Anda di halaman 1dari 19

RESPON FISIOLOGIS KEDELAI, JAGUNG, DAN PADI

PADA TANAH NON-MARGINAL

Oleh:
Saifur Rokhman
A2A016006

TUTER EKOFISIOLOGI TANAMAN

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO

I.

2017
PENDAHULUAN

Aspek ketahanan pangan apabila ditinjau dari bahan pangan berbasis


karbohidrat maka ketiga komoditas padi, jagung, dan ubi kayu berada pada urutan
utama. Ditinjau dari bahan pangan fungsional khususnya pada kebutuhan protein
nabati, maka kedelai menjadi tanaman yang memiliki nilai ekonomis penting. Saat
ini kemampuan produksi kedelai di dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar
40% kebutuhan, sisanya 60% dipenuhi melalui impor. Selama satu dekade
terakhir kebutuhan impor kedelai mengalami kenaikan sekitar 6.70%/tahun.
Mengingat begitu besarnya nilai impor maka Indonesia perlu berusaha
semaksimal mungkin mencukupi kebutuhan panganya secara mandiri (Saraswati,
Sutrisno, & Adisarwanto, 2011).
Secara nasional perkembangan areal tanamn, produksi dan produktifitas
tanaman pangan khususnya tanaman padi relatif stabil, untuk komoditas jagung
berfluktuasi dan kedelai konsisten menurun walaupun pada tahun 2008 terjadi
kenaikan produksi cukup tinggi. Indikasi ini menunjukan bahwa dalam
pemanfaatan lahan telah terjadi persaingan antar komoditas pangan yang satu
dengan pangan yang lain maupun tanaman pangan dengan komoditas non pangan.
Petani

dalam

menentukan

jenis

komoditi

yang

ditanam

tentu

telah

mempertimbangkan beberapa faktor teknis maupun sosial ekonomi, apabila yang


ditanam kedelai maka aspek kompetitif antara kedelai dengan tanaman pangan
lain menjadi pertimbangan juga (Saraswati, Sutrisno, & Adisarwanto, 2011).
Terdapat lima fokus perhatian dunia yaitu food, fuel, fibre, financial, and
environment. FAO memprediksi harga pangan global akan meningkat seiring
dengan kenaikan harga minyak dunia. Pangan penduduk sebagian besar
diproduksi di lahan sawah dan lahan kering. Produksi pangan di lahan sawah
terkendala oleh semakin derasnya alih fungsi lahan, sementara pada lahan kering
produktivitasnya semakin menurun karena terbatasnya waktu tanam (Abidin,
2015). Menurut Haryono (2012) Produktivitas tanaman pangan mulai mencapai
levelling off. Oleh karena itu perlu upaya untuk memperluas area tanam pada

lahan suboptimal. Padi jagung dan kedelai merupakan tanaman pangan utama
yang swasembadanya terus diupayakan.
Tanaman dalam pertumbuhanya memerlukan unsur hara, air dan udara
yang merupakan sumber energi untuk pertumbuhan tanaman. Air merupakan
komponen utama tubuh tanaman, bahkan hampir 90% sel-sel tanaman terdiri dari
air. Air dalam tanah berfungsi sebagai pelarut dan pembawa ion-ion hara dari
rhizosfer ke dalam akar dan kemudian ke daun. Tanah merupakan tempat tanaman
berjangkar dan tempat tanaman mengambil air, untuk mendukung kebutuhan
hidup tanaman maka air sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Jumlah air
yang tersedia yang digunakan oleh tanaman, dipengaruhi oleh tekstur, struktur,
kandungan bahan organik tanah, dan kedalaman tanah (Sinaga, 2007).
Tanaman kedelai termasuk yang tidak tahan terhadap kekeringan. Air yang
memadai sangat diperlukan tanaman mulai fase awal pertumbuhan sampai periode
fase produksi. Bila tanah dalam kondisi jenuh air maka akibatnya benih yang
ditanamn akan membusuk dan pertumbuhan tanaman muda akan terhambat,
sedangkan apabila pada kondisi stress air akan mengakibatkan pertumbuhan
vegetatif terhambat dan mengakibatkan pertumbuhan tanaman kerdil (Rukmana &
Yuniarsih, 1996).

II.

