Anda di halaman 1dari 9

BRIKET BATUBARA: Makin Dikenal, Makin Disayang

Batubara Sebagai Sumber Energi Utama


Batubara, sebagai bahan bakar yang kaya zat karbon, merupakan komponen yang sangat
penting didalam energy mix di banyak negara. Amerika Serikat, sebagai contoh,
menggunakan batubara lebih dari 52% untuk menghasilkan tenaga listriknya, dan menjadikan
batubara sebagai bahan bakar utama bagi industri besar yang menggunakan panas tinggi
dalam jumlah banyak (heat-intesive industries) seperti industri peleburan baja, semen, dan
lain-lain. Negara-negara lain seperti China, Australia, Ceko, dan Yunani, lebih dari 70%
tenaga listriknya dihasilkan dari pembakaran batu bara. Bahkan Polandia dan Afrika Selatan
mencapai 95%. Indonesia sendiri, yang memiliki cadangan batu bara cukup besar (lebih dari
57,8 miliar ton), hanya memanfaatkan batubara sekitar 40% (setara 28 juta ton pertahun)
untuk keperluan pembangkit listrik. Sebagai bahan bakar primer, persentasi penggunaan
batubara lebih kecil lagi, yakni sekitar 32 juta ton pertahun, atau 15% dari total energy-mix
nasional.
Peran batubara yang semakin strategis, pada dasarnya tidak terlepas dari kondisi minyak
bumi yang tidak menentu. Ketidakstabilan politik di negara-negara penghasil minyak
(baca: Timur Tengah), baik akibat internal maupun intervensi dari luar, serta cadangan yang
terus menipis dan permintaan yang terus meningkat, telah mendorong banyak negara untuk
mencari energi lain di luar minyak bumi. Dan jadilah batu bara sebagai sumber energi pilihan
utama yang diharapkan mampu menggantikan posisi minyak bumi. Tidak terlalu sulit diutakutik karena, baik minyak bumi maupun batu bara, berasal dari sumber yang sama, yakni
karbon (C); minyak bumi berupa karbon cair, sedangkan batu bara merupakan karbon padat.
Sudah barang tentu penggunaan batubara sebagai bahan bakar padat membutuhkan sentuhan
teknologi sehingga mampu berfungsi sejajar dengan minyak bumi. Terkait dengan hal ini,
pemerintah Amerika Serikat telah menyiapkan anggaran sekitar $200 juta terhitung tahun
2002 hingga 10 tahun ke depan, yang akan digunakan bagi keperluan penelitian dan
pengembangan (litbang) teknologi batu bara bersih (clean coal technology) agar mampu
menciptakan sumber energi yang bersih, aman, terjangkau, dan berkesinambungan. Suatu
bukti, dan juga keseriusan negara adidaya, bahwa racun yang ada pada batu bara diyakini
dapat dihilangkan, dan menjadikan batu bara sebagai sumber energi yang andal.
Bagaimana dengan Indonesia?
Briket Batubara Sebagai Bahan Bakar Alternatif
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) melalui Blueprint Pengelolaan
Energi Nasional 2005-2025, telah menata kembali energy-mix nasional dengan
menempatkan batu bara sebagai salah satu sumber energi andalan. Jika peran batubara hanya
14% pada tahun 2005, maka akan dinaikkan menjadi 33% pada tahun 2025. Sebaliknya,
peran BBM diturunkan dari 54% (2005) menjadi 33% (2025). Peningkatan peran batu bara
dalam energy-mix bukan impelementasi dari sikap panik pemerintah akibat harga minyak
bumi dunia yang tidak wajar, tetapi justru merupakan langkah antisipasi agar tidak terjadi
krisis energi menyusul cadangan minyak bumi kita yang makin menipis. Kenaikan harga
minyak bumi dunia, boleh jadi, telah memicu percepatan untuk memperbaiki energy-mix
yang dirasakan timpang, namun yang paling penting adalah, bahwa negeri ini memiliki
sumber daya batu bara dalam jumlah besar (57,8 miliar ton). Sungguh mubazir jika sumber

