Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

GANGGUAN KECEMASAN

Disusun oleh :

JURUSAN KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MANDALA WALUYA KENDARI

2016

PENDAHULUAN
Mereka yang sedang menunggu suatu berita yang penting, atau mereka yang
hidup dalam situasi yang sulit untuk diperkirakan, seringkali merasakan suatu
kecemasan, suatu kondisi umum saat kita sedang berusaha mengantisipasi sesuatu,
atau ketegangan psikologis. Orang-orang yang berada pada suatu situasi berbahaya
atau situasi yang tak dikenal, seperrti terjuan paying untuk pertama kaliya atau
mendapati dirinya berhadapan dengan seekor ular, cenderung merasakan
ketakutan. Apabila berlangsung dalam situasi jagka pendek, emosi-emosi tersebut
akan bersifat adaptif, karena emosi tersebut memberikan kita tenaga untuk dapat
menghadapi situasi bahaya tersebut. Emosi-emosi tersebut akan memastikan kita
tidak akan melakukan terjunpayung tanpa memiliki pengetahuan mengenai
bagaimana menggunakan parasut, dan akan memastikan kita untuk menjauh pada
ular tersebut.
Namun banyak situasi tertentu, rasa takut akan menjadi tidak berhubung dari
bahaya yang sesungguhnya, atau sebaliknya, rasa takut tersebut akan tetap ada
pada meskipun situasi bahaya atau situasi ketidakpastian tersebut telah berlalu. Hal
tersebut

dapat

menyebabkan

kecemasan

kronik,

yang

ditandai

dengan

menentapnya perasaan ketegangan untuk mengantisipasi sesuatu yang buruk atau


musibah; menyebabkan serangan panik, perasaan cemas yang berlebihan, yang
berlangsung sesaat; menyebabkan fobia, ketakutan yang berlebihan terhadap
situasi atau hal tertentu; menyebabkan ganggaun obsesif-kompulsif.
Makalah ini akan mengenai mengenai gangguan kecemasan melalui contoh
kasus, selain itu juga akan dijelaskan mengenai kriteria dan penyebab masingmasimng ganggaun kecemasan dan juga jeis-jenis terapi yang dapat dilakukukan.
1

DAFTAR ISI

I.
II.
III.
IV.

Pendahuluan

.................................................................................

Daftar isi

.................................................................................

ii

Kasus
................................................................................
Resume
................................................................................
Pengertian dan faktor-faktor penyebab kecemasan ...........
4
Rekomendasi terapi ................................................................
10
Penutup
................................................................................
Daftar Pustaka
................................................................................

1
3
13
14

I.

KASUS

DATA SUBJEK
Inisial Nama

:M

Jenis kelamin

: Perempuan

Usia

: 21 tahun

Domisili

: Jakarta Utara

Pendidikan Terakhir : SMA


Pekerjaan

: Mahasiswa / Pelajar

Agama

: Kristen Protestan

Status Pernikahan : Belum Menikah


Anak ke... dari ...

: Anak ke-3 dari 3 bersaudara

Suku Bangsa

: WNI

Lewat proses wawancara yang dilakukan bersama subjek M dapat diketahui bahwa
subjek mengalami kecemasan yang tinggi terhadap tanggung jawab dan segala hal yang
memiliki tenggat waktu. Subjek menyadari dan mengakui bahwa dirinya mengalami
gangguan kecemasan yang berlebihan sejak masuk kuliah dan terus berlangsung
hinggah sekarang. Awalnya kecemasan subjek tersebut dipicu karena kewajiban dari
pihak universitas yang mengharuskannya menggunakan buku berbahasa inggris
sebagai buku pengantar pelajaran dan subjek merasa tidak mampu. Semakin
berjalannya waktu kecemasan subjek tidak kunjung juga menurun namun semakin
meningkat dengan munculnya tugas-tugas dan tanggung jawab baru, seperti membuat
laporan magang dan skripsi, yang harus diembannya sebagai syarat kelulusan.

