Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Industri pengolahan kayu merupakan salah satu industri yang


pertumbuhannya sangat pesat, hal ini berkaitan dengan konsumsi hasil hutan
yang mencapai 33 juta m3 per tahun. Konsumsi hasil hutan yang sedemikian
besar itu antara lain diserap oleh industri plywood, sawmill, furniture, partikel
board dan pulp kertas (Yunus, 2006).
Data dari Bureau Labor Statistic menunjukan bahwa industri
manufaktur kayu mempunyai rate kecelakaan dan penyakit akibat kerja
sebesar 6,2 per 100 pekerja fulltime pada tahun 2010 sedangkan kasus
kematian tahun 2007 berjumlah 40, pada tahun 2008 sebanyak 27, pada tahun
2009 sebanyak 21, dan pada tahun 2010 mengalami kenaikan yaitu sebanyak
34, jumlah tersebut masih dapat bertambah (BLS, 2010).
Penelitian di Finlandia pada 18 industri furniture di Finlandia
mengatakan bahwa 214 kecelakaan di industri ini masuk dalam klasisikasi
lost time injury, dua diantara mereka kehilangan jari mereka, serta tercatat
rate kecacatan sebesar 14,4 kasus per 100 pekerja per tahun dalam industri
furniture (Aaltonen, 1996).
Data statistik kecelakaan pada sektor manufaktur dari National
Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH), rate kecelakaan untuk
industry furniture kayu di atas rata-rata rate industri lainnya, pada tahun
2007/2008 kompensasi yang dikeluarkan untuk kecelakaan pada industri
1 2009 dalam Ratnasingam, 2011).
mebel kayu adalah US$ 1.3 juta (NIOSH
Lingkungan industri mebel yang merupakan industri sektor informal
mengolah bahan baku kayu menjadi bahan jadi atau siap pakai seperti meja,

kursi, almari, dan lainnya. Akan tetapi dalam proses pengolahan bahan baku
untuk dijadikan mebel cenderung menghasilkan polusi, bising dan risiko
kecelakaan kerja, seperti: tertimpa, terjatuh, teriris dan lainnya yang dapat
terjadi akibat dari unsafe action (tindakan tidak aman) atau unsafe condition
(kondisi tidak aman).
Selain keselamatan, hazard kesehatan pada industri perkayuan juga
berpotensi menimbulkan risiko kesehatan terhadap pekerja. Menurut Mirza,
(2010) pekerja kayu terpajan oleh debu kayu, jamur, bakteri, endotoksin,
formaldehid, fenol, dan variasi hazard lainnya yang dapat mengganggu fungsi
paru, penyakit saluran nafas seperti rhinitis, bronchitis kronik, pneumonitis
hipersensitif, kanker sinonasal, kanker paru-paru, kanker paru, kanker
pancreas, dan kanker otak (Mirza, 2010).
Hazard pada industri perkayuan menurut Occupational Safety and
Health Administration (OSHA) berupa hazard keselamatan dan kesehatan.
Hazard keselamatan antara lain berupa faktor mekanik, listrik, kebakaran,
sengatan listrik serta kimia yang bersumber dari permesinan, kickbarker,
material yang terbang, serta peralatan yang digunakan, sedangkan hazard
kesehatan sedangkan hazard kesehatan dapat berupa kebisingan, hazard
kimia, debu, serta getaran (OSHA,1999)
Industri mebel menimbulkan polusi udara karena sekitar 10 sampai
13% dari kayu yang di gergaji akan berbentuk butiran debu yang dapat
beterbangan di udara.( Kumaidah, 2009) Sehingga dampak negatif dari
industri pengolahan kayu adalah timbulnya pencemaran udara oleh debu yang
timbul pada proses pengolahan atau hasil industri mebel tersebut. Bising yang
ditimbulkan dari industri mebel biasanya berpusat pada bagian produksi
(pemotongan pola atau bentuk kayu) yang dapat menimbulkan keclakaan

kerja apabila bekerja tidak sesuai dengan prosedur yang ada, sehingga akan
menyebabkan lingkungan kerja tidak nyaman dan dapat mempengaruhi
kinerja pekerja.
Faktor lingkungan yang mempengaruhi gangguan kesehatan pada
pekerja industri meubel adalah tempat kerja ventilasi, suhu, kelembaban,
perilaku penggunaan alat pelindung diri dan posisi kerja pada proses
penggergajian, penyiapan bahan baku, penyerutan dan pengamplasan,
perakitan serta pengecatan yaitu pemakaian zat kimia seperti H2O2, thenner,
sanding sealer, melanic clear, word stain, serta jenis cat lainnya yang dapat
mengakibatkan radang saluran nafas dengan gejala batuk, pilek, sesak nafas
dan demam, juga dapat terjadi iritasi pada mata dengan gejala mata pedih,
kemerahan dan berair (Wahyuningsih, 2003).
Diketahui kecelakaan yang pernah dialami karena unsafe action,
seperti: jari tangan teriris pisau mesin pemotong kayu/gergaji juga mesin
plener dan terkena tatah, jari kaki tertimpa papan/kayu, tangan panas dan
pecah-pecah (kasar) akibat tidak memperhatikan pekerjaan dengan baik
melainkan mengobrol bersama teman kerja yang lain, juga terjatuh akibat
membawa beban (kayu) melebihi kemampuan tanpa alat bantu yang
menyebabkan nyeri otot bahu. Semua kecelakaan tersebut terjadi akibat tidak
menggunakan APD lengkap (sarung tangan, masker, sepatu dan baju kerja)
sesuai dengan yang disediakan ditempat kerja hingga menyebabkan cidera
sementara. Dimana menurut Heinrich, menyatakan bahwa cidera sementara
dikarenakan tidak dapat melanjutkan pekerjaannya lagi di hari kejadian
setelah terjadi kecelakaan.(Sumamur, 1981)
Sedangkan berdasarkan unsafe condition, antara lain: lantai yang licin
akibat banyaknya serbuk kayu, bising dari mesin pemotong kayu walau tidak

