Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah


Sebagai sumber ajaran Islam yang kedua setelah Al-Quran,
keberadaan hadis, di samping telah mewarnai masyarakat dalam berbagai
bidang kehidupan, juga telah menjadi pembahasan kajian yang penting,
menarik dan tiada henti-hentinya. Penelitian tentang hadis khususnya tentang
sejarah perkembangan hadis agaknya telah banyak dilakukan oleh para ahli.
Seperti telah diketahui bahwa sejarah perkembangan hadis merupakan
masa atau periode yang telah dilalui oleh hadis dari masa lahirnya dan tumbuh
dalam pengenalan, penghayatan, dan pengamalan umat dari generasi ke
generasi. Dengan memperhatikan masa yang telah dilalui hadis sejak masa
timbulnya/lahinya di zaman Nabi SAW, meneliti dan membina hadis serta
segala hal yang mempengaruhi hadis tersebut. Para ulama Muhaditsin
membagi sejarah dalam beberapa periode. Adapun para ulama penulis sejarah
hadis berbeda-beda dalam membagi sejarah hadis, ada yang membagi dalam
tiga periode, lima periode dan tujuh periode.1
Dalam makalah yang singkat ini penulis akan uraikan sejarah
perkembangan hadis pada masa sesudah zaman Sahabat sampai dengan
sekarang, dimulai dengan pembahasan penulisan dan pembukuan hadis secara
resmi (Hadis pada Abad ke 2 H), masa pemurnian dan penyempurnaan
penulisan hadis (Abad ke 3 H), masa pemeliharaan, penertiban dan
penambahan dalam penulisan hadis (Abad 4 s/d 7 H), masa pensyarahan,
penghimpunan, pentakhrijan, dan pembahasan hadis (Abad ke 7 H s/d
Sekarang).

2. Rumusan Masalah

1M.Solahuddin dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis (Bandung:CV. Pustaka Setia, Cet.II,
2011) h. 33.

1. Bagaimana proses penulisan dan pembukuan hadis secara resmi (Hadis pada
abad ke2 H)?
2. Bagaimana gambaran masa pemurnian dan penyempurnaan penulisan Hadis
(abad ke 3 H)?
3. Bagaimana gambaran masa pemeliharaan, penertiban dan penambahan
dalam penulisan Hadis (abad ke 4 s/d 7 H)?
4. Bagaimana persyarahan, penghimpunan, pentakhjiran, dan pembahasan
Hadis (abad 7 H s/d sekarang)?

3. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui penulisan dan pembukuan Hadis secara resmi (Hadis
pada abad ke2 H).
2. Masa pemurnian dan penyempurnaan penulisan Hadis (abad ke 3 H).
3. Masa pemeliharaan, penertiban dan penambahan dalam penulisan Hadis
(abad ke 4 s/d 7 H).
4. Persyarahan, penghimpunan, pentakhjiran, dan pembahasan Hadis (abad 7
H s/d sekarang)

BAB II
PEMBAHASAN
1. Penulisan dan pembukuan Hadis secara resmi
(Hadis pada abad ke2 H)
Pada periode ini Hadis-hadis Nabi SAW mulai ditulis dan
dikumpulkan secara resmi. Umar ibn Abd al-Aziz, tercatat sebagai salah
seorang khalifah dari dinasti Umayyah yang mulai memerintah di
penghujung abad pertama Hijriah, merasa perlu untuk mengambil
langkah-langkah bagi penghimpunan dan penulisan Hadis Nabi secara
resmi, yang selama ini berserakan di dalam catatan dan hafalan para
sahabat dan Tabiin. Hal tersebut dirasakannya begitu mendesak, karena
pada masa itu wilayah kekusaan Islam telah meluas sampai kedaerahdaerah diluar jazirah Arabia, disamping para Sahabat sendiri, yang hafalan
dan catatan-catatan pribadi mereka mengenai Hadis Nabi merupakan

sumber rujukan bagi ahli Hadis ketika itu, sebagian besar sudah meninggal
dunia karena faktor usia dan akibat banyaknya terjadi peperangan. Dan
pada masa itu, yaitu awal pemerintahan Umar ibn Abd al-Aziz, Hadis
masih belum dibukukan secara resmi.2
Ada beberapa faktor yang mendorong Umar ibn Abd al-Aziz
mengambil inisiatif untuk memerintahkan para gubernur dan pembantunya
untuk mengumpulkan dan menuliskan Hadis, diantaranya adalah:
Pertama,