Subjek mengaku sudah melakukan beberapa tindakan untuk mengatasi


kecemasannya tersebut seperti dengan berbagi cerita dengan teman-teman dan
sahabatnya, melakukan berbagai aktivitas yang menyenangkan bersama temantemannya, berdoa kepada Tuhan, dan terkadang subjek mencoba untuk berpikir logis
bahwa dengan terus mecemaskannya tidak akan menyelesaikan masalah. Namun
tindakan-tindakan tersebut tidak dapat memberikannya rasa tenang yang lebih lama,
setelah semua hal tersebut dilakukan rasa cemasnya terus muncul kembali menghantui
dirinya. Bahkan suatu kali subjek pernah harus masuk rumah sakit karena asam
lambungnya yang terlalu tinggi dan hal tersebut disebabkan oleh rasa cemasnya yang
berlebihan terhadap masalah akademis.
Mengenai kecemasan yang dialaminya, subjek menyadari bahwa hal tersebut
sangatlah tidak baik dan mengganggu dirinya selama beberapa tahun belakangan ini.
Ketika ditelusuri lebih lanjut, subjek mengatakan bahwa gangguan kecemasan yang
dialaminya tersebut baru muncul ketika subjek mulai memasuki masa-masa kuliah.
Gangguan kecemasan yang dialami subjek juga telah diketahui oleh para sahabatnya,
namun hal tersebut justru tidak diketahui oleh pihak keluarga subjek. Subjek mengakui
dirinya yang tidak dekat dan akrab dengan anggota keluarganya adalah alasan mengapa
subjek tidak pernah berbagi cerita tentang kecemasan yang dialaminya tersebut. Bagi
subjek ia akan bercerita hanya ketika ditanya oleh keluarganya, jika tidak ditanya lebih
lanjut subjek memilih untuk diam saja. Para sahabatnya yang mengetahui gangguan
kecemasan yang dimiliki subjek juga turut berkontribusi dengan memberikan semangat
dan dukungan setiap saat, dan subjek mengakui hal tersebut cukup membuatnya
merasa lebih tenang.

Pada akhir wawancara subjek juga mengakui bahwa rasa cemas yang dirasakannya
dapat timbul kembali jika adanya masalah lain yang muncul seiring dengan masalah
awal yang belum selesai, dan hal tersebut mampu mempengaruhi mood-nya secara
langsung. Oleh sebab itu subjek memiliki harapan agar gangguan kecemasan ini dapat
berkurang dan subjek juga memiliki niat untuk menemui para ahli agar dapat
membantunya mengatasi gangguan yang dialaminya ini.

II.

RESUME
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dapat dilihat dengan jelas bahwa

subjek mengalami gangguan kecemasan generalized anxiety disorder (GAD). Subjek


mengalami kecemasan yang berlebihan terhadap suatu masalah tertentu (masalah
akademis) dan menghabiskan hampir satu hari selalu mencemaskan dan memikirkan
masalah tersebut, serta hal tersebut sudah terjadi sejak subjek masuk kuliah sampai
saat ini (kurang lebih 3 tahun). Tidak hanya itu, subjek juga sulit sekali mengatasi rasa
cemas tersebut, mood-nya mudah sekali berubah, dan bahkan subjek sempat masuk
rumah sakit karena rasa cemas yang dialaminya tersebut. Jika dilihat secara garis besar,
subjek memenuhi hampir seluruh kriteria penderita GAD.
Gangguan kecemasan yang dialami subjek sesungguhnya juga diakibatkan oleh
tingkat self-efficacy-nya yang rendah, subjek lebih dahulu merasa bahwa dirinya tidak
mampu memenuhi persyaratan akademis yang diberikan oleh pihak universitas dan
pada akhirnya menyebabkan subjek semakin merasa cemas atas prestasinya
dikemudian hari dengan tidak melakukan tindakan pencegahan yang berarti atas rasa
cemasnya tersebut.

Rasa cemas yang dialami pada awalnya hanya pada persyaratan akademis
universitasnya berkuliah yang mewajibkan setiap mahasiswanya harus menggunakan
bahasa inggris sebagai syarat perkuliahan dan kelulusan. Namun setelah beberapa
waktu lamanya, subjek yang tetap membiarkan rasa cemas tersebut tanpa melakukan
tindakan pencegahan apapun, seperti les bahasa inggris, mengalami rasa cemas yang
semakin berlebihan dan kini mulai mencakup kedalam beberapa hal lainnya. Setiap ada
masalah baru yang datang subjek mulai merasa bahwa dirinya tidak akan mampu dan
semuanya yang terjadi pasti buruk dan tidak terkendali. Oleh karena tidak adanya
tindakan pencegahan yang berarti terhadap rasa cemas tersebut, kini subjek menjadi
pribadi yang mudah cemas dalam menghadapi masalah yang hadir dalam hidupnya.
Gangguan kecemasan yang dialami subjek meski tidak dipaparkan dengan jelas hal
traumatis apa yang menyebabkannya, namun dari pernyataan subjek dapat diketahui
bahwa penyebab utama gangguan ini dapat terjadi adalah karena rendahnya tingkat
self-efficacy subjek, dimana dapat dilihat cara berpikir atau persepsi subjek tentang
kemampuan dirinya dalam menyelesaikan suatu masalah yang menurutnya berat. Lalu
ditambah dengan dirinya yang cenderung tertutup dengan keluarga dan tidak adanya
tindakan pencegahan yang nyata, makanya menyebabkan subjek mengalami gangguan
kecemasan yang cukup kronis.

