damper Valve, pengadukan
lapisan material di Homogenizing Silo dengan prinsip fluidisasi dan transportasi
material dengan Air Slide. Unit penyediaan udara ini dipenuhi oleh Compressor.
Prinsip Penyediaan Udara Tekan adalah Udara dari atmosfer ditarik
dengan menggunakan Compressor berkapasitas 18.000 m3/jam dengan daya 190
HP dan bekerja pada tekanan 100 Psig menuju ke filter udara dan dilanjutkan ke
pengering udara untuk mengubah udara basah yang bertekanan 1 atm menjadi
udara kering yang bertekanan 4 atm. Selanjutnya udara dipompakan menuju ke
semua peralatan yang membutuhkan udara tekan.
b. Udara Bebas
PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk, Cirebon menggunakan udara
bebas untuk memenuhi kebutuhan udara pembakaran, pendinginan Clinker dalam
Grate Cooler dan pendingin peralatan. Kebutuhan udara bebas ini dipenuhi
dengan menggunakan Fan. Untuk mencegah terjadinya kerusakan pada peralatan
pabrik, maka dipergunakan sistem pengamanan sebagai berikut :
a. Menggunakan listrik bertegangan rendah
b. Menggunakan arus berlebih
c. Menggunakan sistem Interlock pada peralatan proses
d. Menjaga kestabilan frekuensi dengan batas fluktuasi kurang lebih 5%
Udara bebas berguna untuk memenuhi kebutuhan udara pembakaran,
pendingin Clinker dalam Grate Cooler dan pendingin peralatan. Kebutuhan udara
bebas ini dapat diperoleh dengan menggunakan Fan.

153

Udara pembakaran dalam memproduksi semen terdapat tiga macam yaitu :

1.

Udara Primer
Udara primer adalah semua udara yang masuk Rotary Kiln melalui Burner
yang berasal dari Primary Air Fan dan transportasi Blower batu bara. Udara
primer ini digunakan untuk pembakaran di Rotary Kiln. Temperatur udara
primer dipengaruhi oleh temperatur batu bara yang sedang ditransfer ke dalam
Rotary Kiln sekitar 30oC. Besarnya udara primer sekitar 10 18% dari total
udara yang diperlukan untuk pembakaran di Rotary Kiln. Burner dilengkapi
dengan 2 buah Fan yang masing-masing berkapasitas150 m3/menit untuk
memenuhi kebutuhan udara primer.

2.

Udara Sekunder
Udara sekunder adalah udara yang ditarik ke dalam Rotary Kiln dari Cooler.
Udara tersebut merupakan udara yang digunakan untuk pembakaran di Rotary
Kiln. Pemakaian udara sekunder ini sangat efektif untuk proses pembakaran
karena mempunyai temperatur tinggi yaitu 800 9000C. Pemakaian batu bara
akan lebih hemat dengan adanya temperatur tinggi.

3.

Udara Tersier
Udara tersier adalah udara yang ditarik ke dalam Suspension Preheater dari
Cooler, dimana udara tersebut digunakan untuk membantu pemanasan di
Suspension Preheater. Pemakian udara tersier ini sangat efektif untuk proses
pembakaran karena mempunyai temperatur tinggi. Temperatur udara tersier
ini sebesar + 7000C.

154

4.4 Unit Penyediaan Bahan Bakar


Unit ini dibawah Suplay Division yang bertugas menyediakan bahan bakar
dan mendistribusikan ke unit-unit yang membutuhkan. Jenis bahan bakar yang
digunakan PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk, Cirebon antara lain :
4.4.1

Batu bara
Batu bara yang digunakan

PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk,

Cirebon didatangkan dari Kalimantan dengan menggunakan kapal tongkang


bermuatan 7000 ton yang berlabuh di Pelabuhan Cirebon. Dari pelabuhan
Cirebon, batu bara diangkut truck ke lokasi pabrik dan kemudian disimpan di
Open Yard yang berkapasitas 28.000 ton. Di Open Yard, batu bara dimasukkan ke
dalam Hopper kemudian dibawa dengan Belt Conveyor menuju Storage Coal.
Setelah ditimbun, batu bara digaruk dengan menggunakan Side Scrapper
Reclaimer, lalu dibawa dengan Belt Conveyor ke Coal Mill untuk digiling.
Sebelum digiling, batu bara yang berdiameter lebih dari 8 cm akan dipisahkan dan
dibuang dengan menggunakan Vibrating Screen. Batu bara yang berdiameter lebih
kecil dari 8 cm akan lolos dari ayakan dan akan melewati Magnetic Separator.
Magnetic Separator akan mengambil logam-logam besi yang mungkin tercampur
dalam batu bara. Setelah itu, batu bara dilewatkan pada Metal Detector untuk
diketahui keberadaan logam dalam batu bara jika dalam batu bara tersebut masih
mengandung logam yang tidak tertangkap Magnetic Separator, dan secara
otomatis Belt Conveyor akan berhenti. Setelah itu, batu bara ditampung dalam

