Anda di halaman 1dari 26

SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI

KEBIJAKAN FISKAL PADA MASA AWAL PEMERINTAHAN


ISLAM

DISUSUN OLEH :
1. AMALUDDIN EFENDI
2. RIZA FADHILA

(C1F015008)
(C1F015005)

DOSEN PEMBIMBING :
PAULINA LUBIS, S.E., M.EI

PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM


FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS JAMBI
UNIVERSITAS JAMBI
2016

DAFTAR ISI

Halaman Depan.......................
Kata Pengantar................i
Daftar isi ....................ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ............. ...................................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah ............................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Kebijakan fiskal pada awal masa Pemerintahan Islam.....................................................2
2.2. Kebijakan Fiskal Pada Masa Rasulullah..........................................................................4
2.3. Kebijakan Masa Pemerintahan Khalafaul Rashidin .......................................................6
2.4. Komponen Kebijakan fiskal dalm Islam ........................................................................9

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan.......................................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................15
Lampiran Pertanyaan...........................................................................................................16

KATA PENGANTAR
Bismallahirrahmanirrahim
Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena izin dan ridhonya
kami dapat merampungkan makalah ini.Selanjutnya shalawat dan salam semoga dilimpahkan
kepada Nabi Muhammad SAW. Yang telah menata cara hidup bermasyarakat berdasarkan
ajaran agama yang benar.
Makalah ini membahas tentang Kebijakan Fiskal Pada masa awal Pemerintahan
Islam untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi yang diampu oleh
Ibu Paulina Lubis, SE., M.EI. Kami dalam makalah ini berusaha mengumpulkan referensi
serta berusaha menulis makalah ini dengan sebaik mungkin agar dapat dimengerti oleh
pembaca.
Akhirnya kepada Allah juga kami memohon ampun, sekiranya terjadi kesalahan
dalam penulisan makalah ini.
Semoga makalah ini bermanfaat, Amin Ya Rabbal Alamin.

Jambi, 13 Desember 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Dalam fiskal ekonomi islam ada yang dikenal dengan kata uang. Peranan Uang
Dalam Perekonomian merupakan materi yang sangat berharga dan sangat diagungkan
di dunia. Perekonomian modern tidak dapat dipisahkan dengan pentingnya uang. Uang
ibarat darah dalam tubuh manusia, tanpa uang, perekonomian tidak akan dapat berjalan
sebagaimana mestinya. Secara sederhana uang didefinisikan segala sesuatu yang dapat
dipergunakan sebagai alat bantu dalam pertukaran.
Selain itu dalam perekonomian islam juga dikenal dengan kebijaksanaan fiskal,
kebijakan fiskal merupakan salah satu perangkat untuk mencapai tujuan syariah yang di
jelaskan oleh Imam Al-Ghazali, termasuk meningkatkan kesejahteraan dengan tetap
menjaga keimanan, kehidupan, intelektualitas, kekayaan, dan kepemilikan. Jadi, bukan
hanya untuk mencapai keberlangsungan (pembagian) ekonomi untuk masyarakat yang
paling besar jumlahnya, tapi juga membantu meningkatkan spiritual dan menyebarkan
pesan dan ajaran islam seluas mungkin. Oleh sebab itu, dalam makalah ini akan dibahas
lebih lanjut mengenai kebijakan fiskal, dan apa-apa yang termasuk kedalam kebijakan
fiskal tersebut.
1.2.
1.
2.
3.
4.

RUMUSAN MASALAH
Bagaimana sistem kebijakan fiskal pada masa awal pemerintahan islam ?
Apa saja instumen sistem kebijakan fiskal pada masa awal pemerintahan islam ?
Apa saja sumber penerimaan negara pada masa awal pemerintahan islam ?
Apa saja sumber pengeluaran negara pada masa awal pemerintahan islam ?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. KEBIJAKAN FISKAL PADA AWAL PEMERINTAHAN ISLAM


Kebijakan fiskal di dalam dunia Islam dipenngaruhi oleh banyak faktor salah satunya
karena fiskal merupakan bagian dari instrumen ekonomi publik. Untuk itu faktor-faktor
seperti sosial, budaya dan politik inklud di dalamnya. Tantangan Rasulullah sangat besar
dimana beliau dihadapkan pada kehidupan yang tidak menentu baik dari kelompok internal
maupun kelompok eksternal. Kelompok internal yang harus diselesaikan oleh Rasulullah
yaitu bagaimana menyatukan antara kaum Anshor dan kaum Muhajirin pasca hijrah dari
mekah ke Madinaha (Yastrib). Sementara tantangan dari kelompok eksternal yaitu
bagaimana Rasul mampu mengimbangi rongrongan dan serbuan dari kaum kafir Kuraiys.
Akan tetapi Rasulullah mampu mengatasi berkat pertolongan Allah SWT.
Di sisi lain Rasulullah harus melakukan pembenahan di sektor ekonomi. Dalam kondisi
yang tidak menentu tersebut dimana kondisi alam yang tidak mendukung ditambah kondisi
ekonomi masyarakat yang masih lemah maka salah sumber daya alam yang bisa diandalkan
adalah pertanian. Sektor pertanian yang menjadi satu-satunya harapan tersebut terkelola
dengan cara-cara tradisional sehingga terkesan apa adanya.
Banyaknya problematika yang dihadapi oleh beliau tentunya diperlukan kejeniusan,
ketegaran dan kesabaran seorang pemimpin sehingga kebijakan yang dibuatnya bersifat
menguntungkan semua pihak. Di dalam sejarah Islam keuangan publik berkembang
bersamaan dengan pengembangan masyarakat Muslim dan pembentukan negara Islam oleh
Rasulullah Saw pasca hijrah, kemudian diteruskan oleh Khulafaul Rasyidun.
A. Masa Pemerintahan Rasulullah s.a.w
Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa tantangan yang dihadapi oleh
Rasulullah Saw sangat berat. Sebagai seorang perintis sebuah keberadaan negara Islam
tentunya dimulai dari serba nol. Mulai dari tatanan politik, kondisi ekonomi, sosial
maupun budaya semuanya ditata dari awal. Dari kondisi nol tersebut membutuhkan
jiwa seorang pejuang dan jiwa seorang yang ikhlas dalam menata sebuah rumah tangga
pemerintahan, menyatukan kelompok-kelpompok masyarakat yang sebelumnya
terkenal dengan perpecahan yang mana masing-masing kelompok menonjolkan
karakter

dan

budayanya.