daya batu bara ini tidak dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber energi, atau kita cukup
puas batu bara hanya dijadikan komoditi ekspor untuk memperoleh devisa?!
Sebagai sumber energi, batu bara dapat direkayasa dalam berbagai bentuk atau penggunaan.
Ia dapat diubah menjadi cair melalui pencairan (liquefaction), gas melalui gasifikasi, atau
sesuai dengan aslinya (padat). Ia juga dapat digunakan secara langsung atau melalui proses
pengemasan. Semua rekayasa ini tercipta melalui teknologi yang beraneka ragam, mulai dari
yang paling sederhana sampai moderen, serta telah bersifat komersil di hampir seluruh
penjuru dunia. Dan salah satu dari sekian banyak komersialisasi batu bara yang menggunakan
teknologi sederhana adalah pengemasan batu bara, atau lebih dikenal dengan sebutan briket
batu bara.
Briket batu bara telah digunakan sejak awal tahun 80-an di beberapa negara, seperti China
dan Korea Selatan. Indonesia sendiri mulai mengenal briket batu bara pada tahun 1993.
Namun karena waktu itu harga minyak tanah sebagai kompetitor briket batu bara masih
rendah karena disubsidi, maka gaung briket batu bara pun hanya seumur jagung. Kini,
seiring dengan harga minyak tanah yang mahal, maka ide penggunaan briket batu bara di
tanah air muncul kembali. Bahkan pemerintah telah merencanakan untuk membuat 10 juta
tungku (anglo) briket batubara guna membantu masyarakat miskin yang tidak mampu
membeli minyak tanah. Suara-suara kontra pun merebak; selain dianggap sebagai buangbuang uang karena mungkin akan bernasib sama seperti di zaman pemerintahan orde baru,
polusi udara akibat pembakaran briket batu bara ternyata telah membahayakan kesehatan
manusia, bahkan, di China, telah menelan banyak korban jiwa (Kompas, 15 Oktober 2005).
Menggeneralisasi bahwa setiap pembakaran briket batu bara berbahaya bahkan membuat
nyawa melayang, perlu diklarifikasi karena dapat menyesatkan. Hal ini disebabkan oleh;
Pertama, fakta menunjukkan, setiap pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu
bara) pasti akan menimbulkan emisi berupa gas seperti CO, CO2, NOx, SOx dan lain-lain.
Emisi seperti ini bukan hanya berasal dari pembakaran batu bara, tetapi juga dari gas buang
kendaraan bermotor. Untuk mengatasinya atau, paling tidak, menguranginya banyak cara
yang bisa dilakukan. Cara yang paling efektif adalah dengan mengatur dan membuat sistem
pembakar sedemikian hingga menghasilkan pembakaran yang sempurna. Pembakaran yang
sempurna, selain mengurangi emisi secara signifikan, juga akan membuat kinerja dan
efesiensi penggunaan energi menjadi optimal. Kita melihat bagaimana kendaraan dengan
asap buang yang tebal pasti tidak bertenaga dan boros bahan bakar; demikian pula kompor
minyak tanah yang berasap akan lama memasak dan boros jika dibandingkan dengan kompor
yang bernyala api biru. Nyala api berwarna biru menunjukan pembakaran yang lebih
sempurna. Penggunaan batu bara secara umum, dan briket batu bara, tidak terlepas dari
fenomena tersebut. Dengan pembakaran sempurna, selain menghasilkan kinerja yang
optimal, emisi gas juga akan berkurang secara signifikan karena sebagian besar dari emisi
tersebut ikut terbakar.
Kedua, berbahaya-tidaknya pembakaran briket batu bara tergantung pada tiga faktor utama,
yaitu bahan baku (berupa batu bara), bahan imbuhan untuk perekat dan penyaring emisi, serta
kondisi tempat di mana briket batu bara dibakar. Sejauh ini hasil penelitian yang dilakukan
Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA), Departemen Energi dan Sumber
Daya Mineral menunjukkan, batu bara Indonesia sebagai bahan baku briket batu bara
memiliki kadar sulfur dan abu yang rendah, masing-masing di bawah 1% (sulfur) dan 20%
(abu). Sementara itu, dengan diperkenalkannya bio-briket batu bara, yang memakai bahan
imbuhan berupa biomassa, emisi gas beracun ternyata dapat diminimalkan atau bahkan
mendekati nol. Adapun pengaruh kondisi tempat pembakaran briket batu bara sangat

