Anda di halaman 1dari 31

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN MENENGAH


OPTIMALISASI MANAJEMEN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA
GUNA MENINGKATKAN PROFESIONALISME POLRI
DALAM RANGKA TERWUJUDNYA KEPASTIAN HUKUM
BAB I
PENDAHULUAN
A;

Latar Belakang
Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah sebagai institusi yang
bertanggung jawab terhadap perlindungan, pengayoman dan pelayanan
masyarakat, dituntut untuk dapat menggunakan instrumen hukum yang
lebih mencerminkan budaya masyarakat sipil dalam proses penegakan
hukum, serta secara gradual meninggalkan budaya represif dalam
memelihara Kamtibmas. Tuntutan reformasi total di Indonesia, yang
menghendaki perubahan diberbagai aspek kehidupan dibidang Politik,
Ekonomi, Sosial Budaya, Keamanan dan Hukum. Tuntutan reformasi
dibidang hukum menghendaki terwujudnya supremasi hukum yang ditopang
dengan kokohnya pilar hukum yang meliputi substansi hukum, kualitas
aparat penegak hukum, sarana prasarana hukum yang memadai dan
tingginya budaya hukum masyarakat. Kehendak untuk mewujudkan
supremasi hukum merupakan tantangan bagi Polri dalam upaya
meningkatkan profesionalisme dan kinerja dibidang penegakan hukum.
Penegakan hukum yang akuntabel dapat diartikan sebagai suatu
upaya

pelaksanaan penegakan hukum yang

dapat dipertanggung

jawabkan kepada masyarakat, bangsa dan negara yang menyangkut atau


berkaitan terhadap adanya kepastian hukum dalam sistem hukum yang
berlaku, kemanfaatan hukum dan keadilan bagi masyarakat. Proses
penegakan hukum tidak pula dapat dipisahkan dengan sistem hukum itu
sendiri. Sedang sistem hukum dapat diartikan merupakan bagian-bagian
proses / tahapan yang saling bergantung yang harus dikerjakan atau
dijalankan serta dipatuhi oleh Penegak Hukum dan juga oleh Masyarakat
demi tegaknya kepastian hukum.

Agar penyidikan tindak pidana dapat dipertanggung jawabkan


dengan tidak terjadi penyalahgunaan wewenang oleh penyidik dalam proses
penyidikan pada Polres Cirebon sudah dilaksanakan namun faktanya yang
terjadi di Polres Cirebon berdasarkan hasil pengamatan penulis masih

B;

belum optimal, terlihat dari lemahnya petugas penyidik, kegiatan penyidikan


dan administrasi penyidikan, sehingga diperlukan optimalisasi manajemen
penyidikan.
Permasalahan
Dalam Naskah Karya Kelompok Hasil Pengamatan Lapangan (NKKHPL) ini, permasalahan yang diangkat penulis adalah Bagaimana
mengoptimalkan manajemen penyidikan tindak pidana guna meningkatkan
profesionalisme Polri dalam rangka terwujudnya kepastian hukum?.

C;

Pokok-Pokok Persoalan
Dari permasalahan yang diangkat oleh penulis di atas, maka
diidentifikasi menjadi beberapa persoalan-persoalan sebagai berikut :
1.
Bagaimana kondisi sumber daya manusia Sat Reskrim Polres
Cirebon ?
2.

D;

E.

Bagaimana Sistem dan Metode yang digunakan Sat Reskrim Polres


Cirebon dalam penyidikan tindak pidana?
Ruang Lingkup
Ruang lingkup penulisan NKK-HPL ini dibatasi pada upaya
optimalisasi pengawasan penyidikan yang dilakukan di satuan Reskrim
Polres Cirebon, yang pembahasannya dibatasi pada aspek sumber daya
manusia dan sistem dan metode yang digunakan.
Maksud dan Tujuan
1.

Maksud.
Maksud penulisan Naskah Karya Perorangan (NKP) ini adalah
untuk memenuhi persyaratan kurikulum Pendidikan Sespimmen Polri
Dikreg ke-56 T.A. 2016.

2.

Tujuan.
Tujuan penulisan NKK-HPL ini adalah sebagai sumbangan
pemikiran yang bersifat konseptual strategis kepada Pimpinan Polri
dalam hal mengoptimalkan mengoptimalkan manajemen penyidikan
tindak pidana guna meningkatkan profesionalisme Polri dalam
rangka terwujudnya kepastian hukum.

F.

Metode dan Pendekatan


1.

Metode.
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode
deskriptif analisis, yaitu suatu metode yang bertujuan untuk

menggambarkan, mencatat, menganalisis, dan menginterpretasikan


kondisi-kondisi yang ada atau sedang terjadi di lapangan dan
bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai keadaan saat ini,
dan melihat hubungan antar variabel-variabel yang ada.
2.

Pendekatan.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan empiris
praktis pengalaman penulis dan beberapa pendekatan yang
digunakan dalam memahami permasalahan serta persoalannya
menggunakan teori manajemen, teori manajemen strategi dan teori
analisa SWOT sebagai pisau analisa guna mendapatkan upaya
pemecahan masalah (problem solving) secara tepat dan
komprehensif.

G.

Tata Urut
1;

BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang, pokok permasalahan dan persoalan,
maksud dan tujuan penulisan, ruang lingkup penulisan, metode dan
pendekatan, tata urut/sistematika, serta pengertian-pengertian.

2;

BAB II LANDASAN TEORI


Pada bab ini menguraikan mengenai beberapa landasan teori dan
konsep yang digunakan untuk melandasi pembahasan pada bab
berikutnya. Penulisan landasan teori ini akan dihubungkan secara
kualitatif untuk memperlihatkan kesesuaian antara teori dan konsep
terhadap permasalahan yang dibahas sehingga analisa yang
dilakukan akan berujung pada kesimpulan. Adapun teori yang
digunakan adalah teori Manajemen, teori Kompetensi, analisa SWOT
dan Management Strategic.

3;

BAB III KONDISI FAKTUAL


Bab III Menguraikan kondisi faktual terhadap metode dan sumber
daya

yang ada pada Polres Cirebon dalam manajemen tindak

pidana.
4;

BAB IV FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


Bab IV menguraikan berbagai faktor yang mempengaruhi mencakup
faktor internal (kekuatan dan kelemahan) maupun faktor eksternal
(peluang

dan

kendala)

yang

berpengaruh

terhadap

peran

kepemimpinan yang dianalisa dengan menggunakan teori analisis


SWOT.
5;

BAB V KONDISI IDEAL


Bab V menggambarkan kondisi yang diharapkan beserta analisisnya
terhadap sumber daya manusia dan sistem dan metode yang
digunakan.

6;

BAB VI UPAYA PEMECAHAN MASALAH


Bab

VI

membahas

mengenai

menyangkut visi, misi, tujuan

upaya

pemecahan

masalah,

pencapaian, sasaran, kebijakan,

strategi dan action plan/upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh


Polres Cirebon dalam mengoptimalkan manajemen pentidikan
tindak pidana.
7;

BAB VII PENUTUP


Bab VII adalah kesimpulan dari penulisan yang disertai dengan
rekomendasi terkait upaya mengoptimalkan manajemen penyidikan
tindak pidana guna meningkatkan profesionalisme Polri dalam rangka
terwujudnya kepastian hukum.

H.