terlalu tetapi tetap mengganggu pekerja disekitarnya, juga pekerja kerap kali
mengeluh sesak nafas akibat di tempat kerja banyak serbuk kayu yang
berterbangan di udara dan terhirup oleh pekerja.
Dalam suatu aktivitas industri, paparan atau risiko bahaya yang ada di
tempat kerja tidak selalu dapat dihindari. Oleh karena itu langkah yang paling
aman adalah memakai APD. Undang-Undang No 1 Th 1970 tentang
keselamatan kerja khususnya pasal 9, 12 dan 14 yang mengatur penyediaan
dan penggunaan alat pelindung diri di tempat kerja baik pengusaha maupun
tenaga kerja. Dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi
Republik Indonesia Nomor PER.08/MEN/VII/2010 Tentang Alat Pelindung
Diri.
Untuk mencegah bahaya akibat kerja bagi para pekerja khususnya
pada industri maka dibentuklah K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
(Tarwaka, 2008) Salah satu bentuk penerapan K3 adalah tentang penggunaan
APD. Definisi APD (Alat Pelindung Diri) secara sederhana adalah
seperangkat alat yang digunakan tenaga kerja untuk melindungi sebagian atau
seluruh tubuhnya dari adanya potensi bahaya atau kecelakaan kerja. APD
tidaklah secara sempurna melindungi tubuh, akan tetapi dapat mengurangi
tingkat keparahan yang mungkin dapat terjadi.
Berdasarkan hasil pengamatan di perusahaan Family Interior Design
kami menemukan pekerja yang tidak memakai APD saat beraktivitas atau
bekerja,sehingga pekerja terpapar dengan bahan-bahan seperti debu, bahan
kimia yang digunakan dan lingkungan yang bising. Padahal bahaya yang
ditimbulkan dapat memicu terjadinya kecelakaan kerja atau penyakit akibat
kerja. Sehingga penulis terdorong untuk melakukan penyuluhan mengenai

pentingya Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi Pekerja Meubel


khususnya bagi pekerja meubel perusahaan Family Interior Design.

B.

Rumusan Masalah
Pekerja industri meubel skala rumah tangga di Kota Pekanbaru, dalam
menggunakan APD belum menjadi kebiasaan dalam melakukan pekerjaan,
sehingga risiko terpapar debu lebih besar, dan meningkatkan resiko
kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

C. Tujuan
1. Tujuan Umum

Untuk meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya penggunaan Alat


Pelindung Diri (APD) pada pekerja Family Interior Design JL, Gotong
Royong Kel. Labuh Baru Timur Kec. Payung Sekaki Kota Pekanbaru.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk meningkatkan pengetahuan tentang Kesehatan Dan Keselamatan

Kerja (K3) pada pekerja Family Interior Design JL. Gotong Royong
Kel. Labuh Baru Timur Kec. Payung Sekaki Kota Pekanbaru.
b. Untuk meningkatkan pengetahuan tentang Hazzard (bahaya) pada

pekerja Family Interior Design JL, Gotong Royong Kel. Labuh Baru
Timur Kec. Payung Sekaki Kota Pekanbaru.
c. Untuk meningkatkan pengetahuan pekerja mengenai APD (alat

pelindng diri ) pada pekerja Family Interior Design JL, Gotong Royong
Kel. Labuh Baru Timur Kec. Payung Sekaki Kota Pekanbaru. .

D. Manfaat
1. Bagi Pekerja

Dapat mengetahui upaya-upaya dalam meningkatkan kesehatan


dan keselamatan kerjanya sehingga dapat meningkatkan drajat kesehatan
pekerja.
2. Bagi Mahasiswa

Sebagai sarana untuk menambah wawasan/informasi mengenai


upaya promosi kesehatan dan keselamatan kerja pada pekerja industry
meubel..
3. Bagi STIKes Payung Negeri Pekanbaru.