Di

sisi

lain

Rasulullah

s.a.w.

harus

mengendalikan depresi yang dialami oleh kaum muslimin melaui strategi dakwahnya
agar ummat muslim mempunyai keteguhan hati (beriman) dalam berjuang, mentata
perekonomian yang carut marut dengan menyuruh kaum muslimin bekerja tanpa
pamrih dan lain sebagainya.
2

Upaya Rasulullah s.a.w dalam mencegah terjadinya perpecahan di kalangan kaum


muslimin maka beliau mempersatukan kaum Anhsor (sebagai tuan rumah) dengan
kaum Muhajirin (sebagai kelompok pendatang). Rasulullah menganjurkan agar kaum
Anshor yang notabene memiliki kekayaan dapat membantu saudara-saudaranya dari
kaum Muhajirin. Maka hasil dari upaya tersebut terjadilah akulturasi budaya antara
kaum Anshor dengan kaum Muhajirin sehingga kekuatan kaum Muslim bertambah.
Untuk mengantisipasi kondisi keamanan yang selalu mengancam maka
Rasulullah saw. mengeluarkan kebijakan bahwa daerah Madinah dipimpim oleh beliau
sendiri dengan sebuah sistem pemerintahan ala-Rasul. Dari kepemimpinan beliau maka
lahirlah berbagai macam kreativitas kebijakan yang dapat menguntungkan bagi kaum
muslim. Kebijakan utama beliau adalah membangun masjid sebagai pusat aktivitas
kaum muslimin. Istilah yang populernya penulis sebut dengan istilah Madinah
Muslims Center (MMC). Menurut Sabzwari[1], terdapat tujuh kebijakan yang dihasilkan
oleh Rasulullah sebagai kepala negara, diantaranya ialah :
1. Membangun masjid utama sebagai tempat untuk mengadakan forum bagi para
2.
3.
4.
5.
6.
7.

pengikutnya.
Merehabilitasi Muhajirin Mekkah di Madinah.
Meciptakan kedamaian dalam negara.
Mengeluarkan hak dan kewajiban bagi warga negaranya.
Membuat konstitusi negara.
Menyusun sistem pertahanan Madinah.
Meletakkan dasar-dasar sistem keuangan negara.
Namun yang paling utama dibangun oleh Rasulullah s.a.w. adalah masjid karena

dengan adanya masjid menandakan perjungan beliau tidak hanya berada pada tataran
duniawi saja akan tetapi berdimensi akhirat. Jika ini ditafsirkan dengan akal (tafsir bil
rayi) maka sesungguhnya terdapat sesuatu ajaran yang cukup dalam dimana
Rasulullah s.a.w. meletakkan dasar ideologi perjuangan yang selalu bergandengan
antara kepentingan dunia dengan kepentingan akhirat. Sebagai mediasinya adalah
dibangunlah masjid.
Perjuangan dalam tataran ideologi sudah dibenahi, maka rasulullah s.a.w.
melangkah pada tahap berikutnya yaitu dengan mereformasi bidang ekonomi dengan
berbagai macam kebijakan beliau. Seperti diulas panjang di atas bahwa kondisi
ekonomi dalam keadaan nol. Kas negara kosong, kondisi gegrafis tidak menguntungkan
dan aktivitas ekonomi berlajan secara tradisional. Melihat kondisi yang tidak menentu
seperti

ini

maka

Rasulullah

s.a.w. melakukan

upaya-upaya

yang

terkenal

dengan Kebijakan Fiskal beliau sebagai pemimpin di Madinah yaitu dengan


meletakkan dasar-dasar ekonomi.
2.2. KEBIJAKAN FISKAL PADA MASA RASULULLAH
Diantara kebijakan tersebut adalah:
a. Memfungsikan Baitul Maal[2]
Baitul maal sengaja dibentuk oleh Rasulullah s.a.w sebagai tempat
pengumpulan dana atau pusat pengumpulan kekayaan negara Islam yang
digunakan untuk pengeluaran tertentu. Karena pada awal pemerintahan Islam
sumber utama pendapatannya adalah Khums, zakat, kharaj, dan jizya (bagian ini
akan dijelaskan secara mendetail pada bagian komponen-komponen penerimaan
negara Islam).
Pendirian Baitul Maal ini masih banyak sumber yang berbeda pendapat, ada
yang mengatakan didirikan oleh Rasulullah s.a.w. dan ada sumber yang
mengatakan bahwa secara resmi baitul maal didirikan oleh Sayidina Umar ibn
Khaththab r.a. Di dalam buku Kebijakan Ekonomi Umar Bin Khaththab dikatakan
bahwa salah satu keberhasilan beliau adalah mampu mendirikan Baitul Maal[3].
Namun disisi lainsecara implisit fungsi akan Baitul Maal sudah dibentuk oleh
Rasulullah s.a.w terbukti dengan membangun masjid bersama kekayaan fungsi di
dalamnya (Muslims Centre). Akan tetapi secara eksplisit pendirian Baitul Maal
dilakukan oleh Khalifah Umar ibn Khaththab r.a. Kesimpulannya, tidak ada
perbedaan yang mendasar dari semua pendapat, hanya saja dikompromikan kapan
fungsi secara implisit dari Baiyul Maal dan kapan pendirian secara eksplisit.
Untuk itu fungsi dari Baitul Maal disini adalah sebagai mediasi kebiajakan
fiskal Rasulullah s.a.w. dari pendapat negara Islam hingga penyalurannya. Tidak
sampai