tidak

adanya

lagi

penghalang

untuk

menuliskan

dan

membukukan Hadis, yaitu kekhawatiran bercampurnya Hadis dengan


Alquran, karena Alquran ketika itu telah dibukukan dan disebarluaskan.
Kedua, munculnya kekhawatiran akan hilang dan lenyapnya Hadis karena
banyaknya para Sahabat yang meninggal dunia akibat usia lanjut atau
karena seringnya terjadi peperangan. Ketiga, semakin maraknya kegiatan
pemalsuan Hadis yang dilatarbelakangi oleh perpecahan politik dan
perbedaan mazhab dikalangan umat Islam. Keadaan ini apabila dibiarkan
terus menerus akan merusak ajaran Islam, sehingga upaya untuk
menyelamatkan Hadis dengan cara pembukuannya setelah melalui seleksi
yang ketat harus segera dilakukan. Keempat, karena telah semakin luasnya
daerah kekuasaan Islam disertai dengan semakin banyak dan kompleksnya
permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam, maka hal tersebut menuntut
mereka untuk mendapatkan petujuk-petunjuk dari Hadis Nabi SAW, selain
petunjuk Alquran sendiri.3
Umar ibn Abd al-Aziz dikenal dari kalangan pengusaha yang
memprakarsai pembukuan Hadis Nabi SAW secara resmi. Akan tetapi
menurut Ajjaj al-Khathib berdasarkan sumber yang sah dari Thabaqat ibn
Saad, kegiatan pembukuan Hadis ini telah lebih dahulu diprakarsai oleh

2 Nawir Yuslem, Ulumul Hadis (Jakarta:PT.Mutiara Sumber Widya,Cet. I, 2001), h. 125126.


3 Ibid, h. 126-127.

Abd al-Aziz ibn Marwan (w.85 H). 4 Ia adalah ayah dari Umar ibn Abd
al-Aziz sendiri, yang ketika itu menjabat sebagai gubernur di Mesir.
Riwayat tersebut menceritakan bahwa Abd al-Aziz telah meminta Katsir
ibn Murrah al-Hadhrami, seorang Tabiin di Himsha yang pernah bertemu
dengan tidak kurang dari 70 veteran Badar dari kalangan Sahabat, untuk
menuliskan Hadis-Hadis Nabi SAW yang pernah diterimanya dari para
Sahabat selain Abu Hurairah, dan selanjutnya mengirimkanya kepada
Abd al-Aziz sendiri. Dan Abd al-Aziz menyatakan bahwa Hadis-Hadis
yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah sudah dimiliki catatannya yang
didengarnya sendiri secara langsung. Perintah tersebut adalah pertanda
bahwa telah dimulainya pembukuan Hadis secara resmi yang diprakarsai
oleh penguasa, dan hal tersebut terjadi pada tahun 75 H.5
Meskipun Abd al-Aziz, sebagaimana yang dikemukakan oleh
Ajjaj al-Khathib, telah lebih dahulu memprakarsai pengumpulan Hadis,
namun karena kedudukannya hanya seorang gubernur, maka jangkauan
perintahnya untuk mengumpulkan Hadis kepada aparatnya, adalah terbatas
sekali, sesuai dengan keterbatasan kekuasaan dan wilayahnya. Demikian
juga para ulama ketika itu. Adalah Umar ibn Abd al-Aziz, putra Abd alAziz sendiri yang memprakarsai pengumpulan Hadis secara resmi dan
dalam jangkauan yang lebih luas. Hal tersebut dikarenakan posisinya
sebagai khalifah dapat memerintahkan kepada para gubernurnya untuk
melaksanakan tugas pengumpulan dan pengkodifikasian Hadis. Abu Bakar
Muhammad ibn Amr ibn Hazm (w.117 H), gubernur di Madinah, adalah
diantara gubernur yang menerima instruksi Umar ibn Abd al-Aziz untuk
mengumpulkan Hadis. Dalam instruksinya tersebut Umar memerintahkan
ibn Hazm untuk menuliskan dan mengumpulkan Hadis yang berasal dari :
1.

Koleksi Ibn Hazm sendiri;

4 http://en.wikipedia.org/wiki/Abd_al-Aziz_ibn_Marwan. Dikutip: 1 Oktober 2016.


5 Yuslem, Ulumul Hadis, h. 128

2.

Amrah binti Abd al-Rahman (w.98 H), seorang faqih, dan muridnya,

Sayyidah Aisyah r.a;


3.

Al-Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar al-Shiddiq (w.107 H), seorang