Hasil kegiatan ini diharapkan dapat menjadi masukan serta bahan


informasi bagi para mahasiswa/i STIKes Payung Negeri Pekanbaru
khususnya di Program Studi Kesehatan Masyarakat. dalam melakukan
kegiatan pengabdian masyarakat, khususnya untuk mata promosi
kesehatan dan keselamatan kerja.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Industri Mebel Kayu

Meubel kayu adalah istilah yang digunakan untuk perabot rumah


tangga yang berfungsi sebagai tempat penyimpan barang, tempat duduk,
tempat tidur, tempat mengerjakan sesuatu dalam bentuk meja atau
tempat

menaruh

barang

di permukaannya,

misalnya

Meubel

kayu

sebagai tempat penyimpan biasanya dilengkapi dengan pintu, laci dan


rak, contoh lemari pakaian, lemari buku dan lain-lain. Meubel

Kayu

dapat terbuat dari kayu, bambu, logam, plastic dan lain sebagainya. Meubel
Kayu sebagai produk artistik biasanya terbuat dari kayu pilihan dengan
warna dan tekstur indah yangdikerjakan dengan penyelesaian akhir yang
halus. Menurut Depkes RI (2002),
Industri meubel kayu adalah pekerja sektor informal yang
menggunakan berbagai jenis kayu sebagai bahan baku/utama alam
proses

produksinya serta menerapkan cara kerja yang bersifat tradisional.

Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan meubel kayu oleh


perajin sektor informal tersebut adalah kayu. Ada 2 jenis bentuk kayu yang
bisa digunakan : kayu balok dan papan serta kayu lapis. Kayu balok

biasanya

terdiri

dari kayu keras semata dan digunakan sebagai

rangka utama suatu meubel, sedangkan kayu papan sering merupakan kayu
gubal at aukeras dan dipakai sebagai dinding dan alas dari suatu meubel.
Mesin dan peralatan yang banyak digunakan pada pembuatan meubel
kayu adalah dalam kegiatan penggergajian/pemotongan, pengamatan,
pemotongan bentuk, pelubangan, pengukiran, pengaluran, penyambungan,
pengampalasan, dan pengecatan.
Adapun mesin dan peralatan yang banyak digunakan adalah
sebagai

berikut:

circular

sawing

machine,

mesin

ketam,

mesin

pembentuk kayu (band saw), drilling machine, screw driver/obeng tangan,


compresor, jig saw, hack saw, tatah kuku/datar, sprayer, palu basi/kayu, kuas
8
dan lain-lain.

B. Peralatan Dan Hazzard Industri Meubel

Beberapa peralatan yang digunakan dalam industri kayu yaitu:


a.

Gergaji Tangan, Gergaji tangan digunakan untuk memotong bahan baku


atau kayu yang akan, digunakan dalam proses pembuatan furniture atau
mebel kayu. Hazard yang ditimbulkan dari gergaji tangan adalah tangan
menjadi lecet dan luka.

b.

Circular Saw. Circular saw merupakan peralatan yang digunakan untuk


memotong dengan lurus sebuah material atau kayu (OSHA, 1999).
Beberapa hazard yang ditimbulkan dari perlatan ini yaitu terpotong,
kickback atau material kayu terpental mengenai pekerja setelah
dimasukan ke dalam circular saw, terlemparnya material hasil
pemotongan, nip points (terjepit peralatan yang memutar (OSHA, 1999).

c.

Planer.

Planner

merupakan

peralatan

yang

digunakan

untuk

menghauskan sisi-sisi material atau kayu yang kasar (OSHA, 1999).


Beberapa hazard yang ditimbulkan yaitu :

d.

1)

Terkena mesin pemotong

2)

Baju operator atau rambut dapat terjepit

3)

Kickback

4)

Terkena lemparan objek atau material kayu

5)

Getaran serta kebisingan

Mesin Bor. Menurut OSHA tahun 1999 mesin bor merupakan alat yang
digunakan untuk membuat lubang, misalnya untuk menyambungkan
material. Hazard yang ditimbulkan dari mesin bor diantaranya
1)

Kontak dengan mata bor

2)

Terseret atau terjerat mesin bor

3)

Material sepeti serpihan kayu maupun debu dapat terlempar ke tubuh


pekerja, misalnya mata

4)
e.

Kickback, material dapat terpental kembali kea rah pekerja

Gerinda.

Gerinda

merupakan

peralatan

yang

digunakan

untuk

memperhalus permukaan kayu. Terkadang oleh pekerja gerinda juga


digunakan untuk menghaluskan mata ketam atau planer manual
f.

Router. Router digunakan untuk memotong kayu dengan menghias


pinggiran kayu, membuat frame, membuat bingkai pintu. Pekerja dapat
terluka jika dia kontak dengan mesin tersebut yaitu saat memegang
maupun saat memersihkan sisa material yang menempel pada meja
(OSHA, 1999). Beberapa hazard yang ada pada router menurut OSHA,
1999 yaitu
1)

Titik operasi yaitu terpotong mata pisau rantai

10

2)

Bagian Pemutar, baju atau rambut pekerja mungkin tertangkap pada


bagian pemutar router

3)

Tool projection, mata pisau dapat terlempar dan mengenai pekerja


jika tidak seimbang

4)

Flying object, serpihan kayu maupun debu kayu merupakan material


yang dihasilkan pada proses pemotongan menggunakan router

g. Jig saw. Jigsaw digunakan untuk membentuk tikungan atau curve pada

kayu (OSHA, 1999). Jigsaw biasa digunakan untuk membentuk material


dengan bentuk khusus dan membuat lubang melingkar. Jig saw
mempunyai mata pisau yang berbedabeda, tergantung dengan material
yang akan dipotong (ITE Service, 2008). Beberapa hazard yang muncul
ketika mengoperasikan jigsaw menurut ITE Service tahun 2008 yaitu :
1)

Terlemparnya mata pisau jig saw

2)

Pergerakan dari material atau kayu

3)

Fume dan partikel debu

4)

Hazard listrik

5)

Terlemparnya material hasil pemotongan

6)

Api karena panas yang dihasilkan oleh gesekan material dengan


mesin

7)

Terpotong karena mata pisau jig saw

h. Spray Gun. Alat ini digunakan dalam proses finishing yaitu dalam

melakukan sending atau pelapisan melamix glos.


i.