lama

harta

yang

mengendap

di

dalam

Baitul

Maal,

ketika

mendapatkannya maka langsung disalurkan kepada yang berhak menerimanya


yaitu kepada Rasul dan kerabatnya, prajurt, petugas Baitul Maal dan fakir miskin.
b) Pendapatan Nasional dan Partisipasi Kerja
Salah satu kebijakan Rasulullah s.a.w dalam pengaturan perekonomian
yaitu peningkatan pendaptan dan kesempatan kerja dengan mempekerjakan kaum
Muhajirin dan Anshor[4]. Upaya tersebut tentu saja menimbulkan mekanisme
distrubusi

pendapatan

dan

kekayaan

sehingga

meningkatkan

permintaan agregatterhadap output yang akan diproduksi. Disi lain Rasullah


4

membagikan tanah sebagai modal kerja. Kebijakan ini dilakukan oleh Rasulullah
s.a.w. karena kaum Muhajirin dan Anshor keahliannnya bertani dan hanya
pertanian satu-satunya pekerjaan yang menghasilkan. Kebijakan beliau sesuai
dengan teori basis, yaitu bahwa jika suatu negara atau daerah ingin ekonominya
maju maka jangan melupakan potensi basis yang ada di negara atau daerah
tersebut.
c) Kebijakan Pajak.
Kebijakan pajak ini adalah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah muslim
berdasarkan atas jenis dan jumlahnya (pajak proposional). Misalnya jika terkait
dengan pajak tanah, maka tergantung dari produktivitas dari tanah tersebut atau
juga bisa didasarkan atas zonenya.
d) Kebijakan Fiskal Berimbang
Untuk kasus ini pada masa pemerintahan Rasulullah s.a.w dengan metode
hanya mengalami sekali defisit neraca Anggaran Belanja yaitu setelah terjadinya
Fathul Makkah, namun kemudian kembali membaik (surplus) setelah perang
Hunain[5]
e) Kebijakan Fiskal Khusus
Kebijakan ini dikenakan dari sektor voulentair (sukarela) dengan cara
meminta bantuan Muslim kaya. Jalan yang ditempuh yaitu dengan memberikan
pijaman kepada orang-orang tertentu yang baru masuk Islam serta menerapkan
kebijakan insentif.

2.3. MASA PEMERINTAHAN KHULAFAUL RASYIDIN


Pada periode ini terbagi menjadi empat dekade sesuai dengan kekhalifhan pasca
meninggalnya Rasulullah saw yaitu :
a. Masa Kekhalifahan Abu Bakar As-Shiddiq r.a
Abu Bakar Ash-Shiddiq mendapat kepercayaan pertama dari kalangan
muslim untuk menggantikan posisi Rasulullah saw setelah beliau wafat. Konon
ada beberapa kreteria yang melekat pada diri Abu Bakar sehingga kaum muslimin
mempercayai puncak kepemimpinan Islam diantaranya adalah terdapat ketaatan
5

dan keimanan beliau yang luar biasa, faktor kesenioran diantara yang lain
sehingga wibawa menjadi penentu. Juga faktor kesetiaan dalam mengikuti dan
mendapingi Rasulullah dalam berdakwah menyadarkan kaum muslim bahwa
beliau memang pantas menjadi pengganti raululllah saw. Pemilihan tersebut
berlangsung secara alami tanpa ada interpensi dari Rasulullah saw.
Abu Bakar terkenal dengan keakuratan dan ketelitiannya dalam mengelola
dan menghitung zakat. Tebukti dengan ketelitian dan kehatia-hatiannya beliau
mengangkat seorang amil zakat yaitu Anas.
Pada awal kepemimpinannya beliau mengalami kesulitan di dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari sehingga dengan penuh keterbukaan
dan keterusterangan beliau mengatakan kepada ummatnya bahwa perdagangan
beliau tidak mencukupi untuk memenuhi kebtuhan keluarganya. Tentunya dengan
adanya beban sebagai kepala negara akan mengurangi aktivitas dagangnya karena
sibuk mengurus negara.
Kesulitan beliau diketahui oleh khalayak ramai terutama oleh Siti Aisyah
dan dengan kesepakatan bersama selama kepemimpinan beliau baitul maal
mengeluarkan kebutuhan khalifah Abu Bakar yaitu sebesar dua setengah atau dua
tiga perempat dirham setiap harinya dengan tambahan makanan berupa daging
domba dan pakaian biasa. Setelah berjalan beberapa waktu, ternyata tunjangan
tersebut kurang mencukupi sehingga ditetapkan 2.000 atau 2.500 dirham dan
menurut keterangan yang lain mencapai 6.000 dirham pertahun.
Namun yang menarik dari kepemimpinan beliau adalah ketika beliau
mendekati wafatnya, yaitu kebijakan internal dengan mengembalikan kekayaan
kepada negara karena melihat kondisi negara yang belum pulih dari krisis
ekonomi. Beliau lebih mementingkan kondisi rakyatnya dari pada kepentingan
inividu dan keluarganya. Gaji yang selama ini diambil dari baitul maal yang
ketika dikalkulasi berjumlah 8.000 dirham, mengganti dengan menjual sebagain
besar tanah yang dimikinya dan seluruh penjualannya diberikan untuk pendanaan
negara. Sikap tegas seperti ini belum kita temukan di negara kita tercinta ini.
Bahkan yang terjadi sebaliknya, yaitu dipenghujung jabatannya justru
mengeluarkan

kebijakan

yang

dapat

menguntungakan

dirinya.

Enggan

mempublikasi kekayaan pribadi ketika KPK memeriksanya.