tergantung sampai sejauh mana ventilasi ruangannya; semakin udara dapat bersikulasi dengan
baik, semakin aman pembakaran briket batu bara digunakan di ruangan.
Pembuatan Briket Batubara
Tujuan utama pembriketan batu bara adalah untuk membuat bahan bakar padat serbaguna
dari batu bara dengan kemasan dan komposisi yang lebih baik agar mudah dan nyaman
digunakan jika dibandingkan dengan menggunakan batu bara secara langsung. Untuk
memperoleh briket batu bara yang baik diperlukan batu bara yang baik, terutama yang
memiliki kandungan sulfur dan abu rendah. Bahan imbuhan juga harus dipilih dari kualitas
yang baik agar dapat berfungsi optimal sebagai perekat, mempercepat nyala, serta menyerap
emisi dan zat-zat berbahaya lainnya. Batu bara dan bahan imbuhan (pencampur) ini
dihaluskan secara sendiri-sendiri sampai ukuran tertentu, dicampurkan dengan memakai
pencampur (mixer) mekanis, untuk kemudian dicetak (dibriket) ke dalam bentuk kemasan
tertentu. Inilah yang namanya briket batu bara.
Dari proses sederhana tersebut, terlihat bahwa makin baik bahan baku yang digunakan, makin
baik pula kualitas briket batu bara yang dihasilkan. Batu bara dengan kadar pengotor yang
rendah akan menghasilkan emisi yang rendah pula. Sementara bahan imbuhan yang
digunakan biasanya berupa kapur (lime) yang dapat mengikat senyawa beracun, biomasa
untuk mempercepat/memudahkan proses pembakaran dan menyerap emisi, serta lempung,
kanji atau tetes tebu (molase) sebagai zat perekat.
Ada tiga jenis briket batubara yang berbeda-beda komposisinya, yaitu :
1. Briket batubara biasa, campuran berupa batu bara mentah dan zat perekat (biasanya
lempung). Sangat sederhana dan biasanya berkualitas rendah.
2. Briket batubara terkarbonisasi, batu bara yang digunakan dikarbonisasi (carbonised)
terlebih dulu dengan cara membakarnya pada suhu tertentu sehingga sebagian besar
zat pengotor, terutama zat terbang (volatile matters) hilang. Dengan bahan perekat
yang baik, briket batu bara yang dihasilkan akan menjadi sangat baik dan rendah
emisinya.
3. Briket bio-batu bara, atau dikenal dengan bio-briket, selain kapur dan zat perekat, ke
dalam campuran ditambahkan bio-masa sebagai substansi untuk mengurangi emisi
dan mempercepat pembakaran. Bio-masa yang biasanya digunakan berasal dari ampas
industri agro (seperti bagas tebu, ampas kelapa sawit, sekam padi, dan lain-lain) atau
serbuk gergaji.
Bentuk dan ukuran briket batubara hasil cetakan (kemasan) dibuat sesuai untuk keperluan
sektor pengguna. Saat ini telah dikembangkan dua bentuk briket batu bara, yaitu tipe bantal
(telor) yang padat dan kompak dengan ukuran 30 s/d 60 mm, dan tipe sarang tawon
(berongga) dengan ukuran lebih besar (mencapai 15 cm). Kedua bentuk dibuat untuk
memudahkan pemakaian dan memperoleh efisiensi pembakaran. Tipe bantal berukuran kecil
cocok digunakan untuk rumahtangga (memasak), dan yang berukuran lebih besar baik untuk
industri. Tipe sarang tawon juga dirancang untuk industri dan memerlukan kompor atau
tungku yang khusus.
Tungku briket batubara