Compresor. Compresor difungsikan sebagai pendorong pada saat


dilakukan penyemprotan pada proses finishing

j.

Palu. Palu digunakan untuk memalu pada saat merangkai bahan-bahan


atau kayu yang telah siap untuk dirangkai menjadi produk. Selain itu,

11

palku juga digunakan untuk membantu proses perangkaian bahan baku


kayu.

C.

Proses Pembuatan Meubel dan Bahaya Setiap Proses


Pada dasarnya, pembuatan meubel dari kayu melalui lima proses
utama, yaitu proses penggergajian kayu, penyiapan bahan baku, proses
penyiapan komponen, proses perakitan dan pembentukkan (bending) serta
proses akhir (finishing). Bahaya potensial dan akibatnya pada setiap proses
antara lain :
a.

Penggergajian (pemotongan dan pembelahan). Pada proses pemotongan


dan pembelahan digunakan beberapa alat yaitu gergaji tangan, circular
saw, serta jigsaw. Hal ini berdasarkan bentuk yang diperlukan dan
diinginkan dalam suatu produk. Potensi bahaya yang dapat ditimbulkan
adalah :
1)

Faktor kimia : Debu kayu, Debu kayu yang terjadi akibat proses
penggergajian dapat masuk kedalam tubuh melalui saluran
pernafasan dan dapat pula menyebabkan allergi terhadap kulit, dapat
menyebabkan iritasi mata dan allergi terhadap saluran pernafasan,
dan dapat menyebabkan gangguan pernafasan.

2)

Faktor Fisik : Bising, Kegiatan penggergajian, pemotongan,


pelubangan, akan menimbulkan kebisingan yang dapat menyebabkan
gangguan aktivitas, konsentrasi dan pendengaran, gangguan
pendengaran yang timbul pada awalnya masih bersifat sementara,
tetapi pada pemajanan tingkat kebisingan tertentu, misalnya lebih
dari 85 dB (A) dan dalam waktu yang lama, dapat menyebabkan

12

kerusakan pendengaran yang menetap sehingga menyebabkan tuli


yang tidak diobati dari pekerja yang bersangkutan.
3) Faktor mekanis : terpotong, terkena lemparan, material ke mata,

tertusuk kayu, kick back, tertimpa kayu,


4) Faktor ergonomi : posisi kerja yang tidak benar / tidak ergonomis

(seperti jongkok, membungkuk akan menimbulkan nyeri otot dan


punggung).
b.

Penyerutan dan Penghalusan. Penyerutan atau penghalusan . Penghalusan


dilakukan dengan beberapa alat atau mesin yaitu : Planer, gerinda, dan
router . potensi baha yang dapat ditimbulkan adalah :
1)

Faktor kimia : debu yang terjadi akibat proses penyerutan dan


pengamplasan dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran
pernafasan serta dapat menyebabkan allergi pada kulit. Dampak
negatif terhadap kesehatan dapat berupa : Iritasi dan allergi saluran
pernafasan dan dapat menyebabkan iritasi mata.

2)

Faktor ergonomi kerja yang kurang hati-hati akan menimbulkan luka


tersayat , tertusuk , dan terpukul.

3)

Faktor fisik : Getaran dan Kebisingan dari alat yang digunakan dapat
menyebabkan gangguan White Finger dan Gangguan Pendengaran.

4)

Faktor mekanis: terluka tangannya, terkena lemparan material ke


mata,

tertimpa gerinda kayu, tersengat listrik, tersandung,

terlepasnya, bantalan gerinda


c.

Perakitan. Dalam proses perakitan ini kita melakukan penyambungan


dengan Lem, alat pengepres, palu dan paku,potensi bahaya yang dapat
ditimbulkan adalah :

13

1)

Faktor kimia : debu kayu dapat menyebabkan iritasi mata, gangguan


pernafasan

2)

Faktor fisik : suara bising berupa ketukan dan suara nyaring lainnya
dapat mengganggu konsentrasi, aktivitas dan gangguan pendengaran.
Akibat cara kerja yang kurang konsentrasi dapat menimbulkan
kecelakaan / bahaya seperti tertusuk paku, sekrup dan lain-lainnya.

3)

Faktor mekanis : terpukul palu, tertusuk paku, tertimpa palu, terkena


lemparan, material hasil pemakuan, tertimpa material kayu

4)

Faktor kimia: lem kayu, polyvinyl acetate dapat menyebabkan Iritasi


mata, kulit, tenggorokan, mata seperti terbakar, kulit lecet, ganguan
pernafasan.

5)

Posisi kerja yang tidak benar / tidak ergonomis (seperti jongkok,


membungkuk) akan menimbulkan nyeri otot dan punggung.

d.

