Anda di halaman 1dari 39

BLOK 1 SISTEM TUBUH 1

MODUL 1. SISTEM SARAF

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 7
RAHMA ARIESTI LATING
SAMANTHA SARI UTOMO
DITA YUARITA
JANNICO DJANUARDI
LYDIA HARJANTI
SINTYA KUSUMA WARDANI
ANISA TALITA ISLAMEY
RAAFIULITA RETANA KHANSA
WEES TOVE
SHINTA NURMARAYA FEBRIANTI
ALDO ALVENO DAYASOEHARSO
ARLITA GLADYS TRICIA C.

(2012.07.0.0002)
(2012.07.0.0010)
(2012.07.0.0014)
(2012.07.0.0018)
(2012.07.0.0028)
(2012.07.0.0029)
(2012.07.0.0032)
(2012.07.0.0038)
(2012.07.0.0044)
(2012.07.0.0060)
(2012.07.0.0082)
(2012.07.0.0085)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA

KATA PENGANTAR

Salam sejahtera,
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas pimpinan dan
hikmat yang Tuhan sudah berikan kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan tugas makalah tentang Sistem Saraf ini dengan baik.
Makalah ini tentu saja tidak dapat terselesaikan dengan baik tanpa
bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, tak lupa kami haturkan terima
kasih kepada:
1.
2.

Noengki Prameswari, drg.,M.Kes selaku penanggung jawab,


Puguh Bayu P., drg.,M.Kes selaku fasilitator yang membantu dan

mengarahkan penulis dalam pembuatan makalah ini,


3.
Semua pihak yang membantu kami penulis secara langsung
maupun tidak langsung.
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat serta memudahkan
pembaca untuk dapat mengenal lebih jauh tentang Matriks Ekstraseluler.
Apabila dalam pembuatan makalah ini ada hal yang kurang tepat, penulis
mohon agar mendapat masukkan sehingga penulis mengetahui dan dapat
memperbaikinya.

Surabaya, 01 Maret 2013

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.......................................................................................... i
Daftar Isi..................................................................................................... ii
BAB I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang.............................................................................. 1
1.2 Batasan Topik................................................................................ 1
1.3 Peta Konsep.................................................................................. 2
BAB II. Pembahasan
2.1 Sistem Saraf.................................................................................. 3
2.1.1 Definisi ............................................................................... 3
2.1.2 Fungsi ................................................................................ 3
2.1.3 Bagian ................................................................................ 4
2.2 Sistem Saraf Pusat....................................................................... 6
2.2.1 Definisi ............................................................................... 6
2.2.2 Fungsi................................................................................. 6
2.2.3 Bagian................................................................................. 6
2.3 Sistem Saraf Tepi..........................................................................15
2.3.1
2.3.2
2.3.3
2.3.4

Definisi ...............................................................................15
Macam................................................................................16
Reseptor.............................................................................20
Mekanisme.........................................................................21

2.4 Anestesi ........................................................................................21


2.4.1
2.4.2
2.4.3
2.4.4

Definisi ...............................................................................21
Jenis...................................................................................22
Mekanisme.........................................................................22
Komplikasi Anestesi Blok pada Mandibula.........................23

2.5 Persarafan Gigi.............................................................................25


2.5.1 Secara Umum ....................................................................25
2.5.2 Persarafan yang Terlibat pada Pencabutan Molar 3 .........27
2.6 Kerusakan Saraf Gigi Molar 3.......................................................28
2.7 Parastesia.....................................................................................30

2.7.1 Definisi ...............................................................................30


2.7.2 Gejala dan Penyebab.........................................................30
BAB III. Penutup
3.1 Kesimpulan....................................................................................33
3.2 Kata Penutup.................................................................................33
Daftar Pustaka...........................................................................................34

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Parestesia merupakan suatu gejala manifestasi dari gangguan
sistem saraf sensorik akibat adanya rangsangan listrik di sistem itu
tidak tersalur secara penuh karena bermacam-macam sebab,
misalnya seperti kesalahan pada teknik pemberian anestesi, trauma
oleh ujung jarum, pergerakan jarum dan sebagainya.
1.2 Batasan Topik
1. Mengetahui Sistem Saraf (Definisi, Fungsi, Bagian)
2. Mengetahui Sistem Saraf Pusat (Definisi, Fungsi, Bagian)
3. Mengetahui Sistem Saraf Tepi (Definisi, Macam, Reseptor dan
Mekanisme)
4. Mengetahui Anestesi (Definisi, Jenis, Mekanisme, Komplikasi
Anestesi Blok pada Mandibula)
5. Mengetahui Persarafan Gigi (Secara Umum, Persarafan yang
Terlibat pada Pencabutan Molar 3)
6. Mengetahui Kerusakan Saraf Gigi Molar 3
7. Mengetahui Parestesia (Definisi, Gejala dan Penyebab, Mekanisme
Penyembuhan)

1.3 Peta Konsep

Sistem Saraf

Sistem Saraf Pusat

Sistem Saraf Perifer

Sensoris

Somatis

Motoris

Otonom

Somatis

Blok Saraf

Persarafan Gigi
Anestesi

Kerusakan Saraf

Kebas

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sistem Saraf


2.1.1 Definisi
Sistem saraf adalah serangkaian organ yang kompleks dan
bersambungan serta terdiri terutama dari jaringan saraf.

2.1.2 Fungsi
- Menerima informasi dari dalam maupun dari luar melalui
-

afferent sensory pathaway.


Mengomunikasikan informasi antara sistem saraf perifer dan

sistem saraf pusat.


Mengolah informasi yang diterima baik di tingkat saraf
(refleks) maupun di otak untuk menentukan respon yang

tepat dengan situasi yang dihadapi.


Menghantarkan informasi secara tepat melalui efferent
pathaway (motorik) ke organ-organ tubuh sebagai kontrol
atau modifikasi tindakan.

Referensi :
http://abdalle.files.wordpress.com/2007/09/rev-anfis-sistem-saraf.ppt

Fungsi Kewaspadaan :
Membantu mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi di
sekitar untuk disampaikan ke alat-alat indera. Pada alat
indera terdapat saraf sensorik yang berfungsi khusus
sebagai penginput data.