PEMBAHASAN

Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh kadar air, semakin sedikit kadar


air maka pertumbuhan tanaman akan semakin menurun yang mengakibatkan
tanaman layu, bahkan lama kelamaan akan mati akibat kekurangan air. Tanaman
yang mengalami stress air akan merusak perkembangan sel-sel tanaman yang
mengakibatkan
(terhambatnya

pertumbuhan
fotosintesis)

tanaman

terhambat,

terhambatnya

stomata

pertumbuhan

mengkerut

mesofil

yang

mengakibatkan kehilangan ruang interseluler dan metabolisme terganggu,


perkembangan sel terhambat yang mengakibatkan proses fotosintesis dan respirasi
terhambat (Levitt, 1980). Jagung merupakan salah satu komoditas pangan yang
penting dalam perdagangan produk pertanian nasional maupun internasional.
Tanaman jagung di Indonesia sudah lama dibudidayakan dan merupakan pangan
terpenting setelah tanaman padi. Jagung termasuk golongan tanaman C4, tanaman
ini memiliki kemampuan tumbuh di daerah panas.
Tanaman ini memiliki kebiasaan saat siang hari tidak membuka
stomatanya

secara

penuh

untuk

mengurangi

kehilangan

air

melalui

evaporasi/transpirasi. Tumbuhan C4 dinamakan demikian karena hasil dari siklus


Calvin adalah asam berkarbon 4, pada tumbuhan C4 CO 2 diikat oleh PEP
karboksilase (enzim pengikat CO2 pada tumbuhan C4). PEP karboksilase tidak
dapat mengikat O2 sehingga tidak terjadi kompetisi antara CO2 dan O2. Lokasi
terjadinya pengikatan CO2 adalah pada sel mesofil. CO 2 yang sudah terikat oleh
PEP karboksilase kemudian dibentuk menjadi OAA dan diubah menjadi asam
malat. Asam malat ditransfer dari mesofil ke sel seludang berkas pengangkut (selsel di luar xylem dan phloem yang banyak mengandung kloroplas). Asam malat
didekarboksilasi menjadi CO2 dan asam piruvat, CO2 diikat oleh RuBP. Karena
tingginya konsentrasi CO2 dan letak sel seludang berkas pengangkut berada di
bagian dalam, maka O2 tidak mendapat kesempatan untuk berikatan dengan RuBP,
sehingga fotorespirasi sangat kecil (Dwiati, 2016).

PEP mempunyai daya ikat yang tinggi terhadap CO 2, dengan CO2 di


bawah 100 m mol laju fotosintesis sangat tinggi. Laju fotosintesis pada tumbuhan
C4 hanya bertambah sedikit dengan meningkatnya CO2 di lingkungan, dengan
meningkatnya CO2 di atmosfir, tumbuhan C3 akan lebih beruntung dari tumbuhan
C4 dalam hal pemanfaatan CO2 yang berlebihan. PEP karboksilase memiliki daya
ikat yang lebih tinggi terhadap CO2 dari pada RuBP karboksilase. Oleh karena itu,
pada tumbuhan C4 dengan kandungan CO2 sangat rendah, bahkan lebih rendah
dari pada konsentrasi udara normal, ternyata CO2 masih dapat terfiksasi ke PEP
karboksilase (Dwiati, 2016).
Sedangkan kedelai dan padi merupakan tanaman C3. Pada tanamn C3
enzim yang mengikat CO2 adalah RuBP karboksilase, pada saat yang sama RuBP
juga dapat mengikat O2 yang sering dikenal dengan proses fotorespirasi. Jika
konsentrasi CO2 di atmosfir ditingkatkan, kompetisi antara CO 2 dan O2 akan
melemah, sehingga fotorespirasi terhambat dan hasil fotosintat lebih banyak.
Proses pembentukan heksosa dilakukan melalui siklus Calvin. Dengan hasil
berupa Asam Fosfo Gliserat (PGA), yang mempunyai karbon 3. Peningkatan CO 2
di udara secara global akan menguntungkan tumbuhan C3, karena CO2 dapat
meningkatkan laju fotosintesis. Apabila CO 2 di udara meningkat, maka akan
terjadi peningkatan konsentrasi CO2 di dalam ruang antar sel dan sisi aktif dari
RuBP akan mengikat CO2. Hal ini akan berakibat pada menurunya laju
fotorespirasi, singga laju fotosintesis netto meningkat (Dwiati, 2016).
CO2 berdifusi dari luar daun melalui stomata ke dalam ruang antar sel.
Selanjutnya CO2 berdifusi sebagai CO2 atau ion bikarbonat HCO3- ke dalam selsel mesofil hingga mencapai kloroplas. Di tempat ini, karena substrat RuBP
karboksilase adalah CO2, maka bikarbonat harus diubah kembali menjadi CO2.
Ketersediaan RuBP dan CO2 dalam kloroplas sel mesofil merupakan faktor
penentu dalam meningkatkan produksi heksosa melalui siklus Calvin. Sementara
itu, ATP dan NADPH hasil dari reaksi terang diharapkan tersedia dengan baik.
Selama faktor internal tidak menjadi pembatas, dan karena dalam keadaan normal
sinar matahari tersedia melimpah. Maka produksi heksosa akan melimpah
(Dwiati, 2016).