Pemutihan / Pengecatan dan pengamplasan.


1)

Faktor mekanis : lecet atau luka saat mengamplas.

2)

Factor kimia : uap cat / zat kimia seperti H2O2, thinner, KP, sanding
sealer, melamic clear, wood stain serta jenis cat lainnya dapat
mengakibatkan: Peradangan pada saluran pernafasan, dengan gejala
batuk, pilek, sesak nafas, demam, Iritasi pada mata dengan gejala
mata pedih, kemerahan, berair.

3)

Posisi kerja yang tidak benar/tidak ergonomis (seperti jongkok,


membungkuk) akan menimbulkan nyeri otot dan punggung.

D. Pengendalian Hazzard

Terdapat beberapa pengendalian yang dilakukan yaitu :


a.

Enginering

14

1)

Menggunakan exhaust ventilasi lokal yang diletakan pada workshop


maupun pada setiap alat yang digunakan pada industri perkayuan
untuk menangani debu (OSHA, 1999).

2)

Memasang machine guarding agar mengurangi risiko kontak dengan


tangan atau bagian tubuh lainnya (OSHA, 1999).

b.

3)

Menutup semua kabel listrik yang digunakan

4)

Membuat peralatan emergency

Administration
1)

Membuat standar operasional prosedur (SOP), misalnya mengenai


cara kerja pada saat menggunakan circular saw yaitu mendorong
kayu yang akan dipotong menggunakan stik (OSHA, 1999)

2)

Melakukan pelatihan kepada pekerja mengenai permesinan yang


akan digunakan dan hanya mempekerjakan pekerja yang sudah
diberikan pelatihan untuk menggunakan peralatan (OSHA, 1999).
Pekerja harus mengetahui semua tujuan dan fungsi permesinan,
mengerti bagaimana menghentikan mesin pada saat emergency.

3)

Melakukan inspeksi pada mesin dan pelindung mesin, menurut


OSHA tahun 1999, orang yang melakukan inspeksi harus
memastikan hal tersebut.

4)

Operator dan mesin dilengkapi dengan peralatan keselamatan yang


tepat

5)

Mesin dan peralatan keselamatan dalam kondisi baik

6)

Pekerja sudah diberikan pelatihan

15

7)

Menggunakan peralatan hanya jika peralatan tersebut mempunyai


pelindung mesin (OSHA, 1999)

8)

Menyediakan stik atau peralatan lainnya untuk membantu pekerja


mengurangi kontak dengan mesin

9)

Menggunakan sikat berbulu untuk membersihkan mata pisau


peralatan tidak menggunakan tangan

10) Melakukan perawatan peralatan secara intensif Tidak membiarkan

peralatan

dalam

keadaan

hidup

jika

ditinggal

Melakukan

housekeeping yang baik


11) Tidak mengijinkan pekerja memiliki rambut panjang dan baju yang

panjang ketika bekerja


c.

Alat Pelindung Diri


Beberapa alat pelindung diri yang digunakan untuk sebagai
perlindungan terakhir yaitu

E.

1)

Helm

2)

Eye protection, seperti kaca mata pelindung (googles),

3)

Safety shoes

4)

Earplug, earmuff

5)

Respirator

6)

Gloves

Alat Pelindung Diri (APD)


1.

Pengertian Alat Pelindung Diri (APD)


Menurut Tarwaka Alat Pelindung Diri (APD) adalah seperangkat
alat keselamatan yang digunakan oleh pekerja untuk melindungi seluruh

16

atau sebagian tubuhnya dari kemungkinan adanya pemaparan potensi


bahaya lingkungan kerja terhadap kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Sedangkan menurut peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan
Transmigrasi nomor PER.08/MEN/VII/2010 tentang alat pelindung diri,
Alat Pelindung Diri selanjutnya disingkat APD adalah suatu alat yang
mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang yang fungsinya
mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari potensi
2.

Syarat-syarat Alat Pelindung Diri (APD)


Adapun syarat-syarat APD agar dapat dipakai dan efektif dalam
penggunaan dan pemiliharaan APD sebagai berikut :
a.

Alat pelindung diri harus mampu memberikan perlindungan efektif


pada pekerja atas potensi bahaya yang dihadapi di tempat kerja.

b.

Alat pelindung diri mempunyai berat yang seringan mungkin,


nyaman dipakai dan tidak merupakan beban tambahan bagi
pemakainya.

c.

Bentuk cukup menarik, sehingga pekerja tidak malu memakainya.

d.

Tidak menimbulkan gangguan kepada pemakainya, baik karena jenis


bahayanya maupun kenyamanan dalam pemakaian.

e.

Mudah untuk dipakai dan dilepas kembali.

f.

Tidak mengganggu penglihatan, pendengaran dan pernapasan serta


gangguan kesehatan lainnya pada waktu dipakai dalam waktu yang
cukup lama.

g.

Tidak mengurangi persepsi sensori dalam menerima tanda-tanda


peringatan.

h.

Suku cadang alat pelindung diri yang bersangkutan cukup tersedia di


pasaran.

17

i.

Mudah disimpan dan dipelihara pada saat tidak digunakan

j.

Alat pelindung diri yang dipilih harus sesuai standar yang


ditetapkan. (Tarwaka, 2008).

3.