Pengertian-pengertian
1;

Optimalisasi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, optimalisasi berasal
dari kata dasar optimal yang berarti: terbaik; tertinggi; paling
menguntungkan.

Sedangkan

optimalisasi

mengandung

makna

pengoptimalan.1
2.

Penyidikan.
Penyidikan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal

1 butir 2

Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana adalah serangkaian


tindakan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undangundang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan

1.Kamus Besar Bahasa Indonesia (ed.4), 2008. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Hal. 984.

bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna
menemukan tersangkanya2.
3.

Tindak Pidana.
Tindak pidana adalah setiap perbuatan/ peristiwa yang
diancam hukuman sebagai kejahatan atau pelanggaran yang disebut
dalam perundang undangan.

4.

Profesionalisme.
Pengertian profesionalisme adalah mutu, kualitas dan tindak
tanduk yang merupakan ciri suatu profesi, sedangkan profesionalitas
adalah kemampuan untuk bertindak secara professional (kamus
Besar Bahasa Indonesia ; 2003).
Profesionalisme Polri adalah sikap, cara berpikir, tindakan dan
perilaku serta pelaksanaan tugasnya yang dilandasi ilmu Kepolisian
dalam pelaksanaan tugas untuk melindungi harkat dan martabat
manusia sebagai asset utama bangsa dalam wujud terpeliharanya
keamanan, ketertiban dan tegaknya hukum (repleksi pemikiran
Jenderal Polisi Drs. Sutanto ; 2005).

5.

Kepastian Hukum
Kepastian hukum menghendaki adanya upaya pengaturan
hukum dalam perundang-undangan yang dibuat oleh pihak yang
berwenang dan berwibawa, sehingga aturan-aturan itu memiliki
aspek yuridis yang dapat menjamin adanya kepastian bahwa hukum
berfungsi sebagai suatu peraturan yang harus ditaati 3.
Lon Fuller dalam bukunya the Morality of Law mengajukan 8
(delapan) asas yang harus dipenuhi oleh hukum, yang apabila tidak
terpenuhi, maka hukum akan gagal untuk disebut sebagai hukum,
atau dengan kata lain harus terdapat kepastian hukum. Kedelapan
asas tersebut adalah sebagai berikut :
a;

Suatu sistem hukum yang terdiri dari peraturan-peraturan,


tidak berdasarkan

putusan-putusan

sesat untuk hal-hal

tertentu;
b;

Peraturan tersebut diumumkan kepada publik

2.Pengertian Penyidikan dalam Undang-undang No. 8 tahun 1981 Tentang KUHP.


3. http://tesishukum.com/pengertian-asas-kepastian-hukum-menurut-para-ahli/

c;

Tidak berlaku surut, karena akan merusak integritas sistem;

d;

Dibuat dalam rumusan yang dimengerti oleh umum;

e;

Tidak boleh ada peraturan yang saling bertentangan;

f;

Tidak boleh menuntut suatu tindakan yang melebihi apa yang


bisa dilakukan;

g;

Tidak boleh sering diubah-ubah;

h;

Harus ada kesesuaian antara peraturan dan pelaksanaan


sehari-hari.
Pendapat Lon Fuller di atas dapat dikatakan bahwa harus ada

kepastian antara peraturan dan pelaksanaannya, dengan demikian


sudah memasuki ranah aksi, perilaku, dan faktor-faktor yang
mempengaruhi bagaimana hukum positif dijalankan.

BABII
LANDASAN TEORI
A.

Teori Kompetensi
Berdasarkan Teori Kompetensi dari E. Mulyasa dalam bukunya
Kurikulum Berbasis Kompetensi dinyatakan bahwa beberapa aspek atau

ranah yang terkandung dalam konsep kompetensi, antara lain sebagai


berikut:
1;

Pengetahuan (knowledge); yaitu kesadaran dalam bidang kognitif.

2;

Pemahaman (Understanding); yaitu kedalaman kognitif, dan efektif


yang dimiliki individu.

3;

Kemampuan (Skill), adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk


melakukan tugas atau pekerjaan, yang dibebankan kepadanya.

4;

Nilai (Value); adalah standar perilaku yang telah diyakini dan secara
psikologis telah menyatu dalam diri seseorang.

5;

Sikap (attitude); yaitu perasaan (senang-tidak senang, suka-tidak


suka) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar.

6;

Minat (interest); adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan


suatu perbuatan.4
Kompetensi

merupakan

kemampuan

menjalankan

tugas

atau

pekerjaan dengan dilandasi oleh pengetahuan, ketrampilan dan tingkah laku


yang menjadi karakteristik seseorang. Dengan demikian dalam rangka
mengoptimalkan kemampuan sumber daya manusia, maka perlu ditinjau
dari 3 (tiga) aspek kompetensi yang meliputi pengetahuan (knowledge),
ketrampilan (skill), dan sikap (attitude), sehingga dalam penyidikan tindak
pidana dapat dipertanggung jawabkan secara profesional dalam rangka
mewujudkan kepercayaan masyarakat dapat optimal.
B.

Teori Manajemen
Manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian,
penyusunan, pengarahan, dan pengawasan sumber daya untuk mencapai
tujuan yang sudah ditetapkan. Untuk mencapai tujuan, para manajer
menggunakan Enam M. Dengan kata lain, sarana (tools) atau alat
manajemen untuk mencapai tujuan adalah men, money, materials,
machines, methods dan market, kesemuanya disebut sumber daya5.
Relevansi penggunaan teori unsur-unsur manajemen dalam NKP ini
adalah sebagai suatu pedoman yang digunakan penulis untuk mengangkat
persoalan-persoalan bagaimana kemampuan sumber daya manusia dan

4 Dr. E. Mulyasa, M.Pd, Kurikulum Berbasis Kompetensi PT. Remaja Rodakarya Bandung, 2002:38
5.M.Manullang, 2001, Pengertian Manajemen, Balai Pembinaan Administrasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Hal 4-5

metode yang digunakan. Teori manajemen ini akan tergambar dalam


kondisi faktual dan kondisi ideal yang terdapat pada Bab III dan Bab V.
C.

Teori Manajemen Strategi


Manajemen strategis adalah serangkaian keputusan dan tindakan
manajemen yang menentukan kinerja perusahaan dalam jangka panjang.
Manajemen strategis meliputi pengamatan lingkungan, perumusan strategi,
implementasi strategi dan evaluasi serta pengendalian. Manajemen strategis
menekankan pada pengamatan evaluasi, peluang dan ancaman lingkungan
dengan melihat kekuatan dan kelemahan perusahaan 6.
Relevansi penggunaan teori manajemen strategi dalam KK-HPL ini
adalah sebagai suatu pedoman yang digunakan penulis sebagai upaya
dalam pemecahan masalah yang terdapat pada Bab VI.

D.

Teori Analisa SWOT


Landasan teori Analisa SWOT 7 yaitu penilaian terhadap hasil
identifikasi situasi untuk menentukan kategori suatu kondisi sebagai
kekuatan, kelemahan, peluang atau ancaman yang selanjutnya diidentifikasi
guna menemukan cara-cara, solusi dan atau alternatif pemecahan
permasalahan yang dihadapi dengan:
1;

Kekuatan (Strenght) adalah identifikasi situasi internal organisasi yang


berupa kompetensi / kapabilitas / sumber daya yang dimiliki
organisasi yang dapat digunakan sebagai alternatif untuk menangani
peluang dan ancaman yang dihadapi.