Respirasi dalam biologi adalah proses mobilisasi energi yang dilakukan


mahluk hidup melalui pemecahan senyawa energi tinggi untuk digunakan dalam
menjalankan fungsi hidup. Respirasi banyak memberikan manfaat bagi tumbuhan.
Manfaat tersebut terlihat dalam proses respirasi, dimana terjadi proses pemecahan
senyawa organik, dari proses pemecahan tersebut maka dihasilkan senyawasenyawa antara yang penting sebagai Building block (pembentuk tubuh), senyawa
tersebut meliputi asam amino untuk protein, nukleotida untuk asam nukleat,
prazat karbon untuk pigmen profirin, lemak, sterol, karotenoid, pigmen flavonoid
seperti antosianin, dan senyawa aromatik tertentu lainya, seperti lignin.
Fotorespirasi ialah sejenis respirasi pada tumbuhan yang dibangkitkan oleh
penerima cahaya yang diterima oleh daun. Diketahui pula bahwa kebutuhan
energi dan ketersediaan oksigen dalam sel juga mempengaruhi fotorespirasi.
Peran fotorespirasi diperdebatkan namun semua kalangan sepakat bahwa
fotorespirasi merupakan penyia-nyiaan energi. Fotorespirasi dianggap bermanfaat
karena menyediakan CO2 dan NH3 bebas untuk diasimilasi ulang, shingga
dianggap sebagai mekanisme daur ulang. Karena tidak efisien, sejumlah
tumbuhan mengembangkan mekanisme untuk mencegah fotorespirasi. Untuk
menekan fotorespirasi, tumbuhan C4 mengembangkan strategi ruang dengan
memisahkan jaringan yang melakukan reaksi terang (sel mesofil) dan reaksi
karbon (sel seludang atau bundle sheath).
Proses fotorespirasi disebut juga asimilasi cahaya oksidatif ini terjadi pada
sel-sel mesofil daun dan diketahui merupakan gejala umum pada tumbuhan C3,
seperti kedelai dan padi. Proses ini hanya terjadi pada stroma, dan didukung oleh
peroksisom dan mitokondria. Secara biokimia proses fotorespirasi merupakan
cabang dari jalur glikolat. Enzim utama yang terlibat adalah enzim Rubisco.
Rubisco memiliki dua sisi aktif, sisi karboksilase yang aktif pada fotosintesis dan
sisi oksigenase yang aktif pada fotorespirasi. Kedua proses yang terjadi pada
stroma ini juga memerlukan substrat yang sama, Ribulosa Bifospat (RuBP), dan
juga dipengaruhi secara positif oleh konsentrasi ion magnesium dan derajat
keasaman sel. Dengan demikian fotorespirasi menjadi pesaing bagi fotosintesis,

suatu kondisi yang tidak disukai kalangn pertanian, karena mengurangi akumulasi
energi.
Jika kadar CO2 dalam sel rendah (misalnya karena meningkatnya
penyinaran dan suhu sehingga laju produksi oksigen sangat tinggi dan stomata
menutup), RuBP akan dipecah oleh Rubisco menjadi P-glikolat dan P-gliserat
(dengan melibatkan satu molekul air menjadi glikolat dan P-OH). P-gliserat (P
dibaca "fosfo") akan didefosforilasi oleh ADP sehingga membentuk ATP. Pglikolat memasuki proses agak rumit menuju peroksisoma, lalu mitokondria, lalu
kembali ke peroksisoma untuk diubah menjadi serin, lalu gliserat. Gliserat masuk
kembali ke kloroplas untuk diproses secara normal oleh siklus Calvin menjadi
gliseraldehid-3-fosfat (G3P).
Respirasi pada tumbuhan pada dasarnya sama dengan hewan, namun juga
ada kekhasannya. Proses respirasi pada dasarnya adalah proses pembongkaran zat
makanan sumber energi (umumnya glukosa) untuk memperoleh energi kimia
berupa ATP. Namun demikian, zat sumber energi tidak selalu siap dalam bentuk
glukosa, melainkan masih dalam bentuk cadangan makanan, yaitu berupa sukrosa
atau amilum. Karena itu zat tersebut harus terlebih dahulu di bongkar secara
hidrolitik. Demikian pula bila zat cangan makanan yang hendak dibongkar adalah
lipida (lemak) atau protein.

Pada glikolisis terjadi 1 tahapan oksidasi substrat, yakni fosfogliseraldehida (PGAL) oleh enzim dehidrogenase dan dengan bantuan ko-enzim
NAD+ menjadi asam di-fosfo-gliserat (dPGA) dan dihasilkan NADH2. Selain itu