Pemeliharaan dan penyimpanan APD


Secara prinsip pemeliharaan APD dapat dilakukan dengan cara :
a.

Penjemuran di panas matahari untuk menghilangkan bau dan


mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.

b.

Pencucian dengan air sabun untuk plindung diri seperti helm,


kacamata, earplug yang terbuat dari karet, sarung tangan
kain/kulit/karet dan lain-lain.

c.

Penggantian cartirgde atau canister pada respirator setelah dipakai


beberapa kali.
Untuk penyimpanan APD diperlukan adanya beberapa syarat
yaitu:

a.

Tempat penyimpanan yang bebas dari debu, kotoran, dan tidak


terlalu lembab, serta terhindar dari gigitan binatang.

b.

Penyimpanan harus diatur sedemikian rupa sehingga mudah diambil


dan dijangkau oleh pekerja dan diupayakan disimpan di almari
khusus APD.

4.

Macam-Macam Alat Pelindung Diri (APD) Di Tempat Meubel


a.

Alat Pelindung Kepala (helm). Tujuan penggunaan alat pelindung


kepala adalah untuk pencegahan :
1)

Rambut pekerja terjerat oleh mesin.

2)

Bahaya terbentur benda tajam atau keras yang dapat


menyebabkan luka gore s, terpotong, tertusuk.

18

3)

Bahaya kejatuhan benda atau terpukul benda-benda yang


melayang dan meluncur di udara.

4)

Bahaya percikan bahan kimia korosif, dan panas sinar matahari.


(Tarwaka, 2008).
Dalam industry mebel helm berfungsi Berfungsi sebagai

pelindung kepala dari benda yang bisa mengenai kepala secara


langsung. Seperti , terkena lemparan kayu, kick back, tertimpa kayu.

Gambar 4.1. Safety Helmet


b.

Alat pelindung mata. Masalah pencegahan kecelakaan yang paling


sulit adalah kecelakaan pada mata. Oleh karena biasanya tenaga
kerja

menolak

untuk

memakai

kacamata

pengaman

yang

dianggapnya mengganggu dan tidak enak untuk dipakai (Tim


Penyusun, 2008). Kacamata ini memberikn perlindungan diri dari
bahaya-bahaya seperti:
1)

Percikan bahan kimia korosif

2)

Debu dan partikel-partikel kecil yang melayang di udara

3)

Gas/uap yang dapat menyebabkan iritasi mata.

4)

Radiasi

gelombang

elektromagnetik,

panas

radiasi

sina

matahari.
5)

Pukulan/benturan benda keras. (Tarwaka, 2008).


Terdapat 3 bentuk alat pelindung mata yaitu (Tim Penyusun,

2008).

19

1)

Kacamata. Kacamata keselamatan untuk melindungi mata dari


partikel kecil yang melayang di udara serta radiasi gelombang
elektrobagnetis.

2)

Goggles. Kacamata bentuk framennya dalam, yang digunakan


untuk melindungi mata dari bahaya gas-gas, uap-uap, larutan
bahan kimia korosif dan debu-debu. Googles pada umumnya
kurang diminati oleh pemakainya, oleh karena selain tidak
nyaman juga alat ini menutup mata terlalu rapat sehingga tidak
terjadi ventilasi di dalamnya dengan akibat lensa mata sudah
mengembun. Untuk mengatasi hal ini, lensa dilapisi dengan
bagan

hidrofil/googles

dilengkapi

dengan

lubang-lubang

ventilasi.
3)

Tameng muka. Tameng muka ini melindungi muka secara


keseluruhan dari ahaya. Bahaya percikan logam dan radiasi.
Dilihat dari segi keselamatannya, penggunaan tameng muka ini
lebih dari menjamin keselamatan tenaga kerja dari pada dengan
spectacles maupun googles.
Dari ketiga alat pelindung mata tersebut,untuk pekerja mebel

kacamata adalah yang paling nyaman untuk dipakai dan digunakan


untuk dipakai dan digunakan untuk melindungi mata dari partikel
kecil yang melayang seperti debu, dan melindungi mata dari zat-zat
kimia dari cat di udara serta radiasi gelombang ultramagnetik.

Gambar 4.2. Kacamata

c.

Alat Pelindung Telinga

20

Alat ini bekerja sebagai penghalang antara bising dan telinga


dalam selain itu, alat ini melindungi pemakaiannya dari bahaya
percikan api atau logam-logam panas misalnya pada pengelasan.
1)

Sumbat telinga (earplug) . Digunakan di tempat kerja yang


mempunyai intensitas kebisingan antara 85 dB A sampai 95 dB
A. Ukuran bentuk dan posisi saluran telinga untuk tiap-tiap
individu berbeda-beda dan bahkan antara kedua telinga dari
individu yang sama berlainan pula. Oleh karena itu sumbat
telinga harus dipilih sesuai dengan ukuran, bentuk dan posisi
saluran telinga pemakaiannya. Diameter saluran antara 5 11
mm. Umumnya bentuk saluran telinga adalah lonjong, tetapi
beberapa diantaranya berbentuk bulat. Saluran telinga manusia
umumnya tidak lurus. Penyebaran saluran telinga laki-laki
dalam hubungannya dengan ukuran alat sumbat telinga
(ealpling) kurang lebih adalah sebagai berikut : 5% sangat kecil,
15% kecil, 30% sedang 30% besar, 15% sangat besar dan
sumbat telinga yang disuplai oleh pabrik-pabrik pembuatnya.
(Tim Penyusun, 2008). Sumbat telinga dapat terbuat dari kapas,
malam (wax), plastik karet alami dan sintetik.
Pelindung telinga yang baik digunakan untuk pekerja
mebel adalah

earplug, earplug berfungsi untuk melindungi

telinga dari kebisingan yang ditimbulkan saat bekerja.