2;

Kelemahan (Weaknesses) adalah situasi internal organisasi dimana


kompetensi

kapabilitas

sumber

daya

organisasi

yang

pemanfaatannya dirasakan belum optimal dalam menangani peluang


dan ancaman.
3;

Peluang (Opportunity) yaitu situasi eksternal organisasi yang


berpotensi menguntungkan.

4;

Ancaman (Threats) adalah suatu keadaan eksternal yang berpotensi


menimbulkan kesulitan atau hambatan dalam pelaksanaan tugas.

6.J. David Hunger dan Thomas L Wheelen , 1996, Manajemen Strategis, Jakarta; Andi, Hal 4
7.Freddy Rangkuty, 2004, Analisis SWOT teknik membedah kasus bisnis : reorientasi konsep perencanaan. Penerbit:
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal 18-20.

Analisa SWOT adalah sebuah bentuk analisa situasi dan kondisi yang
bersifat deskriptif (memberi gambaran). Analisa ini menempatkan situasi dan
kondisi sebagai faktor masukan, yang kemudian dikelompokkan menurut
kontribusinya masing-masing. Pada analisis apapun, validitas dan kegunaan
hasil analisis sangat tergantung kepada kelengkapan dan akurasi data
yang digunakan dalam analisis. Karena itu rancangan pelaksanaan
analisis SWOT perlu disusun sebaik-baiknya untuk memperoleh data dan
informasi yang penting dan berkualitas tinggi. Makna dan pesan yang paling
mendalam dari analisis SWOT adalah apapun cara-cara serta tindakan yang
diambil, proses pembuatan keputusan harus mengandung dan mempunyai
prinsip berikut ini: kembangkan kekuatan, minimalkan kelemahan, tangkap
kesempatan / peluang dan hilangkan ancaman.
Relevansi penggunaan teori Analisa SWOT dalam NKP ini adalah
sebagai suatu pedoman yang digunakan penulis untuk membahas faktorfaktor yang mempengaruhi yang terdapat pada Bab IV.
E.

Konsep Manajemen Penyidikan Tindak Pidana


Manajemen Penyidikan adalah serangkaian kegiatan penyidikan yang
meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan
pengendalian.8 Perencaan terkait dengan persiapan petugas, peralatan,
prosedur penyelidikan dan penyidikan juga tentang rencana anggaran. 9
Pengorganisasian terkait dengan penunjukan penyidikdan pelaksanaan
back uppenyelidikan dan penyidikan.10 Pelaksanaan penyidikan meliputi
penerimaan Laporan Polisi (LP), Penyelidikan, Surat Pemberitahuan
Dimulainya Penyidikan (SPDP), upaya paksa, pemeriksaan, gelar perkara,
penyelesaian berkas perkara, penghentian penyidikan, Surat Pemberitahuan
Perkembangan Penyidikan (SP2HP), pemblokiran rekening, Daftar Pencarian
Orang/Barang (DPO/DPB), pra peradilan, dan red notice.11 Pengawasan
terkait dengan asistensi dan konsultasi, supervisi, gelar perkara biasa dan
khusus,

pemeriksaan

pendahuluan,

dan

penanganan

masyarakat.12
8Peraturan Kapolri No. 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana.
9Perkabareskrim No.1 Tahun 2014 tentang SOP Perencanaan Penyidikan Tindak Pidana.
10Perkabareskrim No. 2 Tahun 2014 tentang SOP Pengorganisasian Penyidikan Tindak Pidana.
11Perkabareskrim No. 3 Tahun 2014 tentang SOP Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.
12Perkabareskrim No. 4 Tahun 2014 tentang SOP Pengawasan Penyidikan Tindak Pidana.

pengaduan

10

BABIII
KONDISI FAKTUAL
Kondisi dan situasi wilayah hukum Polres Cirebon secara singkat yaitu
Wilayah Hukum Polres Cirebon membawahi wilayah Adminsiratif Kota Cirebon dan
6 (Enam) Kecamatan di Kab. Y diantaranya Kec. A, Kec. B, Kec. C, Kec. D, Kec. F
dan Kec. G, jika ditinjau dari segi ASTA GATRA secara umum mempunyai
karakteristik yang berbeda di provinsi Z. Kondisi ini tentunya akan berpengaruh
terhadap pelaksanaan tugas Polres Cirebon beserta Jajarannya.
Polres Cirebon terdiri dari

7 Polsek, secara administratif Kota Cirebon

11

memiliki 5 Kecamatan dan 22 Kelurahan sedangkan Kab. Y memiliki 6 Kecamatan


dan 61 Desa. Letak Geografis Kota Cirebon merupakan Kota transit sehingga
perkembangan kriminalitas, politik, ekonomi dan sosial budaya sering dipengaruhi
oleh perkembangan situasi yang sama didaerah perbatasan seperti Kabupaten A,
Kabupaten B dan Kabupaten C.
Untuk memperjelas gambaran mengenai kondisi penegakkan hukum yang
dilaksanakan oleh satuan seskrim polres Cirebon, maka berikut ini akan disajikan beberapa
data sebagai berikut :
Tabel 3.1
DATA JUMLAH LAPORAN POLISI POLRES CIREBON

Sumber : Bagian operasi Polres Cirebon.


Dari data jumlah Laporan Polisi yang masuk, maka dapat terlihat bahwa tingginya
jumlah perkara yang harus ditangani oleh anggota Sat Reskrim Polres Cirebon, yaitu
dengan adanya LP/hari yang masuk ditambah dengan tunggakan perkara sebelumnya. Tentu
saja hal ini akan memperberat pelaksanaan tugas anggota satuan Reskrim Polres Cirebon
dalam melakukan penyelidikan/penyidikan, apalagi dengan ditambah tugas untuk
melakukan pengawasan penyidikan terhadap perkara yang sedang ditangani oleh
anggota/rekannya dari unit lain.
Sedangkan data komplain pengaduan
masyarakat (Dumas) terkait dengan
penyidikan yang dilakukan oleh Penyidik Satreskrim Polres Cirebon adalah sebagai
berikut :
Tabel 3.2
KOMPLAIN MASYARAKAT ATAS PERKARA TAHUN 2015
NO

KOMPLAIN

PERIHAL

12

1.

Ombudsman mengenai Sony Eka Wijaya

Tindak Lanjut laporan/pengaduan

2.

FBL Merah Putih Cirebon

Klarifikasi terhadap Dumas FBL Merah Putih Cirebon

3.

Komnas HAM

Klarifikasi terhadap Dumas dari Komnas HAM

4.

Advokat (PW Sitepu, SH)

Permohonan penanganan perkara secara profesional

5.

Polsek Losari

Hasil Pengaduan dari Sdr Rarmuna b Taryani

6.

Kasat Lantas

Klarifikasi dari Kasat Lantas tentang kecelakaan Dra.


Ayu Soufiana

7.

Masyarakat dan Ulama

Pengaduan tentang perilaku anggota Polsek Susukan a.n.


AIPTU Supri

8.

Lembah Ciremai

Dugaan ml Praktek dengan korban a.n. Diki Irawan

9.

Abdullah Hamid, SH

Rujukan Surat dari Kompolnas.

Sumber : Sat Reskrim Polres Cirebon.