Fungsi Integrasi :

Menerima pesan (input data) sensorik dari lingkungan luar,


interpretasi oleh sistem saraf pusat, mengatur informasi dan
mengintegrasikan dengan informasi yang telah ada untuk
menentukan jenis respon yang akan diberikan.
-

Fungsi Koordinasi :
Setelah dari otak informasi yang sudah terintegrasi untuk
mengirimkan pesan/perintah pada otot-otot dan kelenjarkelenjar, menghasilkan gerak dan sekresi terorganisasi.

Referensi :
http://stfitb2008.files.wordpress.com/2009/10/sistem-saraf3-2003.ppt
2.1.3 Bagian
Sistem saraf dibentuk oleh jaringan saraf. Sel pembentuk
jaringan saraf:
1. Sel saraf (neuron)
Menghantarkan & memproses informasi; menjalankan
fungsi

sistem

saraf

seperti

mengingat,

berfikir,

dan

mengontrol semua aktivitas tubuh.


Setiap neuron terdiri dari satu badan sel yang di
dalamnya terdapat sitoplasma dan inti sel. Dari badan sel
keluar dua macam serabut saraf, yaitu dendrit dan akson
(neurit).Dendrit berfungsi mengirimkan impuls ke badan sel
saraf, sedangkan akson berfungsi mengirimkan impuls dari
badan sel ke jaringan lain. Akson biasanya sangat panjang.
Sebaliknya, dendrit pendek.

Gambar 1. Struktur Sel Saraf


2. Sel penunjang (neuroglia/sel glia)
Memberi support, melindungi,

merawat,

dan

mempertahankan homeostasis cairan di sekeliling neuron.


Pembagian Sistem Saraf secara anatomi:
1. Sistem saraf pusat
2. Sistem saraf tepi
Secara Fungsional :
1. Divisi aferen
2. Divisi eferen

Referensi :
http://staff.unila.ac.id/gnugroho/files/2012/11/SISTEM-SARAF-21.pdf

2.2 Sistem Saraf Pusat


2.2.1 Definisi
Merupakan organ kompleks yang berlokasi di dalam
tengkorak dan tulang belakang.

2.2.2 Fungsi
1.
2.
3.
4.
5.

Menerima atau menangkap rangsangan.


Mengontrol gerakan-gerakan oto-otot kerangka.
Otak sebagai pusat indera.
Otak besar sebagai pusat daya rohaniah yang tinggi.
Otak sebagai pengontrol fungsi pernapasan dan peredaran
darah.

2.2.3 Bagian
Os Cranium
Sistem Saraf Pusat dilindungi oleh tulang kranium (os
cranium) dan kolumna vertebra,membran jaringan penunjang
(meninges), dan cairan serebrospinal (CSF). Os cranium terdiri
dari os frontal, os sphenoid,e os ethmoid, os occipital, os
parietal, os temporal. Terdapat lubang tempat keluarnya saraf
kranial (foramina) & medula spinalis (foramen magnum).
Meningen
Merupakan membran yang melapisi otak & medula spinalis.
3 lapisan meninges dari lapisan terluar:
1. Duramater
Membran terluar yang berdekatan dengan permukaan
dalam os cranium. Tersusun atas jaringan penghubung
tebal dan dipisahkan dengan arachnoid oleh ruang tipis
berisi air (ruang subdural).

2. Arachnoid
Memiliki 2 komponen, yaitu lapisan yg dekat dengan
ruang subdural & sistem serat penunjang (trabekula) yang
membentuk struktur seperti jaring antara arachnoid &
piamater. Rongga di antara trabekula membentuk ruang
subarachnoid berisi cairan serebrospinal (CSF). Beberapa
bagian arachnoid membentuk tonjolan (protrusion) yang
berakhir di sinus venosus duramater. Tonjolan ini dilapisi sel
endotel sinus venosus yang disebut vili arakhnoid yang
berfungsi menyerap CSF ke darah.
3. Piamater
Membran terdalam meninges yang tipis, transparan &
banyak terdapat pembuluh darah. Di antara piamater &
jaringan saraf terdapat lapisan tipis prosesus neuroglia
yang menempel pada piamater.
Cairan Serebrespinal (CSF)
CSF merupakan hasil filtrasi dan sekresi dari jaringan
jejaring kapiler yang disebut pleksus khoroid, terletak di dalam
ventrikel otak. Jaringan pleksus khoroid membentuk sawar
darah otak (brain-blood barrier) yang melindungi otak dari zat
berbahaya. CSF juga berperan sebagai media penyerap
tekanan (shock-absorbing medium) untuk melindungi otak dari
tekanan dinding kranial.

Ventrikel di Otak
Ada 4 ventrikel di otak, yaitu: ventrikel lateral kanan,
ventrikel lateral kiri, ventrikel ke-3 di diensefalon, ventrikel ke-4
di antara pons & serebelum.

Sistem saraf pusat teridiri dari :


1. Otak
2. Medulla spinalis
A. Otak
Otak dibagi menjadi 6 divisi utama:
1. Serebrum
2. Diensefalon
3. Serebelum
4. Brain Stem
Serebrum
Merupakan bagian terbesar dari otak manusia. Terdapat 2
hemisfer yang tampak simetris tetap struktur & fungsinya
berbeda
Hemisfer

kanan:

mengontrol

tangan

kiri,pengenalan

terhadap musik & artistik, ruang & pola persepsi, pandangan &
imajinasi. Hemisfer kiri: mengontrol tangan kanan, bahasa lisan
& tulisan, ketrampilan numerik & saintifik, & penalaran.
Permukaan hemisfer tampak berbentuk tonjolan (gyrus) &
lekukan (sulcus); lekukan yang dalam disebut fissura.
Tiap hemisfer dibagi menjadi 4 lobus: lobus frontal, lobus
parietal, lobus oksipital & lobus temporal.

1. Lobus Frontalis
Pusat fungsi intelektual, kemampuan berpikir abstrak
dan

nalar,

bicara,

penghidu,

dan

emosi.

Pusat

pengontrolan gerakan volunter di gyrus presentralis.


Terdapat area asosiasi motorik.
2. Lobus Parietalis
Pusat kesadaran sensorik di gyrus

postsentralis.

Terdapat area asosiasi sensorik.