pemuka Tabiin dan salah seorang dari Fuqaha yang tujuh.6


Ibn Hazm melaksanakan tugas tersebut dengan baik, dan tugas
yang serupa juga dilaksanakan oleh Muhammad ibn Syihab al-Zuhri
(w.124 H), seorang Ulama besar dihizab dan Syam. Dengan demikian,
kedua ulama diataslah yang merupakan pelopor dalam kodifikasi Hadis
berdasarkan perintah Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz. Dari kedua tokoh
diatas, para Ulama Hadis lebih cenderung memilih Al-Zuhri sebagai
kodifikator pertama dari pada Ibn Hazm. Hal ini adalah karena kelebihan
Al-Zuhri dalam hal berikut :
1. Al-Zuhri dikenal sebagai Ulama besar di bidang Hadis dibandingkan
dengan yang lainnya;
2. Dia berhasil menghimpun seluruh Hadis yang ada di Madinah,
sedangkan Ibn Hazm tidak demikian;
3. Hasil kodifikasinya dikirimkan ke seluruh penguasa di daerah-daerah
sehingga cepat tersebar.7
Meskipun Ibn Hazm dan Al-Zuhri telah berhasil menghimpun dan
mengkodifikasikan Hadis, akan tetapi karya kedua Ulama tersebut telah
hilang dan tidak bisa dijumpai lagi sampai sekarang. Setelah masa Ibn
Hazm dan Al-Zuhri, muncullah para Ulama Hadis yang berperan dalam
menghimpun dan menuliskan Hadis, dibeberapa kota yang telah dikuasai
Islam, seperti Abd al-Malik ibn Abd al-Aziz ibn Juraij al-Bashri (80-150
H / 669-767 M) di Mekah; Malik ibn Anas (93-179 H / 703-798 M), dan
6 M.Sholahuddin dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis, h.39.
7 Yuslem, Ulumul Hadis, h. 129-130

Muhammad ibn Ishaq (w.151 H/768 M) di Madinah;Al-Rabi ibn Shabih


(w.160 H), Said ibn Abi Arubah (w.156 H), dan Hammad ibn Salamah
(w.167 H) di Basrah; Sufyan al-Tsauri (w. 97-161 H) di Kufah; Khalid ibn
Jamil al-Abdi dan Mamar ibn Rasyid (95-153 H) di Yaman; Abd alRahman ibn Amr Al-AuzaI (w. 88-57 H) di Syam; Abd Allah ibn alMubarak (118-181 H) di Khurasan; Hasyim ibn Basyir (104-183 H) di
Wasith; Jarir ibn Abd al-Hamid (110-188 H) di Rei; dan Abd Allah ibn
Wahab (125-197 H) di Mesir.8
Sebagaimana telah disebutkan diatas bahwa kitab yang merupakan
hasil kodifikasi pertama sudah hilang dan tidak ditemukan lagi sampai
sekarang. Diantara kitab-kitab yang merupakan hasil kodifikasi pada abad
ke-2 H, yang masih dijumpai sampai sekarang dan banyak dirujuk oleh
para Ulama adalah :
1. Kitab Al-Muwaththa, yang disusun oleh Imam Malik atas permintaan
Khalifah Abu Jafar al-Manshur.
2. Musnad Al-SyafiI, karya Imam Al-SyafiI, yaitu berupa kumpulan
Hadis yang terdapat dalam kitab Al-Umm.
3. Mukhtaliful Hadis, karya Imam Al-SyafiI yang isinya mengandung
pembahasan

tentang

cara-cara

mengkompromikan

Hadis

yang

kelihatannya kontradiktif satu sama lain.


4. Al-Sirat al-Nabawiyyah, oleh ibn Ishaq, isinya antara lain tentang
perjalanan hidup Nabi SAW dan peperangan-peperangan yang terjadi
pada zaman Nabi.9
Diantara ciri kitab-kitab Hadis yang ditulis pada abad ke 2 H ini
adalah :
8 Ibid, h. 130
9 Ibid, h. 131

1. Pada umumnya kitab-kitab Hadis pada ini menghimpun Hadis-Hadis


Rasul SAW serta fatwa-fatwa Sahabat dan Tabiin. Yang hanya
menghimpun Hadis-Hadis Nabi SAW adalah kitab yang disusun oleh
ibn Hazm. Hal ini sejalan dengan instruksi Khalifah Umar ibn Abd alAziz yang berbunyi :


Janganlah kamu terima selain dari Hadis Nabi SAW.
2. Himpunan Hadis pada masa ini masih bercampurbaur antara berbagai
topik yang ada, seperti yang menyangkut bidang tafsir, sirah, Hukum
dan sebagainya, dan belum dihimpun berdasarkan topik-topik tertentu.
3. Didalam kitab-kitab Hadis pada periode ini belum dijumpai pemisahan
antara Hadis-hadis yang berkualitas Shahih, Hasan, dan Dhaif.10
Pada abad ke-2 H kegiatan pemalsuan Hadis semakin berkembang.
Motif pemalsuan Hadis pada masa ini tidak lagi hanya untuk menarik
keuntungan bagi golongannya dan mencela lawan politiknya, tetapi sudah
semakin beragam seperti yang dilakukan seperti yang dilakukan oleh
orang-orang tukang cerita dalam rangka menarik minat orang banyak,
kaum zindik yag bertujuan untuk meruntuhkan Islam, dan lain-lain. Selain
berkembangnya Hadis palsu, pada Abad ke-2 H ini muncul pula
sekelompok orang yang menolak Hadis. Diantara mereka ada yang
menolak Hadis secara keseluruhan, baik Hadis Ahad maupun juga Hadis
Mutawatir, dan ada yang menolak Hadis Ahad saja. Imam Al-Syafii
bangkit dan melakukan serangan balik terhadap kelompok yang menolak
Hadis ini, yaitu dengan cara mengemukakan bantahan terhadap satu
persatu argumen yang dikemukakan oleh para penolak Hadis dengan
mengemukakan dalil-dalil yang lebih kuat. Oleh karenanya, Imam Al-