Rancangan tungku pada dasarnya dibuat untuk mencapai efesiensi pembakaran yang tinggi
serta, tak kalah pentingnya, untuk menekan emisi gas yang dihaslkan. Jenis tungku sangat
bergantung pada sektor penggunanya. Tungku untuk industri berukuran lebih besar daripada
tungku untuk rumah tangga. Rata-rata tungku untuk industri memiliki kapasitas briket batu
bara 5 10 kg, sedangkan untuk rumah tangga hanya 1 2 kg.

Jenis tungku yang sudah banyak beredar di pasaran saat ini terbuat dari bahan tembikar
(tanah liat); selain murah, juga mempunyai efisiensi antara 31 33 % dan sudah terbukti
keandalannya, terutama dalam menekan laju emisi. Jenis tungku ini dilengkapi dengan
penutup pengurang emisi (PPE).
Untuk memperoleh suhu yang sesuai dengan kebutuhan produksi, tungku untuk industri
biasanya dilengkapi dengan blower.
Kinerja briket batubara (komposisi dan tungku)
Kinerja (performance) adalah karakteristik pembakaran yang ditentukan oleh faktor waktu,
suhu, dan kualitas udara pembakaran. Karakteristik pembakaran briket batu bara dipengaruhi
oleh jumlah briket batu bara yang dibakar dan jenis tungku yang digunakan. Satu kilogram
briket batu bara dengan efisiensi tungku 31 33%, mempunyai efektivitas panas 1,5 2 jam
dengan kisaran suhu 300 5000 C. Untuk 2 kg briket batu bara, lamanya waktu pembakaran
antara 2,5 3 jam dengan kisaran suhu 400 6000 C. Hitung-hitungan ini mengindikasikan,
briket batu bara akan efektif dan efisien jika digunakan lebih dari 2 jam. Hal ini selain karena
faktor suhu yang akan dicapai lebih baik, juga disebabkan faktor kesulitan tertentu. Faktor
kesulitan dimaksud adalah, bahwa sekali briket batu bara dibakar, maka harus digunakan
sampai habis karena ia sulit dipadamkan atau dihidupkan kembali.

Jika dibandingkan dengan minyak tanah, penggunaan 1 kg briket batu bara setara dengan 0,6
liter minyak tanah, atau disebut 60% perliter minyak tanah.
Bagi industri kecil yang memerlukan panas dalam waktu lama, penggunaan briket batu bara
cukup ekonomis. Lain halnya dengan sektor rumah tangga (baca: memasak), penggunaan
briket batu bara tidak semudah dan senyaman kompor minyak tanah, apalagi kompor gas. Di
samping perlu waktu (5-10 menit, tergantung kualitas briket batu bara) untuk menyulutnya,
setelah menyala pun besar api agak sulit diatur. Belum lagi memperhitungkan
ketidaknyamanan yang pasti muncul karena berbagai faktor. Inilah konsekuensi yang harus
kita terima jika menggunakan bahan bakar padat seperti briket batu bara. Banyak kalangan
yang menanyakan, mungkinkah briket batu bara senyaman minyak tanah? Secara teknologi
jawabannya mungkin, dan pasti bisa! Namun harga briket batu baranya menjadi lebih mahal
daripada harga minyak tanah, sehingga misi penggunaan briket batu bara sebagai alternatif
pengganti minyak tanah (baca: harga yang lebih murah) menjadi tidak tercapai.
Dampak lingkungan pembakaran briket batubara
Nilai startegis dan ekonomis pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar sering terkendala
oleh dampak lingkungan yang berasal dari emisi dan sisa pembakaran, yang langsung
maupun tidak langsung berpengaruh kepada kesehatan manusia. Selain itu, pembakaran batu
bara dengan jumlah yang sangat banyak akan mempengaruhi kondisi lingkungan, antara lain
berupa gas rumah kaca seperti CO2 dan lain-lain.
Secara umum polutan yang timbul akibat pembakaran batubara antara lain patikel halus,
belerang dan NOx, trace elements (seperti flourine, selenium, dan arsen), serta bahan-bahan
organik yang tidak terbakar secara sempurna . Unsur-unsur ini terbentuk pada saat
pembentukan endapan batu bara sebagai proses alam. Dengan demikian sederhana, untuk
mendapatkan kondisi pembakaran yang bersih, semua zat pengotor tersebut harus
ditiadakan, paling tidak, dicegah agar tidak merebak menjadi polutan yang teremisikan.
Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi lingkungan akibat dari pembakaran briket
batubara, yaitu:

Pertama, jenis bahan baku (batubara) dan bahan imbuhan yang digunakan harus
menggunakan bahan yang bersih dari polutan. Semakin baik bahan yang digunakan, semakin
sedikit emisi yang ditimbulkan. Emisi berbahaya, seperti gas SOx dan Nox, pada dasarnya
ditimbulkan dari batubara dengan kadar pengotor yang tinggi. Bahan perekat yang berasal
dari lempung harus dipilih dari jenis lempung yang tidak mengandung zat-zat berbahaya.
Penelitian Badan Geologi Amerika Serikat (USGS, United State of Geological Survey)
menunjukan bahwa sebagian masyarakat di provinsi Guizhou (China) yang keracunan arsenik
karena mengkonsumsi merica yang dimasak oleh batu bara berkadar arsen sangat tinggi.
Demikian pula hampir 10 juta masyarakat dari provinsi yang sama terkena penyakit tulang
dan gigi (kropos) akibat memakan jagung yang dikeringkan oleh briket batu bara dengan
lempung perekat berkadar flourine tinggi. Beruntung, batu bara Indonesia pada umumnya
memiliki kadar belerang yang sangat rendah (< 1%). Dengan proses karbonisasi awal, akan
membantu pembuatan briket yang ramah lingkungan. Hasil penelitian tekMIRA
menunjukkan, briket bio-batubara yang diberi imbuhan kapur mampu menekan emisi sampai
50%.
Kedua, tungku atau kompor yang digunakan hendaknya mampu memfasiltasi pembakaran
yang sempurna; artinya, dapat menyeimbangkan aliran udara (oksigen) dengan baik. Tungku
dengan Penutup Pengurang Emisi (PPE) yang dikembangkan oleh tekMIRA ternyata sangat
membantu mengurangi emisi secara signifikan.
Ketiga, ruangan (dapur) tempat memasak hendaknya mempunyai ventilasi yang baik; artinya,
udara segar dapat bersirkulasi dengan cepat. Kondisi ini akan sangat membantu menghindari
dampak langsung dari polusi kepada kesehatan pemasak.
Dengan memperhatikan ketiga faktor di atas, secara teoritis dapat dihindari berbagai dampak
negatif atas penggunaan briket batubara. Dari pengukuran emisi (SOx, NOx, dan CO) yang
dilakukan tekMIRA, diperoleh kesimpulan bahwa penggunaan briket batu bara (yang
terpilih) secara umum masih aman dengan kadar emisi masih jauh di bawah ambang batas
yang diperkenankan oleh Kementerian Lingkungan Hidup.

Pembakaran briket batubara, pada menit-menit pertama diawali pembakaran (biasanya masih
berasap) kadar CO yang mencapai 1000 ppm, SOx 250 ppm, dan NOx mencapai 100 ppm.
Selang 10 menit kemudian (terutama jika terjadi pembakaran sempurna) emisi ini boleh

dikatakan sudah tidak terdeteksi. Kondisi yang terbaik tercapai jika menggunakan tungku
dengan PPE dan dapur mempunyai ventilasi yang baik.