juga terjadi 2 kali pembentukan ATP tingkat substrat, yaitu oleh kerja enzim
kinase pada saat :
1) pengubahan dPGA ----------------- asam fosfo-gliserat (PGA)
2) pengubahan enol-piruvat ----------------- asam piruvat
Pada kondisi cukup O2, maka asam piruvat akan dibongkar atau dioksidasi
lebih lanjut. Dengan enzim NAD+ - dehidrogenase kompleks, asam piruvat akan
dioksidasi dan dipecah (dekarboksilasi) menjadi Asam Acetil - CoA (senyawa 2C) dan dilepaskan CO2. Bila kondisi O2 cukup (aerobik), asam Acetil-CoA akan
dibakar lebih lanjut dalam daur Krebs atau daur Asam Tri Karboksilat (TCA
cycle). Pada daur ini akan terjadi serangkaian konversi zat antara daur Krebs.
Pada beberapa tahapan konversi zat-zat antara, akan terjadi proses oksidasi yang
dikatalisis oleh enzim dehidrogenase dengan ko-enzim dalam bentuk teroksidasi,
yaitu NAD+ atau FAD+, Pada tiap oksidasi substrat dihasilkan NADH2, kecuali
oksidasi suksinat yang menghasilkan FADH2. Selain itu, NADH2 yang terbentuk
pada saat oksidasi PGAL menjadi dPGA akan ditranspor ke Mitokondria, untuk
selanjutnya masuk pada rantai transfer elektron pada membran mitokondria.
Pada dasarnya peristiwa yang terjadi pada rantai transfer elektron adalah
peristiwa oksidasi reduksi (Redoks). Dalam proses ini terjadi transfer elektron
(e) dan proton (H+). Pada bagian akhir rantai transfer elektron, elektron dan
proton tersebut akan diterima oleh O2 sebagai aceptor elektron dan proton, dan
terbentuklah H2O. Adanya gradien proton antara ruang antar membran dengan
membran yang menghadap matriks mitokondria, akan menghasilkan energi untuk
menggabungkan ADP + Pi menjadi ATP, dengan bantuan ATP-Ase. Peristiwa
pembentukan ATP dengan energi hasil oksidasi pada rantai transpor elektron
disebut Fosforilasi Oksidasi.
Setiap NADH2 yang masuk pada rantai transpor elektron maka akan
dihasilkan 3 ATP. Sedangkan bila FADH2 yang masuk, maka hanya akan
dihasilkan 2 ATP. Berdasarkan cara poenghitungan klasik ini, maka dari
pembkaran sempurna 1 mol glukosa ( 180 gram) akan dihasilkan ATP sbb :

1. Tahap glikolisis (di sitosol / plastida) dihasilkan 8 ATP (2 ATP dari fosforilasi
tingkat substrat + 6 ATP dari 2 NADH2 yang masuk rantai transpor elektron di
mitokondria. Namun pada tahap awal glikolisis butuh 2 ATP.
2. Tahap oksidasi 2 mol Piruvat menjadi Acetil-CoA (dekarboksilasi oksidasi)
dihasilkan 6 ATP, yaitu dari 2 NADH2 yang terbentuk
3. Tahap Krebs, pembakaran 2 mol Acetil-CoA
Menurut Handayani (2013) sistem pengangkutan pada tumbuhan terdiri
dari dua macam pengangkutan, yaitu pengangkutan ekstravasikuler dan
intravasikuler.
1. Pengangkutan Ekstravaskuler
Pengangkutan ekstravaskuler adalah pengangkutan yang berlangsung di luar
berkas pembuluh pengangkutan. Pengangkutan dengan sistem ini dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu apoplas dan simplas.
a. Transportasi apoplas adalah menyusupnya air tanah secara difusi bebas atau
transpor pasif melalui semua bagian tidak hidup dari tumbuhan, misalnya dinding
sel dan ruang-ruang antarsel. Transportasi apoplas tidak dapat terjadi saat
melewati endodermis sebab dalam sel-sel endodermis terdapat pita kaspari yang
menghalangi air masuk ke dalam xilem. Pita kaspari ini terbentuk dari zat suberin
(gabus) dan lignin. Oleh karena itu,apoplas dapat terjadi di semua bagian kecuali
endodermis. Air yang menuju endodermis ditranspor secara simplas melalui sel
peresap.
b. Transportasi simplas yaitu bergeraknya air tanah dan zat terlarut melalui
bagian hidup dari sel tumbuhan. Pada sistem simplas ini perpindahan terjadi
secara osmosis dan transpor aktif melalui plasmodesmata. Transportasi simplas
dimulai dari sel-sel rambut akar ke sel-sel parenkim korteks yang berlapis-lapis,
sel-sel endodermis, sel-sel perisikel, dan akhirnya ke berkas pembuluh kayu atau
xilem.
2. Pengangkutan Intravaskuler
Pengangkutan intravaskuler adalah pengangkutan yang berlangsung di
dalam pembuluh kayu (xilem) dan pembuluh kulit (floem).

a.