155

Coal Bin lalu dilewatkan ke Weighing Feeder menuju Rooler Mill. Dalam Roller
Mill, batu bara akan digiling dan dikeringkan. Gas panas yang digunakan untuk
mengeringkan batu bara dari hasil pembakaran di RSP. Gas panas ini sebelumnya
dimasukkan ke dalam siklon untuk memisahkan material dari RSP dengan gas.
Batu bara yang halus akan ikut terbawa dengan gas panas yang dihisap oleh Mill
Fan menuju Dust Collector Tipe Bag Filter. Dust Collector ini berfungsi untuk
memisahkan serbuk batu bara dari gas panas. Gas panas ini akan dibuang ke
cerobong, sedangkan serbuk batu bara akan ditampung dalam Pulverized Coal
Bin dengan menggunakan Screw Conveyor dan Pneumatic Conveyor. Dari
Pulverized Coal Bin, serbuk batu bara akan didorong oleh udara yang dihasilkan
dari blower menuju tempat pembakaran di RSP dan kiln. PT. Indocement Tunggal
Prakarsa, Tbk, Cirebon menggunakan batu bara sebagai bahan bakar utama untuk
reaksi pembakaran di RSP dan kiln. Batu bara ini memiliki kadar air yang lebih
besar dari 6%.
4.4.2

Industrial Diesel Oil (IDO)


Bahan bakar IDO beli dari Pertamina Balongan. PT. Indocement Tunggal

Prakarsa, Tbk, Cirebon menggunakan IDO sebagai bahan bakar pemanasan awal
di RSP dan Kiln pada saat Heating Up atau ketika Coal Mill berhenti dan untuk
pembangkitan gas panas (HGG) pada saat Start Up. Clinker yang dihasilkan dari
pembakaran IDO jauh lebih baik bila dibandingkan dengan menggunakan batu
bara karena pembakaran IDO tidak menghasilkan abu. Namun penggunaan IDO
dibatasi karena harganya yang cukup mahal. Penggunaan IDO sebagai pemanasan

156

awal dilakukan sampai mencapai suhu yang diinginkan sekitar 800 0C. Jika suhu
tersebut telah tercapai maka penggunaannya digantikan dengan batu bara.

4.4.3

Solar
Solar dibeli dari Pertamina Balongan. Solar digunakan sebuah bahan

bakar kendaraan berat, seperti Dump Truck, Bulldozer dan Wheel Loader yang
sebagian besar digunakan di tambang.

4.5 Unit Pembuatan Kantong Semen


Bahan baku pembuatan kantong semen di PT. Indocement Tunggal
Prakarsa,Tbk, Cirebon adalah sebagai berikut :
a. Kertas Kraft yaitu kertas khusus kantong semen yang diimpor dari Swedia
dalam bentuk roll.
b. Tinta warna digunakan untuk membuat tulisan dan merk dagang pada kantong
semen. Tinta ini didatangkan dari PT. Coates Indonesia Jakarta.
c. Lem digunakan sebagai perekat kertas. Lem ini dibuat dari campuran air dan
serbuk kentang dengan perbandingan 3 : 1 yang diimpor dari Belanda dan
Jerman.
Pada proses pembuatan kantong semen terdiri dari dua tahapan yaitu :
1. Proses Tubing
Bahan baku dengan bantuan Hoist yang berkapasitas 2 ton dipasang
pada mesin tubing yang berkapasitas 250 tube per menit. Kemudian kertas roll
diletakkan pada stand roll ditaruh diatas mesin tubing dan dilewatkan ke bagian

157

painting I untuk diberi tulisan warna biru. Langkah selanjutnya adalah kertas
dilewatkan ke painting II untuk diberi lambang tiga roda warna merah. Setelah
melewati bagian painting, dilakukan pengeleman antara lapisan-lapisan kertasnya.
2. Proses Bottomer
Proses Bottomer adalah proses pembuatan katup kantong semen. Pada
proses ini, kantong yang keluar dari mesin tubing dibawa ke mesin bottomer
dengan menggunakan belt conveyor. Disini terjadi proses pembuatan lubang
pemasukan semen, pemasangan katup sampai pengeleman dan pengepresan
bagian atas bawah kantong. Setelah itu, kantong yang telah memenuhi syarat
dibawa ke tempat Storage Bag sedangkan yang tidak memenuhi syarat dibawa ke
bagian repair.
Jenis produk kantong semen PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk, Cirebon
adalah sebagai berikut :
a. Dua lapis "TIGA RODA" 50 kg untuk pulau Jawa
Mempunyai ukuran panjang 31 inchi, lebar kantong 410 mm, tebal 80 mm,
panjang katup 25 mm dan lebar katup 60 mm.
b. Dua lapis "TIGA RODA" 40 kg untuk pulau Jawa
Mempunyai ukuran panjang 27 inchi, lebar kantong 410 mm, tebal 80 mm,
panjang katup 25 mm, dan lebar katup 60 mm.