10Ibid, h. 131-132

Syafii diberi gelar Nashir al-Hadits (Penolong Hadis) atau


Multazim al-Sunnah.11
2. Masa Pemurnian dan Penyempurnaan Penulisan Hadis (Abad ke-3 H).
Dari awal Abad ke-3 H sampai akhir Abad ke-3 H. Periode ini
menanggung dan mencarikan pemecahan terhadap permasalahan-permasalahan
Hadis yang muncul dan belum diselesaikan pada periode sebelumnya.
Pemisahan antara Hadis Nabi SAW dengan fatwa sahabat yang mulai terasa
keperluannya dan adanya pemalsuan-pemalsuan Hadis yang telah menarik
perhatian para ulama pada masa sebelumnya pada periode ini semakin terasa
mendesak untuk ditangani. Para ulama pun dimasa ini menghimpun dan
membukukan

Hadis-Hadis

Nabi

SAW

kedalam

buku

Hadis

dan

memisahkannya dari fatwa-fatwa sahabat. Sebagai tindak lanjut dari usaha


pemisahan antara Hadis dan fatwa sahabat, dimasa ini lahirlah buku-buku
Hadis dalam corak lebih baru yang dinamakan kitab Sahih, kitab Sunan, dan
kitab Musnad. Kitab Sahih adalah kitab-kitab yang memuat Hadis-Hadis Sahih
saja, Kitab Sunan adalah kitab yang memuat seluruh Hadis, kecuali Hadis yang
sangat Dhaif dan Munkar (sangat lemah). Adapun Musnad adalah kitab yang
memuat semua Hadis, baik Sahih, Hasan, maupun Dhaif .12
Ulama hadis yang mula-mula menyaring dan membedakan hadishadis yang shahih dari yang palsu dan yang lemah adalah Ishaq Ibn Rahawaih,
seorang Imam hadis yang sangat termasyhur.Pekerjaan yang mulia ini
kemudian diselenggarakan oleh Imam Al-Bukhari. Al-Bukhari menyusun
kitab-kitabnya yang terkenal dengan nama Al-Jamius Shahih. Di dalam
kitabnya, ia hanya membukukan hadis-hadis yang dianggap shahih, kemudian
usaha Al-Bukhari ini diikuti oleh muridnya yang sangat alim, yaitu Imam
Muslim. Tokoh-tokoh hadis yang lahir dalam masa ini adalah : Ali Ibnul
Madany, Abu Hatim Ar-Razy, Muhammad Ibn Jarir Ath-Thabari, Muhammad

11 Ibid, h. 132-133.
12 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam (Jakarta; PT.Ichtiar Baru van
Hoeve, Jil-2, Cet-4, 1997), h. 47.

10

Ibn Saad, Ishaq Ibnu Ruhawaih, Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, An-NasaI, Abu
Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibn Qutaibah Ad-Dainuri.13
Di antara kegiatan yang dilakukan oleh para Ulama Hadis dalam
rangka memelihara kemurnian Hadis Nabi SAW adalah :
a. Perlawatan ke daerah-daerah
Pengumpulan Hadis abad ke-2 masih terbatas pada daerah-daerah
perkotaan saja, sementara perawi Hadis telah menyebar kedaerah-daerah
yang jauh sejalan dengan semakin luasnya daerah kekuasaan Islam. Dalam
rangka menghimpun Hadis-Hadis yang belum terjangkau pada masa
sebelumnya, maka pada abad ke-3 H para ulama Hadis melakukakn
perlawatan mengunjungi para perawi Hadis yang jauh dari pusat kota.14
b. Pengklasifikasian Hadis kepada : Marfu, Mawquf dan Maqthu.
Pada permulaan abad ke-3 H telah dilakukan pengelompokan Hadis
kepada: (i) Marfu, yaitu Hadis yang disandarkan kepada Nabi SAW, (ii)
Mawquf, yang disandarkan kepada Sahabat, dan (iii) Maqthu, yang
disadarkan kepada Tabiin. Dengan cara ini Hadis-Hadis Nabi SAW
terpelihara dari percampuran dengan fatwa-fatwa Sahabat dan Tabiin.15
c. Penyeleksian kualitas Hadis dan pengklasifikasiannya kepada : Shahih,
Hasan, dan Dhaif.
Penyeleksian kualitas Hadis dan pengklasifikasiannya kepada Shahih
dan Dhaif dimulai pada pertengahan abad ke-3 H yang dipelopori oleh
Ishaq ibn Rahawaih. Kegiatan ini diikuti oleh Bukhari, Muslim, Abu
Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibn Majah, dan lain-lain. Pada awalnya Hadis
dikelompokkan kepada Shahih dan Dhaif saja, namun setelah Imam
Tirmidzi, Hadis dikelompokkkan menjadi Shahih, Hasan, dan Dhaif.16