3. Lobus Oksipitalis
Pusat penglihatan & area asosiasi

penglihatan:

menginterpretasi & memproses rangsang penglihatan


dari nervus optikus & mengasosiasikan rangsang ini
dengan informasi saraf lain & memori.
4. Lobus Temporalis
Berperan dlm pembentukan & perkembangan emosi,
pusat pendengaran
Beberapa bagian dari otak yg tersembunyi di balik korteks
serebri:

Bulbus olfaktorius: menerima informasi dari epitel

olfaktorius (reseptor penghidu).


Striatum: menerima informasi dari lobus frontal & dari
sistem limbic.

Nukleus accumbens (NA): tempat bersinapsnya sel


saraf yang melepaskan dopamin; efek menyenangkan
(adiktif) dari amfetamin, kokain, & obat2 psikoaktif
bergantung pada kadar dopamin yang dilepaskan

neuron di NA ini.
Sistem limbik: menerima informasi dari berbagai area
asosiasi di korteks serebri & sinyal ini melalui nukleus
accumbens (NA).
Sistem limbik terdiri dari:
1. Hipokampus : bagian yang berperan dalam proses
belajar & pembentukan memori jangka panjang
2. Amigdala :merupakan pusat emosi (seperti: takut);
mengirim sinyal ke hipotalamus & medula oblongata
yang kemudian mengaktifkan respons flight or fight
dari sistem saraf otonom; menerima sinyal dari
sistem penghidu & menentukan pengaruh bau
terhadap emosi.

Diensefalon
Terletak di bagian dalam serebrum. Dua struktur utama dari
diensefalon: thalamus & hipothalamus.
1. Thalamus
Dibagi menjadi 3 area: (1) epithalamus (yang berhubungan
dengan sistem penghidu), (2) thalamus ventral, (3) thalamus
dorsal (pemancar sensori, motorik volunter, kesadaran,
bahasa, memori, & emosi)
2. Hipothalamus
Terletak di diding inferior thalamus dan membentuk dasar
serta bagian bawah sisi dinding ventrikel ketiga. Hipotalamus
melakukan fungsi vegetatif penting untuk kehidupan, seperti
pengaturan frekuensi jantung, tekanan darah, suhu tubuh,
keseimbangan air, selera makan, saluran pencernaan dan

10

aktivitas seksual. Hipotalamus juga berperan sebagai pusat


emosi

seperti

kemarahan.

kesenangan,

Hipotalamus

nyeri,

kegembiraan

memproduksi

hormon

dan
yang

mengatur pelepasan atau inhibisi hormon kelenjar hipofise


sehingga mempengaruhi keseluruhan sistem endokrin.
Serebelum
Terletak di sisi inferior pons dan merupakan bagian terbesar
kedua otak. Terdiri dari bagian sentral terkontriksi, vermis dan
dua massa lateral, hemisfer serebelar. Serebelum bertanggung
jawab untuk mengkoordinasi dan mengendalikan ketepatan
gerakan otot dengan baik. Bagian ini memastikan bahwa
gerakan yang dicetuskan di suatu tempat di SSP berlangsung
dengan halus bukannya mendadak dan tidak terkordinasi.
Serebelum juga berfungsi untuk mempertahankan postur.
Brain Stem
1. Midbrain (Mesensefalon)
Cerebral aqueduct (Aqueduct of sylvius) menghubungkan
ventrikel ke-3 (di diensefalon) & ventrikel ke-4 (di antara pons &
serebelum); Cerebral peduncles: bagian ventral midbrain yang
berisi serat saraf sensorik & motorik; Corpora quadrigemina:
terdapat 2 pasang bagian yang menggelembung di permukaan
luar, yaitu :
a. Superior colliculi: pusat refleks gerakan kepala & bola
mata ketika berespons thd rangsang visual.
b. Inferior colliculi: pusat refleks gerakan kepala & tubuh
ketika berepons thd rangsang suara.
2. Pons

11

Hampir

semuanya

terdiri

dari

substansi

putih.

Pons

menghubungkan medulla yang panjang dengan berbagai


bagian otak melalui pedunkulus serebral. Pusat respirasi
terletak dalam pons dan mengatur frekwensi dan kedalaman
pernapasan. Nuclei saraf cranial V, VI dan VII terletak dalam
pons, yang juga menerima informasi dari saraf cranial VIII.
3. Medulla Oblongata
Panjangnya sekitar 2,5 cm dan menjulur dari pons sampai
medulla spinalis dan terus memanjang. Bagian ini berakhir
pada area foramen magnum tengkoral. Pusat medulla adalah
nuclei yang berperan dalam pengendalian fungsi seperti
frekwensi jantung, tekanan darah, pernapasan, batuk, menelan
dan muntah. Nuclei yang merupakan asal saraf cranial IX, X, XI
dan XII terletak di dalam medulla.
B. Medulla Spinalis
Terdapat 31 pasang saraf spinal yang melalui medula
spinalis nervus campuran yg berisi akson sensorik &
motorik; berjalan di kolumna spinal. Semua akson sensorik
masuk ke medula spinalis melalui ganglion akar dorsal.
Pada penampang melintang sumsum tulang belakang
tampak bagian luar berwarna putih, sedangkan bagian dalam
berbentuk kupu-kupu dan berwarna kelabu. Pada penampang
melintang sumsum tulang belakang ada bagian seperti sayap
yang terbagi atas sayap atas disebut tanduk dorsal dan sayap
bawah disebut tanduk ventral. Impuls sensori dari reseptor
dihantar masuk ke sumsum tulang belakang melalui tanduk
dorsal dan impuls motor keluar dari sumsum tulang belakang
melalui tanduk ventral menuju efektor. Pada tanduk dorsal

12

terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi konektor) yang


akan menerima impuls dari sel saraf sensori dan akan
menghantarkannya ke saraf motor.
Pada bagian putih terdapat serabut saraf asosiasi.
Kumpulan serabut saraf membentuk saraf (urat saraf). Urat
saraf yang membawa impuls ke otak merupakan saluran
asenden dan yang membawa impuls yang berupa perintah
dari otak merupakan saluran desenden.
Semua akson sensorik masuk ke medula spinalis melalui
ganglion akar dorsal.
- Traktus spinotalamikus lateral menghantarkan impuls
-

modalitas nyeri & suhu.


Traktus
spinotalamikus

impuls modalitas geli, gatal, sentuhan, & tekanan.