Berkaitan dengan kebijakan fiskal masa kekhalifahan Abu Bakar yaitu
melanjutkan kebijakan-kebijakan yang telah diterapkan oleh Rasulullah saw.
6

Hanya ada beberapa kebijakan fiskal beliau yang cukup dominan dibandingkan
yang lain yaitu pemberlakuan kembali kewajiaban zakat setelah banyak yang
membangkangnya. Kebijakan berikutnya adalah selektif dan kehati-hatian dalam
pengelolaan

zakat

sehingga

tidak

ditemukan

penyimpangan

di

dalam

pengelolaannya.
b. Masa Kekhalifahan Umar Ibn Khaththab ra
Strategi yang dipakai oleh Amirul Mukminin Umar Ibn Khaththab adalah dengan
cara penanganan urusan kekayaan negara, di samping urusan pemerintahan.
Khalifah adalah penanggung jawab rakyat, sedangkan rakyat adalah sumber
pemasukan kekayaan negara yang manfaatnya kembali kepada mereka dalam
bentuk jasa dan fasilitas umum yang diberikan negara.
Apa yang telah diterapkan oleh Umar Ibn Khaththab pada masa dahulu adalah
serupa dengan apa yang diterapkan oleh pemerintahan Amerika sekarang, dimana
pemimpin negara langsung memeriksa kantor strategi pertahanan negara. Juga
kepala negara mengikuti proses restrukturisasi stabilitas umum dan program
ekonomi negara. Ia diberi kesempatan untuk memberi perhatian dan pengawasan
atas sirkulasi ekonomi[6]
Dalam sambutannya ketika diangkat menjadi khalifah, beliau mengumumkan
kebijakan ekonominya yang berkaitan dengan fiskal yang akan dijalankannya.
Dari pidato yang beliau sampaikan di hadapan khalayak ramai sebagai dasardasar beliau dalam menjalankan kepemimpinannya yang terkenal dengan
sebutan 3 dasar sebagai berikut[7]:
a. Negara Islam mengambil kekayaan umum dengan benar, dan tidak
mengambil hasil dari kharaj atau harta fai yang diberikan Allah kecuali
dengan mekanisme yang benar.
b. Negara memberikan hak atas kekayaan umum, dan tidak ada pengeluaran
kecuali sesuai dengan haknya; dan negara menambahkan subsidi serta
menutup hutang.
c. Negara tidak menerima harta kekayaan dari hasil yang kotor. Seorang
penguasa tidak mengambil harta umum kecuali seperti pemungutan harta
anak yatim. Jika dia berkecukupan, dia tidak mendapat bagian apapun.
Kalau dia membutuhkan maka dia memakai dengan jalan yang benar.
c. Masa Kekhalifahan Utsman Ibn Affan ra

Enam tahun pertama kepemimpinannya, Balkh, Kabul, Ghazani, Kerman


dan Sistan ditaklukkan. Untuk menata pendapatan baru, kebijakan khalifah
sebelumnya yaitu Umar diikuti. Tidak lama setelah negara-negara ditaklukkan,
kemudian tindakan efektif diterapkan dalam rangka mengembangkan sumber
daya alam. Aliran air digali, jalan dibangun, pepohonan ditanam serta kemanan
perdagangan diberikan dengan cara pembentukan organisasi kepolisian tetap.
Pada masa Usman tidak ada perubahan yang signifikan pada kondisi
ekonomi secara keseluruhan. Kebanyakan kebijakan ekonomi mengikuti khalifah
sebelumnya yang kebanyakan pakar mengatakan bahwa khalifah sebelumnya
(Umar) adalah sang reformis dalam bidang ekonomi.
d. Masa Kekhalifahan Ali Ibn Thalib r.a
Ali berkuasa selama lima tahun. Sejak awal kepemimpinannya, beliau
selalu mendapatkan rongrongan dari kelompok umat Islam sendiri yaitu kaum
khawarij serta peperangan berkepanjangan dengan kelompok Muawiyah yang
memproklamirkan dirinya sebagai penguasa yang independen di daerah Syiria
dan Mesir.
Untuk itu awal-awal kepemimpinan beliau adalah dengan sebuah kebijakan
membersihkan kalangan pejabat yang korup yang dilakukan sebelumnya. Maka
tidak sedikit pejabat sebelumnya yang dijebloskan ke dalam penjara. Salah satu
yang berhasil dijebloskan ke dalam penjara adalah Gubernur Ray dengan tuduhan
penggelapan uang.
Mengenai kebijakan fiskalnya, Ali tetap mengacu pada khalifah
sebelumnya. Bahkan kebijakan fiskal yang diterapkan oleh Umar banyak
diteruskan oleh Ali, bukan Ustman.
2.4. KOMPONEN-KOMPONEN KEBIJAKAN FISKAL DALAM ISLAM
Untuk sementara, mari kita ulas sedikit mengenai kebijakan fiskal di jaman
Rasulullah dan khulafaurrasyidin. Di dalam kebijakan fiskal di jaman Rasulullah s.a.w
dan khulafaurrasyidin penulis bagi menjadi dua yaitu kebijakan pemasukan yang
terbagi kenjadi dua yaitu pemasukan dari kaum muslim dan pemasukan dari
nonmuslim, kedua kebijakan pengeluaran kekayaan negara Islam. Terkesan asing saat
disebutkan pendapatan dari nonmuslim, akan tetapi pada zaman tersebut merupakan
konsekuensi logis dan berada pada taraf kewajaran. Seperti, kelompok kafir harus
membayar pajak kepada negara Islam sebagai bentuk perlindungan dan lain sebagainya.
8

1. Kebijakan Pemasukan dari Muslim


a. Zakat
Zakat adalah salah satu dari dasar ketetapan Islam yang menjadi
sumber utama pendapatan di dalam suatu pemerintahan Islam pada periode
klasik. Sebelum diwajibkan zakat bersifat suka rela dan belum ada
peraturan khusus atau ketentuan hukum. Peraturan mengenai pengeluaran
zakat muncul pada tahun ke sembilan hijriyah ketika dasar Islam telah
kokoh.
Pada masa Rasulullah, zakat dikenakan pada hal-hal sebagai
berikut[8]:

Benda logam yang terbuat dari emas seperti koin, perkakas, ornamen

atau dalam bentuk lain


Benda logam yang terbuat dari perak, seperti koin, perkakas, ornamen

atau dalam bentuk lainnya


Binatang ternak unta, sapi domba dan kambing
Berbagai jenis barang dagangan termasuk budak dan hewan
Hasil pertanian termasuk buah-buahan
Luqta, harta benda yang ditinggalkan musuh
Barang temuan.
Zakat emas dan perak ditentukan bedasarkan beratnya, binatang

ternak ditentukan berdasarkan jumlahnya, dan barang dagangan, bahan


tambang, danluqta ditentukan berdasarkan nilainya serta zakat hasil
pertanian dan buah-buahan ditentukan berdasarkan kuantitasnya.
b. Ushr
Ushr adalah bea impor yang dikenakan kepada semua pedagang
dimana pembayarannya hanya sekali dalam satu tahun dan hanya berlaku
terhadap barang yang nilainya lebih dari 200 dirham. Tingkat bea oragorang yang dilindungi adalah 5% dan pedagang muslim 2,5%. Hal ini juga
terjadi di Arab sebelum masa Islam, terutama di Mekkah, pusat
perdagangan terbesar. Yang menarik dari kebijakan Rasulullah adalah
dengan menghapuskan semua bea impor dengan tujuan agar perdagangan
lancar dan arus ekonomi dalam perdangan cepat mengalir sehingga
perekonomian di negara yang beliau pimpin menjadi lancar. Beliau
9

mengatakan bahwa barang-barang milik utusan dibebaskan dari bea impor


di wilayah muslim, bila sebelumya telah terjadi tukar menukar barang[9]
c. Wakaf
Wakaf adalah harta benda yang didedikasikan kepada umat Islam yang
disebabkan karena Allah SWT dan pendapatannya akan didepositokan di
baitul maal.
d. Amwal Fadhla
Amwal Fadhla berasal dari harta benda kaum muslimin yang
meninggal tanpa ahli waris, atau berasal dari barang-barang seorang muslim
yang meninggalkan negerinya.
e. Nawaib
Nawaib yaitu pajak yang jumlahnya cukup besar yang dibebankan
kepada kaum muslimin yang kaya dalam rangka menutupi pengeluaran
negara selama masa darurat dan ini pernah terjadi pada masa perang tabuk.
f. Zakat Fitrah
Zakat fitrah ini diwajibkan bagi kaum muslimin dalam satu tahun
sekali sebagai pembersih harta yang mereka miliki. Tepatnya pada bulan
ramadhan dan zakat fitrah ini hingga sekarang semakin menunjukkan
perkembangannya karena bersifat wajib.
g. Khumus
Khumus adalah karun/temuan. Khumus sudah berlaku pada periode
sebelum Islam.

h. Kafarat
Kafarat adalah denda atas kesalahan yang dilakukan seorang muslim
pada acara keagamaan seperti berburu di musim haji. Kafarat juga biasa
terjadi pada orang-orang muslim yang tidak sanggup melaksanakan
kewajiban seperti seorang yang sedang hamil dan tidak memungkin jika
melaksanakan puasa maka dikenai kafarat sebagai penggantinya.
2. Kebijakan Pemasukan dari nonmuslim
a. Jizyah

10

Jizyah adalah pajak yang dibayarkan oleh orang nonmuslim


khususnya ahli kitab sebagai jaminan perlindungan jiwa, properti, ibadah,
bebas dari nilai-nilai dan tidak wajib militer.
Pada masa Rasulullah s.a.w. besarnya jizyah satu dinar pertahun
untuk orang dewasa yang mampu membayarnya. Perempuan, anak-anak,
pengemis, pendeta, orang tua, penderita sakit jiwa dan semua yang
menderita penyakit dibebaskan dari kewajiban ini. Di antara ahli kitab yang
harus membayar pajak sejauh yang diketahui adalah orang-orang Najran
yang beragama Kristen pada Tahun keenam setelah Hijriyah. Orang-orang
Ailah,

Adhruh

dan

Adhriat

membayarnya

pada

perang

Tabuk.

Pembayarannya tidak harus berupa uang tunai, tetapi dapat juga berupa
barang atau jasa sepeti yang disebutkan Baladhuri dalam kitabnya Fhutuh
al-Buldan, ketika menjelaskan pernyataan lengkap perjanjian Rasulullah
s.a.w dengan orang-orang Najran yang dengan jelas dikatakan: ......Setelah
dinilai, dua ribu pakaian/garmen masing-masing bernilai satu aukiyah,
seribu garmen dikirim pada bulan Rajab tiap tahun, seribu lagi pada bulan
Safar tiap tahun. Tiap garmen berniali satu aukiyah, jadi bila ada yang
bernilai lebih atau kurang dari satu aukiyah, kelebihan atau kekurangannya
itu substitusi garmen harus diperhitungkan[10]
b. Kharaj
Kharaj adalah pajak tanah yang dipungut dari kaum nonmuslim ketika
khaibar ditaklukkan. Tanahnya diambil alih oleh orang muslim dan pemilik
lamanya menawarkan untuk mengolah tanah tersebut sebagai pengganti
sewa tanah dan bersedia memberikan sebagian hasil produksi kepada
negara. Jumlah kharaj dari tanah ini tetap yaitu setengah dari hasil produksi
yang diserahkan kepada negara. Rasulullah s.a.w biasanya mengirim orang
yang memiliki pengetahuan dalam maslah ini untuk memperkirakan jumlah
hasil produksi. Setelah mengurangi sepertiga sebagai kelebihan perkiraan,
dua pertiga bagian dibagikan dan mereka bebas memilih yaitu menerima
atau menolak pembagian tersebut. Prosedur yang sama juga diterapkan di
daerah lain. Kharaj ini menjadi sumber pendapatan yang peting.
Kharaj (tribute soil/pajak, upeti atas tanah) dan jizyah (tribute
capitis/ pajak kekayaan) kedunya juga terdapat pada zaman kekaisaran
Romawi dengan bentuk yang sama, dan merupakan fakta bahwa
11

pembayaran pajak umum diterapkan pada kekaisaran Sasanides dan Persia.