13 Solahuddin, Hadis, h. 43-44


14 Yuslem, Hadis, h. 135.
15 Ibid, h. 135.
16 Ibid, h. 135-136.

11

3. Masa Pemeliharaan, Penertiban dan Penambahan Dalam Penulisan Hadis


(Abad 4 S/D 7 H)
Mulai abad ke-4 sampai jatuhnya kota Baghdad (656 H/1258 M).
Ulama-ulama Hadis telah menetapkan bahwa para ahli yang hidup sebelum
abad ke-4 H atau periode ini disebut mutakadimin (pendahulu), sedangkan
sesudahnya disebut mutaakhirin. Ulama Hadis mutakadimin pada umumnya
melakukan kegiatan mereka secara mandiri, dalam arti mengumpulkan Hadis
dan memeriksanya sendiri dengan menemui para penghafalnya yang tersebar
dibanyak pelosok negeri. Adapun kegiatan ulama Hadis mutaakhkhirin pada
umumnya bersandar pada karya-karya ulama mutakadimin, dalam arti Hadis
yang mereka kumpulkan merupakan petikan atau nukilan dari kitab-kitab
mutakadimin.17
Pada Periode ini muncul kitab-kitab shahih yang tidak terdapat dalam
kitab shahih abad ketiga. Kitab-kitab ini antara lain : As-Shahih, susunan Ibnu
Khuzaimah, At-Taqsim wa Anwa, susunan Ibnu Hibban, Al-Mustadrok,
susunan Al-Hakim, Ash-Shalih, susunan Abu Awanah, Al-Muntaqa, susunan
Ibnu Jarud, Al-Mukhtarah, susunan Muhammad Ibnu Abdul Wahid Al
Maqdisy.18 Diantara usaha-usaha ulama Hadis yang terpenting dalam periode
ini adalah :
1. Mengumpulkan Hadis Al-Bukhari/Muslim dalam sebuah kitab.

Di antara kitab yang mengumpulkan Hadis-Hadis Al-Bukhari dan


Muslim adalah Kitab Al-Jami Bain Ash-Shahihani oleh Ismail Ibn Ahmad
yang terkenal dengan nama Ibnu Al-Furat (414 H), Muhammad Ibn Nashr
Al-Humaidy (1488 H); Al-Baghawi oleh Muhammad Ibn Abdul Haq AlAsybily (582 H).
2. Mengumpulkan hadis-hadis dalam kitab enam.
Di antara kitab-kitab yang mengumpulkan hadis-hadis kitab enam,
adalah Tajridu As-Shihah oleh Razin Muawiyah, Al-Jami oleh Abdul
17 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, h. 47
18 Solahuddin, Hadis, h.45-46

12

Haqq Ibn Abdul Ar-Rahman Asy-Asybily, yang terkenal dengan nama


Ibnul Kharrat (582 H).
3. Mengumpulkan hadis-hadis yang terdapat dalam berbagai kitab.
Di antara kitab-kitab yang mengumpulkan hadis-hadis dari
berbagai kitab adalah : (1) Mashabih As-Sunnah oleh Al-Imam Husain Ibn
Masud Al-Baghawi (516 H); (2) Jamiul Masanid wal Alqab, oleh Abdur
Rahman ibn Ali Al-Jauzy (597 H); (3) Bahrul Asanid, oleh Al- Al-Hasan
Al-Hafidh Al-Hasan Ibn Ahmad Al-Samarqandy (491 H).
4. Mengumpulkan hadis-hadis hukum dan menyusun kitab-kitab Athraf.
Di antara kitab-kitab yang mengumpulkan hadis hukum adalah (1)
Muntqal Akhbar, oleh Majduddin ibn Taimiyah Al-Harrany (652 H); (2)
As-Sunanul Kubra oleh Al-Baihaqy (458 H); (3) Al-Ahkamus Sughra. Oleh
Al-Hafizh Abu Muhammad Abdul Haqq As-Asybily (Ibn Kharrat) (582
H); (4) Umdatul Ahkam, oleh Abdul Ghany Al-Maqdisy (600 H). Di
samping itu, muncul kitab-kitab Athraf19, antara lain: (1) Athrafu AsShahihain oleh Ibrahim Ad-Dimasqy (400 H); (2) Athrafu As-Shahihain
oleh Muhammad Khalf Ibn Muhammad Al-Wasithy (401 H); (3) Athrafu
As-Shahihain oleh Abu Nuaim Ahmad Ibn Abdillah Al-Ashfahani (430
H), dan lain-lain.20
Sistematika susunan hadis pada periode ini lebih baik dari periode
sebelumnya, karena upaya ulama pada periode ini bukan mencari, namun
hanya mengumpulkan dan selanjutnya mensistematisasi menurut kehendak
pengarang sendiri. Ada yang mensistematisasi dengan mendahulukan bab
thaharah, wudhu, kemudian shalat dan seterusnya, ada juga yang
mensistematisasi denga bagian-bagian, yaitu bagian seruan, larangan,
khabar, ibadah dan afal. Demikian pula ada yang menyusun berdasarkan
abjad hijaiyah, seperti kitab al-Jami shaghir oleh al-Syuyuthi.21
Pada periode ini muncul usaha-usaha istikhraj, umpamanya
mengambil suatu hadis dari Al-Bukhari Muslim, lalu meriwayatkannya
19 Totok Jumantoro, Kamus Ilmu Hadis (Jakarta;Bumi Aksara, Cet.I, 1997), h. 25.
20 Jamiush Shaghir fi Ahaditsil Nadzir, karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi (849-911 H).
Kitab yang mengumpulkan segala Hadis yang terdapat dalam kitab enam dan lainnya ini,
disusun secara alfabetis dari awal hadis dan selesai ditulis pada tahun 907 H, lihat, Totok
Jumantoro, Kamus Ilmu Hadis, h. 95