Traktus lemniscus medialis-kolumna posterior
menghantarkan

impuls

anteriormenghantarkan

yg

membedakan

titik,

stereognosis, propriosepsi, membedakan berat, &


sensasi getaran.
Semua akson motorik keluar dari medula spinalis mll akar
ventral.
JALUR PIRAMIDAL/LANGSUNG (melalui piramid medula
oblongata; langsung dari korteks motorik)
-

Traktus kortikospinal lateralmengontrol ketepatan

kontraksi otot2 di ujung ekstermitas


Traktus kortikospinal anteriormengkoordinasi gerakan
rangka aksial dengan mengontrol kontraksi otot di leher

& lengan
Traktus kortikobulbarmengontrol gerakan volunter
kepala & leher

13

JALUR EKSTRAPIRAMIDAL/ TAK LANGSUNG (sirkuit


polisinaps di ganglia basal, thalamus, & serebelum)
-

Traktus vestibulospinal (mulai dari nukleus vestibular)


mengatur tonus otot dalam berepons terhadap

gerakan kepala; berperan dlm keseimbangan


Traktus tektospinal (mulai dr kolikulus superior)
mengontrol gerakan kepala dalam berespons teradap
rangsang visual

Referensi :
http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/SponsorPendamping/Praweda/Biologi/0085%20Bio%202-9d.htm
http://staff.unila.ac.id/gnugroho/files/2012/11/ANATOMI-FISIOLOGISISTEM-SARAF.pdf
http://staff.ui.ac.id/internal/1308050290/material/anatomisaraf.pdf

2.3 Sistem Saraf Tepi


2.3.1 Definisi
Sistem saraf tepi adalah sistem saraf yang berada di
luar sistem saraf pusat yang bersungsi untuk menjalankan otot dan
organ tubuh.Sistem saraf tepi berbeda dengan sistem saraf pusat,
sistem saraf tepi tidak dilindungi tulang, membiarkannya rentan
terhadap racun dan luka mekanis. Sistem saraf tepi langsung
berhubungan reseptor saraf. Cara kerjanya ada dua macam, ada yang
bekerja secara sadar dan tidak sadar,

14

Sistem saraf tepi ini berada diluar sistem saraf pusat dan tidak
dilindungi oleh kerangka khusus sehingga mudah mengalami
kerusakan, seperti terpapapar racun , luka akibat benturan dan lainlain. Tetapi kerusakan sistem saraf tepi biasanya mudah mengalami
regenerasi dan tidak terlalu berefek negeatif dalam skala besar,
mengingat jumalh sel dalam sistem sara tepi sangat banyak.

2.3.2 Macam
Sistem saraf tepi berdasarkan tipenya dibagi menjadi dua:
-

Saraf

sensorik

atau

aferen:

saraf

ini

berfungsi

menghantarkan informasi dari reseptor sensorik menuju


sistem saraf pusat (penerimaan stimulus)
-

Saraf motorik atau eferen: berfungsi untuk menghantarkan


informasi dari sistem saraf pusat menuju otak dan kelenjar
menuju efektor. Dari sinilah terjadi gerak respon terhadap
rangsang.

Berdasarkan letakanya, sistem saraf tepi dibagi dua :


-

Saraf cranial yaitu sistem saraf yang berada dikepala terdiri


dari 12 pasang saraf.

Nama saraf
1.
N. Olfactorius
2.
N. Opticus
3.
N. Oculomotorius

Komponen
Sensoris
Sensoris
Motoris

Fungsi
Penghidu/ penciuman
Penglihatan
Mengangkat palpebra
superior, memutar bola
mata ke atas, bawah, dan
medial; mengecilkan
pupil; dan akomodasi

15

4.

N. Trochlearis

Motoris

Membantu memutar bola


mata ke bawah dan
lateral

5.
a.

N. Trigeminus
Divisi Opthalmicus

Sensoris

Cornea, kulit dahi, kulit


kepala, palpebra, dan
hidung juga membrana
mucosa sinus paranasalis

b.

Divisi Maxillaries

Sensoris

dan cavum nasi


Kulit wajah di atas maxilla
dan bibir atas; gigi-geligi
rahang atas; membrane
mucosa hidung, sinus

c.

Divisi

Motoris

Mandibularis

maxillaries, dan palatum


Otot otot penguyah, m.
mylohyoideus, venter
arterior, m.digastricus.

Sensoris

Kulit pipi, kulit atas


mandibula, bibir bawah,
dan pelipis; gigi geligi
rahang bawah dan
articulatio
temporomandibularis;
membrane mucosa mulut
dan dua pertiga anterior

6.

N. Abducens

Motoris

lidah
M.rectus lateralis ;
memutar bola mata ke

7.

N. Facialis

Motoris

lateral
Otot-otot wajah,pipi, dan
kulit kepala; M. stapedius
telinga tengah; dan
venter posterior m.
16

digastrici
Sensoris
Dasar mulut, pengecap
dua pertiga anterior lidah,
dan palatum
Sekretomorik
parasymphatis

Glandula salivaria
submandibularis dan
sublingualis, glandula
lacrimalis, dan glandula
glandula hidung dan
palatum

8.N. Vestibulocochlearis
N. Vestibularis

Sensoris

Posisi dan gerakan


kepala

N. Cochlearis
9. N. Glossopharyngeus

Sensoris
Motoris

Pendengaran
M. stylopharyngeus;

Sekretmotorik

membantu menelan
Glandula saliviari

parasymphatis
Sensoris

parotidea
Sensasi umum dan
pengecap dari sepertiga
posterior lidah dan
pharynx; sinus caroticus
dan glomus caroticum

10. N. Vagus

Motoris

Mm.constrictor
pharyngeus dan otot otot
intrinsic larynx ; otot-otot
involunter trachea dan