Kaum muslimin pada periode awal mengikuti pendahulunya dan keduanya
ditentukan sekedarnya sesuai prinsip keadilan. Penting untuk diketahui
bahwa nonmuslim hanya membayar tiga jenis pajak, sementara muslim
membayar lebih banyak lagi jenis pajak. Kharaj yang dibayar nonmuslim
sama

halnya

dengan

kaum

muslim

membayar Ushr dari

hasil

pertanian. Jizyah dibayar sebagai pajak untuk perlindungan sebagai


pengganti wajib militer bagi nonmuslim.
c. Ushr
Ushr adalah bea impor yang dikenakan kepada semua pedagang,
dibayar hanya sekali dalam setahun dan hanya berlaku terhadap barang
yang nilainya lebih dari 200 dirham. Tingkat bea orang-orang yang
dilindungi adalah 5% dan pedagang muslim 2,5%. Hal ini juga terjadi di
Arab sebelum masa Islam, terutama di Mekkah, pusat perdagangan terbesar.
Menurut

Hamidullah,

Rasulullah

s.a.w

berinisiatif

mempercepat

peningkatan perdagangan, walaupun menjadi beban pendapatan negara. Ia


menghapuskan semua bea masuk dan dalam banyak perjanjian dengan
berbagai suku menjelaskan hal tersebut. Ia mengatakan barang-barang
milik utusan dibebaskan dari bea impor di wilayah muslim, bila sebelumnya
telah terjadi tukar menukar barang.......
3. Kebijakan Pengeluaran
Kebijakan Pengeluaran pendapatan negara didistrubusikan langsung kepada
orang-orang yang berhak menerimanya. Di antara golongan yang berhak
menerima pendapatan (distribusi pendapatan) adalah berdasarkan atas kreteria
langsung dari Allah S.W.T yang tergambar di dalam al-Quran QS. (9:60)
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orangorang miskin, pengurus-pengurus zakat, para Mu'allaf yang dibujuk
hatinya,untuk (memerdekaan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah
dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang
diwajibkan Allah; Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Biajaksana. (QS.
9:60). Orang-orang yang berhak menerima harta zakat ini terkenal dengan
sebutan delapan asnab. Delapan asnab ini langsung mendapat rekomendasi dari
Allah S.W.T sehingga tidak ada yang bisa membatahnya. Ini artinya kreteria
12

dalam al-Qur;an terhadap orang-orang yang berhak mendapatkan atas kekayaan


negara lebih rinci dibandingkan dengan kreteria yang tetapkan oleh pemerintah
kita yang secara umum di-inklud-kan kepada orang-orang miskin saja.

BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Kebijakan fiskal telah dikenal dalam ekonomi Islam sejak zaman Rasulullah saw.
Kebijakan fiskal adalah kebijakan yang meliputi kegiatan penerimaan dan pengeluaran
negara yang digunakan pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi serta mendorong
pertumbuhan ekonomi. Tujuan yang ingin dicapai oleh kebijakan fiskal adalah kestabilan
ekonomi yang lebih mantap. Mengenai pendapatan negara, Allah telah menggariskan secara
tegas dalam al-Quran beberapa sumber yang boleh dipungut oleh Ulil Amri, misalnya: zakat,
13

Jizyah, fayi, ghanimah, kharaj, dan waqaf. Yang mana ada beberapa prinsip yang harus
ditaati oleh ulil amri dalam melaksanakan pemungutan pendapatan negara, yaitu sebagai
berikut:

Nash yang memerintahkannya


Harus ada pemisahan muslim dan non-muslim
Hanya golongan kaya yang menanggung beban
Adanya tuntutan kemaslahatan umum

DAFTAR PUSTAKA

Gusfahmi, Pajak, Menurut Syariah, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007.
Nasution. Mustafa Edwin, Pengenalan Ekslusif: Ekonomi Islam, Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, 2010.
Nuruddin Mhd. Ali, Zakat Sebagai Instrumen Dalam Kebijakan Fiskal, Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2006.

14

[1] Lihat M.A Sabwari, Sistem Ekonomi dan Fiskal Pada Masa Pemerintahan Nabi Muhammad s.a.w dalam
Adiwarman Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, 2002, Jakarta, halaman 20. pendapat yang sama juga
dapat dilihat pada Nazori Majid, Pemikiran Ekonomi Islam Abu Yusuf, Relevansinya dengan Ekonomi
Kekinian, 2003, Yogyakarta, halaman 173-174.
[2] Lihat Karnaen A Perwataatmajda, Sejarah Pemikiran Eonomi Islam Diktat Kuliah, Universitas Islam
Negeri SYAHID Jakarta, 2006, halaman 14. lihat juga pada Kadim As-Sadr Kebijakan Fiskal Pada Awal
Pemerintahan Islam, dalam Adiwarman Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Op. Cit. Halaman 74.
[3] Lihat Quthb Ibrahim Muhammad, Kebijakan Ekonomi Umar Bin Khaththab, Terjemahan, 2002, Jakarta,
halaman 23
[4] Nasori Majid. Op. Cit. halaman 223
[5] Op.Cit. halaman 224
[6] Said Ahmad, Al-Idarah Al-Maliyah, halaman 259
[7] Pidato beliau dikutif dari buku Quthb Ibrahim Muhammad; Kebijakan Ekonomi Umar Ibn Khaththab;
Ibid, halaman 34
[8] Lihat M.A. Sabzwari, dalam Karim; Op. Cit. halaman. 34
[9] Sabzwari. Op. Cit. halaman 32
[10] Sabzwari, dalam karnaen. Halaman 32

Lampiran Pertanyaan dan Jawaban :


1. Nama
: Nurul Irtiah Fajriati
Kelompok
: 11 (sebelas)
Pertanyaan : Jelaskan Apa Perbedaan Kebijakan Fiskal di masa
rasulullah
Jawaban

Dengan Kebijakan Fiskal di masa sekarang ?