Gambar 4.3. Earplug

d.

Alat Pelindung Pernafasan

21

Alat pelindung jenis ini digunakan untuk melindungi


pernafasan dari resiko paparan gas, uap, debu, atau udara
terkontaminasi atau beracun, korosi atau yang bersifat rangsangan.
(Tarwaka, 2008). Selain penggunaannya pada keadaan darurat, alat
pelindung ini juga dipakai secara rutin atau berkala dengan tujuan
inspeksi, oemeliharaan atau perbaikan alat-alat dan mesin yang
terdapat ditempat-tempat kerja yang udaranya telah terkontaminasi
oleh bahan-bahan kimia berbahaya (Tim Penyusun, 2008). Alat
pelindung pernafasan dibedakan menjadi :
1)

Masker. Masker umumnya terbuat dari kain kasa atau busa yang
didesinfektan terlebih dahulu. Penggunaan masker umumnya
digunakan untuk mengurangi paparan debu atau partikel-partikel
yang lebih besar masuk ke dalam saluran pernapasan.

2)

Respirator. Respirator digunakan untuk melindungi pernafasan


dari paparan debu, kabut, uap logam, asap dan gas-gas
berbahaya (Tarwaka, 2008).
Untuk pelindung pernafasan yang biasa digunakan
adalah masker, masker berfungsi untuk melindungi saluran
pernafasan dari paparan debu, zat kimia yang digunakan dalam
proses prduksi. Untuk menghidari Penyakit Akibat Kerja (PAK).

Gambar 4.4. Respirator


e.

Alat Pelindung Tangan


Alat pelindung tangan mungkin yang paling banyak
digunakan. Hal ini tidak mengherankan karena jumlah kecelakaan
pada tangan adalah yang banyak dari seluruh kecelakaan yang terjadi

22

di tempat kerja (Tim Penyusun, 2008). Adapun faktor-faktor yang


perlu dipertimbangkan dalam pemilihan sarung tangan yang tepat
antara lain adalah :
1)

Bahaya yang terpapar, berbentuk bahan-bahan kimia, korosif,


benda-benda panas, dingin, tajam atau kasar.

2)

Daya tahannya terhadap bahan-bahan kimia misalnya sarung


tangan dari karet alami adalah tidak tepat bila digunakan pada
pemaparan pelarut pelarut organic (solvents) karena karet alami
larut dalam solvents.

3)

Kepekaan yang diperlukan dalam melakukan suatu pekerjaan


untuk pekerjaan harus dimana pemakainya harus membedakan
benda-benda yang halus, pemakaian sarung tangan yang tipis
akan memperikan kepekaan yang lebih besar dari sarung tangan
yang berukuran tebal. Bagian tangan yang harus dilindungi,
bagian tangan saja atau tangan dan lengan bawah.
Untuk melindungi tangan pada pekerja mebel dapat

digunakan sarung tangan untuk menghindari luka dan terpapar bahan


kimia yang dapat menyebabkan iritasi dan alergi.

Gambar 4.5. Sarung Tangan


f.

Alat Pelindung Kaki


Sepatu keselamatan kerja dipakai untuk melindungi kaki dari bahaya
kejatuhan benda-benda berat, kepercikan larutan asam dan basa yang
korosit atau cairan yang panas, menginjak benda-benda tajam.

23

Gambar 4.6. Safety shoes

BAB III
METODE PELAKSANAAN

A. Waktu dan Tempat

Hari/Tanggal

: Jumat, 23 Desember 2016

Jam

: Pukul 08.00 WIB sampai selesai

Tempat

: Family Interior Design JL. Gotong Royong


Kel. Labuh Baru Timur Kec. Payung Sekaki
Kota Pekanbaru

B. Metode

Kegiatan penyuluhan ini akan dilaksanakan dengan metode


ceramah. Dengan menggunakan media leptop, infocus, TOA, serta
adanya pemberian cindramata kepada peserta.

C. Susunan Acara Pelaksanaan Kegiatan

NO
1
2
3
4

KEGIATAN

WAKTU

KETUA PELAKSANA

Pembukaan Penyuluhan

15.00 15.05

Kursiah Warti N. SKM. M.Kes

Penyuluhan
Penutup Penyuluhan
Pemberian Cendramata

15.05 15.10
15.10 15.15
15.15 15.20

Kursiah Warti N. SKM. M.Kes


Kursiah Warti N. SKM. M.Kes
Kursiah Warti N. SKM. M.Kes

24

D.

Panitia Pelaksanaan
Moderator
: Rekha Dessa Putra
2. Penyaji
: Abdullah
3. Seksi Acara dan Peralatan : Kiki Yolanda
Desfi Handayani
Sri Ningsi
27
4. Seksi Konsumsi
: Nova Yusfahni
5. Seksi Dokumentasi
: Andi Chairina
1.