Tabel 3.3
Pola penyalahgunaan wewenang dalam penyidikan
TAHAP
Penyelidikan

Penyidikan

POLA
MODUS
PELAKU
Permintaan uang jasa padaPolisi
meminta
uang
pada
saatPolisi, Korban, keluarga
korban tindak pidana
laporan/pengaduan dengan alasan uangkorban
operasionaluntuk mempercepat penyelesaian
perkara
Menghentikan
prosesPolisi meminta uang kepada pelaku denganPolisi, pelaku (tersangka),
penyelidikan dengan alasankompensasi menekan korban untuk mencabut Keluarga tersangka,
laporan/aduan dicabut
laporannya (terutama kasus kekerasan terhadapAdvokat
perempuan)
Negosiasi
Polisi
menawarkan
pasal-pasal
dalamPolisi, pelaku (tersangka),
pembuatan BAP, semakin ringan pasal yangKeluarga tersangka,
ditimpakan, semakin besar biaya yang harusAdvokat
dibayar. Implikasi pada pengaburan barang
bukti, keterangan saksi yang dimanipulasi dll
Pemerasan
Polisi menerapkan pasal yang berat untukPolisi, pelaku (tersangka),
menakut-nakuti
pelaku,
lalu
mengajakKeluarga tersangka,
diselesaikan secara damai
Advokat
Penangguhan penahanan
Polisi menetapkan sejumlah uang sebagai Polisi, pelaku (tersangka),
jaminan penangguhan penahanan. UangKeluarga tersangka,
jaminan tdk diserahkan tersangka ke panitera Advokat
PN, tetapi ke polisi.

Tabel 3.3
Kasus Penyalahgunaan Wewenang tahun 2014 dan 2015
NO.

PELAKU

MODUS

KET

1.

Kapolsek dan 2 orang penyidik

Meminta uang pada korban

Dilakukan sidang kode etik

2.

Penyidik 1 orang

Merubah BAP

Dilakukan sidang kode etik

Sumber : Sie Propam Polres Cirebon.

13

Di wilayah hukum Polres Cirebon sendiri dapat dilihat pada tabel 3.3, pada tahun
2014 terdapat 2 Kasus penyalahgunaan wewenang oleh Kapolsek dan 2 orang penyidik,
sedangkan pada tahun 2015 sampai dengan bulan Juli terdapat 1 kasus penyalahgunaan
wewenang oleh penyidik dengan mengubah Berita Acara Pemeriksaan (BAP), pada kedua
kasus tersebut dilakukan sidang kode etik.
A.

Sumber Daya manusia.


Kondisi sumber daya manusia menjadi hal yang sangat penting dalam
pelaksanaan penyidikan pada Satreskrim Polres Cirebon.
1.

Kuantitas.
Jumlah Personil Satreskrim Polres Cirebon berdasarkan DSPP
sebanyak ... personil terdiri dari ... Perwira dan ...Brigadir, Sedangkan
jumlah personil Riil sebanyak ... orang personil, terdiri dari ... Perwira
dan ... Brigadir
Dari data personel Satreskrim Polres Cirebon dapat dijelaskan bahwa
berdasarkan DSPP dan Riil terdapat kekurangan sebanyak ... personil.
Dengan kekurangan personil tersebut di atas, tentunya berpengaruh
terhadap kuantitas pengungkapan suatu perkara pidana.

2.

Kualitas.
a.

Skill
Keterbatasan kemampuan anggota yang ditugaskan sebagai
penyidik, yaitu mereka belum sepenuhnya tahu dan paham tentang
apa dan bagaimana melakukan terhadap penyidikan yang dilakukan
oleh anggota/rekan kerjanya dari unit lain, sehingga mereka belum
mampu melaksanakan tugasnya secara maksimal.

b.

Knowledge
1)

2)
3)

Kurangnya pengetahuan dan pemahaman personel terhadap


peraturan perundang-undangan yang berlaku, hal ini
menyebabkan terjadinya keragu-raguan personel dalam
melaksanakan tugasnya.
Kurangnya pengetahuan personel dalam melaksanakan tugas
khususnya dalam penyidikan.
Kurangnya pengetahuan personel Sat Reskrim dalam
memahami mekanisme pelaksanaan penyidikan perkara.

14

c.

Atittude
1)

Masih ditemukan sebagian personel Sat Reskrim Polres


Cirebon yang memiliki mental maupun motivasi yang rendah
dalam melakukan tugasnya.

2)

Masih adanya tindakan arogan dari anggota.

3)

Perilaku penyidik yang tidak profesional dalam penerimaan


laporan.

B.

Sistem dan Metode


1.

Perencanaan
a.

Dalam melaksanakan penyidikan masih terpaku pada sistem


konvensional dengan mengandalkan personel dari unit yang lainnya.

b.

Perencanaan penyidikan belum terkonsep dengan benar.

c.

Kurangnya perencanaan penyelidikan, penyidikan, cara bertindak,


sasaran serta target penyidikan

2.

Pengorganisasian
a.

Masih adanya ego sektoral, anggota di lapangan cenderung bekerja


sendiri-sendiri.

b.

Kurang memanfaatkan laporan informasi yang dihasilkan oleh Sat


Intelkam.

3.

Pelaksanaan.
a.

Sering menunda-nunda pekerjaan sehingga kasus menumpuk/


tertunda.

b.

Sering salah dalam administrasi penyidikan.

c.

Kurang mempersiapkan bahan pertanyaan yang akan diajukan


kepada saksi/tersangka.

d.

Kurang aktif dalam mengirim SP2HP kepada korban, bahkan SP2HP


tidak sampai (dititipkan).

e.

Mekanisme gelar perkara belum dilaksanakan sebagai suatu


kebutuhan, hanya formalitas saja dan hanya apabila diminta oleh
kesatuan atas atau pimpinan saja.

4.

Wasdal.
a.

Kurang adanya pengawasan secara melekat dari Ka Unit terhadap


pekerjaan anggota unit.

15

b.

Belum adanya buku kontrol penanganan perkara bagi penyidik dan


atasan penyidik.

C.

Implikasi belum optimalnya penyidikan tindak pidana


a.

Belum optimalnya penyidikan tindak pidana sehingga profesionalisme Polri


belum meningkat.

b.

Belum meningkatnya profesionalisme Polri sehingga kepastian hukum


belum terwujud.

BAB IV
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk
merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat
memaksimalkan kekuatan (Strength) dan peluang ( Opportunities), namun secara
bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (Threats). Proses
pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan visi, misi, tujuan,
strategi harus menganalisis faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan, kelemahan,
peluang dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. Hal ini disebut dengan analisis
situasi.Model yang paling populer untuk analisis situasi adalah Analisis SWOT

16

A.

Faktor Internal
1;

Kekuatan (Strengths).
a.

Adanya komitmen yang kuat dari Kapolres terhadap pelaksanaan


tugas Sat Reskrim khususnya pada pelaksanaan penyidikan.

b.

Adanya dedikasi yang tinggi personel Sat Reskrim Polres


Cirebon dalam mendukung transparansi penegakan hukum.

c.

Adanya tunjangan kinerja bagi anggota Polri sehingga meningkatkan


kesejahteraan dan menumbuhkan motivasi anggota Polri untuk
berbuat dan bekerja lebih baik.

d.

Adanya piranti lunak yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan


tugas dalam pengawasan penyidikan.

b.

Kelemahan (Weaknesses).
a.