: Perbedaan Kebijakan Fiskal di masa rasulullah
Dengan Kebijakan Fiskal di masa sekarang adalah :

Dari segi sumber pendapatan Negara:

15

Pada masa pemerintahan rasullah : Sumber Pendapatan Negara pada


pada masa itu terbagi dua yaitu penerimaan dari kaum muslim dan non
muslim

Penerimaan Negara dari kaum muslimin antara lain adalah : Zakat,


Infak, wakaf, Amwal Fadhla(Harta Orang Muslim tanpa ahli waris),
Nawaib(pajak Muslim), Zakat Fitrah(fitrah ini diwajibkan bagi kaum
muslimin

dalam

satu

tahun

sekali),

Khumus(karun/temuan),

Kafarat(Kafarat adalah denda atas kesalahan yang dilakukan seorang

muslim)
Penerimaan Negara dari kaum Non Muslim antara lain adalah : Jizyah
(Pajak Penghasilan), Kharaj(Pajak Tanah dan bangunan), Ushr(bea
Impor dan Perdagangan).
Sedangkan sumber pendapatan negara saat ini antara lain adalah :

Penerimaan perpajakan adalah semua penerimaan yang terdiri dari


pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional. Pajak
dalam negeri adalah semua penerimaan negara yang berasal dari
pajak penghasilan,pajak pertambahan nilai barang dan jasa,pajak
penjualan atas barang mewah,pajak bumi dan bangunan bea
perolehan hak atas tanah dan bangunan,cukai,dan pajak lainnya.
Pajak perdagangan internasional adalah semua penerimaan negara
yyang berasal dari bea masuk dan pajak/pungutan ekspor. hingga
saat

ini

struktur

pendapatan

negara

masih

didominasi

oleh

penerimaan perpajakan,teruttama penerimaan pajak dalam negeri

dari sektor nonmigas.


Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) adalah semua penerimaan
yang diterima oleh negara dalam bentuk penerimaan dari sumber
daya

alam,bagian

pemerintah

atas

laba

badan

usaha

milik

negara,serta penerimaan negara bukan pajak lainnya. Sebagai salah


satu sumber pendapatan negara, PNBP memiliki peran yang cukup
penting dalam menopang kebutuhan pendanaan anggaran dalam
APBN walaupun sangat rentan terhadap perkembangan berbagai
faktor eksternal. PNBP juga dipengaruhi oleh perubahan indikator
ekonomi makro,terutama nilai tukar dan harga minyak mentah di
16

pasar internasional. Hal ini terutama karena struktur PNBP masih


didomiinasi oleh penerimaan sumber daya alam (SDA), khususnya
yang berasal dari penerimaan minyak bumi dan gas alam (migas),
yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan nilai tukar rupiah, harga

minyak mentah,dan tingkat lifting minyak.


Penerimaan hibah adalah semua penerimaan negara yang berasal
dari sumbangan swasta dalam negeri serta sumbangan lembaga
swasta dan pemerintah luar negeri. Penerimaan hibah yang dicatat
didalam APBN merupakan suumbangan atau donasi (grant) dari
negara-negara asing,lemaga/badan nasional,serta perorangan yang
tidak

ada

kewajiban

untuk

membayar

kembali.Perkembangan

penerimaan negara yang berasal dari hibah ini dalam setiap tahun
anggaran bergantung pada komitmen dan kesediaan negara atau
lembaga donatur dalam memberikan donasi (bantuan) kepada
Pemerintah Indonesia.
Dari segi pengeluaran :
Pada masa rasullulah :

Kebijakan Pengeluaran pendapatan negara didistrubusikan langsung


kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Di antara golongan

yang berhak menerima pendapatan (distribusi pendapatan)


Membangun masjid utama sebagai tempat untuk mengadakan forum

bagi para pengikutnya.


Merehabilitasi Muhajirin Mekkah di Madinah.
Meciptakan kedamaian dalam negara.
Membiayayi Perang
Membangun Infrastruktuk
Anggaran belanja negara

Sedangkan pada masa sekarang :


-

Membiayayi Anggaran pendapatan dan belanja Negara (APBN)


Mengaji Pegawai Negeri Sipil
Membangun Infrastuktur seperti jalan, jembatan, dan fasilitas umum
lainnya.

17

2. Nama
Kelompok
Pertanyaan
Jawaban

:
:
:
:

Wis dwi yani


1 (Satu)
Jelaskan pembagian zakat ?
Pembangian Zakat antara Lain adalah :

Zakat terbagi kepada dua macam :


1. Zakat Mal (harta); yaitu harta kekayaan seseorang atau badan hukum
yang wajibdiberikan

kepada

orang

yang

berhak

menerimanya

(mustahiq) setelah mencapai jumlah minimal tertentu dan setelah


dimiliki selama jangka waktu tertentu pula.
2. Zakat Firtah (zakat badan ; yaitu zakat yang diwajibkan pada akhir
puasa Ramadhanbagi setiap muslim, baik anak kecil maupun orang
dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.
Sumber Zakat
Didalam al-quran, yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah harta benda
atau

kekayaan

QS:9.103.

Jenis-jenis

kekayaan

tersebut

dapat

dikelompokkan sebagai berikut :


a. Emas dan Perak.
b. Binatang Ternak.
c. Harta Perdagangan.
d. Hasil Tanaman dan Buah-buahan.
e. Harta Rikaz (Barang Galian) dan Madin.
f. Hasil Laut.
g. Harta Profesi.
h. Hasil Investasi
Penjelasan :
18

Zakat Emas dan Perak


1. Nishab dan besarnya zakat
Nishab emas adalah dua puluh dinar, dan nishab perak dua ratus
Dirham, sedangkan besar zakat keduanya adalah 2 %, sebagaimana
yang ditegaskan dalam riwayat berikut ini :
2. Zakat Perhiasan
Zakat perhiasan adalah wajib berdasar keumuman ayat dan haditshadits; dan orang yang mengeluarkannya dari keumuman tersebut sama
sekali tidak memiliki alasan yang kuat, bahkan banyak nash-nash yang
bersifat khusus yang bertalian dengan zakat perhiasan ini, di antaranya :

Zakat Tanaman dan Buah-buahan :


1. Besar zakat yang wajib dikeluarkan :
Tanaman yang dapat air dari sungai dan dari hujan, zakatnya 10%,
sedangkan yang diairi dengan bantuan binatang ternak 5%.(Shahih:
Shahihul Jamius Shaghir no:4271 Muslim II:675 no:981 dan lafadz ini
baginya, Aunul Mabud IV:486 no:1582, dan Nasai V:42).
2. Penentuan besar nishab dan zakat untuk kurma dan anggur secara
taksiran :
Dari Abu Humaid as-Saidi r.a. ia bertutur : Kami pernah ikut perang
Tabuk bersama Rasulullah saw., tatkala sampai di Wadil Qura, tibatiba ada seorang perempuan pemilik kebun tanga berada di
kebunnya, lalu beliau bersabda kepada para sahabatnya, Coba
kalian taksir (berapa besar zakat kebun ini! Rasulullah saw. (sendiri)
menaksir (besar zakatnya) 10 wasaq. Kemudian Rasulullah bersabda
kepada perempuan pemilik kebun itu, Coba kau hitung (lagi) berapa
19

zakat yang harus dikeluarkan darinya! Tatkala Rasulullah saw.