III.

PENGERTIAN DAN FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KECEMASAN


1) Pengertian Kecemasan
Kecemasan/anxieties adalah rasa khawatir, takut yang tidak jelas sebabnya.

Kecemasan merupakan kekuatan yang besar untuk menggerakkan tingkah laku baik
tingkah laku normal maupun tingkah laku yang menyimpang, yang terganggu dan kedua-

duanya merupakan pernyataan, penampilan, penjelmaan, dari pertahanan terhadap


kecemasan (Gunarso, 2003: 27).
Kecemasan adalah kondisi kejiwaan yang penuh dengan kekhawatiran dan
ketakutan akan apa yang mungkin terjadi, baik berkaitan dengan permasalahan yang
terbatas maupun hal-hal yang aneh. Deskripsi umum akan kecemasan yaitu perasaan
tertekan dan tidak tenang serta berpikiran kacau dengan disertai banyak penyesalan.
Hal ini sangat berpengaruh pada tubuh, hingga tubuh dirasa menggigil, menimbulkan
banyak keringat, jantung berdegup cepat, lambung terasa mual, tubuh terasa lemas,
kemampuan berproduktivitas berkurang hingga banyak manusia yang melarikan diri ke
alam imajinasi sebagai bentuk terapi sementara ( Musfir, 2005: 512).
Menurut Freud (dalam Alwisol, 2005:28) mengatakan bahwa kecemasan adalah
fungsi ego untuk memperingatkan individu tentang kemungkinan datangnya suatu
bahaya sehingga dapat disiapkan reaksi adaptif yang sesuai. Kecemasan berfungsi
sebagai mekanisme yang melindungi ego karena kecemasan memberi sinyal kepada
kita bahwa ada bahaya dan kalau tidak dilakukan tindakan yang tepat maka bahaya itu
akan meningkat sampai ego dikalahkan.
Kecemasan menurut Freud (1933/1964) adalah suatu keadaan perasaan efektif
yang tidak menyenangkan yang disertai dengan sensasi fisik yang memperingatkan
orang terhadap bahaya yang akan datang. Keadaan yang tidak menyenangkan itu sering
kabur dan sulit menunjuk dengan tepat, tetapi kecemasan itu sendiri selalu dirasakan. Di
lihat dari pendekatan belajar pengertian kecemasan adalah suatu respons ketakutan
yang terkondisi secara klasik dan gangguan-gangguan kecemasan terjadi bila respons
ketakutan itu diasosiasikan dengan suatu stimulus yang seharusnya tidak menimbulkan
kecemasan (Semiun, 2006: 87).
2) Faktor-faktor Penyebab

A. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber
yang

dapat

digunakan

individu

untuk

mengatasi

stress

(Stuart

&

Laraia,

2005;Agustarika,2009). Berbagai teori dikembangkan mengenai faktor predisposisi


terjadinya ansietas :
1). Biologi (Fisik)
Penelitian terkini berfokus pada penyebab biologis terjadinya ansietas yang
berlawanan dengan penyebab psikologis. (Sullivan & Coplan, 2000; Agustarika,
2009). Beberapa individu yang mengalami episode sikap bermusuhan, iritabilitas,
perilaku sosial dan perasaan menyangkal terhadap kenyataan hidup dapat
menyebabkan ansietas tingkat berat bahkan ke arah panik. Salah satu faktor
penyebab secara fisik yaitu adanya gangguan atau ketidak-seimbangan pada fisik
seseorang.
a). Gangguan fisik
Gangguan fisik yang dapat menyebabkan ansietas adalah antara lain gangguan
otak dan saraf (neurologis) seperti cedera kepala, infeksi otak, dan gangguan
telinga dalam, gangguan jantung, seperti kelumpuhan jantung dan irama jantung
yang abnormal (aritma),

gangguan hormonal (Endrokrin) seperti kelenjar

andrenal atau thyroid terlalu aktif, , gangguan paru-paru (pernafasan) berupa


asma, paru-paru obstruktif kronis atau COPD (Medicastore, 2011).
b). Mekanisme terjadinya kecemasan akibat gangguan fisik
Pengaturan ansietas berhubungan dengan aktivitas dari neurotransmmiter
Gamma Aminobutyric Acid (GABA), yang mengontrol aktifitas neuron di bagian
otak yang berfungsi untuk pengeluaran ansietas. Mekansime kerja terjadinya
6

ansietas diawali dengan penghambatan neurotransmmiter di otak oleh GABA.