Masih kurangnya kemampuan personel Sat Reskrim Polres Cirebon


dalam melaksanakan penyidikan, dimana hal ini terkait dengan
kurangnya jumlah personil maupun kurangnya keterampilan (Skill),
pengetahuan (Knowledge) dan Sikap (Attitude) yang masih kurang
sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan.

b.

Masih adanya personel Sat Reskrim Polres Cirebon yang


melakukan pelanggaran atau menyalahgunakan wewenang dalam
melaksanakan penyidikan tindak pidana.

c.

Masih adanya beban tugas lain yang harus dikerjakan personel Sat
Reskrim Polres Cirebon sehingga sering terjadi benturan dalam
pelaksanaan tugas.

d.

Belum adanya standar operasional dan metode yang digunakan


personel Sat Reskrim Polres Cirebon dalam melaksanakan
penyidikan tindak pidana.

B.

Faktor Eksternal
1.

Peluang (Opportunities).
a;

b.

Makin kuatnya kontrol eksternal kepada personel Sat Reskrim Polres


Cirebon sehingga dapat memacu kinerja yang optimal dalam
pelaksanaan tugasnya.
Adanya dukungan pemerintah daerah dalam proses penyidikan tindak
pidana sebagai upaya supremasi hukum.

17

c.

Adanya

dukungan

masyarakat

maupun

LSM

dalam

melaksanakan penyidikan.
d.

Adanya peran media dalam menyampaikan informasi kepada


masyarakat mengenai proses penyidikan tindak pidana.

2.

Ancaman (Threats).
a.

Masih adanya persepsi sebagian masyarakat terhadap Polri dimana


dalam melaksanakan tugasnya sebagai alat negara masih terkesan
otoriter dan arogan atau dengan kata lain stigma yang melekat
terhadap Polri adalah kurang baik sehingga berpengaruh pada
optimalnya pelaksanaan tugas Polri.

b.

Masih ada sebagian masyarakat yang memberikan peluang kepada


personel Sat Reskrim yang bertugas untuk melakukan tindakan
penyalahgunaan wewenang dalam melaksanakan penyidikan.

c.

Masih adanya pemberitaan media massa yang dinilai kurang


proporsional terhadap Polri, yang berdampak pada turunnya citra
Polri di masyarakat.

d.

Tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah dalam memahami


proses penyidikan yang dilakukan oleh Polri.

18

BAB V
KONDISI IDEAL
Pasal 14 UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian huruf g dikatakan bahwa
dalam melaksanakan tugas pokok, sebagaimana dimaksud dalam pasal 13, Kepolisian
Negara RI bertugas untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak
pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya.
Didasarkan pada hal tersebut, demi menunjang Grand Strategy Polri tahap I yaitu
trust building yang telah dilakukan Polri beberapa tahun terakhir secara berkesinambungan
(2005-2009) dilanjutkan saat ini ke tahap II yaitu partnership building 2011-2015 serta
mencapai strive for excellence tahap III 2015-2025, maka khusus di bidang penyidikan,
pengawasan di bidang penyidikan lebih diperhatikan terkait dengan seringnya
penyimpangan yang dapat mungkin ditimbulkan oleh penyidik saat melakukan penyidikan.
Penerapan grand strategy ini kemudian dijabarkan dalam 10 komitmen revitalisasi Polri.
Beberapa poin terkait dengan pelayanan polri dalam bidang penyidikan adalah :
a.

Menjunjung tinggi supremasi hukum dengan menegakkan hukum dan selalu


bertindak sesuai dengan ketentuan hukum, memenuhi rasa keadilan dan kepastian
hukum.

b.

Memastikan penuntasan penanganan perkara yang memenuhi rasa keadilan dan


kepastian hukum serta diinformasikan penanganannya secara transparan kepada
masyarakat.

c.

Memberikan pelayanan publik yang lebih baik, lebih mudah, lebih cepat dan
berkualitas, lebih nyaman dan memuaskan bagi masyarakat.

19

d.

Menjaga

integritas

dengan

bersikap

tidak

menyalahgunakan

wewenang,

bertanggung jawab, transparan dan menjunjung tinggi HAM, etika dan moral, serta
bersikap netral, jujur dan adil dalam penegakan hukum maupun kegiatan politik.
e.

Bekerja sepenuh hati dengan mencurahkan segenap kemampuan, pemikiran, waktu


dan tenaga untuk keberhasilan Polri.

f.

Menerapkan prinsip reward and punishment, dengan memberikan penghargaan


terhadap anggota yang berprestasi serta memberi sanksi yang tegas bagi personil
Polri yang melanggar hukum, kode etik maupun disiplin Polri.

g.

Menjamin keberlanjutan kebijakan dan program yang telah dilaksanakan oleh


pejabat Kapolri sebelumnya, sebagaimana yang tertuang dalam grand strategi Polri
2002-2015, rencana strategis Polri 2010-2014, reformasi birokrasi Polri dan
akselerasi transformasi Polri.

h.

Taat azas dan berlaku adil, dengan bersikap dan berperilaku sesuai etika, prosedur,
hukum dan HAM yang dilandasi rasa keadilan.
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa tujuan penyidikan untuk

memberikan transparansi dalam penegakan hukum. Oleh karena itu melalui penyidikan
yang dilakukan oleh Sat Reskrim Polres Cirebon dalam penegakan hukum dapat
memberikan kepercayaan kepada masyarakat, dimana hal ini ditunjang dengan
meningkatnya kemampuan sumber daya manusia baik dari segi kuantitas serta kualitas dan
metode yang digunakan dalam melaksanakan penyidikan, seperti tergambar sebagai berikut
:
A.

Sumber Daya manusia.


Kondisi sumber daya manusia menjadi hal yang sangat penting dalam
pelaksanaan penyidikan pada Satreskrim Polres Cirebon.
1.

Kuantitas.
Jumlah Personil

Satreskrim Polres Cirebon diharapkan sesuai

DSPP berdasarkan Perkap No 23 tahun 2010 sebanyak .... personel,


sehingga

berpengaruh terhadap kuantitas pengungkapan suatu perkara

pidana.
2.

Kualitas.
a.

Skill
1;

Kemampuan penyidik yang meliputi comunication skill,


problem solving skill, leadership skill secara signifikan dapat

20

2;

3;

4;

b.

meningkat sehingga dapat memotivasi masyarakat untuk ikut


mendukung keberhasilan Sat Reskrim dalam mengungkap
suatu kasus tindak pidana..
Setiap penyidik diharapkan mampu memanfaatkan kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada secara optimal,
seperti dalam penggunaan information tecnology (IT)
Meningkatnya kemampuan yang bersifat analisis terhadap
anatomi, latar belakang dan kendala-kendala yang dihadapi
dalam pelaksanaan penyelidikan dan penyidikan.
Meningkatnya penguasaan penyidik terhadap tehnik dan
taktik penyelidikan dalam pemeriksaan TKP, pemanggilan,
pemeriksaan, penangkapan, penggeledahan, penahanan,
penyitaan dan pemberkasan sehingga dapat meminimalisir
terjadinya kesalahan-kesalahan prosedur yang dapat membuat
terhambatnya dalam pengungkapan kasus-kasus tindak
pidana.