13

dengan sanad sendiri yang lain dari sanad Al-Bukhari atau Muslim. Di
antara mustakhraj untuk Shahih Bukhari adalah (1) Mustakhraj Shahih AlBukhari oleh Al-Hafidz Abu Bakr Al-Barqani (425 H), dan lain-lain. Di
antara Mustakhraj Shahih Muslim, adalah Mustakhraj Shahih Muslim oleh
Al-Hafidz Abu Awanah (316 H); Mustakhraj Shahih Muslim oleh AlHafidz Abu Bakar Muhammad Ibnu Raja, dan Sebagainya. Pada periode
ini muncul pula usaha Istidrok, yakni mengumpulkan hadis-hadis yang
memiliki syarat-syarat Bukhari dan Muslim atau salah satunya yang
kebetulan tidak diriwayatkan atau disahihkan oleh Bukhari dan Muslim.
Kitab ini mereka namai kitab mustadrak. Di antaranya Al-Mustadrak oleh
Abu Dzar Al-Harawy.22
4. Pensyarahan, Penghimpunan, Pentakhrijan, dan Pembahasan Hadis
(Abad 7 H Sampai Sekarang)
Pada periode ini masih meneruskan beberapa kegiatan dari periode
sebelumnya, disamping kegiatan-kegiatan lainnya. Penghancuran Baghdad
sebagai pusat pemerintahan Abbasiyah oleh pasukan Hulagu Khan (656 H /
1258 M) telah menggeser kegiatan dibidang hadis ke Mesir dan India.
Banyak kitab hadis yang beredar ditengah-tengah masyarakat Islam berasal
dari usaha penerbitan yang dilakukan oleh ulama-ulama India. Contoh
dalam hal ini adalah penerbitan kitab Ulum al-Hadis (Ilmu-ilmu Hadis)
karya al-Hakim. Cara penerimaan dan penyampaian pada masa ini juga
mengalami pergeseran. Cara yang digunakan terkadang berupa pemberian
izin oleh seorang guru kepada murid untuk meriwayatkan hadis dari guru
tersebut, dan terkadang juga berupa pemberian catatan hadis dari seorang
guru kepada seseorang yang ada didekatnya atau yang jauh, baik catatan itu
dibuat sendiri oleh guru tersebut atau menyuruh orang lain. Cara yang

21 Muhaimin, Studi Islam, Dalam Ragam Dimensi & Pendekatan (Jakarta;Kencana


Prenada Media Group, 2012), h. 153.
22 Solahuddin,Hadis,h. 47.

14

pertama dikenal dengan istilah Ijazah23, sedang yang kedua dinamakan


mukatabah.24
Sedikit sekali dari ulama hadis periode ini yang melakukan
periwayatan hadis secara hafalan sebagaimana yang dilakukan oleh ulama
mutaqaddimin. Di antara mereka yang sedikit itu adalah :
1. Al-Iraqi (w.806 H/1400 M). Dia berhasil mendiktekan hadis secara
hafalan kepada 400 majelis sejak tahun 796 H/1394 M, dan juga menulis
beberapa kitab Hadis.
2. Ibn Hajar al-Asqalani (w.852 H/1448 M), seorang penghafal Hadis yang
tiada tandingannya pada masanya. Dia mendiktekan Hadis kepada 1000
majelis dan menulis sejumlah kitab yang berkaitan dengan Hadis.
3. Al-Sakhawi (w.902 H/1497 M), Murid Ibn Hajar, yang telah mendiktekan
Hadis kepada 1000 majelis dan menulis sejumlah kitab.25
Pada periode ini juga, umumnya para ulama Hadis mempelajari kitabkitab hadis yang telah ada, dan selanjutnya mengembangkannya atau
meringkasnya sehingga menghasilkan jenis karya sebagai berikut :
a. Kitab Syarah, yaitu jenis kitab yang memuat uraian dan penjelasan
kandungan Hadis dari kitab tertentu dan hubungannya dengan dalil-dalil