Xilem tersusun atas sel-sel yang sudah mati karena tidak memiliki sitoplasma dan
tersusun dalam struktur pembuluh yang disebut trakea. Pada xilem air dapat
bergerak di sepanjang pembuluh maupun dari satu pembuluh ke pembuluh

b.

lain.
Floem tersusun oleh kelompok sel yang memiliki bentuk, seperti piramid. Floem
tersusun atas parenkim floem, serabut floem, buluh floem (buluh tapis), dan
sel pengiring. Parenkim floem berfungsi sebagai tempat menyimpan
cadangan makanan dan untuk memisahkan antara floem yang satu dengan
floem yang lain. Serabut floem merupakan jaringan sklerenkim yang
berfungsi memperkuat pembuluh floem. Buluh floem (buluh tapis), yaitu
suatu saluran atau pembuluh yang berperan mengangkut hasil fotosintetis dari
daun ke seluruh tubuh tanaman. Sel pengiring (companion cell) adalah sel
yang terletak sepanjang tubuh floem. Sel ini berfungsi menyuplai makanan ke
sel-sel lain yang masih hidup.
Pengangkutan air dari akar ke batang terjadi melalui pembuluh kayu,
membentuk aliran air (benang air). Pengangkutan air dan mineral dimulai dari
xilem akar ke xilem batang menuju xilem tangkai daun dan ke xilem tulang daun.
Pada tulang daun terdapat ikatan pembuluh. Air dari xilem tulang daun ini masuk
ke sel-sel bunga karang pada mesofil. Setelah mencapai sel-sel bunga karang, air
dan garam-garam mineral disimpan untuk digunakan dalam proses fotosintesis
dan transportasi. Setelah mencapai daun, sebagian dimanfaatkan oleh sel-sel daun
untuk berfotosintesis. Sebagian air dan garam mineral yang lain dipindah ke
floem, menyatu dengan aliran sukrosa (asimilat) yaitu zat makanan hasil
fotosintesis, untuk disebarkan ke seluruh bagian tumbuhan (Handayani, 2013).
Pada tumbuhan dikotil, bagian xilem berada di bagian kayu, sedangkan
floemnya berada di bagian kulit dekat kambium. Pada monokotil seperti jagung
dan tebu, xilem dan floem bersatu membentuk satu berkas angkutan dan letaknya
tersebar. Sehingga, pengangkutan hasil fotosintesis dari daun ke bagian tubuh
yang lain dilakukan melalui pembuluh kulit (pembuluh tapis) dan membentuk
aliran asimilat. Selain asimilat, melalui floem juga diangkut bermacam-macam zat

organik lain, hormon dan juga ion-ion atau garam mineral yang berasal dari xilem
(Handayani, 2013).
Menurut Muyassir (2012), jarak tanam yang rapat cenderung menekan
produksi padi sawah dan jarak tanam padi sampai 30x30cm dapat menghasilkan
gabah tertinggi dibandingkan dengan jarak tanam lainya. Peningkatan kerapatan
tanaman persatuan luas, dari satu sisi dapat meningkatkan jumlah populasi
tanaman per satuan luas sehingga pada akhirnya akan dapat meningkatkan
produksi tanaman tersebut. Walaupun demikian, sampai pada batas tertentu
peningkatan kerapatan tanam mengakibatkan terjadinya persaingan terhadap
ruang, sinar matahari bahkan juga berakibat kepada persaingan unsur hara. Hal ini
dapat berakibat pada penurunan produksi. Jarak tanam yang sesuai pada tanaman
padi dapat menghemat penggunaan bibit dan mempermudah pemeliharaan.
Menurut Tesar (1984) bahwa tingkat laju asimilasi bersih sangat
dipengaruhi oleh penyebaran sinar matahari pada tajuk tanaman, adanya daun
yang saling menaungi akan dapat mengurangi laju asimilasi bersih. Salah satu
cara untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik adalah dengan mengatur jarak
tanam yang lebih lebar, karena persaingan dalam memperoleh unsur hara, air dan
sinar matahari diantara tanaman menjadi lebih rendah. Cahaya matahari
merupakan faktor penting dalam proses asimilasi dan juga merupakan sebagai
penentu laju pertumbuhan tanaman. Intensitas, lamanya penyinaran dan kualitas
sinar matahari akan mempengaruhi proses fotosintesis. Apabila daun saling
menutupi maka sinar matahari tidak bisa diteruskan kebagian di bawahnya makan
akan mengganggu proses fotosintesis.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan klorofil pada daun
adalah adanya cahaya, air dan unsur hara seperti N, Mg, Mn, Cu dan Zn. Apabila
tanaman ditanam rapat persaingan akan faktor diatas tidak dapat dihindari
sehingga pembentukan klorofil pada daun akan terhambat. Hal ini akan
mempengaruhi hasil fotosintesis seperti terlihat pada jarak tanam yang lebih
jarang (30x30cm) perkembangan jumlah anakan dan anakan produktif menjadi
lebih banyak serta produksi padi yang dihasilkan juga lebih tinggi (Dwijoseputro,
1980). Padi sawah menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-