17

Sensoris

bronchus, jantung, tractus


digestivus dari pharynx
sampai ke flexura
lienaliscolon; hepar dan
pancreas

11. N. Acessorius
Radix Cranialis

Motoris

Otot otot palatum molle,


pharynx, dan larynx

Radix Spinalis
12. N. Hypoglossus

Motoris

sternocleidomastoideus

Motoris

dan M. trapezius
Otot otot lidah yang
mengatur bentuk dan
gerakan lidah

Saraf spinalis atau sumsum tulang belakang


Terdiri dari 31 pasang saraf sumsum tulang belakang
yang muncul dari segmen-segmen medula spinalis melalui
dua akar yaitu akar anterior, dan akar posterior serabut saraf
moptorik mmebntk akar anterior yang berpadu dengan
serabut saraf senssorik pada akar posterior bersama
membentuk saraf spinalis gabungan.penyatuan ii tterjadi
sebeleum serabut saraf itu melntasi foramen intervertebralis,
seger setelah itu memebagi diri lagi menjadi serabut primer
anterior dan serabut primer posterior, serabut primer posterio
melayani mjmulit dan oto punggung, sedangakan serabut
primer anterior memebrntuk berbagai cababngg menjadi
pleksus saraf anggota gerak dan membentuk saraf interkosta
daerah toraks
Sistem saraf tepi ini dilindungi oleh ruas2 tulang
belakang. Saraf spinal terletak di ruas-ruas tulang belakang
terdiri dari 31 pasang saraf spinalis. Terdiri dari 7 pasang

18

dari segmen servikal, 12 pasang dari segmen thorakalis, 5


pasang dari segmen lumbalis, 5 pasang dari segmen
sacrfalis dan 1 pasng dari segmen koxigeus.

Jika dilihat dari cara kerjanya sistem saraf tepi dibagi


menjadi 2:
-

Simpatis: bekerja untuk merangsang atau memacu kerja


organ-organ tubuh. Merupakan bagian dari sistem saraf
otonom yang

cenderung

bertindak

berlawanan

terhadap sistem saraf parasimpatik, seperti mempercepat


detak jantung dan menyebabkan kontraksi pembuluh
darah. Sistem ini mengatur fungsi kelenjar keringat dan
merangsang sekresi glukosa dalam hati. Sistem saraf
simpatik

diaktifkan

terutama

dalam

kondisi

stres.

Bandingkan sistem saraf parasimpatik.


-

Parasimpatis :bekerja menstabilkam kembali akktivitas


organ-prgan tubuh. Saraf simpatik mempercepat denyut
jantung, memperlambat proses pencernaan, merangsang
ereksi,

memperkecil

memperbesar

pupil,

mengembangkan
parasimpatik

diameter

memperkecil

kantung

dapat

pembuluh

kemih,

memperlambat

arteri,

bronkus

dan

sedangkan

saraf

denyut

jantung,

mempercepat proses pencernaan, menghambat ereksi,


memperbesar diameter pembuluh arteri, memperkecil
pupil, mempebesar bronkus dan mengerutkan kantung
kemih.

Macam sensasi saraf sensorik somatik:

19

Sensasi eksteronseptik : berasal dari permukaan tubuh


Sensasi proprioseptik : yang berhubungan dengan keadaan

fisik tubuh, meliputi sensasi posisi, tendon, dan otak


Sensasi ulceral : organ ulceral tubuh
Sensasi dalam : berasal dari organ dalam tubuh seperti fasia,
tulang, dan otot

2.3.3 Reseptor
1. Mekanoreseptor dipakai untuk mengenali deformasi
mekanis yang terjadi pada reseptor/ jaringan yang terletak
berdekatan dengan reseptor
2. Termoresptor dipakai untuk mengenali perubahan suhu,
beberapa reseptor mengenali panas dan dingin
3. Reseptor nyeri reseptor yang dipakai untuk mengenali
kerusakan jaringan yang terjadi baik secara fisik/kimia
4. Elektromagnetik dipakai untuk mengenali cahaya yang
sampai pada retina mata
5. Kemoresptor dipakai untuk mengenali rasa pengecapan
dalam mulut, bau-bauan dalam hidung atau kadar o2 dalam
darah arteri, osmolaritas cairan tubuh,konsentrasi co2 yang
menyusun keadaan kimiawi dalam tubuh
Referensi :
Guyton, A & Hall, J. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC. Edisi 9.
Jakarta

2.3.4 Mekanisme
Mekanisme saraf sensorik diawali dari sumsum tulang
belakang kemudian rangsangan tersebut diteruskan hingga
medulla oblongata, setelah mencapai medulla oblongata,
rangsangan direspon dan ditanggapi untuk dilanjutkan kembali
menuju fons, lalu

diteruskan menuju thalamus (kapsula

internal) hingga berakhir pada korteks sensorik.


2.4 Anestesi

20

2.4.1 Definisi
Hilangnya sensasi, biasanya akibat kerusakan syaraf atau

reseptor (numbness).
Hilangnya kemampuan merasakan nyeri yang disebablan

oleh pemberian obat/intervensi medis lainnya.


Pembiusan/pengurangan rasa sakit dengan cara memblokir
sementara sensasi rasa sakit.

2.4.2 Jenis
Anestesi umum : menghilangkan rasa sakit seluruh tubuh
secara sentral disertai hilangnya kesadaran yang bersifat
reversibel akibat pemberian obat anestetik khusus. Biasanya
untuk pembedahan mayor yang membutuhkan waktu yang
panjang.

Anestesi lokal : keadaan hilangnya sensasi pada suatu


daerah sebagai hasil daripada injeksi hipodennik, aplikasi
lokal atau pengaruh dad suatu susunan bahan kimia. Zat
anestesi lokal adalah obat yang merintangi secara reversible
penerusan

impuls

saraf,

susunan

saraf

pusat

pada

penggunaan anestesi lokal.

Anestesi regional : hilangnya rasa pada bagian yang lebih


luas dari tubuh oleh blokade selektif pada jaringan spinal
atau saraf yang berhubungan dengannya. Bedanya dengan
anestesi umum adalah pada anestesi umum pasien dalam
keadaan tidak sadar, sedangkan pada anestesi regional
pasien tidak merasakan nyeri tapi masih dalam keadaan
sadar.

2.4.3 Mekanisme
Mekanisme kerja anestesi umum
Bekerja dengan menekan sistem saraf pusat, artinya
anestesi umum ini nantinya juga akan menekan semua

21

sistem, termasuk sistem kesadaran, sehingga saat pasien


sudah tidak sadar, maka ia tidak akan bisa merasakan sakit.
Biasanya anestesi umum ini digunakan pada tindakan
operatif yang besar dan menimbulkan waktu yang lebih
lama.