23Ijazah artinya mengizinkan, seorang syaikh mengizinkan tilmidznya


meriwayatkan hadis atau riwayat, baik izinnya itu dengan ucapan atau
tulisan. Pemberian izin dari seseorang kepada orang lain, untuk
meriwayatkan hadis dari padanya, atau kitab-kitabnya. Ijazah itu
bermacam-macam, yaitu: (a). Syaikh mengijazahkan sesuatu yang
tertentu kepada orang tertentu. (b). Syaikh mengijazahkan sesuatu
yang belum tertentu kepada orang tertentu, Aku mengijazahkan
kepadamu semua yang aku riwayatkan. Dalam perkataan semua
yang aku riwayatkan, termasuk yang belum tertentu bagi tilmidz. (c).
Syaikh mengijazahkan secara umum, seperti Aku ijzahkan semua
riwayatku kepada sekalian orang Islam. Semua riwayatku dan
Sekalian orang Islam itu umum karena tidak tertentu. (d) Syaikh
mengijazahkan sesuatu yang ia terima dengan jalan ijazah, kepada
orang yang tertentu . Seperti, Aku ijazahkan kepadamu apa-apa yang
diijazahkan lepadaku, lihat, Totok Jumantoro, Kamus Ilmu Hadis, h. 8182.
24 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, h. 48.
25 Yuslem, Hadis, h. 144.

15

lain yang bersumber dari Alquran, Hadis ataupun kaidah-kaidah syara


lainnya. Di antara contohnya adalah :
1. Fath al-Bari, oleh Ibn Hajar al-Asqalani, yaitu syarah kitab Shahih
Al-Bukhari.
2. Al-Minhaj, oleh Al-Nawawi, yang mensyarahkan kitab Shahih
Muslim.
3. Aun al-Mabud, oleh Syams al-Haq al-Azhim al-Abadi, syarah Sunan
Abu Dawud.
b. Kitab Mukhtashar, yaitu kitab yang berisi ringkasan dari suatu kitab
Hadis, seperti Mukhtasar Shahih Muslim, oleh Muhammad Fuad Abd
al-Baqi.
c. Kitab Zawaid, yaitu kitab yang menghimpun hadis-hadis dari kitab-kitab
tertentu yang tidak dimuat oleh kitab tertentu lainnya. Di antara
contohnya adalah Zawaid al-Sunan al-Kubra, oleh Al-Bushiri, yang
memuat hadis-hadis riwayat al-Baihaqi yang tidak termuat dalam AlKutub al-Sittah.
d. Kitab Penunjuk (kode indeks) Hadis, yaitu kitab yang berisi petunjukpetunjuk praktis untuk mempermudah mencari matan Hadis pada kitabkitab tertentu. Contohnya, Miftah Kunuz al-Sunnah, oleh A.J Wensinck,
yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab oleh M.Fuad Abd al-Baqi.
e. Kitab Takhrij, yaitu kitab yang menjelaskan tempat-tempat pengambilan
Hadis-Hadis yang dimuat dalam kitab tertentu dan menjelaskan
kualitasnya. Contohnya adalah, Takhrij Ahadits al-Ihya, oleh Al-Iraqi.
Kitab ini men-takhrij Hadis-Hadis yang terdapat di dalam kitab Ihya
Ulum al-Din karya Imam Al-Ghazali.
f. Kitab Jami, yaitu kitab yang menghimpun Hadis-Hadis dari beberapa
kitab Hadis tertentu, seperti Al-Luluwa al-Marjan, karya Muhammad
Fuad al-Baqi. Kitab ini menghimpun Hadis-Hadis Bukhari dan Muslim.
g. Kitab yang membahas masalah tertentu, seperti masalah hukum.
Contohnya, Bulugh al-Maram min Adillah al-Ahkam oleh Ibn Hajar alAsqalani dan Koleksi Hadis-Hadis Hukum, oleh T.M. Hasbi AshShiddieqy.26
h. At-Taghrib, susunan Al-Hafizh Abdul Azhim ibn Abd al-Qawy ibn
Abdullah al-Mundziry (656 H), salah satu kitab yang paling baik caranya
26 Ibid, h. 144-145.