22cm. Keasaman tanah antara pH 4.0-7.0. Padi sawah, penggenangan akan


mengubah pH tanam menjadi netral (7.0). pada prinsipnya tanah berkapur dengan
pH 8.1-8.2 tidak merusak tanaman padi. Karena mengalami penggenangan, tanah
sawah memililki lapisan reduksi yang tidak mengandung oksigen dan pH tanah
sawah biasanya mendekati netral. Untuk mendapatkan tanah sawah yang
memenuhi syarat diperlukan pengolahan tanah seperti pembajakan tanah sampai
halus dan meratakan hingga tanah rata.
Tabel 1. Kriteria kesesuaian lahan untuk tanaman padi sawah
Karakteristik
lahan
Temperatur (tC)
Temperatur rata-rata
(0C)
Ketersediaan air (Wa)
Kelembaban (%)
Media perakaran (rc)
1. Drainase
2. Tekstur
3. Bahan dasar
4. Kedalaman tanah
(cm)
Retensi hara (nr)
1. KTK
list
(Cmol)
2. Kejenuhan
basa
3. pH
4. C-organik
Toksisitas (xn)
Salinitas (ds/rn)
Sodisitas (xn)
Alkalinitas /ESP
Bahaya sulfidik (xs)
Kedalaman
sulfidik
(cm)
Bahaya erosi (eh)
1.lereng (%)

S1
24-29

Kelas kesesuain lahan


S2
S3
22-24
18-22
29-32
32-35

<18
>35

33-90
Agak,terhambat,
agak baik
H, ah
<3
>50

30-33
Terhambat,
baik

>16

=16

>50

34-50

<35

5,5-8,2
>1,5

5, 0-5,5
8,2-8,5
0,8-1,5

<4,5
>8,5
<0,8

<2

2-4

4-6

>6

<20

20-30

30-40

>40

>100

75-100

40-75

<40

<3

S
3-15
40-50

<30; >90
Sangat
terhambat,
agak cepat
Ak
15-35
25-40

Cepat

K
>35
<25

>8

2.bahaya erosi

Sr

>sd

Bahaya banjir (fh)


genangan

F0
F11,F12,F21,F23

F13,F23
F33,F41
F42,F43

F14,F24
F34,F44

F15,F25
F35,F45

Penyiapan lahan (1p)


1.batuan di permukaan <5
5-15
15-40
>40
(%)
2.singkapan
batuan <5
5-15
15-25
>25
(%)
Ket : Tekstur h= halus; ah= agak halus; s= sedang; ak= agak kasar; k= kasar; S1= sangat
sesuai; S2= cukup sesuai; S3= sesuai marginal; N= tidak sesuai
Sumber: Badan ketahanan pangan dan penyuluh pertanian Aceh dan Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian NAD

Ekowati & Nasir (2011), melaporkan bahwa hasil rerata tinggi, jumlah
daun, berat kering tajuk, jumlah tongkol, berat tongkol, panjang tongkol dan
diameter tongkol tanaman jagung pada pasir reject ( pasir yang sudah ditambang
unsur besinya) lebih tinggi daripada pasir asli sedangkan rerata waktu berbungan
tanaman jagung pada pasir reject lebih lama daripada pasir asli. Selain itu, hasil
penelitian menunjukan bahwa pertumbuhan vegetatif tanaman jagung paling
optimal diperoleh pada dosis 1,25 Kg pupuk kandang dan 112,5 g pupuk NPK
sedangkan pertumbuhan generatif tanaman jagung paling optimal diperoleh pada
dosis 3,75 Kg pupuk kandang dan 37,5 Kg pupuk NPK.
Tanaman jagung menginginkan curah hujan tinggi berkisar antara 500 - 700
mm per tahun. Cekaman akar paling kritis terjadi selama pembentukan rambut
dan pengisian biji. Kekeringan air dalam waktu singkat biasanya dapat ditoleransi,
dan hanya berpengaruh kecil terhadap perkembangan biji. Kekeringan air yang
berkepanjangan setelah penyerbukan secara nyata menurunkan bobot kering biji.
Pertumbuhan biji sebagian mobilisasi asimilat yang tersimpan di batang
keseluruhan, tanaman agak tahan terhadap kekeringan, tetapi peka terhadap
draenase tanah yang jelek dan tidak tahan genangan. Tanaman jagung berasal dari
daerah tropis, tanaman jagung mampu beradaptasi terhadap sebaran iklim yang
bervariasi, suhu optimum yang diperlukan tanaman jagung untuk dapat tumbuh
dengan baik berkisar antara 2430 oC. Jagung merupakan tanaman C4 yang sangat

memerlukan sinar matahari penuh untuk dapat berfotosintesis secara sempurna.