Ketika bersilangan di sinaps dan mencapai atau mengikat ke reseptor GABA di
membran postsinaps, maka saluran reseptor terbuka, diikuti oleh pertukaran ionion. Akibatnya terjadi penghambatan atau reduksi sel yang dirangsang dan
kemudian sel beraktifitas dengan lamban (Stuart & Laraia,2005; Agustarika,2009).
Mekanisme biologis ini menunjukkan bahwa ansietas terjadi karena adanya
masalah terhadap efisiensi proses neurotransmmiter. Neurotransmiter sendiri
adalah utusan kimia khusus yang membantu informasi bergerak dari sel saraf ke
sel saraf. Jika neurotransmitter keluar dari keseimbangan, pesan tidak bisa
melalui otak dengan benar. Hal ini dapat mengubah cara otak bereaksi dalam
situasi tertentu, yang menyebabkan kecemasan. (Medicinet, 2011)
2). Psikologis
Pendapat yang dikemukan oleh Taylor (ed Leonard,2010) Kecemasan
merupakan

pengalaman

subyektif

mengenai

ketegangan

mental

yang

menggelisahkan sebagai bentuk reaksi umum dan ketidak-mampuan menghadapi


masalah atau munculnya rasa tidak aman pada individu. Izzudin (2006) Kecemasan
muncul dikarenakan adanya ketakutan atas sesuatu yang mengancam pada
seseorang, dan tidak ada kemampuan untuk mengetahui penyebab dari kecemasan
tersebut. Freud (dalam Arndt, 1974; Trismiati, 2004) mengemukakan bahwa
lemahnya ego akan menyebabkan ancaman yang memicu munculnya kecemasan.
Freud berpendapat bahwa sumber ancaman terhadap ego tersebut berasal dari
dorongan yang bersifat insting dari id dan tuntutan-tuntutan dari superego. Freud juga
mengatakan jika pikiran menguasai tubuh maka ini berarti bahwa ego yang

menguasai

pikiran

dan

pikiran

berkuasa

secara

mutlak

(Mc.Quade

and

Aikman,1987).
Freud (Hall dan Lindzay, 1995 ; Trismiati, 2004) menyatakan bahwa ego disebut
sebagai eksekutif kepribadian, karena ego mengontrol pintu-pintu ke arah tindakan,
memilih segi-segi lingkungan kemana ia akan memberikan respon, dan memutuskan
insting-insting manakah yang akan dipuaskan dan bagaimana caranya. Dalam
melaksanakan fungsi-fungsi eksekutif ini, ego harus berusaha mengintegrasikan
tuntutan id, superego, dan dunia luar yang sering bertentangan. Hal ini sering
menimbulkan tegangan berat pada ego dan menyebabkan timbulnya kecemasan.
Freud membagi teori kecemasan menjadi 3 yaitu :

a) ID/Impulse anxiety : perasaan tidak nyaman pada anak


b) Saparation anxiety : pada anak yang merasa takut akan kehilangan kasih saying
orangtuanya
c) Cstration anxiety : merupakan fantasi kastrasi pada masa kanak-kanak yang
berhubungan dengan pembentukan impuls seksual
d) Super Ego anxiety : pada fase ahkir pembentukan super ego yaitu pre pubertas
(Sani,2012).
3). Sosial Budaya
Cara hidup orang di masyarakat juga sangat mempengaruhi pada timbulnya
ansietas (Tarwoto & Wartonah, 2003; Agustarika, 2009). Individu yang mempunyai
cara hidup sangat teratur dan mempunyai. falsafah hidup yang jelas maka pada
umumnya lebih sukar mengalami ansietas. Budaya seseorang juga dapat menjadi
pemicu terjadinya ansietas. Hasil survey yang dilakukan oleh Mudjadid,dkk tahun
2006 di lima wilayah pada masyarakat DKI Jakartadidapatkan data bahwa tingginya