Penutup
Tak dapat dipungkiri bahwa briket batubara merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi
permasalahan seputar penggunaan energi murah bagi industri kecil dan rumah tangga. Bahwa
masih ada masalah yang harus diselesaikan terkait dengan dampak terhadap lingkungan
dan kesehatan manusia, selain tidak dapat digeneralisasi berlaku untuk semua briket batu bara
di seluruh dunia, yang paling penting banyak cara untuk mengatasinya. Persoalannya terletak
kepada keterbukaan kita untuk menerima fakta tentang hal-hal yang menguntungkan dan
merugikan dalam penggunaan briket batubara. Regulasi yang antara lain memuat spesifikasi
teknis briket batubara, dipastikan akan memberikan rasa aman kepada masyarakat dalam
penggunaan briket batubara. Suatu saat masyarakat pengguna toh dapat memilih sendiri jenis
briket batu bara apa yang paling baik bagi dirinya.
Sekarang kita berada pada tahap harus memilih energi di luar BBM, karena kondisi BBM
sudah semakin menipis dan mahal. Kita telah berbuat sesuatu, dan sesuatu itu antara lain
berupa briket batubara. Mungkin masih ada kekurangan, tetapi kekurangan tersebut terus
diupayakan sampai ke tingkat minimal, bahkan, jika mungkin, berada pada titik nol sehingga
penggunaan briket batu bara betul-betul aman. Namun satu hal tidak dapat dipungkiri,
penggunaan batubara untuk keperluan pembakaran langsung sebagai pengganti BBM sangat
membantu kita dalam penghematan BBM, yang pada akhirnya diharapkan mampu membantu
mengurangi beban pengadaan BBM secara Nasional.

Peluang Laba dari Briket Batu Bara


Kebijakan pemerintah dalam konversi energi dari minyak tanah ke elpiji rupanya telah membuka peluang
kreativitas masyarakat. Apalagi setelah banyaknya terjadi kasus tabung gas yang meledak. Selain itu,
masyarakat pedesaan umumnya belum terbiasa dengan budaya baru, yakni memasak dengan gas.