Mekanisme kerja anestesi lokal


Anestesi

lokal

memblok

hantaran syaraf

dengan

menurunkan atau mencegah peningkatan permeabilitas


membrane terhadap Na+ di mana secara normal dihasilkan
oleh

depolarisasi

ringan

membrane.

Mekanisme

ini

disebabkan langsung oleh interaksi dengan voltase gerbang


natrium chanel. Sebagai agen anestesi pada syaraf, ambang
batas untuk rangsangan listrik meningkat secara gradual,
aksi potensial menurun, hantaran impuls menjadi lambat dan
hantaran syaraf gagal. Akibatnya perjalanan rasa nyeri dari
rangsang nyeri ke otak akan dihambat. Local anestesi dapat
memblok chanel K+ dalam konsentrasi tinggi.
Anestesi

lokal

ini digunakan

untuk operasi

yang

membutuhkan waktu singkat seperti pada kasus pencabutan


gigi molar tiga, sebab efek samping yang ditimbulkannya
lebih sedikit dan masa kerjanya lebih cepat jika dibandingkan
dengan anastesi umum.
Referensi :
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/7980
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29670/4/Chapter
%20II.pdfhttp://www.perdoski.or.id/doc/mdvi/fulltext/7/27/Dr._Rusnawi_F.d
oc
2.4.4 Komplikasi Anestesi Blok pada Mandibula

22

1. Cedera Saraf
a. Sakit selama & setelah penyuntikan
Tajamnya jarum suntik merupakan faktor penting dan
karena itu, perlu dipastikan bahwa dokter gigi harus
menggunakan jarum disposibel berkualitas tinggi yang
dipasarkan oleh industri farmasi ternama. Bisa juga
karena larutan nonisotonik yang disuntikkan telah
terkontaminasi.
b. Parestesi
Fenomena sensorik berupa kebas, rasa terbakar dari
kulit tanpa adanya stimulus yang jelas. Bisa disebabkan
oleh trauma, penyakit jaringan kolagen, infeksi dan
penyakit-penyakit idiopatik.
2. Sinkope (Kolaps)
Komplikasi tersering dari penggunaan anestesi lokal. Kolaps
adalah bentuk dari syok neurogenik yang disebabkan oleh
iskeminya jaringan cerebral sehingga terjadi vasodilatasi
pembuluh darah perifer disertai penurunan tekanan darah.
3. Efek Toksik
Pada umumnya, semakin besar potensial anestikum maka
semakin besar pula memberikan efek toksik.
4. Trismus
Pasien sulit membuka mulut setelah pemberian anestesi
blok mandibula. Biasanya karena trauma tusukan jarum
pada serabut otot pterigoideus medial.
5. Hematoma
Disebabkan oleh injeksi yang menembus pembuluh arteri
dan vena saat injeksi blok saraf alveolar inferior atau saraf
alveolar posterior superior.
Referensi :
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25272/3/Chapter%20II.pdf
2.5 Persarafan Gigi
2.5.1 Secara Umum

23

Serabut saraf yang terapat pada gigi baik rahang atas dan
rahang bawah juga pada mata terhubung melalui saraf trigeminus
(nervus V/ganglion gasseri).

N.V1 Cabang Opthalmicus


N.V2 Cabang Maxillaris
N.V3 Cabang Mandibula
Cabang maxillaris (rahang atas) dan mandibularis (rahang

bawah) penting pada kedokteran gigi. Cabang maxillaris memberikan


inervasi sensorik ke gigi maxillaris, palatum, dan gingiva. Cabang
mandibularis memberikan persarafan sensorik ke gigi mandibularis,
lidah, dan gingiva. Variasi nervus yang memberikan persarafan ke gigi
diteruskan ke alveolaris, ke soket di mana gigi tersebut berasal.
1. Nervus alveolaris superior ke gigi maxillaris berasal dari cabang
maxillaris nervus trigeminus.
2. Nervus alveolaris inferior ke gigi mandibularis berasal dari cabang
mandibularis nervus trigeminus.
Cabang

maksilaris

mempersarafi

palatum,

yang

mana

membentuk atap mulut dan lantai cavum nasi yang terdiri dari palatum
durum (langit keras) dan palatum molle (langit lunak).
Pada palatum durum terdapat tiga foramen, yaitu foramen
incisivum pada bidang median ke arah anterior, foramina palatina
major di bagian posterior dan foramina palatina minor ke arah
posterior. Bagian depan palatum: N. Nasopalatinus (keluar dari
foramen incisivum), mempersarafi gigi anterior rahang atas. Bagian
belakang palatum: N. Palatinus Majus (keluar dari foramen palatina
mayor), mempersarafi gigi premolar dan molar rahang atas. Pada
palatum molle terdapat N. Palatinus Minus (keluar dari foramen
palatina minus), mempersarafi seluruh palatina mole.

Persarafan dentis dan gingiva rahang atas :

24

Permukaan labia dan buccal :


a. N. alveolaris superior posterior, medius dan anterior
b. Nervus alveolaris superior anterior, mempersarfi gingiva dan gigi
anterior
c. Nervus alveolaris superior media, mempersarafi gingiva dan gigi
premolar dan molar I bagian mesial
d. Nervus alveolaris superior posterior, mempersarafi gingiva dan
gigi molar I bagian distal, molar II dan molar III
Permukaan palatal :
a. N. palatinus major dan nasopalatinus
b. Bagian depan palatum: N. Nasopalatinus (keluar dari foramen
incisivum), mempersarafi gingiva dan gigi anterior rahang atas
c. Bagian belakang palatum: N. Palatinus Majus (keluar dari foramen
palatina mayor), mempersarafi gingiva dan gigi premolar dan
molar rahang atas.

Cabang Mandibularis :
a. Persarafan Dentis
Dipersarafi oleh Nervus Alveolaris Inferior, mempersarafi gigi
anterior dan posterior gigi rahang bawah.
b. Persarafan Gingiva
Permukaan labia dan buccal :
- N. Buccalis, mempersarafi bagian buccal gigi posterior rahang
-

bawah.
N. Mentalis, merupakan N.Alveolaris Inferior yang keluar dari
foramen Mentale.

Permukaan lingual :
-

N. Lingualis, mempersarafi 2/3 anterior lidah, gingiva dan gigi


anterior dan posterior rahang bawah.