16

dalam mengumpulkan hadis dan menerangkan derajatnya. Alangkah


baiknya sekira semuanya kitab hadis disusun menurut tariqah (cara) ini.27
Contohnya, seperti kitab Muntaqa al-Akhbar fi al-Ahkam, susunan
Majdudin Abul Barakah Abd as-Salam ibn Abdillah ibn Abi al-Qasim alHarrany (652 H). Kitab ini telah disyarahkan oleh Muhammad ibn Ali
asy-Syaukany (1250 H) dalam kitabnya Nail al-Authar, sebuah kitab
syarah hadis yang telah membentangkan fiqh al-Hadits dengan sebaikbaiknya. Kitab ini ditaliqkan dengan ringkas oleh Al-Ustadz Muhammad
Hamid al-Fiqqy.28 Kemudian, kitab Riyadh ash-Shalihin, oleh Imam
Nawawy. Kitab ini telah disyarahkan oleh Ibnu Ruslan ash-Shiddiqy
dalam kitab Dalil al-Falihin.29

27Tengku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy,Sejarah & Pengantar Ilmu Hadis


(Semarang;PT.Pustaka Rizki Putra,202), h. 92.
28 Ibid, h. 92
29 Ibid, h. 92

17

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Dari pemaparan di atas dapat penulis simpulkan bahwa secara umum ada
empat faktor yang mendorong Umar ibn Abd al-Aziz mengambil inisiatif untuk
memerintahkan para gubernur dan pembantunya untuk mengumpulkan dan
menuliskan Hadis, diantaranya adalah: Pertama, tidak adanya lagi penghalang
untuk menuliskan dan membukukan Hadis. Kedua, munculnya kekhawatiran akan
hilang dan lenyapnya Hadis karena banyaknya para Sahabat yang meninggal
dunia akibat usia lanjut atau karena seringnya terjadi peperangan. Ketiga, semakin
maraknya kegiatan pemalsuan Hadis yang dilatarbelakangi oleh perpecahan
politik dan perbedaan mazhab dikalangan umat Islam. Keempat, karena telah
semakin luasnya daerah kekuasaan Islam disertai dengan semakin banyak dan
kompleksnya permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam, maka hal tersebut
menuntut mereka untuk mendapatkan petujuk-petunjuk dari Hadis Nabi SAW,
selain petunjuk Alquran sendiri.
Di antara kegiatan yang dilakukan oleh para Ulama Hadis pada abad ke-3
dalam rangka memelihara kemurnian Hadis Nabi SAW adalah : 1). Perlawatan ke
daerah-daerah, 2). Pengklasifikasian Hadis kepada : Marfu, Mawquf dan
Maqthu, 3). Penyeleksian kualitas Hadis dan pengklasifikasiannya kepada :
Shahih, Hasan, dan Dhaif.
Pada abad ke-4 muncul kitab-kitab shahih yang tidak terdapat dalam
kitab shahih abad ketiga. Kitab-kitab ini antara lain : As-Shahih, susunan Ibnu
Khuzaimah, At-Taqsim wa Anwa, susunan Ibnu Hibban, Al-Mustadrok, susunan

18

Al-Hakim, Ash-Shalih, susunan Abu Awanah, Al-Muntaqa, susunan Ibnu Jarud,


Al-Mukhtarah, susunan Muhammad Ibnu Abdul Wahid Al Maqdisy. Diantara
usaha-usaha ulama Hadis yang terpenting dalam periode ini adalah : 1).
Mengumpulkan

Hadis

Al-Bukhari/Muslim

dalam

sebuah

kitab.

2).

Mengumpulkan hadis-hadis dalam kitab enam. 3). Mengumpulkan hadis-hadis


yang terdapat dalam berbagai kitab. 4). Mengumpulkan hadis-hadis hukum dan
menyusun kitab-kitab Athraf.
Pada abad ke-7 sampai sekarang, umumnya para ulama Hadis
mempelajari

kitab-kitab

hadis

yang

telah

ada,

dan

selanjutnya

mengembangkannya atau meringkasnya sehingga menghasilkan jenis karya.


B. Kritik dan Saran
Puji syukur penulis ucapkan, sebab dengan kekuatan dan kesehatan
yang Allah berikan, akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas
kuliyah saya pada program pasca sarjana mata kuliyah Hadis. Dalam
penulisan ini tentu masih banyak kekurangan dari berbagai sudut
kesempernuaan, oleh karena itu,

penulis mengharapkan kritik dan

masukan pembaca terlebih lagi kepada dosen pembimbing.

19

DAFTAR PUSTAKA

Ash-Shiddieqy, Tengku Muhammad Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis,


Semarang;PT.Pustaka Rizki Putra,202.
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jakarta; PT.Ichtiar Baru
van Hoeve, Jil-2, Cet-4, 1997.
Jumantoro, Totok, Kamus Ilmu Hadis, Jakarta;Bumi Aksara, Cet.I, 1997.
Muhaimin, Studi Islam, Dalam Ragam Dimensi & Pendekatan, Jakarta:Kencana
Prenada Media Group, 2012.
Solahuddin, M.Agus, dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis, Bandung:CV. Pustaka
Setia, 2011
Yuslem, Nawir, Ulumul Hadis, Jakarta:PT.Mutiara Sumber Widya,2001.
http://en.wikipedia.org/wiki/Abd_al-Aziz_ibn_Marwan.

20