Knowledge
1;

2;

3)

Dari aspek pendidikan diharapkan kualitas pendidikan setiap


penyidik memiliki pendidikan pengembangan reserse,
sehingga masing-masing penyidik mempunyai kualifikasi
sebagai penyelidik dan penyidik.
Meningkatnya penguasaan penyidik terhadap perundangundangan dan peraturan lainnya dan memiliki kemampuan
yang bersifat tehnik yuridis yaitu kemampuan terhadap
identifikasi bentuk-bentuk tindak pidana serta kemampuan
menerapkan dan mengungkapkan unsur-unsur perbuatan
pidana sesuai dengan hukum yang berlaku.
Meningkatnya kemampuan yang bersifat analisis terhadap
anatomi, latar belakang dan kendala-kendala yang dihadapi
dalam pelaksanaan penyelidikan dan penyidikan.

4)

Meningkatnya penguasaan penyidik terhadap tehnik dan


taktik penyelidikan dalam pemeriksaan TKP, pemanggilan,
pemeriksaan,

penangkapan,

penggeledahan,

penahanan,

penyitaan dan pemberkasan sehingga dapat meminimalisir


terjadinya kesalahan-kesalahan prosedur yang dapat membuat
terhambatnya dalam pengungkapan kasus-kasus tindak pidana

21

c.

Atittude
1)

Setiap penyidik Sat Reskrim mempunyai motivasi yang tinggi


dalam mengungkap kasus-kasus tindak pidana yang terjadi.

2)

Setiap penyidik mempunyai jiwa ksatria serta profesionalitas


seorang penyidik dengan menghilangkan sikap dan perilaku
yang menyimpang yang dapat merugikan organisasi maupun
kesatuan.

B.

Sistem dan Metode


1.

Perencanaan
a.

Melaksanakan penyidikan secara modern dalam satu unit.

b.

Perencanaan penyidikan terkonsep dengan benar.

c.

Adanya perencanaan penyelidikan, penyidikan, cara bertindak,


sasaran serta target penyidikan

2.

Pengorganisasian
a.

Bekerja dalam satu tim /unit.

b.

Optimal dalam memanfaatkan laporan informasi yang dihasilkan


oleh Sat Intelkam.

3.

Pelaksanaan.
a.

Tidak menunda-nunda pekerjaan sehingga kasus tidak menumpuk/


tertunda.

b.

Tepat dalam administrasi penyidikan.

c.

Mampu mempersiapkan bahan pertanyaan yang akan diajukan


kepada saksi/tersangka.

d.

Aktif dalam mengirim SP2HP kepada korban.

e.

Mekanisme gelar perkara dilaksanakan dengan mengikutkan Fungsi


Propam.

4.

Wasdal.
a.

Adanya pengawasan secara melekat dari Ka Unit terhadap pekerjaan


anggota unit.

b.

Adanya buku kontrol penanganan perkara bagi penyidik dan atasan


penyidik.

C.

Kontribusi optimalnya penyidikan tindak pidana

22

a.

Denganoptimalnya penyidikan tindak pidana sehingga profesionalisme Polri


meningkat.

b.

Dengan meningkatnya profesionalisme Polri sehingga kepastian hukum


dapat terwujud.

BAB VI
PEMECAHAN MASALAH
Profesi penyidik dan penyidik pembantu memiliki posisi vital dalam pelaksanaan
tugas pokok Polri sebagaimana yang diamanatkan dalam UU No. 2 Tahun 2002 tentang
Kepolisian Negara Republik Indonesia, khususnya dalam hal pelaksanaan tugas pokok
Polri sebagai penegak hukum. Namun vitalnya posisi dimaksud tidak diiringi

atau

23

diimbangi dengan adanya perhatian yang serius pula dari Polri secara organisasional
dalam hal kualitas para anggota Polri yang ditugaskan sebagai penyidik maupun
penyidik pembantu.
Hanya sedikit pimpinan satuan kewilayan Polri dalam tataran individual yang
menaruh perhatian serius terhadap posisi dimaksud dikarenakan komitmennya yang kuat
dalam hal peningkatan kualitas kinerja Polri sehingga pimpinan dimaksud menerapkan
standarisasi tertentu dalam satuan kewilayahan yang dipimpinnya untuk menempatkan
seorang personel Polri pada posisi tertentu.
A.

Visi
TERCAPAINYA PROFESIONALISME POLRI

MELALUI PENYIDIKAN

TINDAK PIDANA SEHINGGA TERWUJUDNYA SUPREMASI HUKUM .

B.

Misi
1;
2;

Mengoptimalkan kemampuan sumber daya manusia dalam melaksanakan


penyidikan.
Mengoptimalkan metode yang digunakan secara efektif dalam
melaksanakan penyidikan.

C.

Tujuan
1;
Kemampuan sumber daya manusia lebih profesional dalam melaksanakan
penyidikan.
2;
Metode yang digunakan lebih efektif dalam melaksanakan penyidikan.

D.

Sasaran
1;
2;

E.

Kebijakan
1;
2;

F.

Terbangunnya kemampuan sumber daya manusia dalam melaksanakan


penyidikan.
Terbangunnya metode yang ideal dalam melaksanakan penyidikan.

Mengoptimalkan kemampuan sumber daya manusia yang lebih profesional


dalam melaksanakan penyidikan.
Mengoptimalkan metode yang ideal dalam melaksanakan penyidikan.

Strategi.

24

Dalam menentukan strategi dalam mengoptimalkan mengoptimalkan


manajemen penyidikan tindak pidana guna meningkatkan profesionalisme Polri
dalam rangka terwujudnya kepastian hukum, penulis menggunakan matrik TOWS
yang menggambarkan empat sel kemungkinan formulasi strategis yang dapat
dilaksanakan, dimana setiap sel mendeskripsikan indikator-indikator yang menjadi
kunci faktor-faktor strategis yang berpengaruh terhadap upaya-upaya yang
dilaksanakan, yaitu sebagai berikut :
Analisis Matrik TOWS
Strenghts (Kekuatan)

Internal

Eksternal

Opportunities (Peluang)

Weaknesses (Kelemahan)
1)Adanya komitmen yang kuat dari
kapolres terhadap pelaksanaan tugas 1)Masih kurangnya kemampuan personel sat
sat
reskrim
pada
pelaksanaan reskrim polres Cirebon dalam melaksanakan
penyidikan, di mana hal ini terkait dengan
penyidikan.
jumlah
personel
maupun
2) Adanya dedikasi yang tinggi personel kurangnya
sat reskrim polres Cirebon dalam kurangnya keterampilan (skill), pengetahuan
mendukung transparansi penegakan (knowledge), sikap (Attitude) yang masih
kurang sesuai dengan kompetensi yang
hukum.
3)Adanya tunjangan kinerja bagi anggota dibutuhkan.
Polri
sehingga
meningkatkan 2) Masih adanya oknum personel sat reskrim
kesejahteraan
dan
menumbuhkan polres Cirebon yang melakukan pelanggaran
motivasi anggota Polri untuk berbuat atau menyalahgunakan wewenang dalam
melaksanakan penyidikan.
dan bekerja lebih baik.
4) Adanya piranti lunak yang digunakan3) Masih adanya beban tugas lain yang harus
sebagai pedoman pelaksanaan tugas dalam dikerjakan sat reskrim polres Cirebon
sehingga sering terjadi benturan dalam
penyidikan.
pelaksanaan tugas.
4) Belum adanya standar operasional dan metode
yang digunakan personel sat reskrim polres
Cirebon dalam melaksanakan penyidikan.