angka ansietas disebabkan oleh perubahan gaya hidup serta kultur dan budaya yang
mengikuti perkembangan kota (dalam Agustarika, 2009). Namun demikian, factor
predisposisi di atas tidaklah cukup kuat menyebabkan sesorang mengalami ansietas
apabila tidak disertai factor presipitasi (pencetus).
B. Faktor presipitasi
Stresor presipitasi adalah stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai
tantangan, ancaman atau tuntutan yang membutuhkan energi ekstra untuk koping.
Faktor presipitasi dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yakni :
1). Biologi (fisik)
Salah satu penyebab biologis yang dapat menimbulkan ansietas yaitu gangguan
fisik (Fracchione, 2004; Agustarika, 2009). Kecemasan yang sudah mempengaruhi atau
terwujud pada gejala-gejala fisik, dapat mempengaruhi system syaraf , misalnya tidak
dapat tidur, jantung berdebar-debar, gemetar, perut mual, dan sebagainya (Bucklew,
1980).
Gangguan fisik dapat mengancam integritas diri seseorang. Ancaman tersebut
berupa ancaman eksternal dan internal. Ancaman eksternal yaitu masuknya kuman,
virus, polusi lingkungan, rumah yang tidak memadai, makanan, pakaian, atau trauma
injuri. Sedangkan ancaman internal yaitu kegagalan mekanisme fisiologis tubuh seperti
jantung, sistem kekebalan, pengaturan suhu, kehamilan (Stuart & Laraia, 2005;
Agistarika, 2009), dan kondisi patologis yang berkaitan dengan mentruasi (chandranita,
2009)
2). Psikologis

Penanganan terhadap integritas fisik dapat mengakibatkan ketidak-mampuan


psikologis atau penurunan terhadap aktivitas sehari-hari seseorang (Stuart & Laraia,
2005; Agustarika, 2009). Demikian pula apabila penanganan tersebut menyangkut
identitas diri, dan harga diri seseorang, dapat mengakibatkan anacaman terhadap self
system.
Ancaman tersebut berupa ancaman eksternal, yaitu kehilangan orang yang berarti,
seperti : meninggal, perceraian, dilemma etik, pindah kerja, perubahan dalam status
kerja; dapat pula berupa ancaman internal seperti: gangguan hubungan interpersonal di
rumah, disekolah atau ketika dalam lingkungan bermainnya. Kecemasan seringkali
berkembang selama jangka waktu panjang dan sebagian besar tergantung pada seluruh
pengalaman hidup seseorang

IV.

REKOMENDASI TERAPI
Terapi Kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan sekelompok pasien

bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau diarahkan
oleh seorang terapis atau petugas kesehatan jiwa yang telah terlatih. Terapi kelompok
adalah terapi psikologi yang dilakukan secara kelompok untuk memberikan stimulasi
bagi klien dengan gangguan interpersonal. Keuntungan yang diperoleh individu melalui
terapi aktivitas kelompok ini adalah dukungan (support), pendidikan, meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah, meningkatkan kemampuan hubungan interpersonal
dan meningkatkan uji realitas sehingga terapi aktivitas kelompok ini dapat dilakukan
pada karakteristik gangguan seperti : gangguan konsep diri, harga diri rendah,

10

perubahan persepsi sensori halusinasi, klien dengan perilaku kekerasan atau agresif dan
amuk serta menarik diri/isolasi sosial. Selain itu, dapat mengobati klien dalam jumlah
banyak, dapat mendiskusikan masalah-masalah secara kelompok, menggali gaya
berkomunikasi, belajar bermacam cara dalam memecahkan masalah, dan belajar peran
di dalam kelompok. Namun, pada terapi ini juga terdapat kekurangan yaitu : kehidupan
pribadi klien tidak terlindungi, klien kesulitan mengungkapkan masalahnya, terapis harus
dalam jumlah banyak. Dengan sharing pengalaman pada klien dengan isolasi sosial
diharapkan klien mampu membuka dirinya untuk berinteraksi dengan orang lain
sehingga keterampilan hubungan sosial dapat ditingkatkan untuk diterapkan sehari-hari.
Munculnya Gangguan
Terapi kelompok digunakan apabila pasien yang mengalami karakteristik gangguan
seperti kebingungan konsep diri, harga diri rendah, perubahan persepsi sensori
halusinasi, kekerasan, atau menarik diri dari lingkungan social yang sudah tidak dapat
ditangani lagi oleh terapi yang bersifat individual.
Jenis dan Tujuan Terapi Kelompok menurut Rawlins, Wiliams dan Beck (1993) :
1. Kelompok terapeutik
Bertujuan

mencegah

masalah

kesehatan,

mendidik,

mengembangkan

potensi,

meningkatkan kualitas kelompok dengan angota saling bantu dalam menyelesaikan


masalah.
2. Terapi kelompok

11

Membuat sadar diri, meningkatkan hubungan interpersonal dan membuat perubahan.