Jagung menghendaki keadaan cuaca yang cukup panas bagi pertumbuhannya,
dimana tanaman jagung memerlukan panas dan lembab dari waktu tanam sampai
periode mengakhiri pembuhannya. Pembungaan dipengaruhi oleh panjang hari
dan suhu, pada hari pendek tanaman lebih cepat berbunga. Banyak kultivar
tropika tidak akan berbunga diwilayah iklim sedang sampai panjang hari
berkurang hingga kurang dari 13 atau 12 jam. Pada hari panjang, tipe tropika ini
tetap vegetatif dan kadang-kadang dapat mencapai tinggi 5 - 6 m sebelum tumbuh
bunga jantan. Namun, pada hari yang sangat pendek (8 jam) dan suhu kurang dari
20 0C juga menunda pembungaan. Ketika ditanam pada kondisi hari pendek pada
daerah iklim sedang kultivar tropika cenderung berbunga lebih awal (Purwono &
Purnawati, 2007).
Unsur hara mikro juga menentukan hasil panen dan kualitas dari tanaman
seralia, jagung, kacang-kacangan, rumput pakan ternak. Kekurangan nutrisi mikro
dapat menurunkan kemampuan dan profitabilitas tumbuhan. Kekurangan unsur
Mn pada jagung dapat menurunkan hasil panen tetapi dapat meningkatkan daya
tahan terhadap cekaman kekeringan dan panas, itu akan menghasilkan pale green
atau yellow patches pada daun yang lebih muda. Mn berfungsi di tanaman pada
proses metabolisme seperti respirasi, fotosintesis, sintesis asam amino, dan
aktifasi hormon. Mn merupakan kunci utama fotosintesis dan fotolisis molekul air
dan menyediakan energi untuk fotosintesis, namun kekurangan Mn dapat merusak
fotosintesis dan biosintesis lignin pada akar (M, M, M, & MD, 2016).
Adaptasi tanaman terhadap intensitas cahaya rendah melalui dua cara,
yaitu peningkatan luas daun untuk mengurangi penggunaan metabolit dan
mengurangi jumlah cahaya yang ditransmisikan dan yang direfleksikan. Adaptasi
tanaman

terhadap

naungan

melalui

dua

mekanisme

yaitu

mekanisme

penghindaran (avoidance) dan mekanisme toleransi (tolerance). Mekanisme


penghindaran berkaitan dengan perubahan anatomi dan morfologi daun untuk
memaksimalkan penangkapan cahaya dan fotosintesis yang efisien, seperti
peningkatan luas daun dan kandungan klorofil b, serta penurunan tebal daun, rasio
klorofil a/b, jumlah kutikula, lilin, bulu daun, pigmen antosianin. Mekanisme

toleransi berkaitan dengan penurunan titik kompensasi cahaya serta respirasi yang
efisien (Levitt, 1980). Cruz (1997) menyatakan naungan dapat mengurangi enzim
fotosintetik yang berfungsi sebagai katalisator dalam fiksasi Co 2 dan menurunkan
titik kompensasi cahaya.
Pantilu et al., (2012) melaporkan bahwa tanaman kedelai yang tumbuh
dibawah naungan lebih tinggi dari pada yang tak ternaungi. Perbedaan tinggi
tanaman disebabkan oleh besarnya intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman
dan berkaitan dengan hormon tanaman yaitu auksin. Tanaman yang tumbuh di
bawah naungan memperoleh intensitas cahaya yang rendah sehingga tidak
mengalami kerusakan auksin. Selain itu, pertumbuhan tinggi tanaman yang besar
merupakan gejala etiolasi yaitu batang kecambah akan tumbuh lebih cepat tetapi
lemah dan berwarna kuning akibat kekurangan cahaya.
Kedelai adalah tanaman Legum yang membentuk bintil akar. Bintil akar
terbentuk akibat adanya asosiasi antara akar tanaman dengan mikroba penambat N
dari jenis Rhizobium. Bintil akar sesunggunya berasal dari rambut akar tanaman
yang terinfeksi oleh bakteri Rhizobium dan kemudian mengalami perubahan
bentuk. Bakteri ini dapat hidup pada lingkungan anaerobik maupun aerobik,
namun lebih menyukai kondisi yang aerobik. Waktu yang dibutuhkan dari
terjadinya infeksi hingga terbentuknya bintil akar kecil sekitar 7 hari. Fiksasi N
dimulai pada saat tanaman umur sekitar 25-30 hari. Rhizobium dalam bintil akar
dapat mengikat nitrogen (N2) dari udara dan kemudian mengubahnya kedalam
bentuk amonium (NH+4) dengan bantuan enzim nitrogenase. Amonium yang
dihasilkan oleh rhizobium tersebut dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Sebaliknya
bakteri rhizobium mengambil karbohidrat, protein, dan oksigen yang dihasilkan
tanaman untuk hidup dan berkembang biak. Kebutuhan rhizobium akan oksigen
dikontrol oleh protein yang mengandung unsur besi yang disebut dengan
leghaemoglobin. (Taufiq & Sundari, 2012)
Jumlah N yang difiksasi kedelai yang tumbuh normal dapat mencapai ratarata 219 Kg N/ha, dan jumlah tersebut dapat memenuhi sekitar 50% dari
kebutuhan tanaman kedelai. Lama penyinaran optimal kedelai adalah 10-12 jam.
Berkurangnya intensitas cahaya matahari menyebabkan tanaman tumbuh lebih