Strategi SO

Strategi WO

1)Makin kuatnya kontrol eksternal kepada personel sat


1)Memantapkan metode yang digunakan personel
1;
Meningkatkan
kemampuan
reskrim polres Cirebon sehingga dapat memacu kinerja
sat reskrim dalam melaksanakan penyidikan
personel sat reskrim dalam melaksanakan (W4+O2, O3)
yang optimal dalam pelaksanaan tugasnya.
2) Adanya dukungan pemerintah daerah dalam proses penyidikan (S2,S3+O1, O3)
pengawasan penyidikan sebagai upaya transparansi
penegakan hukum.
3) Adanya dukungan masyarakat maupun LSM dalam
melaksanakan penyidikan.
4) Adanya peran media dalam menyampaikan informasi
kepada masyarakat mengenai proses penyidikan.

Threath (Ancaman)

Strategi ST

Strategi WT

1) Masih adanya persepsi sebagian masyarakat terhadap Polri 1)Meningkatkan kinerja personel sat reskrim 1)Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman
dimana dalam melaksanakan tugasnya sebagai alat negara dalam melaksanakan penyidikan (S2, personel sat reskrim dalam melaksanakan
masih terkesan otoriter dan arogan atau dengan kata lain S3+T1, T2)
penyidikan (W1, W2+T1, T2)
stigma yang melekat terhadap Polri adalah kurang baik
sehingga berpengaruh pada optimalnya pelaksanaan tugas
Polri.
2) Masih ada sebagian masyarakat yang memberikan peluang
kepada personel sat reskrim yang bertugas untuk melakukan
tindakan penyalahgunaan wewenang dalam melaksanakan
penyidikan.
3) Masih adanya pemberitaan media yang dinilai kurang
proposional terhadap Polri yang berdampak turunnya citra
Polri di masyarakat.
4) Tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah dalam
memahami proses penyidikan yang dilakukan oleh Polri.

Berdasarkan matrik tersebut, maka penentuan strategi dibagi menjadi


beberapa tahapan, yaitu strategi jangka pendek (1 tahun), jangka sedang (2 tahun)

25

dan strategi jangka panjang (3 tahun) yang mana hal tersebut dapat dijabarkan
sebagai berikut :
1.

Jangka Pendek (1 tahun).


Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman personel sat reskrim
dalam melaksanakan penyidikan.

2.

Jangka Sedang (2 tahun)


a.

Meningkatkan kinerja personel Sat Reskrim dalam melaksanakan


penyidikan.

b.

Meningkatkan

kemampuan

personel

Sat

Reskrim

dalam

melaksanakan penyidikan.
c.
3.

Menerapkan manajemen penyidikan tindak pidana yang ideal

Jangka Panjang (3 tahun)


Memantapkan metode yang digunakan personel Sat Reskrim dalam
melaksanakan penyidikan.

G.

Implementasi Strategi
1.

Jangka Pendek (1 tahun).


Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman personel sat reskrim
dalam melaksanakan penyidikan.
a;

b;

2.

Kasat Reskrim untuk memberikan bimbingan dan arahan kepada


personel Sat Reskrim
mengenai mekanisme dan ketentuan
pelaksanaan penyidikan tindak pidana.
Kasat Reskrim untuk memberikan pengetahuan kepada personel Sat
Reskrim
bagaimana
melakukan
langkah-langkah
dalam
melaksanakan penyidikan tindak pidana.

Jangka Sedang (2 tahun).


a.

Meningkatkan kinerja personel Sat Reskrim dalam melaksanakan


penyidikan tindak pidana.
1;

Melaksanakan Anev dan melanjutkan program jangka pendek


yang belum terselesaikan.

26

Kasat Reskrim untuk memberikan arahan kepada personel Sat


Reskrim dalam melaksanakan penyidikan tindak pidana.
3;
Kasat Reskrim untuk memberikan pengetahuan mengenai
teknik-teknik pelaksanaan penyidikan tindak pidana yang
benar kepada personel Sat Reskrim.
4;
Kasat Reskrim untuk memberikan motivasi melalui penerapan
metode Reward (penghargaan) bagi personel yang berprestasi
dan punishment (hukuman) bagi yang melakukan pelanggaran
dalam melaksanakan tugasnya.
5;
Kasat Reskrim menunjuk personil yang mempunyai
kompetensi memadai untuk menjadi penyidik sesuai tugas
yang diembannya, sehingga meskipun mereka merangkap
jabatan, tetap mampu melaksanakan tugas dengan baik.
6;
Kapolres dan Kasat Reskrim terjun langsung dalam
penyidikan tindak pidana sebagai atasan penyidik, hal itu
perlu dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan wewenang
yang dilakukan penyidik atau penyidik pembantu.
7;
Personil yang ditugaskan di seksi pengawasan sebagian harus
mempunyai latar belakang penyidik/penyidik pembantu
sehingga dapat melakukan pengawasan fungsional dan dapat
memberikan saran masukan pada saat diikutsertakan dalam
pelaksanaan gelar perkara sehingga pengawasan internal
dapat dilakukan secara optimal.
Meningkatkan kemampuan personel Sat Reskrim dalam
2;

b.

melaksanakan penyidikan.
1)

Mengusulkan penambahan personel Sat Reskrim yang sudah


memiliki kualifikasi sebagai penyidik/penyidik pembantu.

2)

Mengajukan pendidikan pengembangan

dan pelatihan-

pelatihan bagi personel Sat Reskrim.


3)

Melakukan

pemetaan

tentang

kadar

kerawanan

dan

klasifikasi (tingkat kesulitan perkara) yang sedang disidik,


dalam rangka selektif prioritas terhadap perkara yang
memerlukan pengawasan intensif dan yang tidak.
4)

Meningkatkan pelaksanaan pengawasan melekat oleh atasan


langsung penyidik/penyidik pembantu, mulai dari Kanit,
Kaurbinops hingga Kasat Reskrim.

27

5)

Memberikan pelatihan kepada anggota satuan reskrim yang


ditugaskan sebagai pengawas penyidik tentang taktik dan
teknis pengawasan penyidikan yang profesional, bila perlu
dengan mendatangkan pembina fungsi reskrim dari kesatuan
atas.

6)

Menumbuhkan kesadaran anggota untuk menerapkan budaya


pelayanan prima, anti kekerasan dan anti KKN dalam
melaksanakan tugas di bidang penegakkan hukum, melalui
kegiatan Binluh, Binrohtal, sosialisasi berbagai kebijakan
Polri, sehingga tidak akan timbul perasaan enggan untuk
diawasi dan mengawasi sesama penyidik/penyidik pembantu
pada Sat Reskrim Polres Cirebon dalam pelaksanaan tugas
penyidikannya.

c.

Menerapkan manajemen penyidikan tindak pidana yang ideal melalui


upaya :
1)

Tahap Perencanaan :
a)

Penerbitan surat perintah tugas sesuai kebutuhan.

b)

Penyusunan network planning dalam

rangkaian

penyidikan
c)

Secara konsisten memberikan APP kepada setiap


personel yang akan melakukan suatu penugasan.