2.5.2 Persarafan yang Terlibat pada Pencabutan Molar 3

25

1. Inferior alveolar nerve : Terletak di dalam tulang pada


mandibula
2. Lingual nerve : Ditutupi jaringan lunak tipis dan mukosa.
3. Buccal nerve : Menginervasi sulkus posterior buccal bawah,
gingiva, daerah mukosa pipi, dll.
4. Mylohyoid nerve

Referensi :
http://exodontia.info/files/Dental_Update__Nerve_Damage_and_Third_Molar_Removal.pdf

2.6 Kerusakan Saraf Gigi Molar 3


Pencabutan gigi molar tiga merupakan prosedur pembedahan
yang sering dilakukan.Namun komplikasi yang umum sering terjadi
akibat pembedahan gigi molar tiga. Komplikasi berkisar antara efek

26

samping yang tak-berbahaya [nyeri dan pembengkakan] sampai


kerusakan saraf, fraktur mandibula, dan infeksi yang membahayakan.
Ditemukan banyak penelitian yang menyelidiki tentang perlukaan
saraf lingual, saraf mentalis, saraf alveolaris inferior permanen serta
fraktur mandibula selama dan setelah pencabutan gigi molar tiga
rahang bawah. Kerusakan saraf alveolaris inferior dan saraf lingual
permanen sangat jarang terjadi namun merupakan salah satu resiko
yang umum diketahui dalam pembedahan gigi molar tiga. Kedekatan
anatomis saraf-saraf tersebut dengan gigi molar tiga membuatnya
beresiko mengalami kerusakan. Insiden komplikasi langka ini
bervariasi dalam setiap penelitian dan sulit untuk ditentukan dengan
pasti karena populasi penelitian kecil.
Kerusakan saraf alveolaris inferior dan saraf lingualis diakibatkan
dari beberapa penyebab salah satunya akibat trauma saat tindakan
odontektomi misalnya, kekurang hati- hatian saat pemotongan
jaringan lunak scapel, kekurang hati- hatian saat pemotongan gigi dan
pembuangan tulang dengan bor,penetrasi jarum suntik yang langsung
mengenai pembuluh saraf,teknik pemotongan tulang alveolar dibagian
lingual yang dilakukan, tekanan yang diberikan pada jaringan lunak
dijahit dengan terlalu kencang, akar gigi molar3 bawah yang
menembus kanalis mandibularis, peradangan/ infeksi yang terjadi
disekeliling pembuluh saraf.
Kerusakan saraf mentalis yang terdapat pada foramen mentalis
dapat terjadi selama pencabutan gigi premolar bawah/infeksi akut
jaringan disekitarnya.
Komplikasi lain selam pencabutan gigi molar 3 adalah fraktur
mandibula.Fraktur mandibula immediate atau late jarang terjadi
namun tergolong sebagai komplikasi utama. Komplikasi tersebut
terjadi jika tulang tidak cukup kuat untuk menahan tekanan yang

27

digunakan. Berkurangnya kekuatan tulang dapat disebabkan oleh


atrofi fisiologis, osteoporosis, atau proses patologis, dapat juga terjadi
akibat pembedahan.termasuk saat pembedahan molar 3.
Meskipun impaksi gigi molar tiga tidak menimbulkan gejala,
namun dapat menjadi penyebab satu atau beberapa gangguan
lainnya. Komplikasi minor pra-operatif antara lain, nyeri, perikoronitis,
penyakit periodontal pada gigi molar dua, resorpsi mahkota atau akar
gigi molar dua, karies pada gigi molar tiga atau dua, gejala gangguan
sendi temporomandibula, dan pembengkakan pra-operatif. Komplikasi
utama dalam kasus ini adalah pembentukan abses, fraktur spontan
pada mandibula, dan kista atau tumor odontogenik. Gangguan praoperatif yang sering ditemukan adalah perikoronitis.
Referensi :
http://dhinierha.blogspot.com/2009/08/komplikasi-langka-akibatpembedahan.html

2.7 Parastesia
2.7.1 Definisi
Parestesia merupakan suatu gejala manifestasi dari gangguan
sistem saraf sensorik akibat adanya rangsangan listrik di sistem itu
tidak tersalur secara penuh karena bermacam-macam sebab.
Geli atau gatal dimasukkan bagian definisi perasaan anastesi
sebagian oleh dokter gigi dan pasien. Secara umum, dokter gigi dan
pasien

akan

mendefinisikan

parastesi

sebagai

kebas

yang

berkepanjangan.

28

Parastesia dapat diasosiasikan dengan perasaan terbakar dan


pasien dapat merasakan geli, sukar berbicara, kehilangan rasa dan
menggigit lidah.
Referensi:
http://www.sisilain.net/2011/03/pengertian-kesemutan-kebasparestesia.html
http://www.dentistrytoday.com/pain-management/anesthesia/266

2.7.2 Gejala dan Penyebab


Gejala :
Ketika

parestesi

terjadi,

gejalanya

dari

berbagai

kemungkinan dapat terjadi. Disebutkan di bawah ini adalah


beberapa gejalanya standar yang dapat langsung berhubungan
dengan kasus parestesi :
-

Sensasi pada kulit.


Gatal - gatal-gatal.
Kebas - kurangnya sensasi atau indera melemah.
Kesemutan - peniti dan jarum suntik, dsb.
Perlu diketahui bahwa parestesi sendiri bisa dianggap

sebagai gejala dari suatu kondisi tertentu. Kurangnya tertentu


dalam kondisi di atas tidak berarti bahwa tidak ada parestesi
pada pasien. Selain itu, dapat berupa kronik (jangka panjang)
atau transien (berlalunya lebih).
Ketika parestesi disebabkan oleh kondisi tertentu, gejalanya
lain mungkin mulai berlaku yang berkaitan dengan penyebab
yang mendasarinya.

29

Misalnya, multiple sclerosis merupakan salah satu penyebab


potensial. Ini adalah kondisi yang serius, meskipun relatif jarang
terjadi. Selain parestesi, gejalanya lain yang dapat muncul,
yang meliputi:
-

Okular dysmetria - terus undershooting atau overshooting

gerakan mata.
Dysarthria - Pidato masalah seperti slurring.
Footdrop - Kaki menyeret ketika pasien sedang berjalan.
Muscular atrofi - wasting otot setelah kurangnya penggunaan

mereka.
Restless leg syndrome - gerakan tak terkendali dari kaki.