datang (lagi) ke Wadil Qura, Rasulullah bertanya kepada perempuan
itu, Berapa besar zakat yang dikeluarkan dari kebunmu itu?
Jawabnya, 10 wasaq sebagaimana yang diprediksi oleh Rasulullah
SAW. (Shahih: Shahih Abu Daud no: 2644, dan Fathul Bari III: 343 no:
1481).
Zakat Binatang Ternak :
Binatang ternak yang dimaksud disini terdiri atas unta, sapi, dan kambing.
1) Nishab zakat unta
Dari Abu Said al-Khudri r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, Onta
yang kurang dari lima ekor tidak dipungut zakat.
Zakat Barang Galian
Rikaz, barang galian ialah harta karun yang didapat tanpa niat
mencari harta terpendam dan tidak perlu bersusah payah. Zakat dari rikaz
ini harus segera dikeluarkan, tanpa dipersyaratkan haul (melewati
setahun) dan tidak pula nishab. Berdasarkan keumuman sabda Nabi
saw., Dalam barang rikaz itu ada zakat (yang harus dikeluarkan)
sebanyak seperlima bagian (20%).(Muttafaqun alaih: Fathul Bari III:364
no:1499, Muslim III:1334 no:1710, Tirmidzi II:77 no:637, Nasai IV:45 dan
Ibnu Majah II:839 no:2509 serta Aunul Mabud VIII:341 no:3069. Dalam
riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan dengan panjang
lebar, namun dalam riwayat selain keduanya hanya kalimat tersebut).

3. Nama
: Agus Salim
Kelompok
: 1 (Satu)
Pertanyaan : Jelaskan bagaimana

proses

pengambilan

anwal

fadilah ?

20

Jawaban

: Proses pengambilan anwal fadilah antara lain

adalah :
Jawaban ini berdasarkan analogi pemakalah dan dan berdasarkan
kebiasaan masyarakat muslim indonesia saat ini karena memang
literatur mengenai hal ini sangat terbatas .
Pertama, ketika seseorang muslim tersebut

sudah

dinyatakan

meninggal maka, para sahabat akan mencari tau siapa saja yang
menjadi ahli waris dari jenajah tersebut. Jika memang dinyatakan
tidak memiliki sanak saudara atau ahli waris lagi maka jenazah akan
diurus dan dilaksanakan fardu kifayahnya.
Kedua, setelah selesai fardu kifayah jenazah muslim tersebut maka
langkah selanjutnya adalah para sahabat dan warga sekitar akan
berunding dan kembali melakukan penelusuran tentang siapa saja
yang menjadi menjadi ahli waris jenazah tersebut. Jika memang
untuk kedua kalinya memang tidak ditemukan atau memang jenazah
tersebut memang tidak memiliki ahli waris. Maka para sahabat dan
warga akan menghitung berapa banyak harta yang dimiliki jenazah
tersebut.
Ketiga, para sahabat dan warga akan mengumumkan jumlah harta
jenazah tersebut dan mengummkan apakah almarum masih memiliki
hutang dan piutang kepada orang lain yang belum di bayar. Bagi
warga yang memerasa memiliki hutang atau piutang kepada si
jenazah ini maka akan di beri waktu tiga hari untuk menyelasikannya.
Keempat,

setelah

hutang

telah

dibayar

dan

piutang

sudah

dikembalikan, selanjutnya warga yang mengurus jenazah tersebut


akan mengurangi harta dengan pengeluaran-pengluaran seperti
biaya kain kafan, biaya pengumburan dan lain-lain. Dan sisanya akan
di masukkan ke baitulmall yaitu kas negara untuk diberikan kepada
orang yang berhak menerimanya atau untuk pembngunan yang
bertujuan untuk kemaslahatan umat.
4. Nama
Kelompok

: Lasmi yhulis
: 12 (dua belas)
21

Pertanyaan : Mengenai kebijakan fiskal berimbang pad masa


Rasulullah saw hanya sekali mengalami defisit anggaran yaitu
setelah terjadinya fathu makkah dan kembali surplus setelah perang
hunain. Apa yang dimaksud dengan fathu makkah dan Perang hunain
?
Dan Mengapa terjadi defisit saat terjadinya fathu makkah dan
kembali surplus setelah perang hunain?
Jawaban
:
Pembebasan Mekkah (Fathu Makkah) merupakan
peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10
Ramadan 8 H, di mana Nabi Muhammad SAWbeserta 10.000 pasukan
bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai
Mekkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikitpun,
sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan
sekitar Ka'bah. Dan
Pertempuran
Hunain adalah pertempuran antara Muhammad dan
pengikutnya melawan kaum Badui dari suku Hawazin dan Tsaqif pada
tahun

630

atau

H,

di

sebuah

pada

salah

satu

jalan

dari Mekkah keThaif. Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan


telak bagi kaum Muslimin, yang juga berhasil memperoleh rampasan
perang yang banyak.
Saat terjadi fathu mekkah umat muslim banyak memnghabiskan
biaya yang besar untuk membiayai perang dan terjadi defisit di
karenakan umat muslim mengalami banyak kerugian akibat perang
dan butuh beradaptasi dengan lingkungan serta kondisi yang baru di
mekah pasca perang. Meski begitu setelah terjadi perang hunain
umat muslim mengalami surplus dikarnakan umat muslim saat itu
menang perang melawan kaum Badui dari suku Hawazin dan Tsaqif.
Saat itu banyak dari pihak musuh yang terbuhun dan meninggalkan
harta rampasan perang yang menjadikan keadaan ekonomi umat
muslim saat itu jadi surplus kembali parsa perang hunain.

22

Anda mungkin juga menyukai