3. Terapi aktivitas kelompok
Aktivitas dapat berupa latihan sosialisasi dalam kelompok yang dilakukan secara
bertahap. Selain itu, dapat juga berupa melakukan hal yang menjadi hobinya seperti
menyanyi, saat melakukan hobi, terapis mengobservasi reaksi pasien berupa ekspresi
perasaan secara nonverbal.
Secara umum, dapat kita simpulkan bahwa tujuan dari terapi kelompok adalah untuk
meningkatkan kesadaran diri, meningkatkan hubungan interpersonal, membagi emosi
atau perasaan yang dimiliki pasien dan agar pasien mandiri.
Peran terapis membantu, mendorong pasien secara aktif agar mencapai tujuan-tujuan
dari terapi kelompok.
Sejumlah teknik yang dapat digunakan ketika melaksanakan terapi kelompok :

Teknik yang melibatkan para anggota


Teknik yang melibatkan pemimpin
Menggunakan babak-babak terapeutik
Teknik sesekali membantu lebih dari satu anggota
Teknik untuk bekerja dengan Individu secara tidak langsung
Teknik yang menyebabkan para anggota berbagi pada tingkat lebih pribadi

12

PENUTUP

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa :


1. Kecemasan (anxiety) dapat diartikan sebagai perasaan kuatir, cemas, gelisah,
dan takut yang muncul secara bersamaan, yang biasanya diikuti dengan naiknya
rangsangan pada tubuh, seperti: jantung berdebar-debar, keringat dingin.
Kecemasan ini perlu dimiliki oleh manusia namun apabila kecemasan itu
berlebihan akan berubah menjadi abnormal, yaitu kecemasan yang ada dalam diri
individu menjadi berlebihan atau melebihi dari kapasitas umumnya.
2. Kecemasan menurut beberapa psikolog atau ahli, memiliki klasifikasi tingkatan
serta bentuk berdasarkan sebab dan lama berlangsungnya.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan terdiri dari faktor internal dan faktor
eksternal. Serta gejala kecemasan terbagi dari beberapa fase yang akan
meningkat jika kurangnya penanganan yang tepat.
4. Dalam menangani gangguan kecemasan dapat melalui beberapa pendekatan
dimana pendekatan-pendekatan psikologis berbeda satu sama lain dalam tekhnik
dan tujuan penanganan kecemasan. Tetapi pada dasarnya berbagai tekhnik
tersebut sama-sama mendorong klien untuk menghadapi dan tidak menghindari
sumber-sumber kecemasan mereka.

13

DAFTAR PUSTAKA
1. Aprianawati, B. 2009. Kecemasan Ibu Hamil.http://skripsistikes.files.wordpress.co
m/2009/08/56.pdf diakses tanggal 2 Maret 2013
2. Carpenito, Lynda Juall. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. EGC. Jakarta
3. Hidayat, A.Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Kebidanan Teknik Analisis Data.
Salemba Medika. Jakarta
4. Leveno, J Kenneth. 2009. Obstetri Williams Edisi 21. EGC. Jakarta
5. Nanda Internasional. 2010. Diagnosis Keperawatan. EGC. Jakarta
6. Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metode Penelitian Kesehatan. PT Rineka Cipta. Ja
karta
7. Nursalam. 2011. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawata
n Edisi 2. Salemba Medika. Jakarta
8. Pantiawati, Ika. dan Saryono. 2010. Asuhan Kebidanan 1 Kehamilan. Nuha Medik
a. Yogyakarta
9. Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. PT Bina Pustaka Sarwono Prawir
ohardjo. Jakarta
10. Salmah, Rusmiati. Maryanah. dan Susanti. Asuhan Kebidanan Antenatal. EGC. J
akarta
11. Sudarti, Rodiyah. Judha Mohamad. dan Yongky. 2012. Asuhan Pertumbuhan Ke
hamilan, Persalinan, Neonatus, Bayi Dan Balita. Nuha Medika. Yogyakarta
12. Sulistyawati, Ari. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Salemba Medi
ka. Jakarta

14