tinggi, ruas antar buku lebih panjang, jumlah daun dan jumlah polong lebih
sedikit, dan ukuran biji semakin kecil. Respon kedelai terhadap perubahan suhu
tergantung pada fase pertumbuhan. Suhu yang sesuai pada fase perkecambahan
adalah 15-22 0C, fase pembungaan 20-250C, dan fase pemasakan 15-220C.
Peningkatan CO2 atmosfir dari 349 L menjadi 700 L meningkatkan laju
transpirasi, dan meningkatkan efisiensi penggunaan air. Kedelai tumbuh baik pada
tanah bertesktur ringan hingga berat, naum tanah pada (BI >1,38 Kg/m 3) tidak
sesuai untuk kedelai. Kebutuhan air tanaman kedelai pada fase generatif lebih
tinggi dibandingkan pada fase vegetatif, sehingga fase generatif lebih peka
terhadap kekeringan terutama pada fase pembungaan hingga pengisian polong.
Kandungan air optimal adalah 70-85% dari kapasitas lapang (Taufiq & Sundari,
2012).

III.

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan bahwa:


1. Suhu optimal untuk padi berkisar 24-290C, pH 5,5-8,2 dengan tekstur tanah
berlumpur.
2. Suhu optimal untuk jagung berkisar 24-300C, untuk hasil fotosintesis yang
optimal jagung memerlukan sinar matahari yang penuh.
3. Jumlah N yang difiksasi kedelai yang tumbuh normal dapat mencapai rata
rata 219 Kg N/ha. Lama penyinaran kedelai optimal yaitu 10-12 jam, Suhu
yang sesuai pada fase perkecambahan adalah 15-22 0C, fase pembungaan 20250C, dan fase pemasakan 15-220C. Peningkatan CO2 atmosfir dari 349 L
menjadi 700 L meningkatkan laju transpirasi, dan meningkatkan efisiensi
penggunaan air. Kedelai tumbuh baik pada tanah bertesktur ringan hingga
berat, naum tanah pada (BI >1,38 Kg/m3) tidak sesuai untuk kedelai.

DAFTAR REFERENSI
Abidin, Z. (2015). Potensi pengembangan tanaman pangan pada kawasan hutan
tanaman rakyat. Kendari: Balai pengkajian teknologi pertanian Sulawesi
Tenggara.
Cruz, P. (1997). Effect of shade on the growth and mineral nutrition of C4
perennial grass under field conditions. plant and soil journal, 227-237.
Dwiati, M. (2016). Tumbuhan C3, C4, dan CAM. SDIT alam harapan Visites (hal.
1-6). Purbalingga: Fakultas Biologi Unsoed.
Dwijoseputro, D. (1980). Pengantar fisilogi tumbuhan. Jakarta: Gramedia.
Ekowati, D., & Nasir, M. (2011). Pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays)
Varietas Bisi-2 pada pasir reject dan pasir asli di Pantai Trisik Kulonprogo.
Jurnal Manusia dan lingkungan, 220-231.
Handayani, S. (2013). Mekanisme masuknya air ke dalam tumbuhan. Jakarta:
Fabio Universitas Nasional.
Haryono. (2012). Maize for food, feed and fuel in Indonesia; Challenges and
oportunity. Paper presented in International Maize conference in
Gorontalo. Jakarta: Indonesia Agency for agricultural research and
development.
Levitt, J. (1980). Response of plants to environmental stresses. California:
Departement of plant biology Carnegie Institution of Washington Stanford.
Levitt, J. (1980). Responses of plants to environmental stresses, water, radiation,
salt, and others stresses. London: Academic press.

M, N., M, N., M, K., & MD, J. S. (2016). Production of corn; effect of manganese
application on plant parameters. Journal of Agricultural research, 1-7.
Muyassir. (2012). Efek jarak tanam, umur dan jumlah bibit terhadap hasil padi
sawah (Oryza sativa). Jurnal manajemen sumberdaya lahan, 207-212.
Pantilu, L. I., Mantin, F. R., Ai, N. S., & Pandiangan, D. (2012). Response
morfologi dan anatomi kecambah kacang kedelai (Glycine max (L.)
Merill) terhadap intensitas cahay yang berbeda. Journal Bioslogos, 79-87.
Purwono, M. S., & Purnawati, H. (2007). Budidaya 8 jenis tanaman pangan
unggul. Jakarta: Penebar Swadaya.
Rukmana, R., & Yuniarsih, Y. (1996). kedelai budidaya dan pasca panen.
Konisius. Yogyakarta.
Saraswati, R., Sutrisno, S., & Adisarwanto, T. (2011). Analisis daya saing kedelai
terhadap tanaman padi dan jagung. Buana Sains, 97-102.
Sinaga, B. M. (2007). Kepekaan tanaman kedelai (Glycine max, L.Merrill)
terhadap kadar air pada beberapa jenis tanah:Skripsi. Medan: USU.
Taufiq, A., & Sundari, T. (2012). Respons tanaman kedelai terhadap lingkungan
tumbuh. Buletin palawija, 13-26.
Tesar, M.B. 1984. Physiologi Basic of Crop Growth and Development. AM.
Sul.of Agro. Crop Sci Sne of AM., Mead Son Wisconsin, USA.