2)

Tahap pengorganisasian, untuk lebih memperjelas peran


masing-masing penyidik saat kegiatan penyidikan tentang :
a)

Siapa melakukan apa.

b)

Siapa yang harus bertanggung jawab.

c)

Siapa bertanggung jawab kepada siapa,

d)

Kriteria dan nilai pertanggungjawaban. Dengan


demikian tidak akan terjadi tumpang tindih dengan
fungsi reserse yang diemban satuan fungsi jajaran
atau terjadi lempar tanggung jawab atau rebutan
kasus antar penyidik.

28

3)

Tahap

pelaksanaan,

penyidik

melaksanakan

kegiatan

penyidikan sesuai langkah-langkah :


a)

Perencanaan yang sudah disusun dan ditunjuk


pelaksananya.

b)

Hasil

pengembangan

dari

langkah-langkah

penyidikan sebelumnya.
c)

Surat

Pemberitahuan

perkembangan

penyidikan

kepada pelapor.

4)

Tahap Pengendalian :
Agar langkah-langkah penyidikan dapat dilaksanakan
secara optimal sesuai perencanaan, maka selama proses
penyidikan harus dilaksanakan kegiatan :
a;

Laporan langsung melalui laporan lisan, laporan


tertulis tentang tindakan penyidikan yang telah
dilakukan.

b;

Ikut serta secara langsung dalam penyidikan pada


kasus-kasus tertentu yang diduga berdampak luas.

c;

Pengendalian secara periodik melalui kegiatan gelar


perkara, agar penyidikan sesuai yang diinginkan.

d;

Membuat laporan kemajuan penyidikan melalui


penerbitan SP2HP.

d.
3.

Melaksanakan analisa dan evaluasi.

Jangka Panjang (3 tahun).


Memantapkan metode yang digunakan personel Sat Reskrim dalam
melaksanakan pengawasan penyidikan.
1;
2;

Melaksanakan Anev dan melanjutkan program jangka pendek serta


jangka sedang yang belum terselesaikan.
Membentuk tim pengawas penyidikan, yang terdiri dari anggota Sat
Reskrim senior, yang dianggap mampu dan memiliki kompetensi

29

3;

4;

5;

6;

lebih di bidang penyidikan serta dapat dijadikan teladan oleh anggota


yang lainnya.
Menjalin komunikasi dan koordinasi yang baik dengan unsur
penegak hukum lainnya yaitu CJS (Criminal Justice System), maupun
LSM dan media pers, dalam rangka menciptakan sistem pengawasan
eksternal, dimana mereka dapat memberikan masukan, pertimbangan
ataupun klarifikasi yang berimbang tentang penyidikan suatu perkara
yang menonjol, menimbulkan gejolak maupun mendapat komplain
dari masyarakat. Wujud koordinasi tersebut dapat dituangkan dalam
suatu bentuk MoU (nota kesepahaman).
Memanfaatkan kemajuan TI (teknologi informasi) untuk membuat
jaringan intranet dalam Sat Reskrim, dengan tujuan untuk
menciptakan sistem pengawasan on-line maupun pemeriksaan
laporan hasil pelaksanaan kegiatan secara digital oleh atasan penyidik
kepada anggotanya, sehingga dapat dilakukan pengawasan secara
langsung, menghemat waktu dan biaya untuk mencetak produk serta
mudah diakses.
Membudayakan gelar perkara sebagai suatu kebutuhan wajib bagi
anggota Sat Reskrim Polres Cirebon, dengan cara membuat SOP
terkait pelaksanaan penegakkan hukum khususnya pelaksanaan gelar
perkara pada setiap tahapan penyidikan suatu perkara pidana.
Pengawasan dan pengendalian terhadap kegiatan penyelidikan dan
penyidikan dari tingkat Mabes Polri sampai dengan Polsek meliputi
penelitian laporan, pengawasan melekat, petunjuk dan arahan,
supervisi; dan gelar perkara. Dengan demikian, penyidikan yang
dilakukan dapat memenuhi prinsip-prinsip legalitas, profesional,
proporsional, prosedural, transparan, akuntabel, efektif dan efisien.
Dalam pengawasan dan pengendalian penyidikan ini terdapat 3 (tiga)
unsur, yakni :
a;
Subyek meliputi atasan penyidik dan pejabat pengemban
fungsi Wassidik.
b;
Metode meliputi
penelitian laporan, Waskat,
jukrah,
supervisi, dan gelar perkara.
c;
Obyek meliputi petugas penyelidik dan penyidik, kegiatan
penyelidikan dan penyidikan, administrasi penyelidikan dan
penyidikan, dan administrasi lain yang mendukung
penyelidikan dan penyidikan.

30

BAB VII
PENUTUP
A.

Kesimpulan
1.

Dukungan sumber daya manusia Sat Reskrim Polres Cirebon belum


optimal dalam manajemen penyidikan tindak pidana, baik dari kualitas
maupun kuantitasnya.

2.

Sistem dan Metode Penyidikan tindak pidana di Polres Cirebon belum


optimal, hal tersebut dapat dilihat dari penyidikan masih terpaku pada
sistem konvensional dengan mengandalkan personel dari unit yang satu
mengawasi perkara yang ditangani oleh personel

unit yang lainnya,

Pelaksanaan penyidikan masih menggunakan metode manual, Mekanisme


gelar perkara belum dilaksanakan sebagai suatu kebutuhan, , masih
ditemukan sebagian personel Sat Reskrim Polres Cirebon yang memiliki
mental maupun motivasi yang rendah dalam melakukan tugasnya. Untuk
itu perlunya upaya peningkatan melalui

Kasat

Reskrim

untuk

memberikan bimbingan dan arahan kepada personel Sat Reskrim,


memberikan pengetahuan melaksanakan Anev, memberikan arahan,
memberikan pengetahuan mengenai teknik-teknik pelaksanaan pengawasan
penyidikan, memberikan motivasi melalui penerapan metode Reward (dan
punishment, menunjuk personil yang mempunyai kompetensi memadai
untuk menjadi pengawas penyidik, Kapolres dan Kasat Reskrim terjun
langsung dalam pengawasan penyidikan sebagai atasan penyidik.
B.

Rekomendasi.
1;

2;

Merekomendasikan kepada Kapolda up Karorena dan Kabid TI Polri agar


membangun teknologi informasi pemberian SP2HP secara online yang
terintegrasi antar Polda, Polres dan Polsek sehingga dapat dijadikan sebagai
sarana kontrol maupun dalam pengumpulan data.
Merekomendasikan kepada Kapolda Up. Dir Reskrimum dan Dir
Reskrimsus untuk mengaktifkan kembali KBO Reskrim dengan didampingi
2 orang Brigadir sebagai pembantu KBO.

31

DAFTAR PUSTAKA
Mulyasa, E , Dr, M.Pd, 2002 Kurikulum Berbasis Kompetensi PT. Remaja Rodakarya
Bandung.
Manullang, M, 2001, Pengertian Manajemen, Balai Pembinaan Administrasi Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta,
Hunger David, J. dan Wheelen L Thomas, Manajemen Strategis, Jakarta; Andi, 1996,
Rangkuty Freddy, 2004, Analisis SWOT teknik membedah kasus bisnis : reorientasi
konsep perencanaan. Penerbit: Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Undang-undang No. 8 tahun 1981 Tentang KUHAP
Peraturan Kapolri Nomor 14 tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana
Peraturan Kapolri Nomor 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja pada
tingkat Polres dan Polsek
Kamus Besar Bahasa Indonesia (ed.4), 2008. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.