Anda di halaman 1dari 2

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) telah menyetujui enam poinpaket kebijakan

ekonomi yang diajukan oleh beberapa menteri dalam Kabinet Kerjanya.


Jumlah tersebut bertambah setelah terahir pemerintah telah memangkas paket
kebijakannya menjadi empat poin saja.
Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Sofyan Djalil mengungkapkan, enam paket
kebijakan tersebut setelah disetujui oleh Jokowi. Paket kebijakan ekonomi itu akan
diwujudkan dalam Peraturan Pemerintah untuk selanjutnya langsung ditandatangani
oleh Presiden.
"Jadi setelah ini seminggu ke depan akan diproses PP nya. Untuk kemudian akan
berlaku setelah satu bulan ditandatangani," kata Sofyan di Istana Kepresidenan,
Senin (16/3/2015).
Adapun enam paket kebijakan tersebut adalah :
1. Tax allowance, untuk perusahaan yang mampu melakukan reinvestasi dengan
hasil dividen. Perusahaan yang mampu ciptakan lapangan kerja dan perusahaan
yang berorientasi dan perusahaan yang investasi di research and development.
Kemudian setelah itu juga pemerintah berlakukan insentif PPn untuk industri
galangan kapal.
2. Kebijakan tentang Bea masuk anti dumping sementara dan bea masuk tindak
pengamanan sementara thd produk impor yang unfair trade. Poin ini dalam rangka
melindungi industri dalam negeri.
3. Pemerintah memberikan bebas visa kunjungan singkat kepada wisatawan.
Pemerintah putuskan bebas visa kepada 30 negara baru. Setelah Perpres jalan
yang diperkirakan bulan depan, akan menjadi 45 negara ke RI untuk turis tanpa visa.
4. Kewajiban penggunaan biofuel sampai 15 persen dengan tujuan mengurangi
impor solar cukup besar.
5. Penerapan LC (Letter of Credit) untuk produk SDA, seperti produk tambang,
batubara, migas dan cpo. Intinya dengan ini pemerintah ingin tidak ada distorsi.
"Jadi jangan khawatir kontrak long term, karena LC terus diputus kontraknya dan
harga turun, itu tidak akan terjadi, kalau bisa dibuktikan sebagai kontrak longterm
maka akan diberikan pengecualian," papar Sofyan.

6. Restrukturisasi perusahaan reasuransi domestik. Pemerintah sudah mulai dengan


perkenalan reasuransi BUMN. Jadi dari 2 perusahaan, menjadi 1 perusahaan
nasional. (Yas/Ahm)