Referensi :
http://www.paresthesia.net/symptoms.php
Penyebab :
Bukti empiris menginsikasikan bahan beberapa anestesi
lokal

meliputi

articaine

memiliki

parestesia dan pada yang lain.


Selama memasukkan lokal

angka
anestesi,

tinggi

signifikan

lingual

atau

neurovascular inferior alveolar buntelan dapat mengalami


trauma oleh ujung jarum, pergerakan jarum, pendarahan
extraneural dan intraneural dan trauma pembuluh darah atau
dari efek neurotoxic lokal anestesi.
Alasan meningkatnya paretesia pada saraf lingual adalah
melakukan injeksi inferior alveolar beberapa pelakasana
mengganti arah jarum kira-kira kedalaman saraf lingual atau
arteri pada awal atau jalur berikutnya. Alasan lainnya mungkin
adalah melakukan injeksi berikutnya untuk menganestesi saraf
lingual tapi tanpa perasaan kejut elektrik, karena sarafnya
dianestesi percobaan pertama.
Referensi :

30

http://deepblue.lib.umich.edu/bitstream/handle/2027.42/78276/Brandt_The
sis_10-102010_DEEPBLUE.pdf;jsessionid=470737CAA98C062E463610B0024256
ED?sequence=14

31

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sistem saraf pada manusia teridir dari dua bagian, yaiut sistem saraf
pusat dan tepi. Sistem saraf ini mengatur gerakan-gerakan manusia baik
sensorik ataupun motorik. Gigi manusia sebagai sensorik somatik,
termasuk salah satu inervasi dari Nervus Trigeminus yang juga bagian
dari Nervus Cranialis.
Apabila terjadi kesalahan pada pencabutan dan anestesi pada molar
tiga bawah, akan mengakibatan kerusakan pada Nervus Mandibularis.
Kerusakan ini bisa megakibatkan parestesia atau kebas terus menerus
pada pasien.
3.2 Kata Penutup
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi
pokok bahasan dalam makalah ini. tentunya masih banyak kekurangan
dan kelemahannya, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya
rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Kami banyak berharap para pembaca memberikan kritik dan saran
yang membangun kepada kami demi sempurnanya makalah ini dan
penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga
makalah ini dapat berguna bagi kita semua.

32

DAFTAR PUSTAKA

Amalia Lia. 2012. Anatomi Fisiologi Manusia Sistem Kendali. Available


from

http://stfitb2008.files.wordpress.com/2009/10/sistem-saraf3-

2003.pptAnatomi

Fisiologi

Sistem

Saraf.

Available

from

http://staff.unila.ac.id/gnugroho/files/2012/11/ANATOMI-FISIOLOGISISTEM-SARAF.pdf
Andayani, Sri. 2008. Pengaruh Pemberian Anestesi Lokal Terhadap
Gangguan

Penderita

Emosi.

Available

from

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/7980
Ash M, Nelson S. 2003. Wheelers Dental Anatomy, Physiology and
Occlusion. 8th edition. Saunders.
Blanton PL, Jeske AH. 2003. The Key to Profound Local Anaesthesia.
JADA

Vol

134.

Available

from

http://www.eurodental1.com/anestesia.pdf
Brandt RG, 2010. Efficacy of Local Anaesthetic in Clinical Dentistry
Disertasi Master of Science endodontics University of Michigan.
Available

from

http://deepblue.lib.umich.edu/bitstream/handle/2027.42/78276/Brandt
_Thesis_10-102010_DEEPBLUE.pdf;jsessionid=470737CAA98C062E463610B002
4256ED?sequence=14
Dalle

Ambo.

2007.

Review

Anfis

Sistem

Saraf.

Available

from

http://abdalle.files.wordpress.com/2007/09/rev-anfis-sistem-saraf.ppt
Dower JS. 2003. A Review of paraesthesia in Associatio with
administration

of

Local

Anesthesia

Available

from

http://www.dentistrytoday.com/pain-management/anesthesia/266

33

Eka

Wijayanti

Kurnia,

Sistem

Saraf.

Available

from

http://file.upi.edu/Direktori/FPOK/JUR._PEND._KESEHATAN_
%26_REKREASI/PRODI._KEPERAWATAN/198203222008012KURNIA_EKA_WIJAYANTI/Sistem_saraf.pdf
Ganong, W. 2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Edisi 17. Jakarta
Guyton, A & Hall, J. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC. Edisi 9.
Jakarta
Komplikasi Langka Akibat Pembedahan Gigi Molar Tiga . 2009. Available
from http://dhinierha.blogspot.com/2009/08/komplikasi-langka-akibatpembedahan.html
Paresthesia

Symptoms.

Available

from

http://www.paresthesia.net/symptoms.php
http://staff.ui.ac.id/internal/1308050290/material/anatomisaraf.pdf
Rahily. 1986. Anatomy 5th ed. WB Saunders Company
Riawan

L.

2002.

Penanggulangan

komplikasi

pencabutan

gigi.

Dipresentasikan di Dipresentasikan pada Pembinaan Peningkatan


Dokter Gigi Melalui Quality Assurance. Unpad. Available at
http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2011/10/pustaka_unpad_penanggulangan_komplika
si_pencabutan_gigi.pdf
Robinson PP, Loescher AR, Smith KG. 2003, Nerve damage and Third
Molar Removal Dent Update 2003; 30: 375382. Available from
http://exodontia.info/files/Dental_Update__Nerve_Damage_and_Third_Molar_Removal.pdf
Sistem

Saraf.

2012.

Available

from

http://staff.unila.ac.id/gnugroho/files/2012/11/SISTEM-SARAF-21.pdf

34

Sistem

Saraf

Pusat.

2000.

Available

from

http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/SponsorPendamping/Praweda/Biologi/0085%20Bio%202-9d.htm
Sudibjo, Subagio, Santoso, Alimsardjono. Anatomi Paket III. Laboratorium
Anatomi Histologi. Fakultas Kedokteran Univ. Airlangga
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29670/4/Chapter%20II.pdf
http://www.perdoski.or.id/doc/mdvi/fulltext/7/27/Dr._Rusnawi_F.doc
http://www.sisilain.net/2011/03/pengertian-kesemutan-kebasparestesia.html

35