E. Peserta Pengabdian Masyarakat

Pekerja Family Interior Design JL. Gotong Royong Kel. Labuh


Baru Timur Kec. Payung Sekaki Kota Pekanbaru.

F. Tahapan Kegiatan
1. Tahapan Persiapan
a. Survei Pendahuluan
b. Pencarian judul
c. Menyusun Proposal dan Bimbingan Akademik
d. Meminta persetujuan dari dosen pembimbing
e. Menyerahkan proposal penyuluhan kepada dosen penguji
2. Tahapan pelaksanaan
a. Persiapan pembukaan penyuluhan
b. Pembukaan penyuluhan
c. Menjelaskan poin materi yang akan disampaikan
d. Memberikan penjelasan materi kepada peserta
e. Pemberian Doorprize Kepada peserta
f.

Penutupan penyuluhan

3. Tahapan penutupan

25

a. Memberikan Cendera Mata Kepada Pemilik Perusahaan Family

Interior Design.
b. Menutup Penyuluhan sesuai jadwal

G. Anggaran Biaya

No
1

Nama Alat
Jumlah
Bahan Habis Pakai
a Jilid Langsung Proposal
1
b Foto Copy Proposal
1
c Print Proposal
1
d Foto copy Proposal
1

Satuan
buah
rangkap
rangkap
rangkap

Harga

Jumlah

Rp. 10.000
Rp.
5.000
Rp. 30.000
Rp. 10.000

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

15.000
5.000
30.000
10.000

e Jilid Langsung Laporan


f Print Laporan

1
1

rangkap
rangkap

Rp. 10.000
Rp. 40.000

Rp.
Rp.

15.000
40.000

g Foto Copy Laporan

rangkap

Rp. 10.000

Rp.

10.000

Media
a Hand out
Biaya Konsumsi

10
10

buah
buah

Rp. 10.000
Rp. 5.000

Rp. 10.000
Rp. 50.000

Cindra mata

buah

Rp

Rp. 120.000

Biaya Tidak Terduga

60.000

Rp. 150.000

Jumlah

Rp. 455.000

BAB IV
HASIL KEGIATAN

26

A.

Profil Bengkel
1.

Profil Industri
Nama Industri
Alamat Bengkel
a. Jalan
b. Desa/Kelurahan
c. Kecamatan
d. Kabupaten/Kota
e. Provinsi
f. Kode Pos
Nama Pemilik Bengkel
Nomor HP
a.

2.

3.
4.

: Family Interior Design


: Gotong Royong No.8c
: Labuh Baru Timur
: Payung Sekaki
: Pekanbaru
: Riau
:
: Ameng
: 0856-6448-3555/0812-7533-555

A. Hasil Kegiatan Penyuluhan


Materi yang tim penyuluh sampaikan disini adalah tentang Pentingnya
Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang biasa digunakan pekerja
Meubel. Tim penyuluh menyampaikan materi ini dengan dua media yang
pertama media spanduk dan yang kedua dengan menggunakan handout. Pada
saat tim penyuluh melakukan penyuluhan tetang Pentingnya Penggunaan
APD ini, pekerja Family Interior Design VID mau mendengarkan apa yang
tim penyuluh sampaikan, dan pekerja juga merespon dengan baik apa yang
tim penyuluh sampaikan.
Disini tim penyuluh menjelaskan mengenai hazzard dan resiko
kecelakaan dan penyakit akibat kerja,dan tim penyuluh bertanya apakah
pekerja maubel family interior design pernah mengalami kecelakaan kerja,
dan para pekerja meubel mengatakan pernah mengalami kecelakaan kerja
seperti yang tim penyuluh jelaskan.
Setelah itu tim penyuluh menjelaskan APD yang digunakan untuk
pekerja meubel, dan pekerjapun mengetahui APD apa saja yang dapat mereka
gunakan dalam pencegahan kecelakaan kerja di tempat kerja meubel. APD itu
adalah seperti :

27

1.

Helm

2.

Eye protection, seperti kaca mata pelindung (googles),

3.

Safety shoes

4.

Earplug, earmuff

5.

Respirator

6.

Gloves
Setelah tim penyuluh menyampaikan materi, tim penyuluh memberi

kesempatan pada pekerja untuk bertanya materi yang belum dipahami, dan
setelah itu tim penyuluh balik bertanya mengenai sejauh mana pekerja
mengerti materi yang disampaikan, pekerja bisa menjawab setiap materi yang
ditanyakan.
Selesai

memberikan

penyuluhan,

tim

penyuluh

memberikan

cindramata kepada pekerja berupa peralatan safety, dan poster mengenai APD
pada pekerja meubel.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

28

Setelah dilakukan penyuluhan tentang pentingnya penggunaan APD


pada pekerja mebel jl. Gotong royong kelurahan Labuh Baru, kecamatan
Payung Sekaki, pengetahuan pekerja sudah mulai mengalami peningkatan
antara sebelum melakukan intervensi dengan sesudah melakukan intervensi.
B.

Saran
Diharapkan kepada pekerja mebel untuk terus menggunakan APD
lengkap disaat bekerja.