Karena itulah, di tengah beberapa kendala


konversi energi, muncul peluang bisnis yang menguntungkan, yaitu produksi briket batu bara. Batu bara adalah
mineral organik yang dapat terbakar dan terbentuk dari sisa tumbuhan purba yang mengendap di dalam tanah
selama jutaan tahun. Endapan tersebut selanjutnya berubah bentuk akibat proses fisika dan kimia yang
berlangsung selama jutaan tahun.
Ada beberapa alasan yang membuat bisnis briket batu bara menjadi usaha yang menjanjikan. Bahan dasar
utamanya, yakni baru bara, saat ini tersedia cadangan yang cukup besar dan mudah diperoleh. Berdasarkan data
Departemen ESDM, sumber daya batu bara Indonesia mencapai 65,4 miliar ton, dan cadangannya mencapai 12
miliar ton. Harganya pun relatif lebih stabil dan murah. Kelebihan lainnya yaitu produsen tidak perlu takut
menyimpannya dalam waktu lama, karena ia tak berpotensi meledak. Batu bara aman untuk ditransportasikan
dan disimpan dengan cara ditumpuk. Batu bara tidak banyak terpengaruh oleh cuaca dan hujan. Sifatnya yang
stabil itu mengurangi risiko kerusakan, sehingga mengurangi risiko kebangkrutan usaha.
Sesuai karakteristiknya, briket batu bara akan menyala sampai habis. Dalam menggunakannya, briket dapat
dipecah-pecah sesuai kebutuhan. Konsumen bisa mengukur jumlah batu bara yang akan dipakai sesuai
kebutuhan. Jika Anda hanya ingin menghangatkan sayur, Anda tidak perlu menggunakan briket sebanyak untuk
menanak nasi.
Saat ini kebutuhan masyarakat akan energi yang murah dan efisien semakin meningkat. Pasar briket batu bara
dalam negeri berpotensi mendatangkan keuntungan besar. Target konsumennya terutama adalah kelompok
industri kecil dan menengah.
Pembuatan dan penjualan briket batu bara
Ada beberapa bahan untuk membuat briket batu bara. Bahan utama pembuatan briket batu bara tentu saja batu
bara. Ada dua jenis batu bara, yakni batu bara muda dan batu bara tua. Batu bara muda mutunya rendah karena
kandungan energinya rendah. Sedangkan batu bara tua mutunya lebih baik karena kandungan karbon dan
kalorinya tinggi, sehingga energinya juga besar.
Dalam sebuah briket batu bara, semakin banyak komposisi batu baranya, pembakaran yang dihasilkan akan
semakin panas dan semakin lama. Namun Anda juga perlu memerhatikan nilai kalorinya. Nilai kalori batu bara
akan rendah jika di dalamnya terkandung banyak air. Batu bara semacam ini biasanya susah dinyalakan dan
lebih banyak asapnya. Cara menanganinya adalah dengan mengeringkannya untuk mengurangi kadar air.
Bahan pembuat selanjutnya mencampur batu bara dengan biomassa (serbuk kayu keras). Biomassa berguna
sebagai bahan untuk mempercepat dan mempermudah proses pembakaran. Semakin banyak komposisi
biomassanya, maka briket akan semakin mudah terbakar dan semakin cepat mencapai suhu maksimal.
Untuk membuat briket batu bara yang kuat, bahan selanjutnya yang Anda butuhkan adalah tanah liat. tanah liat
berfungsi sebagai bahan pengeras sekaligus perekat. Semakin banyak kandungan tanah liat dalam sebuah briket,
semakin keras briket tersebut, dan gas CO yang dihasilkan juga akan semakin sedikit. Komposisi tanah liat yang
terbaik dalam sebuah briket adalah 10%.
Selain tanah liat, untuk merekatkan briket, Anda memerlukan tepung tapioka. Tepung tapioka inilah yang
bekerja sebagai bahan perekat utama. Untuk membuat adonan perekat dari tepung tapioka, Anda perlu
mencampurnya dengan air. Adonan ini harus dibuat hingga benar-benar matang dan kental. Setelah adonan jadi,
sebaiknya didinginkan terlebih dahulu sehingga adonan tersebut benar-benar kental dan rekat.

Dalam briket juga perlu ditambah material kapur. Bahan ini adalah bahan tambahan yang berfungsi untuk
mengikat racun dan mengurangi bau belerang. Komposisi terbaik untuk kapur adalah 1%. Jangan sampai
berlebih, karena bila terlalu banyak akan membuat kemampuan pembakaran briket menjadi berkurang.
Briket batu bara yang sudah dicetak harus dikeringkan terlebih dahulu dengan cara dijemur atau dipanaskan
dengan oven sebelum dikemas dalam karung. Hal ini perlu dilakukan supaya briket tidak lembab. Briket yang
kering akan lebih mudah menyala.
Untuk mulai membangun pabrik briket batu bara, Anda perlu memilih lokasi yang tepat. Lokasi pabrik
sebaiknya dekat dengan sumber bahan baku dan konsumen. Pemilihan lokasi pabrik akan menentukan harga
jual briket. Semakin besar Anda dapat menekan biaya produksi dan transportasinya, harga jual briket Anda akan
lebih mudah bersaing di pasaran.
Selain itu, lakukanlah proses produksi yang baik dan benar, untuk mengurangi kegagalan produksi. Briket yang
baik adalah yang tidak berasap, tidak berbau, tidak beracun, memiliki nilai kalori tinggi yakni sekitar 6500
7000 kcal/kg, panas dan menyala lebih lama dengan api biru, serta mudah untuk dinyalakan. Buatlah briket
terbaik untuk menghindari keluhan konsumen Anda. Produksi briket dalam jumlah besar akan menurunkan
biaya produksi.
(dari berbagai sumber)

Sumber :

https://aisyahnyayu.wordpress.com/2014/03/16/pembuatan-briket-batubara/
Diakses 24 november 2016